November 3, 2025

Johann Baptist Metz: Mistisisme Penderitaan

Yohanes Wahyu Prasetyo

(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)

 

Menurut Johann Baptist Metz (1928-2019), fenomena Auschwitz memperlihatkan kengerian. Kengerian tersebut membuat diskursus tentang Allah nampak kosong (empty) dan buta (blind). Kemudian muncul pertanyaan, apakah ada Allah yang dapat disembah berhadapan dengan fenomena Auschwitz? Selain itu, apakah teologi layak membicarakan fenomena tersebut?

Fenomena Auschwitz terkait pertanyaan teodise (theodicy), bukan versi eksistensial, tetapi versi politik. Sebagaimana dikemukakan Metz, diskursus tentang Allah sebagai seruan untuk keselamatan orang lain, mereka yang menderita secara tidak adil, para korban dan yang kalah dalam sejarah. Namun, apakah seseorang dapat berbicara “setelah Auschwitz” tentang keselamatan?

Bagaimana seseorang dapat berbicara tentang Allah di hadapan sejarah penderitaan (history of suffering) yang mengerikan di dunia? Menurut Metz, pertanyaan tersebut tidak boleh dihilangkan atau dibiarkan tidak terjawab teologi. Hal ini merupakan pertanyaan eskatologis, pertanyaan yang ditanggapi teologi bukan dengan jawaban yang mendamaikan segala sesuatu, melainkan dengan permohonan yang tidak henti-hentinya kepada Allah (Rückfrage an Gott).

Bertahun-tahun lalu beredar slogan, “Yesus, Ya—Gereja, Tidak” (Jesus, Yes—Church, No). Metz membuat diagnosis situasi zaman di mana teologi mengambil titik awal dan menilai demikian, “Agama, Ya—Allah Tidak” (Religion, Yes—God, No). Manusia hidup dalam ketidakberallahan (godlessness) yang bersahabat dengan agama, di era agama tanpa Allah.

Merujuk pemikiran Hermann Lübbe, Metz menegaskan, agama merupakan praksis manajemen kontingensi (praxis of contingency management). Namun, dengan Allah, risiko dan bahaya masuk ke dalam atau kembali ke agama. Tradisi diskursus tentang Allah mengetahui sikap yang tidak mengatur kontingensi. Mereka akrab dengan artikulasi perbedaan pendapat, tuduhan, seruan dalam nubuat, tradisi eksodus, dan literatur hikmat. 

Menurut Metz, di sini kita tidak menemukan penghindaran (avoidance) teodise, melainkan pertanyaan teodise sebagai pertanyaan eskatologis. Hal ini mencegah kejelasan penciptaan dan kekuatan Allah sebagai Pencipta. Mencegah seseorang mengintip penciptaan sampai akhir melalui filsafat identitas, filsafat sejarah universal, logika evolusioner, dll. Sehingga terjadi kemiskinan roh (poverty of spirit), memahami eskatologi sebagai teologi penciptaan yang negatif.

Jawaban teologi, dalam arti sempit, tidak memiliki solusi atas suatu masalah. Sama seperti Allah tidak dapat begitu saja didefinisikan sebagai jawaban atas pertanyaan kita. Sebagaimana dikemukakan Metz, jawaban yang diberikan teologi tidak begitu saja membuat pertanyaan yang dijawabnya menjadi diam atau lenyap (silent or vanish). Di sinilah letak jarak antara teologi dan mitologi. Dalam mitos, pertanyaannya dilupakan, sehingga cocok untuk terapi, meredakan kecemasan, kondusif untuk mengelola kemungkinan daripada iman Kristen. 

LANSKAP TANGISAN

Menurut Metz, agama adalah fenomena primordial kemanusiaan, di mana sejarah kemanusiaan (the history of humanity) merupakan sejarah agama (the history of religion). Dalam Shema Israel dikatakan, Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (Ul 6:4). Nama “Allah” (God) diberikan kepada manusia untuk pertama kalinya dan secara unik dalam sejarah agama. Terkait hal ini, bahasa tentang Allah secara tegas diikuti Paulus, Tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa (1Kor 8:4).

Israel dipandang sebagai bangsa yang mempunyai kepekaan terhadap teodise. Sebagaimana dikemukakan Metz, dalam menghadapi penderitaan, Israel bisu terhadap mitos dan konsep idealis. Tidak mengetahui kekayaan jiwa yang dengannya ia dapat menghibur dirinya melalui idealisasi struktur hidupnya. Melalui pemikiran yang dengannya ia dapat mengatasi kecemasan, keterasingan, dan penderitaan. Bahkan ketika tekanan budaya dan politik dari luar mengakibatkan masuknya mitos serta konsep idealis, Israel tidak dapat dihibur oleh mereka.

Israel menunjukkan dirinya dalam ketidakmampuan, yaitu ketidakmampuan dihibur oleh mitos atau gagasan yang jauh dari sejarah. Berbeda dengan budaya tinggi (high cultures) yang berkembang pada masanya di Mesir, Persia, dan Yunani—Israel lebih merupakan lanskap tangisan (landscape of cries), lanskap ingatan dan harapan. Seperti Kekristenan awal yang biografinya diakhiri dengan tangisan. Tangisan tersebut dibungkam mitos dan konsep idealis serta hermeneutis. Menurut Metz, Kristologi Kristen bukan tanpa kegelisahan eskatologis. Terdapat permohonan berapi-api dan terus-menerus dalam hasrat akan Allah (passion for God) yang melaluinya orang-orang Kristen yang mengikuti Paulus harus berdamai dengan tradisi Yahudi.  

Pertanyaan teodise adalah pertanyaan eskatologis. Metz mengajukan pertanyaan, apakah para teolog Kristen lupa bahwa Kekristenan tidak hanya berutang kepada semangat Yunani, tetapi juga senantiasa melawannya? Kita cukup akrab dengan kegagalan ini bahkan sejak sejarah pertama gereja Kristen, sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul yang menceritakan kisah Paulus di Aeropagus di Athena. Tentu saja di sana Paulus dapat membuat dirinya dipahami oleh orang Yunani.

Tetapi ketika Paulus mulai berbicara kepada mereka tentang apa yang mengikat orang Kristen yang tidak dapat ditarik kembali dengan tradisi Yahudi, ketika ia berbicara tentang eskatologi dan apokaliptik, tentang Allah yang membangkitkan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata: “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu.” Lalu Paulus meninggalkan mereka (Kis 17:32-33).

Menurut Metz, jika seseorang tidak meyakini iman Kristen berasal dari Israel, sementara pikirannya (Geist) berasal secara eksklusif dari Athena, jika seseorang memuji tradisi alkitabiah Israel yang memberikan kontribusi intelektual (Geistangebot) kepada agama Kristen, maka perlu ditekankan bahwa yang mendiami tradisi alkitabiah, berbentuk penalaran anamnestik (anamnestic reason). Hal ini menarik bagi relasi tidak terpisahkan antara rasio dan memoria. Nalar anamnestik menolak kelupaan, bahkan kelupaan dari yang terlupakan yang bersarang di setiap sejarah masa lalu. Historisisme adalah semacam kelupaan. Terkait nalar anamnestik, memperhatikan Allah berarti mendengar kesunyian mereka yang hilang. Tidak menurunkan segala sesuatu yang lenyap menjadi sesuatu yang tidak penting.

Metz meyakini bahwa mengetahui tetap berakar pada suatu bentuk kehilangan (missing), tanpanya tidak hanya iman tetapi manusia itu sendiri akan hilang. Pengetahuan kenangan seperti itu senantiasa mencari yang terlupakan—mengarah pada budaya yang peka terhadap apa yang hilang. Hal ini menjadi organ teologi yang mencoba menghadapi kesadaran kita yang paling maju dan berkembang dengan tangisan serta masa lalu yang secara sistematis dilupakan. Selain itu, memungkinkan lanskap teodise dikenali.   

AGUSTINUS HIPPO DAN WARISANNYA

Menurut Metz, sejak sejarah pendiriannya, Kekristenan diberkahi dengan dua rasa malu, yang berulang kali menggoda teologi Kristen masuk ke dalam konsep dualistis—perkawinan rahasia (clandestine marriage) antara teologi dan gnosis. Di satu sisi, kita memiliki pertanyaan teodise yang muncul dari kesetian pada Allah Pencipta Perjanjian Lama. Bagaimana penderitaan di dunia, penderitaan orang yang tidak bersalah, diselaraskan dengan gagasan pencipta yang maha kuasa dan baik? Di sisi lain, kita memiliki relasi antara janji keselamatan dan waktu, relasi yang dibuat genting oleh penundaan Parousia. Mengapa dia tidak datang?

Sejak awal, dualisme gnostik mengintai sebagai strategi argumentatif teologis. Marcion Sinope menawarkannya di masa senja Kekristenan awal. Menanggapi rasa malu yang ditimbulkan penundaan Parousia, ia menemukan aksioma gnostik tentang keabadian keselamatan (Zeitlosigkeit) dan waktu yang tidak dapat ditebus (Heillosigkeit). Selain itu, dengan dualisme gnostik Allah Pencipta dan Allah Penebus, ia menutup sisi terbuka yang diciptakan oleh pertanyaan teodise berupa keluhan, tangisan, dan pengharapan dalam tradisi alkitabiah. Dengan demikian, ia mendorong jurang pemisah antara tradisi Perjanjian Lama tentang Allah Pencipta dan bahasa penebusan Perjanjian Baru.

Agustinus Hippo (354-430) hidup dan mengajar di sebuah Gereja yang dibangun untuk melawan Marcion. Dalam De Libero Arbitro, Agustinus menempatkan penyebab dan tanggung jawab atas kejahatan serta penderitaan di dunia secara eksklusif pada kemanusiaan dan sejarah, di mana rasa bersalah tidak berakar pada Allah. Oleh karena itu, Allah Pencipta, ditinggalkan dari pertanyaan teodise. Berhadapan dengan sejarah penderitaan dunia (the history of suffering of the world), tidak ada permohonan eskatologis kepada Allah, karena itu akan mengarah kembali ke Marcion dan dualisme penciptaan serta penebusannya.

Metz meyakini bahwa konsepsi Agustinian hanya dapat dipahami sebagai lawan dari manikeisme dan gnostisisme. Bukan Allah, tetapi manusia yang berdosa memikul tanggung jawab tunggal atas ciptaan yang terdistorsi oleh penderitaan, tertembak oleh penderitaan (shot through with suffering). Doktrin kebebasan Agustinus muncul dari niat apologetik, permohonan maaf kepada Allah Pencipta. Namun, permohonan maaf tersebut menyesatkan Agustinus dalam menempatkan—sesuatu yang menjadi hal biasa di zaman modern yang sekuler—kebebasan manusia tidak bergantung pada Allah.

Agustinus terganggu oleh pertanyaan tentang apakah kebebasan manusia mampu memikul beban sebesar itu, mengingat sejarah penderitaan universal. Sebagaimana dikemukakan Metz, dengan mengacu pada surat Paulus kepada jemaat di Roma, Agustinus mengembangkan doktrin dosa asal (original sin), yang membuat manusia menjadi massa damnationis, serta doktrin predestinasi, pemilihan dan penentuan Ilahi. Di sini Agustinus tetap tidak jelas, bahkan dalam arti tertentu kontradiktif. Oleh karena itu, paradigma teodise Agustinus dan semua teologi yang dipengaruhinya, mengandung serangkaian aporia.

Pertama, dualisme teologis Marcion dan gnosis yang merupakan dualisme antara Allah Pencipta serta Allah Penebus, muncul kembali dalam Agustinus sebagai dualisme antropologis (anthropological dualism)—dualisme antara mereka yang diselamatkan dalam pemilihan Ilahi (divine election) dan massa damnationis adalah yang bertanggung jawab atas kejahatan di dunia, atas kerusakan ciptaan Allah yang baik.

Kedua, Agustinus berbagi satu premis dengan Marcion. Premis tersebut bertentangan dengan prinsip doktrin teologis tentang kebebasan. Karena kebebasan manusia tidak otonom tetapi teonomus, yaitu dimungkinkan oleh Allah, diajukan oleh dan diterima dari Allah, maka tidak bertanggung jawab atas sejarah penderitaan di dunia. Sampai tingkat tertentu, pertanyaan tersebut memantul kembali pada Allah. Perbedaan yang banyak digunakan dalam teologi Skolastik antara mengizinkan dan menyebabkan kebebasan berdosa terdengar dalam konteks ini lebih seperti perbedaan apologetik yang lemah.

Ketiga, bahasa tentang Allah dalam tradisi alkitabiah mengandung janji, yaitu janji keselamatan (the promise of salvation) dan janji keadilan universal (the promise of universal justice) yang mencakup penderitaan masa lalu. Dalam Agustinus, keselamatan dipandang sebagai penebusan dosa dan kesalahan. Sesuatu yang tidak terlihat dari perspektif ini yaitu penderitaan dan sejarah penderitaan tidak dapat ditelusuri dengan jelas. Dalam visi alkitabiah tentang keselamatan, janji keselamatan yang terkandung dalam nama Allah (soter), terkait tidak hanya dengan penebusan dosa dan kesalahan, tetapi juga pembebasan dari situsai penderitaan di mana laki-laki serta perempuan menemukan diri mereka sendiri. Dalam Agustinus, pertanyaan tentang Allah dipandu rasa lapar dan haus akan kebenaran, yaitu pertanyaan eskatologis tentang keadilan Allah, digantikan pertanyaan antroposentris tentang keberdosaan manusia (human sinfulness). Pertanyaan teodise sebagai pertanyaan eskatologis dibungkam.

Berdasarkan uraian di atas, terdapat dua konsekuensi sebagaimana dikemukakan Metz. Pertama, teologi tidak mengizinkan adanya pertanyaan tentang Allah di hadapan sejarah penderitaan dunia. Menempatkan diri di hadapan Allah yang maha kuasa dan baik serta membuat manusia yang bersalah bertanggung jawab atas sejarah penderitaan. Hal ini menimbulkan kesan adanya upaya mendamaikan diri dengan Allah dan bersekutu dengan Allah di belakang punggung mereka yang menderita tanpa nama (namelessly), tanpa dosa (innocently). Justru karena semua ini, laki-laki dan perempuan memberontak mewalan Allah. Bahkan karena alasan tersebut, pertanyaan teodise menjadi akar dari ateisme modern.

Kedua, terdapat konsekuensi tidak langsung dari paradigma Agustinian, di mana gagasan rasa bersalah dilebih-lebihkan, seolah-olah merupakan beban yang ekstrem terhadap laki-laki dan perempuan, absolutisme dari dosa dalam agama Kristen (the absolutism of sin in Christianity). Hal ini membangkitkan reaksi balik yang penting bagi agama Kristen dan teologi, yaitu kebebasan semakin menarik dirinya dari kecurigaan akan kesalahan. Dalam konsep otonomi modernitas, rasa bersalah menjadi antipode terhadap kebebasan, dan kapasitas rasa bersalah semakin tidak diperhitungkan sebagai tanda kebebasan, sebagai martabat kebebasan itu sendiri.

Bukan kebetulan bahwa antusiasme baru (postmodern) terhadap mitos justru menjadi tren dalam agama Kristen. Psikologisasi pesan Injil yang semakin meningkat merekomendasikan dirinya sendiri karena mimpinya tentang kepolosan dan anggapannya tentang kepolosan manusia (human innocence), penangguhan etis imannya. Hal ini harus dipahami sebagai reaksi terhadap khotbah gerejawi yang moralistik, hanya menjawab pertanyaan tentang perilaku manusia, tetapi tidak mengenal pertanyaan eskatologis tentang Allah.       

MENDERITA DI DALAM ALLAH

Metz mengajukan sejumlah pertanyaan. Bukankah rekonsiliasi dengan Allah terlalu spekulatif, dekat dengan gnosis, dicapai di balik sejarah penderitaan manusia? Apakah tidak ada bagi para teolog misteri negatif penderitaan manusia dan ketidakberdayaan manusia? Bagaimana bahasa tentang Allah yang solider yang menderita bersama kita, bukan hanya duplikasi proyektif di bawah tekanan anonim cita-cita solidaritas yang lazim secara sosial? Bukankah doktrin analogi klasik mengenai perbedaan utama yang berlaku antara Allah dan dunia dilanggar? Bagaimana bahasa Allah yang menderita tidak mengarah pada keabadian penderitaan?

Menurut Metz, penderitaan yang membuat kita menangis atau akhirnya terdiam, tidak mengenal keagungan (majesty). Tidak ada yang hebat, tidak ada yang luhur. Pada dasarnya itu adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dari penderitaan solidaristik. Bukan sekadar cinta, lebih merupakan tanda yang mengerikan karena tidak lagi bisa mencintai. Penderitaan itulah yang menyebabkan ketiadaan.

Metz tidak percaya bahwa Kristologi mengharuskan atau bahkan melegitimasi teologi yang berbicara tentang Allah yang menderita atau tentang penderitaan di dalam Allah. Bersama Karl Rahner (1904-1984), Metz dengan tegas menolak teologi apa pun yang memahami kesadaran berbakti dari manusia Yesus dari Nazaret sehubungan dengan Bapa Ilahinya dalam pengertian yang sama seperti pernyataan tentang Putra Kekal (Eternal Son) yang diperanakkan dalam Trinitas.

Dihadapkan pada kondisi ciptaan Allah yang berseru ke surga, bagaimana teologi Allah Pencipta dapat menghindari kecurigaan sikap apatis apabila tidak menggunakan bahasa Allah yang menderita? Bukankah benar, seperti dinyatakan secara ringkas oleh Yohanes bahwa Allah adalah kasih (1Yoh 4:16)? Bagaimana proposisi alkitabiah dapat berdiri dengan bahasa Allah yang menderita, Allah yang menderita dengan ciptaannya, ciptaan yang dipenuhi dengan penderitaan?

Sebagaimana dikemukakan Metz, di mana seseorang membayangkan predikat Ilahi (divine predicates) dalam dunia ketenangan abadi (realm of timeless repose) dan menghadapi ketidakadilan yang memalukan di dunia—Allah Yang Mahakuasa, ketika dia merenungkan penderitaan ciptaannya—semuanya runtuh menjadi kontradiksi yang tidak dapat ditebus, akhirnya semua mengarah pada sinisme atau apatis. Namun, yang dilupakan yaitu predikat Ilahi dalam tradisi alkitabiah—definisi diri Allah dalam Keluaran hingga kata Yohanes “Allah adalah kasih” (God is love)—mengandung tanda janji. Tanda yang melegitimasi dan mengharuskan teologi berbicara tentang penciptaan dan kekuatan kreatif Allah dalam bentuk teologi negatif.

Teologi yang peka terhadap teodise tidak melarikan diri ke dalam eskatologi yang kosong dan terinternalisasi dalam waktu yang tidak terbatas atau berakhir. Itu tidak menganut oposisi abstrak antara eskatologi dan teologi. Hal ini berasal dari anggapan bahwa setiap pernyataan alkitabiah tentang keberadaan memiliki tanda sementara (temporal mark). Pada lanskap eskatologis teodise dalam Kitab Suci seseorang harus mengejar pertanyaan tentang keberadaan dan waktu. Harapannya mampu menemukan pemahaman yang dapat diandalkan tentang kedekatan dan jarak Allah, tentang transendensi Allah dan tempat tinggal Allah, tentang “sudah” (already) dan “belum” (not yet) keselamatan Allah. Menurut Metz, setiap pernyataan teologis tentang keberadaan diberkahi dengan indeks temporal.    

MISTISISME PENDERITAAN

Metz memahami pengalaman tentang Allah dan diskursus tentang Allah yang tidak mengebalkan diri dari pertanyaan teodise. Kemiskinan roh dari sabda bahagia Yesus yang pertama merupakan dasar dari setiap pengalaman alkitabiah tentang Allah. Hal ini juga membedakan mistisisme yang diilhami secara alkitabiah dari mitos mana pun yang hanya mengetahui jawaban tetapi tidak ada pertanyaan yang meresahkan. Metz menggambarkannya secara tentatif sebagai mistisisme penderitaan bagi Allah (mysticism of suffering unto God). Ditemukan dalam doa-doa orang Israel, yaitu dalam Mazmur, Ayub, Ratapan, dan perikop para Nabi. Bahasa doa tersebut adalah bahasa penderitaan, krisis, keraguan, keluhan dan tuduhan, tangisan, dan gerutuan anak-anak Israel. Bahasa mistisisme Allah tersebut pada dasarnya bukan salah satu jawaban yang menghibur pengalaman penderitaan. Tetapi merupakan bahasa permohonan yang penuh gairah (passionate requestioning) yang muncul dari penderitaan.

Seruan Yesus dari kayu salib adalah seruan orang yang ditinggalkan Allah, yang pada bagiannya tidak pernah meninggalkan Allah. Hal ini menurut Metz merupakan mistisisme Yesus. Yesus berpegang teguh pada keilahian Allah. Tetapi, apakah mistisisme tersebut menghibur? Metz menegaskan bahwa sangat bergantung pada tidak salah memahami janji-janji alkitabiah tentang penghiburan (consolation). Modernitas sekuler tidak mampu menanggapi atau menghilangkan kerinduan akan penghiburan. Sejalan dengan itu, mitos ditawarkan sebagai sesuatu yang berpotensi menghibur. Dan kerentanan terhadapnya meluas ke dalam agama Kristen. Hal ini dipandang sebagai tanda betapa kita telah meninggalkan diri kita sendiri dan orang lain dalam keraguan tentang makna alkitabiah dari penghiburan.

Memohon kepada Allah adalah jawaban yang Yesus berikan kepada murid-muridnya (Luk 11:1-13). Penghiburan alkitabiah tidak membawa kita ke kerajaan mitos harmoni yang tenang (mythical kingdom of serene harmony) dan rekonsiliasi bebas pertanyaan dengan diri sendiri. Menurut Metz, Injil bukanlah katalisator, bukan jalur perakitan otomatis untuk penemuan diri manusia. Dalam hal ini, semua pengkritik agama dari Ludwig Andreas von Feuerbach (1804-1872) sampai Sigmund Freud (1856-1939) salah.

Kegelisahan mistis dari permohonan yang terus-menerus, tidak muncul dari kultus pertanyaan intelektual yang khas. Bukan pertanyaan yang tidak fokus dan mengembara, tetapi permohonan yang penuh semangat dan mendesak adalah bagian dari mistisisme—demi penghiburan sejati (for the sake of true consolation). Mistisisme Kristen yang alkitabiah sebenarnya bukan mistisisme mata tertutup (mysticism of closed eyes) melainkan mistisisme mata terbuka (mysticism of open eyes), mengharuskan kita memiliki persepsi tajam terhadap penderitaan orang lain.

PENUTUP

Menurut Metz, pertanyaan tentang bagaimana sejarah (history) dan keselamatan (salvation) dapat dikaitkan tanpa mengurangi keduanya dapat dianggap sebagai hal yang sangat penting dalam teologi kontemporer. Sejarah adalah pengalaman realitas dalam konflik dan kontradiksi. Sedangkan keselamatan secara teologis adalah rekonsiliasi mereka melalui tindakan Allah dalam Yesus Kristus. Bagian integral dari sejarah adalah pengalaman penderitaan, berupa kekerasan dan penindasan, ketidakadilan dan ketidaksetaraan, rasa bersalah, keterbatasan dan kematian. Dalam pengertian ini, sejarah selalu merupakan sejarah penderitaan.    

SUMBER BACAAN

Metz, Johann Baptist. “A Short Apology of Narrative”. Trans. David Smith. In Johann Baptist Metz and Jean-Pierre Jossua (Edit.). The Crisis of Religious Language. New York: Herder and Herder, 1973, hlm. 84-96.

Metz, Johann Baptist. “Suffering unto God”. Trans. J. Matthew Ashley. Critical Inquiry. Vol. 20, Iss. 4 (1994), hlm. 611-622.

CATATAN

Tulisan ini pernah dipublikasikan dengan keterangan sebagai berikut:

Prasetyo, Yohanes Wahyu. “Johann Baptist Metz: Tangisan dan Mistisisme Penderitaan”. Gita Sang Surya. Vol. 18, No. 1 (Januari-Maret 2023), hlm. 54-59. ISSN 1978-3868

Format PDF dari tulisan ini dapat diakses melalui http://repo.driyarkara.ac.id/2036/

Diskursus Teologi