October 25, 2025

Soteriologi John Hick: Allah, Keselamatan atau Pembebasan, Wahyu, Penciptaan Jiwa, dan Revolusi Kopernikan

Yohanes Wahyu Prasetyo

(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)

 

John Harwood Hick lahir di Yorkshire-Inggris pada 20 Januari 1922 dan meninggal di Birmingham pada 9 Februari 2012. Hick merupakan salah satu filsuf agama yang berpengaruh pada abad XX. Perlu diketahui bahwa Hick merupakan filsuf Inggris yang melakukan terobosan dalam bidang epistemologi agama, teologi, dan pluralisme agama. Pada awal mulanya Hick merupakan mahasiswa hukum. Karena kehidupan religiusnya yang mendalam, Hick memutuskan untuk belajar teologi dan filsafat. Dalam perjalanan karier akademisnya, Hick mengembangkan gagasan Irenaeus (130-202) mengenai penciptaan jiwa (soul making).

Pada akhir 1960, Hick menangani persoalan hak-hak sipil di Birmingham dan berjumpa dengan orang-orang dari agama lain. Dalam perjumpaan dengan mereka, Hick meyakini bahwa orang-orang dari agama lain juga mengalami serta merasakan kehadiran Yang Real. Pengalaman tersebut mendorong Hick menumbuhkan dan mengembangkan hipotesis pluralistiknya. Hick juga mengembangkan interpretasi doktrin Kristen mengenai inkarnasi, penebusan, dan trinitas.

Hick menulis sejumlah karya yang sangat berpengaruh antara lain Faith and Knowledge, Evil and the God of Love, Death and Eternal Life, The Myth of God Incarnate, An Interpretation of Religion, Arguments for the Existence of God, God Has Many Names, The Metaphor of God Incarnate, A Christian Theology of Religions, The New Frontier of Religion and Science, dan Philosophy of Religion.

ALLAH SEBAGAI PRIBADI YANG TIDAK TERBATAS

Menurut Hick, Allah menyelamatkan (saves) atau membebaskan (liberates) semua orang, apa pun agamanya. Meskipun tidak mampu menyelami misteri Allah, manusia harus berupaya memahami dan menggambarkan Allah. Biasanya Allah dilukiskan sebagai realitas tertinggi (ultimate reality). Deskripsi mengenai eksistensi Allah dapat ditelusuri di dalam Kitab Suci. Kitab Suci memperlihatkan bahwa Allah dialami sebagai pribadi yang menyejarah. Namun, Allah tidak dapat dimasukkan ke dalam sistem penjelasan apa pun.

Sebagaimana ditegaskan Hick, Allah dipahami sebagai pribadi yang tidak terbatas (infinite), abadi (eternal), dan tidak diciptakan (uncreated). Karena Allah merupakan Pencipta segala sesuatu dan mengungkapkan diri-Nya kepada manusia dalam kesucian serta kehidupan. Hick mengkategorikan dua karakteristik Allah. Pertama, dapat dipahami (intelligible), mengacu pada realitas kehidupan sehari-hari. Misalnya, baik (good), mencintai (loving), dan adil (just). Kedua, kurang dapat dipahami (less intelligible), mengacu pada bahasa dan spekulasi teologis. Misalnya, Roh (Spirit), mahakuasa (omnipotent), dan mahatahu (omniscient).

Konsep Allah diartikulasikan dalam tradisi Yahudi-Kristen atau pun tradisi agama-agama lainnya. Oleh karena itu, tidak tepat apabila agama Kristen mengklaim bahwa hanya ada satu Allah dari semua bangsa. Klaim tersebut meniadakan konsepsi Allah sebagaimana diimani agama lain. Misalnya, Buddhisme Theravada mengimani dan membangun relasi dengan realitas transenden (transcendent reality) yang menyelamatkan. Terkait hal ini, Hick meyakini bahwa kasih Allah bersifat universal dan tidak dibatasi oleh ruang serta waktu. Allah tidak membatasi perjumpaan-Nya yang menyelamatkan dengan orang yang beragama tertentu. Selain itu, kehidupan religius manusia terjadi secara berkelanjutan dan universal bersama Allah.

Kata Allah (God) mengandung konotasi dengan kualitas tertentu yang tidak dimiliki oleh semua agama, terutama agama Timur (Theravada dan Buddhisme Mahayana). Hick menekankan sifat transenden dari yang ilahi. Hal ini dilakukan untuk menghindari kekhususan konsep Allah dalam tradisi Yahudi Kristen. Karena Allah pada dasarnya merupakan realitas transenden yang dipahami dan dialami oleh seluruh umat manusia. Selain itu, Allah atau Yang Real (The Real) adalah misteri. Sehingga tidak ada rumusan teologis atau filosofis yang mampu menangkap esensi Allah secara penuh. Dengan kata lain, realitas tertinggi bersifat tidak terbatas dan akal budi manusia tidak mampu melampaui-Nya.

Allah tidak dapat didefinisikan dan dipikirkan manusia. Jika Allah dapat didefinisikan dan dipikirkan, maka Ia bukan Allah. Selain itu, apabila Allah dapat ditembus (penetrate) dan dikelilingi (circumnavigate) pikiran manusia, Allah bersifat terbatas dan tidak penuh. Hick meyakini kemandirian Yang Ilahi (The Divine) atau Yang Real (The Real). Karena semua formulasi yang digunakan manusia untuk menggambarkan Allah, tidak mampu menangkap esensi Allah (essence of God). Cara yang digunakan manusia untuk menggambarkan Allah bagaikan lensa (lenses), di mana realitas ilahi dipahami secara berbeda-beda.

Usaha manusia menggambarkan Allah bukanlah klaim kebenaran yang bertentangan dengan Yang Real. Karena usaha tersebut dimaksudkan untuk memahami dan mengartikulasikan kehadiran Yang Real bagi umat manusia. Dalam rangka menggambarkan Allah, Hick menggunakan pembedaan dasar Kantian, yaitu noumenon dan phenomenon. Noumenon adalah Yang Real, tidak diketahui oleh siapa pun. Sedangkan phenomenon adalah persepsi manusia terhadap Yang Real.

KESELAMATAN BERSIFAT UNIVERSAL

Ajaran mengenai keselamatan yang bersifat universal mempunyai dampak pada klaim soteriologis. Soteriologi merupakan istilah khas dan digunakan dalam tradisi agama Kristen. Sedangkan istilah keselamatan universal (universal salvation) berlaku umum. Bahkan istilah tersebut meluas di kalangan sekularis, humanis, dan Marxis. Kata keselamatan (salvation) harus dipahamai secara lebih luas. Bukan sekadar pembebasan (liberation), pemenuhan (fulfillment), dan kesejahteraan tertinggi (ultimate well-being) sebagaimana orang-orang Kristen menilai serta memaknai keselamatan. Menurut Hick, keselamatan universal merupakan tujuan akhir dari setiap agama.

Hick menunjukkan sejumlah gagasan untuk memahami konsep keselamatan universal. Pertama, manusia diciptakan sebagai pribadi sempurna. Namun, manusia melawan Allah dan tindakan tersebut membuatnya jatuh ke dalam dosa. Kedua, Yesus Kristus datang untuk menyelamatkan manusia dari penderitaan dan kejatuhan. Hal ini ditempuh-Nya dengan hidup, menderita, dan wafat di kayu salib. Ketiga, ketika meninggal, relasi manusia dengan Allah dipulihkan. Keempat, manusia mempunyai dua takdir, yaitu surga (heaven) dan neraka (hell).

Keselamatan universal dimulai ketika Allah menciptakan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Allah pada hakikatnya baik hati (benevolent). Sebagaimana dikatakan Hick, Allah menciptakan manusia sebagai pribadi yang bebas. Terkait hal ini, pemenuhan dan kebahagiaan manusia merupakan kebaikan yang tidak terbatas dari Sang Pencipta (Creator). Namun, jika manusia sungguh-sungguh bebas, maka harus ada kemungkinan untuk menerima atau menolak Allah. Perlu diketahui bahwa Hick mempertahankan posisi Allah sebagai penyelamat tertinggi (ultimate salvation). Rahmat Allah menarik manusia menuju yang ilahi dan kebebasan manusia dikondisikan sedemikian rupa.

Jika manusia ditakdirkan (destined) bersama Allah, maka kebebasan manusia ketika menjalin relasi dengan Allah dipertanyakan. Hal ini memperlihatkan bahwa Allah menghendaki bersatu dengan ciptaan-Nya. Ketika manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (image and likeness of God), sejatinya manusia dirancang untuk menyertai Allah. Tradisi teologi sejak Agustinus Hippo (354-430) menyatakan bahwa manusia kehilangan karakter gambar dan rupa Allah karena kejatuhan, ketidaktaatan kepada Allah.

Hick menolak gagasan teologi Agustinus dan memilih tafsiran yang diberikan Irenaeus. Irenaeus melihat manusia sebagai pribadi yang sejak awal belum dewasa (immature) dan tidak sempurna (imperfect). Melalui rahmat Allah manusia akan bertumbuh dan berkembang, dari citra Allah (imago Dei) menuju rupa Allah (similitudo). Citra Allah dapat diartikan sebagai kapasitas Allah. Sedangkan rupa Allah merupakan kesempurnaan akhir dari kodrat manusia dalam relasinya dengan Allah. Pertumbuhan dan perkembangan tersebut dimungkinkan karena sejak awal manusia berorientasi menuju Allah. Dengan kata lain, sejak awal sifat manusia tidak sempurna, tetapi terbuka untuk penyempurnaan bertahap dalam relasinya dengan Yang Real.

Perjanjian Baru memperlihatkan penghakiman, di mana beberapa jiwa diselamatkan (saved) dan yang lain dikutuk (condemned). Menurut Hick, Luk 6:24 dan Mat 23:13 menunjukkan bentuk hukuman. Tetapi tidak menunjukkan lamanya penghukuman. Munculnya gagasan penghukuman abadi berasal dari kesalehan populer (popular piety). Sedangkan gagasan mengenai kekekalan (eternity), dapat dilihat dalam Mat 25:46 dan Mrk 3:29. Meskipun para penafsir dan teolog berupaya memberikan penjelasan mengenai dosa melawan Roh Kudus, belum ada penjelasan yang memuaskan. Menurut Hick, gagasan hukuman kekal (eternal condemnation) lahir ketika Gereja perdana mengalami penganiayaan. Pada waktu itu, orang-orang Kristen meyakini bahwa para penganiaya akan menghadapi malapetaka yang menakutkan di masa yang akan datang.

Selain itu, dalam Injil Yohanes ada pembagian mengenai yang diselamatkan dan dikutuk, anak Allah dan anak yang jahat. Misalnya, Yoh 10:26, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Menurut para penafsir, hal ini digunakan Gereja perdana sebagai pembelaan dan untuk menakut-nakuti serta mengutuk musuh-musuhnya. Menurut Hick, yang mendukung hipotesis keselamatan universal adalah surat-surat Paulus. Misalnya Rm 11:32 dan 2 Tes 1:9. Paulus dengan tegas menunjukkan bahwa akan ada pemulihan akhir bagi semua makhluk. Tetapi Paulus juga berbicara sebaliknya ketika menjelaskan predestinasi. Terkait hal ini, surat-surat Paulus lebih banyak menunjukkan bukti keselamatan akhir bagi semua makhluk.

Gagasan Hick yang paling kuat mengenai keselamatan universal yaitu keyakinanya mengenai Pencipta yang penuh kasih dan ingin membawa semua makhluk menuju kepenuhan. Namun, gagasan Hick mengenai kehendak bebas lemah, kurang kuat. Sebagaimana dikatakan Karl Rahner (1904-1984), tidak ada seorang pun yang pada akhirnya menolak kasih Allah. Gagasan Rahner tersebut pada dasarnya meniadakan kebebasan sejati manusia. Sehingga kebebasan manusia bersifat temporal dan terbatas.

Keselamatan universal bukan teori baru dalam teologi Kristen abad XX. Berdasarkan keyakinan mengenai Pencipta yang penuh kasih, Hick menegaskan bahwa Allah menjadikan manusia untuk bersekutu dengan-Nya. Allah berupaya sedemikian rupa supaya manusia sampai pada pemenuhan. Hal ini disertai keyakinan bahwa pada akhirnya manusia diselamatkan. Oleh karena itu, kasih Allah sungguh-sungguh menyelamatkan dan kuasa-Nya berdaulat.

PLURALITAS WAHYU DALAM TRADISI AGAMA-AGAMA

Jika Allah adalah Allah seluruh dunia, maka kehidupan religius manusia merupakan bagian dari relasi manusia dengan Allah yang dijalin secara berkesinambungan dan bersifat universal. Terkait hal ini, tradisi Kristen hanya mengakui wahyu Yahudi-Kristen sebagai wahyu yang asli atau benar dari Allah. Sedangkan orang-orang dari tradisi lain mengenal Allah melalui wahyu alami dan akal budi, tidak melalui wahyu khusus dari Allah. Oleh karena itu, Kitab Suci dari agama-agama besar yang ada di dunia, selain Yudaisme yang memiliki Taurat dan Kristen yang memiliki Perjanjian Baru, tidak dianggap otentik atau berasal dari Allah.

Hick menggambarkan periode aksial sejarah umat manusia, di mana realitas ketuhanan dialami secara jamak oleh banyak orang dalam budaya yang beragam. Periode aksial wahyu berlangsung sejak 2000 SM. Tahap paling awal bertepatan dengan perkembangan peradaban, yaitu Mesopotamia di Timur Dekat dan lembah Indus di India Utara. Setiap wilayah menyembah dewa lokal (local deities) atau dewa suku (tribal gods). Sedangkan dewa-dewa utama (major deities) mendominasi wilayah tertentu. Misalnya di wilayah Timur Dekat, yaitu Marduk di Babilonia, Zeus di Yunani, Yahweh di Israel, Isthor di Sumeria, dan Amon di Thebes. Sedangkan di wilayah lembah Indus, dewa mengekspresikan kekuatan alam. Misalnya dewa kesuburan.

Sejak awal agama tidak dibentuk oleh wahyu ilahi (divine revelation) tertentu, tetapi berupa agama alami (natural religion). Agama alami bertumbuh dan berkembang sampai zaman keemasan kehidupan religius yang mencakup para nabi besar di Israel, Zoroaster di Persia, Lao-Tzu dan Konfusius di Cina, Buddha Gautama, Upanishad, Mahavira dan Bhagavad-Gita di India, dan para pemikir besar seperti Pythagoras (570-495 SM), Sokrates (470-399 SM), dan Platon (427-347 SM) di Yunani. Kemudian, setelah tiga ratus tahun, datanglah Yesus Kristus dan kebangkitan agama Kristen serta Muhammad dan kebangkitan agama Islam.

Hick menganggap setiap agama sebagai perwujudan asli dari Yang Real. Terkait hal ini, adanya banyak agama menimbulkan kesan bahwa terdapat banyak wahyu. Selain itu, muncul anggapan bahwa Allah tidak mampu menciptakan wahyu yang berlaku untuk semua manusia. Perlu diketahui bahwa bukan berarti Allah tidak mampu membuat wahyu yang berlaku universal. Pada waktu itu kesadaran dan komunikasi global belum dimungkinkan. Peradaban diisolasi oleh jarak (distance), medan (terrain), bahasa (language), dan asal-usul (origin).

Dalam situasi dan kondisi di mana peradaban terisolasi, wahyu berbentuk jamak dalam manifestasinya. Oleh karena itu, serangkaian pengalaman terjadi secara independen di berbagai tempat. Wahyu berakar dalam tradisi keagamaan dan tumbuh serta menyebar ke luar batas-batas wilayah asalnya. Beberapa menjadi agama besar dunia, sedangkan yang lain mengambil peran kecil di panggung agama.

Pemahaman mengenai asal-usul wahyu memungkinkan manusia melihat agama-agama lain bukan sebagai saingan. Melainkan sebagai ekspresi pelengkap dari Yang Real. Perlu diketahui bahwa gerakan keagamaan muncul di berbagai wilayah dan budaya. Terkait hal ini, wahyu merupakan aspek kesadaran manusia akan Yang Real. Setiap manusia menanggapi kehadiran Realitas Ilahi (Divine Reality) dengan caranya masing-masing. Hal ini terjadi karena setiap agama memiliki latar belakang budaya, etnis, geografis, dan sejarah yang berbeda.

Agama-agama menjadi jalan keselamatan, landasan menuju Yang Real. Meskipun setiap agama menawarkan jalan yang berbeda, semuanya mengarah kepada keselamatan, pembebasan, dan pemenuhan. Karena eksistensi agama-agama merupakan tanggapan terhadap realitas transenden (transcendent reality) yang sama. Selanjutnya, setiap agama berupaya melampaui pengalaman asalnya untuk menciptakan tradisi, sejarah, sistem doktrinal, dan struktur organisasi.

Selama berabad-abad setiap agama menjunjung tinggi kemandirian. Namun, di tengah dunia kontemporer, setiap agama berinteraksi dan berdialog. Hal ini membuat Hick yakin bahwa kedepannya akan terjadi perjumpaan antaragama yang dilakukan secara berkelanjutan. Visi eskatologis mengenai perjumpaan antaragama tidak menandakan akhir dari sistem agama manusia. Karena budaya, ekspresi agama, gaya ibadah, konsepsi, dan sistem etika yang berbeda akan terus ada.

PENCIPTAAN JIWA DALAM RANGKA MEMULIHKAN MANUSIA DARI KEJATUHAN DAN KETIDAKSEMPURNAAN

Tradisi Kristen menekankan penghakiman di masa depan. Terkait hal ini, teologi dan spiritualitas Katolik Roma menerima konsep api penyucian sebagai tempat (place) bagi manusia atau jiwa yang mati. Di dalam api penyucian manusia disucikan sebelum mencapai tujuan, yaitu surga di mana ia akan mengalami pengelihatan yang indah (beatific vision). Namun, api penyucian bukanlah kepenuhan Kerajaan Allah. Perlu diketahui bahwa manusia tidak mendambakan tempat keputusasaan (despair) atau yang oleh doktrin Katolik Roma disebut neraka (hell).

Kehidupan manusia adalah proses untuk mencapai kesempurnaan (perfection). Namun, kesempurnaan tidak terjadi dalam jangka waktu singkat. Salah satu ciri agama adalah keyakinan akan kehidupan setelah kematian. Bagi agama-agama Timur, kehidupan setelah kematian dipahami sebagai reinkarnasi. Dalam reinkarnasi, jiwa berjuang keluar dari siklus samsara atau kelahiran-kematian-kelahiran kembali (birth-death-rebirth) menuju nirwana. Sedangkan bagi agama-agama Barat, kehidupan setelah kematian dipahami sebagai surga, neraka, dan api penyucian. Hick menunjukkan tiga tema umum dalam tradisi agama-agama. Pertama, menekankan potensi jiwa manusia yang luar biasa. Kedua, realisasi dari potensi yang terjadi melalui transendensi diri. Ketiga, manusia harus mengubah sifat egoisnya supaya mencapai transendensi diri.

Gagasan Hick mengenai lembah penciptaan jiwa (vale of soul making) selaras dengan pandangan Irenaeus mengenai penciptaan manusia. Terdapat dua tradisi pemikiran untuk menanggapi persoalan mengenai penderitaan. Pertama, tradisi Agustinian melihat bahwa kejahatan (evil) di dunia dimulai ketika manusia diciptakan sebagai pribadi sempurna. Melalui penggunaan kehendak bebas yang tidak tepat, manusia fokus pada kepentingan pribadi dan menentang kehendak Allah. Hal ini membuat manusia mengalami kejatuhan (fall) dan hanya bisa ditebus oleh pribadi yang tidak pernah jatuh. Oleh karena itu, Yesus Kristus datang untuk menebus dosa manusia dan membuka kembali gerbang surga (the gates of heaven).

Kedua, interpretasi Irenaeus yang menegaskan bahwa sejak awal manusia diciptakan tidak sempurna dan belum matang. Tetapi ditakdirkan untuk tumbuh menjadi dewasa dan sempurna. Selain itu, manusia diciptakan sebagai gambar dan rupa Allah (Kej 1:26). Perlu diketahui bahwa perubahan dari gambar (image) menuju rupa (likeness) merupakan suatu transisi, dari kehidupan hewan (bios) menuju kehidupan kekal (zoe). Tahap pertama yang bersifat biologis tercapai dalam penciptaan fisik. Sedangkan tahap kedua yang bersifat spiritual merupakan proses berkelanjutan dan akan selesai ketika manusia masuk ke dalam Kerajaan Allah. Hal ini merupakan perubahan dari homo sapiens menjadi anak Allah.

Konsepsi Irenaeus mengenai penciptaan manusia menunjukkan bahwa tidak ada kejatuhan historis (historical fall). Dalam banyak hal, gagasan Irenaeus cocok dengan pengetahuan antropologis mengenai perkembangan manusia. Selain itu, Irenaeus memperlihatkan bahwa kejahatan memiliki tempat dalam dinamika alam semesta. Sedangkan gagasan Agustinus menunjukkan kontradiksi antara ciptaan yang sempurna dan kejatuhan manusia.

Seharusnya kehendak bebas manusia tidak menghasilkan pilihan yang jahat. Karena sejak awal manusia diciptakan sebagai pribadi sempurna. Namun dalam pandangan Irenaeus, manusia tidak diciptakan sebagai pribadi sempurna. Tetapi pribadi yang belum dewasa dan dapat dengan bebas membuat pilihan yang salah atau jahat. Selain itu, manusia sedang dalam perjalanan menuju kesempurnaan dan pada akhirnya akan hidup dalam terang Realitas (light of Reality).

Pertumbuhan manusia menjadi pribadi sempurna berlangsung lambat dan pada umumnya tidak selesai ketika manusia meninggal. Namun, kematian fisik bukanlah akhir dari pertumbuhan spiritual (spiritual growth). Hick menolak gagasan mengenai rekapitulasi kematian dan penghakiman yang menurutnya tidak ada tindakan baru atau pengembangan karakter lebih lanjut yang dapat terjadi pada pribadi manusia setelah kematian. Dalam gagasan tersebut status pribadi manusia di hadapan Allah dibekukan pada saat kematian. Menurut Hick, kematian merupakan langkah menuju realisasi di mana manusia pada akhirnya harus disempurnakan di hadapan Allah. Oleh karena itu, tidak ada finalitas sejauh terkait dengan perkembangan jiwa.

Jika kematian fisik mengakhiri pertumbuhan jiwa atau pribadi manusia, maka hal ini akan menggagalkan rencana Allah untuk membagikan kepenuhan kepada semua ciptaan. Sedangkan manusia yang hidupnya kurang suci dan menemui kematian dini, tidak akan memiliki kesempatan untuk pulih (recovery) serta bertobat (conversion). Terkait hal ini, penciptaan jiwa merupakan proses permunian (purification). Menurut Hick, tidak ada neraka abadi (eternal hell). Hal ini bukan untuk mengklaim bahwa perbuatan benar dan salah tidak menjadi persoalan, karena setiap orang pada akhirnya akan diselamatkan. Sesungguhnya tindakan manusia adalah penentu (determiners) seseorang dalam memurnikan diri. Oleh karena itu, penting bagi orang-orang Kristen untuk menegakkan Injil dan hidup benar (live righteously).

Motif misioner Gereja adalah untuk menyelamatkan manusia dari penderitaan kekal neraka. Oleh karena itu, motif misioner Gereja harus mempunyai dua fokus. Pertama, memberitakan Injil (preach the Gospel). Kedua, membagikan kekuatan yang mampu mengubah hidup menjadi lebih baik sebagai Kabar Gembira.

Gagasan Hick mengenai penciptaan jiwa dapat diringkas ke dalam empat pokok pikiran. Pertama, kesadaran bahwa manusia telah jatuh, tidak sempurna, dan rentan terhadap kejahatan serta penderitaan. Kedua, keadaan lebih baik tanpa batas adalah mungkin. Ketiga, kesempurnaan atau kepenuhan datang melalui transendensi diri dan bukan dari deus ex machina. Keempat, keseluruhan proses tidak selesai dalam ruang kehidupan dunia. Oleh karena itu, keselamatan, pembebasan, dan pemenuhan adalah tujuan universal di antara agama-agama. Hick menggambarkannya sebagai transformasi eksistensi manusia dari keterpusatan pada diri sendiri menjadi berpusat pada Yang Real.

Tradisi Kristen telah lama memegang prinsip di luar Gereja tidak ada keselamatan (outside the church there is no salvation/extra ecclesiam nulla salus). Frasa ini berasal dari Siprianus (210-258) pada abad III, kemudian dikutip Bonifasius VIII (1230-1303) dalam Papal Bull 1302. Selanjutnya diulangi dalam Dekrit Konsili Florens 1438-1445 dan diubah pengaruhnya oleh Pius IX (1792-1878) pada 1854 serta Holly Office Roma pada 1949. Hick menyebut modifikasi tersebut sebagai epicycles yang serupa dengan gambaran kuno Klaudius Ptolemaeus (90-168) mengenai alam semesta. Terdapat sebuah lingkaran kecil bergerak mengelilingi lingkaran besar. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga sentralitas bumi. Namun, sistem tersebut menjadi semakin rumit dan akhirnya runtuh di bawah tekanan epicyclesnya sendiri.

Menurut Hick, Gereja harus melakukan perubahan serupa, dari Kristosentris menuju Teosentris. Namun, Gereja tidak mau melakukannya. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa keselamatan hanya di dalam Yesus Kristus. Sedangkan para teolog Katolik Roma kontemporer menciptakan epicycles baru dengan menolak perubahan ke model Teosentris. Gereja Injili Fundamentalis berpegang teguh pada keselamatan hanya di dalam Kekristenan. Sedangkan Gereja Protestan memandang Yesus Kristus sebagai satu-satunya jalan untuk menuju keselamatan.

Gagasan Ptolemaeus dapat dilihat dalam perspektif non-Kristen. Misalnya, orang-orang Kristen mungkin dipandang sebagai penganut Buddha secara implisit atau Vedanta anonim atau pra-Islam. Terkait hal ini, Hindu Advaita menegaskan bahwa Brahman pada dasarnya non-personal dan dewa-dewa seperti Yahweh dalam Kitab Suci atau Krishna dalam Bhagavad Gita merupakan gambaran dari Yang Real.

Inti dari revolusi Kopernikan dalam kaitannya dengan teologi yaitu supaya agama teistik dan non-teistik memutuskan ikatan provinsialisme spiritual serta teologis dan melihat Yang Real sebagai landasan transenden dari masing-masing agama. Selain itu, kepercayaan umum mengenai kehadiran yang transenden harus menjadi motif dialog dan kerja sama antaragama. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan perhatian pada Yang Real, bukan sekadar membahas hal-hal khusus yang membedakan tradisi agama satu dengan yang lainnya.

KESELAMATAN DAN PEMBEBASAN DALAM TRADISI AGAMA-AGAMA

Keselamatan merupakan istilah dalam tradisi Kristen yang unik. Dalam tradisi Kristen, manusia diselematkan dari (saved from) dosa dan kutukan serta diselamatkan untuk (saved for) sampai pada surga, pemenuhan, dan pengelihatan yang membahagiakan. Menurut Hick, pada dasarnya keselamatan bersifat universal. Karena tradisi agama-agama menunjukkan struktur soteriologis yang mengidentifikasi adanya kesengsaraan (misery) dan kekosongan (emptiness) dalam hidup manusia.

Tradisi agama-agama meyakini adanya realitas tertinggi dan kualitas hidup manusia yang lebih baik adalah mungkin. Oleh karena itu, tradisi agama-agama menunjukkan cara untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Hal ini dapat ditempuh orang-orang Kristen dengan setia pada Taurat atau mengimani Yesus Kristus sebagai Allah dan juruselamat. Sedangkan dalam tradisi Islam, hal ini dilakukan dengan mengejawantahkan ketundukan total kepada Allah (total submission to God). Bagi tradisi Hindu dan Buddha, manusia harus melakukan transendensi ego atau kehendak yang berpusat pada diri sendiri untuk mencapai moksha atau nirvana.

Menurut Hick, semua agama berjuang untuk tujuan akhir yang sama, hanya saja nama atau konsepnya yang berbeda. Tujuan tersebut adalah keselamatan atau pembebasan. Hal ini disebut Hick sebagai transformasi eksistensi manusia, dari berpusat pada diri sendiri menjadi berpusat pada Yang Real.

Sumber pemahaman Hindu mengenai keselamatan atau pembebasan adalah Upanishad dan berbagai aliran filsafat Vedanta. Dalam filsafat Vedanta, sifat sejati manusia diidentifikasikan dengan realitas abadi Brahman. Diri sejati (true self) ada di dalam Brahman, tetapi identitas ini tidak dapat dengan mudah direalisasikan, karena ego berulangkali menampilkan diri palsu (false self). Menurut Hick, Aku (I) adalah bagian dari proses samsara yang tidak berujung, siklus kelahiran kembali sebagai ego empiris yang berurutan, mengikat jiwa (soul/jiva) ke alam maya hingga akhirnya terintegrasi sepenuhnya dengan jiwa yang lebih dalam dan kekal (eternal/atman) yang menyatu dengan Brahman.

Dalam Hinduisme, keselamatan atau pembebasan (liberation/moksha) adalah kebebasan diri sejati dari diri palsu. Menurut Sarvepalli Radhakrishnan (1888-1975), kesadaran dan kehendak ilahi (divine consciousness) harus menjadi kesadaran dan kehendak manusia. Oleh karena itu, diri manusia yang sebenarnya harus berhenti menjadi diri sendiri. Harus melepaskan keinginan pribadi, mentransendensi ego, menyerahkan seluruh sifat, dan mengarahkan kesadaran kepada Yang Ilahi.

Hick menguraikan tiga cara (margas/yogas) untuk sampai pada keselamatan atau pembebasan dalam tradisi Hindu. Pertama, jalan pengetahuan atau wawasan spiritual (janana-yoga). Ajaran ini menekankan bahwa manusia pada hakikatnya yang terdalam adalah satu dengan Wujud (Being) atau Diri (Self) universal. Namun, manusia membutuhkan bimbingan yang cermat dari seorang guru yang telah mencapai moksha. Selain itu, manusia harus melakukan studi tentang teks-teks suci, ritual, dan sains. Untuk sampai pada pengetahuan sejati, manusia harus mendedikasikan diri untuk pencarian atau penyelidikan, memurnikan hati, dan meninggalkan ambisi duniawi.

Kedua, jalan tindakan (karma-marga). Jalan ini secara tradisional dipertahankan dengan melakukan tanggung jawab umum seperti pernikahan, karier, dan keluarga. Selain itu, manusia tidak boleh terikat pada penghargaan dan pencapaian pribadi. Karena hanya orang bodoh (witless/fools) melakukan pekerjaan dan melekat pada pekerjaan tersebut. Orang bijak (wise man) tidak boleh terikat dan mempunyai kerinduan (longing) untuk mewujudkan kesejahteraan pribadi. Mahatma Gandhi (1869-1948) merupakan contoh luar biasa dalam karma-yogin.

Ketiga, bhakti-yoga merupakan pengosongan diri (self-emptying) atau pemberian diri (self-giving). Memusatkan diri secara radikal pada Yang Ilahi. Hal ini dapat diekspresikan dalam kasih dan syukur, pelayanan di bait suci, kesaksian pribadi dan misioner yang berdedikasi, dan mengabdikan diri untuk melayani Allah. Fokus utama keselamatan atau pembebasan dalam Hindu yaitu perpindahan (move) dari keterpusatan pada diri sendiri menuju keterpusatan pada Yang Real.

Keselamatan dalam Buddhis adalah kebangkitan realitas melalui kematian ego. Prinsip Buddhis yang mengilhami pemikiran ini adalah anatta (Pali) atau anatman (Sanskrit). Tujuannya adalah untuk mencapai nirvana, situasi dan kondisi di mana manusia tidak berpusat pada diri sendiri. Dengan demikian, doktrin tanpa diri (no-self/anatman) tidak ditawarkan sebagai kebenaran teoretis, tetapi sebagai cara praktis untuk sampai pada pembebasan.

Gerakan menuju nirvana dan penghapusan ego adalah proses yang panjang. Sebuah petualangan bagi penganut Buddha yang taat. Dalam tradisi Buddha Mahayana, ditekankan pentingnya menjadi pribadi yang tercerahkan (bodhisattva) dan mengaktualisasikan transendensi diri (self-transcendence). Oleh karena itu, dalam Buddhisme, baik Theravada maupun Mahayana, jalan menuju pembebasan adalah jalan transendensi diri dan transformasi eksistensi manusia, dari keterpusatan pada diri sendiri menjadi berpusat pada Realitas.

Tradisi Kristiani juga berbicara tentang transformasi diri, dari perhatian pada diri sendiri menjadi kasih kepada Allah dan sesama (neighbour). Dalam tradisi Kristiani, transformasi dipahami sebagai konsekuensi dari keselamatan, bukan sebagai keselamatan itu sendiri (salvation itself). Hal ini terjadi karena munculnya berbagai macam gagasan dalam teologi Kristen mengenai pembenaran (justification) dan pengudusan (sanctification). Menurut Hick, doktrin penebusan dapat digunakan sebagai patokan untuk memisahkan konsep keselamatan dari konsep pembenaran. Doktrin penebusan menyatakan bahwa manusia berdosa dan tunduk pada hukuman (subject to punishment), tetapi dosa serta kesalahan manusia ditebus oleh Yesus Kristus.

Hick menekankan bahwa pesan-pesan yang disampaikan Yesus Kristus bersifat Teosentris, mencakup kebaikan dan kedaulatan Allah Bapa. Menurut Hick, Gereja perdana mengubah pesan Yesus Kristus mengenai kasih Allah menjadi pesan yang bersifat Kristosentris. Inti dari pesan Yesus Kristus adalah pertobatan dari hidup yang berpusat pada diri sendiri menjadi hidup yang berpusat pada Allah.

Menurut Hick, doktrin keselamatan dalam tradisi Kristen mendorong manusia untuk melakukan perubahan aktual terkait kesadaran dan tindakannya sebagai tanggapan terhadap kasih Allah. Hick memandang tradisi mistik spiritualitas Kristen mendukung transformasi aktual. Terkait hal ini, pengalaman mistik merupakan pertumbuhan yang terjadi dalam diri manusia, di mana manusia tidak lagi mementingkan diri sendiri dan sungguh-sungguh menyadari eksistensi Allah.

Hick menggunakan Al-Qur’an untuk menjelaskan keselamatan atau pembebasan dalam tradisi Islam. Tradisi Islam menekankan pentingnya penyerahan diri yang mengarah pada perdamaian dengan Allah. Oleh karena itu, orang-orang Islam dipanggil untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Tunduk kepada Allah dan menghargai semesta. Menjalani hidup setiap saat di hadapan Allah. Melakukan ibadah dan perbuatan baik. Sebagaimana dikatakan Hick, hampir semua kegiatan orang-orang Islam dimulai dengan ucapan dalam nama Allah (in the name of God/Bismillah) dan jika Allah menghendaki (if God wills/Inshallah). Jadi hidup manusia secara terus-menerus diisi dengan mengingat Allah.

Islam memiliki tradisi mistisisme yang dapat digunakan untuk mendukung penyerahan diri kepada Allah. Hick menyebut konsep sufi tentang mengingat Allah (remembrance of God/dhikr) dan kehilangan atau pemusnahan diri di dalam Allah (loss or annihilation of self in God/fana). Dhikr adalah kesadaran akan Allah. Sedangkan fana adalah pemusatan diri secara total kepada Allah. Kehidupan manusia dilebur ke dalam kehidupan ilahi. Fana melibatkan perubahan moral dengan menghilangkan tindakan jahat. Sementara ego atau kesadaran manusia dimusnahkan (annihilated).

SOTERIOLOGI KRISTEN

Menurut Hick, tidak ada pernyataan yang secara eksplisit mendasari bahwa tanggapan (response) orang Kristen atau yang lainnya terhadap Yang Real sebagai satu-satunya tanggapan yang benar. Meskipun setiap agama mempunyai kecenderungan mempertahankan tanggapannya. Misalnya, tanggapan orang Kristen kepada Allah adalah tanggapan valid yang dapat menuntun manusia menuju keselamatan atau pembebasan. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa tanggapan lain terhadap Yang Real tidak valid. Karena pada dasarnya terdapat pluralisme tanggapan yang valid terhadap kehadiran Allah.

Hick tidak percaya apabila sejarah dan tradisi Kristiani dinilai lebih baik daripada tradisi agama lainnya. Hick menekankan soteriologi yang menjunjung tinggi kesetaraaan agama-agama. Karena setiap tradisi agama pada dasarnya unik (unique) dan unggul (superior). Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman bahwa tradisi agama tertentu bukan satu-satunya bentuk kehidupan religius untuk mencapai keselamatan. Oleh karena itu, Yesus Kristus bukanlah satu-satunya sarana keselamatan atau pembebasan bagi semua orang. Meskipun Yesus Kristus memainkan peranan penting bagi orang-orang Kristen. Sehingga landasan utama keselamatan, pembebasan, dan pemenuhan adalah Yang Real. Yang Real dialami dan disebut orang-orang Kristen sebagai Allah Bapa.

Hak memiliki (retention) identitas Kristen dan memberikan kebebasan terhadap sesama yang menyandang identitas agama lain merupakan aspek pluralisme yang ditumbuhkan serta dikembangkan oleh Hick. Hal ini dimaksudkan untuk mengakui keragaman jalan religius yang mengarah pada keselamatan, pembebasan, dan pemenuhan. Oleh karena itu, kemandirian identitas agama seharusnya tidak mencegah penyatuan sudut pandang teologis melalui dialog antaragama.

Terdapat ketegangan antara tradisi atau identitas tertentu dan pemahaman yang muncul mengenai teologi sebagaimana dijelaskan Hick. Hick menegaskan bahwa apabila hanya ada satu agama di dunia, maka hal ini tidak dikehendaki. Namun, Hick tidak memberikan penjelasan yang memuaskan terkait kemungkinan atau prospek untuk sebuah teologi dunia (world theology). Hick hanya menekankan sikap saling pengertian (mutual understanding).

Manusia menilai tradisi agama berdasarkan sesuatu yang dikenal dari tradisinya sendiri. Namun, tradisi agama yang lain sering kali menjadi penghalang untuk memberikan evaluasi secara adil. Misalnya, orang Kristen mengklaim bahwa wahyu dalam tradisi agama Kristen pada dasarnya unik dan terakhir (final). Hal ini memperlihatkan bahwa orang Kristen tidak dapat menghargai wahyu lain yang sama otentiknya. Sedangkan orang-orang Muslim mengalami kesulitan yang sama, karena diajari bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu yang terakhir. Selain itu, Muhammad adalah nabi terakhir.

Wajar apabila manusia berpikir, percaya, dan berperilaku seolah-olah tradisi agamanya paling unik dan unggul. Namun, penilaian tersebut merupakan hasil dari pengalaman dan indoktrinasi di dalam suatu tradisi agama. Secara khusus di dalam tradisi di mana seseorang dilahirkan. Hick menyebut praktik atau kecenderungan tersebut sebagai konfensionalisme genetik (genetic confessionalism).

Agama-agama tidak dapat digolongkan ke dalam tatanan hierarkis. Karena setiap agama dengan caranya masing-masing membawa manusia menuju keselamatan, pembebasan, dan pemenuhan. Oleh karena itu, setiap agama hanya dapat dinilai secara relatif, sejauh agama-agama yang bersangkutan mempromosikan atau tidak mempromosikan keselamatan atau pembebasan. Hal ini terkait dengan kualitas eksistensi manusia menuju sesuatu yang lebih baik. Tidak lagi berpusat pada diri sendiri, melainkan memusatkan diri pada Realitas atau Yang Real.

Kekristenan membimbing perjalanan manusia menuju keselamatan. Hal ini akan terus berlangsung selama Yesus Kristus diingat dan diikuti serta banyak orang menemukan jalan keselamatan di dalam Gereja Kristen. Oleh karena itu, istilah khusus seperti Yesus Kristus (Jesus Christ), Allah (Lord), dan Anak Allah (Son of God) harus dipertahankan serta ditafsirkan ulang. Kekristenan yang ditransformasikan dan tercerahkan disebut oleh Hick sebagai Kristen kedua (second Christianity) yang akan terus menjadi bagian utama dari sejarah agama dunia.

SUMBER BACAAN

Basinger, David. “Hick’s Religious Pluralism and ‘Reformed Epistemology’: A Middle Ground.” Dalam Philip L. Quinn dan Kevin Meeker (Editor). The Philosophical Challenge of Religious Diversity. New York: Oxford University Press, 2000, hlm. 161-171.

Eddy, Paul. John Hick’s Pluralist Philosophy of World Religions: An Exposition and Response. Marquette University, 1999.

Gillis, Chester. A Question of Final Belief: John Hick’s Pluralistic Theory of Salvation. London: The Macmillan Press, 1989.

McCready, Douglas. “The Disintegration of John Hick’s Christology.” Journal of the Evangelical Theological Society. Vol. 39, No. 2 (Juni 1996), hlm. 257-270.

Plantinga, Alvin. “God, Freedom, and Evil.” Dalam Arthur C. Dante (Editor). Essays in Philosophy. London: George Allen & Unwin, 1975.

Yandall, Woodfin. “Review of Death and Eternal Life.” Southwestern Journal of Theology. Vol. 20 (September 1978), hlm. 95.

CATATAN

Tulisan ini pernah dipublikasikan dengan keterangan sebagai berikut:

Prasetyo, Yohanes Wahyu. “Soteriologi John Hick: Allah, Keselamatan atau Pembebasan, Wahyu, Penciptaan Jiwa, dan Revolusi Kopernikan”. Gita Sang Surya. Vol. 17, No. 5 (September-Oktober 2022), hlm. 39-49. ISSN 1978-3868

Format PDF dari tulisan ini dapat diakses melalui http://repo.driyarkara.ac.id/2017/

Diskursus Teologi