Yohanes Wahyu Prasetyo
(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)
Michael Sastrapratedja (1943-2024) dikenal sebagai pribadi yang tekun mempelajari serta mendalami filsafat manusia, filsafat sejarah, filsafat ketuhanan, filsafat kontemporer, hermeneutika, etika, pendidikan, dan Pancasila. Terdapat sejumlah karya yang ditulis oleh Sastrapratedja, yaitu Manusia Multidimensional: Sebuah Renungan Filsafat (1982), Filsafat Pancasila dalam Kehidupan Budaya Bangsa (1996), Pendidikan Sebagai Humanisasi (2001), Allah sebagai Dasar Ada: Filsafat dan Teologi Paul Tillich (2001), Agama dan Tantangan Masa Kini (2002), Setelah Lima Ratus Tahun: Berakhirkah Humanisme? (2003), Filsafat Manusia 1 (2010), Lima Gagasan yang Dapat Mengubah Dunia (2013), Pendidikan Multidimensional (2015), Hermeneutika Paul Ricoeur (2016), dll.
Artikel ini saya tulis dalam rangka mengenang Sastrapratedja yang meninggal pada 17 Februari 2024. Tulisan ini merupakan hasil pembacaan saya berdasarkan sejumlah karya yang ditulis oleh Sastrapratedja. Sejauh saya kenal sebagai mahasiswanya di STF Driyarkara Jakarta, Sastrapratedja memberikan teladan kepada para mahasiswa untuk setia dan tekun belajar, membaca, dan menulis. Selain itu, menurut saya, Sastrapratedja adalah cendekiawan yang ahli di bidang filsafat dan mempunyai perhatian besar dalam diskursus tentang manusia, humanisme, dan pendidikan. Selanjutnya, saya akan menguraikan Pandangan Michael Sastrapratedja Tentang Filsafat, Manusia, Humanisme, dan Pendidikan.
FILSAFAT
Ada berbagai macam pengertian tentang apakah filsafat itu dan apa tugas filsafat. Menurut Sastrapratedja, filsafat merupakan usaha menyingkapkan asumsi-asumsi di balik pandangan atau pernyataan-pernyataan tertentu.[1] Lebih dari itu filsafat berusaha melihat implikasi-implikasinya dari suatu pandangan, perbuatan atau peristiwa terutama dalam kaitannya dengan masalah-masalah kemanusiaan.[2]
Filsafat sebagai kebijaksanaan banyak kita temukan dalam dunia Timur.[3] Misalnya bagi orang India filsafat tidak melulu pengetahuan, tetapi “jalan” mencapai keselamatan. Kebijaksanaan dipelajari lewat seorang guru. Sedangkan dalam filsafat Barat aspek terdalam itu sering diterangkan sebagai per-ultimas causas.[4] Filsafat bertugas menyelidiki sebab-sebab akhir dari kenyataan. Pengetahuan yang sedemikian itu sering disebut “metafisika”.
Sastrapratedja menguraikan bahwa secara tradisional filsafat di bagi dalam beberapa bidang.[5] Pertama, filsafat tentang pengetahuan (epistemologi, logika, dan kritik ilmu-ilmu). Kedua, filsafat tentang keseluruhan kenyataan (metafisika). Ketiga, filsafat tentang manusia (antropologi filosofis atau filsafat manusia). Keempat, filsafat tentang Tuhan (filsafat ketuhanan). Kelima, filsafat tentang alam (kosmologi). Keenam, filsafat tentang tindakan manusia (etika). Ketujuh, filsafat tentang keindahan (estetika). Meskipun ada perbedaan-perbedaan baik dalam pendekatan maupun isinya, namun ada tema yang dalam sejarah refleksi tentang manusia selalu muncul.[6]
MANUSIA
Menurut Sastrapratedja, manusia membentuk dirinya dan menafsirkan identitas dirinya dalam interaksi dengan lingkungan budayanya.[7] Sehingga segala sesuatu yang diciptakan manusia dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, termasuk segala bentuk teknologi dari yang sederhana sampai yang canggih. Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan, penting untuk menghargai harkat dan martabat manusia, mewujudkan solidaritas sosial, menjunjung tinggi demokrasi, serta mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial.[8] Selain itu, menghargai hak-hak asasi manusia dan kelestarian lingkungan hidup.[9]
Sastrapratedja meyakini bahwa kita sebagai sesama manusia harus menghormati martabat manusia dan memperlakukan manusia sesuai dengan keluhuran martabatnya.[10] Dengan kata lain, manusia tidak boleh dieksploitasi untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu, penting untuk memahami hak-hak asasi manusia, hakekat manusia, kegiatan manusia dan hubungan antar manusia.[11] Terkait hal ini, Sastrapratedja menunjukkan tiga tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia.[12]
Pertama, ketidakmerataan dan ketidaksamaan dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Kedua, kondisi politik yang tidak stabil, konflik sosial antareknik, antaragama, perubahan yang diakibatkan oleh krisis ekonomi global, kekerasan yang merembet kemana-mana dan kepemimpinan nasional yang tidak mampu memberi arah ke mana masa depan bangsa dan negara kita. Ketiga, daya dukung lingkungan yang semakin melemah, energi yang tidak dapat diperbaharui hanya tinggal menghitung beberapa tahun, sementara energi alternatif yang dapat diperbaharui masih jauh dari realisasi, ditambah dengan perubahan iklim dan pemanasan global.
Supaya dapat melewati tantangan tersebut, Sastrapratedja menegaskan bahwa lima prinsip yang termuat dalam Pancasila dapat mengubah wajah Indonesia dalam menghadapi berbagai persoalan.[13] Pertama, menghormati dan mengakui agama-agama serta bebebasan beragama, menjunjung tingi dimensi spiritual manusia yang terdalam.[14] Kedua, menempatkan kemanusiaan sebagai prinsip kehidupan bangsa dan negara. Ketiga, menjaga keutuhan sebagai negara dan bangsa, mengutamakan persatuan—seraya merawat keberagaman, menjauhkan diri dari segmentasi atau pengkotak-kotakan masyarakat. Keempat, mengutamakan musyawarah, di mana demokrasi harus juga menghormati hukum. Kelima, membangun negara dan bangsa Indonesia, agar setiap warga mendapatkan keadilan dan kesejahteraan.
HUMANISME
Bagi Sastrapratedja, humanisme merupakan “kemanusiaan inti” atau “humanitas inti”, dimensi esensial manusia yang universal.[15] Pikiran rasional membuat manusia manusiawi.[16] Itulah pula yang membedakan manusia dengan yang bukan manusia. Rasio juga mempersatukan seluruh bangsa manusia. Sehingga bertindak secara moral adalah memperlakukan orang lain sebagai makhluk rasional dan karenanya sebagai tujuan moral.[17]
Menurut Sastrapratedja, terdapat tiga konsep kunci dalam humanisme Pencerahan, di mana diletakkan dasar bagi formasi modernitas.[18] Pertama, tekanan pada manusia sebagai subjek. Manusia adalah pelaku yang memiliki kebebasan dan akal budi. Kedua, kepercayaan akan kemajuan sebagai arah sejarah manusia. Sejarah “diciptakan” oleh manusia dan selalu dialami sebagai “belum lengkap” dan karenanya terbuka bagi masa depan. Ketiga, humanisme Pencerahan yang diikuti modernitas, menekankan “esensialisme”. Humanisme didefinisikan oleh keyakinan akan adanya “esensi” manusia dan “kodrat manusia”.
Makna kemanusiaan atau humanitas tidak dapat diandaikan begitu saja, tetapi harus diketemukan dan dirumuskan secara baru dalam setiap perjumpaan dengan realitas dan konteks yang baru.[19] Dalam pengamatan Sastrapratedja, dari satu sisi humanisme dengan inspirasi Pencerahan dianggap sebagai sumber berbagai malapetaka: imperialisme, fasisme, dan totalitarianisme.[20] Sedangkan dari sisi lain, humanisme sebagai filsafat telah mempertahankan kebebasan dan martabat manusia melawan berbagai bentuk tirani.
Satu hal yang tidak bisa ditiadakan dalam humanisme, ialah harkat dan martabat manusia yang harus dihormati dan dikembangkan.[21] Filsafat dalam konteks ini, menurut Sastrapratedja, bertugas “menafsirkan” pengalaman manusia dan berbagai tradisi budaya, sehingga tercipta saling pemahaman antar budaya dan yang pada gilirannya akan memberikan kontribusi bagi peningkatan hidup dan martabat manusia.[22]
PENDIDIKAN
Sastrapratedja memahami pendidikan sebagai suatu proses yang berlaku sepanjang hayat.[23] Selain itu, pendidikan juga dapat dipahami sebagai pembangunan manusia. Terkait hal ini, Sastrapratedja mengemukakan dua intisari humanisme dalam kaitannya dengan pendidikan.[24] Pertama, pendidikan adalah proses untuk mengembangkan diri dalam berbagai dimensinya. Kedua, pendidikan sebagai humanisasi menuntut bahwa pendidikan harus memungkinkan manusia membangun visi kehidupan, yaitu pandangan menyeluruh mengenai kehidupannya, mengenai tempat dia tinggal dalam kosmos, mengenai tempat dia dalam masyarakat dan bangsanya.
Idealisme atau cita-cita pengembangan diri untuk menjadi semakin lebih manusiawi terangkum dalam istilah humanisme, yaitu paham yang memberi tempat utama bagi martabat manusia yang utuh, yang merangkum berbagai dimensi, intelektual, moral, estetik, religius, baik pada tataran individual maupun sosial.[25] Dengan demikian ia menjadi manusia yang berwatak, berkepribadian dan berwawasan sosial yang luas.[26] Sastrapratedja juga menekankan bahwa pendidikan merupakan bagian penting dalam proses pembudayaan manusia.[27]
Bagi Sastrapratedja, pendidikan sebagai humanisasi harus mendorong orang untuk mencari kebenaran yang lebih utuh, menyeimbangkan culture of separation dengan culture of coherence.[28] Selanjutnya, apabila kita mengharapkan lembaga pendidikan berperan dalam menciptakan integrasi sosial dan bangsa, maka pendidikan haruslah menumbuhkan “modal sosial” (social capital).[29] Pendidikan, dengan membangun modal sosial dan memperluas “jangkauan kepercayaan” antar warga masyarakat, membangun suatu komunitas yang disebut “bangsa” dan dengan demikian juga menjadi faktor integrasi bangsa.[30]
PENUTUP
Berdasarkan uraian di atas, terdapat sejumlah pokok gagasan yang perlu mendapatkan perhatian. Pertama, filsafat merupakan kebijaksanaan, seni hidup.[31] Seni bagaimana orang dapat memperkembangkan hidupnya secara lebih sempurna. Selain itu, membantu kita untuk berpikir sistematis, metodis, dan koheren. Kedua, manusia tidak hidup sendirian, tetapi ia hidup bersama orang lain.[32] Sehingga sosialitas manusia merupakan dimensi fundamental manusia. Terkait hal ini, konsep manusia sebagai “Pribadi” dan “Persona” merangkum keseluruhan dimensi manusia.[33] Konsep tersebut juga mencerminkan martabat manusia. Ketiga, humanisme adalah undangan untuk saling menjadi semakin manusiawi.[34] Oleh karena itu, manusia tidak dapat direduksi menjadi sarana, tetapi selalu merupakan tujuan.[35] Keempat, pendidikan yang mendasarkan diri pada humanisme disebut sebagai humanisasi, yaitu proses pemanusiaan terus menerus.[36] Di masa sekarang pendidikan humaniora harus mendapatkan bentuk yang baru. Bagaimanapun juga pendidikan humaniora harus menjadi perspektif dalam seluruh pendidikan.
Pandangan Sastrapratedja tentang filsafat, manusia, humanisme, dan pendidikan relevan untuk kehidupan di tengah lingkungan sosial masyarakat. Pertama, filsafat membantu kita untuk mengambil jarak atau jeda ketika berhadapan dengan berbagai macam peristiwa. Misalnya, emosi negatif, berita bohong, relasi tidak harmonis dengan yang lain, dll. Filsafat membantu untuk berpikir secara tajam dan jernih sebelum mengambil suatu keputusan serta tindakan. Melihat beragam peristiwa dengan cermat, tidak ikut arus, dan menghindari kepicikan (egoisme). Selain itu, filsafat memberikan dasar pengetahuan yang komprehensif yang memungkinkan masuk ke dalam kebenaran fundamental. Sehingga kehidupan manusia yang harmonis, semangat perdamaian, dan penghormatan terhadap martabat pribadi manusia dimungkinkan.
Kedua, dewasa ini kita menyaksikan fenomena perang dan perlombaan senjata. Selain itu, di sejumlah tempat terjadi tragedi kemanusiaan berupa penguasaan, penindasan, kekerasan, penganiayaan, dan pembunuhan. Hal ini menunjukkan bahwa telah terbangun suatu pola relasi totaliter yang bersifat egoistik. Oleh karena itu, dalam konteks relasi antar manusia kita harus menyadari pentingnya membangun persaudaraan universal, bersikap adil terhadap yang lain, menghormati dan menghargai eksitensi yang lain, dan bertanggung jawab terhadap eksistensi yang lain. Dengan demikian, cara hidup berdasarkan semangat keterbukaan, kerahiman, kebaikan, dialog, dan saling melengkapi mewarnai perjalanan hidup kita sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial.
Ketiga, salah satu persoalan sosial dalam kehidupan masyarakat yaitu melihat dan menempatkan sesama manusia sebagai objek, bukan subjek yang mempunyai martabat yang harus dihormati. Dengan kata lain, melihat sesama manusia sebagai objek yang dapat dikuasai dan diperbudak. Terkait hal ini, humanisme sebagai filsafat membantu kita untuk menyadari bahwa manusia tidak dapat direduksi menjadi objek atau sarana. Kesadaran tersebut penting dalam rangka peningkatan hidup dan menjamin penghormatan terhadap martabat manusia serta menjadikan kehidupan semakin manusiawi.
Keempat, kebebasan manusia bertindak dalam kehidupan masyarakat mempunyai dua kemungkinan, membawa dampak yang lebih baik atau lebih buruk. Terkait hal ini, manusia adalah agen moral dan mempunyai kapasitas menentukan pilihan. Harapannya manusia mampu memberikan rasa hormat terhadap sesama manusia dan alam. Pendidikan dalam hal ini berperan mengarahkan manusia pada perubahan perilaku dan mengasah kepekaan. Selain itu, pendidikan yang terus berlangsung dalam pembangunan manusia dan mengembangkan diri memungkinkan terwujudnya pribadi manusia yang integral serta manusia yang mempunyai visi kehidupan. ***
SUMBER BACAAN
Sastrapratedja, M. Agama dan Tantangan Masa Kini. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma, 2002.
Sastrapratedja, M. “Filsafat Pancasila dalam Kehidupan Budaya Bangsa”. Jurnal Filsafat. Seri 26 (Desember 1996), hlm. 23-30.
Sastrapratedja, M. Filsafat Manusia 1. Jakarta: Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila, 2010.
Sastrapratedja, M. “Kursus Filsafat Manusia”. Diktat. Jakarta: STF Driyarkara, 1984/1985.
Sastrapratedja, M. Lima Gagasan yang Dapat Mengubah Indonesia. Jakarta: Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila, 2013.
Sastrapratedja, M. Manusia dalam Berbagai Dimensi. Jakarta: STF Driyarkara, 2021.
Sastrapratedja, M. Pendidikan Sebagai Humanisasi. Jakarta: Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila, 2015.
Sastrapratedja, M. “Setelah Lima Ratus Tahun, Berakhirkah Humanisme?”. Pidato Pengukuhan Guru Besar. Jakarta: STF Driyarkara, 2003.
[1] M. Sastrapratedja, “Kursus Filsafat Manusia”, Diktat (Jakarta: STF Driyarkara, 1984/1985), hlm. 2.
[2] M. Sastrapratedja, “Kursus Filsafat Manusia”, 2.
[3] M. Sastrapratedja, “Kursus Filsafat Manusia”, 1.
[4] M. Sastrapratedja, “Kursus Filsafat Manusia”, 1.
[5] M. Sastrapratedja, “Kursus Filsafat Manusia”, 3.
[6] M. Sastrapratedja, “Kursus Filsafat Manusia”, 9.
[7] M. Sastrapratedja, “Filsafat Pancasila dalam Kehidupan Budaya Bangsa”, Jurnal Filsafat, Seri 26 (Desember 1996), hlm. 24. Hubungan manusia dan kebudayaan semakin rumit. Kebudayaan tidak hanya merupakan manifestasi dari aktivitas manusia tetapi juga mendeterminasi manusia. Hubungan manusia dan kebudayaan bersifat dialektis. Lih. M. Sastrapratedja, Manusia dalam Berbagai Relasi (Jakarta: STF Driyarkara, 2021), hlm. iii.
[8] M. Sastrapratedja, “Filsafat Pancasila dalam Kehidupan Budaya Bangsa”, 25.
[9] M. Sastrapratedja, “Filsafat Pancasila dalam Kehidupan Budaya Bangsa”, 25.
[10] M. Sastrapratedja, “Filsafat Pancasila dalam Kehidupan Budaya Bangsa”, 27.
[11] M. Sastrapratedja, “Filsafat Pancasila dalam Kehidupan Budaya Bangsa”, 28-29.
[12] M. Sastrapratedja, Lima Gagasan yang Dapat Mengubah Indonesia (Jakarta: Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila, 2013), hlm. ix.
[13] M. Sastrapratedja, Lima Gagasan yang Dapat Mengubah Indonesia, ix-x.
[14] Agama telah didefinisikan oleh para sosiolog dengan berbagai cara. Namun satu unsur dari agama yang bersifat umum, ialah bahwa agama mengafirmasi keberadaan “yang transenden”, yang dapat diungkapkan dengan berbagai cara dan istilah. Lih. M. Sastrapratedja, Agama dan Tantangan Masa Kini (Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma, 2002), hlm. i.
[15] M. Sastrapratedja, “Setelah Lima Ratus Tahun, Berakhirkah Humanisme?”, Pidato Pengukuhan Guru Besar (Jakarta: STF Driyarkara, 2003), hlm. 3.
[16] M. Sastrapratedja, “Setelah Lima Ratus Tahun, Berakhirkah Humanisme?”, 3.
[17] M. Sastrapratedja, “Setelah Lima Ratus Tahun, Berakhirkah Humanisme?”, 10.
[18] M. Sastrapratedja, “Setelah Lima Ratus Tahun, Berakhirkah Humanisme?”, 11-12.
[19] M. Sastrapratedja, “Setelah Lima Ratus Tahun, Berakhirkah Humanisme?”, 24.
[20] M. Sastrapratedja, “Setelah Lima Ratus Tahun, Berakhirkah Humanisme?”, 24.
[21] M. Sastrapratedja, “Setelah Lima Ratus Tahun, Berakhirkah Humanisme?”, 27.
[22] M. Sastrapratedja, “Setelah Lima Ratus Tahun, Berakhirkah Humanisme?”, 27.
[23] M. Sastrapratedja, Pendidikan Sebagai Humanisasi (Jakarta: Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila, 2015), hlm. iii.
[24] M. Sastrapratedja, Pendidikan Sebagai Humanisasi, iv.
[25] M. Sastrapratedja, Pendidikan Sebagai Humanisasi, iv.
[26] M. Sastrapratedja, Pendidikan Sebagai Humanisasi, iv.
[27] M. Sastrapratedja, Pendidikan Sebagai Humanisasi, v.
[28] M. Sastrapratedja, Pendidikan Sebagai Humanisasi, v.
[29] Modal sosial adalah serangkaian nilai atau norma sosial informal yang dihayati oleh anggota kelompok, yang memungkinkan terjadinya kerjasama di antara para anggota. Dari antara nilai sosial, yang terpenting adalah kepercayaan (trust) yaitu keyakinan bahwa para anggota masyarakat dapat saling berlaku jujur dan dapat diandalkan. Lih. M. Sastrapratedja, Pendidikan Sebagai Humanisasi, v-vi.
[30] M. Sastrapratedja, Pendidikan Sebagai Humanisasi, vi.
[31] M. Sastrapratedja, “Kursus Filsafat Manusia”, 1.
[32] M. Sastrapratedja, Filsafat Manusia 1 (Jakarta: Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila, 2010), hlm. xii.
[33] M. Sastrapratedja, Filsafat Manusia 1, xix.
[34] M. Sastrapratedja, “Setelah Lima Ratus Tahun, Berakhirkah Humanisme?”, 25.
[35] M. Sastrapratedja, “Setelah Lima Ratus Tahun, Berakhirkah Humanisme?”, 26.
[36] M. Sastrapratedja, Pendidikan Sebagai Humanisasi, iv.
