October 19, 2025

Upaya Feminisme Biblis dan Kristen Menafsirkan Kitab Suci: Mengejawantahkan Kesetaran Antara Laki-Laki dan Perempuan

Yohanes Wahyu Prasetyo

(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)

 

Para feminis berupaya menumbuhkan dan mengembangkan hermeneutika untuk menghadapi bias patriarki dalam Kitab Suci. Upaya tersebut dilakukan bukan sekadar dengan memahami teks Kitab Suci. Tetapi mengubah cara membaca dan memahami Kitab Suci yang terkait perempuan serta budaya penindasan. Terkait hal ini, hilangnya kritik historis feminis terhadap Kitab Suci menyadarkan pentingnya pertanyaan metodologis dan teoretis mengenai premis serta konsep fundamental studi sejarah.

Feminis merupakan istilah luas yang mencakup beberapa kelompok. Pertama, feminis sekuler, tidak menerima otoritas Kitab Suci. Kedua, feminis religius, meyakini pandangan dunia religius. Ketiga, feminis Kristen, menerima otoritas Kitab Suci pada tataran terbatas. Keempat, feminis evangelis, meyakini bahwa Kitab Suci mengajarkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

SEKILAS TENTANG FEMINISME BIBLIS

Feminisme biblis dapat dilacak ke dalam gerakan abolisionis abad XIX dan perjuangan hak pilih perempuan. Periode dan peristiwa tersebut diidentifikasi sebagai fase pertama feminisme biblis. Sebagian besar penafsir feminis abad XIX adalah orang awam dan tidak terlatih dalam reformasi sosial. Meskipun demikian, interpretasi mereka dijadikan dasar untuk menentang perbudakan dan ketidaksetaraan gender di Amerika.

Setelah mempelajari Kitab Suci dengan seksama, feminis abad XIX seperti Elizabeth Cady Stanton (1815-1902) menyimpulkan bahwa penyebab ketidaksetaraan gender adalah penaklukkan perempuan. Ia mengedit dan membantu menulis Women’s Bible, kumpulan komentar yang menyoroti serta mengekspos sifat patriaki Kitab Suci. Para penulis hanya mengutamakan bagian Kitab Suci yang memuliakan perempuan. Dalam fase pertama feminisme biblis, secara pesimis para feminis menganggap Kitab Suci bersifat patriarki. Sehingga tidak mengherankan apabila mereka menyangkal otoritas Kitab Suci.

Fase kedua feminisme biblis muncul di tengah perjuangan hak sipil pada 1960. Pada waktu itu anggota feminisme biblis sebagian besar adalah akademisi. Ilmu Kitab Suci modern menggunakan kritik sejarah, membaca Kitab Suci sebagai tulisan sejarah kuno. Mereka menilai bahwa Kitab Suci ditulis oleh orang-orang yang hidup dalam budaya patriarki. Melalui kritik sejarah, para feminis menyoroti perempuan dan menafsirkan kembali sejumlah bagian Kitab Suci dalam perspektif feminis.

Pada awal penelitian, akademisi seperti Letty Mandeville Russell (1929-2007) optimis bahwa makna Kitab Suci yang menegaskan kesetaraan gender telah disembunyikan selama ratusan tahun oleh interpretasi androsentris dan misoginis. Sehingga para feminis mempunyai tugas mengungkap makna sebenarnya dari Kitab Suci. Ketika meneliti Kitab Suci dengan cermat sebagai dokumen sejarah dan sastra, para akademisi feminis kurang optimis dengan sifat egaliternya. Karena makna Kitab Suci sangat androsentris dan menindas perempuan.

Teolog feminis seperti Mary Daly (1928-2010) menegaskan bahwa sifat patriarki dalam tradisi Kristen bukan hanya kesalahan para penafsir Kitab Suci yang seksis. Kitab Suci pada dasarnya sangat menindas perempuan, menundukkan perempuan di bawah otoritas laki-laki. Hal ini tampak jelas bahwa Allah orang-orang Kristen adalah Allah laki-laki yang mengutus seorang Putra dan meninggalkan sedikit ruang bagi perempuan dalam sejarah keselamatan. Akibatnya, kelompok feminis revolusioner sama sekali menolak otoritas Kitab Suci.

Para akademisi feminis membagi tugas untuk mengidentifikasi perempuan dalam Kitab Suci. Melihat bagaimana perempuan diperlakukan oleh penulis Kitab Suci. Mereka memperhatikan citra perempuan dan berupaya membentuk pemahaman modern mengenai kemanusiaan penuh yang harus dimiliki perempuan. Selain itu, mereka mengisi celah di mana penulis Kitab Suci gagal melihat suatu peristiwa dari sudut pandang perempuan dan membuat perempuan diam.

Usaha tersebut ditempuh dengan penelitian sejarah, sosial, arkeologi, dan antropologi. Mereka menafsirkan Kitab Suci dalam perspektif teologis, sebuah upaya yang ditolak kritik sejarah modern. Namun, mereka menyajikan jalan maju yang konstruktif bagi para penafsir modern yang berkomitmen pada feminisme. Perlu diketahui bahwa lebih dari tujuh puluh ahli menyumbangkan entri untuk kamus Women in Scripture. Kamus tersebut membantu para akademisi feminis dalam empat hal.

Pertama, bergabung untuk mengumpulkan, mengenali, dan memberikan suara kepada lebih dari delapan ratus perempuan yang tidak disebutkan dalam Kitab Suci. Kedua, menawarkan informasi terkait latar belakang sejarah dan sosial mengenai kehidupan serta pengalaman perempuan. Ketiga, perhatian yang cermat terhadap Kitab Suci sebagai karya sastra. Keempat, mengidentifikasi tafsir tradisional yang salah mengenai Kitab Suci, namun masih tetap populer.

GAGASAN FEMINISME KRISTEN MENGENAI KEBEBASAN DAN KESETARAAN

Feminisme Kristen menekankan sikap menghormati martabat perempuan. Selain itu, menghapus diskriminasi, kekerasan, dan ketidaksetaraan terhadap perempuan. Rosemary Radford Ruether (1936-2022) menegaskan bahwa teologi Kristen mencirikan dominasi dan penindasan laki-laki terhadap perempuan. Hal ini terlihat selama berabad-abad perempuan tidak dimungkinkan menjadi pemimpin masyarakat. Selain itu, perempuan tidak memperoleh kesempatan menempuh pendidikan teologi.

Para feminis melihat pentingnya memperbaiki nasib perempuan. Terkait hal ini, ada yang berasumsi bahwa dominasi laki-laki terjadi karena kelemahan perempuan. Terlepas dari asal-usul keyakinan mengenai perbedaan gender, para feminis menyoroti fakta terkait situasi dan kondisi perempuan yang dianggap sebagai pribadi lemah. Selain itu, ada yang berpendapat bahwa doktrin Kristen mengkonsolidasi hirarki melalui dominasi laki-laki dalam struktur otoritas Gereja.

Penganut feminisme Kristen menekankan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dengan mengacu pada catatan Kitab Suci mengenai kebebasan serta kesetaraan semua orang. Argumen kuncinya yaitu penindasan dan ketidakadilan yang dialami perempuan merupakan negasi dari gagasan kebebasan manusia. Dengan demikian, tindakan tersebut pada dasarnya bertentangan dengan kehendak Allah.

PANDANGAN KITAB SUCI DAN GEREJA KATOLIK MENGENAI KESETARAAN ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Menurut Kitab Kejadian, laki-laki dan perempuan memanifestasikan Sang Pencipta. Oleh karena itu, hikmat Kitab Suci harus menjadi jawaban terhadap persoalan diskriminasi, kekerasan, dan ketidakadilan terhadap perempuan. Terkait hal ini, laki-laki dan perempuan diciptakan sebagai citra Allah serta mempunyai relasi personal dengan Allah. Mereka berbagi tanggung jawab untuk melahirkan dan membesarkan anak-anaknya. Bahkan pada tataran tertentu mereka mempunyai kuasa atas tatanan ciptaan (Kej 1:26-28).

Kitab Suci mendefinisikan kepemimpinan sebagai tindakan melayani, bukan menguasai (Mat 20:25-28, Mrk 10:42-45, Yoh 13:13-17, Gal 5:13, dan 1 Ptr 5:2-3). Kitab Suci mengajarkan bahwa suami dan istri mewarisi anugerah kehidupan dan terikat dalam relasi saling bertanggung jawab (1 Kor 7:3-5, Ef 5:21, 1 Ptr 3:1-7, dan Kej 21:12). Terkait hal ini, fungsi suami sebagai kepala harus dipahami sebagai pelayan dan pemberi kasih (Ef 5:21-33, Kol 3:19, dan 1 Ptr 3:7). Oleh karena itu, suami menopang istri dan istri tidak tunduk kepada suami.

Sebagaimana dilukiskan dalam Kitab Kejadian, Hawa diciptakan bersama dengan Adam. Sikap tidak taat dan memakan buah terlarang pada dasarnya terkait dengan rasa haus akan ilmu pengetahuan. Memetik dan memakan buah terlarang merupakan pilihan bebas yang membangkitkan kesadaran akan pentingnya membuat keputusan mandiri dalam hidup. Wilayah kebebasan adalah wilayah kemanusiaan, di mana Hawa melambangkan kemandirian manusia yang melampaui kodrat hewani.

Berdasarkan Kitab Suci Perjanjian Lama, sering kali laki-laki digambarkan mendominasi perempuan. Namun, terdapat tiga contoh di mana perempuan menangkal ketidakberdayaan ketika berhadapan dengan laki-laki. Pertama, Sara membujuk Abraham untuk melakukan hubungan badan dengan Hagar. Kedua, Lea dan Rahel melakukan tindakan yang sama terhadap suami mereka. Ketiga, Tamar memperjuangkan posisinya dalam keluarga dan pura-pura menjadi pelacur untuk melahirkan keturunan.

Metode yang secara moral kontroversial tersebut merupakan penyangkalan terhadap kepasifan dan ketundukan perempuan. Tindakan tersebut adalah tekad dan keberanian untuk mencapai tujuan yang diinginkan serta kepuasan hidup. Perlu diketahui bahwa tindakan serupa dilakukan Ruth dan Naomi yang meminta agar orang Moab menikah lagi. Bahkan pada tataran tertentu Allah campur tangan atas nama perempuan, seperti kasus Sara yang memperoleh keturunan pada masa tua.

Perjanjian Lama juga melukiskan perempuan seperti Ribka yang terlepas dari sistem sosial patriarki. Situasi dan kondisi tersebut mempengaruhi nasib bangsa Yahudi. Misalnya, tindakan Betsyeba menobatkan seseorang, padahal ia tidak mempunyai hak untuk menjalankan tugas tersebut. Selain itu, perempuan kaya Sunem yang tidak mempunyai anak sebagaimana dilukiskan dalam 2 Raj menjadi kepala keluarga.

Selain kehidupan keluarga, perempuan berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Debora, Hulda, dan Miryam menjadi hakim serta nabi. Yael menjadi pejuang perempuan. Izebel dan Atalya menjadi penguasa perempuan. Ester menjadi penyelamat orang Yahudi. Hal ini memperlihatkan bahwa perempuan memperjuangkan hak mereka dan berkontribusi bagi perubahan sosial. Perempuan juga mendukung kehendak Allah. Sehingga dapat dikatakan bahwa Perjanjian Lama memperlihatkan berbagai macam peran perempuan yang mewakili periode sejarah berbeda di Israel kuno.

Pemikiran antropologis Kristen didasarkan pada gagasan mengenai kesetaraan semua orang dihadapan Allah. Selain itu, laki-laki dan perempuan mempunyai etos kerja bersama untuk kepentingan keluarga serta masyarakat. Peran perempuan sebagai ibu dan istri dihadapkan dengan cara pandang kontemporer mengenai aktivitas profesional. Hal ini merupakan tantangan bagi Gereja Katolik. Yohanes Paulus II (1920-2005) melihat laki-laki dan perempuan setara dalam martabat serta tanggung jawab. Sebelumnya, dalam ensiklik Casti Connubi Pius XI (1857-1939) menegaskan bahwa ketaatan istri terhadap suami merupakan peran perempuan yang bersifat alami.

Yohanes Paulus II menentang pendapat Pius XI dan berupaya mengembangkan feminisme Kristen. Yohanes Paulus II menekankan peran perempuan dalam menjalankan tugas-tugas sosial dan memegang jabatan publik. Meskipun demikian, Yohanes Paulus II tidak mengesampingkan peran perempuan sebagai ibu dan mengurus keluarga. Tetapi membuatnya setara dengan tugas dan tanggung jawab profesional. Sehingga pertumbuhan dan perkembangan sosial serta budaya perempuan terwujud.

Bahkan dalam Laborem Exercens, Yohanes Paulus II memperlihatkan pentingnya makna etos kerja untuk perkembangan masyarakat. Teologi kerja dapat menjelaskan secara mendalam makna kerja dalam kehidupan orang-orang Kristen. Selain itu, menunjukkan ikatan mendasar antara pekerjaan dan keluarga. Dengan demikian, pekerjaan rumah dan mengasuh anak merupakan tugas serta tanggung jawab profesional.

Penghormatan terhadap pekerjaan yang dilakukan di rumah seperti mengasuh anak, harus memperoleh penghargaan yang sama dengan pekerjaan profesional. Pandangan Yohanes Paulus II tersebut berdampak positif terhadap posisi perempuan dalam masyarakat. Oleh karena itu, penekanan pada penghargaan yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam Gereja Katolik merupakan dukungan bagi gerakan emansipasi.

PENDEKATAN POSITIF FEMINIS DALAM MEMBACA KITAB SUCI

Para feminis menggunakan pendekatan positif ketika membaca Kitab Suci. Hal ini dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa Kitab Suci tidak bersifat patriarki. Terdapat beberapa pendekatan positif yang digunakan para feminis. Pertama, membaca teks Kitab Suci dalam konteks sosial dan budaya dengan asumsi bahwa penulis Kitab Suci mengungkapkan budaya serta pandangan hidup pada masanya. Selain itu, memperlihatkan bahwa pernyataan yang mereka kemukakan tidak diskriminatif. Ketika membersihkan Kitab Suci dari sifat patriarki, mereka dibebaskan dari sikap seksis dan mempunyai cara pandang netral terkait latar belakang sejarah serta sosial Kitab Suci.

Kedua, para feminis menyaring Kitab Suci untuk menemukan teks-teks positif yang membebaskan perempuan. Misalnya, narasi perempuan yang memberikan inspirasi seperti Ruth, Miryam, dan Ester. Ketiga, pendekatan historis digunakan sejarawan feminis untuk menemukan kondisi aktual kehidupan perempuan. Berdasarkan bukti arkeologi dari budaya Timur Dekat, perempuan mempunyai peran menopang ekonomi keluarga. Sehingga otoritas laki-laki dan perempuan mempunyai bobot yang sama.

Keempat, para feminis memanfaatkan wawasan dari kritik tanggapan pembaca untuk mengungkap ideologi patriarki Kitab Suci. Mereka menegaskan bahwa penafsiran Kitab Suci harus disertai pertanggungjawaban. Selain itu, mereka menerapkan hermeneutika kecurigaan pada Kitab Suci untuk menentang, mempertanyakan, dan mengritik pernyataan yang seksis serta diskriminatif. Karena pembaca Kitab Suci mempunyi hak dan kewajiban etis mengevaluasi serta menolak norma dan nilai Kitab Suci yang merusak serta merugikan.

Interpretasi terhadap Kitab Suci menjembatani kesenjangan antara pembaca dan teks. Oleh karena itu, jarak spasial dan temporal seharusnya tidak menjadi batu sandungan ketika membuat interpretasi. Jarak yang memisahkan antara waktu dan ruang diisi dengan sejarah interpretasi yang berkelanjutan. Sehingga nilai dan makna Kitab Suci tidak pernah final. Hal ini terjadi karena interpretasi terhadap Kitab Suci terus berubah dan menghadirkan kemungkinan baru. Terkait hal ini, akan diuraikan narasi Hagar dalam Kej 16 dan 21 berdasarkan sudut pandang perempuan abad XIX, seniman, dan retoris feminis.

INTERPRETASI PEREMPUAN ABAD XIX, SENIMAN, DAN RETORIS FEMINIS TERHADAP HAGAR

Narasi Hagar menginspirasi pembaca Kitab Suci. Dalam narasi tersebut diperlihatkan berbagai macam persoalan sosial. Misalnya, perbudakan, gundik, ibu pengganti, orang tua tunggal, persaingan perempuan, pelecehan, dan pengasingan. Terkait hal ini, setiap orang yang membaca narasi Hagar, mempunyai interpretasi yang beragam.

Interpretasi Perempuan Abad XIX Terhadap Hagar

Dua orang kulit putih Amerika (Warner dan Stowe) menggambarkan Hagar sebagai budak perempuan kulit hitam. Menurut Stowe (1811-1896), Hagar adalah pribadi miskin yang berapi-api dan tidak sabar, mengerang seperti macan tutul yang terluka. Sedangkan menurut Warner (1819-1885), Hagar membenci mantan majikannya dan tidak akan menerima perintah darinya.

Bibb (1878-1927), seorang kulit hitam dari Amerika, menulis puisi yang dipengaruhi ingatan akan perbudakan yang terjadi di Amerika. Bibb tidak menemukan harapan dalam peristiwa pengusiran Hagar dan mengucapkan kata-kata berikut, Anakku! Semuanya siap. Dan kita semakin terbuang. Sedangkan Aguilar (1816-1847), perempuan diaspora Yahudi, menafsirkan Hagar dan Ismael sebagai pengembara serta orang buangan yang bergandengan tangan berjalan di atas bukit dan lembah yang liar.

Perempuan Inggris menafsirkan Kitab Suci berdasarkan sudut pandang kekayaan, hak istimewa, dan status. Selain itu, mereka memahami masyarakat yang tertib dengan pembagian kelas yang jelas. Sehingga narasi Hagar ditafsirkan berdasarkan pengalaman mereka. Misalnya, Woosnam (1849-1883) merasa nyaman dengan kembalinya Hagar kepada Sara. Karena salah apabila Hagar meninggalkan tugas dan tanggung jawabnya. Selain itu, Hagar memperlihatkan pribadi yang tidak tunduk pada otoritas. Oleh karena itu, kesedihan Hagar dinilai sebagai akibat dari pelanggarannya.

Morton (1870-1898) menyebut Hagar sebagai hamba. Menurut Morton, keputusan Hagar melarikan diri dinilai tidak tepat. Karena Hagar adalah istri Abraham dan tidak mempunyai hak untuk meninggalkannya. Selain itu, Hagar adalah hamba Sara dan harus mengabdikan diri kepadanya. Berdasarkan contoh-contoh tersebut, perempuan abad XIX menginterpretasikan Hagar berdasarkan sudut pandang mereka masing-masing. Mereka menyadarkan bahwa latar belakang seseorang mempengaruhi interpretasi.

Interpretasi Seniman Terhadap Hagar

Seniman bukan sekadar pembaca dan ilustrator Kitab Suci. Tetapi seniman mempunyai hak menafsirkan Kitab Suci. Dalam berbagai macam karya seni rupa, Hagar memperoleh simpati. Misalnya, Rembrandt Harmenszoon van Rijn (1606-1669), pelukis Belanda abad XVII, melukiskan Hagar duduk di atas keledai dalam peristiwa pengusiran. Terkait hal ini, pelukis ingin menunjukkan sisi positif Abraham. Karena dalam Kej 21:14, Abraham hanya meletakkan kantong air di bahu Hagar dan memintanya pergi dengan berjalan kaki.

Rembrandt melukiskan Hagar mengenakan pakaian khas Belanda. Penggunaan karakter gelap dan terang dalam lukisan ingin memperlihatkan suasana hati Hagar yang halus. Hagar menundukkan kepala dan mengarahkan mata ke Abraham. Sedangkan Ismael dilukiskan dalam posisi memegang kendali keledai. Abraham dilukiskan tidak mengkhawatirkan kepergian mereka. Tetapi ekspresi Abraham memperlihatkan keengganan untuk melepaskan mereka. Tangan kanan Abraham diperlihatkan menunjukkan arah perjalanan mereka.

Adriaen van der Werff (1659-1722), pelukis Belanda yang terkenal dengan karya-karyanya mengenai adegan, potret religius, dan mitologis, melukiskan relasi serta emosi dalam keluarga. Werff melukiskan mata Abraham dan Hagar bertatapan dengan ucapan terakhir serta berkat untuk putra sulungnya. Ismael dilukiskan berupaya untuk tidak terpisah dari adik laki-lakinya yang mengawasi dari balik mantel ayahnya. Sedangkan Giovanni Francesco Barbieri (1591-1666), pelukis barok Italia, memusatkan perhatian pada Hagar dan Ismael ketika mau pergi. Mata Hagar merah karena menangis sambil melirik Abraham. Hagar tidak percaya atas celaan dan perintah keras yang disampaikan kepadanya. Ismael yang juga menangis dipeluk Hagar.

Pelukis abad XIX seperti Jean-Charles Cazin (1840-1901), pelukis lanskap dari Prancis, melukiskan Hagar dan Ismael berada di hutan belantara. Ismael bergantung pada Hagar yang sedang menangis, putus asa, kesepian, mengalami penolakan, dan hidup dalam ketidakpastian. Pakaian yang dikenakan Hagar berpadu dengan pemandangan alam. Sehingga mencerminkan romantisme alam dan kesadaran akan perasaan serta ekspresi emosional. Sedangkan pelukis barok Italia, Giovanni Benedetto Castiglione (1609-1664), melukiskan Hagar berlutut di tanah dengan kendi air kosong. Ismael demam dan lidahnya bengkak serta keluar dari mulutnya, sekarat karena kehausan. Di bawah awan yang cerah, malaikat memperlihatkan diri kepada Hagar dan menunjuk ke sebuah sumur.

Setiap pelukis menarasikan kembali Hagar dan menciptakan narasi baru untuk mengisi celah serta ruang terbuka dalam Kitab Suci. Hal ini memperlihatkan kemampuan pelukis memadatkan rangkaian peristiwa dalam satu momen visual di kanvas dan di pikiran penikmat lukisan. Karena lukisan lebih dekat dengan kenyataan daripada kata-kata tertulis. Selain itu, emosi manusia yang ditampilkan lebih realistis dan melibatkan penikmat lukisan hadir dalam peristiwa tersebut.

Interpretasi Retoris Feminis Terhadap Hagar

Hagar merupakan salah satu dari sekian banyak perempuan yang diobjekkan dalam Kitab Suci. Informasi mengenai Hagar dapat dilihat dalam Kej 16:1-16 dan Kej 21:9-21. Antara Kej 16 dan 21, Hagar menghilang dan hanya Ismael yang dikisahkan. Meskipun Hagar muncul dalam daftar silsilah Kej 25:12. Sedangkan dalam Kej 25:9 hanya Ismael yang diperlihatkan hadir pada saat pemakaman Abraham. Hagar tersingkir setelah menunaikan perannya melahirkan Ismael.

Pada adegan pertama (Kej 16) ditunjukkan bahwa Sara mandul dan menawarkan budak Mesir (Hagar) kepada Abraham sebagai istri untuk memperoleh keturunan. Sara menggunakan Hagar sebagai ibu pengganti supaya memiliki anak. Ketika hamil, Hagar tidak memandang status Sara lebih tinggi dari dirinya. Bahkan Hagar meremehkan Sara. Sebagai balasan, Sara mengambil kendali atas hidup Hagar. Kemudian Hagar melarikan diri ke hutan belantara di perbatasan Mesir.

Seorang utusan Allah menemukan Hagar di sana. Pada waktu itu Hagar mengalami situasi dan kondisi ditolak Sara dalam keadaan hamil. Namun, Allah melihat Hagar, memanggil namanya dan menyuruhnya kembali kepada Sara. Karena Allah mempunyai misi membuat banyak keturunan dari Ismael. Peristiwa tersebut menjadikan Hagar sebagai orang pertama dalam Kitab Suci yang dikunjungi utusan Allah dan memperoleh janji keturunan. Namun, hal-hal positif tersebut tidak menghapus penderitaan Hagar.

Berdasarkan narasi Kej 16, setelah dilecehkan dan menderita, Hagar diperintahkan Allah untuk kembali serta tunduk pada penderitaan. Kej 16 diakhiri dengan kelahiran Ismael, lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram (Kej 16:15). Penulis melukiskan bahwa Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael (Kej 16:15). Hal ini pada dasarnya menghilangkan kekuasaan yang diberikan Allah kepada Hagar untuk menamai anaknya. Sehingga dapat dikatakan bahwa patriarki memegang kendali.

Pada adegan kedua (Kej 21), permusuhan antara Hagar dan Sara terus berlanjut. Pada waktu itu Sara melahirkan seorang putra yang meningkatkan kekuatannya. Ketika Sara melihat Ismael bermain dengan Ishak, ia menuntut supaya Abraham mengusir Hagar dan Ismael, usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak (Kej 21:10). Ungkapan hamba perempuan mendukung pemisahan tegas antara Hagar dan Sara.

Permintaan Sara membuat Abraham tertekan. Tetapi Allah mendukung Sara dan memerintahkan Abraham supaya taat. Sehingga Abraham menjadi pelaku aktif yang menolak Hagar. Sejumlah penafsir berpendapat bahwa pengusiran Hagar tidak sekejam sebagaimana dilukiskan Kitab Suci. Hagar tidak ditanyai perasaannya, tetapi adil untuk mengasumsikan bahwa sesuatu yang ia alami bukanlah emansipasi, melainkan pengasingan.

Keesokan paginya Abraham mengirim Hagar dan Ismael ke padang gurun Bersyeba. Ketika makanan mereka habis, Hagar meletakkan Ismael di bawah semak. Dalam peristiwa tersebut Hagar berkata, tidak tahan aku melihat anak itu mati (Kej 21:16). Penulis melukiskan Hagar berduka, menangislah ia dengan suara nyaring (Kej 21:16). Untuk pertama kalinya, Hagar disebut sebagai ibu, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir (Kej 21:21). Sampai pada akhir narasi, hidup Ismael makmur, terjamin, dan keturunannya menjadi orang-orang Mesir.

PENUTUP

Para feminis mengupayakan hermeneutika untuk menghadapi bias patriarki dalam Kitab Suci. Terkait hal ini, feminisme biblis dijadikan dasar untuk menentang perbudakan dan ketidaksetaraan gender. Sedangkan feminisme Kristen menekankan sikap menghormati martabat dan memperbaiki nasib perempuan. Selain itu, penganut feminisme Kristen menekankan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dengan mengacu pada catatan Kitab Suci mengenai kebebasan serta kesetaraan semua orang.

Menurut Kitab Kejadian, laki-laki dan perempuan memanifestasikan Sang Pencipta. Sehingga mereka adalah citra Allah dan mempunyai relasi personal dengan Allah. Dalam hal ini, Gereja Katolik yang diwakili oleh Yohanes Paulus II, melihat laki-laki dan perempuan setara dalam martabat serta tanggung jawab. Misalnya, pekerjaan yang dilakukan di rumah seperti mengasuh anak memperoleh penghargaan yang sama dengan pekerjaan profesional.

Berdasarkan upaya memperlihatkan kesalahan penulisan sejarah yang objektif, dilakukan penelusuran terhadap narasi Hagar, budak perempuan Mesir sebagaimana dilukiskan dalam Kitab Kejadian. Hagar pada dasarnya telah hilang dalam kabut waktu. Kemudian terhilat sedikit demi sedikit melalui interpretasi pembaca ketika membaca narasi Hagar. Penafsir perempuan abad XIX menafsirkan narasi Hagar berdasarkan keyakinan pada otoritas Kitab Suci dan kemampuannya menangani persoalan kehidupan. Menurut mereka, narasi Hagar menjadi inspirasi untuk berbicara mengenai persoalan dalam hidup.

Para seniman abad XVII melukiskan narasi Hagar dalam rupa sosok ibu dan anak yang penuh kasih sayang. Mereka dengan kuat menangkap perasaan dan emosi untuk membangun sikap simpati serta empati terhadap Hagar dan Ismael. Selain itu, menunjukkan dukungan terhadap Abraham dan ketidaksetujuan terhadap sikap Sara. Sedangkan interpretasi retoris feminis melihat Hagar sebagai korban penindasan yang mencakup suku bangsa, kelas sosial, dan jenis kelamin. Dengan demikian, suatu teks mengafirmasi interpretasi yang berbeda. Karena setiap interpretasi pada dasarnya unik dan otentik sebagaimana muncul dari kerangka acuan penafsir.

SUMBER BACAAN

Davies, Eryl W. The Dissenting Reader: Feminist Approaches to the Hebrew Bible. Louisville: John Knox, 1994.

Felix, Paul W. “The Hermeneutics of Evangelical Feminism.” TMSJ. Vol. 5, No. 2 (1994), hlm. 159-184.

Fiorenza, Elisabeth Schüssler. “Invitation to ‘Dance’ in the Open House of Wisdom: Feminist Study of the Bible.” Dalam Choi Hee An dan Katheryn Pfisterer Darr (Editor). Engaging the Bible: Critical Readings from Contemporary Women. Minneapolis: Fortress, 2006, hlm. 81-104.

Fiorenza, Elisabeth Schüssler. “The Ethics of Biblical Interpretation: Decentering Biblical Scholarship.” JBL. Vol. 107, No. 1 (1988), hlm. 3-17.

Fuchs, Esther. Sexual Politics in the Bible Narrative: Reading the Hebrew Bible as a Woman. Sheffield: Sheffield Academic Press, 2000.

Grudem, Wyne. Evangelical Feminism and Biblical Truth. Illionis: Crossway, 2004.

Klopfer, Sheila. “Feminist Scholarship on Women in the Bible.” The Center for Christian Ethics at Baylor University (2013), hlm. 89-93.

Klopper, F. “Interpretation is All We Have: A Feminist Perspective on the Objective Fallacy.” OTE. Vol. 22, No. 1 (2009), hlm. 88-101.

Osiek, Carolyn. “The Feminist and the Bible: Hermeneutical Alternatives.” HTS. Vol. 53, No. 4 (1997), hlm. 959-968.

Overland, P. B. “Hagar.” Dalam T. Desmond Alexander dan David W. Baker (Editor). Dictionary of the Old Testament: Pentateuch. USA: InterVarsity Press, 2003, hlm. 376-379.

Ruether, Rosemary. Sexism and God-Talk: Toward a Feminist Theology. Boston: Beacon, 1983.

Schroer, Silvia. “Feminist Hermeneutics and the First Testament.” Dalam Luise Schottroff, Silvia Schroer, dan Marie-Theres Wacker (Editor). Feminist Interpretation: The Bible in Women’s Perspective. Minneapolis: Fortress, 1998, hlm. 85-100.

Spitzer, Toba. “Where Do You Come From, And Where Are You Going? Hagar and Sarah Encounter God.” The Reconstructionist (1998), hlm. 8-18.

Swierczek, Magdalena. “The Dilemmas of Christian Feminism.” The Person and the Challenges. Vol. 7, No. 2 (2017), hlm. 139-149.

Trible, Phyllis. Texts of Terror: Literary Feminist Reading of Biblical Narratives. London: SCM, 2002.

CATATAN

Tulisan ini pernah dipublikasikan dengan keterangan sebagai berikut:

Prasetyo, Yohanes Wahyu. “Upaya Feminisme Biblis dan Kristen Menafsirkan Kitab Suci untuk Mengejawantahkan Kesetaraan Antara Laki-Laki serta Perempuan”. Gita Sang Surya. Vol. 17, No. 5 (September-Oktober 2022), hlm. 64-71. ISSN 1978-3868

Format PDF dari tulisan ini dapat diakses melalui http://repo.driyarkara.ac.id/2019/

Diskursus Teologi