November 6, 2025

Wolfhart Pannenberg: Kekekalan Allah

Yohanes Wahyu Prasetyo

(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)

 

Konsep ruang (space) dan waktu (time) merupakan sesuatu yang penting dalam fisika serta geometri, tetapi definisinya bukan hak prerogatif dan eksklusif ilmu-ilmu tersebut. Samuel Clarke (1675-1729), Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716), Isaac Newton (1643-1727), Immanuel Kant (1724-1804), dan Albert Einstein (1879-1955) merupakan tokoh penting dalam membentuk pemahaman mengenai ruang, waktu, dan kekekalan (eternity). Perlu diketahui bahwa ruang bukan wadah yang tidak terbatas dan kosong (Newton) atau sistem relasi dalam pikiran (Leibniz). Ruang dan waktu yang tidak terhingga dapat ditafsirkan sebagai ungkapan kekekalan dan kemahahadiran (omnipresence) Allah dalam kaitannya dengan ciptaan (Clarke). Penafsiran tersebut diperkuat oleh pemikiran Kant untuk mengklarifikasi, meskipun ruang dan waktu dibedakan dalam peristiwa-peristiwa individual, keseluruhan hadir pada saat yang sama. Bahkan pengalaman manusia mengakui keutuhan tersebut. Sedangkan di dalam Allah, kekekalan merupakan kehadiran dan kepemilikan simultan dari keutuhan tersebut. Keberadaan fana entitas terbatas juga terkait dengan partisipasi masa depan dalam kehidupan kekal Allah.

Apa itu waktu? Apa itu kekekalan? Menurut Wolfhart Pannenberg (1928-2014), untuk menjawab pertanyaan tersebut dibutuhkan pengetahuan tentang Allah, ciptaan, dan jiwa manusia. Terkait hal ini, Pannenberg menyarankan untuk belajar dari Agustinus Hippo (354-430). Selain itu, mengambil pemahaman alkitabiah dan menyelidiki bagaimana relasi Pribadi Trinitas memasukkan waktu (time) ke dalam kekekalan (eternity). Perlu diketahui bahwa Allah mempunyai masa depan dalam diri-Nya, hadir selamanya untuk seluruh kehidupan ciptaan, baik saat ini dan masa depan.

PANDANGAN AGUSTINUS TENTANG WAKTU

Dalam Confessiones, Agustinus memulai penjelasannya tentang waktu dengan menyatakan demikian, ketika tidak ada yang bertanya kepada saya, saya tahu apa itu, tetapi ketika saya mencoba menjelaskan kepada seseorang yang bertanya kepada saya, saya tidak tahu. Menurut Pannenberg, kebingungan Agustinus disebabkan oleh fakta bahwa di setiap saat, “masa lampau” (the past) sudah tidak ada dan “masa depan” (the future) belum ada. Sedangkan “masa kini” (the present) sudah berlalu sebelum memusatkan perhatian padanya. Jika “masa kini” tidak melewati “masa lampau” (tetapi selalu hadir), maka itu tidak lagi bersifat sementara (melainkan kekal atau abadi). Dalam kekekalan tidak ada yang berlalu, semuanya tetap ada. Namun, “masa kini” manusia telah berlalu, tidak memiliki durasi (nullum habet spatium). Hal ini tidak lebih dari titik demarkasi antara “masa lampau” dan “masa depan”. Manusia yang memahami “masa kini” senantiasa mengingat “masa lampau” dan mengantisipasi “masa depan”.

Agustinus meyakini bahwa sifat jiwa meluas (extend) ke “masa lampau” dan “masa depan”. Jiwa melakukannya dengan kekuatan perhatiannya. Perhatian manusia mengantisipasi “masa depan” dan mengingat “masa lampau”. Pannenberg memberikan ilustrasi menarik, jadi kita memahami keseluruhan melodi yang baru saja kita nyanyikan, dan kita terus memahami keseluruhan melodi tersebut sementara kita terus bernyanyi. Jika tidak, kita tidak dapat menyanyikan sebuah lagu, atau mengucapkan sepatah kata pun, yang kata-katanya akan berlalu saat kita sedang berbicara. Sampai batas tertentu, jiwa mencapai kehadiran yang bertahan lama ketika ia bergerak melalui aliran waktu, senantiasa mengingat “masa lampau” dan mengantisipasi “masa depan”. Jiwa melakukannya dengan melebarkan kehadirannya di “masa lampau” dan “masa depan”. Oleh karena itu, Agustinus menyebut waktu sebagai proses menggelembungnya jiwa (the distention of the soul/distention animi).

Menurut Pannenberg, persepsi durasi dalam waktu memiliki kemiripan dengan kekekalan Ilahi (divine eternity), di mana tidak ada yang berlalu dan “masa depan” sudah hadir. Tetapi Allah yang kekal tidak perlu menjaga “masa lampau” hadir untuk diri-Nya sendiri melalui ingatan. Perlu diketahui bahwa ingatan manusia hanyalah pengganti untuk kehadiran “masa lampau” yang terus berlanjut. Sedangkan dalam kekekalan Allah, “masa lampau” tetap hadir dengan sendirinya bagi Allah. Demikian pula “masa depan” tidak hanya diantisipasi, tetapi hadir dengan sendirinya bagi Allah. Oleh karena itu, cara kita bernyanyi dan bermain musik secara keseluruhan dengan bantuan ingatan serta antisipasi. Hanya dalam kekekalan Ilahi segala sesuatu hadir bagi Allah dalam aktualitasnya. 

PANDANGAN AGUSTINUS TENTANG KEKEKALAN

Agustinus memahami kekekalan sebagai tanpa batas waktu (timeless). Oleh karena itu, Allah pada hakikatnya kekal dan tidak berubah. Berbeda dengan filsafat Platonis, Agustinus tidak memahami kekekalan dalam pengertian keseluruhan waktu (the whole of time), seluruh kehidupan yang dalam pengalaman manusia hilang karena terbagi menjadi rangkaian peristiwa sesaat (momentary events). Sedangkan Plotinus meyakini bahwa seluruh kehidupan hadir secara simultan. Sehingga waktu dan kekekalan bertentangan satu sama lain. Kekekalan dipahami sebagai keseluruhan hidup secara simultan, proses temporal dalam transisi dari satu peristiwa ke peristiwa berikutnya. Kontinuitas dalam aliran waktu tersebut tidak dapat dijelaskan kecuali dengan kehadiran keseluruhan yang kekal dalam rangkaian peristiwa-peristiwa terpisah. Menurut Plotinus, pemisahan peristiwa-peristiwa berikutnya dalam aliran waktu disebabkan oleh “kejatuhan” (fall) jiwa dari kesatuan aslinya. Tetapi kesatuan tersebut masih ada dan efektif dalam urutan peristiwa-peristiwa temporal. Selain itu, realitas-realitas temporal berusaha untuk mendapatkan kembali keutuhan asli (original wholeness) dari masa depan waktu.

Dalam perspektif Agustinus, waktu tidak muncul dengan “kejatuhan”, tetapi dengan tindakan penciptaan Ilahi (the divine act of creation). Waktu adalah bentuk keberadaan ciptaan. Menurut Pannenberg, fokus Agustinus pada gangguan dosa (sinful disruption) terhadap kesatuan hidup manusia menunjukkan mengapa ia menekankan kontras waktu dengan kekekalan daripada relasi positif keduanya dalam keutuhan hidup.

Agustinus mengemukakan bahwa konsepnya tentang kekekalan didasarkan pada kesaksian alkitabiah mengenai Allah yang esa dan kekal. Ia menemukan gagasan tersebut dalam Mzm 102:25, ya Allahku, janganlah mengambil aku pada pertengahan umurku! Tahun-tahun-Mu tetap turun temurun. Sebagaimana dikemukakan Pannenberg, kutipan Mazmur tersebut menjelaskan konsep kekekalan yang merupakan hakikat Allah. Dalam Kel 3:14 dikatakan, firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” Penafsiran kontemporer tentang AKU ADALAH AKU (ego sum qui sum) dipahami sebagai “Aku akan menjadi siapa Aku nantinya” (I shall be who I shall be). Sehingga ada “masa depan” bagi Allah dan Allah akan menunjukkan diri-Nya menjadi apa adanya. Dengan kata lain, Allah bebas dan tidak terbatas dalam tindakan-Nya.

Mzm 102:4 menegaskan bahwa Allah ada selamanya dan tetap sama, sedangkan segala sesuatunya berlalu. Dalam Mzm 102:27 dikatakan, semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah. Dengan demikian, menjadi semakin jelas dan tegas bahwa Allah tidak berubah dalam identitas-Nya. Hal ini juga dikatakan dalam Mzm 90:2, sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah. Menurut Pannenberg, Allah setia dengan identitas-Nya dan dalam relasi-Nya dengan ciptaan-Nya.

Dalam hidup Allah waktu tidak berlalu dengan cara yang sama seperti dalam pengalaman manusia. Dalam Mzm 90:4 dikatakan, sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam. Waktu tidak berlalu dari hadirat Allah, tetapi Ia melihat ke seluruh waktu seperti yang manusia lakukan ketika suatu periode selesai. Sehingga Allah disebut kekal sebagaimana dikemukakan dalam Yes 40:28, tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung. Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Hal ini tidak hanya berarti bahwa keberadaannya terus-menerus melalui waktu, tetapi juga menyiratkan identitas Allah yang terus-menerus tidak terganggu oleh proses waktu (the process of time). Yes 41:4 menarasikan demikian, siapakah yang melakukan dan mengerjakan semuanya itu? Dia yang dari dahulu memanggil bangkit keturunan-keturunan, Aku, TUHAN, yang terdahulu, dan bagi mereka yang terkemudian Aku tetap Dia juga.

KEKEKALAN: TANPA BATAS WAKTU

Menurut Pannenberg, konsep kekekalan Agustinus menyimpang dari pandangan alkitabiah tentang identitas kekal Allah. Allah bukanlah Allah yang tidak mempersoalkan waktu. Oleh karena itu, pandangan alkitabiah tentang keberadaan Allah yang kekal lebih mirip dengan konsep kekekalan Plotinus daripada Agustinus. Dalam pemikiran Plotinus, terdapat relasi positif antara kekekalan dan waktu, di mana kekekalan dipahami sebagai keutuhan hidup (the wholeness of life) yang terdisrupsi dalam proses temporal. Namun, tetap hadir dalam urutan temporal dan membentuk tujuan dari upaya pengada temporal (temporal beings) untuk memperoleh kembali keutuhan hidup di “masa depan”.

Meskipun demikian, kesamaan antara konsep kekekalan Plotinus dan pandangan alkitabiah pada hakikatnya terbatas. Pannenberg menunjukkan dua keterbatasannya. Pertama, dalam pemikiran Plotinus tidak ada eskatologi yang nyata (real eschatology). Perjuangan pengada temporal (makhluk duniawi) untuk mendapatkan keutuhan hidup mereka di masa depan adalah sia-sia (vain). Oleh karena itu, menurut Plotinus penyangkalan diri dalam pengalaman penyatuan mistik (mystical union) merupakan satu-satunya cara untuk berpartisipasi dalam Yang Esa. Sedangkan dalam pandangan alkitabiah, “masa depan” Kerajaan Allah mengandung janji keselamatan bagi ciptaan-Nya.

Kedua, kesamaan konsep kekekalan Plotinus dan pandangan alkitabiah tentang kehidupan kekal Allah yaitu masa depan dianggap sebagai bagian dari keutuhan hidup ciptaan, bukan Allah. Meskipun kekekalan dikatakan sebagai milik (possession) sekaligus keutuhan hidup, kehidupan tersebut tidak memiliki “masa depan”, di mana keutuhannya juga tidak dibentuk oleh “masa depan” seperti itu. Tetapi jika seluruh kehidupan disusun oleh sumber penyelesaiannya di masa depan yang juga merupakan sumber dari hal baru yang terjadi dalam perjalanan hidup tersebut, maka penguasaan hidup tersebut secara simultan harus disusun secara bersesuaian. Mengenai Allah alkitabiah, Pannenberg tidak memiliki kata yang secara tepat menyatakan pentingnya “masa depan” bagi diri-Nya sendiri. Merujuk pada Kel 3:14, tindakan Allah di “masa depan” merupakan identitas-Nya. 

Menurut Pannenberg, terdapat gagasan alkitabiah lainnya yang menunjukkan pentingnya “masa depan” konstitutif mengenai identitas Allah. Hal ini terkait pengharapan (expectation) Kerajaan Allah yang akan datang. Dalam Za 14:9 dikatakan, maka TUHAN akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu TUHAN adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya. Harapan yang sama diungkapan dalam Ob 21, penyelamat-penyelamat akan naik ke atas gunung Sion untuk menghukum pegunungan Esau; maka TUHANlah yang akan empunya kerajaan itu. Demikian juga dalam Zef 3:15, TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi. Sedangkan dalam Yesaya, kedua peristiwa naiknya takhta Allah terlihat baru saja terjadi dan diberitakan oleh para utusan yang mengumumkan kepada orang-orang Yahudi pembebasan mereka. Dalam Yes 52:8 dikatakan, dengarlah suara orang-orang yang mengawal engkau: mereka bersama-sama bersorak-sorai. Sebab dengan mata kepala sendiri mereka melihat bagaimana TUHAN kembali ke Sion.

Sebagaimana dikatakan Pannenberg, peristiwa tersebut telah dibayangkan oleh para nabi sebagai peristiwa yang akan datang, meskipun digambarkan telah terjadi. Pemakluman Kerajaan Allah tersebut berulang dalam pengajaran Yesus. Hal ini dilihat Pannenberg sebagai persoalan utama dari “Injil” (gospel) yang Yesus beritakan. Dalam Mrk 1:15 dikatakan, waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil. Sedangkan dalam Luk 11:20 dikatakan, tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Sebaliknya, dalam Perjanjian Lama Allah disebut sebagai raja yang kekal (Kel 15:18, Mzm 10:16). Demikian juga dalam Perjanjian Baru, Allah disebut sebagai raja kekal (basileus ton aionon), abadi dan tidak terlihat. Dalam 1 Tim 1:17 dikatakan, hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak tampak, yang esa! Amin.

Perlu diketahui bahwa di satu sisi Kerajaan Allah itu kekal, sedangkan di sisi lain masih akan datang (still to come). Pannenberg mengajukan sejumlah pertanyaan penting. Apakah hanya dalam pengalaman manusia Kerajaan Allah masih akan datang, sementara Kerajaan Allah itu sendiri selalu sama? Hal ini tidak ada bedanya dengan identitas Allah, apakah Ia diakui oleh ciptaan sebagai raja atau tidak. Apakah Allah bisa menjadi raja tanpa pengakuan seperti itu? Hal ini hampir tidak mungkin. Bahkan jika Allah dapat mengatur ciptaan-Nya tanpa kesadaran mereka, maka fakta perlawanan tidak dapat diabaikan. Persoalan tersebut dipertajam ketika mempertimbangkan bahwa kekuasaan Allah atas ciptaan-Nya bukanlah sesuatu yang kebetulan terkait dengan identitas-Nya sendiri sebagai Allah. Hal ini tidak dapat dipisahkan dari sifat keallahan-Nya. Oleh karena itu, melalui manifestasi dan pengakuan Kerajaan Allah, sifat keallahan-Nya sendiri dipertaruhkan. Ketegangan di antara pernyataan alkitabiah tentang Kerajaan Allah melambangkan persoalan bagaimana Allah yang kekal berhubungan dengan waktu. Dengan kata lain, apa dampak dari peristiwa-peristiwa temporal dan hasil proses sejarah terhadap identitas kekal Allah?

INKARNASI, TRINITAS, DAN KAIDAH KARL RAHNER

Dalam teologi Kristen, persoalan tersebut juga diajukan dan paling tajam oleh iman Kristen akan inkarnasi Putra Allah yang kekal dalam Pribadi Yesus Kristus. Menurut Pannenberg, inkarnasi tidak dapat dipandang tidak membuat perbedaan bagi kehidupan kekal dari satu Allah (the one God). Hal ini merupakan wawasan yang mendorong Karl Rahner (1904-1984) mengembangkan tesisnya yang dikenal sebagai “Kaidah Rahner” (Rahner’s Rule), di mana Trinitas imanen (the immanent Trinity) dan Trinitas ekonomi (the economic Trinity) adalah satu. Karena inkarnasi dan keselamatan umat manusia, penyempurnaan eskatologis dari dunia milik ekonomi Ilahi. Dengan demikian, jika inkarnasi termasuk dalam kehidupan Allah Trinitas imanen, maka kehidupan Trinitas imanen dan ekonomi Ilahi haruslah satu.

Perlu diketahui bahwa tidak berarti kesatuan mereka tanpa perbedaan dan akibatnya Trinitas imanen akan larut ke dalam proses ekonomi Ilahi dalam sejarah penciptaan (the divine economy in the history of creation). Dimulai dengan tindakan penciptaan dunia dan diselesaikan dalam penyempurnaan eskatologis oleh Roh Kudus. Rahner menekankan perlunya membedakan Trinitas imanen dari komunikasi diri ekonomi Allah (God’s economic) dalam sejarah keselamatan. Menurut Rahner, komunikasi diri mengandaikan diri yang akan dikomunikasikan. Selanjutnya, Trinitas imanen berfungsi sebagai syarat kebebasan ekonomi Allah. Pannenberg mengajukan pertanyaan, bagaimana manusia memahami identitas kekal Allah Trinitas sebagaimana dikondisikan oleh peristiwa-peristiwa dalam waktu seperti inkarnasi dan penyempurnaan “masa depan” ciptaan-Nya tanpa melarutkan diri ke dalam proses sejarah tersebut?

IDENTITAS KEKAL ALLAH

Identitas kekal Allah pertama-tama dimiliki oleh Bapa, Allah Israel. Bapa mendahului Putra dan misi-Nya menjadi “daging” (flesh) nampak dalam inkarnasi. Namun, Kerajaan Bapa tidak hanya diwartakan oleh Yesus Kristus, tetapi juga dinyatakan di bumi oleh Allah yang bangkit dan akan disempurnakan oleh tindakan Roh Kudus. Menurut Pannenberg, kontradiksi yang tampak antara pernyataan-pernyataan tersebut dapat dihindari apabila identitas Ilahi Bapa dipahami dalam pengertian kuasa masa depan Ilahi (the power of the divine future) yang merupakan sumber peristiwa-peristiwa baru dalam sejarah, termasuk inkarnasi Putra dan penyempurnaan ciptaan dengan kuasa Roh Kudus.

Allah Bapa merupakan masa depan dunia (the future of the world), terungkap dalam tindakan penciptaan-Nya dan mengutus Putra-Nya serta pencapaian “masa depan” penyempurnaan semua ciptaan melalui partisipasi dalam kemuliaan-Nya. Pannenberg meyakini bahwa identitas Allah sebagai kuasa masa depan membentuk “koherensi dramatis dari aktualitas peristiwanya” (dramatic coherence of his eventful actuality). Dengan kata lain, Allah adalah satu dengan diri-Nya sendiri dalam aktualitas peristiwa tersebut.

Pannenberg menegaskan bahwa Allah juga mendahului aktualitas ekonomi-Nya dalam sejarah keselamatan, karena Ia adalah kuasa masa depan yang dari-Nya aktualitas tersebut berasal. Jika tidak demikian, maka “koherensi dramatis” (dramatic coherence) rangkaian narasi peristiwa dan identitas peristiwa tersebut akan hilang. Namun, Allah juga hadir dalam rangkaian narasi tersebut melalui tindakan Putra dan Roh Kudus. Pengakuan Kristiani bahwa Yesus Kristus adalah Putra Bapa yang kekal menegaskan bahwa Allah (Bapa yang kekal) hadir dalam sejarah melalui Putra-Nya. Perlu diketahui bahwa “aktualitas penting” (eventful actuality) dari sejarah tersebut bukan sesuatu yang kebetulan bagi identitas kekal Allah Bapa. Tetapi Bapa mendahului aktualitas peristiwa tersebut, sehingga Putra juga mendahului keterlibatan-Nya dalam sejarah dramatis tersebut. Jika tidak, maka Putra tidak dapat menjadi satu esensi dengan Bapa yang kekal.

Dalam Rm 8:3 dikatakan, sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai oleh dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging. Injil Yohanes juga mengemukakan bahwa Putra sudah terlibat dalam penciptaan dunia. Ia telah menjadi Firman Ilahi dari Bapa yang melalui-Nya segala sesuatu telah diciptakan. Menurut Pannenberg, keterlibatan dengan ciptaan tersebut tidak sama sebagaimana dalam inkarnasi. Sehingga terdapat Logos Ilahi sebelum Ia menjadi manusia, Logos Asarkos. Tetapi Logos tersebut (Putra Allah yang kekal) senantiasa menjelma, filius Dei incarnandus. Oleh karena itu, inkarnasi merupakan identitas kekal-Nya sebagai Logos dan Putra Bapa. Sebaliknya, Bapa akan mengutus Putra-Nya menjadi manusia ketika “waktunya telah genap” (the time is fulfilled). Dalam Gal 4:4 dikatakan, tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Pengutusan Putra termasuk dalam identitas kekal Bapa apabila Bapa dipandang bertekad dari kekekalan untuk menyelesaikan ciptaan-Nya. Hal ini untuk memahami kekekalan Allah dari sudut pandang tindakan Allah di “masa depan” dalam waktu dan dalam penyempurnaan ciptaan-Nya.     

ALLAH ADALAH MASA DEPANNYA SENDIRI

Thomas Aquinas (1225-1274) mengungkapkan aktualitas wujud Ilahi (the divine actuality of being) sebagai tindakan wujud itu sendiri (esse subsistens) dalam rumusan “Allah tidak lain adalah aktualitas wujud” (Deus est suum esse). Terkait hal ini, Pannenberg meyakini bahwa “Allah adalah masa depan-Nya sendiri” (God is his own future). Maknanya sedikit berbeda dengan diktum Thomas tersebut, di mana “masa depan” bukan esensi definisi dari esensi keallahan. Tetapi “Allah adalah masa depan-Nya sendiri” dalam arti bahwa Ia tidak memiliki masa depan di luar diri-Nya sendiri. Jika tidak, maka Allah tidak bisa menjadi satu Allah, melainkan akan bergantung pada sesuatu yang lain atau bahkan digantikan oleh sesuatu yang lain.

Jika “Allah adalah masa depan-Nya sendiri”, maka konsekuensinya adalah masa depan tidak dapat terjadi pada masa kini-Nya dengan cara yang sama seperti yang terjadi dalam pengalaman manusiawi kita. Allah tidak tunduk dalam perjalanan waktu (God is not subject to the march of time). Masa depan Allah merupakan masa kini-Nya. Hal ini menurut Pannenberg tidak berbeda dari kehadiran-Nya ketika manusia mengalami masa depannya sebagai yang bergantung pada realitas hidup saat ini.

Robert William Jenson (1930-2017) menolak tesis bahwa “masa depan” Allah tidak berbeda dari masa kini-Nya, seolah-olah hal itu akan kembali ke gagasan lama tentang kekekalan sebagai masa depan kini yang abadi. Menurut Pannenberg, kehadiran Allah berbeda, karena tidak lain adalah masa depan-Nya. Selain itu, pernyataan tersebut merujuk pada Allah Trinitas sebagai satu kesatuan, bukan pada Tiga Pribadi dalam kekhususannya, kecuali mereka berpartisipasi dalam satu esensi Ilahi (participate in the one divine essence).

Mengenai relasi timbal balik dalam Trinitas, Putra adalah “masa depan” Bapa, karena Putra yang mendirikan Kerajaan Bapa di bumi. Selanjutnya, Roh Kudus adalah “masa depan” Putra, karena Roh Kudus yang membangkitkan Yesus dari kematian. Sedangkan Bapa adalah “masa depan” keduanya (Putra dan Roh Kudus), karena Kerajaan Bapa yang mereka wujudkan melalui tindakan bersama. Sebagaimana dikemukakan Pannenberg, karena mereka berbagi dalam persekutuan dengan satu Allah yang hidup, mereka berbagi dalam kehidupan kekal Ilahi yang tidak memiliki “masa depan” di luar diri-Nya sendiri untuk terjadi pada-Nya. Dengan kata lain, Allah Trinitas memiliki hidup yang kekal di dalam diri-Nya sendiri.  

BERBAGI KEHIDUPAN KEKAL ALLAH

Bapa adalah Allah Israel yang kekekalan-Nya dipuji oleh Mazmur dan Deutero Yesaya. Sedangkan Putra dengan kepatuhan-Nya kepada Bapa berpartisipasi dalam kehidupan kekal Bapa. Dalam Yoh 5:26 dikatakan, sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri. Jadi Putra berbagi esensi Ilahi dari Bapa. Ia tidak membagikannya dengan cara yang dibagikan orang beriman dalam kehidupan kekalnya, karena Putra seperti Bapa memiliki hidup dalam diri-Nya sendiri. Menurut Pannenberg, orang beriman tidak memiliki hidup kekal di dalam dan dari diri mereka sendiri, tetapi hanya “di dalam Kristus” (in Christ). Putra memiliki hidup dalam diri-Nya sendiri seperti Bapa. Putra bukan Bapa, tetapi Ia berbagi kehidupan kekal yang sama, di mana hal yang sama berlaku untuk Roh Kudus.

Pannenberg menegaskan bahwa perlu membedakan satu esensi Ilahi dari Tiga Pribadi yang berbagi kehidupan kekal yang satu dan sama. Jika pembedaan tersebut tidak diakui, maka tidak akan ada cara untuk menjelaskan bahwa Bapa, Putra, dan Roh Kudus—ketiganya adalah Allah dan hanya satu Allah. “Allah” (God) adalah predikat, bukan substansi yang hidup dengan diri-Nya sendiri tanpa Tiga Pribadi. Kehidupan kekal yang Ilahi memiliki realitas konkret hanya dalam Tiga Pribadi, yaitu di dalam Bapa, di dalam Putra, dan di dalam Roh Kudus. Bapa memiliki hidup yang kekal di dalam diri-Nya sendiri, tetapi tidak tanpa Putra. Bapa memiliki hidup tersebut justru dengan membagikannya dengan Putra melalui Roh Kudus.

Dalam relasi timbal balik mereka, mereka adalah satu-satunya Allah yang hidup. Kehidupan kekal yang mereka miliki bersama adalah satu esensi Ilahi mereka, tetapi itu akan menjadi abstraksi abadi (timeless abstraction) apabila tanpa keterkaitan antarpribadi. Hanya dalam keterkaitan tersebut, satu Allah adalah Allah yang hidup (the one God is a living God). Menurut Pannenberg, esensi Ilahi yang tunggal yang diambil dengan sendirinya tanpa Pribadi, bukanlah Pribadi, bukan Allah yang berpribadi. Jika tidak, maka harus dihitung sebagai pribadi keempat selain Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Tetapi dalam masing-masing dari Tiga Pribadi tersebut serta dalam keterkaitan-Nya, Allah yang esa adalah Pribadi dan dengan demikian Ia adalah hidup yang kekal, yang memiliki keutuhan hidup secara penuh dan serentak.

KEKEKALAN: KEUTUHAN KEHIDUPAN

Menurut Pannenberg, dalam kehidupan Trinitas dari satu Allah, definisi Plotinus tentang kekekalan diwujudkan sepenuhnya, yaitu “kehadiran simultan kehidupan secara keseluruhan” (simultaneous presence of life as a whole). Tetapi kehidupan tersebut mengakui perbedaan internal antara kehadiran dan “masa depan” serta tentang kehadiran dan “masa lampau” apabila mempertimbangkan generasi Putra serta Roh Kudus dari Bapa. Meskipun demikian, dalam kehidupan Trinitas “masa kini” tidak pernah terpisah dari “masa depan” dan “masa lampau” karena kesatuan kehidupan yang mereka bagikan. Jika manusia membayangkan kepemilikan simultan kehidupan secara keseluruhan dalam subjek yang terpisah, semua perbedaan temporal akan menguap (evaporate) dan bersamaan dengan kualitas hidup itu sendiri. Oleh karena itu, hanya dalam kehidupan Trinitas dari satu Allah gambaran Plotinus tentang kekekalan dalam pengertian keutuhan hidup terwujud.

Tatanan Ilahi yang memanifestasikan tindakan Bapa, Putra, dan Roh Kudus mencakup perbedaan sementara (temporal distinction) antara penciptaan, inkarnasi, dan penyempurnaan akhir dunia. Sebagaimana dikemukakan Pannenberg, kesatuan Trinitas imanen dan ekonomi mengamankan perbedaan-perbedaan tersebut menjadi signifikan dalam kehidupan kekal Trinitas imanen. Sebaliknya, kesatuan ekonomi Ilahi yang sama dan kehidupan Trinitas imanen menjamin keutuhan dalam “aktualitas akhirnya” (eventual actuality) ekonomi Ilahi. Hal ini tidak dipisahkan dalam perjalanan waktu, tetapi mengatasi keterpisahan pengalaman duniawi manusia yang terbatas sedemikian rupa, sehingga memungkinkannya berpartisipasi dalam keutuhan kehidupan kekal Allah (the wholeness of God’s eternal life). 

PENUTUP

Ruang dan waktu terukur (measurable) merupakan entitas terbatas. Sedangkan ruang dan waktu yang tidak terbatas (infinite) lebih dekat dengan konsep kekekalan. Keberadaan mereka yang terbatas melibatkan pengaturan mereka dalam ruang dan waktu terukur, tetapi terjadi dalam ruang dan waktu yang lebih komprehensif, tidak terbatas dan tidak terbagi. Hal ini terjadi dalam kekekalan dan kemahahadiran Allah. Sebaliknya, kekekalan dan kemahahadiran Allah merupakan media kehadiran Allah yang kuat dengan ciptaan-Nya di tempat dan waktu keberadaan mereka. Dalam kekekalan-Nya, Allah pada hakikatnya transenden sekaligus imanen. Ciptaan-Nya ada dalam ruang dan waktu terukur serta hadirat kekal Allah melampaui mereka tanpa batas, namun tidak jauh dari mereka.            

SUMBER BACAAN

Pannenberg, Wolfhart. “Eternity, Time, and Space”. Zygon: Journal of Science and Religion. Vol. 40, Iss. 1 (2005), hlm. 97-106.

Pannenberg, Wolfhart. “Eternity, Time, and the Trinitarian God”. Dialog. Vol. 39, Iss. 1 (2000), hlm. 9-14.

CATATAN

Tulisan ini pernah dipublikasikan dengan keterangan sebagai berikut:

Prasetyo, Yohanes Wahyu. “Wolfhart Pannenberg: Kekekalan Allah”. Gita Sang Surya. Vol. 18, No. 2 (April-Juni 2023), hlm. 64-72. ISSN 1978-3868

Format PDF dari tulisan ini dapat diakses melalui http://repo.driyarkara.ac.id/2039/

Diskursus Teologi