November 1, 2025

Teologi Trinitas Setelah Reformasi Protestan

Yohanes Wahyu Prasetyo

(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)

 

Titik awal pembahasan pada bagian ini adalah Reformasi abad XVI, secara khusus insiden dalam kehidupan Martin Luther (1483-1546) yang menunjukkan kesadarannya akan historisitas istilah-istilah teologi trinitarian. Meskipun narasi serupa juga dapat ditemukan dalam relasi Yohanes Calvin (1509-1564) dengan Michael Servetus (1511-1553), di sini Luther digunakan untuk mendeteksi awal semantik historis dalam Reformasi. Mengantisipasi kemungkinan baru untuk menghubungkan Tritunggal dengan sejarahnya.

Menjelang akhir hayatnya antara 1542 dan 1545, Luther mengadakan empat perdebatan tentang topik yang tidak biasa baginya. Trinitas, sebuah doktrin yang menurut sang Pembaru (the Reformer) tidak pernah terlibat dalam konflik dengan Roma. Perdebatan pada 1543 mencatat bagaimana Luther mengkonseptualisasikan Trinitas sedemikian rupa untuk membuka atas dasar sejarah keragaman istilah yang tersedia untuk merujuk pada Trinitas. Konteks historis memberikan bukti perbedaan yang muncul dalam bagaimana Allah Trinitas Kristen akan ditafsirkan. Luther mengartikulasikan fleksibilitas tentang istilah trinitarian teknis yang tepat (precise technical trinitarian term). Homoousios tidak dapat dianggap sebagai penjamin transhistoris (the transhistorical guarantor) pada tataran linguistik tentang relasi intratrinitarian. Sebaliknya, istilah tersebut digunakan secara memadai hanya apabila dipahami untuk menyampaikan kesetaraan subjek Bapa dan Putra yang dirujuknya. Bagi Luther, res memiliki prioritas di atas verbum.

Catatan perdebatan tersebut menggambarkan bagaimana Luther menempatkan artikulasi teologis dalam teori filosofis yang lebih luas tentang bahasa, yaitu makna (meaning) dan rujukan (referent). Keistimewaan res melampaui verbum mewakili teori Luther tentang bahasa, secara khusus eksplisit dalam teori semantiknya. Makna suatu istilah ditentukan oleh keterkaitannya dengan istilah lain, makna tersebut membuat istilah kapasitas (capacity) untuk merujuk pada subjek yang dialami, dipahami, dan diketahui. Kontekstualisasi teologis dari relasi bahasa-subjek (language-subject) menjadi perhatian khusus Luther dalam relasinya dengan Trinitas. Tantangan utama yang dihadirkan oleh istilah-istilah trinitarian adalah rujukannya dalam kekekalan (eternity). Istilah-istilah Trinitas seperti homoousios bagi Luther adalah “gagap” (stammering) dan “ocehan” (babbling). Istilah-istilah tersebut merujuk pada subjek dalam kekekalan, tetapi tidak dapat menyampaikan makna apa pun di luar tekad yang paling minimal (beyond the most minimal determination).

Semantik kekekalan dan kesetaraan diperkenalkan sebagai makna istilah yang tegang (tensed) dan dibedakan sebagai “hal” (things) yang terpisah. Tanggapan Luther terhadap kasus dari masalah teologis tersebut bukan untuk menciptakan logika teologis yang sama sekali baru yang akan menjelaskan relasi trinitarian. Sebaliknya, Luther memanfaatkan perselisihan untuk memperjelas makna yang memadai dari doktrin dan untuk memisahkan interpretasi yang benar dari yang salah dengan menggunakan alat-alat filosofis, logika, semantik, dan metafisika. Istilah Trinitas, bahkan istilah yang dianggap mengacu pada subjek abadi (eternal subject), bukan penghalang ahistoris (ahistorical) terhadap rasionalitas. Tetapi diartikulasikan dalam sejarah agar maknanya dapat dieksplorasi, ditentukan sampai batas tertentu dan setidaknya sedikit dipahami.

Persoalan semantik akan menghidupkan makna historis istilah dan konsepsi Trinitas dalam Kitab Suci, kredo, dan tradisi teologis. Meskipun Luther dan Calvin mengimbau semantik untuk mengemukakan argumen tentang kebenaran Trinitas, mereka tidak melangkah lebih jauh dalam menekankan semantik historis seperti yang dilakukan oleh beberapa teolog sezaman mereka dan kemudian. Para Reformator masih menganggap bahwa teks-teks normatif Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru serta kredo tertukar antara acuan trinitariannya (equivocated between their trinitarian referent). Istilah yang berbeda dalam bahasa Ibrani, Yunani, dan Latin masih diambil dalam pengertian yang sama dari dogma homoousios.

Penolakan tersebut semakin dipertanyakan. Rujukan ilahi (the divine referent) yang dijelaskan dalam Kitab Suci Ibrani, “Allah Israel” (God of Israel) tidak dapat dilihat berdasarkan sejarah sebagai identik secara semantik dengan Allah proto-trinitarian dari Perjanjian Baru. Misalnya berkat trinitarian dalam 2Kor 13:13 dan formula pembaptisan dalam Mat 28:28 atau Tritunggal yang dinyatakan secara eksplisit dari kredo Nikea-Konstantinopel abad IV. Hancurnya kesatuan semantik terkait tumbuhnya kesadaran bahwa semantik yang dihistoriskan diperlukan untuk memahami Trinitas dalam kaitannya dengan sejarah.

Perkembangan pandangan kesatuan tentang Allah Kristen yang tersirat dalam Reformasi dan perkembangan awal pasca-Reformasi mengontekstualisasikan makna historis-budaya (historical-cultural) dari konsepsi trinitarian. Semantik yang dihistoriskan membuka kemungkinan metafisik baru untuk memahami perbedaan abadi dalam Allah dan relasi mereka terhadap sejarah dunia. Jika makna konsep Trinitas berbeda dalam sejarah, maka metafisika yang menyertainya membutuhkan revisi. Sejarah dan spekulasi akan menjadi dua alur narasi yang terjalin dari sejarah Trinitas pasca-Reformasi.

ORTODOKSI DAN PIETISME PROTESTAN

Pandangan baru tentang empirisme dan rasionalisme mendorong pencarian pengetahuan pada abad XVII dan XVIII. Konsensus dari narasi yang diterima tentang ide-ide Kristen mengadu alasan melawan wahyu (pits reason against revelation). Apakah isi doktrinal dianggap “di atas akal sehat” atau tidak, bahkan mungkin “bertentangan dengan akal sehat”, misteri Kristen dikalahkan oleh akal budi. Pertanyaannya bukan apakah (whether) tetapi sejauh mana (extent) akomodasi harus terjadi, bukan apakah harus (whether it must) tetapi seberapa sengit (how fierce) perlawanannya.

Perlu diketahui bahwa dengan mempelajari dua teologi Kristen yang representatif secara ekumenis pada abad XVII dan XVIII, kita dapat melihat bagaimana gagasan Trinitas dikembangkan di bawah kondisi budaya yang memperdalam kesadaran metodologis tentang spekulasi serta pengalaman. Bagian ini dimulai dengan menunjukkan bagaimana para teolog Protestan mengartikulasikan Trinitas sebagai fungsi dari sistem doktrinal mereka. Tugas teologi dalam ortodoksi pasca-Reformasi, Lutheran, Reformed, dan Katolik Roma dibentuk karena berkontribusi pada persyaratan yang berkembang untuk rasionalitas akademik (wissenschaftlich) sebagai sistem serta tempat Tritunggal dalam sistem tersebut merupakan bagian integral yang lebih luas dari upaya budaya-filosofis (cultural-philosophical).

Tradisi Pietis menekankan dimensi historis dan pengalaman kekristenan dengan cara yang ekspresif dari upaya budaya-filosofis untuk mengamankan batas dan kemungkinan alasan dalam kaitannya dengan pengalaman. Kadang-kadang doktrin Trinitas menantang batasan-batasan tersebut, kadang-kadang batasan diterapkan pada klaim trinitarian. Meskipun demikian, narasi altematif tersebut mengeksplorasi bagaimana Trinitas secara kreatif diintegrasikan ke dalam cara berpikir dan mengalami dengan perkembangan modernitas.

Trinitas dan Sistem dalam Ortodoksi Protestan

Gagasan mengenai “sistem” (system) sangat penting untuk memahami bagaimana Trinitas dikontekstualisasikan dalam pemikiran pasca-Reformasi. Genre (the genre) di mana para teolog ortodoks Protestan menyusun teologi mereka adalah sistem. Sistem mereka adalah cetak biru langsung (the immediate blueprint) untuk Der christliche Glaube (The Christian Faith) karya Friedrich Schleiermacher yang diakui sebagai teks dasar teologi modern. Konsensus masih terus mengklaim keunggulan sistem untuk menyajikan pengetahuan teologis, meskipun dalam teologi kapasitas sistem untuk kelengkapan dipertanyakan atas dasar pengalaman. Signifikansi historis sistem menyiratkan dampak teologis yang konstruktif. Meskipun ortodoksi Protestan umumnya dilihat sebagai gerakan “mensistematisasikan” (systematizing), mengorganisir tulisan para Reformator Protestan yang beragam secara literal, relasinya dengan kemunculan budaya-filosofis sistem memberikan perkembangan teologisnya dalam terang pemikiran akademik abad XVII.

Reformator abad XVI Philipp Melanchthon merupakan mata rantai pertama (the first link) untuk sistematisasi berikutnya. Karya Philipp Melanchthon Loci communes dimulai pada 1521 dan direvisi hingga akhir 1543, mengorganisir topik-topik teologis utama sebagaimana dibahas dalam surat Paulus kepada jemaat di Roma. Konstruksi teologis berikutnya meninggalkan format eksegetis bahwa teologi pasca-Reformasi secara sadar dibangun sebagai sistem yang secara eksplisit mengikuti aturan konstruksi formal (rules of formal construction). Sistematisasi kebenaran teologis tersebut didasarkan pada konsensus filosofis yang lebih luas bahwa sistem memenuhi syarat pengetahuan (scientia/Wissenschafit). Dari sistem geometri paling awal yang dibangun sebagai deduksi logis (logical deductions) yang ketat dari aksioma hingga sistem selanjutnya yang mengadaptasi demonstrasi deduktif (deductive demonstration) ke materi pelajaran sejarah seperti agama, sistematisasi mewakili bentuk akademik Barat untuk mengorganisir ide. Puncaknya dicapai oleh Gottfried Wilhelm Leibniz, pendiri Akademi Ilmu Pengetahuan Prusia (Prussian Academy of Sciences) yang mengucapkan C’est là, mon système setelah menyelesaikan karyanya Monadologie. Dari titik tersebut, “ilmiah” (scientific) berarti “sistematis” (systematic), dan bagi teologi, identifikasi tersebut tidak terkecuali.

Penetapan Trinitas secara sistematis dalam sistem ortodoks Protestan terkait dengan pertanyaan mengenai Kitab Suci dan Trinitas yang dibuka pada abad XVI. Sistem tersebut memberikan teologi suatu solusi untuk perbedaan terminologi yang telah dihadapi Luther. Prolegomena terhadap sistem yang merupakan hasil istimewa dari Reformasi, membatasi sifat dan tugas teologi, terutama karena persyaratan dan sumber tugas ditentukan oleh polemik pengakuan (confessional polemics) antara Lutheran, Reformed, dan Katolik Roma, di mana kontekstualisasinya dalam pertanyaan filosofis-kultural tentang konstruksi sistematis bahkan lebih penting. Sistem sebagai bentuk pemikiran ilmiah yang berkembang menyiratkan adaptasi oleh berbagai disiplin ilmu yang mendefinisikan materi pelajaran masing-masing, terutama apabila materi pelajaran tersebut tidak dapat dideduksi secara ketat dari aksioma, seperti halnya dengan disiplin apa pun yang mengandalkan interpretasi teks sejarah. Pencapain ortodoksi Protestan yang signifikan dan bertahan lama adalah doktrin Kitab Suci yang sangat berkembang. Kitab Suci adalah dasar teologi yang “diberikan” (given) dan implikasinya terhadap metode teologis yang berbeda karenanya memerlukan klarifikasi.

Pokok bahasan teologi dianggap sebagai kenyataan (reality), diberikan dalam Kitab Suci dan dijelaskan oleh doktrin-doktrin Allah dan Trinitas. Kedua doktrin tersebut terletak pada bagian pertama sistem ortodoks, tepat setelah prolegomena berjudul “Doktrin Allah, tujuan (finis) teologi”. Tujuan akhir teologi adalah res ilahi (Allah), sehingga tujuan tersebut menetapkan alasan untuk mengintegrasikan Kitab Suci dan doktrin. Oleh karena itu, kesatuan struktural mendasar antara Kitab Suci dan teologi dibangun oleh materi pelajaran yang konsisten (consistent subject matter), di mana persoalan semantik sejarah yang berbeda antara Kitab Suci dan Trinitas diselesaikan secara konseptual oleh identitas dalam subjek. Lebih lanjut, prinsip penataan Allah (the structuring principle of God) sebagai penyebab akhir atribut teologi status ilmiahnya sebagai disiplin praktis, selaras dengan ilmu-ilmu alam (natural sciences) dengan pembenaran mereka dalam pengalaman. Semua disiplin praktis memerlukan metode analitik untuk mempelajari bagian-bagian diskrit (discrete) tersirat oleh dan terkandung dalam kesatuan menyeluruh untuk disiplin. Dalam persoalan teologi, penggunaan alat-alat filosofis, secara khusus logika dan dialektika, secara teologis berorientasi pada penyebab akhir teologi (theology’s final cause).

Cara doktrin Allah terkait erat dengan Trinitas dalam sistem tersebut menunjukkan bagaimana para teolog menggunakan akal budi untuk menyesuaikan dengan penjelasan isi wahyu (the explication of revelation’s content). Pemahaman metafisik tentang Allah, terutama kausalitas dan atribut metafisik, misalnya kesatuan dan ketidakterbatasan, dibahas pertama kali di bawah doktrin Allah. Penentuan metafisik tersebut kemudian secara eksplisit dihubungkan di bagian berikutnya tentang Trinitas dengan esensi ilahi (the divine essence) yang membentuk Trinitas. Selanjutnya, karya-karya Allah (the works of God), terutama penciptaan dan pemeliharaan, terletak setelah penjelasan Trinitas. Dengan relasi sistematis tersebut para teolog menunjukkan bahwa karya-karya tersebut mengungkapkan kesatuan esensi (the unity of the essence) yang dibentuk oleh tiga pribadi itu sendiri. Sehingga esensi ilahi tidak dipisahkan dari Trinitas dan ketiga pribadi tidak dipisahkan dari pekerjaan yang mereka lakukan bersama. Nalar metafisik (metaphysical reason) berfungsi sebagai pembantu nalar teologis (theological reason).

Leibniz secara definitif memindahkan komitmen ortodoksi Protestan terhadap sistem ke puncak akademisnya. Perbedaan metodologis antara penjelasan dan pemahaman memberi Leibniz ruang teologis (the theological room) yang ia butuhkan untuk menyelidiki misteri Trinitas, membebaskannya untuk menjelaskan arti istilah-istilah yang dalam dan dari dirinya sendiri ambigu. Tulisan-tulisannya sering kali diselingi oleh banyak dialog dengan para pendukung pemahaman kesatuan atau non-trinitarian tentang Allah, dan mereka menunjukkan adaptasinya terhadap nalar filosofis (philosophical reason) untuk menjelaskan Trinitas secara teologis. Tanggapan berupa klarifikasi relasi perbedaan metafisik antara kecerdasan dan kehendak ilahi dengan tiga pribadi seperti yang umumnya diakui oleh model trinitarian psikologis dari para Bapa Gereja sebagai kekuatan (power), kebijaksanaan (wisdom), dan kasih (love). Ketika Friedrich Loffler berusaha untuk menyimpulkan Trinitas menurut model geometris yang ketat, Leibniz mengulang model untuk menjelaskan kebenaran wahyu Kitab Suci seperti yang ditafsirkan oleh ajaran Gereja. Leibniz menyatukan Kitab Suci dan tradisi trinitarian dengan mengontekstualisasikan keduanya dalam sistem yang disesuaikan akal budi dalam pandangan wahyu dan menggunakan Trinitas untuk mengintegrasikan unsur-unsur sejarah ke dalam sistem.  

Narasi trinitarian sejauh ini menunjukkan bagaimana sistem ortodoks Protestan dengan hati-hati menghubungkan unsur-unsur sejarah dan wahyu dengan klaim metafisik untuk menjelaskan, bukan memahami Trinitas. Perkembangan teologi selanjutnya, terutama yang dimulai dengan Schleiermacher, berusaha membedakan antara klaim historis dan rasionalis, sehingga membatasi sejauh mana alasan metafisik (metaphysical reason) dapat diadaptasi untuk teologi. Saya membahas Pietisme di bagian berikutnya untuk menunjukkan bagaimana penggunaan nalar kristis (critical reason) membuka kemungkinan untuk memahami Trinitas dalam sejarah.

Trinitas dan Sejarah dalam Pietisme

Pietisme merupakan Kristen ekumenis yang melampaui batas-batas konfensional pada abad XVII dan XVIII. Tujuan pietisme adalah untuk membangun Kekristenan sebagai transformasi hati (transformation of the heart), menggabungkan untaian mistik dan renungan dari Reformasi serta teks-teks klasik dari sejarah Kristen untuk mempercepat “pemanasan hati” (warming of the heart) yang dirasakan oleh orang-orang Kristen yang mengalami kedekatan relasi yang hidup dengan Kristus. Namun, teologinya sering dipandang sebagai penangkal “anti-intelektual” (anti-intellectual) atau alternatif dari sistem rasionalis ortodoksi Protestan. Kesalahpahaman tersebut perlahan-lahan direvisi, karena para ilmuwan memperhatikan relasi mendalam antara Pietisme dan fokus Pencerahan pada individualitas (individuality). Jika Pencerahan identik dengan perkembangan subjektivitas modern, maka Pietisme harus dikatakan berkontribusi secara signifikan terhadap pemahaman pribadi (understanding the person), baik manusia maupun ilahi.

Subjektivitas adalah ciri modernitas Barat dan karakteristik pembeda utamanya adalah individualisme. Penggunaan Pietisme dari metafora Kitab Suci tentang hati menyesuaikan dimensi penting dari budaya Barat modern tersebut untuk Kekristenan. Para teolog Pietis dari Johann Arndt hingga “bapak” (father) Pietisme Philipp Jakob Spener menganggap penamaan iman Kristen pribadi yang sejati dan hidup sebagai unsur penting dari reformasi komunitas Kristen. Komitmen Kristen yang lebih dalam mengikuti transformasi individu melalui relasi pribadinya dengan Kristus, relasi yang dikembangkan melalui kesalehan pribadi dan pendidikan (personal piety and education). Dalam Pietisme, semboyan Reformasi sola scriptura dipahami sebagai dukungan atas kemampuan pribadi untuk menemukan kebenaran alkitabiah. Dari sinilah muncul praktik Losungen, bagian-bagian Kitab Suci dipilih secara acak dan ditafsirkan untuk mengungkapkan kehendak Allah secara langsung ke dalam kehidupan individu. Hati Pietis yang dikultivasikan (the cultivated Pietist heart) harus diubah dengan cara tersebut melalui kontak langsung dengan pokok bahasan Kitab Suci. Keterlibatan pribadi dengan Kitab Suci adalah pengalaman res teks, yaitu Allah dan kehendak ilahi. Trinitas akan dibingkai dari perspektif pengalaman tersebut.

Gagasan modern tentang subjektivitas bergantung pada perbedaan antara bagian dalam (inner) dan luar (outer) yang juga merupakan perbedaan utama dalam paradigma historis modern. Misalnya, perubahan luar sejarah dan keteguhan metafisik bagian dalam. Hal ini merupakan “parit jelek” (ugly ditch) Lessing antara yang historis dan yang rasional. Karya Immanuel Kant muncul dalam konteks Pietisme yang membuka sejarah sebagai ranah pengalaman keagamaan (religious experience). Persoalan yang dihadapi Pietisme tersebut dan kemudian diangkat oleh Kant adalah persoalan historis yang berkaitan dengan prinsip kesatuan atau kesamaan diri melalui waktu (time) yang merupakan ranah spekulatif. Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana menghubungkan sejarah dengan spekulasi?

Cara pietisme menanggapi tantangan tersebut adalah dengan mengikuti pemahaman sakramental Luther bahwa bagian luar (the outer) menyampaikan bagian dalam (the inner), sehingga kata (word), meskipun terbatas, menyampaikan hal itu. Persoalan filosofis “parit jelek” (ugly ditch) Lessing kurang menjadi masalah bagi teologi Kristen dalam ekspresi Pietisnya, yang melihat inti subjektivitas dalam (inner) terkait erat dengan penampilan luar (outer). Hal ini berlaku untuk subjektivitas manusia dan ilahi, di mana inti subjektivitas batin diakses oleh “karya” (works) atau fungsi luar. Salah satu hasil dari skema tersebut adalah bahwa bagian luar diistimewakan sebagai bidang studi yang sah dan perlu (legitimate and necessary area of study). Kontribusi besar Pietisme bagi nalar modern (modern reason) adalah bahwa pengalaman penebusan membuka sejarah sebagai subjek studi intelektual.

Perjumpaan dengan Yesus (the encounter with Jesus) membentuk interioritas Pietis dan pencurahan Roh Kudus (the outpouring of the Spirit) bertanggung jawab atas transformasi historis. Sehingga studi tentang sejarah Gereja, Kitab Suci, dan teks-teks renungan dan mistik kuno menjadi sarana untuk memahami jalan Allah dalam sejarah. Kritik sejarah diluncurkan oleh Pietisme, dimulai dengan edisi kritis Perjanjian Baru karya Johann Albrecht Bengel (1734) dan Gnomon Novi Testamenti (Exegetical Annotations of the New Testament) yang berpengaruh pada 1742. Dengan demikian, Pietisme berkontribusi pada apresiasi Kekristenan sebagai agama historis (historical religion) untuk penerapan metode historis pada kebenaran Kristen (Christian truth). Meskipun metode tersebut dirancang dengan “historis” sebagai istilah teologis yang berkaitan dengan pengalaman sebagai perjumpaan transformatif. Sedangkan sejarah dalam istilah positivis akan mengurangi komponen manusia dan mengubah sejarah menjadi studi tentang masa lalu (study of the past).

Istilah “sistem” (system) membutuhkan kesatuan pada perubahan historis (historical change). Kecenderungan spekulatif Pietisme sendiri telah berimplikasi pada pemikiran trinitarian yang kreatif. Keasyikan dengan sejarah sebagai ranah hak pilihan ilahi (the realm of divine agency) tersedia untuk akses individu, membebaskan “batin” (inner) dari kendala “luar” (outer) alkitabiah dan doktrinal dan membukanya untuk pengalaman mistik dan visioner. Count Nicolas von Zinzendorf memiliki kesalehan yang berpusat pada Yesus yang tidak mengurangi “kebaruan doktrinal” (doctrinal novelty) untuk melihat Roh Kudus sebagai Ibu, dengan demikian menyiratkan relasi perkawinan (marital relation) antara Bapa dan Roh Kudus. Dua tokoh selanjutnya, Jakob Boehme dan Friedrich Christof Oetinger bergerak lebih jauh dalam spekulasi, bahkan mendahului dan mempengaruhi pemikiran awal abad XIX dari G. W. F. Hegel dan F. W. J. von Schelling. Boehme menggerakkan spekulasi ke arah narasi teogonis (theogonic narrative). Oetinger, seperti Bengel, seorang Pietis dari Swabia di Jerman barat daya, sedang dalam pencarian seumur hidup akan kebenaran Kitab Suci yang mengarah ke arah spekulatif yang mengintegrasikan kabbala dengan Trinity. Untaian visioner semacam itu muncul dari Pietisme, sebuah idiom luas yang bergerak di antara spekulasi yang menggetarkan dengan mengakarnya dalam Kitab Suci di satu sisi, dan kreativitas spekulatif yang tidak terhalang oleh fiksasi pada formulasi ortodoks yang benar di sisi lain.

Pietisme dan ortodoksi Protestan pasca-Reformasi berkontribusi pada pembentukan fundamental dari spekulasi dan sejarah dalam relasi tertentu dengan implikasi bagi Trinitas. Ortodoksi Protestan mengorientasikan Kitab Suci, metafisika, dan teologi pada res trinitarian dan mengartikulasikan relasi tersebut dengan sistem. Pietisme yang diorientasikan oleh pertanyaan subjektivitas mengarah pada keasyikan (preoccupation) dengan sejarah yang dikembangkan oleh parameter nalar kritis (critical reason) yang membatasi doktrin spekulatif Trinitas, tetapi juga membuka visi kreatif berdasarkan inspirasi individu tanpa batasan doktrinal. Nalar Barat (Western reason) selanjutnya hingga saat ini akan bereksperimen dengan sistem dan sains, sejarah dan nalar kritis, sehingga sejarah refleksi Trinitas adalah sejarah artikulasi misteri (history of the articulation of a mystery) yang membuka kemungkinan bahasa dan pemikiran dalam budaya yang berbeda dan bentuk filosofis.

SPEKULASI DAN SEJARAH DALAM SISTEM POST-KANTIAN

Perlu diketahui bahwa dalam sistem pasca-Kantian, pertanyaan trinitarian (the trinitarian question) yang dipermasalahkan oleh pertanyaan tentang relasi bahasa dengan realitas diperluas ke dalam pencarian pembangunan sistem (system-building). Hal ini secara eksplisit terlibat dengan kesadaran sejarah yang muncul dalam hal individualitas psikologis (psychological individuality), kesadaran nasional (national consciousness), dan sejarah dunia (world history). Sejarah dalam konteks pasca-Kantian tersebut muncul sebagai metafisika baru (the new metaphysic). Sehingga sistem apa pun sekarang dipegang dengan persyaratan untuk mengkonseptualisasikan realitas perubahan historis dalam kaitannya dengan faktor-faktor spekulatif yang menentukan keteguhan agensi dalam sejarah, apakah manusia, politik, atau ilahi.

Dua contoh utama sistem modern adalah Georg Wilhelm Friedrich Hegel dan Friedrich Schleiermacher yang mendominasi cara berpikir filosofis dan teologis modern. Sudah biasa melihat keduanya dalam konflik dan memang mereka adalah rekan kerja yang bermusuhan di Universitas Berlin. Mereka mewakili dua cara yang berbeda dalam membangun sebuah sistem sebagai integrasi spekulasi dan sejarah dengan memberikan kepada Trinitas baik fungsi metafisik maupun epistemologis.

Pemikiran Trinitarian Spekulatif Georg Wilhelm Friedrich Hegel

Sistem pasca-Kantian berusaha menyatukan kodrat (nature) dan roh (spirit), dua hal yang berbeda secara metafisik dalam rumusan Kant, di mana yang satu ditentukan oleh hukum kausalitas alam (the laws of natural causality) dan yang lain oleh hukum kebebasan (the laws of freedom). Orang-orang pasca-Kantian sedang mencari sistem untuk mengintegrasikan satu sama lain, yaitu sistem metafisik yang akan menyatukan keduanya sambil tetap memperhitungkan perbedaan di antara keduanya. Pencarian untuk integrasi sistematis dalam Idealisme Jerman (German Idealism) dan hasilnya memiliki dampak besar untuk memahami Trinitas.  

Leibniz membantu dalam konteks tersebut dengan mengusulkan solusi metafisika kekuasaan (power) dan penampilan (appearance), kesatuan yang mendasari penampilan yang berbeda dari res dalam waktu (time). Metafisika tersebut berfungsi bagi Hegel (seperti juga bagi Schleiermacher) sebagai sarana untuk mengintegrasikan sistem pemikiran (Idealisme atau konsep) dengan sistem keberadaan (Realisme atau sejarah). Kesatuan bagi Hegel didasarkan pada asumsi titik ontologis ketidakpedulian (ontological point of indifference) antara kedua kebalikan biner (both binary opposites), titik di mana kodrat (nature) tidak peduli terhadap kebebasan. Dengan asumsi tersebut, konstruksi sistem mengikuti dengan merekonstruksi rute yang diambil oleh konsep atau kesatuan yang mendasarinya, ketika muncul ke kebalikannya, penampilan, dan saat kembali ke asalnya. Dalam pandangan Hegel tentang Kekristenan sebagai agama yang paling sesuai dengan persyaratan sistematis korespondensi pemikiran (thought) dan keberadaan (being) atau “agama yang sempurna” (the consummate religion), Trinitas dipandang sebagai struktur ontologis utama yang dapat menjelaskan alasan kemunculan konsep yang diperlukan ke dalam sejarah penampilan (the history of appearances).

Trinitas Hegel adalah konstitutif dari sistem (constitutive of system). Terkait hal ini, filsafat spekulatif Hegel mengubah representasi temporal menjadi konsep spekulatif. Dengan langkah tersebut, konsep spekulatif yang merupakan metafisika kekuatan (metaphysical power) yang mendasari semua realitas, mengintegrasikan sejarah ke dalam narasi spekulatif yang mampu mengintegrasikan waktu dan ketidakterbatasan sebagai penentu timbal balik. Hegel mencapai kesatuan tersebut dengan menarik komitmen teologis ortodoks Lutheran bahwa yang terbatas mampu membatasi yang tidak terbatas. Moto finitum capax infiniti adalah salah satu persoalan teologis Lutheran yang menentukan pada akhir abad XVIII, terutama dalam inkarnasi yang menyatukan dua ranah. Sejarah menjadi konstitutif dari Trinitas yang kekal.

Kiasan (allusion) Hegel kepada Joachim dari Fiore, kepala biara Calabrian abad XIII sangat menentukan di sini. Dispensasionalisme trinitarian (trinitarian dispensationalism) Fiore memberi Hegel alat konseptual untuk menghubungkan Trinitas secara ketat dengan sejarah dunia (world history). Titik awal dalam catatan Hegel tentang Trinitas dan sejarah adalah Trinitas yang tidak lengkap (the inchoate Trinity) atau Trinitas yang tidak berdiferensiasi sendiri (the un-self-differentiated Trinity) yang dikorelasikan Hegel dengan momen trinitarian pertama Bapa. Momen kedua, Putra, memperluas Trinitas ke dalam sejarah, di bawah rubrik (rubric) penciptaan dan penebusan. Karya-karya Trinitas tersebut diperlukan untuk menjelaskan momen pembedaan (the differentiating moment) Bapa dan Putra dalam realitas sejarah. Momen terakhir dari Roh Kudus dibentuk oleh penjelasan penuh Trinitas di alam realitas (the realm of reality), karena momen tersebut diintegrasikan kembali ke dalam kehidupan ilahi (the divine life). Yang aktual secara historis dikembalikan ke tujuan abadinya dalam Roh Kudus.

Pembangunan sistem Hegel membutuhkan kesadaran konseptual yang membedakan antara Trinitas yang imanen dan ekonomi. Relasi Allah dengan dunia ditentukan oleh diferensiasi diri Allah dari dunia, melalui penciptaan dunia (the creation of the world). Untuk menggunakan kategori logis Hegelian, universalitas membutuhkan diferensiasi dari partikularitas. Namun melalui diferensiasi diri yang asli tersebut, Trinitas muncul dalam penebusan (redemption), sebuah proses yang memerlukan diferensiasi Trinitas menjadi momen Putra. Pengembalian tersebut tercakup dalam rubrik (rubric) Roh Kudus, di mana Roh kasih (the Spirit of love) menyatukan partikularitas dengan universalitas untuk mencapai aktualitas universalitas atau individualitas konkret. Pada akhir proses, individualitas diberikan status metafisik yang berbeda dalam universal. Selanjutnya, pada akhir proses, penjelasan tentang Trinitas sebagai pembeda diri (self-differentiated) menjadi aktual. Dengan ini, Hegel melihat manifestasi Trinitas ekonomi sebagai sesuatu yang perlu untuk proses di mana Allah dan dunia menjadi aktual melalui sejarah. Allah menjadi trinitarian secara eksplisit melalui diferensiasi dari dan dalam relasinya dengan dunia. Trinitas ekonomi mengungkapkan Trinitas imanen sebagai praanggapan yang tidak jelas dan tujuan yang sepenuhnya eksplisit.

Kecemerlangan proposal sistematis Hegel adalah spekulasi trinitarian sebagai alat nalar yang sah (legitimate tool of reason) untuk memahami relasi Allah dengan dunia. Namun, spekulasi Hegel yang sangat modern tersebut dibenarkan oleh epistemologi. Model kesadaran diri (self-consciousness) yang menjadi landasan psikologis bagi epistemologi Hegel tersebut sangat sejalan dengan tradisi Agustinian yang melihat pikiran manusia (the human mind) sebagai jejak trinitas (vestigium Trinitatis). Meskipun Hegel lebih optimis daripada Agustinus tentang kekuatan epistemologis pikiran manusia untuk memahami Trinitas – De Trinitate (On the Trinity) Agustinus harus dibaca sebagai kegagalan daripada sebagai keberhasilan pikiran untuk mendekati Trinitas – ia tetap berhutang budi untuk proposal Kristen awal tersebut.

Transparansi antara pemikiran manusia dan prosesi trinitas kebijaksanaan dan kasih adalah kontribusi Hegelian yang menentukan kepada Trinitas. Kontribusi tersebut dicapai atas dasar model kesadaran diri yang diadopsi Hegel, di mana penampilan transparan terhadap kesatuan yang mendasarinya. Pikiran manusia mampu mencapai pengetahuan spekulatif tentang dasarnya karena terjebak di persimpangan pekerjaan Allah dalam penciptaan. Dua relasi metafisik tersebut membenarkan sebuah epistemologi yang akan menyatakan prosesi pewahyuan di kedua arah – dalam pemikiran manusia dan ilahi. Apakah transparansi dipertanyakan atas dasar psikologis – seperti halnya dengan Schleiermacher – atau atas dasar epistemologis – seperti halnya dengan nalar kritis – model Hegel yang kuat berhasil menetapkan Trinitas sebagai landasan sistem dalam pikiran manusia sebagai bagian dari dunia dan dalam Trinitas imanen eksplisit yang mencakup totalitas sejarah.  

Pemikiran Trinitarian Historis Friedrich Schleiermacher

Trinitas sering dianggap sebagai masalah heterodoks (heterodox) yang mencolok dalam sistem Schleiermacher. Schleiermacher menempatkan doktrin pada kesimpulan The Christian Faith yang kemudian menghasilkan kritik bahwa Trinitas bukanlah faktor doktrinal sentral dari teologinya. Namun, fakta bahwa itu terjadi di akhir bukanlah jaminan untuk tuduhan semacam itu. Schleiermacher menghibur gagasan untuk memindahkannya pada bagian awal, seperti yang ia tulis dalam surat keduanya yang terkenal kepada Friedrich Lucke. Tetapi penataan ulang sistematis tersebut menimbulkan pertanyaan penting yang diajukan Schleiermacher dalam iman Kristennya, yang ia jawab dengan membangun keseluruhan sistem berpuncak pada Trinitas sebagai kombinasi ekspresi historis Kekristenan.

Relasi antara bahasa dan res merupakan penentu utama dalam pemikiran Schleiermacher. Ia memahami bahasa sebagai “bentuk” (form) atau “luar” (outer) yang menyampaikan “dalam” (inner) atau “makna” (meaning) yang selalu berbeda, namun juga selalu terhubung dengan bentuk luar dalam suatu continuum. Persoalan teologis bahasa yang berbeda diajukan pada model kesadaran diri filosofis dari continuum antara pemikiran dan bahasa, di mana pemikiran adalah identitas atau kesatuan bahasa yang membentuk bagian dalam yang tentu saja linier pada prinsip-prinsip tata bahasa dan sintaksis. Perhatian teologis utama Schleiermacher untuk bahasa “luar” adalah bentuk mempertahankan relasinya dengan kekuatan “dalam”. Dalam istilah teologis Kristen, “dalam” adalah kekuatan penebusan yang berasal dari Yesus, konstan dalam sejarah Kekristenan (constant in the history of Christianity). Bahasa berkembang dari bentuk-bentuk puisi dan retorika alkitabiah langsung dan secara eksplisit menjadi konseptual dalam teologi. Di semua titik di sepanjang continuum tersebut, dimensi keteguhan batin (the inner dimension of constancy) harus ditelusuri kembali ke kuasa penebusan Yesus. Bahasa teologis mau tidak mau mengungkapkan suksesi teologis tersebut.

Fokus soteriologis menunjukkan keasyikan (exhibits) Pietis dan Kantian karya Schleiermacher dengan pengalaman dan kewaspadaannya terhadap klaim esensi batin (inner essences) yang tidak dapat dibenarkan secara epistemologis. Bahasa yang sesuai dengan pokok bahasan teologi harus diturunkan dari pengalaman sejarah penebusan (the historical experience of redemption) dan karenanya spekulasi apa pun yang tidak memiliki relasi pengalaman tidak diperbolehkan. Di sini Schleiermacher dengan tegas menolak percampuran klaim metafisik dan historis, berpaling dari Leibniz dan Hegel karena membingungkan dua sumber pengetahuan tentang Allah. Satu-satunya klaim yang dibuat tentang diri, dunia, dan Allah adalah berdasarkan pengalaman yang diungkapkan dalam bahasa. Namun secara paradoks, desakan pada sejarah sebagai tempat mencari Trinitas (seeking the Trinity) berakhir dengan tuduhan bahwa ia telah menolak trinitarianisme ortodoks.  

Persoalan bahasa sebagaimana ciri pemikiran trinitarian pasca-Reformasi, memiliki implikasi serius bagi penafsiran doktrin tersebut. Schleiermacher terkenal mengecualikan legitimasi klaim perbedaan “abadi” (eternal) dalam bagian penutup The Christian Faith. Pengecualian tersebut tidak boleh dibaca sebagai penolakan terhadap “ortodoksi trinitarian” (trinitarian orthodoxy). Sebaliknya, itu harus dibaca dalam terang teori bahasa yang mengakui ke dalam teologi hanya ekspresi yang berasal dari pengalaman Yesus dari Nazaret. Persoalan linguistik bagi Schleiermacher pada akhirnya bersifat soteriologis. Jika Trinitas harus ditafsirkan dalam batas-batas tersebut, maka hanya pernyataan-pernyataan tersebut yang dapat digunakan untuk membangun pemahaman tentang Trinitas. Bagi Schleiermacher, setiap perikop Perjanjian Lama yang digunakan secara klasik sebagai jaminan untuk pembedaan kekal (the eternal distinctions) harus ditolak juga. Ia berpendapat bahwa klaim teologis alkitabiah (biblical-theological) yang berbahaya tersebut atas dasar soteriologis bahwa setiap pernyataan yang dikeluarkan secara historis sebelum kemunculan Yesus dari Nazaret di Galilea adalah menurut pendapatnya pra-Kristen dan dengan demikian tidak dapat diterima sebagai ekspresi penebusan yang dikaitkan dengan Yesus.

Studi Schleiermacher sendiri yang sangat rinci tentang trinitarianisme abad II dan III pada pribadi Praxeas dan Noetus menunjukkan perhatian yang ia curahkan untuk membangun doktrin dari pernyataan soteriologis (soteriological statements). Kritikus menganggap studi tersebut mewakili bidah Sabellian. Meskipun tuduhan tersebut mungkin lebih akurat tercermin dalam pengakuan Schleiermacher sendiri tentang Sabellianisme alternatif (alternative Sabellianism), yang ia usulkan sebagai alternatif dari Trinitas Athanasius klasik (doktrin homoousios), itu ditafsirkan dalam terang konseptual dari pertanyaan filosofis menyeluruh Schleiermacher tentang sistem dan komitmen teologisnya terhadap ucapan-ucapan soteriologis. Jika sejarah adalah alam (the realm) pengalaman dunia-Allah, dan jika pernyataan-pernyataan hanya dapat diturunkan dari alam (the realm) pengalaman tersebut, maka spekulasi metafisik tentang perbedaan abadi berada di luar batas nalar teologis kritis (critical theological reason) atas dasar kritik rasionalis dan prinsip-prinsip soteriologis. Karenanya sejarah bagi Schleiermacher menjadi metafisika yang menentukan, di mana realitas adalah historis dan realitas yang ditentukan oleh kausalitas Allah adalah realitas historis.

Pada titik ini Schleiermacher meminta Leibniz untuk membenarkan (justify) klaim epistemologis tersebut atas dasar metafisik. Penampilan (appearance) adalah ranah sejarah, sesuatu yang dapat kita ketahui tentang interaksi Allah dengan dunia berasal dari ekspresi kesadaran diri Kristen. Kekuasaan (power) adalah kesatuan kausalitas metafisik yang tentu saja merupakan konsep Schleiermacher tentang Allah seperti yang terkenal berasal dari refleksi dalam kesadaran diri tentang “dari mana” (whence) ketergantungan mutlak. Pengetahuan tentang Trinitas tidak secara metafisik diandaikan sebagai titik ketidakpedulian (the point of indifference) pada awal “narasi” (narrative) dalam istilah Hegelian, tetapi kumulatif – puncak dari kausalitas Allah, dialami dalam istilah penebusan Kristus dan Roh Kudus sebagai karya historis dari kuasa Allah di dunia sebagai kebijaksanaan dan kasih. Oleh karena itu, Sabellianisme Schleiermacher dimodifikasi oleh daya tariknya yang berbeda terhadap periodisasi Fiorean (Fiorean periodization) untuk menyelesaikan persoalan modern terkait sejarah dan spekulasi. Periodisasi hanya relevan setelah penampakan historis Yesus. Sabellianisme klasik melihat sifat Allah (modes of God) sebagai sesuatu yang dapat dipertukarkan, sedangkan Schleiermacher melihat Putra dan kemudian Roh Kudus secara historis tidak dapat direduksi satu sama lain, dan sekali diperkenalkan secara historis sebagai konstituen Tritunggal yang tidak dapat dibatalkan. Dengan pembatasan klaim trinitas atas pengalaman penebusan tersebut, inti soteriologis Kekristenan dipertahankan sepanjang sejarahnya yang berkembang. Terakhir bagi Schleiermacher, sejarah Kekristenan adalah puncak dari sejarah Trinitas di dunia ketika semua ciptaan telah ditebus oleh karya Kristus dan Roh Kudus.

Kesadaran Diri dan Sejarah

Seperti Hegel, Schleiermacher membangun sistem trinitariannya atas dasar psikologis kesadaran diri (the psychological basis of self-consciousness). Tidak seperti model Hegel, model psikologis Schleiermacher adalah salah satu dari kesadaran diri langsung (immediate self-consciousness) yang berarti bahwa relasi diri yang membentuk individualitas tidak pernah tersedia seperti itu dalam pemikiran diskursif (discursive thought). Kesadaran diri yang langsung membuat agama diskursif (discursive religion) hanya karena ia tidak terhindarkan dikontekstualisasikan dalam agama historis (historical religion). Sebagai relasi diri tanpa perantara yang menopang keteguhan diri sepanjang waktu, kesadaran diri langsung tidak pernah berfungsi sebagai sumber ide atau tindakan keagamaan. Hal ini terkait dengan Allah sebagai kausalitas ilahi, terbentuk sebagai kesimpulan non-diskursif dalam perasaan dari penolakan kebebasan mutlak (absolute freedom) ke penegasan ketergantungan mutlak (absolute dependence). Penunjukan Allah tersebut ditentukan secara teologis, karena Allah diberikan secara historis dalam agama Kristen. Sabellianisme hasil modifikasi Schleiermacher dari konsepsi sistematis model psikologis khusus tersebut dalam istilah historis kausalitas ilahi yang berlangsung melalui kebijaksanaan dan kasih dengan penjangkauan universal yang menentukan (deceive universal outreach). Namun, Schleiermacher menggunakan model psikologis tersebut untuk menggarisbawahi secara penting ketidakjelasan realitas (the opacity of reality) untuk alasan di kedua sisi. Batas-batas nalar kritis melarang spekulasi mengenai “dasar” (ground), karena tidak ada kesimpulan atau akses langsung ke sana. Prinsip wahyu yang digunakan oleh model kesadaran diri Hegel yang transparan terhalang, mengarah ke Trinitas yang jauh lebih tersembunyi (hidden) daripada terungkap (revealed).

Spekulasi dibatasi pada batas-batas yang diberikan oleh kausalitas ilahi dalam sejarah penebusan (redemptive history). Schleiermacher menyiratkan metafisika dan bahasa Trinitas yang sangat tepat dengan pembatasan tersebut. Dogma Kristen bukan tentang pengetahuan (knowledge) atau bahkan tentang “pengetahuan tentang doktrin yang benar” (knowledge of true doctrine), melainkan tentang keselamatan yang harus dialami sebelum dipikirkan atau dilakukan. Pembatasan tersebut melemahkan prinsip-prinsip rasionalis, bahkan prinsip wahyu yang digunakan untuk melegitimasi ortodoksi trinitarian, dan membuka jalan untuk mengembangkan pemahaman trinitarian yang terkait erat dengan karya kasih Allah dalam penciptaan. Schleiermacher secara akurat menyimpulkan sistemnya dengan Trinitas sebagai puncaknya, wahyu Trinitas di akhir sejarah. Apa yang “hilang” (lost) oleh konsepsi Schleiermacher juga menjadi bahan diskusi yang penting. Pekerjaan baru perlu dilakukan untuk memahami dengan tepat bagaimana metafisika dapat menggunakan spekulasi atas dasar soteriologis daripada menolaknya sama sekali.

Baik Hegel maupun Schleiermacher menawarkan cara paradigmatik untuk bergulat dengan persyaratan sistem dengan atraksi (attractions) sejarah dan spekulasi yang berbeda. Mungkin yang lebih mendesak di abad XIX daripada selama Pencerahan adalah pertanyaan tentang menafsirkan sejarah sebagai realitas metafisik. Persoalan identitas dan perubahan membutuhkan model yang menyatukan keduanya agar “parit jelek” (ugly ditch) Lessing bisa dilintasi. Baik Hegel maupun Schleiermacher mengkonseptualisasikan sistem mereka masing-masing dengan memanfaatkan Tritunggal secara kuat. Hegel menempatkan Trinitas di dua titik akhir dari sistem metanarasinya, di mana Trinitas adalah dasar dan tujuan sistemnya dan secara historis melintasi dispensasi (traversed dispensations) Bapa, Putra, dan Roh Kudus sebelum berpuncak pada Trinitas imanen yang sepenuhnya eksplisit. Sistem Schleiermacher menggunakan metafisika kekuasaan (power) atau penampilan (appearance) untuk menjelaskan perubahan historis sepanjang waktu, di mana Trinitas adalah puncak dari pernyataan iman yang mengungkapkan dampak penebusan Yesus dan Roh Kudus dalam Gereja dan akhirnya melalui Gereja di dunia. Keduanya menunjukkan bahwa Trinitas menantang pemikiran Barat untuk memahami perubahan sebagai fungsi metafisika trinitarian yang dapat menjelaskan keteguhan sepanjang waktu. Trinitas juga ditantang oleh pemikiran Barat untuk menjelaskan integrasi sejarah dengan spekulasi. Hasilnya adalah Trinitas sebagai sistem.

PENUTUP

Selama tiga abad setelah Reformasi abad XVI, Trinitas jauh dari memberikan “pukulan maut” (death blow) menjadi “rasionalitas” (rationality), menyelidiki dan memperluas pemikiran Barat dengan berkontribusi pada perkembangannya. Ketika paradigma baru muncul pada periode pasca-Reformasi untuk penalaran ilmiah (wissenschaftlich), teologi Kristen berpartisipasi dalam penyelidikan akademis terhadap kebenaran dan pencarian pengetahuan. Sejarah dan dunia natural terbuka oleh seni dan ilmu pengetahuan, di mana penyelidikan ke dalam nalar dan rasionalitas membuka dimensi spekulatif dunia dan sejarahnya. Perkembangan teologi Kristen memegang idiom akademis pada zamannya. Sejarah dan spekulasi menjadi dua bidang penyelidikan teologis yang berbeda. Trinitas berangsur-angsur muncul sebagai doktrin pendefinisian sentral bagi Kekristenan pada akhir periode ini, karena konseptualisasi sistematis terakhirnya memenuhi idiom ganda sejarah dan spekulasi yang telah ditetapkan oleh konsensus akademis. Trinitas tidak diberikan hak tersebut melalui wahyu. Itu mendapatkan tempat dengan berpartisipasi aktif dalam pengembangan rasionalitas.

Hasil teologis Kristen abad XX adalah apa yang disebut sebagai narasi “yang diterima” (received) sebagai “kebangkitan trinitarian” (trinitarian renaissance). Alih-alih digambarkan sebagai masa ketika phoenix trinitarian muncul dari abu nalar Pencerahan (the ashes of Enlightenment reason), abad XX dan ketertarikannya dengan Trinitas harus dianggap sebagai produk dari usaha tiga ratus tahun nalar Barat untuk menyerap, menjawab, dan membungkuk di sekitar tantangan sejarah budaya-filosofis. Trinitas datang ke abad XX sudah sebagai aksioma sistematis sistem filosofis-teologis Hegel dan puncak historis dari sistem dogmatis-teologis Schleiermacher. Keistimewaannya yang sistematis adalah hasil dari perkembangan yang telah mengkonseptualisasikan Trinitas menurut pertanyaan akademis tentang sejarah dan spekulasi. Meskipun teologi Kristen selalu menyetujui Trinitas sebagai kebenaran yang diwahyukan, selama Pencerahan ia mengambil tugasnya untuk mengeksplorasi konten doktrinal dalam terang nalar akademis dan sebaliknya untuk mengajukan pertanyaan berdasarkan Trinitas untuk melihat kemungkinan baru untuk berpikir dan bertindak. Dari pengalaman ke sistem, dari ekonomi ke imanen, Trinitas dipahami bersama dengan parameter pemikiran modern. Sejarah dan kekekalan dikandung bersama dalam pemikiran Kristen untuk membawa sistem kepada penyelesaian teologis-trinitarian. Alih-alih membunyikan lonceng kematian nalar (the death-knell of reason), homoousios telah mengilhami cara-cara baru untuk memikirkan kehidupan Allah Tritunggal.

SUMBER BACAAN

Helmer, Christine. “Between History and Speculation: Christian Trinitarian Thinking After the Reformation”. Dalam Peter C. Phan (Editor). The Cambridge Companion to The Trinity. Cambridge: Cambridge University Press, 2011, hlm. 149-169. 

Diskursus Teologi