November 1, 2025

Sekilas Tentang Teori Kritis Mazhab Frankfurt

Yohanes Wahyu Prasetyo

(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)

 

Mazhab Frankfurt atau generasi pertama teori kritis biasanya mengacu pada karya para cendekiawan neo-marxis Jerman. Para cendekiawan tersebut berhasil melampaui alam pikiran marxisme ortodoks. Hal ini dilakukan dengan mengintegrasikan ilmu sosiologi, ekonomi, politik, dan psikoanalisis. Teori kritis Mazhab Frankfurt memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan teori sosial pada abad XX. Selain itu, teori kritis Mazhab Frankfurt mampu memikat imajinasi para cendekiawan dan memicu gerakan sosial pada 1960-1970.

Mazhab Frankfurt prihatin terhadap sisi gelap (dark side) zaman modern. Mereka tergerak untuk menelusuri patologi sosial dan mengarahkannya supaya kembali ke ranah akal budi, rasionalitas, dan Pencerahan. Dalam dialektika pencerahan (dialectic of enlightenment) sebagaimana diuraikan Max Horkheimer (1895-1973) dan Theodor Ludwig Wiesengrund Adorno (1903-1969), masyarakat mengamankan kelangsungan hidup dengan cara mendominasi alam (domination of nature).

Tindakan tersebut justru membuat manusia memutilasi diri sendiri dan menjadikannya tidak lagi tampil sebagai pribadi yang bebas. Dengan kata lain, manusia telah mengubah akal budi menjadi rasionalitas instrumental. Hal ini terlihat ketika manusia bertindak sebagai subjek yang merendahkan (denigrate) dan menghancurkan (destroy) yang lain.

LAHIRNYA MAZHAB FRANKFURT

Menurut Karl Heinrich Santury Marx (1818-1883), kaum borjuis (the bourgeoisie) berhasil mengeksploitasi pasar dunia, menanamkan karakter kosmopolitan terkait proses produksi dan konsumsi. Hal ini menumbuhkan dan mengembangkan hasrat atau keinginan (desire) tanpa batas di dalam diri manusia untuk membeli serta memiliki segala sesuatu. Dengan kata lain, telah terjadi revolusi di dalam masyarakat, di mana budaya mengonsumsi menjadi sarana yang mampu membentuk dan menentukan kepribadian manusia.

Jika dinilai secara rasional, maka realitas tersebut memperlihatkan bahwa kesenangan dan sikap egois merupakan tujuan hidup manusia. Selain itu, manusia mempunyai kecenderungan menyukai dan menghendaki segala sesuatu yang bersifat baru. Terkait hal ini, segala sesuatu yang bersifat baru secara progresif dan masif diupayakan serta diciptakan oleh kapitalisme.

Dewasa ini, manusia mendefinisikan kehidupan dan kepribadiannya sesuai dengan apa yang mereka beli dan miliki. Perlu diketahui bahwa manusia bukan sekadar mengonsumsi barang-barang material. Melainkan juga mengonsumsi berbagai macam produk dan layanan yang bersifat menggoda serta menggiurkan pancaindra.

Situasi dan kondisi tersebut semakin parah ketika manusia tidak pernah merasa puas (insatiable) dengan segala sesuatu yang dibeli dan dimiliki. Sehingga tidak mengherankan apabila manusia berjuang sedemikian rupa untuk memuaskan keinginan dengan membeli dan memiliki segala sesuatu. Oleh karena itu, manusia menilai dan memaknai tindakan membeli serta memiliki segala sesuatu sebagai pengalaman fundamental serta menjadi pribadi yang sungguh-sungguh bebas.

Konsumerisme telah membudaya di dalam kehidupan masyarakat modern. Hal ini mengakibatkan terjadinya pembentukan karakter sikap sosial baru, di mana masyarakat modern memandang tindakan belanja sebagai tujuan hidup manusia yang sejati. Jika manusia mampu memenuhi hasrat belanja, maka ia akan memperoleh kepuasan dan kegembiraan otentik. Dapat dikatakan bahwa manusia telah menyalahartikan nilai dan makna kebebasan.

Kebebasan sekadar dipandang dan dipahami sebagai kebebasan untuk mengonsumsi. Keyakinan mengenai kebebasan tersebut bertolak belakang dengan gagasan Sigmund Freud (1856-1939) yang menegaskan bahwa kehidupan di tengah masyarakat merupakan dinamika dan sarana pertukaran (trade). Terkait hal ini, manusia mengorbankan kebahagiaan pribadi demi keamanan (security) dan kepentingan yang lain.

Jika kebebasan manusia direduksi menjadi kebebasan untuk mengonsumsi, maka gagasan tersebut harus ditinjau ulang. Karena dalam budaya konsumerisme, gaya hidup (lifestyle) manusia memperlihatkan karakter irasional. Selain itu, eksistensi atau cara berada manusia ditentukan oleh segala sesuatu yang ia beli dan miliki.

Terdapat dua pertanyaan mendasar yang layak disampaikan kepada manusia yang menghayati dan menghidupi budaya konsumerisme. Pertama, apakah manusia memperoleh kabahagiaan sejati ketika membeli dan memiliki segala sesuatu? Kedua, bukankah tindakan membeli dan memiliki segala sesuatu justru merangsang manusia untuk terus-menerus melakukan tindakan tersebut?

Berhadapan dengan dua pertanyaan fundamental tersebut, secara khusus dalam rangka mengkaji konsekuensi sosial dari kapitalisme, manusia harus belajar dari teori kritis Mazhab Frankfurt. Gagasan penting Mazhab Frankfurt dapat dilihat dalam visi Adorno mengenai masyarakat yang dikelola (adiministered society) dan tesis Herbert Marcuse (1898-1979) mengenai masyarakat satu dimensi (one-dimensional society).

Perlu diketahui bahwa Adorno dan Marcuse merupakan cendekiawan Jerman abad XX yang gagasannya mempengaruhi sejarah serta dinamika atau proses sosial di dunia. Mazhab Frankfurt dibentuk sebelum pemerintahan Nazi di Jerman bertumbuh dan berkembang. Pada waktu itu para cendekiawan melakukan penelitian untuk memahami gelombang irasionalisme politik dan totalitarianisme. 

Mereka menggunakan gagasan Freud untuk mendasari analisis sosiologis (sociological analysis). Terkait hal ini, mereka berupaya menganalisis kekuatan politik (political power). Selain itu, mereka menggunakan gagasan Freud untuk memahami psikopatologi fasisme (psychopathologies of fascism), melacak patologi rasionalitas, budaya dan politik pasca-liberal, dan kebuntuan sosiologis modernitas.

HORKHEIMER DAN ADORNO: DIALEKTIKA PENCERAHAN

Adorno dan Horkheimer menulis buku berjudul Dialektika Pencerahan (Dialectic of Enlightenmen) pada 1944 ketika berada di Amerika Serikat. Adorno dan Horkheimer berupaya memahami serta menunjukkan sisi gelap zaman modern (the dark side of modern age) dengan cara pandang filosofis dan sosiologis. Terkait hal ini, Adorno dan Horkheimer menegaskan, alih-alih memasuki situasi dan kondisi yang sejati, manusia justru tenggelam ke dalam barbarisme baru.

Akal budi pada dasarnya mempunyai peranan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia. Namun, pada periode Pencerahan, akal budi justru menjadi sumber penyakit (sickness). Terkait hal ini, Pencerahan ditandai dengan dua peristiwa besar dalam sejarah kehidupan manusia. Pertama, keragaman politik dan arus intelektual yang mengakibatkan pergolakan sosial di Eropa (revolusi Prancis dan Rusia). Kedua, sains modern yang berwujud inovasi teknologi (teleskop, mikroskop, kompas, dan jam).

Adorno dan Horkheimer melihat bahwa pada periode Pencerahan terjadi pergeseran terkait sikap manusia terhadap diri sendiri, orang lain, dan dunia luar. Selain itu, dalam rangka mengatur kehidupannya, masyarakat tradisional beralih ke mitologi. Sedangkan masyarakat modern menyambut dan menggunakan kekuatan akal budi sebagai penentu serta penjamin hidupnya.

Menurut Adorno dan Horkheimer, Pencerahan serta mitos tidak terpisah, keduanya saling terkait. Oleh karena itu, tidak tepat apabila meyakini bahwa alam pikiran modern menghancurkan bangunan mitos. Pada tataran tertentu, ketika tatanan sosial mendefinisikan diri sebagai yang tercerahkan, maka rasionalitas akan mudah terjerat dan masuk ke dalam bangunan mitos.

Keyakinan tersebut membuat Adorno dan Horkheimer percaya bahwa Pencerahan berupaya sedemikian rupa untuk membebaskan manusia dari belenggu ketakutan. Sehingga manusia sungguh-sungguh menjadi pribadi yang berdaulat. Namun, kebebasan sebagaimana dikehendaki dan dijanjikan Pencerahan justru mengakibatkan kehancuran.

Adorno dan Horkheimer menilai bahwa Pencerahan bersifat totaliter (totalitarian). Jika dikaji secara mendalam, Pencerahan menonjolkan konsep dominasi (concept of domination). Hal ini nampak ketika akal budi instrumental, teknologi, dan sains mewarnai hidup manusia. Dominasi tersebut dilakukan terhadap diri sendiri dan terhadap yang lain.

Selain itu, kemajuan sosial memperbudak kodrat manusia. Bahkan peningkatan produktivitas ekonomi yang dikendalikan kelompok sosial tertentu mengakibatkan ketimpangan. Dalam situasi dan kondisi seperti itu, manusia terus-menerus mendominasi alam. Hidup manusia menjadi semakin berantakan di mana berbagai macam informasi membanjirinya, memungkinkannya pintar sekaligus bodoh.

Menurut Adorno dan Horkheimer, masyarakat mengamankan diri dan relasi sosial dengan cara mendominasi alam. Sedangkan identitas individu diubah, dari naluri buta menjadi kesadaran diri reflektif. Namun, tindakan manusia mendominasi alam justru membuat dirinya termutilasi, tidak bahagia, dan tidak bebas.

Perlu diketahui bahwa salah satu penyakit pada periode Pencerahan adalah fasisme dan anti-Semitisme. Sebagaimana dikatakan Adorno dan Horkheimer, kebencian terhadap orang-orang Yahudi merupakan proyeksi dari tekanan batin masyarakat modern terhadap kelompok yang terpinggirkan.    

PSIKOANALISIS FREUD

Salah satu ciri khas teori kritis Mazhab Frankfurt yaitu menggunakan psikoanalisis Freud untuk mempelajari identitas, politik, budaya, dan ideologi. Secara khusus mereka menggunakannya untuk mengkaji relasi antara kedirian dan masyarakat, keluarga dan sosialisasi, ideologi dan dominasi politik. Menurut Adorno, psikoanalisis berguna untuk mengeksplorasi secara rinci proses pembentukan identitas manusia yang terjadi pada akhir abad XIX-XX. Sedangkan menurut Marcuse, psikoanalisis Freud berguna untuk mengembangkan teori sosial dalam kaitannya dengan masyarakat modern.

FROMM: TAKUT AKAN KEBEBASAN

Erich Pinchas Fromm (1900-1980) merupakan anggota Institut Psikoanalitik Frankfurt (Frankfurt Psychoanalytic Institute) yang berupaya mengintegrasikan gagasan Freud tentang ketidaksadaran (unconscious) dengan sosiologi marxis. Selain itu, Fromm memperoleh pengaruh dari Wilhelm Reich (1897-1957) yang menulis buku Analisis Karakter (Character Analysis). Reich membuat korelasi antara masyarakat dan sistem atau fungsi alam bawah sadar.

Fromm melihat bahwa psikoanalisis Freud berguna untuk melengkapi gagasan marxisme. Secara khusus untuk memahami struktur sosial yang mempengaruhi dan membentuk kehidupan serta pribadi manusia. Sebagaimana dikatakan Fromm, pribadi manusia harus dipahami dalam relasinya dengan yang lain.

Fromm menegaskan bahwa sistem sosial (the social system) membentuk kehidupan masyarakat supaya selaras dengan situasi dan kondisi ekonomi serta budaya yang berkembang dalam sejarah. Terkait hal ini, masyarakat feodal menghasilkan pribadi manusia yang sesuai dengan perannya, budak (serfs) dan tuan (lords). Sedangkan kapitalisme pasar (market capitalism) mengelompokkan pribadi manusia ke dalam dua kategori, yaitu kapitalis (capitalists) dan pekerja (worker). Selanjutnya, kapitalisme monopoli (monopoly capitalism) menjadikan pribadi manusia sekadar sebagai konsumen (consumers).

Menurut Fromm keluarga merupakan agen psikologis masyarakat. Karena keluarga diyakini sebagai institusi yang mampu menanamkan kontradiksi eksternal dan sosial. Menopang kondisi ekonomi sebagai ideologi. Membentuk persepsi diri yang patuh atau taat dan tidak menonjolkan diri. Sebagaimana dikatakan Fromm, efek destruktif dari kapitalisme akhir bukan sekadar berpusat pada mekanisme dan institusi ekonomi. Melainkan juga mencakup penambatan dominasi dalam kehidupan batin dan perjuangan psikodinamik setiap pribadi manusia.

Fromm secara signifikan memperoleh pengaruh dari Harry Stack Sullivan (1892-1949) yang menekankan faktor sosial serta budaya yang membentuk kedirian (selfhood) manusia. Menurut Fromm, kedirian harus dipahami sebagai proses interpersonal (interpersonal processes). Karena kehidupan psikis tersusun dari konfigurasi emosional yang berasal dari relasi antara diri sendiri dengan yang lain. Selain itu, pengorganisasian diri diatur melalui kesadaran, akal budi, dan imajinasi.

Sebagaimana dikatakan Fromm, ketidakberdayaan (helplessness) atau isolasi (isolation) merupakan bangunan utama relasi antara pribadi manusia dengan yang lain. Terkait hal ini, relasi dekat bisa bersifat progresif atau regresif. Relasi progresif dengan yang lain melibatkan kualitas emosional berupa kepedulian, empati, dan kasih. Sedangkan relasi regresif dengan yang lain dilatarbelakangi oleh penolakan keterpisahan dari pribadi manusia.

Fromm mengusulkan teori psikoanalitik yang lebih terbuka terhadap relasi interpersonal dan situasi serta kondisi sosial. Karena persoalan pribadi manusia yang terkait patologi relasi sosial, berakar pada pola dominasi budaya yang sudah ada. Selain itu, kehidupan ekonomi, politik, dan budaya diliputi oleh kekusaan serta dominasi.

Tatanan sosial kontemporer merusak konstitusi diri (self-constitution). Terkait hal ini, Fromm optimis bahwa masih ada kemungkinan untuk menghadapi realitas kehidupan yang menyakitkan. Oleh karena itu, penting bagi manusia untuk melepaskan diri dari pengaruh yang merusak zaman kontemporer. Manusia harus hidup otentik, kreatif dan responsif, dan terlibat dalam kebersamaan atau kehidupan sosial.

Sebagaimana dikatakan Fromm, kemampuan tersebut bergantung pada pemahaman mengenai keterpisahan dan kesendirian. Hal ini berhubungan dengan realitas yang biasanya dialami manusia sebagai isolasi atau kekosongan dalam budaya modern. Selain itu, Fromm mengembangkan dimensi moral sebagai visi yang memberi energi untuk emansipasi. Semakin manusia memperoleh kemungkinan keberadaan otentik melalui introspeksi dan refleksi diri, maka tatanan sosial akan bertumbuh serta berkembang.

Meskipun studi awal Fromm mengenai integrasi pribadi manusia ke dalam kapitalisme diterima secara luas oleh anggota Mazhab Frankfurt, dianognis selanjutnya yang lebih sosiologis mengenai sifat mendasar manusia yang diputarbalikkan oleh kapitalisme ditolak dengan keras. Misalnya, Marcuse menuduh Fromm membatalkan kekuatan kritis dari gagasan Freud yang paling penting. Seperti ketidaksadaran, represi, dan seksualitas kekanak-kanakan. Menurut Marcuse, revisionisme Fromm menjamin kelancaran fungsi ego dengan menggantikan sifat dislokasi dari ketidaksadaran.

Fromm mereduksi relasi yang kompleks dan kontradiktif antara diri serta masyarakat menjadi reproduksi mekanis yang membosankan. Karena subjek secara represif dibentuk melalui agen sosialisasi tertentu yang melabeli nilai preskriptif masyarakat ke dalam jiwa manusia dan dengan demikian merusak kebutuhan esensial diri manusia. Hal ini sejatinya menghilangkan peran mendalam dari imajinasi bawah sadar dan meninggalkan beragam kemungkinan manusia untuk kreatif serta merefleksikan diri secara kritis.

ADORNO: PRIBADI OTORITER, ANTI-SEMITISME, DAN PSIKODINAMIKA MODERNITAS

Adorno menganggap penting mempelajari patologi budaya (terutama fasisme) secara sosiologis dan psikologis. Menurut Adorno, meneliti peran otoritarianisme irasional dalam kebangkitan fasisme dan anti-Semitisme di Eropa selama Perang Dunia II merupakan sesuatu yang penting secara politik. Adorno menemukan dalam pemimpin fasis, rezim fasis, dan propaganda fasis, logika psikodinamik yang mempunyai karakter sadomasokis (sado-masochistic character). Karakter sadomasokis merupakan keinginan untuk menghancurkan dan merendahkan yang lain.

Menurut Adorno, ketidaksadaran yang tertekan terbentuk oleh situasi dan kondisi sosial serta politik. Karena keyakinan politik, ekonomi, dan sosial membentuk pola yang luas dan koheren. Terdapat tiga elemen kunci dalam tesis Adorno mengenai otoritarianisme irasional yang menyebar ke seluruh masyarakat modern. Pertama, akhir individu (end of the individual). Kedua, kemenangan ketidaksadaran atas kesadaran diri. Ketiga, tindakan membunuh yang terkait kecenderungan fasis atau identitas otoriter.

Kebangkitan otoritarianisme irasional berasal dari pemahaman bahwa telah terjadi perubahan besar dalam cara masyarakat membentuk individu. Selain itu, masyarakat kontemporer mengalahkan individu melalui budaya massa yang monoton dan standar. Terkait hal ini, masyarakat kontemporer menghasilkan tipe karakter sosial otoriter.

Pada dasarnya individu rentan terhadap ideologi fasis. Menurut Adorno, ketika individu berhadapan dengan kelompok besar, ia tidak mengidentifikasi cita-cita egonya (ego-ideals) dan mengarahkan diri pada cita-cita kelompok (group ideals). Identifikasi dengan kelompok mengakibatkan represi pada individu. Sebagaimana dikatakan Adorno, propaganda fasis mengubah agresi menjadi rasisme dan kebencian terhadap yang lain.

Perlu diketahui bahwa pemimpin fasis menjadi penjamin ikatan sosial sejauh ia tidak lagi mewakili otoritas sosial yang superior. Namun, pemimpin fasis jarang menampilkan diri sebagai figur otoritas tradisional. Pemimpin fasis cenderung menampilkan diri sebagai orang yang menantang bentuk tradisional otoritas patriarki.

Individu didominasi oleh impuls bawah sadar yang merana dalam cengkeraman tatanan sosial yang kuat. Terkait hal ini, teori sosial berfokus pada individu dan memanfaatkan aspek aktivitas manusia yang tidak disadari untuk penelitian sosial. Dalam sebuah penelitian, dimensi pribadi ideologi fasis mempunyai sembilan ciri.

Pertama, konvensionalisme (conventionalism), ketaatan pada nilai-nilai kelas menengah dan tidak fleksibel terhadap yang lain. Kedua, penyerahan otoriter (authoritarian submission), orientasi yang tidak kritis dan tunduk pada figur otoritas. Ketiga, agresi otoriter (authoritarian aggression), kecenderungan mencari orang-orang yang melanggar nilai-nilai konvensional dan menghukumnya.

Keempat, anti-intraception (penolakan imajinasi, kreativitas, dan berpikiran emosional). Kelima, stereotip dan takhayul (stereotype and superstition), percaya pada takdir dan pengaturan dunia melalui stereotip yang kaku. Keenam, kekuasaan dan ketangguhan (power and toughness), penyataan kekuatan yang berlebihan dan membuat dikotomi dominasi-penyerahan, kuat-lemah, dan pemimpin-pengikut.

Ketujuh, kehancuran dan sinisme (destructiveness and cynicism), permusuhan dan kebencian terhadap yang lain. Kedelapan, proyektivitas (projectivity), proyeksi aspek emosional yang tidak diinginkan dari diri sendiri ke orang lain. Kesembilan, seks (sex), perhatian berlebihan terhadap aktivitas seksual orang lain.

Kepribadian otoriter telah dikritik sebagai upaya mereduksi fenomena sosial otoritarianisme yang kompleks ke tingkat psikologi individu. Terkait hal ini, Adorno menilai bahwa pembentukan identitas dan terutama patologi diri tertanam dalam struktur kehidupan sosial. Sedangkan analisis ciri-ciri kepribadian dalam kaitannya dengan otoritas (secara khusus anti-Semitisme), hanya dapat dilakukan secara memadai dengan referensi sosiologis untuk melakukan perubahan dalam keluarga, budaya, dan ekonomi.

MARCUSE: MASYARAKAT SATU DIMENSI

Menurut Marcuse, logika kapitalisme dipaksakan melalui budaya periklanan, pemasaran, dan hiburan. Kapitalisme beroperasi pada tataran yang tidak disadari (unconscious level). Hal ini disebut sebagai desublimasi represif (repressive desublimation). Berdasarkan sistem kapitalisme, masyarakat terlibat dalam lanskap komoditas dan upah serta harga dan keuntungan. Akibatnya, masyarakat merasa puas ketika selera (appetites) dan keinginan (desires) diatur serta dikendalikan.

Sebagaimana ditegaskan Marcuse, budaya modern pada dasarnya bersifat represif. Dalam upaya mengatasi persoalan tersebut, Marcuse membuka perspektif baru dalam teori sosial kritis dengan mengacu pada psikoanalisis Freud. Terkait hal ini, Marcuse melihat kapitalisme merambah ke dalam pengalaman hidup dan subjektivitas pribadi manusia. Kapitalisme mengejawantah dalam rupa mekanisasi dan standarisasi teknologi yang tertanam di dalam identitas manusia.

Pada 1950 masyarakat Amerika masuk kategori paling kaya dan maju dalam bidang industri. Namun, kemakmuran ekonomi tersebut bertolak belakang dengan kehidupan masyarakat yang dibatasi (constrained), terutama terkait aspek emosional dan relasi interpersonal (interpersonal relationship). Menurut Marcuse, represi yang dialami masyarakat kontemporer dalam bentuk penindasan terus meningkat. Selain itu, kehidupan masyarakat diwarnai dengan harga (prices) dan keuntungan (profits) serta uang (money) dan korporasi monopoli (monopolistic corporations).

Marcuse membedakan dua macam represi, yaitu represi dasar (basic repression) dan represi surplus (surplus repression). Represi dasar mengacu pada penolakan menghadapi kehidupan sosial dan tugas-tugas budaya. Menurut Marcuse, penindasan diperlukan dalam rangka mengaktualisasikan sosialisasi dan tatanan sosial yang efektif. Sedangkan represi surplus mengacu pada intensifikasi pengekangan diri (self-restraint) yang disebabkan oleh eksploitasi kapitalis dan relasi kekuasaan yang asimetris.

Marcuse meyakini bahwa represi merupakan hasil dari prinsip kinerja (performance principle), di mana tuntutan sosial budaya tertentu dilembagakan oleh tatanan ekonomi kapitalisme. Prinsip kinerja kapitalis tersebut membuat manusia memandang yang lain sebagai benda (things) atau objek (objects). Pada abad XX, kehidupan pribadi dan sosial manusia ditarik menuju dua arah dalam waktu bersamaan. Terkait hal ini, muncul masyarakat industri maju. Selain itu, perjumpaan manusia dengan budaya menjadi lebih dekat, kompleks, dan halus.

Pada era konsumerisme massa dan budaya populer, tatanan sosial baru membatasi individualitas, perbedaan pendapat, dan oposisi. Selain itu, kapitalisme maju menghasilkan masyarakat satu dimensi (one-dimentional society), di mana kebutuhan masyarakat sebagai konsumen bersifat palsu (false). Selanjutnya, manusia diintegrasikan ke dalam sistem dominasi massa dan ketidaksetaraan sosial. Dengan kata lain, ciri menonjol dunia modern adalah kesesuaian (conformity). Akibatnya, desublimasi yang merajalela dalam masyarakat industri maju mengungkap fungsi konformisnya.

Sebagaimana dikatakan Marcuse, prinsip kinerja menghasilkan budaya yang diperlukan untuk transformasi masyarakat. Sedangkan represi surplus menghasilkan kemajuan teknologi industri. Selain itu, kemakmuran materi yang dihasilkan industrialisasi kapitalis Barat dan ilmu teknologi membuka jalan bagi terurainya represi. Terkait hal ini, tindakan mengatasi dominasi budaya berdampak pada lepasnya kekuatan bawah sadar manusia yang tertekan.

Rekonsiliasi antara budaya dan alam bawah sadar mengantar manusia pada realitas baru yang sensual. Sebuah realitas yang disebut Marcuse sebagai rasionalitas libidinal (libidinal rationality). Rasionalitas libidinal pada hakikatnya bersifat abstrak. Tetapi sebagai sebuah konsep, rasionalitas libidinal memungkinkan pembalikan radikal dari surplus represi. Rasionalitas libidinal dapat diartikan sebagai pendorong komunikasi emosional (emotional communication) dan keintiman (intimacy).

PENUTUP

Mazhab Frankfurt menggunakan gagasan psikoanalisis Freud sebagai pendasaran untuk melakukan penyelidikan psikodinamika identitas, politik, budaya, dan ideologi. Sedangkan Fromm menggunakan psikoanalisis Freud untuk mengkaji peran keluarga sebagai mediator antara pribadi dan masyarakat. Adorno juga menggunakan gagasan Freud untuk menganalisis fasisme, anti-Semitisme, dan irasionalisme otoriter. Selain itu, Marcuse menggunakan gagasan Freud untuk mengembangkan teori sosial dalam kaitannya dengan masyarakat modern.

Menurut Adorno dan Marcuse, kapitalisme merusak peran keluarga dalam pembentukan identitas. Karena kapitalisme telah memperkuat otonomi pribadi manusia dan memicu terjadinya penindasan. Bahkan pada tataran tertentu masyarakat yang kuat cenderung mendominasi yang lain. Marcuse menggambarkan masyarakat modern sebagai masyarakat satu dimensi (one-dimensional) yang menempati suatu ruang lingkup tertentu. Dalam situasi dan kondisi masyarakat tersebut, eksistensi manusia ditindas. Akibatnya, manusia mengalami penderitaan tingkat represi surplus (surplus repression) dan trauma. Penderitaan dan trauma tersebut disebabkan oleh sistem kerja kapitalis.

Menurut Marcuse, semua bentuk sosialitas mengandung kemungkinan utopis. Bahkan rezim sosial yang paling represif tidak mampu memadamkan imajinasi radikal yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana dikatakan Marcuse, masyarakat yang direvitalisasi justru akan mengimani rasionalitas libidinal. Oleh karena itu, penting untuk mengupayakan rekonsiliasi antara akal budi dan hasrat atau keinginan.

SUMBER BACAAN

Lemert, Charles C. dan Anthony Elliott. Introduction to Contemporary Social Theory. New York: Routledge, 2014.

Diskursus Filsafat