Yohanes Wahyu Prasetyo
(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)
Nouvelle théologie berhasil mengarahkan perkembangan teologi di dalam Gereja Katolik. Para teolog nouvelle seperti Marie-Dominique Chenu (1895-1990) dan Yves Congar (1904-1995) sering kali dinilai progresif. Sedangkan Henri de Lubac (1896-1991), Jean-Guenolé-Marie Daniélou (1905-1974), dan Hans Urs von Balthasar (1905-1988) dinilai konservatif. Hal ini terjadi karena mereka mempunyai pendekatan yang berbeda dalam gerakan nouvelle théologie. Namun demikian, nouvelle théologie paling tepat ditafsirkan sebagai upaya memulihkan misteri Allah melalui ontologi sakramental. Oleh karena itu, para teolog nouvelle mempunyai tanggung jawab mengeksplorasi secara dinamis realitas misteri Allah.
PERNYATAAN DANIÉLOU MENGENAI PENTINGNYA KEMBALI KE SUMBER
Menurut Daniélou, para teolog Prancis menumbuhkan dan mengembangkan refleksi teologis dengan metode kembali ke sumber (return to the sources). Terkait hal ini, modernisme melatarbelakangi pergolakan di dalam tubuh Gereja Katolik selama empat puluh tahun. Meskipun modernisme sudah ditolak, berbagai macam persoalan teologis masih melanda Gereja Katolik. Misalnya, gagasan teologis dan realitas kehidupan dipisahkan secara tegas. Pemisahan tersebut diperkuat dominasi alam pikiran neo-Thomisme sejak akhir abad XIX. Selain itu, alam pikiran kontemporer tidak puas dengan dualisme yang mengedepankan spekulasi teoretis.
Daniélou meyakini bahwa teologi kontemporer mempunyai kapasitas menyelesaikan persoalan terkait pemisahan tegas antara teologi dan dunia kehidupan. Sebagaimana ditegaskan Daniélou, terdapat tiga syarat yang harus ditempuh untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Pertama, memperlakukan Allah sebagai subjek par excellence. Hal ini ditempuh dengan cara kembali ke sumber, yaitu Kitab Suci, ajaran Bapa Gereja, dan liturgi.
Mengembalikan fungsi utama Kitab Suci dan melakukan apropriasi teologis. Perlu diketahui bahwa karya-karya Bapa Gereja merupakan suatu komentar atas Kitab Suci. Selain itu, peranan Bapa Gereja bukan sekadar saksi historis masa lampau. Tetapi mereka juga membantu memberikan pemahaman teologis mengenai dimensi keselamatan. Sedangkan kembali ke sumber liturgi memungkinkan terjadinya kontemplasi ketika berhadapan dengan realitas. Terutama realitas yang tersembunyi di balik tanda-tanda sakramental. Oleh karena itu, liturgi menjadi salah satu sarana yang memungkinkan manusia berjumpa dengan misteri Allah.
Kedua, teologi harus berdialog dengan filsafat kontemporer. Menanggapi semangat modern (l’âme moderne) dan memperhitungkan dimensi baru (new dimensions) ilmu pengetahuan serta sejarah. Kembali ke sumber teologi dimaksudkan untuk menyelesaikan persoalan neo-Skolastik, di mana teologi dan dunia kehidupan dipisahkan secara tegas. Misalnya, membangun dialog dengan gagasan eksistensialisme Søren Aabye Kierkegaard (1813-1855) mengenai misteri Allah yang bersifat pribadi. Gagasan ekistensialisme Kierkegaard tersebut dapat digunakan untuk mengantisipasi teologi yang memperlakukan Allah sebagai objek.
Ketiga, gagasan teologis harus bersifat konkret. Oleh karena itu, teologi dan spiritualitas serta teologi konstruktif dan moral harus diintegrasikan. Karena teologi pada dasarnya membutuhkan cara pandang yang universal. Selain itu, teologi harus mampu berdialog dengan budaya. Meskipun Wahyu sudah terpenuhi dalam karya penebusan Yesus Kristus, iman Kristen hendaknya tetap mewarnai budaya. Hanya dengan demikian, kemajuan dogma (a progress of dogma) dimungkinkan.
SENSIBILITAS NOUVELLE THÉOLOGIE
Sejak alam pikiran Thomisme dibangkitkan oleh Leo XIII (1810-1903) pada akhir abad XIX, gagasan Skolastisisme mendominasi tatanan teologi. Pada periode ini, karya-karya para teolog Skolastik mengikuti cara pandang teologi Thomas Aquinas (1224/5-1274). Mereka mengupayakan pemisahan tegas antara yang kodrati dan yang adikodrati. Terkait yang kodrati, praeambula fidei menunjukkan gagasan mengenai eksistensi Allah, keandalan Wahyu Ilahi, mukjizat, dan pemenuhan janji Allah. Sedangkan pada yang adikodrati, ajaran Gereja diimani sebagai Wahyu Ilahi.
Pemisahan tegas antara teologi dan dunia kehidupan terjadi karena ciri ekstrinsik yang adikodrati ditonjolkan. Terkait hal ini, teologi mempunyai tugas dan tanggung jawab menjalin relasi serta tidak memisahkan diri dari dunia kehidupan. Jika teologi ingin memaksimalkan perannya dalam realitas dunia kehidupan, maka yang kodrati dan yang adikodrati harus diintegrasikan. Ide dasar tersebut sejatinya terungkap dalam ontologi sakramental nouvelle théologie, yaitu menyatukan yang kodrati dengan yang adikodrati. Para teolog nouvelle juga meyakini bahwa Allah menciptakan manusia dengan tujuan adikodrati.
Pemisahan tegas antara yang kodrati dan yang adikodrati membuat dunia kehidupan menjadi otonom serta sekuler. Selain itu, teologi dan iman diprivatisasi serta terputus dari kehidupan yang kodrati. Nouvelle théologie mempunyai tujuan mengintegrasikan yang kodrati dengan yang adikodrati. Usaha tersebut dilakukan dalam rangka mengatasi persoalan mengenai pemisahan antara teologi dan dunia kehidupan.
Harapannya iman dan teologi bernilai serta bermakna bagi masyarakat kontemporer. Karena neo-Thomisme dan gagasan teologis yang ditawarkan terasa kering serta hambar. Oleh karena itu, liturgi harus diyakini sebagai salah satu sarana yang memungkinkan manusia berjumpa dengan misteri Allah (mystery of God). Selain itu, teologi harus mampu membawa manusia sampai pada tataran kontemplasi, membaca tanda sakramental di tengah realitas dunia kehidupan.
Menurut para teolog nouvelle, misteri (mysteries) tidak hanya merujuk pada kebenaran Ilahi. Karena kebenaran Ilahi pada hakikatnya tidak jelas dan sulit untuk diketahui serta dipahami. Perlu diketahui bahwa pendekatan teologis yang bersifat intelektual menekankan pentingnya memahami dan melampaui misteri. Sedangkan nouvelle théologie menegaskan bahwa tujuan teologi yaitu menyelami misteri yang tersembunyi. Sebagaimana dikatakan Balthasar, hanya sesuatu yang dirahmati dengan misteri layak untuk dikasihi. Terkait hal ini, kebenaran mengharuskan adanya dua aspek sekaligus, yaitu penyingkapan (unveiling) dan penyembunyian (veiling).
Epistemologi yang memusatkan perhatian pada misteri, membutuhkan alam pikiran Patristik dan Abad Pertengahan yang bersifat sakramental. Terkait hal ini, Nouvelle théologie mengkategorikan misteri (mystery) sebagai ontologi sakramental. Menurut Bapa Gereja dan teolog Abad Pertengahan, misteri menunjukkan suatu dinamika dan perpaduan antara tanda yang tampak serta tanda yang bersembunyi. Dalam bahasa Latin, sebagaimana dikatakan de Lubac, misteri berfungsi sebagai sacramentum.
Ontologi sakramental nouvelle théologie memperlihatkan dimensi relasional antara tanda sakramental (signum) dan realitas (res) dari sebuah misteri. Keduanya berfungsi untuk menjelaskan relasi antara yang kodrati dan yang adikodrati, makna historis dan spiritual Kitab Suci, dan sejarah yang bersifat sekuler dan sakral. Dengan demikian, kebenaran teologis dimaksudkan untuk memasuki realitas sakramental suatu misteri. Sedangkan realitas historis dari tatanan ciptaan merupakan sarana yang menuntun manusia sampai pada misteri Ilahi.
Dalam signum dan res terkandung realitas spiritual serta kekal atau abadi. Oleh karena itu, tanda dan realitas melukiskan relasi antara yang kodrati serta yang adikodrati. Menurut teolog nouvelle, yang kodrati berorientasi pada yang adikodrati. Karena Allah menciptakan dunia sedemikian rupa, di mana tatanan ciptaan secara sakramental merepresentasikan realitas yang adikodrati dari misteri Allah.
Conggar menegaskan bahwa syarat utama supaya reformasi berhasil yaitu dengan mewujudnyatakan pastoral Gereja, bukan sekadar memajukan sistem intelektual. Menurut Conggar, jika para pewarta mendasarkan diri pada sistem pemikiran intelektual, maka mereka akan memutlakkan suatu teori. Selain itu, mereka akan mengabaikan prinsip bahwa reformasi harus terjadi dari dalam Gereja.
ONTOLOGI SAKRAMENTAL DALAM NOUVELLE THÉOLOGIE
Daniélou menegaskan bahwa modernisme mengemukakan sejumlah gagasan yang harus ditanggapi. Dalam rangka menanggapi gagasan modernisme, para teolog menerapkan metode yang beragam. Terkait hal ini, gerakan ressourcement bukan sekadar membahas sensibilitas sakramental. Tetapi juga membicarakan berbagai macam persoalan seperti ketegangan teologis, sudut pandang yang kontradiktif, dan perselisihan antarpribadi.
Para teolog Paris menyoroti perlunya kembali ke sumber-sumber kuno dan menanggapi tuntutan zaman melalui pendekatan inkarnasional (incarnational). Menurut Daniélou, penting untuk memperhatikan sejarah masa lampau dan konteks kehidupan serta alam pikiran kontemporer. Karena keduanya dapat digunakan untuk mengantisipasi gagasan Skolastik, sehingga integrasi antara teologi dan dunia kehidupan dimungkinkan. Hal ini mengandaikan adanya keselarasan antara kembali ke sumber dan enkulturasi (enculturation) budaya. Harapannya ketegangan antara Kitab Suci dan budaya modern teratasi.
Teologi dalam kurun waktu yang cukup lama kehilangan identitas sebagai ratu sains (queen of the sciences). Oleh karena itu, jika periode pra-Konsili Vatikan II ditafsirkan menggunakan kaca mata politik dan sosiologis, maka nouvelle théologie terlihat mendedikasikan diri serta menjunjung tinggi keragaman teologis, kebebasan berekspresi di dalam Gereja, dan pentingnya mengakomodasi budaya modern serta sains. Selain itu, nouvelle théologie akan dianggap sebagai gerakan yang ingin memperoleh tempat istimewa di dalam Gereja Katolik.
Ressourcement muncul sebagai pembaru di tengah modernisme, di mana pengalaman batin dilihat sebagai sumber normatif teologi. Nouvelle théologie sebagai sayap progresif Gereja berhasil mengamankan warisannya melalui Konsili Vatikan II (1962-1965). Terkait hal ini, para teolog nouvelle kecewa dan cemas ketika berhadapan dengan alam pikiran pra-Konsili yang konservatif.
Kebijakan Roma yang keras terhadap sejumlah teolog dari Louvain, Fourviére, dan Le Saulchoir menimbulkan berbagai macam kerinduan di antara para cendekiawan ressourcement. Mereka ingin mengungkapkan pemikirannya secara bebas. Selain itu, mereka ingin menyelaraskan (adapt) eksistensi Gereja dan gagasan teologi dengan segala sesuatu yang dibutuhkan masyarakat kontemporer.
Chenu dan Congar menegaskan bahwa Gereja harus membaca tanda-tanda zaman (signs of the times) dan menyesuaikan diri (adapt) dengan perkembangan filosofis serta budaya kontemporer. Chenu terlibat aktif dalam gerakan imam-imam pekerja pasca-perang. Menurut Chenu dan Congar, Gereja harus memperhatikan persoalan mengenai keadilan sosial dan ekonomi. Kedua teolog Dominikan tersebut menganggap bahwa perubahan yang terjadi di dalam Gereja Katolik pasca-Konsili merupakan sesuatu yang positif.
Jika keinginan mengadaptasi atau mengakomodasi budaya dan alam pikiran kontemporer dilihat sebagai kekuatan yang mendorong nouvelle théologie, maka anggapan tersebut sejatinya tidak tepat. Hal ini sekurang-kurangnya didasarkan pada tiga alasan. Pertama, keinginan mengadaptasi atau mengakomodasi budaya pada dasarnya tidak bersifat universal. Para Yesuit dari Fourviére (de Lubac, Daniélou, dan Balthasar) jauh lebih skeptis daripada para Dominikan dari Le Saulchoir (Chenu dan Congar) ketika harus menyesuaikan diri dengan budaya modern dan agenda ressourcement.
Para teolog nouvelle yang kecewa dengan hasil awal Konsili Vatikan II tidak secara serentak menjadi konservatif. Meskipun para teolog seperti de Lubac, Daniélou, Henri Bouillard (1908-1981), Balthasar, dan Joseph Alois Ratzinger (1927-2022) prihatin dengan munculnya gagasan horizontalizing dan immanentizing di dalam Gereja Katolik serta pertumbuhan dan perkembangan budaya (pertengahan 1960).
Kedua, adaptasi dan akomodasi terhadap budaya dilakukan nouvelle théologie apabila motivasi yang mendasarinya bersifat teologis. Daniélou menggunkan istilah inkarnasi (incarnation) untuk kepentingan enkulturasi (enculturation). Dalam rangka mengadaptasi dan mengakomodasi budaya, teolog Yesuit dan Dominikan mempunyai kecondongan pada alam pikiran tertentu. Para Yesuit Fourviére dipengaruhi gagasan para Bapa Yunani (Greek Fathers). Sedangkan para Dominikan dari Le Saulchoir dipengaruhi cara pandang Aristoteles (384-322 SM).
Menurut de Lubac, hasrat alami (desiderium natural) menuju yang adikodrati (ke atas) dalam kaitannya dengan realitas sakramental (res) merupakan suatu fokus atau tujuan. Sedangkan menurut Chenu, hukum inkarnasi (ke bawah) dalam kaitannya dengan realitas sejarah dunia (sacramentum) menempati posisi sentral. Perbedaan cara pandang kedua teolog tersebut bersifat teologis. Oleh karena itu, tidak tepat apabila menggolongkan mereka ke dalam dua kelompok, yaitu konservatif (Fourviére) dan progresif (Le Saulchoir).
Ketiga, jika secara berlebihan mengatakan mengenai pentingnya mengadaptasi dan mengakomodasi budaya bagi nouvelle théologie, maka motivasi teologis yang paling signifikan dilupakan, yaitu beralih menuju misteri melalui ontologi sakramental. Nouvelle théologie adalah gerakan yang terkait dengan ressourcement. Marcellino D’Ambrosio mengakui bahwa istilah seperti inkarnasi, kehadiran, keterlibatan, dan adaptasi merupakan kata kunci pastoral di antara para teolog nouvelle.
Tujuan nouvelle théologie yaitu membongkar mentalitas benteng (fortress mentality) dan memaksa teologi Katolik terlibat dalam dialog kritis dengan para pemikir abad XX. Dialog tersebut mengharuskan para teolog kembali ke sumber dengan sejumlah pertanyaan baru. Selain itu, para teolog harus berusaha menemukan dimensi yang terlupakan dan diabaikan dari Tradisi. Dengan demikian, menjadi semakin jelas bahwa tujuan ressourcement yaitu merevitalisasi ontologi sakramental yang telah dikaburkan oleh gagasan neo-Skolastik, di mana yang kodrati dan yang adikodrati dipisahkan secara tegas.
NOUVELLE THÉOLOGIE DAN DIALOG KATOLIK-PROTESTAN
Protestan perlu belajar dari tradisi Katolik, meskipun keduanya mempunyai tugas teologis yang sama. Terkait hal ini, jika nouvelle théologie dilihat sekadar sensibilitas sakramental pra-modern, maka motivasi ekumenis tidak muncul. Karena sensibilitas sakramental merupakan karakteristik pembeda antara alam pikiran Katolik dan Protestan. Perlu diketahui bahwa para teolog dan seniman Katolik memberi tekanan pada eksistensi Allah di dunia. Sedangkan para teolog Protestan memberi tekanan pada ketiadaan Allah di dunia.
Para penulis Katolik menunjukkan bahwa Allah dekat dengan ciptaan-Nya. Sedangkan para penulis Protestan melihat adanya jarak antara Allah dan ciptaan-Nya. Penganut Protestan memperlihatkan dampak negatif penyembahan berhala dan takhayul. Sedangkan penganut Katolik memperingatkan gagasan yang tidak tepat di mana Allah dinilai tidak sepenuhnya hadir di dunia.
Umat Katolik memberi perhatian pada imanensi Allah (immanence of God). Sedangkan umat Protestan memberi perhatian pada transendensi Allah (transcendence of God). Kedua gagasan tersebut memberikan petunjuk bahwa imajinasi sakramental berbeda dengan cara berpikir rasional. Perbedaan terlihat ketika menilai dan memaknai narasi, simbol, dan praktik beragama. Misalnya, Protestan memusatkan diri pada Sabda daripada sakramen.
Nouvelle théologie memiliki dan memberikan sejumlah harapan ekumenis. Pertama, nouvelle théologie mempunyai kontribusi signifikan terkait kemauan Katolik mengusahakan dialog ekumenis. Terkait hal ini, Congar mengabdikan diri dalam rangka memperjuangkan persatuan umat Kristen. Selain itu, para cendekiawan yang meyakini semangat ressourcement tertarik terhadap pemikiran Protestan. Misalnya, Balthasar dan Bouillard menulis buku mengenai pemikiran Karl Barth (1886-1968). Selain itu, Daniélou dipengaruh oleh pemikiran Oscar Cullmann (1902-1999), seorang teolog Lutheran.
Nouvelle théologie dan reformasi mempunyai kepentingan yang sama. Keduanya memberi tekanan pada panggilan awam, kembali ke Kitab Suci, menolak pemisahan antara Kitab Suci dan tradisi, dan mempersoalkan gagasan neo-Skolastik yang memisahkan yang kodrati dari yang adikodrati. Terkait hal ini, nouvelle théologie dan reformasi merupakan gerakan ressourcement.
Kedua, para teolog Protestan (kaum evangelis) membangun dialog dengan teologi Katolik dan memperkuat tradisi agung (great tradition) Timur serta Barat sebagaimana terkandung dalam Kredo dan teologi Bapa Gereja. Di Amerika Utara, dialog yang dipelopori oleh Richard John Neuhaus (1936-2009) dan Charles Calcon memberi peluang bagi umat Katolik serta evangelis terlibat dalam diskusi dan kerja sama teologis.
Kerja sama tersebut dibangun dalam kaitannya dengan penafsiran Kitab Suci. Kepekaan Protestan terhadap otoritas tradisi adalah bukti bahwa agenda ressourcement bergema melintasi batas-batas gerejawi. Bahkan sejumlah orang Kristen evangelis memulai upaya eksplisit dengan mengambil isyarat dari gerakan nouvelle théologie.
Ketiga, pemulihan ontologi sakramental terjadi di Gereja Protestan dan Katolik. Perlu diketahui bahwa sejarah intelektual menyebabkan perpecahan. Orang Protestan dicirikan pola pikir rasional. Sedangkan gagasan para teolog ressourcement menekankan ontologi sakramental. Ketika mereka kembali ke sumber teologi Patristik dan Abad Pertengahan, pendekatan teologis yang berkembang di kemudian hari memperoleh evaluasi negatif.
Objek kritik para teolog nouvelle adalah teologi yang bersumber pada pemikiran Thomisme kontemporer. Para teolog nouvelle sepakat bahwa persoalan sudah ada sejak kebangkitan neo-Thomisme pada abad XIX. Hal ini dapat dilihat dalam catatan historis de Lubac dan Congar. Menurut penilaian para cendekiawan, Protestan dan Katolik pada abad XVI mewarisi konsekuensi problematis dari penolakan terhadap misteri.
De Lubac yakin bahwa pemisahan tegas antara yang kodrati dan yang adikodrati sebagaimana dilakukan neo-Skolastik mengakar pada abad XVI dan XVII. Selain itu, terjadi reaksi berlebihan dari pihak Katolik terhadap Agustinianisme radikal, yaitu Michael Baius (1513-1589) dan para reformis Protestan. De Lubac juga mempertanyakan peningkatan perasaan yang mendalam pada kehadiran nyata dan legitimasi sakramen yang mengorbankan realitas spiritual. Hal ini ditelusurinya dengan kembali ke dalam kontroversi Berengarian abad XII yang membicarakan sifat kehadiran Yesus Kristus dalam Ekaristi.
Kesatuan sakramental antara Ekaristi dan Gereja sebagai Tubuh Kristus hancur pada saat reformasi. Oleh karena itu, hilangnya ontologi sakramental mempengaruhi perdebatan pada periode reformasi. De Lubac yakin bahwa peristiwa tersebut terkait dengan pendekatan rasional yang mendominasi teologi.
Menurut Congar, hilangnya ontologi sakramental terjadi pada Abad Pertengahan. Selanjutnya, Congar berulangkali menunjuk reformasi Gregorian abad XI. Karena dia yakin bahwa penurunan peran awam di dalam Gereja Katolik dapat dilacak pada upaya Gregorius VII (1020-1085) ketika menetapkan supremasi kepausan atas negara. Akibatnya, otoritas dipandang tidak mempunyai keterkaitan dengan kehidupan sakramental Gereja.
Menurut Congar, desakralisasi pada periode Abad Pertengahan memiliki sejumlah konsekuensi. Otoritas gerejawai yang diadili dapat melawan otoritas Kitab Suci. Konflik antara Gereja dan Kitab Suci menjadi nyata pada abad XII dan XIII. Oleh karena itu, kemunduran ontologi sakramental mempengaruhi umat Katolik dan Protestan.
Kembalinya nouvelle théologie ke dalam gagasan mengenai misteri menghadirkan tantangan bagi pemikiran Protestan. Secara khusus Protestan harus meninggalkan ontologi sakramental. Selain itu, Protestan harus melakukan evaluasi terkait fragmentasi nominalis dalam tatanan ciptaan. Misalnya, objek yang rasional dipisahkan dari objek yang transenden. Sejalan dengan ontologi partisipatif, diyakini bahwa rupa atau gambar menandakan dan menghadirkan misteri.
Muncul ketakutan apabila harus kembali ke sensibilitas Platonis. Namun, ketakutan tersebut sejatinya tidak beralasan. Karena benda-benda ciptaan justru memperoleh nilai dan makna dalam partisipasi sakramental. Sebagaimana dikatakan Balthasar, supaya signifikan, segala sesuatu yang diekspresikan dalam gambar tidak boleh identik dengan gambar itu sendiri. Supaya gambar atau penampilan mendapat nilai dan makna dari sumber yang transenden.
Nouvelle théologie merupakan tantangan bagi teologi Katolik. Terkait hal ini, agenda ressourcement bukan sekadar protes terhadap intelektualisme neo-Thomisme. Perlu diketahui bahwa tujuan dari protes tersebut adalah untuk mengembalikan mystery of being. Namun, interpretasi Konsili Vatikan II tentang kebebasan teologis dan aggiornamento mengabaikan agenda ressourcement.
Konsili Vatikan II membuka diri untuk berdialog dengan pemikiran Protestan. Tetapi hal ini tidak dilakukan ketika harus merangkul modernitas sekuler. Sedangkan nouvelle théologie tertarik mengintegrasikan yang kodrati dan yang adikodrati melalui ontologi sakramental. Periode pasca-Konsili hanya dapat menerima dialog ekumenis apabila Katolik dan Protestan bersedia menerima tantangan untuk kembali ke dalam gagasan mengenai misteri sebagaimana tersirat dalam agenda ressourcement.
KONTROVERSI DALAM NOUVELLE THÉOLOGIE
Alam Pikiran Non-Sakramental Modernisme
Para teolog nouvelle menaruh perhatian pada ontologi sakramental dan menolak teologi modern. Harus disadari bahwa modernisme menimbulkan kekhawatiran di dalam Gereja Katolik. Dalam modernisme, eksegesis historis kritis dan alam pikiran neo-Kantian memberikan tekanan pada pengalaman subjektif daripada kebenaran proporsional. Hal ini menunjukkan bahwa Gereja Katolik mengalami serangan yang sangat serius. Namun, modernisme berhenti secara tiba-tiba.
Pada Juli 1907, Pius X (1835-1914) mengeluarkan dekrit Lamentabili sane exitu yang mengutuk 65 proposisi modernisme. Dua bulan kemudian Paus mengeluarkan ensiklik Pascendi dominici gregis. Dalam ensiklik tersebut, Paus mengutuk dan menyatakan bahwa agnostisisme, immanentisme, dan relativisme pada dasarnya sesat. Selanjutnya, pada 1910 Paus meminta semua klerus mengucapkan sumpah kesetiaan. Sumpah tersebut disebut sebagai sumpah anti-Modernisme (anti-Modernist oath).
Gagasan teolog modernisme seperti Alfred Firmin Loisy (1857-1940) dan George Tyrrell (1861-1909) memperlihatkan agenda modernisme yang secara fundamental berbeda dengan agenda nouvelle théologie. Modernisme Loisy didasarkan pada pemisahan antara sejarah dan teologi. Terkait hal ini, Loisy mengakui bahwa dirinya sekadar melakukan penelitian sejarah. Namun, Loisy tidak mau mengakui implikasi doktrinal yang signifikan dari penafsiran dan penelitian sejarah yang dilakukannya.
Sedangkan Tyrrell mengidentifikasi Wahyu dengan pengalaman daripada dengan kebenaran proporsional. Menurut Tyrrell, Wahyu dan pengalaman tidak menggantungkan diri pada kebenaran teoretis. Selain itu, Wahyu dan pengalaman pada hakikatnya melampaui konsep teologis. Penganut neo-Thomisme takut apabila Tyrrell jatuh ke dalam agnostisisme.
Kontroversi Mengenai Sifat Teologi (1937-1942)
Nouvelle théologie sering kali dikaitkan dengan pusat studi Le Saulchoir dan Fourviére. Chenu kembali ke Le Saulchoir setelah menyelesaikan studi doktor di Angelicum Roma pada 1920. Ketika menulis disertasi, Chenu dibimbing oleh Réginald Marie Garrigou-Lagrange (1877-1964). Selanjutnya, pada 1932 Chenu diangkat sebagai Regent of Studies, mengikuti jejak Ambroise Gardeil (1859-1931).
Perlu diketahui bahwa teologi sebagaimana ditumbuhkan dan dikembangkan Gardeil mempersiapkan jalan bagi nouvelle théologie. Gardeil menekankan relasi antara iman (faith) dan kehidupan aktual (actual lives). Karena iman bukan sekadar ketaatan buta (blind obedience) terhadap otoritas Gereja. Hal ini memperlihatkan bahwa Gardeil membangun jembatan antara wahyu (revelation) dan subjek beriman (believing subject).
Menurut Chenu, sistem teologis (theological systems) merupakan ekspresi dari spiritualitas. Spiritualitas tersebut telah menemukan instrumen rasional dan mempunyai kesesuaian dengan pengalaman religius. Gagasan Chenu mengenai teologi yang mempunyai kaitan dengan pengalaman (experience) menimbulkan kekhawatiran di Roma. Karena Chenu dinilai menumbuhkan dan mengembangkan relativisme teologis (theological relativism).
Pada 1931, Congar bergabung dengan Chenu di Le Saulchoir. Chenu, Congar, dan Henri-Marie Féret (1904-1992) memulai program pembaruan yang dimaksudkan untuk kesejahteraan Gereja (Church’s well-being). Secara pribadi Congar terganggu dengan ketidakpedulian Prancis terhadap Gereja dan iman Kristen. Selain itu, sebagaimana dikatakan Congar, terjadi pemisahan tegas antara iman (faith) dan kehidupan (life), teologi (theology) dan kehidupan (life).
Congar dan Daniélou melihat realitas di mana Gereja masuk ke dalam ranah privat. Tindakan tersebut justru memungkinkan terjadinya sekularisasi di tengah masyarakat. Terkait hal ini, Congar berupaya memperlihatkan relasi antara eklesiologi dengan kebutuhan aktual masyarakat.
Pada 1937, cendekiawan Fransiskan bernama Jean-François Bonnefoy (1887-1958) menulis esai mengenai teologi Thomas Aquinas yang bertentangan dengan pendekatan neo-Thomis. Selanjutnya Louis Charlier (1898-1981) menulis sebuah buku yang menolak pandangan konseptualis teologi neo-Skolastik. Menurut Charlier, kebenaran ilahi (divine truth) dapat diakses melalui konsep-konsep manusia. Selain itu, iman dapat tumbuh melalui pengembangan doktrin.
Marie-Rosaire Gagnebet (1904-1983), seorang Dominikan dari Angelicum Roma, memberikan tanggapan keras terhadap gagasan Charlier dan Bonnefoy. Terkait hal ini, Congar bersimpati kepada Charlier dan kritis terhadap Bonnefoy. Karena Bonnefoy dinilai Congar tidak mengakui karakter rasional teologi (rational character of theology). Ketidaksepakatan terhadap gagasan Charlier juga ditunjukkan oleh Henri-Dominique Simonin (1900-1974).
Charles Boyer (1884-1980) menentang Draguet, Charlier, Bonnefoy, dan Congar yang mengembangkan teologi berbasis pengalaman. Pada Februari 1942 karya-karya Charlier dan Chenu dimasukkan Index Librorum Prohibitorum. Selanjutnya pada Juli 1942, Chenu, Charlier, dan Draguet dilarang mengajar.
Menurut Pietro Parente (1891-1986), profesor Universitas Lateran Roma, Chenu dan Charlier menggantikan pengalaman religius dengan argumentasi rasional. Selain itu, mereka menciptakan ruang pertumbuhan wahyu ilahi (divine revelation) melalui pengembangan doktrin Kristen. Sehingga Roma mencurigai teolog nouvelle dari Le Saulchoir dan Louvain kembali ke modernisme (modernism).
Kontroversi Mengenai Ressourcement (1944-1950)
De Lubac tidak setuju dengan gagasan teologi neo-Skolastik yang membuat pemisahan tegas antara yang kodrati dan yang adikodrati. Karena yang kodrati dan yang adikodrati bukan dua tatanan ciptaan yang pararel. Selain itu, yang kodrati dan yang adikodrati berjalan berdampingan. Pandangan de Lubac tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa Allah telah menciptakan yang kodrati sedemikian rupa supaya dapat menuju yang adikodrati.
Penganut neo-Thomisme menilai bahwa gagasan de Lubac mengabaikan rahmat Ilahi yang mempunyai peranan penting. Karena apabila manusia mempunyai hasrat alami (desiderium naturale) untuk sampai pada yang adikodrati, maka proses penyelamatan tampaknya tidak berasal dari Allah.
Sedangkan Bouillard menekankan peran manusia dalam pertobatan. Terkait gagasan Bouillard tersebut, neo-Thomisme mempertanyakan peran Allah. Akibatnya, rahmat adikodrati yang diberikan Allah dipertaruhkan. Hal ini terjadi karena Bouillard merelatifkan teologi Thomas dan klaim kebenaran manusia secara umum.
Perdebatan Fourviére mencapai klimaks pada 1950 ketika Pius XII (1876-1958) mengeluarkan ensiklik Humani generis. Ensiklik tersebut menolak pandangan bahwa the mysteries of faith are never expressed by truly adequate concepts but only by approximate and ever changeable notions, in which the truth is to some extent expressed. Selain itu, ensiklik Humani generis memberikan tanggapan terhadap ressourcement interpretasi Patristik. Memberikan peringatan terhadap penafsiran baru yang mempunyai karakteristik simbolis dan spiritual.
Bahkan dalam ensiklik tersebut Paus menegaskan, others destroy the gratuity of the supernatural order, since God, they say, cannot create intellectual beings without ordering and calling them to the beatific vision. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ketika Pius XII mengeluarkan ensiklik Humani generis, gerakan ressourcement mengalami kemunduran yang serius.
Kontroversi Imam-Imam Pekerja (1943-1954)
Gerakan imam-imam pekerja (worker-priests) merupakan tanggapan pasca-perang dari para klerus dan teolog terhadap sekularisasi yang berkembang di Prancis. Perlu diketahui bahwa para imam masuk ke dalam pabrik dan bekerja di sana. Keterlibatan bekerja, mereka nilai dan maknai sebagai bagian dari misi serta kerasulan. Chenu merupakan pendukung gerakan imam-imam pekerja. Gagasan Chenu mengenai hukum inkarnasi (law of the Incarnation) berbicara tentang keterlibatan (engagement) Gereja dan para imam dalam kehidupan aktual masyarakat. Oleh karena itu, Chenu mendukung Marxisme dan teologi pembebasan.
Pada 1954, umat Katolik di Prancis dan Roma mencurigai gerakan imam-imam pekerja. Umat Katolik khawatir apabila para imam meninggalkan panggilan dan tanggung jawab yang mereka emban sebagai pastor paroki. Selain itu, mereka takut apabila Gereja berpindah ke dunia (sosialis). Berangkat dari kekhawatiran umat Katolik dan atas arahan pimpinan Gereja Katolik Roma, para uskup Prancis meminta para imam meninggalkan pabrik tempat mereka bekerja.
SENSIBILITAS SAKRAMENTAL DALAM NOUVELLE THÉOLOGIE
Nouvelle théologie memiliki konteks yang lebih luas daripada teologi abad XIX dan awal abad XX. Alam pikiran yang sangat berpengaruh pada abad XIX adalah neo-Thomisme yang kemudian dilawan oleh para teolog nouvelle. Para teolog nouvelle meyakini bahwa mata iman (eyes of faith) diperlukan untuk memperoleh pemahaman yang tepat. Para pelopor nouvelle théologie menegaskan bahwa yang adikodrati menyelimuti tatanan ciptaan.
Ontologi sakramental nouvelle théologie pada hakikatnya merupakan upaya memulihkan relasi antara yang kodrati dengan yang adikodrati. Untuk mengembalikan dimensi misteri, de Lubac dan Bouillard menggunakan tradisi pemikiran neo-Platonis. Keduanya menekankan pendekatan ke atas (upward), dari yang kodrati menuju yang adikodrati. Sedangkan Balthasar dan Chenu memberi tekanan pada pendekatan ke bawah (downward). Hal ini menunjukkan bahwa Balthasar dan Chenu melihat adanya aspek kebaikan dalam tatanan ciptaan.
Dalam ressourcement, metode penafsiran periode pra-modern tergantung pada pemahaman sakramental mengenai Kitab Suci. De Lubac dan Daniélou meyakini bahwa peristiwa sejarah keselamatan sebagaimana dilukiskan dalam Kitab Suci mengandung makna spiritual serta mendalam. Sebagaimana yang kodrati dan yang adikodrati bukan dua tatanan yang terpisah, penafsiran yang bersifat spiritual bukan sekadar tambahan yang tidak mempunyai kaitan dengan makna teks yang sudah mapan secara historis. Sebagaimana dikatakan de Lubac, dalam eksegesis alegoris (allegorical exegesis), penafsiran harus bergerak melampaui sejarah. Sedangkan Daniélou memberi tekanan pada perkembangan historis dari eksegesis tipologis (typological exegesis).
Para teolog nouvelle memperkenalkan sejarah sebagai kategori yang membawa signifikasi teologis. Menurut Daniélou, Wahyu dan kekristenan, sejarah sekuler dan sakral, dan kota duniawi serta surgawi mengandung karakter sakramental. Oleh karena itu, Wahyu, sejarah yang sakral, dan kota surgawi dilihat sebagai tujuan akhir atau realitas sakramental.
Eklesiologi merupakan fokus pemikiran de Lubac dan Congar. Keduanya mengembangkan eklesiologi yang bersifat sakramental. De Lubac menekankan relasi timbal balik antara Ekaristi dan Gereja. Ekaristi memungkinkan adanya Gereja, demikian pula sebaliknya. Selanjutnya, de Lubac menegaskan bahwa Gereja merupakan sakramen kehadiran Yesus Kristus. Karena Yesus Kristus diyakini hadir secara sakramental di dunia melalui Gereja.
Sedangkan Congar membedakan antara Gereja sebagai lembaga dan Gereja sebagai persekutuan. Conggar melihat struktur Gereja sebagai sakramen (sacramentum), sarana mengejawantahkan kehidupan sebagai realitas (res) Gereja. Dalam perjalanan waktu, de Lubac dan Congar mengembangkan penekanan eklesiologi yang berbeda. Namun, pada dasarnya keduanya berjasa memulihkan pandangan sakramental Gereja. Mereka bukan sekadar menunjukkan bagaimana sakramen dikelola dengan tepat (sacramentum). Tetapi juga berusaha menunjukkan misteri dalam sebuah realitas (res) yang mencakup Yesus Kristus dan Gereja.
PEMULIHAN GAGASAN MENGENAI ONTOLOGI SAKRAMENTAL
Perbandingan gagasan teologi antara para teolog ressourcement dan dokumen Konsili Vatikan II mengungkapkan konvergensi terutama terkait aggiornamento, pemahaman wahyu ilahi dan teologi, relasi antara Kitab Suci dan tradisi, interpretasi Kitab Suci, dan Gereja. Hal ini memperlihatkan bahwa nouvelle théologie berhasil mengarahkan perkembangan teologi Gereja Katolik. Dalam arti tertentu, nouvelle théologie memiliki pengaruh yang langgeng pada teologi Katolik.
Chenu dan Congar dikenal sebagai teolog progresif (progressive). Sedangkan de Lubac, Daniélou, dan Balthasar dikenal sebagai teolog konservatif (conservative). Pengelompokan tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa mereka mempunyai pendekatan yang berbeda dalam gerakan nouvelle théologie. Perbedaan pendekatan para teolog nouvelle harus dilihat dalam kaitannya dengan pengaruh nouvelle théologie terhadap alam pikiran teologi Katolik setelah Konsili Vatikan II.
Para teolog nouvelle mempunyai kepekaan dan memusatkan perhatian pada ontologi sakramental (sacramental ontology). Oleh karena itu, realitas historis dari tatanan ciptaan dipandang sebagai sarana sakramental yang mampu menuntun pada misteri ilahi yang kekal (eternal divine mysteries). Menurut para teolog nouvelle, tanda (signum) dan realitas (res) mengandung dimensi spiritual serta kekal. Terkait hal ini, nouvelle théologie memperoleh tugas mengeksplorasi realitas misteri ilahi (divine mystery) yang ditempuh dengan kembali ke dalam misteri (mystery).
Keyakinan bahwa nouvelle théologie mendukung ontologi sakramental dibangun atas dasar studi dari Pierre Rousselot (1878-1915), de Lubac, Balthasar, dan Congar. Namun, nouvelle théologie kurang menggali ontologi sakramental yang merupakan salah satu kunci dari gerakan ressourcement. Ketika membicarakan nouvelle théologie, harus dibangun kepekaan bersama mengenai ontologi sakramental yang berfungsi menguraikan pentingnya kembali ke dalam misteri.
Krisis modernisme ditandai dengan bertumbuh dan berkembangnya penafsiran historis kritis serta penekanan pada pengalaman subjektif manusia. Hal ini mengakibatkan pergolakan di dalam Gereja Katolik pada awal abad XX. Kecaman yang disampaikan terhadap modernisme memastikan bahwa para teolog nouvelle tidak kembali ke dalam historisme (historicism) dan subjektivisme (subjectivism). Berhadapan dengan gerakan modernisme yang dicirikan historisme dan subjektivisme, nouvelle théologie dipandang sebagai gerakan teologis yang tidak takut menentang alam pikiran yang mendominasi.
Para teolog nouvelle tidak takut berbicara dan mengeluarkan biaya dalam jumlah besar. Lawan para teolog nouvelle yaitu intelektualisme neo-Thomisme. Terkait hal ini, ensiklik Aeterni Patris yang dikeluarkan Leo XIII (1810-1903) pada 1879 sangat membantu para teolog nouvelle. Pendirian neo-Thomisme mengalami kekalahan pada Konsili Vatikan II. Karena keyakinan neo-Thomisme pada kemampuan nalar diskursif untuk mengakses dan memiliki kebenaran teologis tidak mendukung pluralisme teologis yang menjadi ciri alam pikiran teologi setelah Konsili Vatikan II.
Nouvelle théologie ditandai dengan gerakan ressourcement. Menurut para cendekiawan ressourcement, para Bapa Gereja bukan sekadar memberikan bukti sejarah yang mendukung doktrin resmi Gereja. Para Bapa Gereja merupakan teolog yang menekankan pendekatan sakramental ketika berhadapan dengan realitas. Selain itu, para Bapa Gereja dalam arti tertentu menjadi rekan dialog para cendekiawan ressourcement. Oleh karena itu, gerakan kembali ke Kitab Suci dan tradisi merupakan ciri nouvelle théologie yang membedakannya dari modernisme serta neo-Thomisme.
Penafsiran spiritual terhadap Kitab Suci merupakan aspek terpenting yang dipelajari para cendekiawan ressourcement seperti de Lubac dan Daniélou dari para Bapa Gereja. Peralihan dari penafsiran patristik menuju penafsiran alegori, tropologi, dan anagogi merupakan upaya untuk masuk ke dalam misteri teks yang memiliki muatan sakramental. Terkait hal ini, nouvelle théologie menekankan pentingnya kembali ke sumber Kitab Suci. Selain itu, alam pikiran sakramental para cendekiawan ressourcement mempengaruhi cara membaca dan menafsirkan Kitab Suci. Cara membaca dan menafsirkan tersebut dikenal sebagai hermeneutika sakramental (sacramental hermeneutic), memperhatikan aspek historis dan spiritual Kitab Suci.
Para teolog nouvelle prihatin ketika berhadapan dengan ketidakpedulian terhadap Gereja dan iman Kristen di Prancis menjelang Perang Dunia II. Terkait hal ini, de Lubac, Daniélou, dan Balthasar mencurigai pertumbuhan serta perkembangan sekularisme dan modernisme. Teolog Fourviére seperti Maurice Blondel (1861-1949) mengintegrasikan antara yang kodrati dan yang adikodrati. Tindakan tersebut bertentangan dengan gagasan neo-Thomisme dan dunia akademis sekuler yang menolak relasi antara iman (faith) serta sejarah (history).
Para Dominikan dari Le Saulchoir mengkhawatirkan bertumbuh dan berkembangnya sekularisme militan (militant secularism). Sebagaimana dikatakan Congar, terjadi pemisahan tegas antara iman (faith) dan kehidupan (life). Oleh karena itu, harus ada upaya yang bersifat eklesiologis dan ekumenis untuk melawan sekularisme yang bertumbuh serta berkembang di Prancis. Secara keseluruhan, tepat apabila dikatakan bahwa nouvelle théologie merupakan upaya memulihkan ontologi sakramental. Akibatnya para teolog nouvelle harus berhadapan dengan alam pikiran neo-Thomisme dan sekularisme modern.
IMPLIKASI EKUMENIS NOUVELLE THÉOLOGIE
Menurut Congar, gagasan sebagaimana terungkap dalam teologi ekumenis (ecumenical theology) merupakan tanggung jawab yang sulit diejawantahkan. Ketika terbuka terhadap alam pikiran Ortodoks dan Protestan, Conggar ditentang Gereja Katolik. Conggar meyakini bahwa terdapat banyak hal yang dapat dipelajari dari Ortodoks dan Protestan. Namun, Conggar merasa terbebaskan ketika gagasan mengenai dialog ekumenis memperoleh tempat khusus dalam Konsili Vatikan II.
Penolakan neo-Thomisme kembali ke gagasan mengenai misteri menunjukkan pentingnya dilakukan penilaian ulang secara kritis terhadap perkembangan teologi Gereja Katolik sejak Abad Pertengahan. Merujuk pada gagasan dasar nouvelle théologie, desakramentalisasi di dalam kehidupan masyarakat disebabkan oleh sejumlah faktor. Pertama, yuridisasi otoritas gerejawi melalui reformasi Gregorian abad XI. Kedua, meningkatnya pertentangan antara Kitab Suci dan Gereja sebagai otoritas berbeda pada 1100-1300. Ketiga, hilangnya kesatuan sakramental antara Ekaristi dan tubuh gerejawi Kristus melalui kontroversi Berengarian abad XII.
Keempat, otonomi yang tumbuh di antara ordo pengemis (mendicant orders) abad XIII. Kelima, pemisahan antara yang kodrati dan yang adikodrati abad XVI-XVII sebagai reaksi terhadap Baianisme (Baianism) dan Protestan. Keenam, ontologi sakramental nouvelle théologie keberatan ketika berhadapan dengan alam pikiran yang mendominasi Gereja Katolik. Perlu diketahui bahwa kemunduran ontologi sakramental terjadi jauh sebelum periode reformasi. Perpecahan pada periode reformasi terjadi karena perkembangan teologi selama berabad-abad.
Kemunduran ontologi sakramental lebih berpengaruh pada Protestan daripada Katolik. Terkait hal ini, upaya ekumenis dalam bentuk apa pun mengharuskan Protestan menyesuaikan diri dengan esensi ontologi sakramental yang menjadi ciri tradisi agung (great tradition). Hal ini mengandaikan adanya tindakan kembali ke dalam hermeneutika sakramental (sacramental hermeneutic) atau interpretasi spiritual (spiritual interpretation).
De Lubac dan Congar menekankan eklesiologi persekutuan (communion ecclesiology) ketika berhadapan dengan ajaran neo-Skolastik yang mengajarkan kehadiran nyata (real presence) dalam Ekaristi. Sebagaimana diyakini de Lubac dan Congar, tujuan sakramental kesatuan Gereja sebagai realitas (res) terungkap dalam perayaan Ekaristi. Terkait hal ini, Protestan kontemporer mengabaikan dasar sakramental (sacramentum) kesatuan Gereja. Karena mereka memusatkan perhatian pada anggapan bahwa Ekaristi merupakan perjamuan persekutuan (fellowship meal).
Berdasarkan perspektif eklesiologi persekutuan, neo-Thomisme dan Protestan evangelis membuat pemisahan tegas antara sakramen dan realitas sakramental. Neo-Thomisme memusatkan perhatian pada sakramen, sedangkan Protestan evangelis memusatkan perhatian pada realitas sakramental. Oleh karena itu, penafsiran spiritual, gerakan kembali ke Kitab Suci dan tradisi, dan gagasan mengenai eklesiologi persekutuan merupakan sarana yang memadai untuk memajukan persekutuan Gereja. Dengan demikian, ontologi sakramental menjadi jalan untuk kembali ke dalam misteri (mystery).
PENUTUP
Modernisme mengedepankan penafsiran historis kritis sebagaimana dilakukan Loisy. Selain itu, modernisme menjunjung tinggi pengalaman subjektif manusia sebagaimana dilakukan Tyrrell. Perlu diketahui bahwa modernisme menimbulkan pergolakan besar di dalam Gereja Katolik pada abad XX. Terkait hal ini, nouvelle théologie tampil sebagai gerakan teologi yang tidak takut menentang alam pikiran yang dominan. Ketika berhadapan dengan alam pikiran yang dominan, nouvelle théologie menumbuhkan dan mengembangkan gerakan ressourcement, yaitu kembali ke sumber. Sumber sebagaimana dimaksudkan nouvelle théologie adalah Kitab Suci, ajaran Bapa Gereja, dan liturgi. Dengan demikian, tidak mengherankan apabila nouvelle théologie mampu mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan teologi di dalam Gereja Katolik.
SUMBER BACAAN
Boersma, Hans. Nouvelle Théologie and Sacramental Ontology: A Return to Mystery. Oxford: Oxford University Press, 2009.
D’Ambrosio, Marcellino. “Ressourcement Theology, Aggiornamento, and the Hermeneutics of Tradition.” Communio. Vol. 18 (1991).
Flynn, Gabriel dan Paul D. Murray (Editor). Ressourcement A Movement for Renewal in Twentieth-Century Catholic Theology. Oxford: Oxford University Press, 2012.
Grumett, David. “Nouvelle Théologie”. Dalam Ian A. McFarland dkk (Editor). The Cambridge Dictionary of Christian Theology. Cambridge: Cambridge University Press, 2011, hlm. 348-349.
Pius XII. Humani Generis. http://www.vatican.va/content/pius-xii/en/encyclicals/documents/hf_p-xii_enc_12081950_humani-generis.html. Diakses pada 27 September 2020 pukul 21.30 WIB.
