Yohanes Wahyu Prasetyo
(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)
Menurut Karl Marx (1818-1883), sebelum mengejar kepentingan politik, sains, seni, dan agama, manusia pertama-tama harus memenuhi kebutuhan makan, minum, tempat tinggal, dan pakaian. Perlu diketahui bahwa Marx merupakan filsuf sosial Jerman dan pembimbing gerakan komunisme. Ketika menulis sejumlah karya pada pertengahan abad XIX, gagasannya belum banyak memperoleh perhatian. Pada akhir hidupnya, ketika menerbitkan Das Kapital, banyak orang memperhitungkan pemikirannya dan membaca karyanya.
Terdapat dua gagasan penting yang harus diperhatikan ketika membicarakan Marx. Pertama, sebagai pembentuk komunisme, Marx memperlihatkan teori agama dalam porsi sedikit apabila dibandingkan dengan sistem pemikiran total yang menyerupai agama. Menurut para komunis, tulisan Marx sama sakralnya dengan Kitab Suci orang Kristen. Sehingga tidak mengherankan apabila komunisme mempunyai sistem doktrin dengan interpretasi resmi. Bahkan komunisme bukan sekadar menyajikan teori politik, masyarakat, dan ekonomi. Melainkan juga menawarkan visi kehidupan manusia yang disertai pendirian filosofis.
Kedua, teori agama merupakan bagian kecil dari sentralitas pemikiran Marx. Perlu diketahui bahwa Marx memiliki pengaruh yang luar biasa di dunia modern. Namun, di antara sekian banyak karya Marx, tidak ada yang secara khusus dan sistematis membahas agama. Sehingga untuk merekonstruksi gagasan Marx mengenai agama, harus membaca berbagai macam tulisan filosofis dan sosial yang dikerjakan Marx.
HIDUP DAN KARYA-KARYA KARL MARX
Karl Marx lahir pada 5 Mei 1818 di Trier, Jerman. Marx merupakan anak kedua dari delapan bersaudara. Ayah Marx, Heinrich Marx adalah pengacara Yahudi di kota Trier. Marx berbakat secara intelektual, sangat mandiri, dan bersikap apa adanya atau terus terang. Baron von Westphalen merupakan sosok yang mengobarkan minat Marx pada sastra klasik (literary classics). Selanjutnya Marx menikahi anak dari Baron yang bernama Jenny. Ketika menikah dengan Jenny, Marx mempunyai enam anak.
Marx belajar filsafat dan hukum selama satu tahun di Universitas Bonn. Selanjutnya Marx pindah ke Universitas Berlin yang sangat dipengaruhi Georg Wilhelm Friedrich von Hegel (1770-1831). Karena pada waktu itu pemikiran Hegel mempengaruhi sebagian besar Universitas yang ada di Jerman. Sistem pemikiran Hegel sangat penting untuk memahami gagasan Marx.
Hegel adalah seorang idealis yang memandang ide-ide atau konsep lebih fundamental daripada hal-hal materi. Setiap pemikir yang ingin dianggap serius di Jerman harus menanggapi dengan cara tertentu sistem idealis Hegel. Terkait hal ini, Marx merupakan murid sekaligus kritikus Hegel. Pada 1841, Marx menyelesaikan disertasi doktoral.
Marx meyakini bahwa segala sesuatu yang secara fundamental nyata dapat ditemukan dalam kekuatan material, bukan konsep mental. Hal ini menjadi titik pijak bertumbuh dan berkembangnya dua gagasan Marx. Pertama, realitas ekonomi menentukan perilaku manusia. Kedua, sejarah manusia adalah kisah perjuangan kelas, di mana terjadi konflik antara yang kaya dan miskin.
Pada 1843-1850, Marx menulis kumpulan esai politik dan risalah filosofis, yaitu On the Jewish Question (1843), Toward the Critique of Hegel’s Philosophy of Right: Introduction (1843), Economic and Philosophic Manuscripts (1844), dan The Holy Family: Or a Critique of all Critiques (1845). Melalui karya-karya tersebut, Marx merumuskan padangan materialisnya mengenai sifat dan takdir manusia secara menyeluruh. Hal ini terlihat ketika Marx menguraikan mengenai sejarah dan masyarakat, ekonomi dan politik, moral, filsafat, dan agama. Secara umum, perspektif Marx terlukiskan dengan baik dalam moto surat kabar yang ia edit, the reckless criticism of all that exists.
Marx bertemu dan menjalin persahabatan dengan Friedrich Engels (1820-1895). Pada 1845, Marx dan Engels melakukan kolaborasi mengembangkan pandangan ekonomi dan sosial materialis. Marx adalah seorang filsuf dan pemikir yang mendalam. Sedangkan Engels merupakan penerjemah dan komunikator. Sehingga Engels mampu mengungkapkan gagasan secara jelas dan persuasif.
Selama bertahun-tahun, Marx dan Engels mengunjungi pabrik, berbagi hasil studi, dan saling memberikan kritik. Kolaborasi tersebut membuahkan hasil dalam sebuah karya, yaitu Communist Manifesto (1848). Sehingga Marx dan Engels disebut bapak marxisme yang mempromosikan materialisme, perjuangan kelas, komunisme, dan revolusi.
Ketika revolusi mulai meletus di Eropa pada 1848, Marx dicurigai. Kemudian Marx ditangkap dan diusir dari Belgia serta kembali ke Jerman. Pada 1849, Marx meninggalkan benua Eropa dan menuju ke London. Ketekunan Marx membaca di British Museum menghasilkan sejumlah karya mengenai politik revolusioner Prancis, ekonomi politik, dan sejarah serta teori ekonomi.
Das Capital (1867) merupakan salah satu karya Marx yang terpenting. Dalam karya tersebut terlihat bahwa Marx mengumpulkan berbagai macam data faktual, memasukkannya ke dalam analisis sosial, dan menambahkan wawasannya yang tajam ke dalam struktur sosial serta politik. Hal ini dimaksudkan Marx untuk memperlihatkan fakta-fakta kegiatan ekonomi yang mendukung pandangan materialisnya dan menunjukkan jalan revolusioner masa depan komunis.
Marx aktif dalam perjuangan kelas dan pertempuran pekerja melawan penindas kapitalis. Selain itu, Marx memberikan nasihat dan bantuan kepada partai-partai sosialis di Prancis serta Jerman dan memimpin Workingmen’s International Association. Dalam kesibukannya, Marx terus membaca dan menulis. Akhirnya, pada 1881 Jenny meninggal dan dua tahun kemudian Marx juga meninggal.
EKONOMI DAN TEORI PERJUANGAN KELAS
Sejarah masyarakat sampai saat ini merupakan sejarah perjuangan kelas. Kelas tersebut mencakup tuan dan budak serta penindas dan tertindas, di mana keduanya berdiri dalam pertentangan, persaingan, dan pertarungan. Ketika hidup di dunia, manusia berhadapan dengan persoalan material, kebutuhan dasar untuk bertahan hidup. Sehingga setiap orang membutuhkan makanan, pakaian, dan tempat tinggal.
Kebutuhan dasar dapat terpenuhi apabila menumbuhkan dan mengembangkan cara produksi (mode of production). Cara produksi menuntut adanya pembagian kerja, di mana setiap orang melakukan tugas dan tanggung jawab yang berbeda. Ikatan di antara orang-orang yang mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berbeda disebut hubungan produksi (relations of production). Dalam masyarakat paling awal dan sederhana, hal ini disebut Marx sebagai komunis primitif. Misalnya, setiap orang berbagi segala sesuatu sesuai kebutuhan.
Menurut Marx, komunisme kesukuan merupakan organiasi manusia yang paling alami. Hal ini memungkinkan manusia menikmati variasi hidup dan mampu memadukan antara pekerjaan yang bermakna dengan waktu luang yang menyegarkan. Ketika gagasan mengenai kepemilikan pribadi diperkenalkan, hubungan produksi menjadi berubah. Kepemilikan pribadi membingkai konflik antarmanusia, terjadi pemisahan kelas dan kerusuhan sosial.
Konflik kelas terus berlangsung dan memperoleh intensitas baru serta warna yang lebih gelap. Kapitalisme modern memperkenalkan mode produksi baru, manufaktur komersial, dan perubahan besar dalam hubungan produksi. Selain itu, konflik antara pemilik dan pekerja menjadi lebih intens. Dengan memperkenalkan aktivitas komersial dan motif keuntungan dalam skala besar, kapitalisme menghasilkan kekayaan bagi kaum borjuasi atau kelas menengah (middle class).
Sedangkan para pekerja atau proletariat tidak memiliki apa pun dan harus menjual tenaganya untuk memperoleh gaji. Situasi dan kondisi menjadi semakin parah ketika kapitalisme mengejawantah dalam rupa industri. Pabrik merupakan tempat para pekerja menghabiskan waktu dan hanya memperkaya pemiliknya. Penyebaran kapitalisme industri menghantar pada puncak konflik antarkelas, di mana para pekerja hanya menemukan harapan melalui revolusi.
Para pekerja melakukan upaya penyerangan dalam rangka menggulingkan tatanan sosial dan ekonomi yang menindas mereka. Sedangkan kaum borjuasi atau orang-orang kaya tidak mau membagikan segala sesuatu yang mereka miliki. Hal ini mengakibatkan terjadinya kekerasan dan konfrontasi.
Berhadapan dengan ketidakadilan, komunisme mempunyai misi ganda. Pertama, terkait pendidikan, yaitu menjelaskan realitas yang terjadi kepada setiap orang. Kedua, terkait aksi, yaitu memanggil kaum proletar untuk melakukan revolusi. Sehingga tidak mengherankan apabila partai komunis senantiasa mencela negara dan kelas penguasa. Mendesak para pekerja berorganisasi, merobohkan bangunan kapitalisme.
Tindakan tersebut dimaksudkan untuk memperoleh kebebasan dan perdamaian sejati dalam tatanan sosial umat manusia. Untuk mencapai keadaan tersebut, harus ada kediktatoran proletariat (dictatorship of the proletariat). Orang miskin, sekali tidak berdaya, akan benar-benar memegang kendali. Pada fase akhir sejarah, tercipta keharmonisan manusia, pembagian kelas dan kepemilikan pribadi tidak ada lagi.
MATERIALISME, ALIENASI, DAN DIALEKTIKA SEJARAH
Marx tidak menciptakan konsep kelas sosial dan perjuangan sosial. Namun, Marx menemukan relasi antara pembagian kelas sosial dan tahap-tahap perkembangan ekonomi. Sebagaimana diyakini Marx, perjuangan tersebut akan mengarah pada revolusi dan berakhirnya kelas sosial. Keyakinan tersebut terkait keberadaan Marx pada waktu itu di Berlin dan pengaruh Hegel.
Hegel memperlihatkan bahwa objek material merupakan sesuatu yang bersifat sekunder. Sedangkan realitas tertinggi disebut Hegel sebagai roh absolut (the absolute spirit) atau gagasan absolut (absolute idea) yang oleh orang beragama disebut Allah. Menurut Hegel, absolut (absolute) merupakan makhluk yang senantiasa berupaya menyadari dirinya.
Upaya menyadari diri ditempuh dengan terlibat dalam suatu peristiwa. Namun, setiap kali suatu peristiwa terjadi di dunia material (tesis), roh menghasilkan peristiwa yang berlawanan (antitesis). Ketegangan tersebut diselesaikan dalam peristiwa ketiga (sintesis), memadukan unsur-unsur dari keduanya.
Hegel menegaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia muncul dalam dialektika (dialectic), memberi dan menerima (give and take). Hegel melihat pergantian tersebut terjadi dalam pola sosial yang sangat besar. Sehingga seluruh dunia terbentang melalui proses yang besar dan bervariasi berdasarkan gerakan yang terjadi secara bergantian serta jalinan halus yang mengikat alam, sejarah dan roh menjadi satu kesatuan.
Pada dasarnya Marx menolak idealisme Hegel. Namun, Marx tidak menolak gagasan Hegel mengenai konsep alienasi dan sejarah yang bergerak seiring dengan proses konflik. Marx menempatkan kedua gagasan Hegel tersebut di dalam konsepnya mengenai materialisme dan manusia. Menurut Marx, sejarah merupakan tempat konflik yang hebat dan mengakibatkan alienasi (alienation).
Ketika Hegel berbicara tentang alienasi, seperti para teolog ketika memikirkan Allah Pencipta. Para teolog berpikir bahwa dunia fisik tidak pernah memenuhi kesempurnaan sumber spiritualnya. Menurut Marx, manusia yang konkret, aktual, dan bekerja yang menciptakan alienasi. Misalnya dalam agama, Allah senantiasa diberi pujian dan penyembahan yang seharusnya menjadi milik manusia.
Perlu diketahui bahwa Hegel memberikan pujian terhadap keringat dan kerja keras manusia. Namun, Hegel membuat kesalahan dengan meyakini bahwa manusia harus menyerahkan kepentingan dan keinginan pribadi kepada raja atau penguasa. Hal ini bukan karena adanya Allah dan orang yang pantas disebut sebagai bangsawan. Melainkan ada sesuatu yang secara fundamental salah dalam pemikiran manusia. Berdasarkan inti keberadaan manusia, alienasi diri dan batin berasal dari karakter alami manusia.
Menurut Marx, alienasi dapat dipahami dengan memperhatikan fakta ekonomi sehari-hari terkait kerja yang dilakukan manusia. Kerja disebut aktivitas bebas manusia apabila menghasilkan dan mendukung kehidupan sosial. Namun, harapan tersebut tidak terjadi dan terhalang oleh kepemilikan pribadi. Alienasi terjadi ketika manusia memikirkan produk kerjanya sebagai objek yang terpisah. Produk tersebut dapat dijual kepada orang lain.
Manusia teralienasi dari kehidupan spesies (species life), hanya berurusan dengan produk kerja. Bahkan pada tataran tertentu manusia teralienasi dari sesama. Relasi terjadi sebatas pada tindakan menukar hasil produk kerja. Berbagai macam bentuk alienasi membuat manusia menderita. Jika alienasi tersebut diatasi, maka manusia akan memperoleh kebahagiaan sejati.
EKSPLOITASI TENAGA KERJA DALAM KAITANNYA DENGAN KAPITALISME DAN NILAI SURPLUS
Alienasi dapat diatasi apabila penyebabnya diketahui. Namun, alienasi menjadi semakin parah ketika kapitalisme industri modern bertumbuh dan berkembang. Terkait hal ini, nilai dari sesuatu yang diciptakan atau dibeli dihasilkan melalui berbagai macam usaha. Sehingga ilmu ekonomi bekerja dengan pertukaran nilai untuk nilai.
Misalnya, pembuat sepatu membutuhkan waktu satu hari untuk menghasilkan sepasang sepatu. Sedangkan pembuat jam membutuhkan waktu dua puluh hari untuk menghasilkan sebuah jam. Oleh karena itu, jika pembuat sepatu ingin memiliki jam, maka ia harus membuat dua puluh pasang sepatu untuk menukarkannya dengan sebuah jam.
Menurut Marx, kapitalisme dan kepemilikan lebih mengedepankan keuntungan daripada pertukaran nilai yang setara. Selain itu, pekerja menciptakan nilai surplus bagi pemilik pabrik kapitalis. Persoalan ketidakadilan ini bukan sekadar persoalan mengenai keserakahan pribadi. Melainkan juga terkait dengan persaingan brutal pasar kapitalis.
Realitas tersebut membuat hidup para pekerja menjadi suram. Posisi para pekerja lemah di pasar yang sangat kompetitif. Ketika pabrik menjadi lebih efisien, para pekerja ditempatkan sebagai cadangan (reserve), dapat diganti setiap saat, dan upah yang diterima lebih murah.
Persaingan ketat dalam kapitalisme dan dorongan untuk memperoleh produksi yang lebih besar dari pekerja mengakibatkan munculnya produksi kapital yang berlebihan (overproduction of capital). Pekerja dan mesin membuat lebih banyak produk daripada yang sebenarnya bisa dijual. Dalam keadaan yang tidak menguntungkan, pemilik mengurangi produksi dan melakukan PHK. Hal ini menimbulkan penurunan bisnis dan pengangguran.
Situasi dan kondisi tersebut membuat kaum proletariat mengalami keputusasaan. Perlu diketahui bahwa di dalam sistem kapitalis, alat produksi mendominasi dan mengeksploitasi para produsen. Memutilasi para pekerja dan menjauhkannya dari potensi intelektual, tunduk pada despotisme dan waktu hidupnya menjadi waktu kerja.
Kemalangan kehidupan ekonomi menyulut api konflik sosial dan membawa kapitalisme menuju kehancuran. Dalam kesengsaraan ekonomi, para pekerja didorong untuk merencanakan, mengorganisir, dan bertindak melawan sistem kapitalis. Jika waktunya tepat, maka mereka akan memberontak. Pada saat itu, hari perhitungan bagi dunia kapitalis tiba.
BASIS DAN SUPERSTRUKTUR
Drama sentral sejarah adalah perjuangan kelas, di mana konflik dikendalikan dari bawah oleh realitas kehidupan ekonomi. Dalam kepemilikan pribadi, yang kaya memiliki alat produksi dan yang miskin tidak. Terkait hal ini, Marx membuat perbedaan antara basis (base) dan superstruktur (superstructure). Fakta ekonomi telah membentuk fondasi kehidupan sosial. Selain itu, menghasilkan pembagian kerja, perjuangan kelas, dan manusia teraleniasi.
Berdasarkan masyarakat kapitalis yang dibangun di atas prinsip kepemilikan pribadi, terdapat undang-undang yang melarang pencurian. Pemerintah menciptakan dan membayar polisi untuk memastikan bahwa hukum ditegakkan. Pencuri harus ditangkap dan dibawa ke pengadilan. Terdakwa harus dihukum karena pelanggarannya. Disintegrasi dan kerusakan hukum merupakan ancaman bagi tatanan masyarakat kapitalis yang terdiri dari segelintir penindas serta begitu banyak yang tertindas. Sehingga keberadaan negara yang kuat dan memberlakukan hukum serta menumpas penyimpangan dinilai sangat penting.
Otoritas dalam superstruktur budaya mencapai tujuan dengan menggunakan persuasi. Pada masa lampau, para teolog, filsuf, dan moralis mengendalikan orang miskin dengan memberitahu kepada mereka mengenai apa yang benar dan apa yang salah. Pada Abad Pertengahan, pertanian merupakan sarana produksi utama, di mana semua tanah dimiliki oleh uskup dan tuan feodal.
Mereka mempertahankan segala sesuatu yang dimiliki dengan tentara dan budak. Dalam masyarakat industri modern, dibutuhkan pekerja dalam jumlah besar. Para filsuf dan teolog modern mempromosikan nilai-nilai moral baru. Mereka mengklaim bahwa moral yang mereka ajarkan merupakan kebenaran abadi.
Kapitalisme mengarahkan kelas menengah yang sedang naik daun untuk mengadopsi bentuk agama baru, yaitu Protestan yang lebih sesuai dengan kepentingannya dalam perdagangan, investasi, dan usaha pribadi. Pada 1789, di Prancis muncul kelas menengah atau borjuasi perkotaan profesional dan birokrat yang merekayasa penggulingan raja serta memimpin serangan terhadap Gereja atas nama hak asasi manusia. Begitu pergolakan mereda, kepentingan ekonomi kembali menang ketika kelas menengah bersatu menahan aspirasi revolusioner dari massa yang miskin.
Realitas tersebut memperlihatkan bahwa superstruktur politik dan agama dikendalikan oleh basis ekonomi serta dinamika perang kelas. Menurut Marx, aktivitas intelektual yang membentuk superstruktur mengarah pada ideologi (ideology). Hal ini terlihat dari upaya yang dilakukan para seniman, politisi, dan teolog.
Mereka menghasilkan sistem ide dan karya seni kreatif yang muncul dari keinginan akan kebenaran dan cinta akan keindahan. Namun, produk tersebut sekadar ekspresi yang mencerminkan kebutuhan sosial tersembunyi untuk membenarkan segala sesuatu sebagaimana mereka yakini. Sehingga tidak mengherankan apabila para pemikir selalu menjadi pelayan para penguasa.
KRITIK KARL MARX TERHADAP AGAMA
Menurut Marx, agama merupakan ilusi murni. Hal ini merupakan contoh paling ekstrim dari ideologi, sistem kepercayaan yang tujuan utamanya adalah memberikan berbagai macam alasan. Selain itu, agama sangat ditentukan oleh ilmu ekonomi. Sehingga tidak ada gunanya mempertimbangkan doktrin atau kepercayaan berdasarkan kelebihannya sendiri.
Doktrin agama yang satu berbeda dengan agama lainnya. Karena agama selalu ideologis, maka bentuk kehidupan sosial ditentukan oleh kekuatan material yang mengendalikannya pada tempat dan waktu tertentu. Marx menegaskan bahwa kepercayaan kepada Allah merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan dalam perjuangan kelas. Oleh karena itu, kepercayaan kepada Allah harus dihentikan dengan cemoohan.
Sebagaimana diuraikan dalam pengantar disertasi doktoralnya, Marx menegaskan bahwa aku benci semua dewa (I hate all the gods). Karena agama dan orang-orang beragama tidak mengakui kesadaran diri manusia sebagai keilahian tertinggi (do not recognize man’s self-consciousness as the highest divinity). Sampai periode 1840, Marx belum mulai mengembangkan penjelasan yang disebutnya sebagai kritik (critique) agama.
Periode yang menentukan pemikiran Marx yaitu ketika membaca tulisan-tulisan Ludwig Andreas von Feuerbach (1804-1872). Feuerbach merupakan murid Hegel sekaligus kritikus idealisme. Perlu diketahui bahwa Feuerbach dipandang sebagai pahlawan bagi mahasiswa radikal di Universitas Jerman.
Feuerbach juga membicarakan kesadaran (consciousness) dan alienasi (alienation). Feuerbach melihat bahwa Hegel dan teologi Kristen membuat kesalahan yang sama. Keduanya membicarakan Allah atau yang absolut ketika yang sebenarnya mereka bicarakan adalah kemanusiaan. Para teolog Kristen memperhatikan kualitas pribadi manusia seperti kebaikan, keindahan, kejujuran, kebijaksanaan, cinta, ketabahan, dan kekuatan.
Kualitas pribadi tersebut dilepaskan dari manusia, dilihat sebagai sesuatu yang terpisah dan disembah dengan menyebutnya Allah. Perlu diketahui bahwa rasionalitas (rationality) dan kebebasan (freedom) menggambarkan ciri alamiah kehidupan manusia. Terkait hal ini, teologi Kristen dan filsafat Hegel dinilai mengasingkan (alienating) kesadaran manusia.
Marx memuji Feuerbach sebagai penakluk sejati filsafat Hegel. Selain itu, Marx menggambarkan karya Feuerbach sebagai satu-satunya tulisan sejak Hegel yang mengandung revolusi teoretis yang nyata. Dalam kritiknya terhadap filsafat hak Hegel, Marx menegaskan bahwa manusia yang mencari manusia super dalam realitas surga yang fantastis tidak menemukan apa pun di sana kecuali refleksi dirinya sendiri. Menurut Marx, manusia membuat agama, bukan agama membuat manusia.
Manusia menolak menyampaikan pujian atas pencapainnya sendiri. Bahkan manusia bersikeras menyebut diri sebagai orang berdosa dan menawarkan pujian serta kemuliaan kepada Allah. Hal ini menurut Feuerbach merupakan sifat manusia untuk teralienasi dan tidak bahagia dengan diri sendiri serta lebih senang dengan Allah. Sedangkan menurut Marx, alienasi harus dilihat dari perspektif materialis dan ekonomi.
Menurut Marx, terdapat pararel antara aktivitas agama dan sosial-ekonomi, di mana keduanya ditandai dengan alienasi. Agama mengambil kualitas ideal moral dari kehidupan alami manusia dan memberikannya kepada Allah. Ekonomi kapitalis mengambil ekspresi lain dari kemanusiaan sebagai kerja produktif dan mengubahnya menjadi objek material, sesuatu yang dapat dibeli, dijual, dan dimiliki.
Manusia menyerahkan kebajikan dan harga dirinya kepada Allah. Selain itu, manusia memberikan tenaganya untuk mendapatkan segala sesuatu yang akan dibeli dengan uang. Agama merampas kemanusiaan dan memberikannya kepada Allah. Sedangkan ekonomi kapitalis merampas kerja dan ekspresi manusia serta memberikannya sebagai komoditas kepada orang-orang yang mampu membeli. Agama merupakan bagian dari superstruktur masyarakat dan ekonomi menjadi basisnya. Dengan kata lain, alienasi dalam agama adalah ekspresi ketidakbahagiaan manusia yang bersifat ekonomis dan material.
Agama mempunyai daya tarik yang kuat dan bertahan lama. Selain itu, agama mampu menangani kebutuhan emosional manusia yang teralienasi dan tidak bahagia. Terkait hal ini, agama sejatinya merupakan ekspresi dari tekanan ekonomi dan protes terhadap realitas kehidupan. Agama adalah jeritan dari orang-orang yang tertindas dan candu masyarakat. Sehingga penghapusan agama yang menghasilkan kebahagiaan ilusi masyarakat diperlukan untuk memperoleh kebahagiaan sejati.
Opium merupakan zat narkotik dan halusinogen yang meredakan rasa sakit serta menciptakan fantasi. Hal ini seperti peran agama ketika berhadapan dengan orang-orang miskin. Penderitaan yang mereka alami diredakan dengan fantasi dunia adikodrati, di mana semua kesedihan berhenti dan penindasan lenyap. Gerbang surga digambarkan bertahtakan mutiara dan jalan menuju surga dilapisi dengan emas.
Agama menjadi bisnis yang sangat menghibur. Jika Allah dan dunia adikodrati tidak ada, maka menjadi religius pada dasarnya seperti orang kecanduan obat. Hal ini merupakan pelarian murni dan secara fundamental sangat merusak. Sehingga agama mengalihkan pandangan manusia ke atas, menuju Allah. Bukan ke bawah yang memperlihatkan situasi dan kondisi hidup manusia, yaitu ketidakadilan.
Feuerbach melihat bahwa manusia teralienasi dan beralih ke agama. Namun, Marx tidak setuju dengan gagasan Feuerbach tersebut. Karena tujuan menganalisa persoalan agama bukan sekadar untuk memperoleh topik baru untuk didiskusikan. Melainkan menemukan strategi untuk menyelesaikan persoalan. Menurut Marx, para filsuf hanya menafsirkan dunia dengan berbagai macam cara. Namun, sesuatu yang lebih penting yaitu mengubahnya.
Melarikan diri merupakan tawaran yang diberikan agama kepada manusia yang tertindas. Agama menyediakan ideologi, di mana orang miskin harus meyakini bahwa tatanan sosial harus tetap apa adanya. Menurut Marx, prinsip-prinsip sosial Kristiani membenarkan perbudakan dan penindasan terhadap kaum proletar, mengajarkan pentingnya adanya kelas yang berkuasa dan yang tertindas, dan tindakan keji para penindas terhadap yang tertindas dilihat sebagai hukuman yang adil atas dosa mereka.
Engels dan Karl Johann Kautsky (1854-1938) melihat bahwa kebangkitan agama Kristen di dunia kuno merupakan ekspresi protes revolusioner proletar terhadap orang-orang Romawi yang memiliki hak istimewa sebagai penindas. Dalam beberapa dekade terakhir, para teolog Amerika Latin menggunakan kategori dan analisis Marxis untuk membingkai gerakan protes melawan ketidakadilan ekonomi yang dikenal sebagai teologi pembebasan (liberation theology).
ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN KARL MARX
Dewasa ini, pemikiran Marx mengenai agama memiliki pengaruh besar. Karena pemikiran Marx bukan sekadar teori ilmiah. Marxisme dan kritiknya terhadap agama merupakan filosofi kehidupan yang mempengaruhi kehidupan intelektual modern. Namun, pemikiran Marx mengenai agama sulit dicapai. Terdapat dua gagasan yang harus dipahami ketika membicarakan pemikiran Marx mengenai agama.
Pertama, pemikiran Marx bersifat fungsional dan reduksionis. Pendekatan Marx terhadap agama bersifat fungsional. Selain itu, menurut Marx yang menarik dari agama bukan Allah, surga, dan Kitab Suci. Marx setuju dengan Sir Edward Burnett Tylor (1832-1917) dan Sir James George Frazer (1854-1941) yang memandang agama sebagai sesuatu yang takhayul dan absurd. Selain itu, Marx setuju dengan Sigmund Freud (1856-1939) dan Èmile Durkheim (1858-1917) yang menekankan fungsi agama.
Penekanan Marx pada masyarakat membuat pandangannya lebih dekat dengan Durkheim daripada Freud. Karena Freud menekankan individu, bukan kelompok. Namun, perbedaan pandangan antara Marx dan Freud tidak terlalu mencolok. Hal ini terlihat dari teori Freud yang mempunyai ciri sosial, di mana individu dibentuk dan dipengaruhi oleh keluarga serta komunitas.
Menurut Durkheim, agama sekadar penyembahan terhadap masyarakat. Karena tidak mungkin membayangkan kehidupan sosial manusia tanpa serangkaian ritual keagamaan. Sedangkan Marx dan Freud meyakini bahwa agama mengungkapkan kebutuhan palsu akan keamanan individu. Sebagaimana ditegaskan Freud, manusia menjadi lebih baik apabila tanpa ilusi neurosis iman. Marx melihat manusia akan menjadi lebih baik apabila eksploitasi dan kesengsaraan dihapus.
Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa pandangan Marx bersifat fungsional sekaligus reduksionis. Hal ini terlihat ketika Marx menggambarkan agama sebagai dampak, ekspresi, dan gejala dari sesuatu yang nyata serta substansial. Marx selalu mencari sebab tersembunyi dibalik kepercayaan dan ritual agama. Menurut Freud, hal ini merupakan kebutuhan psikologis neurotik. Selanjutnya Durkheim melihat dalam kaitannya dengan masyarakat. Sedangkan Marx melihatnya sebagai akibat dari perjuangan kelas dan alienasi.
Kedua, Marx menekankan relasi antara agama dan ekonomi. Satu abad sejak kematian Marx, murid-muridnya mewarisi dan mempromosikan gagasan mengenai relasi antara dimensi kehidupan spiritual serta material. Terdapat relasi di antara kebutuhan ekonomi, kelas sosial, dan kepercayaan agama. Selain itu, mereka menghasilkan studi provokatif mengenai relasi antara agama dengan imperialisme modern, kolonialisme, dan perbudakan.
EMPAT KOMENTAR KRITIS TERHADAP GAGASAN KARL MARX MENGENAI AGAMA
Reduksionisme ekonomi Marx menawarkan berbagai macam wawasan mengenai ikatan yang mengikat agama dengan kehidupan sosial serta ekonomi. Perlu diketahui bahwa penilaian Marx terhadap agama tidak bisa dipisahkan dari aspek pemikirannya yang lain. Hal ini juga nampak dalam pemikiran Freud, di mana penilaiannya terhadap agama bergantung pada klaimnya mengenai psikologi.
Sangat sulit mengevaluasi teori agama Marx tanpa pada saat yang sama membuat penilaian atas klaimnya mengenai ekonomi, politik, dan masyarakat. Selanjutnya akan ditunjukkan empat komentar kritis terhadap pemikiran Marx mengenai agama. Selain itu, pemikirannya yang lebih luas mengenai alam, sejarah, dan usaha sosial manusia.
Pertama, kekristenan dan agama. Penjelasan yang disampaikan Marx bukan uraian mengenai agama secara umum. Melainkan analisis mengenai kekristenan yang menekankan kepercayaan pada Allah dan kehidupan setelah kematian. Hal ini memperlihatkan bahwa Marx sangat dipengaruhi oleh Hegel yang memandang kekristenan sebagai agama tertinggi. Segala sesuatu yang dikatakan Hegel mengenai kekristenan diterapkan secara otomatis oleh Marx ke semua agama. Perlu diketahui bahwa fokus utama pemikiran Marx bukan pada peradaban dunia terkait budaya dan ekonomi Barat yang merupakan tanah air sejarah agama Kristen.
Ketika menjelaskan agama, Marx memikirkan agama Kristen yang dilihatnya sebagai candu dan tempat pelarian orang miskin dari kesengsaraan serta penindasan ekonomi. Penjelasan marxis pada dasarnya serupa dengan doktrin Hindu mengenai kelahiran kembali yang menawarkan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Selain itu, doktrin Buddha mengenai kegembiraan sebagai ketiadaan atas kesengsaraan dunia dan kehidupan saat ini.
Tesis Marx tidak dapat diterapkan pada agama suku primitif tertentu yang tidak mempunyai doktrin mengenai kehidupan setelah kematian. Menurut Marx, fenomena alienasi yang menciptakan agama muncul ketika manusia diperkenalkan dengan pembagian kerja dan kepemilikan pribadi. Hal ini seolah-olah memperlihatkan bahwa ada periode di mana manusia tidak membutuhkan agama. Realitas justru menunjukkan kebalikannya, manusia senantiasa membutuhkan dan memiliki agama.
Kedua, agama, reduksi, dan superstruktur. Agama dalam pandangan Marx merupakan sebuah ideologi. Seperti negara, seni, wacana moral, dan upaya intelektual, agama termasuk superstruktur masyarakat serta bergantung secara fundamental pada basis ekonomi. Sehingga ketika terjadi perubahan pada kehidupan ekonomi, agama juga ikut berubah. Marx menegaskan bahwa analisa yang dilakukannya bersifat ilmiah. Namun, ketika Marx mereduksi agama menjadi ekonomi dan perjuangan kelas, ia melakukannya dalam istilah dan variabel yang begitu luas. Oleh karena itu, teorema-teoremanya sulit untuk diuji secara ilmiah dan sistematis.
Misalnya, pandangan Marx benar ketika mengatakan bahwa kebangkitan kapitalisme pada akhir Abad Pertengahan menyebabkan pergeseran dari Katolik ke Protestan. Namun, bagaimana perubahan dalam skala yang lebih kecil terjadi? Apakah superstruktur religius ikut berubah? Mengapa tidak ada perkembangan seperti Protestan dalam superstruktur sosial yang juga mencerminkan perubahan tersebut? Mengapa setelah kebangkitan kapitalisme ditemukan sistem ekonomi borjuis baru di beberapa kota dan negara yang tidak menjadi Protestan? Apakah ekonomi mengubah agama? Apakah agama baru mengubah ekonomi?
Rangkaian pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa hanya sedikit koneksi historis yang pasti seperti anggapan Marx. Selain itu, di luar ranah agama, yaitu bidang seni, sastra, moral, politik, dan hukum telah mengubah serta membentuk ekonomi. Karena pada dasarnya agama dalam kaitannya dengan masyarakat merupakan bagian dari sebab dan akibat yang kompleks.
Ketiga, kontradiksi teori politik marxis. Terkait persoalan sosial dan politik, Marx merekomendasikan sistemnya sebagai landasan teori serta tindakan nyata. Kelas buruh atau proletariat dilihat sebagai agen revolusi yang harus bangkit untuk menghancurkan kapitalisme borjuis. Terkait hal ini, para pemimpin dan anggota partai komunis menyebut dirinya sebagai perwakilan terpilih untuk mewujudkan kepentingan tunggal serta seragam dari rakyat (the people). Mereka berbicara dan bertindak untuk revolusi. Karena hanya ada satu kemauan kolektif (collective will) dari rakyat, maka tidak ada tempat untuk ketidaksepakatan mengenai tujuannya.
Meskipun mereka dapat melakukan pekerjaannya, tidak ada yang namanya kebebasan individu (individual freedom) bagi seniman, ilmuwan, dan kaum intelektual. Sehingga orang tua harus menyadari bahwa anak-anak mereka adalah milik negara. Bahkan agama tidak dapat ditoleransi, lantaran agama dinilai menguras energi revolusioner. Dengan kata lain, dituntut kesetiaan tertinggi yang harus diberikan dalam perjuangan revolusi.
Jika gagasan tersebut dilihat sebagai potret yang adil dari program sosial revolusioner Marx, maka sangat sulit untuk melihat bagaimana program tersebut dapat mencapai komunitas harmonis tanpa kelas. Marx berasumsi bahwa para pekerja berada dalam posisi yang menyedihkan dan tertindas. Saat Perang Dunia Pertama, sejumlah pemimpin komunis berharap kaum proletar di Eropa menolak melawan sesama pekerja di negeri musuh. Namun, harapan tersebut tidak terjadi.
Teori marxis mengasumsikan bahwa sejumlah kelompok kecil membuat keputusan penting atas nama pekerja. Tetapi tanpa lembaga dalam masyarakat yang mempunyai hak untuk memeriksa dan mempertanyakan klaim tersebut. Perlu diketahui bahwa Marx sendiri tidak pernah terpengaruh oleh seruan hak asasi manusia. Hal ini memperlihatkan kontradiksi di jantung teori sosial marxis. Sebuah paradoks yang oleh sejumlah kritikus dilukiskan sebagai persoalan demokrasi totaliter (totalitarian democracy).
Keempat, kontradiksi teori ekonomi marxis. Marx berupaya dalam Das Capital untuk memberikan dasar yang kuat terkait fakta ekonomi dan eksploitasi pekerja. Menurut Marx, kerja manusia menciptakan nilai yang dapat ditemukan dalam produk. Terkait hal ini, eksploitasi terjadi ketika kapitalis membayar pekerja sebatas untuk bertahan hidup. Kemudian kapitalis mencuri (steal) untuk diri mereka sendiri dari nilai surplus produk yang dihasilkan pekerja.
Berdasarkan Das Capital, Eugen von Böhm-Bawerk (1851-1914) menemukan kontradiksi besar (massive contradiction) antara teori nilai dan fakta kehidupan kapitalis. Marx memegang teori nilai kerja, di mana hanya pekerja dan bukan mesin yang menciptakan nilai yang masuk ke dalam produk mereka. Jika demikian, maka seharusnya industri padat karya menciptakan nilai surplus.
Teori nilai surplus tidak lain adalah poros yang menjadi dasar klaim utama Marx mengenai eksploitasi pekerja. Doktrin eksploitasi, tesis perjuangan kelas, klaim tentang basis dan superstruktur, dan teori agama sebagai gejala alienasi yang mengerikan serta suram sulit dipertahankan dan tidak mungkin diterapkan. Meskipun kaum marxis telah bekerja keras menyangkal kritik tersebut, tetapi tidak berhasil.
REVELANSI PANDANGAN KARL MARX MENGENAI AGAMA SEBAGAI ALIENASI
Marx memusatkan perhatian pada persoalan kemanusiaan. Terkait hal ini, kehidupan beragama harus dikaitkan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Relevansi agama di dalam masyarakat ditentukan secara signifikan dari keberpihakannya pada orang-orang kecil dan tertindas. Sehingga tidak mengherankan apabila teologi pembebasan pada 1970 memaklumkan perjuangannya sebagai keberpihakan kepada orang-orang miskin. Teologi pembebasan terinspirasi pada analisa Marx mengenai relasi konflik di antara kelas-kelas masyarakat.
Marx mengajak kita waspada akan penyalahgunaan argumen-argumen agama untuk meninabobokkan orang dengan membawanya ke dunia gaib daripada berupaya mengembangkan dirinya dan membangun masyarakat. Dilihat berdasarkan konteks sejarah, agama di Eropa secara khusus agama Kristen pada waktu itu bekerjasama dengan kapitalis dan diuntungkan oleh mereka. Hal ini dilakukan tanpa memberikan perhatian terhadap orang-orang yang tertindas, yaitu kaum buruh miskin.
Kesangsian Marx terhadap motivasi beragama seseorang dapat dijadikan sebagai upaya mengoptimalkan model beragama yang masih formalistik dan ritualistik. Sehingga orang-orang beragama harus peka terhadap situasi sosial masyarakat yang terpuruk akibat penindasan dan dominasi. Meningkatkan dan menghargai kualitas eksistensi manusia, tidak mengeksploitasi serta menghegemoni masyarakat miskin dengan membawa simbol agama. Mengembangkan teologi yang humanis, membebaskan manusia dari belenggu penderitaan.
PENUTUP
Marx melihat bahwa kehidupan sehari-hari dan struktur kekuasaan di dalam masyarakat tidak memungkinkan manusia mengejawantahkan sifat serta hakikatnya. Oleh karena itu, manusia mengarahkan diri pada agama (dunia khayal). Karena kehidupan nyata membatasi dan menindasnya. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan manusia beragama merupakan ekspresi dan protes terhadap berbagai macam penderitaan, penindasan, dan ketidakadilan. Dengan kata lain, agama menjadi opium atau candu di tengah masyarakat yang jauh dari kesejahteraan dan kebahagiaan.
Perlu diketahui bahwa Marx tidak menjelaskan ada atau tidak adanya Allah. Marx sekadar menjelaskan fungsi psikologis agama. Agama dilihat Marx sebagai opium atau candu masyarakat. Terkait hal ini, Allah bukan ciptaan manusia. Karena Allah pada dasarnya merupakan arah dan tujuan transendensi manusia. Sehingga tidak mengherankan apabila di negara maju rasa percaya masyarakat terhadap Allah tidak lenyap. Bahkan negara dunia ketiga menjadikan agama sebagai pelopor praksis pembebasan melawan tirani.
Umat beriman mengungkapkan sifat Allah dengan kata maha yang berarti tidak terbatas. Kategori tidak terbatas tidak ditemukan dalam pengalaman manusia sehari-hari. Oleh karena itu, jika manusia mampu menyatakan Allah sebagai maha, maka pernyataan tersebut tidak bertolak dari pengalaman inderawi yang terbatas. Dengan demikian, pengandaian adanya Allah yang melampaui pengalaman inderawi tidak dapat dikatakan sebagai opium atau candu.
SUMBER BACAAN
Cohen, Stanley. States of Deniel: Knowing About Atrocities and Suffering. Cambridge: Polity Press, 2001.
Pals, Daniel L. Nine Theories of Religion. Oxford: Oxford University Press, 2006.
Lemert, Charles C. dan Anthony Elliott. Introduction to Contemporary Social Theory. New York: Routledge, 2014.
Löwy, Michael. “Liberation-Theology Marxism.” Dalam Jacques Bidet dan Stathis Kouvelakis (Editor). Critical Companion to Contemporary Marxism. Boston: Brill, 2008.
Turner, Denys. “Religion: Illusions and Lieration.” Dalam Terrell Carver (Editor). The Cambridge Companion to Marx. Cambridge: Cambridge University Press, 2006.
CATATAN
Tulisan ini pernah dipublikasikan dengan keterangan sebagai berikut:
Prasetyo, Yohanes Wahyu. “Pandangan Karl Marx Mengenai Agama Sebagai Alienasi”. Gita Sang Surya. Vol. 17, No. 5 (September-Oktober 2022), hlm. 78-88. ISSN 1978-3868
Format PDF dari tulisan ini dapat diakses melalui http://repo.driyarkara.ac.id/2020/
