Yohanes Wahyu Prasetyo
(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)
Martin Heidegger (1889-1976) belajar filsafat di Universitas Freiburg dan menjadi mahasiswa Edmund Husserl (1859-1938). Husserl adalah seorang Yahudi dan pada waktu itu menerima dakwaan dari Nazi. Ia diberhentikan oleh Universitas Freiburg dalam upaya menghindari kerusuhan politik di dalam institusi dan departemen filsafat. Heidegger menerima jabatan sebagai ketua departemen filsafat yang baru di Freiburg. Secara bersamaan Heidegger bergabung dengan partai Nazi untuk mempertahankan posisinya yang baru diperoleh. Namun, sebagian besar sejarawan menunjukkan bahwa Heidegger tidak pernah berusaha membatalkan ideologi Nazi selama Perang Dunia II.
Rahner menilai bahwa pemikiran Heidegger terlalu banyak berasumsi tentang Nazisme (Nazism). Sehingga Rahner memilih Martin Honecker sebagai pembimbing disertasinya, bukan Heidegger. Namun, harus diakui bahwa Rahner mendapat pengaruh dari Heidegger selama studi dua tahun bersamanya. Rahner belajar dari Heidegger tentang cara berpikir, membaca teks dengan cara baru, dan mempertanyakan sesuatu yang ada di balik teks. Selain itu, Heidegger mengajarkan kepada Rahner untuk mempertanyakan kembali tradisi dan menginspirasi perjuangan memasukkan filsafat modern ke dalam teologi Kristen.
Contoh signifikan pengaruh Heidegger pada pemikiran Rahner dapat diamati dalam implikasi terkait pengalaman eksistensial. Eksistensial adalah istilah yang digunakan Heidegger untuk menunjuk karakteristik keberadaan manusia atau berada di dunia (being-in-the-world). Bagi Rahner, karakteristik eksistensial mengacu pada pribadi manusia sebagai transenden, bebas, historis, dan terancam oleh dosa serta rasa bersalah.
Gagasan Heidegger tentang kemanusiaan mencerminkan pandangan bahwa tidak ada perbedaan antara pribadi (person) dan dunia (world). Sehingga tidak ada subjektivitas atau objektivitas bagi pribadi manusia. Salah satunya adalah pengalamannya sendiri tentang dunia tempat di mana ia lahir dan meninggal. Keunikan menjadi manusia terdiri dari pengalaman seseorang tentang keberadaan pribadinya di dunia. Oleh karena itu, preferensi Heidegger merujuk pada pribadi manusia sebagai yang berada di sana (being-there). Tidak seperti makhluk hidup lainnya, hanya manusia yang menyadari kematiannya sendiri. Pengakuan ini berasal dari frasa Heidegger, keberadaan menuju kematian (being-toward-death). Namun, “berada di sana” konsisten dalam keterlibatan dengan kehidupan dan keberadaan manusia di dunia.
Seseorang terus-menerus terserap dalam pengalaman hidupnya sendiri. Dalam hal ini, kecemasan (angst/anxiety) terjadi dalam kaitannya dengan “berada di Sana” ketika mereka kehilangan pandangan akan realitas pribadi mereka dan dipaksa membuat pilihan hidup dengan pengetahuan yang terbatas mengenai masa depan. Heidegger percaya bahwa “berada di sana” harus otentik, tidak tergantung pada pendapat orang lain atau hal-hal dangkal sehari-hari dalam kehidupan seseorang. Dalam keotentikan, seseorang menjadi pribadi yang reflektif dan sadar diri (self-aware). “Berada di sana” diperlukan untuk melihat kehidupan mereka sebagai proses yang berkelanjutan. Yang ada (the existent) dilemparkan ke dunia dan memiliki kebebasan, terlepas dari kecemasan dan pengalamannya dunia menentukan etosnya sendiri. Jika “berada di sana” senantiasa waspada (vigilant) dalam keotentikan pribadi, maka pembebasan (liberation) dapat dialami bahkan dalam situasi kehidupan yang traumatis.
Empat semester studi Rahner bersama Heidegger mempengaruhi konsepnya tentang keberadaan manusia (the human existent). Namun, dalam teologi Rahner, pengalaman manusia dan keterlibatannya dengan perubahan orang lain mengarahkan teologinya pada perjumpaan yang terjadi setiap hari dengan eksterioritas orang lain, di mana orientasi terhadap yang lain diekspresikan dalam istilah ada (being). Hal ini menjadi alasan bagi Harvey Egan menyebut Rahner sebagai teolog mistik kehidupan sehari-hari (mystical theologian of everyday life). Menurut Harvey Egan, titik tolak teologi Rahner adalah komunikasi diri Allah dengan pribadi manusia. Rahner bergerak maju dalam usaha eksistensial yang pada akhirnya memandang rahmat Allah sebagai komunikasi diri-Nya. Rahmat bagi Rahner adalah eksistensi universal yang tidak dirusak oleh pengalaman manusia. Bahkan ia menemukan Allah dalam perjumpaan dengan pejalan kaki dalam kehidupan sehari-hari.
Gagasan eksistensial Heidegger dimasukkan Rahner ke dalam cara pandang yang lebih komprehensif dan antropologi teologis yang baru. Heidegger sangat prihatin dengan gagasan tentang manusia. Ia menerapkan istilah “berada di sana” (Dasein/being-there) untuk manusia. “Berada di sana” adalah dunia sehari-hari yang penuh dengan situasi (situations), keadaan (circumstances), dan objek (objects). Dengan kata lain, Dasein didasarkan pada realitas dunia, berada di dalam dunia (being-in-the-world).
Rahner mendamaikan Dasein Heidegger, mensintesiskan konsep tersebut dalam interpretasi Kristen. Pemikiran Rahner cenderung menganggap manusia sebagai makhluk transenden sejauh pengetahuannya dan aktivitas sadarnya didasarkan pada prapemahaman (pre-apprehension / Vorgriff), pengetahuan yang tidak tematis tetapi selalu hadir dalam ketidakterbatasan realitas (the infinity of reality). Rahner mengadaptasi dari Heidegger pertimbangan ontologis dan epistemik manusia. Ia menggunakan proposisi yang dipinjam dari pendidikan filosofis Skolastiknya. Meskipun subjek yang mengetahui terbatas, ia kompeten untuk memahami konsepsi ketidakterbatasan (the conception of infinity). Namun, konsekuensi dari keterbatasan subjek mengharuskan konsepsi ini dihasilkan secara eksternal.
Rahner memberi nuansa pada posisi ini dengan menunjukkan bahwa dasar pemikiran berada di luar pemikiran, namun tidak dapat dipahami secara konseptual dengan pemikiran internal. Hal ini sejatinya pada tingkat tertentu tidak terpikirkan (unthinkable). Pengakuan dasar pemikiran (the ground of thinking) ini diperkenalkan oleh Heidegger kepada Rahner yang menyebutnya sebagai misteri (mystery), unsur rahasia (secret ingredient). Meskipun demikian, Rahner memahami dasar pemikiran mengenai misteri sebagai pengalaman manusiawi yang dalam bentuk teologis merupakan pengalaman transenden (transcendent experience). Oleh karena itu, jika Misteri Suci (Holy Mystery) disimpulkan sebagai dasar dari setiap kondisi kontingen kebebasan dan kehidupan manusia termasuk Dasein, maka harus dipertanyakan apakah cara pandang Rahner mempengaruhi faktisitas manusia (human facticity). Apakah keberadaan di dunia (being-in-the-world) Heidegger memengaruhi konsepsi teologis Rahner tentang manusia menuju transendentalisme epistemologis? Jika hal ini yang terjadi, maka teologi antroposentris Rahner yang baru mulai berkembang berada di bawah pengaruh Heidegger.
Sementara Heidegger memandang pribadi manusia sebagai berada di dunia (being-in-the-world), argumentasi teologis Rahner memandang paradigma pribadi manusia sebagai Roh di Dunia (Spirit in the World). Konsekuensi dari posisi Rahner tersebut adalah pemahaman bahwa intelek manusia memiliki kapasitas untuk berpikir, mengalami, dan mencari Allah dalam segala hal. Tentu saja Rahner tidak pernah membatalkan artikulasi dasar teosentris. Semuanya mengalir dari prakarsa kudus Allah Trinitas yang komunikasi diri-Nya di dalam Kristus melalui Roh Kudus diberikan secara gratis.
Rahner melihat manusia sebagai roh (spirit), namun roh tersebut bertemu dengan dunia. Roh tersebut menunjukkan kekuatan manusia yang melampaui dunia dan mengenali yang metafisik. Dunia menunjukkan realitas yang dapat diakses oleh pengalaman manusia, ada kesatuan dari keduanya. Lebih lanjut Rahner merefleksikan bahwa manusia adalah roh di dunia, Pengada itu sendiri (Being itself) yang melampaui dunia.
Pribadi manusia adalah makhluk yang mendengarkan firman Allah (the word of God). Makhluk yang menunggu komunikasi diri Allah. Makhluk yang mendengar di luar dirinya terhadap wahyu Allah dalam sejarah. Manusia adalah makhluk spiritual yang menerima dan berdiri dalam kebebasan di hadapan Allah. Bagi Rahner, pemikiran manusia dapat mencapai itu semua, di mana untuk memahami kata dan menguraikannya bukan lagi persoalan filsafat agama (the philosophy of religion) tetapi tugas teologi.
Rahner meyakini relasi bebas Makhluk atau Pengada (Being) in se dengan manusia. Oleh karena itu, Rahner mengakui pentingnya persoalan filosofis mendasar tentang Makhluk atau Pengada (Being). Sehingga ia sadar akan masalah teologis tentang Allah dalam Kekristenan kontemporer. Bagi Rahner, Allah adalah realitas terpenting yang ada, di mana manusia ada untuknya, keluar dari domain keberadaannya sendiri dan masuk ke dalam misteri Allah. Sehingga manusialah yang pada akhirnya berelasi dengan Allah, harus melupakan diri untuk Allah. Dalam pengertian ini, seseorang tidak akan pernah bisa berteologi dengan cara pandang antroposentris. Karena Allah tidak digambarkan sebagai objek individu di dunia. Sebaliknya, Allah adalah yang mutlak, yang tidak bersyarat, tempat di mana manusia bergantung, yang harus disembah, dan yang kepadanya manusia harus menyerahkan diri tanpa syarat bersama Yesus yang disalibkan.
Dua tahun setelah ditahbiskan menjadi imam Katolik Roma, Rahner belajar filsafat bersama Heidegger. Gaya pedagogisnya menggunakan pemeriksaan teks yang cermat dalam upaya mengumpulkan perspektif baru. Heidegger terpesona dengan studi tentang Ada (Being). Ia tidak memfokuskan pekerjaannya pada pertanyaan tentang Allah. Namun, Rahner menyarankan bahwa sementara tidak ada sifat doktrinal yang ditangkap darinya, ia belajar darinya mengenai gaya berpikir dan menyelidiki. Secara khusus Rahner percaya bahwa ia telah belajar dari Heidegger sebuah rubrik baru di mana orang dapat menyimpulkan sintesis dari analisis yang cermat terhadap proposisi dogmatis. Pendekatan sintetik (synthetic) ini memungkinkan seseorang mengambil pertimbangan doktrinal menjadi prinsip-prinsip utama. Konsekuensi dari metodologi ini menghasilkan kerangka kebenaran dogmatis internal yang koheren.
Ketika belajar bersama Heidegger, Rahner menemukan signifikansinya dalam gagasan tentang realitas eksistensial manusia yang terbenam di dunia. Heidegger tidak mempengaruhi pertanyaan teologis Rahner, karena Heidegger tidak menulis secara khusus tentangnya. Meskipun demikian, Rahner belajar dari Heidegger tentang keberanian untuk mempertanyakan banyak hal baru dalam tradisi yang dianggap terbukti dengan sendirinya. Selain itu, perjuangan untuk memasukkan filsafat modern ke dalam teologi Kristen.
SUMBER BACAAN
Kobus, Milton Michael. The Doctrine of the Trinity according to Karl Rahner. Oklahoma: Graduate Theological Foundation, 2007.
CATATAN
Tulisan ini pernah dipublikasikan dengan keterangan sebagai berikut:
Prasetyo, Yohanes Wahyu. “Pengaruh Martin Heidegger Terhadap Karl Rahner”. Gita Sang Surya. Vol. 19, No. 3 (Juli-September 2024), hlm. 52-55. ISSN 1978-3868
