Yohanes Wahyu Prasetyo
(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)
Seperti kaum Stoa, Gregorius Agung (Gregory the Great) menekankan keberanian dan kekuatan menghadapi penderitaan dengan keseimbangan batin (equanimity). Hal ini dimaksudkan untuk memajukan nilai-nilai Kristiani seperti kesabaran, pengorbanan diri, dan belas kasih. Perlu diketahui bahwa Stoisisme memberikan kerangka (skeleton) pada teologi moral (moral theology) Gregorius.
Stoisisme bukan sesuatu yang baru dalam Kekristenan. Surat-surat Paulus mencerminkan ajaran Stoa seperti logika, retorika, dan kasih paradoks. Terkait hal ini, Paulus memisahkan Kekristenan dari Yudaisme. Namun, Gregorius melampaui dialektika daging dan roh Paulus, menekankan relasi timbal balik antara yang duniawi dan yang spiritual.
Menurut Gregorius, Allah mengatur alam semesta secara tepat dan adil. Pola tatanan tersebut hanya bisa dikerjakan oleh Allah yang peduli pada manusia. Sebagaimana terdapat dalam ajaran Stoa, Gregorius meyakini bahwa Allah menghendaki keteraturan dan ketika berhadapan dengan ketidakteraturan Ia bertindak tegas.
HIDUP DAN KARYA-KARYA GREGORIUS
Gregorius lahir pada 540 dan meninggal pada 604. Ia menjadi biarawan pada 578 dan menjadi wakil paus (apocrisarius) di Konstantinopel pada 578. Ketika kembali ke Roma pada 585, ia menjadi kepala biara (abbot). Pada 590 Gregorius menjadi paus dan memusatkan perhatian pada tugas pastoral serta mengembangkan teologi pelayanan uskup (theology of episcopal ministry).
Gregorius merupakan tokoh penting ketika uskup Roma mengklaim dan menegakkan hegemoni di antara patriark kuno. Pada zaman Gregorius, kepausan menjadi lebih otonom. Hal ini memberi otoritas yang penting untuk perkembangan selanjutnya. Terutama terkait relasi antara Gereja dan Negara selama Abad Pertengahan (Middle Ages).
Sebagai kepala biara, Gregorius secara rutin berkhotbah berdasarkan teks 1 Raja-Raja, Nabi-Nabi, Amsal, dan Kidung Agung. Pada 591 ia menyelesaikan Moralia in Job, karya yang paling banyak dibaca selama Abad Pertengahan. Pada periode yang sama ia mengerjakan Regula Pastoralis. Ketika Lombardia mengepung Roma, Gregorius menyampaikan khotbah mengenai Yehezkiel yang kemudian diterbitkan pada 601.
Menurut Gregorius, khotbah merupakan sarana di mana seorang uskup memenuhi fungsinya terkait pemeliharaan iman (maintenance of the faith). Selanjutnya, Gregorius melihat Ekaristi sebagai manifestasi dari harmoni alam semesta. Kristus ditawarkan sebagai korban (hostia). Sebagaimana ditegaskan Gregorius, efektivitas Ekaristi bergantung pada partisipasi dalam tubuh Kristus, di mana umat Kristen harus mempraktikkan kontemplasi dan melayani sesama. Akhirnya, Ekaristi memberi manfaat bagi jiwa-jiwa setelah kematian.
Gregorius merasakan adanya tegangan antara kontemplasi dan tindakan (contemplation and action). Kemudian Gregorius memadukan antara yang ke dalam (yang spiritual) dan yang ke luar (yang duniawi). Secara lahiriah segala sesuatu adalah kesusahan, perubahan, dan kerusakan (distress, change, and decay). Sedangkan secara batiniah ada kedamaian dan ketenangan (peace and tranquility). Menurut Gregorius, cahaya ilahi (divine light) menunjukkan kepada manusia sesuatu yang tidak terlihat ketika ia berada dalam kebutaan atau penuh dosa.
Regula Pastoralis mempengaruhi konsepsi Abad Pertengahan mengenai peran seorang uskup. Bernardinus dari Clairvaux (1090-1153) menggunakan Regula Pastoralis ketika menulis De Consideratione untuk Eugenius III (1088-1153) dan mempengaruhi teori supremasi kepausan pada akhir Abad Pertengahan. Karya Gregorius Dialogues menjadi dasar monastisisme Benediktin ketika menyusun aturan (rule) untuk para biarawan di Barat.
Gregorius menasihati Agustinus dari Canterbury, misionaris yang ia kirim ke Inggris Raya untuk menyeleksi dan menyusun ritus sesuai dengan situasi serta kondisi umat Kristen setempat. Perlu diketahui bahwa sejumlah praktik liturgi Barat seperti penggunaan Doa Bapa Kami (Lord’s Prayer) pada akhir Doa Ekaristi (Eucharistic Prayer) merupakan hasil bimbingan Gregorius. Akhirnya, Gregorius merupakan seorang biarawan sekaligus guru, pelindung, penopang, dan bapak dari orang-orang beriman yang digembalakannya.
KETERLIBATAN ALLAH DI DUNIA
Gregorius meyakini bahwa Allah ada di mana-mana. Oleh karena itu, peristiwa alam, politik, dan pribadi manusia membawa pesan Allah (God’s message). Terkait hal ini, kemakmuran (prosperitas) dipandang sebagai rahmat, berkah, dan pahala. Secara spiritual, keberhasilan dalam kontemplasi dan kebajikan juga dilihat sebagai kemakmuran.
Perlu diketahui bahwa kesulitan (adversitas) merupakan kemalangan (misfortune), hilangnya karunia Allah. Hal ini nampak dalam berbagai macam penderitaan dan kesengsaraan yang terjadi di dunia seperti gempa bumi, perang, kelaparan, kematian, kemiskinan, dan penyakit. Dalam kaca mata spiritual, kemalangan terlihat ketika manusia merasa ditinggalkan Allah, tidak mampu menghadapi godaan dan terjerumus ke dalam dosa.
Allah menggunakan kemakmuran dan kesulitan sebagai paideia, sarana mendidik serta melatih manusia. Karena keterlibatan Allah di dunia tidak dapat dipungkiri. Dengan demikian, semakin jelas bahwa Allah ada di mana-mana (God is everywhere) dan memungkinkan segala sesuatu memiliki makna (meaning).
Merujuk pada alam pikiran Abad Pertengahan, Gregorius mengajarkan bahwa sesuatu yang terlihat dan tidak terlihat, kodrati dan adikodrati, manusia dan yang ilahi, dan yang duniawi serta yang spiritual berada secara berdampingan dan terjalin erat. Hal ini mempengaruhi cara pandang kebanyakan orang bahwa neraka ada di bawah bumi dan surga ada di langit. Sehingga fenomena alam sering kali dijelaskan dalam kaitannya dengan yang adikodrati.
Menurut Gregorius, Ekaristi menjadi sentral dan perantara untuk menjalin relasi dengan Allah. Karena Ekaristi mereplikasi dan melanjutkan pengorbanan Kristus atas nama umat manusia. Pada zaman Gregorius, Ekaristi dimaknai sebagai korban (victim). Sebagai gambar Kristus di dunia, imam membagikan sakramen yang secara mistik mempersatukan umat manusia dengan Kristus.
Gregorius menekankan sentralitas baru dalam Ekaristi yang membentuk masa depan (the future). Terkait hal ini, ia dipandang sebagai pelopor kesalehan Ekaristi (Eucharistic piety). Berbicara mengenai Ekaristi harian, Ekaristi untuk orang meninggal, dan pengakuan dosa kepada para imam. Bahkan Gregorius menempatkan Ekaristi sebagai pusat disiplin moral pribadi manusia.
HARMONI DALAM JIWA DAN TUBUH
Bukti adanya Allah dapat dilihat dalam harmoni dan tatanan alam semesta. Gregorius mengambil ajaran Stoa mengenai tatanan dunia, alam, sains, kedokteran, filsafat hukum, dan politik untuk menjelaskan harmoni serta tatanan alam semesta. Terkait hal ini, manusia mempunyai akal budi dan disebut sebagai pribadi rasional. Selain itu, manusia berada dalam persekutuan yang besar (magna communion uniuersitatis) bersama ciptaan lainnya.
Kemanusiaan (humanity) terkait dengan keberadaan spiritual dan rasional. Karena Allah menciptakan manusia sebagai mikrokosmos yang terdiri dari jiwa dan tubuh. Tubuh yang berakal (sensible body) dan jiwa yang rasional (rational soul) merupakan kesatuan yang bersifat paradoks. Hal ini memperlihatkan rancangan Allah yang luar biasa, di mana jiwa dan tubuh bersatu dalam harmoni. Gregorius mengetahui kesatuan antara akal budi dan tubuh (mind and body) berdasarkan pengalaman pribadi. Ketika daging terlalu lemah menopang ucapan, akal budi tidak dapat menyampaikan maknanya.
Tubuh adalah musuh dari jiwa (anima), jiwa rasional (animus), akal budi (mens), roh (spiritus), dan hati (cor). Melalui relasi yang dijalin dengan Allah, manusia menemukan kebenaran spiritual dan cita-cita moral yang merupakan sumber kebajikan (source of virtue). Sedangkan keserupaan (similitudo) dan citra (imago) Allah adalah identitas manusia yang sejati.
Ketika menyamakan daging (the flesh) dengan tubuh dan roh (the spirit) dengan manusia rasional, Gregorius menggabungkan kosmologi Stoa mengenai tubuh serta jiwa dengan gagasan Paulus dan Agustinus Hippo (354-430) mengenai kedagingan serta spiritualitas (carnality and spirituality). Namun, Gregorius mengabaikan gagasan Agustinus mengenai netralitas tubuh (the neutrality of the body) dan kesalahan dari kehendak untuk berdosa (culpability of the will for sin).
Pada dasarnya tubuh dan jiwa tidak saling bertentangan, tetapi saling melengkapi. Secara lahiriah, tubuh menarik jiwa menuju tataran duniwai untuk berbuat dosa. Sedangkan jiwa naik ke surga dalam kontemplasi (the soul rises heavenward in contemplation). Tetapi dengan kendali tertentu (certo moderamine) orang-orang kudus mampu menyatukan keduanya dan menghasilkan kerendahan hati serta harapan.
Ketika manusia mengingat kesulitan dalam kemakmuran, ia akan rendah hati. Selain itu, ketika manusia mengingat kemakmuran dalam kesulitan, ia akan mempunyai harapan. Jiwa memiliki keseimbangan untuk menghindari dua ekstrim, yaitu kesombongan (superbia) dan kemuraman (deiectio) serta terlalu percaya diri (securitas) dan keputusasaan (desperation). Hal ini nampak dalam relasi antara yang spiritual dan yang duniawi. Dengan kata lain, komplementaritas merupakan prinsip fundamental harmoni alam semesta.
TATANAN PEMERINTAHAN SURGAWI
Berdasarkan konsep jiwa dan daging, manusia memiliki kekuatan serta kelemahan. Oleh karena itu, daging yang dipandang tidak rasional harus mematuhi jiwa yang rasional. Hal ini menggambarkan tatanan pemerintahan surgawi (superni moderaminis dispotio) yang senantiasa memelihara perdamaian. Masing-masing memiliki tempat yang tepat, menjunjung tinggi prinsip keadilan (justice).
Gereja menyebut cita-cita klasik tersebut sebagai persatuan tubuh Kristus dengan anggota-Nya. Persatuan yang bersifat mistik ini dilukiskan Paulus dalam 1 Kor 12:26, karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Selain itu, dalam Rm 8:17, Paulus menegaskan, dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.
Anggota mempunyai peran sesuai dengan sifatnya. Anggota spiritual (the spiritual members) dalam hal ini mata (oculi) berperan mengarahkan Gereja. Sedangkan anggota jasmani (the carnal members) dalam hal ini kaki (pedes) berperan melayani Gereja. Keragaman pada dasarnya penting dan semua anggota saling membutuhkan. Membagikan sesuatu yang dimiliki dan menerima sesuatu yang tidak dimiliki. Karena seluruh anggota dipersatukan di dalam kasih sebagaimana telah ditetapkan Allah.
Gregorius melegitimasi kekuatan yang duniawi dari Gereja dan para imam terkait berbagai macam pelayanan mereka di dunia. Pemimpin akan memperoleh pahala khusus (special reward) apabila tunduk kepada Allah dan memerintah demi kepentingan rakyat. Pemimpin harus senantiasa membayangkan bahwa ia sedang berhadapan dengan hakim ilahi (divine judge). Hal ini memungkinkan pemimpin hidup dalam kerendahan hati. Selain menekankan keterlibatan di dalam dunia, Gregorius juga menekankan kehidupan kontemplatif (contemplative life).
KEJATUHAN MANUSIA DAN PENYEBAB DOSA
Gregorius meyakini bahwa tanpa ketaatan pada otoritas Allah, surga hilang dan penderitaan dimulai (paradise is lost and suffering begins). Iblis dan Adam digerakkan oleh libido dominandi, kehendak untuk memegang kendali. Keduanya mencari otonomi, memberontak dan melawan otoritas Allah, dan menyingkirkan pemerintahan surgawi yang sejatinya memungkinkan ketertiban serta harmoni.
Seperti iblis, Adam percaya bahwa ia mampu menemukan kepuasan dalam dirinya sendiri. Oleh karena itu, Adam berupaya sedemikian rupa untuk menegakkan hukumnya sendiri dan memuaskan egoismenya. Terkait hal ini, peran Pencipta (Creator) adalah memerintah dan ciptaan harus taat kepada-Nya. Kebanggaan dan ketidaksopanan Adam merupakan keangkuhan atau pengkhianatan tingkat tinggi (lése majesté).
Sifat manusia berupa kelemahan (infirmitas) dan kecurangan (corruptio) diwariskan kepada generasi mendatang dalam dosa asali (original sin). Akibatnya, persatuan dengan Allah hilang, pikiran menjadi gelap (obscuritas/tenebrae), dan akal budi menjadi buta (caecus). Akal budi tidak mempunyai arah, terpencar (dispergitus), dan hilang (perditus). Ketika kehilangan kekuatan akal budi, jiwa tidak bisa mengendalikan tubuh yang rentan terhadap godaan. Oleh karena itu, tubuh menyeret dan memaksa jiwa untuk berbuat dosa.
Gregorius memberikan tanggung jawab atas dosa kepada tubuh yang lemah dan rapuh. Hal ini memperlihatkan bahwa Gregorius meninggalkan gagasan Agustinus yang meyakini tempat dosa adalah kehendak. Karena tubuh menghasilkan kehancuran dan menjadi sumber sensasi kenikmatan (source of pleasurable sensations). Dalam Ayb 13:28 dikatakan, dan semuanya itu terhadap orang yang sudah rapuh seperti kayu lapuk, seperti kain yang dimakan gegat!
Merujuk pada Agustinus, Gregorius menunjukkan tiga penyebab yang membuat manusia berdosa, yaitu ketidaktahuan (ignorantia), kelemahan (infirmitas), dan niat yang disengaja (studium). Penafsiran tropologis Gregorius (Gregory’s tropological exegesis) mengenai kejatuhan manusia memperlihatkan bahwa rayuan akan kesenangan menyebabkan dosa. Oleh karena itu, Gregorius menekankan pentingnya menghindari godaan (temptations). Jika tergoda, maka kesenangan harus ditekan. Apabila kesenangan muncul, hentikan niat untuk mengafirmasinya. Ketika sudah jatuh ke dalam dosa, akui dosa tersebut.
Gregorius memandang kebanggaan (pride) sebagai akar dari segala kejahatan. Ketika discretio hilang, jiwa tidak berdaya. Kebanggaan menaklukkan hati dan membiarkan kejahatan bergerak bebas. Terkait hal ini, kesombongan, iri hati, kemarahan, kemurungan, keserakahan, kerakusan, dan nafsu menghancurkan jiwa (lay waste to the soul). Seperti Adam, runtuhnya tatanan moral terjadi ketika manusia membebaskan diri dari otoritas Allah dan memuaskan diri sendiri tanpa batas. Bersolek dalam kemuliaan palsu dan iri kepada orang lain.
Orang berdosa menjadi serakah akan harta benda dan makanan untuk mengisi kekosongan batin. Menurut Gregorius, orang berdosa bersikap egois dan mengagung-agungkan diri sendiri. Akibatnya, orang berdosa kehilangan diri sendiri dan mengalami kekosongan batin (inner emptiness). Sedangkan orang kudus sebagaimana digambarkan Gregorius, bersikap tenang, mampu menahan nafsu, mempunyai keseimbangan hidup, dan mengejawantahkan solidaritas caritatis, kekuatan kasih yang kokoh serta abadi yang merupakan ibu dari kebajikan (the mother of virtue).
KASIH KEPADA ALLAH DAN SESAMA
Belajar dari fenomena kejatuhan, akal budi dan tubuh dapat dikendalikan apabila manusia tunduk kepada Allah. Karena tindakan mengabaikan keadilan dan pemerintahan surgawi membuat manusia tidak bertumbuh serta berkembang. Oleh karena itu, mengejar otonomi pribadi dipandang sebagai tindakan egois.
Tatanan dan harmoni alam semesta tidak akan terejawantah apabila manusia memusatkan perhatian pada kepentingannya sendiri. Kepatuhan pada otoritas Allah memungkinkan manusia menempatkan diri pada tempat yang tepat dan mempunyai kerendahan hati. Terkait hal ini, keberagaman dimungkinkan apabila manusia saling berbagi kasih dan menjunjung tinggi kerukunan. Kasih kepada Allah dan sesama merupakan identitas umat Kristen.
Keegoisan masuk dalam kategori dosa. Oleh karena itu, manusia harus menghidupi kasih tanpa pamrih (caritas) dan belas kasih (compassio). Kasih merupakan akar (radix) dan ibu (mater) dari kebajikan. Belas kasih paling baik dipahami sebagai kasih dalam tindakan (love in action). Selain itu, kasih dapat digunakan sebagai fondasi moralitas dalam tatanan sosial dan politik yang ideal. Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Mat 7:12).
Gregorius menekankan pentingnya memberikan diri kepada orang lain sebagaimana dilakukan oleh Kristus. Belas kasih adalah pengorbanan jiwa dan pantang pada tubuh. Jika manusia mampu mengendalikan diri dan membagikan kasih kepada orang lain, maka ia dapat mengikuti Kristus dengan sungguh-sungguh. Gregorius meyakini bahwa kesempurnaan terletak pada ketidaksempurnaan (perfection actually lies in imperfection), di mana manusia terlibat di dunia, berupaya membebaskan diri dari dosa, dan dengan rendah hati mengakui dosanya.
Perubahan dari hidup kontemplatif menuju perpaduan antara hidup kontemplatif dan aktif dipandang Gregorius sebagai suatu kemajuan. Ketika manusia sekadar menghayati hidup kontemplatif, ia hanya mempedulikan kepentingannya sendiri dan tidak mau menanggung penderitaan orang lain. Karena secara paradoks jiwa menjadi tegak dengan membungkuk, diperluas dengan mendekati orang lain, dan diperkuat dengan belas kasih.
Kontemplasi mempunyai nilai dan makna apabila manusia mempunyai belas kasih aktif kepada orang lain. Penegasan Gregorius mengenai keterlibatan di dunia, pengakuan atas kelemahan manusiawi, dan penekanan pada belas kasih memungkinkan kelangsungan hidup Gereja. Gereja menjadi lebih inklusif, merangkul seluruh anggota yang mempunyai latar belakang sosial, ekonomi, politik, budaya, pendidikan, kebangsaan, dan bahasa yang beragam.
KRISTUS SEBAGAI PENEBUS DAN TANGGAPAN MANUSIA TERHADAP KASIH ALLAH
Merujuk pada fenomena kejatuhan manusia, tubuh mempunyai peran penting dalam keselamatan (salvation). Karena Adam menanggung kelemahan dari daging, manusia layak memperoleh belas kasih setelah berbuat dosa. Perlu diketahui bahwa belas kasih Allah bersifat adil, menebus dan membawa kembali manusia yang telah jatuh serta memulihkan daging yang berdosa. Jika manusia berbuat dosa melalui kesenangan daging, ia disucikan melalui penderitaan daging. Secara dialektis, manusia berdosa dibawa kembali ke dalam damai sejahtera Allah.
Gregorius menekankan penderitaan dan pengorbanan Kristus yang menebus dosa umat manusia. Kristus wafat untuk menebus pelanggaran umat manusia terhadap Allah. Penderitaan dan kematian Kristus yang tidak bersalah mendamaikan murka Allah (God’s wrath). Namun, Gregorius juga ingin menekankan tanggung jawab manusia (human responsibility), sehingga tindakan Kristus menjadi pelengkap (complementary). Perlu diketahui bahwa penderitaan manusia menggerakkan keilahian Kristus. Terkait hal ini, keilahian Kristus menjadikan umat manusia lebih mulia.
Kristus menawarkan kebenaran dan keilahian-Nya untuk menyembuhkan dosa manusia. Kristus adalah penebus sekaligus guru. Sengsara Kristus tidak hanya dimaksudkan untuk menebus dosa umat manusia, tetapi juga untuk mengajar melalui teladan yang ditunjukkan-Nya. Dengan demikian, keselamatan adalah usaha bersama, di mana manusia yang mempunyai kehendak bebas (free will) menanggapi kasih Allah.
Gregorius menjadikan Ekaristi sebagai sarana di mana manusia berjanji bahwa ia akan mengorbankan dirinya. Umat Kristen harus menjadi martir, bersedia menderita tanpa mengeluh dan senantiasa mengingat penderitaan Sang Penebus. Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang dalam penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat (Kol 1:24).
PENDERITAAN SEBAGAI SARANA PEMURNIAN DOSA
Kebanyakan orang menilai bahwa hidup merupakan perpaduan antara kebaikan dan kejahatan (good and evil). Ketika ditantang iblis, Allah membuat Ayub menderita sebagai ujian kesetiaan (loyalty test). Hal ini dilakukan Allah untuk membuktikan kebajikan Ayub. Realitas memperlihatkan bahwa Ayub menanggung penderitaan (patientia) dan senantiasa bersyukur kepada Allah. Ayub mengakui kekuasaan mutlak Allah dan memandang dirinya sekadar debu dan abu (dust and ashes).
Penderitaan dapat membersihkan dosa dan memulihkan kesehatan jiwa. Namun, penderitaan juga bisa menghancurkan jiwa dan membangkitkan kemarahan serta keputusasaan. Selain itu, penderitaan dapat digunakan untuk membuktikan keberanian jiwa (prove the soul’s mettle) dan mengungkap kebajikan yang tersembunyi (exposing virtues hidden). Bahkan penderitaan bisa menjadi kesempatan untuk meningkatkan kebaikan (increase merits).
Gregorius menerima penderitaan yang diperlukan untuk keselamatan. Penderitaan digunakan sebagai sarana pemurnian dosa, ujian untuk membuktikan kebajikan, kesempatan untuk meningkatkan kebaikan, pengorbanan dalam rangka meneladan Kristus, dan ambil bagian dalam penderitaan Kristus. Terkait hal ini, Gregorius memperkuat refleksi tradisi Kristiani yang memandang penderitaan (suffering) sebagai bagian dari hidup manusia.
DISCRETIO DAN PENGENDALIAN DIRI
Mengikuti tradisi kuno mengenai pelatihan spiritual terkait discretio yang dipraktikkan kaum Stoa, Gregorius menunjukkan metode dan strategi mengelola dosa (manage sin). Hal ini terkait dengan pemeriksaan hati nurani, memperkuat pengendalian diri, dan mengalahkan dosa. Perlu diketahui bahwa discretio merupakan kebajikan yang dapat dipertajam melalui kontemplasi.
Melalui kontemplasi akan kesempurnaan Allah (God’s perfection), discretio memungkinkan manusia mengambil jarak dari dirinya sendiri, membuat jiwa bangkit kembali (reuerberatio), dan mengakui kesalahan. Dengan kata lain, discretio adalah sarana yang dapat digunakan untuk pengendalian diri (self-control). Karena discretio dan akal budi pada dasarnya berfungsi untuk menjaga jiwa (guard the soul).
Ketika menggunakan discretio, manusia dimungkinkan membuat keputusan yang rasional untuk memerangi dosa (combat sins). Untuk menghindari godaan, kehidupan monastik adalah pilihan yang paling ideal. Namun, apabila seseorang harus hidup di dunia, discretio berguna ketika ia berada dalam ketegangan hidup.
Mengafirmasi godaan pada dasarnya membawa manusia menuju kesalahan. Discretio adalah kekuatan rasional (rational power) untuk mengatakan tidak (no) terhadap sensasi yang menyenangkan. Namun, penolakan rasional tersebut tidak selalu efektif. Karena iblis dapat menyelinap ke dalam jiwa tanpa diundang. Selain itu, iblis dapat menyergap dan menyerang jiwa secara paksa. Ketika iblis berhasil masuk, dosa melekat pada jiwa dan tidak mudah untuk menyingkirkannya.
Perlu diketahui bahwa air mata penyesalan menenggelamkan godaan (penitential tears drown temptation). Ketika berhadapan dengan godaan, menangis adalah sarana pengendalian diri. Pertama-tama manusia tidak diminta untuk menang dari godaan, tetapi ketekunan menghadapi godaan. Gregorius menekankan pentingnya menaklukkan diri sendiri dan menjadi tuan atas diri sendiri. Kemampuan untuk bertahan (the ability to endure) ketika berhadapan dengan godaan adalah suatu bentuk pengendalian diri.
PERTOBATAN SEBAGAI LANDASAN HIDUP UMAT KRISTEN
Manusia harus melakukan penyesalan dan pertobatan dari dosa (paenitentia). Pertobatan menjadi landasan hidup umat Kristen. Selain itu, pertobatan menjadi sarana yang memungkinkan manusia menjalin relasi dengan Allah setelah berbuat dosa. Pertobatan harus dilakukan secara terus-menerus dalam kerendahan hati.
Menurut Gregorius, pertobatan tidak dapat dipisahkan dari pemeriksaan diri yang ketat (the rigorous self-examination) melalui discretio. Perlu diketahui bahwa dosa adalah hutang (sin is a debt) dan pertobatan mengharuskan manusia menyelesaikan persoalan dengan Allah supaya mengalami keselamatan pada akhir zaman. Sampai pada akhirnya pertobatan diharapkan menghasilkan perdamaian dengan Allah (peace with God).
Pertobatan memiliki aura sakramental (sacramental aura). Oleh karena itu, pertobatan meminimalisir rasa bersalah, membersihkan hati nurani, dan mengantisipasi kemarahan Allah pada masa yang akan datang. Melalui pertobatan, orang yang mati dalam dosa mengalami kelahiran kembali dan kebangkitan (rebirth and resurrection).
Pertobatan memperlihatkan kemajuan spiritual (spiritual progress). Manusia yang melakukan pertobatan akan menangis, mengalami kerinduan akan Allah (longing for God), menjadi manusia baru (new man), dan merasakan persatuan kontemplatif dengan Allah (contemplative union with God). Perlu diketahui bahwa pertobatan dan kontemplasi berhubungan secara dialektis. Terkait hal ini, pertobatan mendahului kontemplasi. Karena persatuan dengan Allah tergantung pada pilihan manusia untuk tidak hidup dalam dosa.
Pencobaan (probatio) mengikuti dan mendahului pertobatan, terjadi secara berkelanjutan (certamen) serta berakhir pada saat kematian (death). Terkait hal ini, orang berdosa pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk membersihkan dosa (cleanse sin). Akhirnya, segala sesuatu yang ada di dalam dunia tunduk pada kemahakuasaan Allah. Padahal Engkau tahu, bahwa aku tidak bersalah, dan bahwa tiada seorang pun dapat memberi kelepasan dari tangan-Mu? (Ayb 10:7).
PENUTUP
Gregorius menegaskan supaya kita tidak takut menghadapi penderitaan. Selain itu, ia menekankan pola relasi harmonis antara yang duniawi dan yang spiritual. Karena Allah pada dasarnya menghendaki tatanan alam semesta yang harmonis. Hal ini juga nampak dalam karya pastoral Gregorius yang menjunjung tinggi semangat hidup aktif dan kontemplatif. Pada tataran tertentu Gregorius meyakini bahwa Allah ada di mana-mana. Sehingga segala sesuatu dipandang membawa pesan Allah.
Menurut Gregorius, tubuh dan jiwa dalam diri kita tidak bertentangan, saling melengkapi. Kesatuan harmonis tubuh dan jiwa akan menghasilkan kerendahan hati serta harapan. Gagasan tersebut akan terejawantah apabila kita mampu menempatkan diri dan tunduk pada pemerintahan surgawi. Jika kita termasuk pemimpin yang bijak, maka di mana pun dan kapan pun kita berada akan merasakan kehadiran hakim ilahi.
Seperti Agustinus, Gregorius juga meyakini tiga faktor yang menyebabkan kita berdosa, yaitu ketidaktahuan, kelemahan, dan niat yang disengaja. Supaya tidak jatuh ke dalam dosa, kita harus tunduk pada otoritas Allah dan tidak memuaskan egoisme pribadi. Selain itu, kita harus mengupayakan kebajikan, yaitu mengasihi Allah dan sesama.
Perlu diketahui bahwa Kristus menawarkan penebusan dosa dan kita diminta untuk menanggapi-Nya. Sebagaimana diungkapkan Gregorius, penderitaan diperlukan untuk keselamatan, pemurnian dosa. Discretio juga memungkinkan kita untuk memerangi dosa. Akhirnya, kita diundang untuk melakukan pertobatan seumur hidup.
SUMBER BACAAN
Evans, G. R. The thought of Gregory the Great. Cambridge: Cambridge University Press, 1986.
Moorhead, John. Gregory The Great. New York: Routledge, 2005.
Neil, Bronwen dan Matthew Dal Santo (Editor). A Companion to Gregory the Great. Leiden: Brill, 2013.
Nieuwenhove, Rik Van. An Introduction to Medieval Theology. Cambridge: Cambridge University Press, 2012.
Rush, Alfred C. “Spiritual Martyrdom in St. Gregory The Great.” Theological Studies (Desember 1962), hlm. 569-589.
