Yohanes Wahyu Prasetyo
(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)
Dorothee Sölle (1929-2003) menggambarkan dirinya sebagai perempuan dari salah satu negara terkaya di dunia, yaitu Jerman. Jerman merupakan negara yang sejarahnya diwarnai pertumpahan darah (bloodshed) dan bau gas (the stench of gas). Selain itu, Jerman memiliki konsentrasi pada senjata nuklir yang siap siaga. Sölle menunjukkan ketakutan, kecemasan, kemarahan, dan kesedihan. Ia merasakan kesedihan di negaranya sendiri, di mana gesekan yang membuatnya berselisih dengan masyarakat bukanlah keinginannya. Hal ini terjadi karena keyakinan Sölle pada kehidupan dunia sebagaimana ia temukan dalam diri orang miskin dari Nazaret yang tidak memiliki kekayaan dan senjata. Orang miskin dari Nazaret tersebut adalah laki-laki malang yang menggambarkan kehidupan dunia ideal dan senantiasa mengarahkan ke dasar keberadaan manusia, yaitu Allah. Kristus adalah eksegesis Allah (God’s exegesis), eksposisi yang memperkenalkan Allah kepada manusia. Dalam Yoh 1:18 dikatakan, tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
Sölle menunjukkan pentingnya komitmen tanpa syarat terlibat dengan Kristus, mencari kehidupan dunia (the life of the world) dan bukan kematian (death). Sebagaimana dikemukakan dalam Yoh 10:10, Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Sölle mengajukan tiga pertanyaan penting. Pertama, apa yang dimaksud dengan “hidup dalam segala kepenuhannya”? Kedua, di mana tempat terjadinya? Ketiga, siapa yang menjalaninya? Terkait hal ini, terdapat dua cara di mana kehidupan dihancurkan, yaitu kemiskinan lahiriah (outward poverty) dan kekosongan batin (inward emptiness).
WARISAN “MAWAR PUTIH”
Sölle belajar teologi, filsafat, dan sastra di Universitas Cologne, di mana ia mendapat gelar doktor dengan disertasi tentang relasi antara teologi dan puisi. Kemudian Sölle mengajar di Aachen sebelum kembali ke Cologne. Ia aktif dalam politik, menentang Perang Vietnam, perlombaan senjata Perang Dingin, dan ketidakadilan di negara berkembang. Pada 1968-1972, Sölle mengorganisir Politisches Nachtgebet di Cologne. Periode 1975-1987 ia menghabiskan waktu enam bulan dalam setahun di Union Theological Seminary di Kota New York, di mana Sölle menjadi profesor teologi sistematika. Meskipun tidak memegang jabatan guru besar di Jerman, ia menerima gelar guru besar kehormatan dari Universitas Hamburg pada 1994.
Perlu diketahui bahwa Sölle menulis sejumlah karya: The Mystery of Death (2007), The Silent Cry: Mysticism and Resistance (2001), Against the Wind: Memoir of a Radical Christian (1999), Theology for Skeptics: Reflections on God (1995), Stations of the Cross: A Latin American Pilgrimage (1993), On Earth as in Heaven: A Liberation Spirituality of Sharing (1993), Thinking About God: An Introduction to Theology (1990), The Window of Vulnerability: A Political Spirituality (1990), The Strength of the Weak: Toward a Christian Feminist Identity (1984), The Arms Race Kills Even Without War (1983), Of War and Love (1983), Choosing Life (1981), Death by Bread Alone: Texts and Reflections on Religious Experience (1978), Suffering (1975), Political Theology (1974), Beyond Mere Obedience: Reflections on a Christian Ethics for the Future (1970), dan Christ the Representative: An Essay in Theology After the ‘Death of God’ (1967).
Sölle mengisahkan kegelisahan temannya sewaktu kecil tentang beberapa mahasiswa di Munich yang membuang ratusan lembar kertas (selebaran) dari balkon ke aula masuk gedung utama universitas. Para mahasiwa ditangkap dan dilaporkan pengawas yang melihatnya ke polisi. Dalam selebaran tersebut tertulis, Something against the Führer. Anak-anak di Jerman (meskipun masih muda) pada 1943 mengetahui sesuatu yang akan terjadi. Hal ini terkait kamp konsentrasi yang membuat setiap orang tewas seketika (gleich tot).
Pada suatu malam, orang tua Sölle mendengarkan siaran radio dari Swiss dan BBC London. Pada saat itu Sölle mendengarkan istilah “Mawar Putih” (White Rose) untuk pertama kalinya. Sölle mempunyai sedikit orang yang dapat dipercaya ketika memasuki dunia Nazi dan oportunis. Meskipun banyak mantan pengungsi kembali ke Jerman, ia merasa terisolasi pascaperang. Mawar Putih adalah sekelompok orang yang sangat idealis dengan sedikit pemahaman tentang realitas kekuasaan dan politik. Bagaimana seseorang bisa berhasil melawan Adolf Hitler (1889-1945) dan kompleks industri militer Alfred Krupp (1812-1887) serta I. G. Farbens apabila hanya dipersenjatai dengan filsafat politik Barat dari Aristoteles (384-322 SM) hingga Johann Gottlieb Fichte (1762-1814), kata-kata penulis Jerman klasik seperti Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) dan Johann Christoph von Schiller (1759-1805), kebijaksanaan Lao-tse, dan Kitab Suci? Sölle meyakini bahwa mereka yang telah meninggal, memilih mati daripada hidup di bawah Hitler. Hal ini menunjukkan ada beberapa orang Jerman (termasuk mahasiswa) yang memiliki hati nurani (conscience).
Dalam perjalanan waktu, Sölle mengalami perubahan cara pandang terkait “idealisme” (idealism) muda dari Mawar Putih. Sölle terkejut ketika menemukan analisis politik dalam tulisan-tulisan Mawar Putih. Selebaran tersebut menggarisbawahi persoalan yang menentukan dalam menunda kejatuhan Hitler—anti-komunisme Nazi. Seiring dengan anti-semitisme, anti-komunisme adalah kekuatan paling ganas dalam ideologi Nazi. Jutaan orang Jerman yang “baik” (good) tidak menyukai Nazi, namun menganggap mereka kurang jahat dibandingkan dengan komunis. Orang-orang kelas menengah yang terbujuk pada 1933 akan ancaman komunisme memilih Hitler, membawanya ke tampuk kekuasaan melalui saluran legal dan demokratis. Sepuluh tahun kemudian, Jerman menjadi sarang perampok dan pemerkosa yang mengobarkan perang melawan seluruh Eropa.
Mawar Putih dengan jelas dan adil menyatakan bahwa perhatian pertama bagi setiap orang Jerman bukanlah kemenangan militer atas Bolshevisme (Bolshevism), tetapi kekalahan Sosialisme Nasional (National Socialism). Sebagaimana dikatakan Sölle, mayoritas orang Jerman yang baik pada 1943 tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Namun, Mawar Putih menegaskan, jangan percaya pada propaganda Sosialis Nasional yang mengejar teror Bolshevisme sampai ke tulang-tulangmu. Suatu tragedi sejarah bahwa perlawanan terhadap Hitler di dalam militer dilumpuhkan oleh tentara Stalin. Terdapat pengetahuan tentang fakta sejarah perang Nazi melawan Rusia periode 1941-1945. Banyak orang di Jerman dan Amerika Serikat tidak mengetahui siapa menginvansi siapa pada 1941. Mereka tidak mengetahui bahwa tentara Hitler memperkosa dan memperbudak penduduk sipil Soviet. Hanya sedikit yang menyadari bahwa dua puluh juta warga Soviet tewas dalam perang Hitler.
Ideologi Nazi telah mengambil alih pikiran orang-orang yang menganggap sosialisme nasional sebagai kejahatan yang lebih kecil daripada melawan “musuh sejati” (the true enemy), komunisme. Pada masa kecil Sölle, ia mendengarkan penulis besar Jerman Paul Thomas Mann (1875-1955) dalam siaran radio Amerika Serikat. Mann menegaskan terkait pentingnya melawan kejahatan Nazi dan mengingatkan bahwa Jerman mempunyai tradisi demokrasi serta humanistik. Beberapa tahun kemudian, selama Perang Dingin (Cold War), Mann mengatakan bahwa anti-komunisme adalah kebodohan terbesar abad XX.
Terdapat minat baru pada Hitler Jerman. Hal ini dipicu oleh daya tarik yang berbahaya dan melekat pada kepribadian iblis (demonic personality) Hitler. Menurut Sölle, minat baru pada Mawar Putih melampaui keprihatinan yang sah dan terdistorsi masa lalu Jerman. Hal ini berakar pada situasi politik dan spiritual Jerman yang muncul setelah 12 Desember 1979. Tanggal tersebut menandai titik balik (watershed), berakhirnya periode pasca Perang Dunia II. Keputusan NATO yang mendukung salah satu eskalasi terbesar perlombaan senjata—penyebaran rudal nuklir baru di tanah Eropa—dilihat banyak orang Eropa sebagai peresmian era baru—waktu sebelum Perang Dunia III. Sejak Desember 1979, jutaan orang berbaris untuk perdamaian di jalan-jalan Eropa. Ribuan komunitas intelektual, artistik, ilmiah, dan teologis bertanya pada diri mereka sendiri. Apa yang dapat saya lakukan? Seberapa jauh kita harus mentolerir apa yang dipaksakan negara adidaya kepada kita? Apakah cukup dengan menandatangani petisi dan berbaris dalam demonstrasi massa untuk membuat gerakan perdamaian didengar media serta mempengaruhi para pemimpin politik?
Menurut Sölle, pertanyaan-pertanyaan di atas mendorong minat baru pada Mawar Putih muncul. Terkait hal ini, anggota terbaik dari generasi muda mencari tahu bagian tergelap dari sejarah Jerman. Mereka menyadari dirinya militeristik, bahkan lebih dari negara Eropa lainnya. Mereka membuat rekor rasisme melalui pemusnahan (annihilation) terhadap enam juta orang Yahudi. Mereka menghancurkan Eropa. Kemudian mereka mengajukan pertanyaan, apakah itu yang harus diingat? Bukankah selain militerisme, imperialisme, dan rasisme, juga ada kekuatan perlawanan?
Dalam pengamatan Sölle, kata “perlawanan” (resistance) membunyikan lonceng baru di Jerman. Semakin banyak orang berbicara tentang perlunya perlawanan terhadap mesin militer. Rencana Induk Pentagon (The Pentagon Master Plan) yang disusun pada musim panas 1982 sebagai tanggapan atas arahan Gedung Putih (White House) merupakan pernyataan kebijakan pertama dari setiap pemerintahan Amerika Serikat yang menyatakan bahwa pasukan strategis Amerika Serikat harus mampu memenangkan perang nuklir yang berkepanjangan.
Kesejajaran historis apa pun yang dapat ditarik tidak sepenuhnya akurat. Tetapi tidak terlalu banyak imajinasi untuk memikirkan sesuatu yang disimpulkan oleh Sölle ketika membaca Mawar Putih. Setiap kata yang keluar dari mulut Hitler adalah dusta. Ketika ia mengatakan perdamaian, yang ia maksud adalah perang. Dalam situasi putus asa dan tidak berdaya, minoritas dengan keyakinan moral dan agama yang mendalam, memiliki kewajiban berbicara serta melawan dalam bentuk apa pun yang diperlukan. Fungsi politis dari Mawar Putih lebih dari sekadar menyediakan catatan sejarah yang akurat. Kita membaca sejarah supaya tidak mengulanginya. Sölle merasa malu karena tidak ada lagi “mawar putih” di saat paling suram dalam sejarah Jerman. Sebagaimana dikatakan Karl Heinrich Marx (1818-1883), rasa malu (shame) adalah emosi evolusioner.
KEMISKINAN LAHIRIAH
Menurut Sölle, dua pertiga keluarga manusia hidup di ambang kematian (living on the edge of death), karena kemiskinan dan terkondisi secara ekonomi. Mereka lapar, tidak memiliki tempat tinggal, tidak memiliki sepatu, tidak mempunyai obat, tidak ada air bersih untuk diminum, dll. Hal ini memperlihatkan bahwa mereka tidak mengetahui cara untuk melepaskan diri dari penindas mereka. Perlu diketahui bahwa perjanjian perdagangan dan hubungan internasional ditentukan oleh dunia pertama yang kaya serta dipaksakan pada orang miskin, menjerumuskan mereka dalam kemelaratan (destitution). Padahal dalam Ams 3:16 dikatakan, umur panjang ada di tangan kananya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kemiskinan menghancurkan kehidupan yang dijanjikan kepada manusia.
Sölle memperlihatkan surat dari seorang perempuan Brasil yang ia diktekan kepada seorang biarawati, karena ia tidak bisa membaca dan menulis. Dalam surat tersebut tertulis demikian, Nama saya Saverina, saya berasal dari Timur Laut. Di negara saya, dua bayi saya meninggal, karena saya tidak punya susu. Suatu hari di desa saya, saya melihat empat puluh dua peti mati kecil dibawa ke kuburan. Adik ipar saya yang sangat miskin memiliki tujuh belas anak: tiga dari mereka masih hidup, yang lainnya meninggal sebelum mereka berusia empat tahun. Dari tiga yang tinggal, dua tidak normal. Saya bersamanya untuk melahirkan dan tidak ada selembar kain bersih untuk membungkus bayi. Itulah yang terjadi di banyak keluarga, bahkan ribuan—sepuluh atau lima belas anak lahir dan lima atau enam dari sepuluh meninggal. Dan ada imam yang memberi tahu kami, “jika Anda memiliki tujuh anak yang meninggal saat masih bayi, Anda akan diberkati: mahkota malaikat menanti Anda di surga”. Tapi siapa yang benar-benar tahu apa artinya bagi seorang perempuan mengandung anak selama sembilan bulan, menangisi tiga bulan pertama karena ia tahu ia tidak akan pernah melihat bayinya tumbuh besar—dan itu mungkin sepuluh kali atau lebih. Apakah ia mengasihi anak itu hanya untuk melihatnya mati kelaparan dalam waktu empat bulan? Benarkah itu yang mereka maksud ketika mereka berbicara tentang “martabat manusia”? Tentu saja, saya mendengar dari Injil yang sering dibacakan oleh Claudia dan Vera kepada saya bahwa Kristus menyukai kemiskinan; tapi bukan penderitaan manusia, ia tidak tahan dengan itu. Ada perbedaan antara miskin dan tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada bayi Anda kecuali air manis, dan Anda memberinya air dan Anda tahu dia akan mati.
Sölle meyakini bahwa Kristus datang ke dunia supaya semua orang dapat memiliki kehidupan dalam segala kepenuhannya. Tetapi yang terjadi justu pemiskinan mutlak (absolute impoverishment), suatu kejahatan di dunia yang maju secara teknologi. Menghancurkan manusia secara fisik, spiritual, dan mental. Terjadi eksploitasi, di mana dosa orang kaya berusaha menghancurkan janji Kristus. Dalam Yoh 10:9-10 dikatakan, Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.
Kristus dan “penjahat” (the thief) berdiri di ujung yang berlawanan satu sama lain. Pencuri datang untuk menjarah orang miskin supaya mereka mati. Sedangkan Kristus datang untuk membawa kepenuhan hidup. Menurut Sölle, terjadi sikap kekanak-kanakan apabila orang-orang Kristen hanya duduk dan menunggu untuk melihat apakah pencuri atau Kristus yang datang. Manusia dihadapkan pada dua pilihan, yaitu penjarahan (plundering) dan kepenuhan hidup (the fullness of life). Berpartisipasi dalam misi Kristus atau berpartisipasi sebagai pencuri. Sebagaimana dikemukakan Sölle, selama manusia tetap menjadi korban atau penonton dalam perjuangan keadilan, ia mendukung pencuri serta kejahatannya. Sebaliknya, jika manusia bergabung dalam perjuangan untuk dunia yang lebih adil, maka ia mengambil bagian dalam rencana penciptaan Allah yang telah memberi manusia bumi dengan kepercayaan bahwa semua dapat memiliki kehidupan yang utuh.
KEKOSONGAN BATIN
Menurut Sölle, ketika manusia dipaksa untuk hidup dalam kemiskinan absolut, hidup dalam segala kepenuhannya adalah ketidakmungkinan. Sedangkan di dunia pertama yang kaya, kekosongan batin terus tumbuh. Mereka tidak mengalami kemiskinan materi (material poverty), melainkan kekosongan rohani (spiritual emptiness). Ketidakbermaknaan hidup (the meaninglessness of life) yang dirasakan oleh banyak individu sejak awal perkembangan industri meluas di antara banyak orang di dunia pertama. Hal ini nampak ketika tidak ada yang menyenangkan mereka, tidak ada yang menggerakkan mereka secara mendalam, relasi mereka dangkal dan dapat dipertukarkan, dan harapan serta mimpi mereka tidak lebih jauh dari perjalanan liburan mereka berikutnya. Bahkan mereka melihat pekerjaan yang mereka kerjakan tidak memuaskan, sia-sia, dan membosankan. Padahal sebagaimana diyakini Sölle, Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan dengan kapasitas untuk bekerja serta mengasihi.
Bagi orang dunia pertama, hidup lebih seperti kematian panjang (long death) yang bertahan selama bertahun-tahun. Selain itu, hidup dipandang sebagai pencapaian diri sendiri dan bukan sebagai anugerah dari Sang Pencipta. Hal ini merupakan fenomena hidup tanpa jiwa yang hidup di dunia yang menghitung segala sesuatu dalam kaitannya dengan apa yang berharga. Sehingga tidak ada yang indah dan menjadi sumber kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Satu-satunya yang diperhitungkan adalah apa yang bisa dilakukan untuk mendapatkan hal itu. Dalam pengamatan Sölle, manusia mengalami situasi dan kondisi “kosong” serta pada saat yang sama dipenuhi dengan barang dan produk yang berlebihan. Terdapat relasi “aneh” (odd) antara banyak objek yang dimiliki dan konsumsi dengan kekosongan dari keberadaan manusia yang sebenarnya. Sementara Kristus datang supaya manusia memiliki kepenuhan hidup, kapitalisme datang untuk mengubah segalanya menjadi uang. Itulah kematian panjang, nampak dari wajah kosong (empty faces) manusia. Bayangkan sejenak kemacetan lalu lintas, semua orang duduk di kendaraan mereka masing-masing, perlahan dan agresif merayap ke depan. Frustrasi dan kebencian terhadap orang-orang di depan dan di belakang dipandang sebagai reaksi normal. Hal ini merupakan gambaran kehidupan dalam kekosongan di dunia yang kaya.
Mrk 10:17-27 mengisahkan pemuda kaya yang tampaknya memiliki kepenuhan hidup dalam bentuk banyak harta, namun dikuasai oleh kekosongan batin dalam hidupnya. Hidup telah memperlakukannya dengan baik. Ia memiliki apa yang ia butuhkan. Tetapi ia mempunyai sejumlah pertanyaan eksistensial. Apa yang harus saya lakukan dengan hidup saya? Apa yang harus saya lakukan untuk mewarisi hidup kekal? Bagaimana saya bisa membuat hidup saya lebih radikal, tidak ambigu, tidak terpecah-pecah, dan tidak berkompromi? Apa yang bisa saya lakukan untuk meninggalkan sikap setengah hati dari keberadaan saya?
Sölle pernah membaca sepucuk surat dari seorang warga biasa kelas menengah kulit putih Eropa. Dalam surat tersebut dituliskan demikian, Saya tiga puluh lima tahun, seorang pegawai negeri dengan posisi yang baik, menikah. Kami memiliki dua anak. Sejauh ini pernikahan kami bahagia. Anak-anak baik-baik saja. Saya memiliki semua yang saya butuhkan, pekerjaan dengan gaji yang aman, tidak ada yang salah di rumah. Tapi untuk itu semua, baru-baru ini saya merasa tidak enak badan. Saya semakin merasa bahwa hidup saya kosong. Ada yang hilang, tapi saya tidak tahu apa. Terkadang saya pikir saya harus meninggalkan semuanya dan pergi begitu saja. Tapi saya tidak punya kekuatan untuk itu. Apa yang harus saya lakukan?
Sölle melihat pegawai negeri dari Jerman Barat dan pemuda kaya di Perjanjian Baru memiliki semua yang mereka butuhkan, namun ada sesuatu yang hilang. Mereka bukan tipe laki-laki sukses yang keras kepala dan brutal, melainkan lembut. Mereka tidak mendapatkan posisi dan kekayaan dengan berkelahi, mencuri, memfitnah, menipu, dan mengeksploitasi. Mereka menjaga orang tua dan tidak memukuli istri. Keduanya ingin melakukan sesuatu dengan hidup mereka, memenangkan hidup yang kekal (win eternal life). Mereka ingin menjadi utuh, menjalani kehidupan yang tidak terfragmentasi dan mencerminkan sesuatu dari kemuliaan kepenuhan (the glory of fullness). Tetapi hidup mereka tidak memiliki kemuliaan untuk direfleksikan. Mereka tidak memancarkan kecerahan. Hanya ada kekosongan dan kematian yang panjang.
Penginjil Markus menunjukkan bahwa Yesus memandang pemuda kaya tersebut dan mengasihinya (Mrk 10:21). Yesus ingin menarik dia dan semua manusia ke dalam kehidupan yang lebih penuh daripada yang manusia ketahui sebelumnya. Menurut Sölle, ada yang salah dengan cara pandang pemuda kaya tentang kehidupan abadi. Hal ini nampak ketika ia berpikir sudah memiliki segalanya dan mematuhi semua aturan. Selain itu, ia melihat bahwa hanya ada satu yang kurang, yaitu makna hidup (the meaning of life). Jika makna hidup dimiliki, maka semuanya akan baik-baik saja. Tetapi Yesus menjungkirbalikkan harapan pemuda kaya tersebut dengan mengatakan demikian, hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku (Mrk 10:21).
Banyak orang kelas menengah dewasa ini sedang mencari spiritualitas baru (new spirituality). Mereka memiliki profesi, pendidikan, penghasilan, keluarga, dan teman-teman. Tetapi mereka mencari sesuatu yang lebih—agama, makna hidup, makanan jiwa, dan penghiburan. Menurut Sölle, mereka mencari sesuatu yang berada di atas keamanan materi, yaitu spiritualitas hidup yang melampaui kekayaan mereka.
Tetapi Yesus menolak harapan kelas menengah yang saleh ini. Kepenuhan hidup tidak datang ketika sudah memiliki segalanya. Pertama-tama manusia harus mengosongkan diri untuk menerima kepenuhan Allah. Dengan memberikan sesuatu yang dimiliki kepada orang miskin, maka akan menemukan apa yang dicari. Kisah pemuda kaya tersebut berakhir dengan kesedihan. Dalam Mrk 10:22 dikatakan, mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Dalam pembacaan Sölle, ia tidak membiarkan dirinya ditarik ke dalam kehidupan yang lebih baik, kepenuhan hidup, dan berbagi hidup.
Sejumlah kota di Jerman Barat terdapat banyak lukisan dinding dengan kata-kata “NO FUTURE”. Orang-orang yang merasa dalam situasi dan kondisi “no future” masih muda dan energik. Karena hidup dalam kepenuhan-Nya, janji Kristus (the promise of Christ), hanya menghasilkan senyuman lelah. Kesedihan mereka diarahkan ke luar dengan agresivitas dan ke dalam dengan depresi. Dengan demikian, hidup ini kosong (life is empty).
Yesus dalam Mrk 10:23 mengatakan, alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kepenuhan hidup, Kerajaan Allah, dan hidup yang kekal dihancurkan oleh kekayaan, eksploitasi, dan ketidakadilan. Tetapi pemuda kaya tersebut tidak mengetahui hal ini. Ia dipenuhi dengan kesedihan tanpa harapan dan keputusasaan yang menyedihkan. Sölle mengajukan pertanyaan, mengapa banyak orang kaya di dunia merasa hampa? Mempunyai banyak harta, tetapi merasa bahwa kehidupan itu sendiri menjadi tidak berguna. Di kalangan generasi muda terdapat keinginan yang kuat dan berkembang untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap harta yang terlalu banyak. Henry David Thoreau (1817-1862) menegaskan, kemungkinan hidup berkurang saat apa yang disebut ‘sarana’ meningkat. Hal terbaik yang dapat dilakukan orang kaya untuk mempertahankan kemanusiaannya adalah mewujudkan impian yang ia hargai saat ia miskin. Sedangkan menurut Sölle, jika ingin memahami hidup orang kaya yang hampa dan tidak berarti, maka harus sampai pada ranah “pengetahuan tentang Allah” (knowledge of God), yaitu teologi dan bukan ekonomi, psikologi individu, dll.
DASAR HIDUP MANUSIA
Sölle meyakini bahwa Allah adalah dasar hidup manusia. Ia menghembuskan nafas kehidupan ke dalam umat manusia. Dalam Kej 2:7 dikatakan, ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Jika manusia menyembunyikan diri dari Allah di balik penghalang berupa harta yang banyak sehingga Allah tidak dapat menyentuhnya, maka manusia mati—kematian berkepanjangan sebagaimana dialami kelas menengah dan para elit negara dunia ketiga. Kekayaan bertindak sebagai tembok (wall) yang tidak terkalahkan apabila dibandingkan dengan tembok Yerikho. Hal ini nampak ketika manusia memisahkan diri, membuat diri tidak tersentuh, dan tidak mendengar tangisan orang miskin serta tertindas. Perlu diketahui bahwa apartheid bukan sekadar sistem politik di negara Afrika. Hal ini merupakan cara berpikir, merasakan, dan hidup tanpa menyadari sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Sebagaimana dikemukakan Sölle, terdapat cara berteologi di mana orang miskin dan tereksploitasi secara ekonomi tidak pernah terlihat serta terdengar, yaitu teologi apartheid.
Menurut Sölle, kekosongan spiritual orang kaya adalah akibat dari ketidakadilan ekonomi (economic injustice) yang mereka manfaatkan. Laki-laki muda yang kaya tersebut akan mengalami depresi. Ia tidak bisa mengubah hidupnya, hanya bisa membuatnya aman. Selain itu, senantiasa membuatnya semakin aman untuk mencegah apa pun diambil darinya. Dengan kata lain, ia pada hakikatnya menimbun senjata (stockpiles weapons). Depresi ringan yang terjadi di banyak gereja Eropa dan Amerika Utara pada praktinya sama saja dengan persetujuan militerisme. Mereka tidak memiliki harapan, karena percaya pada kedamaian yang mematikan dari para pendukung senjata. Uang dan kekerasan berjalan beriringan. Mereka menjadikan uang sebagai Allah, menjadikan keamanan nasional sebagai ideologi, dan persenjataan negara sebagai prioritas politik.
Sebagaimana dikisahkan Sölle, beberapa orang Kristen di negaranya mengatakan, apa buruknya menjaga keamanan dengan senjata? Mereka membela diri bahwa bom hanya digunakan sebagai ancaman. Namun, pada kenyataannya bom tersebut menghancurkan kepenuhan hidup yang Kristus janjikan kepada manusia. Bom menghancurkan kehidupan orang miskin (dalam arti material) dan orang kaya (dalam arti spiritual). Harus diakui bahwa senjata telah bersarang (lodged) di hati manusia dan menguasainya. Manusia tidak akan pernah mengetahui kepenuhan hidup ketika ia hidup di bawah senjata yang menjadi simbol paling kuat di dunia. Dengan kata lain, senjata telah menjadi Allah mereka.
Kekayaan orang kaya tidak hanya terletak pada harta benda yang mereka miliki, tetapi juga kekuatan mereka untuk menghancurkan (destroy). Dunia tempat di mana Sölle tinggal kaya akan kematian dan alat pembunuhan yang semakin canggih. Berbagai macam bom yang tergeletak siap untuk digunakan di bawah permukaan bumi dan di bawah lautan di kapal selam. Hal ini merupakan bahan peledak yang digunakan untuk setiap manusia di bumi dan juga kepada Allah. Menurut Sölle, arti dari perlombaan senjata yaitu Allah akan dilenyapkan dari bumi untuk selamanya. Bahkan bom yang belum digunakan diarahkan kepada Allah. Militerisme merupakan upaya tertinggi manusia untuk menyingkirkan Allah selamanya, membatalkan ciptaan dan mencegah penebusan yang mengarah pada kepenuhan hidup.
Jika kelebihan harta benda membuat hidup menjadi tidak berguna (superfluous), maka cara untuk berubah yaitu menjadi lebih miskin. Terkait hal ini, Yesus meminta pemuda kaya menjual miliknya dan memberikannya kepada orang miskin. Sölle meyakini, manusia tidak dapat mengisi kekosongan batin dengan spiritualitas murahan (cheap spirituality). Pertama-tama manusia harus mengosongkan diri secara lahiriah dari semua yang memenuhinya secara berlebihan. Menjadi kosong bagi Allah berarti mengosongkan diri dan melepaskan atau mengurangi semua kepemilikan dunia, misalnya uang dan kekerasan. Menjadi miskin dan tidak bergantung pada kekerasan. Hal ini merupakan perubahan hati yang mengarah pada kepenuhan hidup.
NILAI DAN SIKAP BARU
Yesus berusaha membawa pemuda kaya untuk menghancurkan dunianya sendiri, sikap dan nilai-nilainya, dan kelas sosialnya yang diistimewakan. Menurut Sölle, Kristus menghadapi manusia dengan pertanyaan yang sama. Sampai kapan Anda akan terus mengikuti tatanan dunia yang didasarkan pada eksploitasi dan penindasan? Sampai kapan Anda akan terus diuntungkan dan berkomplot dengan sistem yang didominasi oleh pencuri yang datang untuk mencuri, membunuh, dan menghancurkan?
Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk menjadi ragi perdamaian (ferment for peace). Terkait hal ini, banyak yang meyakini bahwa manusia hanya dapat menemukan Kristus di sisi orang miskin dan bukan dalam konteks dunia pertama. Perlu diketahui bahwa Sölle tinggal di El Salvador, tetapi hidup di bawah dominasi NATO. Dominasi tersebut nampak dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan banyak orang. Pengorbanan dipersembahkan di sana kepada dewa-dewa palsu (false gods).
Tugas manusia adalah memperjuangkan perdamaian dan melawan militerisme. Hal ini terkait dengan bagaimana manusia dapat berpartisipasi dalam perjuangan dunia ketiga untuk pembebasan. Tidak seorang pun yang merasakan ikatan dengan orang miskin memiliki alasan untuk putus asa atau terlibat dalam tindakan penghancuran yang tidak masuk akal. Perlu diketahui bahwa fenomena penumpukan senjata dimaksudkan untuk melanggengkan pemerintahan teror (the reign of terror). Sehingga pertobatan manusia dari uang dan kekerasan menuju keadilan serta perdamaian sangat penting. Paulus dalam 2 Kor 3:18 mengatakan, dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. Menurut Sölle, kemegahan tersebut terpancar dari wajah orang-orang yang telah bertobat kepada keadilan dan perdamaian.
KEKAYAAN HIDUP
Nabi Yesaya berbicara tentang kepenuhan hidup, keindahan (beauty) dan kebenaran (truth). Dalam Yes 58:6-12 dikatakan, bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”.
Kekayaan sebagaimana dibicarakan Yesaya di atas adalah kekayaan menjadi pribadi manusia (being a human person), bukan kekayaan memiliki harta benda. Kekayaan dipertahankan dalam kepemilikan, status, dan hak istimewa. Hal ini merupakan kekayaan yang diperoleh dengan membuat orang lain miskin. Pada hakikatnya kekayaan mendapatkan saudari dan saudara. Menurut Sölle, kekayaan dalam pengertian ini dapat ditemukan di negara kecil seperti Nikaragua, di mana kepenuhan tumbuh dari kekurangan (fullness has grown out of want). Yesaya tidak berbicara kepada orang-orang yang hanya menerima perintah dan melaksanakan tugas yang diberikan. Ia berbicara kepada manusia kaya yang kuat yang telah begitu banyak difitnah dan diremehkan dalam tradisi Kristen. Nabi mengandalkan orang-orang seperti itu dan membujuk mereka untuk masuk ke dalam keindahan kehidupan yang nyata serta terpenuhi.
Narasi yang disampaikan Yesaya menjanjikan kehidupan yang bebas dari penghinaan orang lain dan diri sendiri. Kehidupan yang bebas dari sinisme dan ketakutan. Kehidupan yang kaya, di mana setiap jam berharga. Sölle menemukan visi yang menggoda dalam kepenuhannya ketika membaca narasi Yesaya tersebut. Manusia sejatinya kuat, dapat mencapai sesuatu, dan tidak dapat dikorbankan. Akhirnya, sebagaimana dikemukakan Teresa dari Avila (1515-1582), jalan menuju surga adalah surga itu sendiri. Betapapun dalam kegelapan yang mungkin ada di sepanjang jalan, Anda tidak pernah sendirian. Jika Anda membiarkan diri Anda dibawa oleh kasih, kekuatan Anda akan bertambah. Kekayaan Anda akan tumbuh, semakin banyak Anda berbagi. Ke mana pun Anda membiarkan kasih membawa Anda, kasih, kepenuhan hidup, ada bersama Anda.
SUMBER BACAAN
Sölle, Dorothee. “Introduction to the Second Edition: The Legacy of the White Rose”. In Inge Scholl. The White Rose: Munich 1942-1943. Trans. Arthur R. Schultz. Middletown: Wesleyan University Press, 1983, hlm. ix-xiv.
Sölle, Dorothee. “Life in its Fullness”. The Ecumenical Review. Vol. 35, Iss. 4 (1983), hlm. 377-384.
CATATAN
Tulisan ini pernah dipublikasikan dengan keterangan sebagai berikut:
Prasetyo, Yohanes Wahyu. “Dorothee Sölle: Melampaui Kemiskinan Lahirian dan Kekosongan Batin untuk Mencapai Kepenuhan Hidup”. Gita Sang Surya. Vol. 18, No. 2 (April-Juni 2023), hlm. 48-57. ISSN 1978-3868
Format PDF dari tulisan ini dapat diakses melalui http://repo.driyarkara.ac.id/2040/
