October 27, 2025

Relasi Sains dan Agama

Yohanes Wahyu Prasetyo

(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)

 

APA ITU SAINS?

Sains merupakan salah satu pendekatan atau metode yang digunakan untuk memahami realitas berdasarkan cara kerja ilmiah. Perlu diketahui bahwa sains merupakan penemuan yang relatif baru, dikembangkan pada abad XVI-XVII. Terkait hal ini, Francis Bacon (1561-1626) merupakan filsuf yang mempunyai perhatian besar terhadap sains.

Dalam sains, ilmuwan mengumpulkan data melalui observasi dan eksperimen. Hal ini dilakukan dalam rangka membuat rumusan hipotesis dan teori. Selanjutnya, teori yang sudah ditemukan diuji atau diperiksa melalui observasi. Pengujian teori yang bersifat sistematis dan ketat merupakan landasan metode ilmiah sains. Karena teori dan prediksi yang ditemukan harus jelas serta presisi. Dengan kata lain, dapat diukur secara matematis, objektif, dan tepat.

Karena ilmuwan adalah manusia, mereka rentan terhadap tekanan sosial, psikologis, dan finansial. Realitas tersebut seringkali berpengaruh ketika ilmuwan melakukan observasi dan merumuskan teori. Sehingga tidak mengherankan apabila teori yang dirumuskan terkadang bias. Namun, penerapan metode ilmiah yang ketat pada dasarnya mampu mengantisipasi terjadinya bias dalam sebuah teori.

KEKUATAN SAINS DAN AKAL BUDI

Teori-teori ilmiah diadopsi secara hati-hati. Metode ilmiah memungkinkan manusia menumbangkan berbagai macam mitos. Selain itu, metode ilmiah mempunyai jasa besar dalam memahami sifat alam semesta. Terkait hal ini, para humanis menghargai kemampuan sains dan akal budi. Keduanya mampu mengungkapkan dan mendekatkan manusia pada kebenaran. Sains dan akal budi memungkinkan manusia peka terhadap kebenaran serta keyakinan.

Perlu diketahui bahwa manusia mempunyai kapasitas menghasilkan sistem kepercayaan palsu, kaya, dan menggoda. Misalnya, hampir setiap budaya mengembangkan kepercayaan kepada makhluk gaib dan yang adikodrati. Kepercayaan kepada benda magis, kekuatan psikis, prekognisi, dan ramalan akhir zaman. Berhadapan dengan sistem kepercayaan tersebut, para humanis bersikap skeptis. Karena sistem kepercayaan yang diajukan sekadar merayu atau membujuk (woo). Namun, seringkali manusia terpesona dan meyakini sistem kepercayaan semacam itu. Padahal sistem kepercayaan tersebut telah dibantah, tidak kompatibel, dan eksklusif.

Menurut ilmuwan dan humanis seperti Carl Edward Sagan (1934-1996), klaim luar biasa menuntut bukti luar biasa (extraordinary claims require extraordinary evidence). Jika kita menghargai kebenaran, penting bagi kita untuk menerapkan sains dan akal budi sebagai filter. Karena alasan inilah para humanis bersikeras menundukkan klaim religius dan menjunjung tinggi cara kerja ilmiah.

SAINS MENJADI ANCAMAN BAGI AGAMA

Berdasarkan studi ilmiah, sejumlah klaim religius atau agama terbukti salah. Terkait hal ini, terdapat tiga contoh yang akan dikemukakan. Pertama, Young Earth Creationism (YEC) meyakini dan menegaskan bahwa alam semesta diciptakan Allah pada enam ribu tahun yang lalu. Keyakinan dan penegasan tersebut didasarkan pada sumber-sumber alkitabiah (biblical sources). Namun, keyakinan dan penegasan YEC dinilai tidak tepat. Pada abad tujuh belas, Uskup James Ussher (1581-1656) melakukan studi yang didasarkan pada Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Uskup James Ussher menyimpulkan bahwa penciptaan terjadi pada malam sebelum tanggal 23 Oktober 4004 SM. Selain itu, YEC dibantah secara empiris oleh ilmu kosmologi, geologi, dan arkeologi.

Kedua, an earth-centred universe. Kosmologi mendominasi alam pikiran awal abad XVII dan memperoleh dukungan dari Gereja Katolik. Terkait hal ini, kosmologi yang didukung Gereja Katolik meyakini bahwa bumi yang dikelilingi matahari merupakan pusat alam semesta. Pandangan tersebut didasarkan pada Kitab Suci, yaitu Mazmur 96:10 dan Yosua 10:12-13. Perlu diketahui bahwa Galileo Galilei (1564-1642) menolak dan menyatakan bahwa pandangan kosmologi dan Gereja Katolik salah. Karena bukan matahari yang mengelilingi bumi, melainkan bumi yang mengelilingi matahari.

Ketiga, the power of prayer. Banyak orang meyakini kekuatan doa. Misalnya, kekuatan doa mampu menyembuhkan seseorang ketika menderita sakit. Namun, studi ilmiah terkait doa menunjukkan bahwa keyakinan tersebut tidak tepat. Selain itu, doa tidak memberikan pengaruh apa pun bagi seseorang yang menderita sakit.

SAINS, AKAL BUDI, DAN AGAMA SEBAGAI POSISI IMAN

Sains dan akal budi merupakan cara kerja yang dapat diandalkan untuk sampai pada keyakinan atau kebenaran sejati (true belief). Selain itu, sains mempunyai rekam jejak yang bagus dalam mengungkap kebohongan (falsehoods) dan kebenaran (truth). Sains menempuhnya dengan menggunakan penalaran induktif. Namun, para humanis yang menyatakan bahwa sains dan akal budi dapat diandalkan untuk memperoleh keyakinan atau kebenaran sejati masih bisa diperdebatkan.

Orang-orang yang menjunjung tinggi agama dapat bertanya demikian kepada para penganut sains dan akal budi, bukankah sains dan akal budi merupakan posisi iman? Karena setiap aliran keyakinan yang dianut (sains, akal budi, dan agama) didasarkan pada iman, mengimaninya. Keyakinan agama tidak kurang masuk akal apabila dibandingkan dengan keyakinan sains dan akal budi. Pertanyaan tersebut dilontarkan dalam rangka membawa agama dan sains sampai pada tataran irasionalitas serta rasionalitas yang sama.

SAINS, AKAL BUDI, DAN AGAMA HARUS BERJALAN BERIRINGAN

Menurut David Hume (1711-1776), sains mengungkapkan pertanyaan persoalan yang terjadi adalah. Sedangkan moralitas mengungkapkan pertanyaan yang seharusnya terjadi adalah. Namun, kita tidak dapat membenarkan kesimpulan “yang seharusnya” (ought) dengan menarik fakta “adalah” (is). Terkait hal ini, sains tidak akan mampu menjawab semua pertanyaan.

Partikel subatom dan planet pada dasarnya tidak teramati. Tetapi karena teori tentang subatom dan planet memiliki konsekuensi empiris (dapat diamati), maka keduanya dapat dikonfirmasi atau pun disangkal. Hal ini juga berlaku bagi agama. Jika Allah menjawab doa manusia, maka jawaban tersebut dapat diperiksa atau dibuktikan. Para humanis mungkin tidak dapat menjawab semua pertanyaan besar tentang kehidupan. Oleh karena itu, para humanis tidak boleh mengesampingkan jawaban tertentu, termasuk agama. Dengan demikian, untuk mencapai kebenaran atau keyakinan sejati, agama, sains, dan akal budi harus berjalan beriringan.

FUNDAMENTALISME AGAMA DAN SAINS

Pertumbuhan dan perkembangan sains sering kali dipandang sebagai prestasi luar biasa (outstanding achievement). Karena sains mempunyai produksi, penjelasan, dan konsep yang memadai serta dapat diandalkan. Pada tataran tertentu sains dipandang sebagai simbol peradaban modern. Selain itu, dalam rangka menggambarkan dunia, sains menempuh cara ilmiah (scientific way).

Salah satu ciri gerakan fundamentalisme dalam tradisi Yudaisme, Kristen, dan Islam yaitu tindakan mengadaptasi sains serta teknologi modern. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk merebut kembali (reclaim) masyarakat yang telah dibentuk oleh alam pikiran modern dan sekuler. Perlu diketahui bahwa para fundamentalis menolak sistem budaya dalam alam pikiran modern yang meminggirkan yang sakral (the sacred) dan memungkinkan serta mendorong pluralisme.

Para fundamentalis mengadaptasi peradaban modern dengan cermat, membangun sintesis antara tradisi (tradition) dan modernitas (modernity). Terkait hal ini, para fundamentalis menolak mengistimewakan metode dan nilai modern, termasuk sains. Pada umumnya para fundamentalis tidak anti-ilmiah. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila para fundamentalis sering kali kagum ketika berhadapan dengan sains dan teknologi modern.

Para fundamentalis mempunyai keinginan bersaing dengan kelompok sekuler. Hal ini dilakukan dalam rangka menguasai sistem budaya dan otoritas negara. Selanjutnya, para fundamentalis membuat klaim kebenaran. Klaim kebenaran sebagaimana dikemukakan para fundamentalis memperoleh tantangan dari kelompok sekuler, terutama dari praktisi sains modern. Para cendekiawan fundamentalis menegaskan bahwa mereka tidak asing dengan sains. Menurut mereka, sains modern berakar pada periode keemasan peradaban agama. Sehingga mereka semakin yakin bahwa mereka bukan sekadar mengadaptasi sains dan teknologi modern.

Mereka meyakini bahwa sains dan teknologi modern bertumbuh serta berkembang dalam tradisi agama sebelum Pencerahan (Enlightment). Selain itu, mereka memandang tradisi Pencerahan membuat pemisahan tegas antara ilmu pengetahuan (scientia) dan agama wahyu (revealed religion). Menurut para fundamentalis, pemisahan (decoupling) tegas antara sains dan agama tidak tepat. Karena pada dasarnya sains dan agama dirancang Allah untuk menjalin relasi yang harmonis.

Realitas memperlihatkan bahwa pada periode modern awal dan Pencerahan, terjadi persaingan serta perselisihan antara sains dan agama. Terkait hal ini, para fundamentalis mengklaim diri sebagai pemulih relasi harmonis antara sains dan agama sebagaimana dikehendaki Allah. Para fundamentalis menyatakan diri sebagai pembela kebebasan manusia yang otentik (authentic human freedom). Kebebasan tersebut berakar pada kehendak yang ilahi (divine will). Menurut John Hugh Garvey, para fundamentalis mengabdikan diri pada cita-cita kebebasan (ideal of freedom).

Perlu diketahui bahwa kebebasan menjadi salah satu tanda relasi antara manusia dan Allah. Manusia dikatakan saleh apabila secara bebas atau tanpa paksaan menaati perintah Allah. Sebagaimana dikatakan John Calvin (1509-1564), kebebasan sejati merupakan ketundukan secara sukarela kepada kehendak Allah. Kebebasan merupakan tindakan penyerahan diri yang bersifat sukarela (voluntary). Sehingga melakukan kehendak Allah tidak bertentangan dengan kebebasan manusia. Menurut Jerry Falwell (1933-2007), kebebasan tidak merusak moral manusia.

Merujuk pada teori liberal, kebebasan memungkinkan manusia menentukan pilihan. Misalnya, memilih melakukan aborsi atau melahirkan. Namun, para fundamentalis meyakini dan mengajarkan bahwa kebebasan bersifat sepihak. Sebagaimana ditegaskan para fundamentalis, pemerintah harus membebaskan masyarakat untuk melakukan kehendak Allah. Para fundamentalis mempunyai cita-cita membuat manusia hidup sesuai kehendak Allah. Dalam perjalanan waktu, para fundamentalis radikal atau militan berhadapan dengan berbagai macam persoalan.

Persoalan tersebut mencakup kesehatan, pertumbuhan populasi, air yang cukup untuk digunakan, produksi pangan, industri modern, partisipasi dalam perdagangan internasional, mengamankan perbatasan, dan memelihara angkatan bersenjata modern. Berbagai macam persoalan tersebut hanya dapat ditangani secara efektif melalui sains dan teknologi.

Para cendekiawan Sunni kontemporer dipengaruhi oleh kritik fundamentalis Islam terhadap budaya modern. Menurut Bassam Tibi, para cendekiawan tersebut meyakini bahwa sains modern berasal dari periode awal Islam dan merupakan ekspresi peradaban Islam. Hal ini juga ditegaskan Sayyid Qutb (1906-1966), sains dan teknologi modern berasal dari ajaran Al-Qur’an. Sedangkan menurut Rifa’a Rafi al-Tahtawi (1801-1873), tindakan mengadaptasi sejumlah sumber dari Eropa merupakan tindakan kepemilikan kembali (an act repossession).

Semua ilmu pengetahuan yang benar berasal dari Allah dan terungkap dalam Al-Qur’an serta hadis Nabi. Oleh karena itu, penelitian ilmiah harus dilakukan berdasarkan pedoman sebagaimana ditetapkan dalam ajaran agama. Klaim sains diikuti sejauh tidak bertentangan dengan kebenaran dan otoritas agama. Islam harus memastikan bahwa sains dan teknologi yang diadaptasi dari Barat dipisahkan dari sistem nilai budaya Barat yang korup serta sekuler. Herbert Marcuse (1898-1979) menolak gagasan mengenai netralitas sains (neutrality of science). Selain itu, teknologi pada dasarnya merupakan sarana kontrol dan dominasi sosial serta tidak memerdekakan kehidupan manusia. Dengan kata lain, sains dan teknologi mempunyai nilai (values) serta kepentingan (interests) tertentu.

Menurut Bassam Tibi, terkait proses pembangunan ekonomi di Timur Tengah, kalangan tradisionalis Islam bersedia menyesuaikan diri dengan wacana para fundamentalis dalam upaya membangun relasi antara Islam dan sains. Hal ini terlihat ketika para fundamentalis militan menggunakan teknologi dan senjata modern. Terutama para fundamentalis membutuhkan teknologi Barat yang maju untuk melakukan perang dengan Irak (1980-1988). Sehingga tidak mengherankan apabila pemimpin fundamentalis mengambil langkah pragmatis dengan menangguhkan perintah-perintah Islam demi kelangsungan hidup Republik Islam.

Perlu diketahui bahwa Ayatollah Khomeini (1902-1989) menanggapi ulama tradisioal yang keberatan dengan keputusan pemimpin fundamentalis tersebut. Menurut Ayatollah Khomeini, cara menafsirkan tradisi sebagaimana dilakukan ulama tradisional harus dihentikan, supaya masyarakat tidak hidup di dalam belenggu (shackles) dan padang gurun (desert). Menurut Farhang Rajaee, para pemimpin Syiah harus memanfaatkan cara duniwai (worldly means). Hal ini memperlihatkan kebutuhan mengadaptasi sains dan teknologi berdasarkan prinsip kemanfaatan. Misalnya, menyetujui dan mendistribusikan sarana KB serta IUD dalam rangka menangani persoalan pertumbuhan populasi.

Fundamentalisme Kristen di Amerika Utara muncul dalam konteks di mana sains modern sepenuhnya mapan. Misalnya, pengobatan modern dipraktekkan secara luas dan teknologi modern tersebar di mana-mana. Sains dan teknologi telah diadaptasi dan dipraktekkan sepenuhnya. Pada area sensitif di mana doktrin agama dan teori ilmiah berbenturan, para fundamentalis Kristen menegaskan keunggulan klaim agama.

Narasi penciptaan dikedepankan sebagai alternatif teori evolusi biologis. Berbagai upaya dilakukan untuk melarang mengajarkan teori evolusi biologis di sekolah-sekolah. Setelah Perang Dunia II, gagasan mengenai narasi penciptaan diajarkan di sekolah-sekolah dan memperoleh waktu yang sama (equal time) dengan mata pelajaran lainnya. Hal ini memperlihatkan bahwa ajaran Kitab Suci mengenai penciptaan harus didahulukan daripada teori ilmiah.

Para fundamentalis Kristen mengadaptasi struktur penjelasan dan praktek ilmiah. Selain itu, para fundamentalis Kristen menantang teori evolusi biologis berbasis probabilitas yang tidak ilmiah (unscientific). Menurut Sir Karl Raymund Popper (1902-1994), ketika mengadaptasi sains modern sebagai milik dan menggunakannya untuk melawan teori evolusi biologis, tindakan tersebut merupakan bentuk baru kritik para fundamentalis terhadap modernitas.

MENGUATNYA FUNDAMENTALISME AGAMA DAN SAINS

Berdasarkan pengamatan Aviezer Ravitzky terhadap gerakan Lubavitch Hasidic Yahudi, setiap kali ditemukan kontradiksi antara makna literal Kitab Suci dan konsep ilmiah, Kitab Suci harus dibaca serta ditafsirkan secara literal. Hal ini menentukan sejauh mana sains dan teknologi dalam bentuk serta manifestasinya yang terpisah dan spesifik digunakan, diterima, dan ditoleransi. Sebagian besar fundamentalis menyetujui dinamika hidup di dalam dunia yang terinformasi secara signifikan dan dipengaruhi oleh sains serta teknologi modern. Bahkan Abdul-Latif Arabiyat (pemimpin politik Persaudaraan Muslim dan ketua Parlemen Yordania) menggunakan metodologi ilmiah (scientific methodology) ketika menangani berbagai macam persoalan sosial.

Gagasan mengenai penciptaan sebagaimana ditumbuhkan dan dikembangkan di Amerika Serikat dimaksudkan untuk memberikan penjelasan terkait asal-usul manusia. Selain itu, membangun gerakan untuk menentang penggunaan janin sebagai sarana eksperimen medis. Perlu diketahui bahwa upaya menyesuaikan gagasan mengenai penciptaan dalam konteks Yudaisme di Israel pada akhir 1980 gagal. Menurut para praktisi fundamentalisme agama Yahudi, sains pada dasarnya tidak ada gunanya dan tidak penting.

Kelompok fundamentalis tidak tertarik berkarier pada bidang ilmu-ilmu teoretis (theoretical sciences). Hal ini nampak ketika sekolah-sekolah yang didirikan umat beragama tidak mengajarkan sains. Memperhatikan yang sakral (the sacred), bukan yang sekuler (the secular). Mengutamakan ajaran dan amalan agama, bukan hal-hal ilmiah serta material. Bahkan mereka memandang para cendekiawan sebagai korban ilusi (victim of illusion). Menurut Michael Rosenak (1932-2013), fundamentalisme Yahudi merupakan budaya tandingan (counterculture) yang berlawanan dengan metode ilmiah.

Terjadi diferensiasi gender yang kuat di antara para fundamentalis Yahudi. Perempuan tidak masuk dalam sistem pendidikan formal Ortodoks yang mempelajari Taurat. Karena perempuan dianggap kurang berbakat secara spiritual. Terkait hal ini, perempuan mendapat tugas menjaga rumah, menjalankan usaha pertokoan, dll. Perempuan menempuh pendidikan sekuler dan melaksanakan pekerjaan yang bersifat duniawi. Sedangkan laki-laki mempunyai tugas utama mempelajari Taurat. Akibatnya, upaya ilmiah dalam bentuk apa pun sangat berkurang. Bahkan apabila terdapat perempuan yang mempunyai minat pada sains, keluarga dan masyarakat sekitar tidak memberikan dukungan.

Menurut Mohammad Abdus Salam (1926-1996), di negara-negara Islam pertumbuhan dan perkembangan sains sangat lemah. Sains akan bertumbuh dan berkembang apabila sejumlah praktisi membentuk komunitas untuk bekerja serta memperoleh dukungan dalam bentuk sarana eksperimental dan perpustakaan. Selain itu, harus menumbuhkan dan mengembangkan budaya kritik atas suatu karya. Namun, harapan tersebut tidak teraktualisasi dalam budaya Islam kontemporer. Menurut Pervez Hoodbhoy, gerakan modernis Islam dibanjiri gerakan modernis fundamentalis yang mendominasi wacana intelektual di dunia Islam. Hal ini mempengaruhi rendahnya ketertarikan dan berbagai macam kegiatan ilmiah di negara-negara Islam.

Pada 1970, terutama di Amerika Utara dan Eropa Barat, sains dalam kaitannya dengan militer serta industri dipandang sebagai penindas (oppressive). Objektivitas ilmiah (scientific objectivity) sebagai pedoman tindakan manusia ditolak dan cara ilmiah (scientific way) untuk mengetahui sesuatu dinilai tidak memadai. Hal ini juga dikemukakan Herbert Marcuse dan murid-muridnya yang mengritik dominasi sains terhadap alam serta manusia. Penolakan terhadap sains tersebut hanya dilakukan oleh para fundamentalis militan. Sedangkan yang lain berupaya mengadaptasi sains dan menghindari area-area khusus sains di mana ajaran agama harus diejawantahkan. Terutama terkait tubuh, kehidupan, dan reproduksi manusia.

Sains sebagai pengetahuan instrumental dibimbing oleh sumber-sumber lain yang lebih berwibawa untuk pencapaian tujuan keagamaan. Hal ini memungkinkan proses mengadaptasi teknologi. Perlu diketahui bahwa khotbah Ayatollah Khomeini dalam rupa rekaman kaset yang disebarluaskan di Iran menghubungkan Islam militan dengan teknologi modern. Bahkan pemerintah Islam Iran menggunakan teknologi terbaru untuk melanjutkan pertempuran melawan Irak.

Sebagaimana ditunjukkan Aviezer Ravitzky, pemimpin Yudaisme Hasid mengutuk penggunaan radio sebagai sarana menyiarkan ajaran agama. Karena radio merupakan sarana komunikasi yang digunakan para bidah. Namun, ada yang menilai radio sebagai sarana luar biasa yang diberikan Sang Pencipta (Creator), sehingga suara pembicara dapat didengar di seluruh dunia. Pada tataran tertentu radio memantulkan materi spiritual yang luhur. Seorang fundamentalis Mesir seperti Imaduddin Khalil menegaskan bahwa sains merupakan instrumen netral dan tidak menyesatkan.

Menurut Imaduddin Khalil, sains modern bukan hanya pencapaian peradaban Barat. Peradaban Islam pada dasarnya mempunyai kontribusi membangun fondasi sains. Deskripsi mengenai Islam hanya sebagai situs inkubasi (incubation) ilmu pengetahuan Yunani telah dilengkapi secara signifikan dengan catatan mengenai kontribusi penting Islam bagi sains. Sehingga pembenaran kaum fundamentalis ketika mengadaptasi sains dan teknologi didasarkan pada landasan sejarah yang kuat.

Sebagaimana ditegaskan Abdulkarim Soroush, sains harus dipertahankan. Oleh karena itu, negara tidak boleh menjadi penghalang bertumbuh dan berkembangnya sains. Karena negara dan sains pada dasarnya mempunyai kaitan erat. Dengan kata lain, negara Islam harus menemukan cara untuk memenuhi tuntutan ganda, yaitu komitmen religius dan kehidupan dalam sistem dunia modern. Misalnya, menyetujui partisipasi perempuan di dalam acara yang diselenggarakan radio dan televisi. Memperkenalkan metode pengendalian kelahiran dan keluarga berencana. Mengizinkan penggunaan mayat dalam rangka pelatihan medis.

RELASI AGAMA DAN SAINS

Sains harus dilihat secara eksplisit sebagai pengetahuan instrumental yang tidak mempunyai makna religius atau metafisik. Keyakinan tersebut berguna bagi sains, agama, dan otoritas negara. Pada abad XVII, sains menjadi sistem penjelas yang signifikan dan dapat dipegang serta dipertahankan oleh otoritas tradisional, yaitu kelompok agama dan kelompok sekuler. Sains mengajarkan bahwa bukan melalui wahyu (revelation) kebenaran diketahui, melainkan melalui pengalaman (experience) dan akal budi (reason). Meskipun sains memperlihatkan bahwa dirinya menjunjung tinggi netralitas (neutrality), pada dasarnya sains menjadi pendukung utama sekularisme di dalam tatanan sosial.

Pemisahan tegas antara sains dan agama dapat dilacak pada abad XIX. Terkait hal ini, meningkatnya popularitas filsafat materialis (ilmiah dan politik) dan kemajuan sains menciptakan jurang pemisah antara yang profan (the profane) serta yang sakral (the sacred). Mengemukanya teori evolusi Charles Darwin (1809-1882) menjadi simbol pertempuran (battle) antara sains dan agama. Perlu diketaui bahwa sains terkait dengan modernisasi. Dengan kata lain, sains merupakan pengetahuan ilmiah yang berperan meningkatkan domain penjelas dan epistemologi melalui tatanan tindakan, ekonomi, politik, dan sosial.

Menurut Francis Bacon, Allah menulis dua buku, yaitu Firman (Word) atau Kitab Suci (Bible) dan Kitab Alam (Book of Nature). Kitab Alam merupakan karya Allah yang ditampilkan di bumi. Oleh karena itu, kehendak Allah dapat diketahui melalui studi mengenai Firman dan memeriksa struktur produksi duniawi yang dihasilkan-Nya. Sedangkan menurut John Ray (1627-1705), Allah merupakan pencipta hukum alam. Sehingga alam dipandang sebagai hasil dari rancangan Allah.

Sebagaimana ditegaskan Robert King Merton (1910-2003), terjadi tumpang tindih di dalam struktur nilai keagamaan Puritan dan praktek ilmiah. Hal ini sejalan dengan gagasan Maximilian Weber (1864-1920) mengenai relasi antara Protestan dan munculnya kapitalisme. Menurut para fundamentalis, komitmen beragama menjadi penghalang untuk terlibat di dalam dinamika sains. Perlu diketahui bahwa pada abad XIX sejumlah cendekiawan berhasil menunjukkan relasi antara agama dan sains. Namun, pada abad XX, jarang ditemukan cendekiawan yang mengintegrasikan antara kehidupan profesional dan tindakan keagamaan.

SUMBER BACAAN

Law, Stephen. “Science, Reason, and Scepticism.” Dalam Andrew Capson dan A. C. Grayling (Editor). The Wiley Blackwell Handbook of Humanism. Chichester: John Wiley & Sons, 2015, hlm. 55-71.

Mendelsohn, Everett. “Religious Fundamentalism and the Sciences.” Dalam Martin E. Marty dan R. Scott Appleby (Editor). Fundamentalism and Society: Reclaiming the Sciences, the Family, and Education. Chicago: The University of Chicago Press, 1993, hlm. 23-41.

CATATAN

Tulisan ini pernah dipublikasikan dengan keterangan sebagai berikut:

Prasetyo, Yohanes Wahyu. “Relasi Sains dan Agama”. Gita Sang Surya. Vol. 17, No. 6 (November-Desember 2022), hlm. 80-87. ISSN 1978-3868

Format PDF dari tulisan ini dapat diakses melalui http://repo.driyarkara.ac.id/2029/

Diskursus Filsafat