October 11, 2025

Hidup dan Karya-Karya Jean-Luc Marion

Yohanes Wahyu Prasetyo

(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)

 

Jean-Luc Marion lahir pada 1946 di Meudon, Paris. Marion adalah anak seorang insinyur dan guru. Sebelum memutuskan menjadi filsuf, ia menempuh studi dalam bidang humaniora di Universitas Nanterre dan Sorbonne. Kemudian Marion melanjutkan studi di École Normale Supérieure di d’Ulm, Paris. Ia diajar oleh Louis Pierre Althusser (1918-1990), Gilles Louis René Deleuze (1925-1995), dan Jacques Derrida (1930-2004). Pada waktu itu Marion juga mendalami studi teologi secara pribadi. Dalam bidang studi teologi, ia dipengaruhi oleh Louis Bouyer (1913-2004), Jean-Guenolé-Marie Daniélou (1905-1974), Henri-Marie Joseph Sonier de Lubac (1896-1991), dan Hans Urs von Balthasar (1905-1988). Kehidupan Marion sebagai mahasiswa berada di tengah politik Prancis yang kuat. Pada 1968, ia terjebak dalam kerusuhan mahasiswa dan tahun tersebut merupakan periode penting serta transformatif dalam hidupnya.

Pada 1970, Marion menikah dengan Corinne Nicolas dan dikaruniai dua orang anak. Selanjutnya, pada 1972-1980, ia mempersiapkan Agrégé de Philosophie, Doctorat d’État mengenai pemikiran Descartes, asisten dosen di Sorbonne, dan anggota L’équipe Descartes. Pada waktu itu Marion menerbitkan Sur l’ontologie grise de Descartes (1975), Index des ‘Regulae ad Directionem Ingenii’ de René Descartes (1976) bersama Jean-Robert Armogathe, dan karya terjemahan René Descartes. Régles utiles et claires pour la direction de l’esprit en la recherche de la verité (1977). Sebagai teolog, ia mempublikasikan artikel pertamanya di Résurrection pada 1968. Résurrection menjadi bagian dari Révue catholique international Communio, di mana Marion dan Balthasar sebagai editor serta pendiri.

Jurnal Communio melambangkan Katolik neo-konservatif. Menurut Jean-Louis Schlegel, jurnal tersebut didirikan sebagai tandingan terhadap tinjauan teologi yang lebih kritis, yaitu Concilium. Communio didedikasikan untuk membuat pembelaan intelektual terhadap katolikisme romawi (roman) terkait dogma, teologi moral, dan eklesiologi. Komentar Schlegel dikemukakan dalam konteks menanggapi karya Marion, yaitu Dieu sans l’être (God Without Being). Beberapa tahun kemudian, David W. Tracy menanggapi tuduhan konservatisme teologis Marion dalam “Kata Pengantar” edisi bahasa Inggris dari buku tersebut.

Menurut Tracy, Marion memelopori diskusi teologi dan filsafat kontemporer di tengah kebuntuan di antara kelompok konservatif serta liberal. Kontribusi Marion untuk Résurrection dan sejumlah jurnal lainnya pada 1970 memperlihatkan bahwa ia mempunyai minat pada bidang studi teologi serta filsafat. Ia menulis artikel mengenai pewahyuan, inkarnasi, Ekaristi, Agustinus Hippo (354-430), Maksimus Pengaku Iman (580-662), Dionisius Areopagus, hermeneutika, ikonografi, kematian Allah, dan René Descartes (1596-1650). Selain itu, analisis teks Patristik mencerminkan minat dan keterlibatan Marion pada pembaruan di Prancis abad XX. Terkait hal ini, ia berhutang budi pada de Lubac, Daniélou, Jacques Maritain (1882-1973), dan Étienne Henri Gilson (1884-1978).

Karya yang mencerminkan minat Marion pada berbagai macam bidang studi yaitu L’idole et la distance. cing études (The Idol and Distance: Five Studies), diterbitkan pada 1977. Karya tersebut memperlihatkan upaya berpikir teologis sebagaimana dilakukan Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900) dan Martin Heidegger (1889-1976), dengan cara pandang kontemporer seperti Derrida serta Emmanuel Lévinas (1906-1995), dan mengacu pada teologi klasik Dionisius dan Gregorius Nyssa (335-395). Keterlibatan pada bidang studi teologi dengan spektrum filsafat Eropa jarang dilakukan. Hal ini merupakan kontribusi Marion untuk menumbuhkan dan mengembangkan diskursus teologi, di mana ia mempunyai wawasan luas mengenai sejarah filsafat yang memungkinkannya membangun dialog dengan tradisi Kristen. Terkait The Idol and Distance, Stanislas Berton mengemukakan bahwa di dalam karya tersebut, filsafat dan teologi bertukar corak khas (idioms) tanpa kekacauan (confusion) serta pemisahan (separation).

Setelah menerima gelar doktor pada 1980, Marion bekerja di Universitas Poitiers, salah satu Universitas tertua di Eropa yang didirikan pada 1431. Secara institusional, Marion mengikuti jejak Lévinas, karena Lévinas pernah mengajar di Universitas Poitiers pada 1963-1967. Di Universitas Poitiers, Marion menulis Sur la théologie blanche de Descartes dan God Without Being. Pada saat itu, ia sudah mempunyai reputasi internasional, diundang berbicara di sejumlah negara Eropa dan Amerika Selatan. Marion diakui di Eropa sebagai cendekiawan Cartesian dan karyanya mengenai Heidegger telah diuji dalam forum yang melibatkan dialog dengan orang-orang yang tidak berbahasa Prancis.

Pada 1980, karir Marion dalam bidang intelektual berkembang. Hal ini nampak dalam God Without Being dan kajian ilmiah mengenai Descartes, sejarah filsafat, dan titik potong antara filsafat dengan teologi. Selain itu, pemikiran Marion mempengaruhi para cendekiawan Amerika Utara. Bahkan ia mempunyai peran penting di Kanada dan menyampaikan ceramah akademis di Amerika Serikat sebagai ahli Cartesian.

Pada 1983, Marion menyampaikan pidato di Universitas Columbia di kota New York. Keterlibatan di Universitas tersebut memungkinkannya menjalin relasi dengan Daniel Garber (1880-1958), profesor filsafat di Universitas Chicago. Antusiasme Garber terhadap karya Marion nampak dalam kata pengantar Cartesian Questions. Menurut Garber, Marion adalah filsuf generasi muda yang bekerja di Prancis dan salah satu sejarawan filsafat modern yang paling penting. Sehingga tidak mengherankan apabila Marion menjadi pembicara di pusat-pusat akademis di Prancis, Eropa, Kanada, Tunisia, Israel, Jepang, dan Amerika Serikat.

Pada 1983-1984, Marion menulis karya yang didedikasikan untuk gurunya, yaitu Ferdinand Alquié (1906-1985). Selain itu, ia menulis kumpulan esai mengenai fenomenologi dan metafisika. Marion meneliti fenomenologi Edmund Gustav Albrecht Husserl (1859-1938) dan menjadi sesuatu yang penting dalam karyanya mengenai Heidegger. Selanjutnya, pada 1986, Sur le prisme métaphysique de Descates. Constitution et limites de l’onto-théo-logie dans la pansée Cartésienne (On Descartes’ Metaphysical Prism: The Constitution and the Limits of Onto-theo-logy in Cartesian Thought) diselesaikan di Poitiers dan diterbitkan.

Pada 1986, Marion menerbitkan Prolégomènes à la charité (Prolegomena to Charity). Selain itu, tanggapan terhadap God Without Being terus meningkat. Terkait hal ini, Roger Verneaux (1906-1997) menuduh Marion mengabaikan doktrin Trinitas dan ajaran Kristus. Tuduhan tersebut mendorong Marion keluar dari konservatisme teologis.

Pada 1989, Marion menerbitkan Réduction et donation. recherches sur Husserl, Heidegger at la phénoménologie (Reduction and Givenness: Investigations of Husserl, Heidegger, and Phenomenology). Berdasarkan karya tersebut, Marion menjauh dari pertanyaan teologis yang bersifat khusus. Dalam perjalanan waktu, terjadi kontroversi yang menimbulkan pertanyaan, sejauh mana ia dapat memisahkan kepentingan teologi dari kepentingan filsafat. Menurut Graham John Ward, terjadi ketegangan di antara keterlibatan Marion dengan teori kontemporer (contemporary theory) dan dogmatisme tidak kritis (uncritical dogmatism).

Ketika Reduction and Givenness diterbitkan, Marion pindah dari Poitiers menjadi direktur filsafat di Universitas Paris X Nanterre, di mana Lévinas pernah berada di tempat tersebut (1967-1973) dan tempat tinggal Jean Paul Gustave Ricoeur (1913-2005) pada 1960. Marion menempati posisi sebagai professeur invité di fakultas filsafat Institut Chatolique de Paris pada 1991. Tuduhan bahwa fenomenologi Marion adalah teologi terselubung (covert theology) diperkuat dengan publikasi La croisée du visible pada 1991. La croisée du visible merupakan penggambaran fenomenologi dan apresiasi Marion terhadap seni rupa serta agama. Selain itu, La croisée du visible berbicara mengenai intensionalitas terbalik (reverse intentionality), di mana seseorang dibentuk oleh tampilan yang lain melalui ikon (the icon).

Gagasan tersebut dikemukakan Marion ketika mengembangkan pemikirannya mengenai le phénomène saturé (the saturated phenomenon) dalam seminar (colloquium) dengan Ricoeur, Jean-Louis Chrétien (1952-2019), dan Michel Henry (1922-2002) pada Mei 1992. Ketika hasil kerja konferensi tersebut diterbitkan dalam Phénoménologie et Théologie, tidak ada keraguan di benak para pengkritiknya bahwa Marion menggunakan fenomenologi untuk menopang agenda teologis (theological agenda). Meskipun demikian, pada 1992, Marion memperoleh penghargaan bergengsi dari Grand Prix de Philosophie de l’Académie Française.

Karya Marion God Without Being yang diterjemahkan pada 1991 oleh Thomas A. Carlson membuatnya menjadi pusat perhatian dunia teologi berbahasa Inggris. Pada waktu itu, Carlson merupakan mahasiswa Marion di Chicago. Karya tersebut dianggap kontroversial dan tidak diterima sepenuhnya di Prancis. Hal ini juga dipicu oleh karya Marion The Idol and Distance. Menurut Marion, God Without Being memicu perdebatan di Prancis dan di sejumlah tempat lainnya, karya tersebut lebih diterima oleh para filsuf serta akademisi daripada para teolog dan orang-orang beriman.

Menurut John Macquarrie (1919-2007), karya Marion beresiko menimbulkan kemarahan para filsuf dan teolog. Untuk pembaca berbahasa Inggris, God Without Being menuntut berbagai macam penjelasan. Sebagaimana dikemukakan Fergus Gordon Thomson Kerr, sesuatu yang paling sulit bagi para filsuf agama yang berbahasa Inggris adalah mengatasi pembicaraan mengenai Ada (Being). Kata tersebut tidak memiliki aura metafisik sebagaimana dimiliki dalam bahasa Prancis. Terkait hal ini, Macquarrie menegaskan bahwa penting untuk tidak salah memahami judul buku Marion, God Without Being. Orang mungkin berpikir bahwa buku tersebut menyangkal realitas independen Allah dan mereduksi keallahan menjadi sebuah gagasan dalam kesadaran manusia (the human consciousness).

Sejumlah pengulas God Without Being mempunyai kesan bahwa Marion menggunakan konsep ada (being) secara univokal. Menurut Brian J. Shanley, Dieu sans l’être (1982) memuat dakwaan yang menegaskan bahwa Thomas Aquinas (1225-1274) adalah pelopor utama ontoteologi. Ketika menempatkan prioritas Pseudo-Dionysian mengenai kebaikan (the good) di atas ada (being) dalam doktrin mengenai nama-nama ilahi (the divine names), Thomas pindah secara fatal dari wahyu Allah dan iman yang pada hakikatnya adalah Kasih (Love). Sebagaimana dikemukakan Marion, penting untuk membaca ulang pemikiran Thomas supaya tidak merantai (chaining) Allah menjadi Ada (Being) atau sekadar mengabadikan konsep metafisik Allah. Ketika Thomas berbicara mengenai Allah sebagai Ada (Being), Marion menegaskan bahwa Ada (Being) bukanlah nama yang tepat untuk Allah.

Pada 1996, Marion diangkat sebagai direktur filsafat di Sorbonne (Paris IV), direktur di Centre d’Études Cartésiennes, dan Épiméthée di Universitaires de France. Terlepas dari keraguan yang muncul mengenai fokus teologis dari karyanya, ia memperoleh pengakuan dari para filsuf. Pengakuan tersebut memungkinkan Marion menegaskan integritasnya sebagai filsuf. Ia kembali ke Latin Quarter di Paris, terlibat dalam diskursus filosofis yang lebih ketat. Hal ini terjadi pada pascarevolusi Prancis, pemisahan antara Gereja dan Negara.

Marion meneliti teologi Descartes yang kemudian dipublikasikan dengan judul Questions cartésiennes II. Sur l’égo et sur Dieu (1996). Pergeseran nampak dalam karyanya pada 1997, Étant donné. Essai d’une phénoménologie de la donation (Being Given: Toward a Phenomenology of Givenness). Karya tersebut menunjukkan ambiguitas upaya Marion membatasi dirinya pada filsafat, di mana ia bersentuhan dengan kemungkinan filosofis dari fenomena pewahyuan.

Sebelum penerbitan Being Given, muncul pertanyaan, sejauh mana komitmen teologis menentukan pemikiran filosofis yang membayangi pembaruan dan penerapan metode fenomenologi Marion? Pertanyaan tersebut muncul di Villanova pada 1997. Pada waktu itu John David Caputo dan Michael Scanlon mengundang Marion serta Derrida menjadi pembicara dalam konferensi Agama dan Posmodernisme (Religion and Postmodernism) pada September 1997. Makalah yang disiapkan dan disampaikan Marion serta Derrida dan dinamika debat publik terkait pertanyaan mengenai pemberian (the gift) mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan tentang teologi serta fenomenologi. Tetapi juga mengenai posisi pemikiran Marion dan Derrida serta arah masa depan filsafat Prancis.

Being Given merupakan karya fenomenologis Marion yang mempunyai kontribusi besar. Karya tersebut menunjukkan bahwa Marion dipengaruhi oleh Lévinas yang meninggal pada 1995. Pada 1998, Marion memberikan penghargaan kepada Lévinas dengan menerbitkan La voix sans nom. Hommage—à partir—de Lévinas. Kemudian pada 2000, diterbitkan esai mengenai Lévinas dengan judul Emmanuel Lévinas. Positivité et transcendence yang dirilis oleh Presses Universitaires de France di bawah arahan Marion.

Pada 2001, Lévinas ditampilkan sebagai protagonis dalam De surcroît. études sur les phénomènes saturés (In Excess: Studies of Saturated Phenomena). Karya tersebut melengkapi karya fenomenologis yang dimulai dengan Reduction and Givenness dan Being Given. Mengeksplorasi tidak hanya kemungkinan fenomenologis, tetapi juga peran hermeneutika dalam fenomenologi. Perlu diketahui bahwa yang terakhir ini penting dalam kaitannya dengan kritik sebelumnya terhadap karya Marion. Secara khusus terkait pergeseran antara fenomenologi dan hermeneutika yang dibutuhkan teologi. Hal ini terjadi pada versi revisi In the Name: How to Avoid Speaking of ‘Negative Theology’ yang disampaikan Marion di Villanova dan dipilih untuk menyimpulkan In Excess.

Pada 2003, Marion menerbitkan Le phénomène érotique, studi mengenai kasih (love) yang melanjutkan The Idol and Distance dan Prolegomena to Charity. Le phénomène érotique merupakan karya filosofis, fenomenologis, dan teologis. Selanjutnya, Marion menerbitkan Le visible et le révélé (2005), Au lieu de soi (2008), Certitudes negatives (2009), The Reason of the Gift (2011), Givenness and Hermeneutics (2013), Givenness and Revelation (2016), Believing in Order to See: On the Rationality of Revelation and the Irrationality of Some Believers (2017), dan Descartes’ Grey Ontology: Cartesian Science and Aristotelian Thought in the Regulae (2017).

Marion dipandang sebagai salah satu pemikir Katolik terkemuka di dunia dan memeroleh Ratzinger Prize untuk pencapaian dalam bidang teologi. Paus Fransiskus setiap tahun memberikan Ratzinger Prize, penghargaan bergengsi di dunia untuk studi teologi. Ratzinger Prize mengakui pencapaian seseorang dalam bidang eksegesis Kitab Suci, patristik, dan teologi sistematika. Pemenang Ratzinger Prize periode sebelumnya adalah Rémi Brague (cendekiawan Prancis) dan Charles Taylor (filsuf Kanada).

Menurut Andrew Thomas Greeley dan Grace McNichols Greeley, profesor studi Katolik serta profesor filsafat agama dan teologi di Divinity School, Marion menekuni teologi Kristen, sejarah filsafat, dan fenomenologi kontemporer, studi filosofis mengenai kesadaran manusia. Selain itu, sebagaimana dikemukakan David Nirenberg, ia mengeksplorasi relasi antara filsafat dan teologi dalam pemikiran serta tradisi Katolik. Terkait hal ini, Federico Lombardi, mantan juru bicara Vatican dan presiden Joseph Ratzinger-Benedict XVI Foundation, mengumumkan pada 1 Oktober 2020 bahwa Ratzinger Prize 2020 diberikan kepada Marion dan Tracey Rowland dari University of Notre Dame Australia.

Sebagai anggota Académie française, Marion diterima sebagai salah satu anggota masyarakat sastra pada 2010. Ia juga anggota Accademia dei Lincei (akademi sains yang berbasis di Roma) dan Dewan Kepausan untuk Kebudayaan (Pontifical Council on Culture) yang membina relasi antara Gereja Katolik dengan budaya lainnya. Selain itu, Marion juga memperoleh Grand Prix du Philosophie de l’Académie Française, Karl-Jaspers Prize of the City and University of Heidelberg, dan Humboldt-Stiftung Prize. Ia juga seorang profesor emeritus filsafat di Université Paris-Sorbonne.

Penerima Ratzinger Prize dipilih oleh Paus Fransiskus berdasarkan rekomendasi dari sebuah komite yang terdiri dari lima anggota, yaitu Kardinal Angelo Amato, Kardinal Kurt Koch, Kardinal Gianfranco Ravasi, Kardinal Luis Ladaria Ferrer, dan Uskup Rudolf Voderholzer dari Regensburg. Ratzinger Prize diberikan sejak 2011 untuk mengakui para cendekiawan yang karyanya menunjukkan kontribusi bagi teologi dalam semangat Kardinal Joseph Ratzinger, teolog Bavaria yang kemudian menjadi Paus Benediktus XVI (1927-2022).

SUMBER BACAAN

Horner, Robyn. Jean-Luc Marion: A Theo-logical Introduction. Burlington: Ashgate Publishing Company, 2005.

 

 

Tokoh