Yohanes Wahyu Prasetyo
(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)
Dewasa ini nampak tanda-tanda (signs) kehancuran yang mempengaruhi bumi serta manusia. Proyek yang didasarkan pada pertumbuhan material tanpa batas dan terintegrasi secara global, mengorbankan manusia serta menghabiskan sumber daya alam dan membahayakan generasi mendatang. Sepanjang keberadaannya, bumi mengalami bencana alam, tetapi ia selalu bertahan. Bumi senantiasa menjaga prinsip dan keragaman kehidupan.
Menurut Leonardo Boff, ada peluang keselamatan, tetapi manusia harus mengikuti jalan panjang. Jalan di mana manusia harus mengubah kebiasaan sehari-hari dan politik, kehidupan pribadi dan publik, praktik budaya dan spiritual. Meningkatnya degradasi bumi merupakan tanda krisis yang terjadi karena ketidakdewasaan manusia. Sehingga penting memasuki kedewasaan dan menunjukkan tanda-tanda kebijaksanaan (wisdom). Jika tidak melakukannya, maka manusia tidak dapat menjamin masa depan yang menjanjikan bagi dirinya sendiri.
Manusia sedang mengalami akhir dari suatu jenis dunia. Sebagaimana dikatakan Boff, manusia menghadapi krisis yang mempengaruhi peradaban. Oleh karena itu, dibutuhkan paradigma baru untuk hidup bersama. Paradigma yang didasarkan pada relasi yang lebih baik dengan bumi, menghormati semua yang ada—yang hidup dan yang tidak hidup. Hanya dengan demikian, manusia mempunyai harapan baru (new hope).
KRISIS PERADABAN
Tanda paling dominan dewasa ini yaitu “penyakit” yang tersebar luas mempengaruhi peradaban. Hal ini nampak melalui ketidakpedulian manusia yang termanifestasi dalam bentuk pengabaian (abandonment). Menurut Boff, terdapat sejumlah fenomena yang menunjukkan krisis peradaban. Pertama, mengabaikan nyawa anak-anak yang tidak bersalah, menjadikannya sumber kekuatan produksi yang ditujukan untuk pasar global. Laporan pada 1998 dari UNICEF (United Nations Children’s Fund) mengungkapkan data yang mengerikan, di mana dua ratus lima puluh juta anak bekerja. Di Amerika Latin, tiga dari lima anak bekerja. Sedangkan di Afrika, satu dari tiga anak bekerja. Juga di Asia, satu dari dua anak bekerja. Anak-anak tersebut merupakan budak kecil (small slaves) yang masa kanak-kanak, kepolosan, dan mimpinya ditolak.
Kedua, mengabaikan nasib kaum miskin dan terpinggirkan yang dilanda kelaparan. Mereka tidak selamat dari kesengsaraan dan berbagai penyakit. Ketiga, tidak peduli terhadap nasib para penganggur dan pensiunan, terutama jutaan orang yang dikeluarkan dari sistem produksi. Jutaan orang tersebut tidak memiliki hak istimewa (the privilege of being) dalam sistem kapitalis. Mereka kehilangan hak istimewa, dieksploitasi dengan upah minimum.
Keempat, meninggalkan perbuatan baik yang dipengaruhi dominasi neoliberalisme, mengagungkan individualisme dan kepemilikan pribadi (private property). Meremehkan solidaritas dan mencemooh cita-cita kebebasan serta martabat manusia. Situasi dan kondisi tersebut diperparah dengan jatuhnya sosialisme dan runtuhnya blok Soviet. Terlepas dari kontradiksi yang ada di dalamnya, sosialisme dan blok Soviet aktif mempertahankan retorika sosial serta menjaga hati nurani kerja sama dan internasionalisme tetap menyala.
Kelima, mayoritas penduduk tercabut secara budaya dan terasing secara sosial. Terdapat dominasi masyarakat berdasarkan tontonan, penampilan dangkal dan hiburan. Keenam, mengabaikan aspek spiritual manusia. Sehingga penting mengejawantahkan semangat kebaikan yang memupuk logika hati (the logic of the heart) dan menimbulkan rasa kagum terhadap segala sesuatu yang ada. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisir kekerasan yang ditampilkan melalui sarana komunikasi.
Ketujuh, mengabaikan kepentingan publik, di mana kebijakan yang buruk (poor policies) diterapkan dalam mengatasi kemiskinan. Selain itu, investasi jaminan sosial untuk penyediaan makanan, kesehatan, pendidikan, dan perumahan yang layak pada umumnya tidak sesuai. Hal ini menunjukkan tingkat moralitas kehidupan publik yang memalukan, diwarnai korupsi dan perebutan kekuasaan serta mengutamakan kepentingan korporasi.
Kedelapan, mengabaikan sikap hormat. Jika keadaan terus berlanjut, maka lebih dari separuh spesies hewan dan tumbuhan akan musnah. Hal ini dikemukakan oleh laporan tentang keadaan bumi yang diterbitkan di Amerika Serikat, The State of the Environment Atlas. Hilangnya spesies melambangkan hilangnya perpustakaan pengetahuan (library of knowledge) yang dikumpulkan alam semesta (kerja keras evolusi) selama lima belas miliar tahun.
Kesembilan, mengabaikan perlindungan terhadap rumah kita bersama (our common home), bumi. Tanah diracuni, udara tercemar, air tercemar, hutan dihancurkan, spesies makhluk hidup dimusnahkan, dan tabir ketidakadilan serta kekerasan menyelimuti dua pertiga populasi manusia. Prinsip penghancuran otomatis sedang bekerja, menghentikan keseimbangan ekologis bumi dan membawa kehancuran bagi biosfer serta mengancam kelangsungan perkembangan spesies homo sapiens dan demens.
Kesepuluh, mengembangkan perumahan untuk keluarga kecil, di mana mereka hidup dalam lingkungan tidak sehat. Jutaan orang tinggal di kota-kota kumuh tanpa standar hidup yang layak. Selain itu, orang muda sering kali menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan persoalan pribadi dan publik. Padahal persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui dialog dan saling pengertian (mutual understanding). Juga karena terbebani oleh gadget—teknologi, manusia hidup di masa yang kejam dan tidak masuk akal. Dilihat dari sudut pandang tertentu, manusia mundur ke barbarisme yang mengerikan.
SOLUSI YANG TIDAK MEMADAI
Ada yang kehilangan kepercayaan pada kemampuan manusia beregenerasi dan masa depan yang lebih baik. Melihat manusia lebih dalam aspek demens daripada sapiens. Berdiam dalam kepahitannya sendiri. Sedangkan yang lain mempunyai keyakinan dan harapan (faith and hope), tetapi mengusulkan solusi yang tidak memadai. Tidak sampai pada penyebab, sekadar mengobati gejalanya. Misalnya, menunjukkan bahwa penyakit yang tersebar luas dalam peradaban adalah akibat dari ditinggalkannya agama (religion). Hal ini didasarkan pada keyakinan, jika Anda melupakan Tuhan, segalanya mungkin. Menurut Boff, manusia zaman modern memasuki proses sekularisasi yang dipercepat, tidak menuntut Tuhan melegitimasi dan membenarkan fakta sosial. Agama bertahan, tetapi tidak mampu menjadi sumber transenden bagi manusia.
Manusia modern menghasilkan sindrom Tuhan (God syndrome). Manusia modern berperilaku seolah-olah ia adalah Tuhan. Melalui proyek tekno-sains, manusia mengira bisa melakukan apa saja, tidak ada batas untuk memahami, menguasai, dan merancang segalanya. Sebagaimana dikemukakan Boff, keinginan tersebut memberikan tekanan besar pada individu manusia. Manusia tidak mampu mengatasi berbagai perkembangan. Bahkan manusia menunjukkan sisi destruktif, mengancam nasib bumi dan penghuninya. Sindrom Tuhan mempengaruhi manusia dan membuatnya stres.
Boff meyakini, agama dapat merevitalisasi suatu aspek dari keberadaan manusia. Merevitalisasi ruang kelembagaan yang sakral (the sacred) dan menekankan kekuatan sosio-historisnya. Tetapi agama belum menghasilkan cara hidup yang lebih baik dan berbelas kasih. Agama ipso facto tidak melahirkan spiritualitas yang mampu menghubungkan kembali segala sesuatu dan menjadi sumber Mata Air (Fountain). Poin pentingnya tidak ada hubungannya dengan agama, tetapi berkaitan dengan spiritualitas yang mendasari agama-agama, yang menyatukan, menghubungkan, dan mengintegrasikan. Menurut Boff, spiritualitas, dan bukan agama, membantu merancang paradigma baru peradaban (new paradigm of civilization). Sebagai tanggapan terhadap sindrom Tuhan, manusia harus menyadari kelahiran Tuhan (the birth of God) di dalam diri setiap orang dan sejarah manusia serta pencerahan-Nya di alam semesta.
Kelompok lain membela pandangan bahwa manusia harus memperkuat moral dan menjunjung tinggi tradisi untuk menyelesaikan krisis dewasa ini. Berdasarkan solusi tersebut, jutaan orang memobilisasi diri untuk mempertahankan perdamaian dan melawan perang serta mendukung teknologi baru yang ramah lingkungan. Boff menegaskan, moral itu penting, tetapi jika tidak lahir dari definisi baru tentang manusia dan misinya di alam semesta, jika lahir tanpa konteks perdamaian serta sinergi dengan bumi dan orang-orang yang menghuni bumi, maka moral tersebut bisa merosot menjadi moralitas yang menjemukan serta munafik dan menjadi mimpi buruk (nightmare). Etika baru mengandaikan perspektif baru. Oleh karena itu, penting menyelidiki perspektif baru tersebut.
Sedangkan yang lain berpikir bahwa manusia membutuhkan pendidikan, sekolah di semua tingkatan. Boff juga meyakini pentingnya berbagi pengetahuan, meningkatkan pengetahuan manusia dan mendemokratisasi proses pemberdayaan warga negara. Tanpa pengetahuan, manusia tidak dapat mengatasi kelaparan, penyakit, dan miskomunikasi. Pengetahuan pada hakikatnya memberdayakan manusia. Selain itu, pengetahuan memungkinkan manusia melampaui tata surya. Selanjutnya, berhadapan dengan berbagai persoalan yang ada, apakah manusia harus menggunakan sains dan teknologi? Menurut Boff, manusia harus melampaui ruang lingkup sains dan teknologi. Dibutuhkan filosofi keberadaan (philosophy of being) dan refleksi spiritual yang dapat memberitahukan kepada manusia mengenai arti semua makna serta bagaimana hidup bersama di bawah pesona hukum fundamental alam semesta.
Menurut Boff, hukum fundamental tersebut adalah sinergi, kerja sama dalam solidaritas kosmis (cosmic solidarity). Sehingga yang lebih penting dari mengetahui adalah jangan kehilangan kapasitas untuk belajar lebih banyak. Sedangkan yang lebih penting daripada hasrat akan kekuasaan adalah kebutuhan akan kebijaksanaan (the need for wisdom). Karena hanya kebijaksanaan yang mampu mempertahankan kekuasaan dalam karakter instrumentalnya dan menggunakannya sebagai sarana memperkuat kehidupan serta melindungi bumi.
Semua solusi yang disebutkan di atas, dengan segala kelebihannya, tidak menyentuh inti persoalan yang ada. Jika diperhatikan, misalnya retakan pada dinding, tidak cukup apabila sekadar menambalnya dengan semen. Sesuatu yang lebih penting adalah melihat fondasi (yang tidak terlihat) dan mendeteksi penyebab retakan serta mengambil solusi berdasarkan sumber persoalan. Bukankah ini akan menjadi sikap yang lebih rasional dan bijaksana? Jika anak Anda mulai menunjukkan masalah dengan studinya, menggunakan narkoba, dan pulang ke rumah pada dini hari, maka tidak ada gunanya menyalahkan serta menghukumnya. Mungkin masalahnya bukan pada anak, tetapi karena relasi yang hancur dalam keluarga, ketegangan antara ayah dan ibu, dan krisis keuangan yang dihadapi orang tua.
KETIDAKCUKUPAN REALISME MATERIALIS
Menurut Boff, di balik bangunan modernitas ilmu pengetahuan dan teknologi, pandangan filosofis yang sedang bekerja yaitu realisme materialis (materialist realism). Disebut realisme karena realitas ada dalam bentuk independen, tidak bergantung pada subjek yang mengamatinya. Namun, pada hakikatnya realitas tidak berdiri sendiri. Tidak ada objek tanpa subjek dan tidak ada subjek tanpa objek. Terdapat kesatuan sakral dari realitas. Sehingga realisme materialis tidak realistis, mereduksi ruang lingkup realitas, tidak memasukkan subjektivitas, hati nurani, kehidupan, dan spiritualitas.
Sejak dahulu semua bangsa dan budaya memiliki perasaan kagum pada realitas ketuhanan yang menyelimuti seluruh alam semesta. Menghayati makna yang sakral dalam segala hal dan memupuk spiritualitas sebagai kapasitas batin yang menyatukan segala sesuatu dengan Sumber Ilahi (Divine Fountain). Namun, dalam empat abad terakhir, manusia buta terhadap aspek-aspek tersebut, dimiskinkan dalam mewujudkan dirinya di dunia. Sebagaimana dikemukakan Boff, fenomena tersebut mengecilkan realitas hingga seukuran panca indera, indera yang diatur oleh penalaran analitis (analytical reasoning).
Pandangan filosofis tersebut juga disebut materialis (dalam arti kuno), meyakini bahwa materi (atom, partikel elementer, ruang hampa kuantum, dll) merupakan satu-satunya realitas yang konsisten, di mana fenomena yang tersisa adalah derivasi sekunder dari realitas primer. Menurut Boff, pandangan filosofis ini tidak mengasimilasi fakta bahwa materi bukan sekadar materi, tetapi energi stabil yang diwarnai interaksi kompleks. Materi merupakan ibu dari segala sesuatu. Namun, tidak ada kesadaran bahwa yang terlihat (visible) adalah bagian dari yang tidak terlihat (invisible).
Fisika kuantum menunjukkan relasi kuat antara segala sesuatu dengan yang lainnya dan relasi yang tidak dapat dihancurkan antara realitas dengan pengamat. Boff meyakini, tidak ada realitas apabila manusia memutuskan pikiran yang berelasi dengannya. Karena keduanya adalah dimensi dari realitas kompleks yang satu dan unik. Terkait hal ini, kosmologi modern menunjukkan bahwa alam semesta secara matematis tidak konsisten tanpa keberadaan Roh Kudus (Holy Spirit) dan Pikiran (Mind) yang mengatur secara tidak terbatas.
Pandangan filosofis baru menampilkan dirinya sebagai sesuatu yang holistik, ekologis, dan spiritual. Menawarkan alternatif ketika berhadapan dengan realisme materialis. Karena ia memiliki kemampuan menyerahkan kepada manusia suatu perasaan bahwa mereka terhubung dengan keluarga manusia, bumi, alam semesta, dan tujuan ilahi (divine purpose). Selain itu, filosofi baru tersebut mengatasi persoalan krusial terkait kecerobohan (carelessness). Menurut Boff, kecerobohan nampak dalam sejumlah hal. Pertama, terputusnya relasi dengan Yang Utuh (the Whole). Kedua, kekosongan hati nurani (the emptiness of conscience) yang tidak lagi melihat dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari alam semesta. Ketiga, hilangnya perasaan suci (sacred feeling) terhadap kosmos dan entitasnya. Keempat, ketidaksadaran akan kesatuan segala sesuatu yang berlabuh dalam misteri Pencipta dan Penyedia Agung (Supreme Creator and Provider).
Semua persoalan tersebut harus direnungkan dengan hati-hati sampai dapat mengembangkan hati nurani yang baru. Hal ini merupakan syarat apabila ingin menumbuhkan sikap dewasa dan bijaksana yang dapat membantu mencari jalan lain, jalan yang berbeda dari yang manusia jalani saat ini. Sebagaimana dikemukakan Boff, setelah berabad-abad dalam budaya materialistis, sekarang manusia dengan cemas mencari spiritualitas yang sederhana dan sehat. Spiritualitas yang didasarkan pada kesadaran akan misteri alam semesta dan manusia. Spiritualitas berdasarkan etika tanggung jawab (ethic of responsibility), solidaritas dan kasih sayang. Spiritualitas yang didirikan dalam kepedulian, nilai intrinsik dari setiap hal, tugas yang dilakukan dengan baik, kompetensi, kejujuran, dan transparansi niat.
ARAH KE JALAN YANG BENAR
Menurut Boff, arah ke jalan yang benar (directions to the right path) harus diilhami sumber dan visi untuk masa depan bumi serta manusia. Terkait hal ini, jawabannya tidak ditemukan dalam buku kuno, orang bijak, dan guru yang mengajarkan teknik spiritualitas. Juga tidak ditemukan dalam ramalan atau upacara inisiasi ritual dan magis. Meskipun demikian, manusia harus belajar dari semua jawaban tersebut. Masuk lebih dalam dan melampaui jawaban tersebut, menghindari solusi yang bersumber pada satu alasan. Dengan kata lain, penting mencakup berbagai aspek dalam rangka memperkaya pemahaman yang dimiliki.
Jawaban mengenai arah ke jalan yang benar dirumuskan oleh semua orang yang melakukan perbuatan penting di mana pun dan dalam setiap situasi dunia saat ini. Oleh karena itu, sebagaimana dikemukakan Boff, tidak ada titik tolak tunggal yang sama untuk semua jawaban yang dikemukakan. Sehingga ada banyak titik tolak di balik jawaban-jawaban tersebut. Mereka diarahkan oleh cara hidup dan tindakan baru (new mode of living and of acting), persepsi baru tentang realitas serta pengalaman baru akan keberadaan. Mereka muncul dari jalur kolektif, jalur yang dibuat saat kita berjalan.
Paradigma baru muncul secara bertahap, paradigma penyambungan kembali (paradigm of re-connection). Hal ini terkait pesona alam dan welas asih bagi orang-orang yang menderita. Terlihat fajar kelembutan baru untuk hidup dan perasaan otentik memiliki Ibu Pertiwi yang penuh kasih. Pergantian peristiwa tersebut memanifestasikan dirinya melalui meningkatnya jumlah kelompok yang memusatkan perhatian pada ekologi, meditasi, dan spiritualitas. Boff melihat peningkatan jumlah mereka yang memperhatikan dampak lingkungan yang disebabkan proyek swasta dan negara.
Banyak dari mereka mengintegrasikan perspektif bahwa bumi adalah keseluruhan yang hidup dan organik. Terdapat peningkatan jumlah orang yang mencari makan produk organik dan meneliti tingkat kontaminasi produk buatan. Selain itu, ada peningkatan kesadaran bahwa manusia ikut bertanggung jawab atas bumi, keanekaragaman hayati, dan kehidupan yang terancam punah. Bahkan terdapat solidaritas terhadap populasi yang dihancurkan oleh kelaparan dan bencana alam.
Kita dapat melihat mobilisasi kelompok dan opini publik dalam membela hak hewan serta hak sosial serta budaya manusia. Misalnya, upaya mengatasi patriarkalisme dan memperkuat aspek animus/anima yang ada pada laki-laki serta perempuan. Mendukung perempuan dan minoritas yang didiskriminasi secara sosial seperti kulit hitam, penduduk asli, mereka yang cacat fisik, dll. Sebagaimana dikemukakan Boff, spiritualitas kosmis (cosmic spirituality) menghidupkan kembali semangat yang ada dan peka terhadap pesan yang terpancar dari alam semesta. Tradisi religius dan spiritual harus merevitalisasi diri mereka saat menghadapi tantangan zaman.
Menurut Boff, harus ada etos peradaban baru (new ethos of civilization) yang memungkinkan kerja sama dalam hidup bersama. Meremajakan penghormatan terhadap Misteri (Mystery) yang mendasari dan mendukung proses evolusi. Selain itu, mengejawantahkan perdamaian abadi (everlasting peace) dengan spesies lain dan bumi. Kontrak sosial baru tersebut ditempa atas partisipasi penuh hormat dalam menghargai perbedaan, menerima yang lain, dan kesepakatan yang dibangun di atas keragaman budaya, alat produksi, tradisi, dan cara hidup.
ETIKA BARU DARI PERSPEKTIF BARU
Boff melihat pentingnya meninjau kembali ajaran kuno (ancient teachings) dan belajar satu sama lain. Merancang etos baru yang memungkinkan manusia hidup dengan makhluk lain dari komunitas kehidupan, bumi, dan kosmos. Etos baru yang mendukung perasaan kagum terhadap keagungan alam semesta dan menuju kompleksitas relasi yang menopang setiap makhluk.
Ethos adalah kata Yunani yang berarti liang hewan atau tempat tinggal manusia (the burrow of an animal or a human dwelling). Etos dalam pengertian aslinya merujuk pada bagian dunia yang disediakan oleh manusia dan untuk manusia. Sehingga manusia dapat mengatur, mengurus, dan mengubahnya menjadi habitatnya sendiri. Manusia harus membangun kembali rumah bersama—bumi, sehingga semua dapat memiliki tempat di dalamnya. Menurut Boff, penting memodelkan rumah bersama dengan cara berkelanjutan. Model tersebut mendukung proyek peradaban baru.
Sebagaimana dikemukakan Boff, rumah manusia bukan lagi negara bangsa (nation state), tetapi bumi sebagai tanah air yang diperuntukkan bagi semua manusia. Kemanusiaan menemukan dirinya di pengasingan, dibagi oleh negara bangsa, diisolasi oleh budaya regional, dan dibatasi oleh bahasa serta dialek. Dewasa ini, perlahan-lahan manusia kembali dari pengasingan. Manusia menemukan dirinya di tempat yang sama, bumi yang bersatu. Di tempat tersebut manusia membuat sejarah yang unik, sejarah spesies homo dalam masyarakat global dan penuh warna serta berbagi pemahaman bahwa manusia memiliki takdir dan asal yang sama (destiny and the same origins).
Etos tersebut merujuk pada pembentukan rumah manusia (the shaping of the human house), mewujudkan moral konkret yang mencakup nilai, sikap, dan perilaku praktis yang disinkronkan dengan berbagai tradisi budaya serta spiritual. Menurut Boff, meskipun beragam, semua sudut pandang moral memiliki tujuan yang sama. Tujuan tersebut terkait dengan melindungi bumi dan memulihkan kondisi manusia. Sehingga esensi manusia sungguh terpenuhi.
Boff meyakini, etos baru peradaban tersebut harus muncul dari bagian terdalam sifat manusia (human nature). Dengan kata lain, harus muncul dari dimensi fundamental dan dapat dipahami oleh semua. Jika tidak dilahirkan dari inti keberadaan manusia, maka tidak akan memiliki kekuatan untuk mempertahankan regenerasi. Sehingga tidak menghasilkan buah yang kuat untuk generasi mendatang.
Manusia harus menyadari bahwa ia minum dari mata air yang sama, mendengarkan sifat batin (inner nature), dan berkonsultasi dengan hati yang sejati. Kesadaran bahwa manusia minum dari mata air yang sama memungkinkan untuk mengatasi keputusasaan dan pengunduran diri. Sebagaimana dikemukakan Boff, minum dari mata air yang sama menjadi dasar perasaan religius baru (new religious feeling). Menciptakan arah etis dan moral baru. Membangun rasionalitas baru yang instrumental, emosional, dan spiritual. Rasionalitas baru mengubah sains, teknologi, dan penelitian menjadi “obat” bagi bumi serta manusia. Dengan demikian, etika baru lahir dari perspektif baru.
PENUTUP
Manusia memiliki dorongan bawaan untuk mengembara di bumi (wander the earth), beradaptasi dengan berbagai ekosistem seperti gletser Antartika hingga daerah kering di Sahara. Dalam pengertian ini, globalisasi melekat pada kondisi manusia. Dorongan menuju globalisasi dimulai pada 1521 ketika Ferdinand Magellan (1480-1521) mengelilingi dunia. Sejak saat itu hingga sekarang, dunia mengalami proses westernisasi secara bertahap. Menurut Boff, budaya Barat berhasil memaksakan pendekatannya terhadap alam melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini juga nampak melalui cara mengatur masyarakat (demokrasi perwakilan), pandangan tentang pribadi manusia (hak asasi warga negara), dan cara memahami Tuhan (Kristen).
Proses ekonomi dan politik berjalan beriringan. Barat memaksa orang-orang di bumi mengatur diri mereka menjadi negara bangsa. Demokrasi merasuk ke dalam jiwa hampir semua negara, baik sebagai nilai universal dalam relasi manusia, maupun sebagai bentuk organisasi kekuasaan negara. Sebagaimana dikemukakan Boff, demokrasi hanya dapat bekerja dalam suasana penghormatan dan pemajuan hak asasi manusia secara kolektif. Hak asasi manusia pada gilirannya mengandaikan pemahaman tentang manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri (humans as an end in themselves) dan bukan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Mengingat validitas hak asasi manusia, kekuasaan harus terikat konstitusi dan dikendalikan rakyat atau perwakilan mereka.
Menurut Boff, tiga faktor yang membuat globalisasi menjadi kenyataan yaitu proses komunikasi, ancaman nuklir, dan kepedulian terhadap ekologi bumi. Akibat revolusi media, manusia tidak akan pernah sama lagi. Senjata nuklir dan kimia dapat menghancurkan manusia. Pembangunan industri yang diadopsi manusia mengakibatkan serangan sistematis terhadap alam, sumber daya yang tidak dapat diperbarui habis, dan penurunan kualitas makhluk hidup. Hal ini nampak melalui ekosida—penghancuran ekosistem (destruction of the ecosystem), biosida—kepunahan spesies hidup (extinction of living species), dan genosida—kepunahan Bumi-Gaia (extinction of the Earth-Gaia).
Sebagaimana dikemukakan Boff, manusia saling bertanggung jawab atas takdir manusia dan bumi. Karena pada hakikatnya manusia adalah satu dengan bumi, membentuk satu kesatuan dengannya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah antropogenesis, manusia dapat melihat bumi dari luar. Hal ini merupakan visi para astronot, visi yang mengubah kesadaran manusia (people’s awareness). Russell Schweickhart memberi kesaksian tentang perubahan lanskap mental seseorang ketika kembali ke bumi, bila dilihat dari luar, bumi begitu kecil dan rapuh sehingga menjadi bintik kecil yang berharga, yang dapat ditutupi dengan ibu jari. Segala sesuatu yang berarti bagi siapa pun, seluruh sejarah, seni, kelahiran, kematian, cinta, kegembiraan dan air mata, semua ini dapat ditemukan di titik biru dan putih yang dapat ditutupi dengan ibu jari.
Menurut Boff, manusia tidak hanya menghuni bumi. Mereka adalah bumi. Sebagaimana dikatakan penyair Argentina Atahualpa Yupanqui (1908-1992), manusia adalah bumi yang berjalan, bumi yang berpikir, berbicara, dan mencintai. Jika yang hidup dan yang tidak hidup bertentangan, maka manusia akan memiliki dunia mekanis (mechanical world) di satu sisi serta dunia bilogis (biological world) di sisi lain, dipisahkan oleh penghalang yang tidak dapat dilewati. Ilmu bumi menunjukkan, penghalang seperti itu tidak ada. Materi tidak dapat dilihat sebagai sesuatu yang statis, tetapi sesuatu yang dicirikan oleh reaktivitas, kreativitas, dan dialog.
Kosmologi modern menyebarkan visi tersebut ke seluruh dunia dan menuntun manusia memahami bahwa alam semesta merupakan proses evolusi yang besar yang berusia lima belas miliar tahun. Panah waktu menunjuk ke satu arah, yaitu munculnya tatanan kehidupan yang semakin kompleks. Sebagaimana dikemukakan Boff, persepsi tersebut memberikan dasar empiris dan ilmiah yang diperlukan untuk memahami proses globalisasi sebagai momen berkelanjutan yang bekerja di alam semesta sejak awal waktu (the beginning of time).
Globalisasi mendasari lompatan kualitatif ke depan dalam proses antropogenesis, gangguan noogenesis dan noosfer ke dalam keberadaan manusia. Manusia menyaksikan persatuan yang lebih besar, sejarah baru alam semesta dan spesies manusia yang mendukung serta bersaudara. Menurut Boff, kesadaran tersebut mendunia dan menciptakan spiritualitas baru, pemujaan terhadap keagungan alam semesta (the grandeur of the universe) serta kompleksitas kehidupan di bumi.
Manusia menjadi sadar bahwa mereka dapat reseptif terhadap pesan-pesan yang datang dari segala sesuatu. Bagi orang beriman, kedalaman alam semesta dihuni oleh Tuhan dan berkomunikasi dengan kedalaman batin tersebut berarti selaras dengan Sabda Ilahi (Divine Word). Sebagaimana dikemukakan Boff, di seluruh dunia manusia mengalami kehausan yang meningkat akan spiritualitas, akan perjumpaan dengan mata rantai yang hilang yang memungkinkan manusia mengalami penyatuan kembali dengan segala sesuatu, memberi arti pada kehidupan yang merupakan kebenaran dari semua agama.
Manusia pada dasarnya terbentuk melalui jalinan relasi, di mana globalisasi memungkinkan mereka memenuhi panggilan dengan cara yang lebih radikal daripada zaman sebelumnya. Namun, manusia justru diperbudak di bawah paradigma yang memisahkannya dari alam. Bukan hanya orang miskin yang menangis. Bumi berteriak menentang serangan sistematis manusia terhadapnya. Sehingga penting memulihkan karakter suci bumi dan pelestarian tradisi spiritual budaya yang menghormati bumi sebagai Bunda Agung (Great Mother). Sikap tersebut dapat membantu menciptakan batas-batas keserakahan modern dan memungkinkan pengalaman baru tentang Tuhan yang dapat mengatasi dualisme Barat antara Tuhan dan dunia, jiwa dan tubuh, feminin dan maskulin.
Akhirnya, dalam konteks Gereja Katolik, model Gereja yang ideal dan harus dipertahankan bagi Boff adalah “Gereja orang miskin” (the Church of the poor). Memberikan perhatian serius terhadap orang-orang miskin dan membebaskan mereka. Selain itu, peka terhadap jeritan bumi yang sampai saat ini terus dieksploitasi. Harapannya suara kenabian Gereja terejawantah secara konkret dalam bentuk pembebasan sosial bagi manusia dan bumi yang tertindas. Menjadi agen pembebasan, setia pada tradisi besar Gereja, melawan ketidakadilan sosial, dan mendukung perubahan struktural yang membuat manusia serta bumi menderita dan menangis. Sebagaimana dikatakan Boff, God is more interested injustice than in ritual; is more attuned to the cry of the oppressed than to the laudatory praises of the pious. What really matters is what is done and not what is preached.
SUMBER BACAAN
Boff, Leonardo. Essential Care: An Ethics of Human Nature. Trans. Alexandre Guilherme. Waco: Baylor University Press, 2008.
Boff, Leonardo. “Global Challenge”. Index on Censorship. Trans. Francis and Carol Pimentel-Pinto. Vol. 28, Iss. 1 (1999), hlm. 126-130.
Boff, Leonardo. “I Sat in Leonardo’s Seat”. Trans. Francis and Carol Pimentel-Pinto. Index on Censorship. Vol. 33, Iss. 4 (2004), hlm. 31-36.
CATATAN
Tulisan ini pernah dipublikasikan dengan keterangan sebagai berikut:
Prasetyo, Yohanes Wahyu. “Leonardo Boff: Krisis Peradaban dan Etika Baru”. Gita Sang Surya. Vol. 18, No. 1 (April-Juni 2023), hlm. 25-32. ISSN 1978-3868
Format PDF dari tulisan ini dapat diakses melalui http://repo.driyarkara.ac.id/2032/
