Yohanes Wahyu Prasetyo
(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarjana STF Driyarkara Jakarta)
Karl Rahner lahir pada 5 Maret 1904 di kota Freiburg, Jerman. Rahner dibesarkan di dalam keluarga Kristen kelas menengah. Ayahnya bemama Karl Rahner Sr (1868-1934), profesor perguruan tinggi di Freiburg. Supaya dapat menghidupi ketujuh anaknya, ayahnya menambah jam kerja dengan menjadi tutor. Sedangkan ibunya, Luise Trescher Rahner (1875- 1976) mengasuh bayi (baby-sat) untuk memperoleh uang tambahan. Ibunya mempunyai keinginan memiliki rumah sendiri, tetapi keinginan tersebut tidak pernah terwujud.
Rahner menempuh pendidikan sekolah dasar dan menengah di Freiburg, di mana ia menggambarkan dirinya sebagai murid yang biasa serta menilai dinamika pembelajaran di kelas membosankan. Pada 20 April 1920, ketika berusia delapan belas tahun, Rahner masuk novisiat Jesuit di Feldkirch, Austria. Ia mengikuti jejak Hugo, kakak laki-lakinya yang menjadi Jesuit tiga tahun sebelumnya. Sebagai pemula, Rahner menulis artikel pertamanya di jurnal Leuchtturm dengan judul Why we need to pray (1924). Pada tahun-tahun berikutnya, ia dan Hugo sering bertukar pikiran bahwa seseorang harus menerbitkan banyak karya, supaya memiliki sesuatu untuk tersenyum di usia tua.
Setelah menjalani masa novisiat selama dua tahun dan mengucapkan profesi sebagai Jesuit, Rahner menempuh studi filsafat. Ia belajar filsafat selama tiga tahun, yang pertama di Feldkirch dan yang kedua serta ketiga di sekolah filsafat Jesuit di Pullach, dekat Munich. Di sini Rahner berkenalan dengan filsafat Skolastik dan filsafat Jerman modern. Buku catatannya menunjukkan studi yang cermat mengenai Kant dan dua Thomist kontemporer, Jesuit Belgia Joseph Marechal (1878-1944) dan Jesuit Prancis Pierre Rousselot (1878-1915) yang memiliki pengaruh besar pada interpretasi Rahner terhadap Thomas.
Jesuit mempunyai tradisi memasukkan periode kerja praktis (period of practical work) di tengah studi filsafat dan teologi. Rahner ditugaskan mengajar bahasa Latin kepada para novis di Feldkirch selama dua tahun. Pengalaman mengajar bahasa Latin mendukungnya di tahun-tahun berikutnya. Itu tidak hanya memberinya akses ke tradisi Barat dalam filsafat dan teologi, tetapi juga sarana komunikasi dengan pembicara non-Jerman di Konsili Vatikan II dan pada banyak kesempatan lainnya. Suatu kali dalam kunjungan ke Hongaria pada 1969, seorang uskup meminta Rahner setelah makan siang memberikan ceramah kepada para seminaris. Kepada para seminaris yang berkumpul, ia memberikan ceramah dalam bahasa Latin dan sangat menyentuh tentang arti kemiskinan, penderitaan, dan salib.
Rahner memulai studi teologi pada 1929 di sekolah teologi Jesuit di Valkenburg, Belanda. Meskipun semangat baru dalam teologi sudah muncul di Jerman pada para penulis seperti Romano Guardini (1885-1968), Karl Adam (1876-1966), dan Erich Przywara (1889- 1972), semangat itu tidak menembus dinding seminari. Di sana pertempuran Roma yang keras dan tidak kenal lelah melawan modernisme yang dimulai Pius X pada awal abad itu masih berlangsung sengit di antara dua perang dunia (the two world wars). Kursus-kursus teologi mengikuti metode dan terminologi yang ditentukan dari neo-Skolastisisme yang mendikte tidak hanya jawaban yang benar tetapi juga pertanyaan yang benar. Teologi semacam inilah yang diprotes Rahner di tahun-tahun berikutnya dengan kritiknya yang tajam terhadap sekolah teologi.
Studi teologi yang ditempuh Rahner sangat berharga dan bermanfaat. Ia menguasai teologi Patristik (Patristic theology) dengan membaca karya-karya para Bapa Gereja tentang rahmat, sakramen, spiritualitas, dan mistisisme. Selain itu, studi Rahner tentang indera spiritual (the spiritual senses) pada Origenes (184-253) dan Bonaventura (1221-1274) menghasilkan artikel-artikel besar pertamanya yang diterbitkan pada 1932 dan 1933. Yang sangat penting selama periode ini adalah studinya bersama Hugo mengenai Latihan Rohani (Spiritual Exercises) Santo Ignatius Loyola (1491-1556). Ketertarikan awal pada gagasan Ignatius tentang doa, mistisisme, dan pengambilan keputusan eksistensial menjadi keasyikan dalam hidupnya. Menurut Rahner, spiritualitas Ignatius yang dipelajari melalui praktik doa (the practice of prayer) dan formasi keagamaan (religious formation), lebih penting daripada filsafat dan teologi yang ia pelajari di dalam dan di luar Ordo.
Pada 26 Juli 1932 di Gereja Santo Michael Munich, Rahner bersama enam belas Jesuit lainnya ditahbiskan menjadi imam oleh Kardinal Michael Faulhaber. Ia masih memiliki satu tahun untuk menyelesaikan studi teologi dan setelah itu menjalani tertianship. Tertianship adalah tahun terakhir persiapan Jesuit, dikhususkan untuk doa dan pengalaman pastoral sebelum memulai pelayanan aktif. Rahner mendapatkan tugas dari pimpinan Ordo untuk mengajar sejarah filsafat (the history of philosophy) di Pullach. Dalam rangka mempersiapkan diri, ia kembali ke kota asalnya Freiburg pada 1934 untuk meraih gelar doktor filsafat di universitas tersebut. Hal ini menjadi saat di mana Rahner memperoleh kesempatan dan mengalami kekecewaan.
Kesempatan tersebut hadir dengan hadirnya Martin Heidegger (1889-1976) di fakultas filsafat, menjadikan Freiburg salah satu pusat studi filsafat (centres of philosophical studies) yang paling menggairahkan di Jerman. Namun, selama masa jabatannya sebagai rektor universitas berakhir, Heidegger menyatakan dirinya sebagai pendukung Nazisme (supporter of Nazism). Meskipun dikatakan bahwa semangatnya untuk Nazi mendingin setelahnya, pilihan politik Heidegger dipertanyakan sebagai mentor doktoral untuk seorang Katolik dan imam. Rahner kemudian memilih Martin Honecker (1888-1941) sebagai mentornya, yang menduduki kursi filsafat Katolik. Meskipun demikian, ia menghadiri seminar Heidegger dan menemukan dalam bacaan dan interpretasinya tentang pra-Sokrates, Plato (427-347 SM), Aristoteles (384-322 SM), dan Kant sebagai tantangan intelektual dan pengalaman filosofis yang selalu ia syukuri.
Pilihan Honecker sebagai mentor doktoral berakhir dengan kekecewaan. Rahner memilih topik disertasinya tentang metafisika pengetahuan terbatas Thomas Aquinas (Thomas Aquinas’s metaphysics of finite knowledge). Dipengaruhi oleh interpretasi Thomas yang ia peroleh dari Marechal dan Rousselot, ia ingin melakukan interpretasi filosofis dari teks (philosophical interpretation of the text). Menafsirkan gagasan Thomistik tentang kelebihan (excessus) atau faktor lebih dalam pengetahuan manusia yang terbatas (the finite) dalam terang filsafat transendental. Thomas tentu saja tidak mengetahui filsafat transendental dan tidak memiliki penjelasan ketika menggunakan istilah excessus. Tetapi membacanya dalam kaca mata tersebut memberikan penerangan baru pada teks.
Honecker tidak membaca teks dalam kaca mata tersebut, sedangkan masukan dari pembimbing disertasi sangat penting. Penafsiran Honecker sendiri lebih bersifat Skolastik tradisional dan ia menolak disertasi tersebut. Maka berakhirlah pencalonan doktoral Rahner. Kemudian Rahner meninggalkan Freiburg dan memulai studi doktoral di bidang teologi di Innsbruck. Pimpinan menugaskannya mengajar teologi di Innsbruck, karena beberapa profesor Jesuit di sana pensiun. Ketika menerima surat penolakan dari Honecker, Rahner tidak kecewa. Karena seandainya disertasinya diterima, ia harus menghentikan studi teologi, kembali ke Freiburg dan menghabiskan waktu berbulan-bulan mempersiapkan dan mengikuti ujian komprehensif untuk memperoleh gelar doktor. Sehingga Rahner merasa lega, dibebaskan dari tuntutan itu.
Studi doktoral Rahner di bidang teologi berjalan lancar. Ia kembali ke topik yang menarik baginya selama belajar teologi di seminari, yaitu interpretasi tipologis dari Yohanes 19:34. Rahner menyelesaikan disertasi dengan judul The Origin of the Church as Second Eve from the side of Christ the Second Adam: An Investigation of the typological meaning of John 19:34 dan menerima gelar doktor menjelang akhir 1936. Melalui artikel-artikel yang diterbitkan sebelumnya, ia memenuhi syarat untuk diangkat ke fakultas teologi di Innsbruck pada 1 Juli 1937. Tidak lama kemudian, disertasi di Freiburg yang ditolak diterbitkan dengan judul Geist in Welt (1939) dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris Spirit in the World. Terkait penerbitan karya tersebut, tidak semua orang berpandangan negatif seperti Honecker tentang interpretasi Rahner terhadap Thomas.
Periode antara pengangkatan Rahner ke fakultas teologi dan awal musim dingin pada 1937, Rahner menyampaikan serangkaian kuliah di Salzburg yang menjadi sangat penting dalam pengembangan teologinya. Dalam kuliah tersebut, ia prihatin dengan filsafat agama (philosophy of religion) dan menerapkan filsafat pengetahuan yang dikembangkan dalam disertasinya di Freiburg tentang mengenal Allah melalui wahyu sejarah (knowing God through an historical revelation). Catatan dari serangkaian kuliah tersebut diterbitkan dengan judul Hörer des Wortes (1941) dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris Hearers of the Word. Kedua karya Rahner, Geist in Welt dan Hörer des Wortes merupakan landasan di mana ia mengembangkan teologi filosofisnya.
Bagi Rahner, awal musim dingin 1937 merupakan awal karir sebagai profesor teologi yang berlangsung selama tiga puluh empat tahun. Dalam siklus tiga tahun (three-year cycle) ia membahas doktrin penciptaan dan dosa asal, rahmat, dasar kebenaran, iman, harapan dan kasih, sakramen tobat, dan sakramen pengurapan orang sakit. Innsbruck pada saat itu merupakan pusat perkembangan teologi kerigmatik (kerygmatic theology). Hugo (saudara laki-laki Rahner) dan ahli liturgi Josef Jungmann (1889-1975) memfasilitasi para siswa untuk belajar teologi Skolastik. Gerakan itu mati dini, dibatalkan oleh ketidaksetujuan Roma terhadap teologi Skolastik sebagai pokok pendidikan seminari.
Rahner juga tidak senang dengan teologi kerigmatik, tetapi karena alasan yang berbeda. Ia setuju sepenuhnya dengan persoalan bahwa teologi Skolastik tidak mempersiapkan siswa untuk karya pastoral. Tetapi ia tidak berpikir bahwa solusinya adalah memberi para siswa teologi kedua dan pararel (second and parallel theology). Meskipun suatu teologi bersifat akademis dan ilmiah, apabila tetap berhubungan dengan iman yang direfleksikan dan dekat dengan kehidupan dan kenyataan, ia dapat dikhotbahkan dengan baik. Tetapi kenyataannya, teologi yang paling ketat, yang paling bersemangat mengabdikan diri pada realitas dan selalu waspada terhadap pertanyaan-pertanyaan baru, dalam jangka panjang adalah yang paling kerigmatik. Hal ini merupakan prinsip yang membimbing Rahner selama bertahun-tahun mengajar. Teologi akademis bukanlah tujuan dan sekolah tinggi atau akademi (academy) tidak untuk kepentingannya sendiri, tetapi untuk melayani iman Gereja dan misinya mewartakan Sabda Allah di dunia kontemporer.
Satu tahun setelah Rahner bergabung dengan fakultas teologi di Innsbruck, pekerjaannya tiba-tiba dihentikan oleh peristiwa politik di Austria. Nazi masuk dan mencaplok Austria ke Jerman pada Maret 1938, dan beberapa bulan kemudian mereka menghapus fakultas teologi di Innsbruck. Para Jesuit mengundurkan diri ke perguruan tinggi mereka sendiri dan melanjutkan pengajaran di sana. Hal ini berlangsung satu tahun, di mana perguruan tinggi juga ditutup dan para Jesuit diusir dari Innsbruck pada Oktober 1939. Beberapa Jesuit termasuk Hugo pergi ke Swiss untuk menjaga supaya fakultas teologi tetap berdiri. Rahner diundang ke Wina, di mana ia mengisi waktu sebagai anggota Institut Pastoral keuskupan.
Rahner di Wina memiliki berbagai kesempatan mengajar. Pada Januari 1943, Uskup Agung Freiburg menulis surat setebal dua puluh satu halaman kepada semua uskup Jerman dan Austria, memperingatkan mereka tentang inovasi berbahaya terkait doktrin dan liturgi Katolik yang ia jabarkan dalam tujuh belas poin. Uskup Agung Wina, Kardinal Innizer, mempercayakan Kantor Pastoral dengan rancangan tanggapan setebal lima puluh tiga halaman yang ditulis oleh Rahner. Tanggapan Rahner menunjukkan posisinya akan jenis reformasi dalam ajaran dan liturgi Gereja yang diterapkan dua puluh tahun kemudian oleh Konsili Vatikan II.
Rahner menghabiskan tahun terakhir perang di desa kecil Bavaria di Mariakirchen sebagai pastor paroki. Hal ini mengungkapkan sisi pastoral dari karyanya yang berlanjut sepanjang hidupnya dalam berkhotbah dan memberi retret. Kepedihan dan kedalaman khotbahnya tergambar dengan baik dalam serangkaian khotbah Prapaskah yang ia sampaikan di Gereja Jesuit di Munich pada 1946 tentang kebutuhan dan berkat doa (the need and blessing of prayer) yang kemudian diterbitkan dengan judul Not und Segen des Gebetes (1977). Perhatian pastoralnya terbukti dalam banyak hal, misalnya ia membeli bahan makanan dalam jumlah besar dan membagikannya kepada keluarga miskin.
Ketika perang berakhir, Rahner kembali ke fakultas teologi yang dibentuk kembali di Innsbruck pada 1948 dan memulai periode penulisan dan penerbitan yang sangat produktif. Rahner menghendaki agar artikel-artikel yang sudah dipublikasikan di berbagai jurnal menjangkau khalayak yang lebih luas, dikumpulkan dan diterbitkan dalam bentuk buku. Karya tersebut mencapai enam belas volume dalam bahasa Jerman dan diterjemahkan ke dalam sejumlah bahasa. Namun, ia tidak menemukan Penerbit Katolik di Jerman yang tertarik dengan proyek tersebut. Akhirnya penerbit Swiss Benziger setuju dan tiga jilid pertama Schriften zur Theologie terbit pada 1954, 1955, dan 1956. Karier produktif Rahner sebagai penulis sedang berlangsung.
Rahner terlibat aktif dalam pengerjaan dan penerbitan karya-karya besar. Pada 1950, ia menjadi editor (Denzinger’s) Enchiridion Symbolorum edisi 28-31, ringkasan teks-teks ajaran resmi Gereja. Menjadi co-editor dengan Josef Hofer dari sepuluh volume (Herder’s) Lexikon für Theologie und Kirche yang terbit antara 1957 dan 1965. Ia mengedit dengan Adolf Darlap antara 1967 dan 1969 enam volume Sacramentum Mundi yang juga terbit dalam bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Italia, dan Belanda. Selama liburan musim panas pada 1961, Rahner bersama Herbert Vorgrimler menulis Concise Theological Dictionary. Ia juga menjadi co-editor Handbook of Pastoral Theology (lima volume, 1964-1969) dan ensiklopedia tiga puluh jilid Christian Faith in Modern Society (1980-1983). Rahner membantu menyunting dan menyumbang banyak artikel dalam ringkasan teologi dogmatis, Mysterium Salutis yang terbit dalam lima jilid antara 1965 dan 1976.
Terdapat satu proyek yang sangat berharga bagi hati Rahner yang layak disebutkan secara terpisah. Bahkan sebelum perang ia yakin akan perlunya menghilangkan anggapan bahwa teologi Katolik adalah monolit (monolith) di mana segala sesuatu yang penting diselesaikan. Oleh karena itu, ia melihat perlunya sebuah forum di mana pertanyaan-pertanyaan yang disengketakan dapat didiskusikan dan kemajuan dalam teologi dapat dicapai. Ide ini menjadi kenyataan ketika pada 1958, volume pertama terbit dalam seri baru berjudul Quaestiones Disputatae, diedit oleh Rahner dan sarjana Perjanjian Baru Heinrich Schlier. la menerbitkan delapan bukunya sendiri dalam seri ini dan ikut menulis delapan buku lainnya. Sesaat sebelum kematiannya, seri ini mencapai volume ke seratus satu. Dengan pemikiran yang sama, ia membantu mendirikan jurnal teologi internasional Concilium dan mengedit volume pertama bersama Edward Schillebeeckx (1914-2009) pada 1965. Ia berharap bahwa publikasi dalam enam bahasa memberikan kepada Gereja sebuah forum diskusi teologis di seluruh dunia.
Sementara sibuk dengan pekerjaan akademis dan ilmiah, kegiatan dan kepedulian Rahner yang lebih pastoral tidak berkurang. Sekilas bibliografinya menunjukkan bahwa ia juga disibukkan dengan teologi pastoral, di mana pada 1959 ia menerbitkan buku yang terdiri dari dua puluh empat artikel tentang berbagai topik pastoral dengan judul Sendung und Gnade. Di dalam karya tersebut terdapat kumpulan khotbah, doa, dan meditasi yang ia berikan saat memimpin Latihan Rohani. Selama di Innsbruck Rahner juga menjadi anggota aktif perkumpulan cendekiawan (learned societies) Jerman yang peduli dengan pertanyaan ekumenisme Kristen dan hubungan iman dan sains.
Perlu diketahui bahwa tidak semua orang melihat perlunya pembaruan teologis seperti yang dilakukan Rahner, mereka juga tidak senang dengan arah yang diambil dalam teologinya dan lingkup pengaruhnya yang semakin luas. Kesulitan pertama yang ia temui adalah pada 1951 ketika izinnya ditolak untuk menerbitkan naskah panjang berjudul Problems of Contemporary Mariology. la terdorong menulis karya tersebut melalui pengumuman (promulgation) pada 1950 oleh Pius XII tentang dogma Maria Diangkat ke Surga (the Assumption of Mary). Rahner tidak mempertanyakan dogma atau legitimasi dari penyebarannya (its promulgation). Namun, ia berpikir bahwa hal itu menimbulkan pertanyaan penting tentang sifat Tradisi dan perkembangan doktrin, khususnya dari sudut pandang ekumenis. Tampaknya E. Dhanis, rekan Jesuit di Universitas Gregoriana Roma yang menangani bagian sensor (the censor) memiliki keberatan serius dan naskah itu tidak pernah diterbitkan.
Rahner juga telah menulis sebuah artikel panjang pada 1949, The many Masses and the one sacrifice. Melalui artikel tersebut, ia mengajukan pertanyaan mengenai relasi antara Misa yang dirayakan oleh Gereja dan pengorbanan salib yang mereka hadirkan, buah Misa dan nilai memperbanyak jumlah Misa, dan kemungkinan konselebrasi bagi para imam. Dalam sebuah pernyataan publik pada 1954, Pius XII mempermasalahkan gagasan Rahner dan kemudian Rahner dilarang oleh Kantor Suci (Holy Office) untuk membahas masalah konselebrasi di masa mendatang. Ketika audiensi pribadi dengan Paulus VI, Rahner mengingatkan Paus tentang larangan itu, Anda lebih sering melakukan konselebrasi daripada saya. Paus tersenyum dan berkata, ada waktu untuk menangis dan ada waktu untuk tertawa (est tempus flendi, est tempus ridendi). Terkait persoalan tersebut, artikel Rahner hanya sedikit lebih maju dari waktunya.
Artikel Rahner yang ditulis pada 1960 dengan judul Virginitas in partu menyebabkan masalah serius di Roma. Di dalamnya Rahner mengajukan pertanyaan tentang doktrin Katolik tentang keperawanan abadi Maria (the perpetual virginity of Mary) selama dan setelah kelahiran Yesus. la membedakan antara apa isi (content) dan substansi (substance) sebenarnya dari sebuah doktrin, dan apa yang dapat dianggap sebagai bagian dari bentuk yang dikondisikan secara historis di mana doktrin itu diekspresikan. Terlepas dari isu atau rumor (rumors) tentang langkah-langkah yang diambil terhadap Rahner, pada waktu itu tidak terjadi apa-apa.
Dua tahun kemudian, tanpa peringatan dan alasan khusus yang diberikan, Rahner menerima kabar dari pimpinan Jesuit bahwa semua yang ia tulis harus diserahkan ke Roma untuk dilakukan pemeriksaan atau sensor (censorship). Hal ini terjadi pada 1962, sekitar waktu yang sama ketika beberapa Jesuit di Pontifical Biblical Institute Roma menjadi sasaran pemeriksaan doktrinal yang ketat. Pada 23 Juni, Rahner pergi ke Roma menemui Jenderal Jesuit yang menjelaskan bahwa ia hanya menyerahkan perintah dari Kantor Suci (Holy Office). Rahner menganggap tindakan terhadapnya tidak adil, dan mengatakan bahwa jika itu tetap berlaku, ia tidak akan menulis lebih lanjut.
Rahner memperoleh dukungan dari banyak pihak. Pada akhir Juni tiga Kardinal berbahasa Jerman, yaitu Döpfner di Munich, Frings di Cologne, dan König di Wina, mengirim surat bersama kepada Paus meminta agar sensor sebelumnya dicabut, dan Konig berbicara dengan Paus secara pribadi. Terkait hal ini, yang sama pentingnya adalah petisi yang dibuat oleh Paulusgesellschaft, sebuah komunitas cendekiawan dari profesor-profesor Jerman dalam sains dan humaniora yang terkejut dengan implikasi dari tindakan Roma. Sekitar dua ratus lima puluh tanda tangan dikumpulkan dan petisi dikirim ke Roma melalui saluran diplomatik (diplomatic channels). Pada 28 Mei 1963, Rahner diberitahu oleh Jenderal Jesuit bahwa sensor khusus (the special censorship) telah dicabut. Rahner melaporkan percakapan sebelumnya dengan Kardinal Ottaviani, yang saat itu menjabat sebagai kepala Kantor Suci (Holy Office), di mana ia menanyakan tentang sensor. Kardinal Ottaviani menjelaskan bahwa itu hanya untuk melindunginya dari teman-teman yang salah memahaminya, dan harus dilihat sebagai hak istimewa (privilege). Rahner dengan senang hati melepaskan hak-hak istimewa seperti itu.
Selama periode ini, peristiwa-peristiwa penting sedang terjadi di Roma yang akan mengubah seluruh iklim bagi Rahner dan para teolog reformasi lainnya. Pada 1959, Paus Yohanes XXIII mengumumkan rencana mengadakan konsili ekumenis di Vatikan. Selanjutnya pada 1960, komisi persiapan dibentuk untuk merencanakan agenda dan menyusun dokumen pendahuluan. Rahner memainkan peran yang sangat kecil dalam persiapan ini. Salah satu permintaan yang ia terima dari komisi adalah terkait pemulihan diakonat permanen (the permanent diaconate), di mana ia pernah menulis tentang itu dan diangkat sebagai penasihat komisi yang relevan untuk persoalan tersebut. Terkait hal ini, yang jauh lebih penting adalah Kardinal König dan Kardinal Döpfner memilih Rahner untuk menjadi penasihat pribadi mereka dalam Konsili.
Pada 11 Oktober 1962, Konsili dibuka dengan khidmat dan Rahner diangkat sebagai salah satu periti resmi atau ahli teologi Konsili. Ini memberinya akses ke sesi Konsili di Santo Petrus, di mana ia memiliki pengaruh di Konsili dan juga di luar sesi resmi. Ia berkomunikasi dengan para uskup yang berbahasa Jerman dan kelompok uskup regional lainnya dan mengambil bagian dalam diskusi para teolog Jerman dan Prancis. Misalnya, terkait pertanyaan pelik dan kontroversial tentang Kitab Suci dan Tradisi sebagai sumber wahyu, ia dan Joseph Ratzinger menyiapkan teks alternatif dari teks yang diajukan oleh komisi persiapan dan diterima oleh konferensi uskup Jerman. Seruan Yohanes XXIII pada 22 November 1962 mengenai teks baru tentang wahyu adalah titik balik bagi Konsili, membuka jalan bagi revisi menyeluruh dari semua teks yang telah disiapkan di Roma sebelumnya.
Ketika Konsili berakhir pada Desember 1965, Rahner telah memberikan pengaruh yang sangat besar pada bentuk akhir dari banyak dokumen Konsili. Jejak teologinya dapat ditemukan dalam ajaran Konsili tentang Gereja, keutamaan kepausan dan keuskupan, wahyu dan relasi antara Kitab Suci dan Tradisi, ilham Kitab Suci, sakramen-sakramen dan diakonat, relasi antara Gereja dengan dunia modern, kemungkinan keselamatan di luar Gereja untuk orang yang tidak percaya, dan di banyak bidang lainnya. Sungguh ironis bahwa gagasan-gagasan seorang teolog yang pada waktu itu sangat dicurigai dan tunduk pada sensor khusus kini telah menjadi bagian dari ajaran resmi Gereja. Konsili Vatikan II tidak hanya mengakhiri kesulitan Rahner dengan Roma, tetapi juga memberinya status internasional sebagai salah satu teolog terkemuka Gereja.
Selama masa Konsili di Roma, Universitas Munich sedang mencari pengganti Romano Guardini (1885-1968) yang mengetuai studi Kekristenan dan Filsafat Agama (Christianity and the Philosophy of Religion). Oleh karena itu, pada Februari 1963 Rahner mendapat tawaran untuk menempati posisi tersebut. Ia sebelumnya diundang oleh Universitas Munster untuk mengajar teologi dogmatis di sana, tetapi Jenderal Jesuit lebih suka ia tetap di Innsbruck. Rahner ingin menerima undangan tersebut, karena ia merasa bahwa pindah ke universitas Jerman akan memberikan perlindungan yang lebih besar dari tindakan sensor Roma. Universitas-universitas Jerman juga lebih murah hati dalam menyediakan asisten bagi para profesor daripada seminari-seminari Jesuit.
Pada ulang tahun keenam puluh (5 Maret 1964), Rahner diangkat menjadi ketua di Munich dengan persetujuan dari pimpinan Jesuit. Salah satu bahan mengajar dari mata kuliah yang ia berikan di sana selama dua semester diterbitkan dengan judul Grundkurs des Glauben: Einführung in den Begriff des Christentum (1976) dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris Foundations of Christian Faith: Introduction to the Idea of Christianity (1978). Meskipun buku ini bukan ringkasan teologi Rahner, karya tersebut lebih dekat daripada publikasi lainnya untuk memberi pandangan yang terpadu dan sistematis dari pemikirannya. Rahner tinggal di Munich hanya tiga tahun, terutama karena ia seorang teolog dan banyak muridnya datang ke Munich untuk belajar teologi. Tetapi jabatannya ada di fakultas filsafat, dan fakultas teologi menolak untuk memberinya hak yang sama untuk mengajukan calon sarjana teologi.
Universitas Munster masih mengharapkan supaya Rahner datang ke sana dan kali ini mengingat situasi anomali (anomalous) di Munich, ia menerima undangan mereka. Pada 1 April 1967, ia diangkat sebagai profesor teologi dogmatis di Münster. Rahner senang bisa kembali mengajar teologi, tetapi pada 1971, dalam usia enam puluh delapan tahun dan karena kekuatan fisiknya menurun, ia memutuskan untuk pensiun dari universitas dan kembali ke komunitas Jesuit di Munich.
Pensiun tidak banyak mengubah kehidupan Rahner. Ia sibuk menulis dan mengajar baik di Jerman atau pun di luar negeri, dan tetap demikian sampai saat kematiannya tiga belas tahun kemudian. Pada 1981, ia diundang kembali ke Innsbruck oleh para Jesuit di sana yang menawarkan tempat yang akan menjadi Arsip Rahner (the Rahner Archive). Pada musim gugur tahun itu, ia kembali ke Innsbruck dan menyebutkan dalam sebuah catatan bahwa ia senang bisa kembali. Di Innsbruck ia menghabiskan tahun-tahun paling produktifnya dan mengalami perubahan dramatis dari Konsili Vatikan II. Rahner menggambarkan periode tersebut sebagai musim dingin (wintry season), musim kekecewaan atas apa yang ia anggap sebagai janji Konsili yang tidak sepenuhnya terwujud.
Menjelang ulang tahun Rahner kedelapan puluh pada 1984, penghargaan dan perayaan sedang direncanakan di banyak tempat. Pada 11-12 Februari, ia diundang kembali ke kota asalnya oleh Akademi Katolik Freiburg untuk konferensi dua hari di Auditorium Maximum universitas yang penuh sesak. Ia kemudian pergi ke Heythrop College di Universitas London dan setelah itu ke Akademi Budapest di Hongaria. Semua ini adalah pendahuluan untuk perayaan hari ulang tahunnya (5 Maret) di Innsbruck, di mana Lukas Vischer (1926-2008) dari Konsili Gereja Dunia (World Council of Churches) memberikan pidato perayaan.
Tiga hari setelah perayaan, Rahner jatuh sakit. Dokter memintanya istirahat total dan ia menghabiskan tiga minggu berikutnya di sanatorium dekat Innsbruck. Setelah beberapa hari istirahat, ia mencoba berjalan kaki setiap hari, tetapi harus membatalkan upaya tersebut karena kondisinya yang lemah. Terlepas dari kondisinya yang lemah, ia menulis surat kepada para uskup Peru yang mendukung Gustavo Gutiérrez dan teologi pembebasannya. Ketika kondisinya semakin memburuk, ia dipindahkan ke University Medical Cinic di Innsbruck pada 29 Maret. Ia meninggal di sana pada malam berikutnya, 30 Maret 1984. Banyak orang yang berkumpul untuk perayaan ulang tahun beberapa minggu sebelumnya, kemudian mereka kembali ke Innsbruck untuk berkabung di Gereja Trinitas, tempat di mana Rahner dimakamkan.
SUMBER BACAAN
Dych, William. Karl Rahner. New York: Continuum, 2000.
CATATAN
Tulisan ini pernah dipublikasikan dengan keterangan sebagai berikut:
Prasetyo, Yohanes Wahyu. “Hidup dan Karya-Karya Karl Rahner”. Gita Sang Surya. Vol. 19, No. 1 (Januari-Maret 2024), hlm. 26-33. ISSN 1978-3868
Format PDF dari tulisan ini dapat diakses melalui http://repo.driyarkara.ac.id/1987/
