October 26, 2025

Humanisme Ekologis, Ekonomi, dan Proyek Manusia

Yohanes Wahyu Prasetyo

(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)

 

Tantangan tertua dalam dunia intelektual yaitu memahami sifat manusia (human nature). Karena manusia mempunyai latar belakang budaya, agama, politik, sosial, dan ekonomi beragam. Realitas tersebut memperlihatkan kompleksitas kehidupan manusia. Terkait hal ini, terdapat berbagai macam cara untuk menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan manusia. Selain itu, manusia mempunyai peluang mengejawantahkan kebaikan (good) atau kejahatan (evil). Bahkan manusia pada tataran tertentu dapat setia pada cita-cita luhur atau mempertahankan ketidakjujuran, kefanatikan, dan memegahkan diri sendiri.

Manusia merupakan makhluk biologis (biological beings), produk evolusi yang terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama. Sebagai makhluk sosial (social beings), manusia dapat bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang dewasa serta mempunyai integritas terkait karakter dan perilaku. Namun, manusia tidak dapat bertumbuh dan berkembang apabila tidak memperoleh perlindungan (protection) serta dukungan (support) dari komunitas sosial dan budaya. Selain itu, pertumbuhan dan perkembangan manusia ditentukan oleh ekosistem serta komunitas biologis (biological communities).

Bumi adalah rumah kehidupan manusia. Terkait hal ini, ekologi (ecology) berasal dari kata Yunani oikos yang berarti rumah (home). Perlu diketahui bahwa gagasan mengenai ekologi ditumbuhkan dan dikembangkan para ahli biologi abad XVIII-XIX. Mempelajari bumi terutama terkait siklus zat kimia dan nutrisi yang mengikat berbagai macam organisme. Menurut Charles Darwin (1809-1882), di alam terjadi persaingan (competition) dan ketergantungan (dependency) antarspesies. Misalnya relasi halus yang terjadi di antara karbon, nitrogen, fosfor, kalium, dan kalsium.

Melalui sistem alami (natural systems), siklus kimiawi (chemical cycling) memungkinkan tersedianya nutrisi bagi organisme. Namun, aktivitas manusia membuat sistem yang ada di dalam danau dan hutan terbebani sulfur (sulphur). Sulfur tersebut muncul akibat pembakaran fosil (burning of fossil) melalui industri dan transportasi. Selain itu, hujan asam (acid rain) yang terjadi di belahan bumi Utara berdampak pada kerusakan lingkungan (environmental damage).

Pemanasan atmosfer bumi dan efek rumah kaca menimbulkan peningkatan badai sebesar empat puluh persen dalam kurun waktu lima puluh tahun kedepan. Deforestasi berkelanjutan yang terjadi di Himalaya berpotensi mengakibatkan banjir di Bangladesh. Kerusakan hutan Amazon akan menghancurkan masyarakat adat (indigenous people) dan spesies hewan (animal species). Pada akhir abad ini, jumlah ikan berkurang dan sistem kekebalan makhluk laut menurun. Manusia akan hidup dalam kondisi sengsara, rentan terhadap penyakit, dan berhadapan dengan bencana klimatologis.

HUMANISME EKOLOGIS

Dewasa ini, manusia yang mempunyai kekuatan politik dan ekonomi tidak menyadari bahwa pertumbuhan serta perkembangan dirinya terkait dimensi biologis (biological dimension). Hal ini terjadi karena manusia membuat pemisahan tegas antara kehidupan sosial, pembangunan ekonomi, dan konteks alamiah kehidupannya. Selain itu, manusia mengadaptasi teori-teori ekonomi yang mengakibatkan kesalahan ketika memahami situasi dan kondisi hidupnya. Jika masih ada harapan kehidupan pada masa mendatang, maka manusia harus mempunyai wawasan yang memadai mengenai kodrat hidupnya. Wawasan tersebut dimaksudkan untuk memberikan filosofi baru kepada manusia, yaitu humanisme ekologis (ecological humanism).

Humanisme ekologis merupakan pandangan komunitarian, di mana manusia terintegrasi dengan komunitas. Komunitas dibagi ke dalam dua kategori. Pertama, komunitas sosial dan budaya yang memungkinkan manusia memperoleh berbagai macam manfaat serta memberikan kontribusi melalui aktivitas yang dilakukannya. Aktivitas manusia tersebut terkait produksi dan transformasi lingkungan. Sehingga tersedia makanan, tempat berteduh, barang material, dan persekutuan religius yang memadai bagi manusia. Selain itu, ekspresi seni dan budaya serta eksplorasi kesadaran dan kreativitas manusia dimungkinkan.

Aktivitas sosial dan budaya manusia melibatkan alam. Karena kehidupan manusia pada dasarnya terkait erat dengan berbagai macam dimensi dalam komunitas ekologis (ecological communities). Dalam komunitas ekologis, manusia mempunyai kesempatan untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan potensi diri. Selain itu, manusia bukan pribadi yang terisolasi. Pada tingkat biologis, manusia merupakan hasil dari proses evolusi.

Proses evolusi memungkinkan manusia memilih (choice) dan mempertimbangkan (deliberation) keputusan yang lebih baik daripada hewan. Sehingga proses evolusi memungkinkan terciptanya kompleksitas saraf yang menopang kapasitas manusia. Sedangkan menurut tradisi religius, manusia diciptakan berdasarkan tindakan kreatif Allah. Meskipun demikian, manusia mempunyai kaitan dan relasi yang erat dengan ciptaan lainnya.

Kedua, komunitas sosial dan budaya dalam rupa masyarakat (society) memungkinkan pertumbuhan serta perkembangan moral dan pribadi manusia. Perlu diketahui bahwa manusia mengikatkan diri di tempat di mana ia menjalin relasi sosial. Misalnya di dalam keluarga dan tempat bekerja. Sehingga manusia disebut sebagai pribadi unik yang ikut ambil bagian mengejawantahkan proyek, nilai, dan cita-cita komunitas.

Situasi dan kondisi sosial serta budaya menentukan pertumbuhan dan perkembangan pribadi manusia. Selain itu, dalam kurun waktu yang cukup lama, institusi sosial seperti Gereja di negara-negara Kristen mengalami perubahan ketika berhadapan dengan berbagai macam kelompok dan lembaga. Dinamika kehidupan sosial dan budaya pararel dengan dinamika alam (dynamic of nature). Secara historis manusia beradaptasi dengan lingkungan (environments). Hal ini mengakibatkan terjadinya perubahan dalam lingkungan.

Terjadi relasi antara populasi yang hidup dan lingkungan abiotik. Menurut sejumlah ahli biologi, sistem makhluk hidup mampu menahan perubahan yang terjadi di dalam lingkungan abiotik. Bahkan pada tataran tertentu mampu memodifikasi dan menjaga lingkungan supaya tetap hidup. Namun, realitas memperlihatkan bahwa makhluk hidup menanggapi berbagai macam tantangan yang ada di dalam lingkungan berdasarkan sifat serta watak bawaan. Karena manusia pada dasarnya digerakkan oleh pertimbangan nilai. Misalnya apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Hal ini memperlihatkan pentingnya membuat pertimbangan etis (ethical considerations) di tengah komunitas kehidupan (community-lives).

Menurut sejumlah cendekiawan abad XVIII, tidak menjadi persoalan apabila terdapat kesepakatan antara kepentingan pribadi (self-interest) dan kebaikan masyarakat (the good of society). Namun, keyakinan tersebut tidak tepat. Karena tidak mungkin suatu tindakan dilakukan untuk mengembangkan diri (self-developing) sekaligus bernilai bagi kelompok (value to the groups). Dengan demikian, keyakinan sebagaimana ditegaskan sejumlah cendekiawan abad XVIII justru menjadi akar dari timbulnya berbagai macam persoalan.

EKONOMI DAN GAGASAN MENGENAI LINGKUNGAN

Terdapat dua gagasan penting dalam humanisme ekologis. Pertama, manusia terikat dengan alam. Kedua, ekologi ilmiah memberikan informasi yang memadai untuk membuat perencanaan kebijakan dalam kehidupan politik dan ekonomi lokal serta global. Selain itu, humanisme ekologis memberikan evaluasi terkait pengabaian wawasan ekologis (neglect of ecological insight) yang mengakibatkan kerusakan dan degradasi lingkungan. Sedangkan dalam alam pikiran komunitarian, manusia dipandang sebagai anggota komunitas ekologis lokal dan global.

Ketika mengejawantahkan sikap tanggung jawab terhadap komunitas ekologis, manusia harus memperhatikan pola interaksinya dengan alam terutama yang terkait dimensi ekonomi dan sosial. Perlu diketahui bahwa sikap komunitarian bukan sekadar meyakini praktek industri dan pertanian berkelanjutan mampu mempertahankan kehidupan manusia. Kehidupan manusia ditandai dengan lingkungan dan mengandalkannya. Dengan demikian, sikap tidak peduli terhadap lingkungan berarti tidak peduli terhadap diri sendiri.

Berbagai macam aktivitas yang dilakukan manusia berdampak pada lingkungan biotik dan abiotik. Jean-Paul Sartre (1905-1980) menegaskan bahwa manusia kehilangan kemampuan fokus pada aspek kehidupan. Terkait hal ini, ilmu ekonomi klasik harus menerima realitas tersebut. Karena manusia mempunyai kecenderungan bersikap egois dan dimediasi oleh pasar ekonomi (economic market). Para ekonom neo-klasik berpegang teguh pada prinsip di mana perilaku ekonomi (economic behavior) terjadi di antara pribadi yang terisolasi. Padahal ekonomi neo-klasik tidak ramah terhadap perspektif ekologi dan komunitarian. Karena terbuka kemungkinan untuk penipuan diri (self-deception) dan rasionalisasi terhadap pribadi manusia serta institusi.

Berdasarkan pendekatan klasik dan neo-klasik, konsumen dapat mengatur preferensinya sendiri. Hal ini dianggap oleh sejumlah ekonom sebagai aspek demokratis (democratic) dari sains. Konsumen independen dilengkapi dengan preferensi terkait membelanjakan uang dan ketersediaan produk. Sehingga lingkungan yang terdegradasi dapat diperbaiki.

Pribadi manusia dijadikan ukuran dalam menentukan sesuatu yang baik sebagaimana terjadi di masyarakat. Namun, dalam pemikiran semacam itu peran lembaga di dalam masyarakat diabaikan. Menurut para antropolog dan sosiolog, tidak mengherankan apabila orang-orang dalam lingkungan sosial dan lembaga melihat bahwa jenis pemenuhan tertentu tidak tersedia. Akhirnya, menyadari keterbatasan metode ekonomi penting untuk mengatasi berbagai macam persoalan terkait lingkungan.

PROYEK MANUSIA

Manusia merupakan makhluk sosial yang hidup dalam sistem biologis (biological systems). Fakta biologis kehidupan manusia tidak membatasi berbagai macam aktivitas yang dilakukannya. Namun, kebebasan manusia bertindak mempunyai kemungkinan membawa dampak yang lebih baik atau lebih buruk. Menurut para ahli ekologi humanis, manusia dapat mewujudnyatakan kreativitasnya melalui lingkungan alam dan sosial.

Manusia adalah agen moral (moral agents) dan mempunyai kapasitas untuk menentukan pilihan. Manusia harus menentukan sikap yang harus diambil ketika berhadapan dengan alam. Harapannya manusia mampu memberikan rasa hormat (respect) dan perhatian (care) terhadap alam. Karena alam pada dasarnya bukan sekadar instrumental murni, sistem pendukung kehidupan manusia, dan sumber untuk dijarah sesuka hati.

Alam pada dasarnya menyediakan sistem pendukung bagi kehidupan manusia. Namun, dalam perjalanan waktu, manusia senantiasa menambah beban dan harus ditanggung oleh alam. Sesuatu yang dikhawatirkan yaitu manusia bertindak terlalu jauh dan membuat rumah yang ditempati tidak lagi bisa dihuni. Oleh karena itu, harus diambil langkah untuk meminimalisir kerusakan. Terkait hal ini, humanisme ekologis meminta manusia menghormati dan peduli terhadap alam. Bahkan pada tataran tertentu, keputusan ekonomi dan politik harus memperhatikan serta bertanggung jawab apabila terjadi kerusakan di alam. Karena manusia dan alam pada dasarnya saling terkait serta tergantung.

Dalam lingkungan masyarakat, jumlah manusia yang terisolasi dari yang lain semakin meningkat. Hal ini merupakan persoalan besar dan harus mendapatkan perhatian. Selain itu, manusia juga terasing dari alam. Berdasarkan perspektif humanisme ekologis, ekologi ilmiah memberikan solusi untuk menangani persoalan keterasiangan atau terisolasi. Sehingga hidup yang berharga harus disertai dengan kepedulian terhadap nilai-nilai biologis dan ekologi.

Perlu diketahui bahwa manusia secara pribadi atau bersama-sama berupaya melepaskan diri dari niat buruk (bad faith). Niat buruk atau penipuan diri sendiri mencakup penyembunyian sejumlah aspek tertentu dari situasi dan kondisi manusia. Sehingga melihat segala sesuatu yang terjadi berada di luar diri manusia bersifat diberikan (given). Misalnya pemilik pabrik mengabaikan polusi dan memusatkan perhatian pada kekayaan serta pekerjaan yang sedang dijalani. Polusi dianggap sebagai pemberian (given), sesuatu yang tidak mungkin dikontrol.

Ketika berupaya memaafkan diri sendiri dan lembaga, terdapat dua pilihan yang dimiliki manusia. Melanjutkan niat buruk atau bertanggung jawab atas tindakan yang telah dilakukan. Menurut para humanis ekologi, pengakuan akan niat buruk mengarahkan manusia pada perubahan perilaku. Selain itu, manusia menipu diri sendiri apabila terus berniat buruk dan tidak peka terhadap berbagai macam persoalan yang terjadi di lingkungan.

Alam pikiran komunitarian mengancam kebebasan manusia untuk mengejar tujuannya sendiri. Sehingga alam pikiran komunitarian tidak demokratis. Perlu diketahui bahwa tidak ada masyarakat yang percaya pada pilihan manusia sepenuhnya bebas (free). Terkait hal ini, dalam pendidikan, manusia ditempatkan dalam posisi memperoleh budaya, tradisi, ketrampilan, dan keragaman nilai komunitas. Sebagaimana dikatakan para humanis ekologis, untuk menangani niat buruk, penting menyertakan dimensi ekologi dalam pendidikan. Belajar menghargai alam dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Karena keberlangsungan alam dan segala sesuatu yang ada di dalamnya tergantung dari keputusan serta tindakan manusia.

SUMBER BACAAN

Brennan, A. A. “Ecological Humanism.” biopolitics.gr/biowp/wp-content/uploads/2013/04/ah-brennan.pdf. Diakses pada 28 November 2020 pukul 17.00 WIB.

CATATAN

Tulisan ini pernah dipublikasikan dengan keterangan sebagai berikut:

Prasetyo, Yohanes Wahyu. “Humanisme Ekologis, Ekonomi, dan Proyek Manusia”. Gita Sang Surya. Vol. 17, No. 5 (September-Oktober 2022), hlm. 7-10. ISSN 1978-3868

Format PDF dari tulisan ini dapat diakses melalui http://repo.driyarkara.ac.id/2013/

Diskursus Filsafat