Yohanes Wahyu Prasetyo
(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarjana STF Driyarkara Jakarta)
Manusia memandang alam semesta sebagai sarana memenuhi hasrat pribadi. Terkait hal ini, terdapat sejumlah fenomena kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia. Pertama, pembabatan hutan secara masif mengakibatkan banjir, tanah longsor, marga satwa punah, erosi tanah, dan debit air berkurang. Kedua, pencemaran air melalui limbah domestik dan industri. Ketiga, pencemaran udara melalui emisi kendaraan dan sumber pencemar lainnya. Keempat, aktivitas pertambangan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan.
Berhadapan dengan realitas tersebut, manusia bersikap apatis, tidak merasa bersalah. Oleh karena itu, bumi menuju kehancuran, karena manusia tidak peduli terhadap alam. Selain itu, manusia melihat alam sebagai objek ekploitasi. Perlu diketahui bahwa persoalan tersebut dilatarbelakangi kurangnya refleksi kritis dan kontrol terhadap lingkungan hidup.
Penelitian pustaka tentang “merawat bumi sebagai rumah kita bersama” dalam ensiklik Laudato Si sangat penting. Hal ini sebagai salah satu upaya untuk secara berkelanjutan menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran serta cinta terhadap lingkungan hidup melalui literasi dan pendidikan ekologi. Selain itu, penelitian pustaka ini dapat menjadi sumbangan pemikiran di ranah diskursus intelektual publik dalam rangka membangun komitmen untuk “merawat bumi sebagai rumah kita bersama”.
Ensiklik Laudato Si yang ditulis Paus Fransiskus mempunyai pengaruh pada abad XXI. Karena ensiklik tersebut tidak hanya ditujukan kepada umat Katolik, tetapi kepada masyarakat luas, setiap orang yang mempunyai kehendak baik untuk merawat bumi sebagai rumah kita bersama. Dalam ensiklik Laudato Si, Paus Fransiskus menguraikan persoalan global, yaitu krisis ekologi dan darurat iklim. Berhadapan dengan persoalan tersebut, Paus Fransiskus menekankan pentingnya pendidikan ekologi, mempromosikan ekologi integral. Bahwa segala sesuatu yang ada di dunia saling terhubung dan alam tidak boleh dilihat sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan manusia. Selain itu, berpihak kepada orang miskin, menghormati martabat pribadi manusia, dan mengejawantahkan kebaikan bersama. Menjamin terwujudnya keadilan sosial, kesejahteraan masyarakat pada masa kini dan masa mendatang. Paus Fransiskus juga mengusulkan supaya analisis mengenai dampak lingkungan dibuat sebelum menyusun kebijakan, rencana, dan program tertentu. Pada tataran praksis, Paus Fransiskus melihat pentingnya pertobatan ekologis global yang diwarnai dengan logika cinta kasih, bukan logika perampasan.
Supaya dapat memahami “Merawat Bumi Sebagai Rumah Kita Bersama: Belajar dari Ensiklik Laudato Si Paus Fransiskus” dengan baik, penulis menguraikan tulisan ini ke dalam sepuluh pokok gagasan. Pertama, pengantar. Kedua, sekilas tentang Laudato Si. Ketiga, konsumerisme sebagai salah satu penyebab krisis ekologi. Keempat, mengatasi krisis ekologi melalui pendidikan ekologis. Kelima, mengejawantahkan pertobatan ekologis dengan melihat sakralitas alam semesta. Keenam, mencintai lingkungan sebagai sarana memeroleh sukacita dan kedamaian. Ketujuh, membangun dunia dengan berpartisipasi pada bidang sipil dan politik. Kedelapan, manusia menghadirkan dinamika Allah Tritunggal. Kesembilan, sejumlah catatan dan komentar terhadap Paus Fransiskus dan ensiklik Laudato Si. Kesepuluh, penutup.
SEKILAS TENTANG LAUDATO SI
Persoalan lingkungan hidup diangkat pada tataran global atau pun nasional. Pada 18 Juni 2015, Paus Fransiskus membuat gebrakan dengan mempublikasikan ensiklik Laudato Si. Perlu diketahui bahwa Laudato Si adalah dokumen Ajaran Sosial Gereja. Keputusan mempercepat kelahiran Laudato Si merupakan komitmen Paus Fransiskus menanggapi persoalan lingkungan hidup, mencakup keadilan sosial dan spiritual. Hal ini dipengaruhi kunjungannya ke Tacloban-Filipina pada Januari 2015.
Pada waktu itu Tacloban mengalami bencana super taifun Haiyan atau Yolanda. Bencana tersebut mengakibatkan empat juta penduduk kehilangan tempat tinggal, enam belas juta penduduk kehilangan pekerjaan, dan kerugian mencapai tiga milyar dollar Amerika. Ketika melakukan kunjungan, Paus Fransiskus merasakan taifun yang melewati Tacloban. Menyaksikan ribuan orang berdiri beberapa jam di bawah siraman hujan menunggu kehadirannya, Paus Fransiskus digerakkan rasa belas kasih.
Ensiklik Laudato Si memuat seratus tujuh puluh dua catatan kaki yang dikutip dari gagasan Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, dan Bartolomeus I (Patriark Gereja Ortodoks Timur). Selain itu, lebih dari sepuluh persen kutipan diambil dari berbagai macam dokumen konferensi para uskup, secara khusus dari belahan bumi selatan. Paus Fransikus juga mengutip gagasan Thomas Aquinas, Ali al-Khawas (Sufi abad IX), Pierre Teilhard de Chardin, dan Romano Guardini. Oleh karena itu, berdasarkan berbagai macam kutipan tersebut, Paus Fransiskus menyampaikan sejumlah persoalan yang dirasakan Gereja.
Ensiklik Laudato Si diuraikan dalam enam bab. Pertama, apa yang terjadi dengan rumah kita bersama. Kedua, kabar baik (Injil) penciptaan. Ketiga, akar manusiawi dari krisis ekologis. Keempat, ekologi integral. Kelima, beberapa pedoman orientasi dan aksi. Keenam, pendidikan dan spiritualitas ekologis. Hal ini menunjukkan bahwa Paus Fransiskus ingin menyentuh semua aspek yang melatarbelakangi krisis lingkungan hidup dan cara mengatasinya berdasarkan terang Injil. Dengan demikian, ensiklik Laudato Si ditujukan untuk semua orang (kristiani dan non-kristiani) supaya bergandengan tangan merawat dan melindungi bumi. Karena bumi adalah rumah kita bersama.
KONSUMERISME SEBAGAI SALAH SATU PENYEBAB KRISIS EKOLOGI
Manusia kurang menyadari asal-usulnya, rasa kepemilikan, dan masa depan bersama ciptaan lainnya. Tiga hal tersebut sejatinya merupakan landasan untuk mengubah cara hidup. Secara khusus ketika berhadapan dengan tantangan budaya, pendidikan, dan spiritualitas dalam melakukan pembaruan. Terkait hal ini, Paus Fransiskus menggarisbawahi cara hidup manusia modern, memuaskan diri sendiri dengan cara mengonsumsi berbagai macam barang. Selain itu, paradigma tekno-ekonomi membentuk perilaku kompulsif manusia, mengatasi ketidaknyamanan dengan cara mengkonsumsi. Namun, usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Justru membuat manusia terobsesi memenuhi keinginan, mengumpulkan berbagai macam barang. Dengan demikian, Paus Fransiskus menegaskan bahwa manusia belum mencapai kesadaran dalam mengarahkan hidup.
Gaya hidup konsumtif menunjukkan krisis dalam diri manusia. Bukan sekadar krisis lingkungan hidup (eksploitasi sumber daya alam), melainkan krisis spiritual. Pada masa lampau, spiritualitas leluhur lahir melalui interaksi dengan unsur-unsur alam. Jika mendalami budaya masa lampau, maka ditemukan berbagai macam preskripsi, yaitu ritual, tabu, dan totem. Oleh karena itu, gejala alam menjadi referensi kehidupan. Meskipun secara rasional tidak bisa dijelaskan dan dianggap takhyul, tetapi terdapat nilai yang ingin diungkapkan. Misalnya, setiap anak harus menghabiskan makanan yang disantap. Jika tidak menghabiskan makanan tersebut, maka ayam mereka akan mati. Selain itu, nasi yang dibuang akan menangis. Berdasarkan rasionalitas dan ilmu modern, ungkapan tersebut tidak masuk akal. Terkait hal ini, nilai yang ingin disampaikan yaitu menghargai makanan, tidak boleh membuang makanan. Ungkapan “nasi menangis” menunjukkan bahwa nasi dikenal sebagai sesuatu yang hidup. Dewasa ini masyarakat seringkali membuang makanan, sedangkan di tempat lain banyak orang kelaparan.
Manusia modern mempunyai kecenderungan menilai segala sesuatu di luar dirinya sebagai objek. Oleh karena itu, manusia menjadi egosentris, menempatkan diri sebagai pusat segala sesuatu. Terkait hal ini, Paus Fransiskus menegaskan bahwa ketika manusia terpusat pada diri sendiri maka keserakahan meningkat. Perlu diketahui bahwa sikap egosentris menyebabkan alienasi, terasing dari sesama dan lingkungan sekitar. Selain itu, ikatan psikis yang terkikis menyebabkan rasa kehilangan dalam batin manusia. Hal ini membuat manusia mencari yang hilang dengan cara mengkonsumsi.
MENGATASI KRISIS EKOLOGI MELALUI PENDIDIKAN EKOLOGIS
Gaya hidup konsumtif dan sistem ekonomi tidak sehat membelenggu dunia. Namun, Paus Fransiskus meyakini bahwa manusia mampu bangkit, memilih yang terbaik dan membarui diri, melampaui kondisi mental serta sosial yang dipaksakan kepadanya. Hal ini merupakan tugas besar, mengubah kehadiran manusia yang destruktif menjadi ramah. Oleh karena itu, manusia harus mengubah arah dan cara hidup, memulihkan kondisi alam. Terkait hal ini, Paus Fransiskus menegaskan pentingnya membudayakan kebiasaan baik, bukan sekadar memberikan informasi. Selain itu, menyadari mitos modernitas yang membentuk sikap individualistis dan mengejar kemajuan tanpa batas.
Pendidikan harus dilakukan sejak awal, di mana tradisi agama mempunyai peran mendukung pendidikan berwawasan lingkungan. Pendidikan dan agama harus membangkitkan kesadaran kaum muda mengenai dunia di mana mereka hidup, bagaimana dunia berfungsi, cara membawakan diri, peran mereka di tengah alam semesta, dan perkembangan sejarah yang membentuk lingkungan fisik serta kultural. Melalui kesadaran terhadap masa lalu dan masa kini, pendidikan serta agama harus mengomunikasikan hidup yang ideal.
Paus Fransiskus mendorong pendidikan ekologis mulai dari unit terkecil, yaitu keluarga, sekolah, dan media katekese. Selain itu, perlu memahami latar belakang pendidikan ekologis. Terkait hal ini, pendidikan dan agama harus dilandaskan pada pemahaman mengenai proses terbentuknya alam semesta. Melalui kosmologi fungsional, manusia diharapkan mampu mengatasi keterasingan dan memperbarui diri menuju cara hidup berkelanjutan. Perlu diketahui bahwa alam semesta terbentuk melalui pewahyuan Yang Ilahi. Keyakinan tersebut membangkitkan visi dan kekuatan, membawa manusia dan seluruh ciptaan kepada tatanan baru.
MENGEJAWANTAHKAN PERTOBATAN EKOLOGIS DENGAN MELIHAT SAKRALITAS ALAM SEMESTA
Kesakralan alam semesta sebagai pewahyuan Yang Ilahi selaras dengan gagasan Paus Fransiskus mengenai relasi berdasarkan kegunaan praktis antara manusia dan lingkungan. Hal ini merupakan landasan pertobatan ekologis sebagaimana dinarasikan Paus Fransiskus dalam Laudato Si artikel 216-221. Perlu diketahui bahwa pertobatan ekologis merupakan bentuk penyesalan manusia. Karena manusia telah memerlakukan ciptaan secara keliru. Terkait hal ini, diperlukan kesadaran bahwa seluruh ciptaan merupakan persekutuan universal, saling terkait dan tidak terpisah. Selain itu, Yang Ilahi menciptakan segala sesuatu untuk mengomunikasikan diri-Nya. Dengan demikian, alam semesta berpartisipasi dalam kebaikan-Nya.
Persekutuan universal merupakan perwujudan Yang Ilahi. Oleh karena itu, setiap ciptaan mempunyai nilai dan membawa jejak Yang Ilahi. Terkait hal ini, manusia harus menggunakan paradigma baru dalam memandang ciptaan, di mana setiap ciptaan merupakan subjek, bukan objek. Jika manusia memandang “yang lain” (Allah, sesama, dan ciptaan lainnya) sebagai subjek, maka persaudaraan dan kekerabatan mudah dibangun. Meskipun relasi dalam masyarakat berbentuk “rantai makanan”, relasi tersebut menggambarkan kesakralan dan pemberian diri, bukan ekspresi dominasi. Melalui pemberian diri, bukan hanya rasa syukur dan hormat yang ditingkatkan, tetapi juga mengajari manusia mengenali batas kewajaran dalam memenuhi kebutuhan. Selain itu, manusia belajar nilai pengorbanan dan kemurahan hati.
MENCINTAI LINGKUNGAN SEBAGAI SARANA MEMEROLEH SUKACITA DAN KEDAMAIAN
Paus Fransiskus dalam Laudato Si artikel 222-227 mengangkat tema sukacita dan kedamaian. Ia mendorong manusia belajar dari tradisi agama, para pendahulu, dan Kitab Suci berkenaan dengan kesederhanaan. Sebagaimana diuraikan dalam Kitab Suci, Yesus menegaskan bahwa di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Mat 6:21). Selain itu, manusia harus belajar dari perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh (Luk 12:13-21). Perlu diketahui bahwa Kitab Suci mengajarkan manusia tidak melekat pada harta benda dan menghindari sikap tamak, mensyukuri yang dipunyai serta belajar berkata cukup. Kegagalan menghidupi ajaran Kitab Suci membuat manusia tergoda ketika menghadapi konsumerisme, kebahagiaan semu. Terkait hal ini, gaya hidup konsumtif dibentuk oleh sistem ekonomi yang menempatkan keuntungan di atas segala sesuatu. Hal ini menunjukkan pemahaman yang keliru tentang peran manusia di tengah dunia.
Pada dasarnya manusia senantiasa mencari keseimbangan. Namun, putusnya relasi manusia dengan alam digantikan barang hasil perkembangan industri. Oleh karena itu, manusia mencari keseimbangan di antara berbagai macam barang dengan cara mengonsumsi. Perlu diketahui bahwa pemenuhan kebutuhan melalui perilaku konsumtif tidak memberikan rasa damai. Karena rasa damai hanya diperoleh ketika manusia menjalin relasi dengan diri sendiri dan lingkungan. Jika kesadaran tersebut bertumbuh dan berkembang, maka lahir sikap menghargai serta mencintai lingkungan, di mana tanpa lingkungan manusia tidak bisa hidup dan mencapai kebahagiaan serta kedamaian. Untuk mencapai kesadaran tersebut, manusia harus mengambil waktu dan belajar sikap hidup kontemplatif. Memandang segala sesuatu dengan penuh kesadaran dan cinta kasih.
Paus Fransiskus menunjukkan teladan Yesus, yaitu melihat bunga bakung di padang dan burung-burung di langit dan memandang seorang yang cemas dengan rasa penuh belas kasih (Mrk 10:21). Hal ini menunjukkan bahwa Yesus hadir kepada setiap makhluk. Selain itu, Yesus menunjukkan kunci menemukan kedamaian dan keseimbangan, yaitu belas kasih serta rasa syukur. Misalnya, ketika menerima pemberian dari ciptaan lainnya dalam bentuk makanan, manusia harus mengucap syukur kepada Allah sumber kehidupan.
Pada masa lampau, tradisi Kristen melakukan pembiaran perilaku eksploitatif, meyakini bahwa kehidupan sesungguhnya adalah kelak di sorga. Sedangkan kehidupan di dunia dipandang “sementara”. Oleh karena itu, umat Kristen acuh tak acuh terhadap persoalan lingkungan. Selain itu, interpretasi keliru mengenai peran manusia dalam Kitab Suci (Kej 1:28), “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”
Penyebab umat Kristen kehilangan intimasi dengan bumi adalah penekanan pada aspek penebusan dari dunia yang tidak sempurna. Terkait hal ini, kristianitas dipahami sebagai pengalaman penebusan dari godaan yang berasal dari dalam atau pun dari luar diri manusia. Oleh karena itu, manusia yang hidup di bumi seakan-akan berada dalam pencobaan, hidup di dunia namun tidak boleh melekat pada hal-hal duniawi. Hal ini membuat manusia merindukan rumah abadi, yaitu sorga. Dengan demikian, keyakinan bahwa manusia milik dunia sulit diterima. Selain itu, tidak mengherankan apabila persoalan lingkungan kurang mendapat perhatian. Menurut Paus Fransiskus, dunia merupakan tempat kediaman bersama, anugerah Allah yang harus dicintai dan dirawat.
MEMBANGUN DUNIA DENGAN BERPARTISIPASI PADA BIDANG SIPIL DAN POLITIK
Laudato Si artikel 228-232 membahas cinta pada bidang sipil dan politik. Terkait hal ini, Paus Fransiskus berbicara tentang cinta dalam konteks persaudaraan universal, yaitu pertobatan ekologis dan mempraktikkan ekologi integral dalam kehidupan sehari-hari. Paus Fransiskus meyakini bahwa tindakan manusia mengejawantahkan kepekaan dan berpartisipasi dalam bidang sosial serta politik, membangun dunia menjadi lebih baik. Selain itu, menjalin relasi dengan bumi dan saling mengembangkan. Hal ini membutuhkan dukungan manusia untuk mewujudnyatakan berbagai macam program tersebut di bumi. Karena bumi diyakini sebagai kediaman bersama.
Perlu diketahui bahwa Paus Fransiskus mengungkapkan aspek mistis setiap ciptaan, gerakan hati menemukan Allah dalam segala sesuatu. Ia menegaskan bahwa berjumpa dengan Allah tidak berarti lari dari dunia dan menyangkal alam. Hal ini merupakan pernyataan dan sikap rendah hati Gereja, menyempurnakan tugas dan perutusan di dunia. Karena pada masa lampau terdapat kecenderungan melihat bumi sebagai objek. Oleh karena itu, keterikatan pada dunia menjauhkan manusia dari Yang Ilahi. Namun, ketika belajar memahami spiritualitas bumi, manusia dihantar ke dalam pemahaman yang lebih mendalam akan Sang Pencipta.
Kegagalan manusia memahami aspek rohaniah bumi menunjukkan kurangnya persepsi spiritual. Apabila tradisi spiritual manusia (tradisi Kristen) memahami signifikansi spiritualitas alam semesta dan bumi, manusia menampilkan wajah berbeda. Oleh karena itu, dimensi spiritual harus dihidupkan. Jika direnungkan secara serius dan menerima masukan ilmu pengetahuan, maka kedasyatan peristiwa kelahiran semesta (bumi dan manusia) nampak. Perlu diketahui bahwa kehadiran Allah dalam ciptaan menunjukkan bahwa alam raya merupakan sakramen Allah.
Paus Fransiskus menegaskan bahwa Ekaristi merupakan tindakan kasih kosmik. Terkait hal ini, cinta kasih Allah dalam Ekaristi menyatukan ciptaan kepada Pencipta. Karena Ekaristi merupakan puncak perayaan iman dan syukur atas pemberian diri Allah melalui Yesus Kristus (1Yoh 1:1-3) yang membawa dimensi kosmik. Yesus Kristus hadir dan bersatu dengan Allah sebagai alfa, yaitu ada sejak semula sebelum segala sesuatu. Melalui inkarnasi, manifestasi Allah dalam Yesus Kristus memungkinkan manusia “bersentuhan” dengan-Nya. Sedangkan dalam Ekaristi, manusia secara konkret bersatu dengan Allah ketika menerima tubuh dan darah-Nya.
MANUSIA MENGHADIRKAN DINAMIKA ALLAH TRITUNGGAL
Allah Tritunggal melalui prinsip-prinsip alam semesta, yaitu keanekaragaman, interioritas, subjektivitas, dan persekutuan, menyediakan model doktrin kristiani mengenai Trinitas. Sebagaimana dinarasikan dalam Kitab Suci, manusia mempunyai model kekeluargaan, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Santo Agustinus menyebutnya sebagai kecerdasan merefleksikan diri sendiri. Selain itu, terdapat model sosial yang digunakan dunia modern, yaitu diri sendiri, orang lain, dan komunitas. Namun, tidak satu pun contoh tersebut mempunyai kualitas khusus dari model kosmologi yang mengemukakan Bapa sebagai prinsip diferensiasi. Putra sebagai ikon Sang Sabda, prinsip artikulasi dunia dalam. Roh Kudus sebagai kekuatan yang mengikat segala sesuatu secara bersama dan merangkul dengan penuh belas kasih. Dengan demikian, Gereja seharusnya tidak mengalami kesulitan ketika memahami alam semesta sebagai komunitas sakral.
Setiap ciptaan pada dasarnya unik. Hal ini dikenal sebagai prinsip keanekaragaman. Bukan hanya keanekaragaman antar makhluk, tetapi dalam makhluk yang sejenis prinsip keanekaragaman tetap ada. Realitas menunjukkan bahwa Allah Bapa (pribadi pertama Tritunggal Mahakudus) hanya bisa digambarkan ketika setiap ciptaan diikutsertakan dalam manifestasi keilahian-Nya. Sedangkan inkarnasi Allah dalam Yesus Kristus merupakan artikulasi interior, hadir sebagai Sabda yang menjadi manusia.
Relasi antara Allah Bapa dan Putra tampak dari pernyataan Yesus, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30). Perlu diketahui bahwa Kristus merupakan yang sulung dari seluruh ciptaan. Hal ini diungkapkan dalam doa-Nya kepada Bapa, “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita” (Yoh 17:21). Doa tersebut merupakan dasar iman, di mana setiap pribadi membawa anugerah interioritas, karena Allah hadir pada setiap pribadi.
Roh Kudus merupakan kekuatan yang mengikat seluruh ciptaan, bersifat kreatif dan merangkul alam raya dengan belas kasih Ilahi. Oleh karena itu, Roh Kudus adalah perwujudan persatuan universal alam semesta. Sebagaimana ditegaskan Paus Fransiskus, dalam diri manusia hadir dinamika tritunggal, juga dalam kesatuan seluruh alam raya. Terkait hal ini, Maria (Bunda Yesus Kristus) disebut ratu seluruh ciptaan. Karena hati Maria merasakan penderitaan orang miskin yang disalibkan dan makhluk yang dihancurkan manusia. Dengan demikian, relasi manusia dan bumi tergambarkan dalam relasi kita dengan Bunda Maria, menghendaki anak-anaknya mencapai kebahagiaan. Sebagaimana ibu merawat anaknya, bumi merawat manusia dan memberikan kehidupan.
Berdasarkan doktrin tentang Maria, terdapat sejumlah bagian yang menggambarkan Maria serupa dengan bumi. Karena darinya pokok anggur yang benar ditanam dan berbuah melalui karya Roh Kudus. Ketika manusia berinteraksi dengan alam dan mengembangkan rasa mistis terhadap keberadaan bumi, dibutuhkan kedekatan dengan tokoh historis, yaitu Sang Penebus dan ibu-Nya. Pada bagian akhir ensiklik Laudato Si, Paus Fransiskus menegaskan bahwa meskipun manusia akan menuju titik di mana segala sesuatu masuk ke dalam kepenuhan Yang Ilahi, ia mengingatkan bahwa perjalanan mencari dan menuju Allah merupakan peziarahan bersama seluruh ciptaan. Dengan demikian, meskipun perjuangan harus dilalui, manusia hendaknya mengalaminya dalam sukacita dan penuh pengharapan.
SEJUMLAH CATATAN DAN KOMENTAR TERHADAP PAUS FRANSISKUS DAN ENSIKLIK LAUDATO SI
Paus Fransiskus dan Ensiklik Laudato Si
Perlu diketahui bahwa meskipun Paus Fransiskus belajar kimia, ia pada dasarnya bukan ilmuwan alam. Ia bukan filsuf, kendati ia juga mendalami sejarah pemikiran Barat. Selain itu, meskipun Paus Fransiskus menempati posisi penting dalam Takhta Suci dan Negara Kota Vatikan, ia bukan ilmuwan politik serta politisi. Terlepas dari realitas tersebut, Ensiklik Laudato Si yang ia tulis sangat penting dan berpengaruh pada abad XXI.
Lebih tepat apabila menyebut Paus Fransiskus mempunyai otoritas epistemologis dan moral, bukan ilmuwan, filsuf, ilmuwan politik, dan politisi. Terkait hal ini, ketika ia berbicara, orang-orang mendengarkan dengan penuh perhatian. Bahkan bukan hanya umat Katolik yang mendengarkan secara serius berbagai macam pernyataan yang dilontarkan Paus Fransiskus. Dalam Laudato Si, ia berbicara mengenai persoalan global, yaitu krisis ekologi dan darurat iklim.
Laudato Si memungkinkan dialog publik yang melanjutkan gerakan lingkungan pada 1960. Selanjutnya, pada 1970, dikemukakan dengan lantang bahwa kemiskinan dan keterbelakangan harus diakui sebagai persoalan global. Berdasarkan laporan Brandt Commission (1980) dan Palme Commission (1982), adagium Our Common Future adalah tanggapan terhadap berbagai macam persoalan yang ada.
Menurut Brundtland Commission (1987), persoalan tentang lingkungan dan pembangunan yang dipandang sebagai krisis yang saling terkait dapat diatasi melalui pembangunan berkelanjutan. Namun, pembangunan berkelanjutan merupakan solusi yang bersifat retoris. Karena realitas kehidupan masyarakat dewasa ini secara sadar mengabaikan nilai-nilai spiritual yang memungkinkan terejawantahnya gerakan lingkungan.
Mayoritas masyarakat meyakini bahwa ukuran pembangunan ideal adalah capaian demokrasi sosial Eropa Utara. Berhadapan dengan asumsi tersebut, Laudato Si membuka ruang dialog dalam perspektif filsafat lingkungan dan teologi moral Katolik. Berdasarkan sudut pandang filosofis, Paus Fransiskus berhutang budi pada Alfred North Whitehead (1861-1947) dan Pierre Teilhard de Chardin (1881-1955). Paus Fransiskus dipengaruhi teologi proses John Boswell Cobb (teolog Protestan Amerika) yang menekankan perubahan menuju realisasi keberadaan yang lebih penuh.
Seperti Platon (427-347 SM) dan Thomas Aquinas (1225-1274), Paus Fransiskus memandang keberadaan sebagai pengakuan derajat serta sarat akan nilai. Paus Fransiskus meyakini bahwa spesies mempunyai nilai dalam dirinya sendiri (LS 33). Selain itu, ia memandang ciptaan Allah sebagai sesuatu yang baik dan mengagumkan (LS 140). Laudato Si secara eksplisit mengundang dialog di antara umat Katolik dan yang lainnya. Dialog tersebut terkait krisis lingkungan dan pembangunan yang saling terkait. Harapannya dialog mengenai krisis lingkungan menjadi perhatian dunia internasional.
Mengapa Laudato Si Menjadi Sorotan Publik?
Paus Fransiskus pada 18 Juni 2015 secara resmi mengeluarkan Laudato Si. Ensiklik tersebut membangkitkan minat dan keterlibatan banyak orang dalam berbagai macam bidang. Hal ini terjadi karena Laudato Si mencerminkan model klasik teologi publik Katolik yang secara spesifik membahas persoalan ekologi.
Perlu diketahui bahwa teologi publik Katolik adalah upaya membentuk diskursus dan kebijakan publik melalui komunikasi yang dapat dipahami melalui ajaran Gereja. Menarik sejumlah aspek tradisi Katolik dan menunjukkan visi etis masyarakat berdasarkan ajaran Katolik yang selaras dengan akal budi, sumber-sumber kebijaksanaan non-Katolik, dan komitmen pemerintah.
Ketika membaca Laudato Si, Paus Fransiskus meminta umat Katolik menjaga atau merawat ciptaan dalam terang komitmen iman. Namun, Ensiklik yang ditulis Paus Fransiskus ini tidak eksklusif untuk umat Katolik, tetapi juga untuk masyarakat luas. Ditujukan kepada semua orang yang berkehendak baik.
Paus Fransiskus mengundang umat Katolik untuk menumbuhkan dan mengembangkan teologi publik ekologis. Hal ini nampak ketika ia menganjurkan umat Katolik berdialog dengan sains (LS 199-201). Selain itu, Paus Fransiskus meyakini bahwa Allah memanggil umat-Nya untuk terlibat dalam dinamika sosial-politik (LS 231). Bahkan pada tataran tertentu Gereja mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memungkinkan terejawantahnya pendidikan ekologi, mempromosikan ekologi integral (LS 213).
Laudato Si mempunyai pengaruh luas, salah satu alasannya yaitu karena dikeluarkan oleh otoritas yang berwenang. David J. Stagaman menggambarkan otoritas sebagai a social reality that binds the author and the recipient together. Stagaman mengkategorikan otoritas ke dalam dua pokok gagasan, yaitu otoritas karismatik dan otoritas resmi. Terkait hal ini, wibawa Laudato Si dimungkinkan karena Paus Fransiskus yang menulis Ensiklik tersebut merupakan pribadi yang karismatik dan mempunyai otoritas di dalam Gereja Katolik.
Jika dibandingkan dengan Yohanes Paulus II (1920-2005) dan Benediktus XVI (1927-2022) yang juga menulis serta mengajarkan mengenai ekologi dan perubahan iklim, Paus Fransiskus jauh lebih menarik di mata banyak orang. Hal ini nampak ketika umat Katolik Amerika sangat mendukung Paus Fransiskus mengeluarkan Laudato Si. Kebajikan pastoral seperti kegembiraan dan belas kasihan yang dijunjung tinggi Paus Fransiskus menjadi faktor lain yang juga mengena di hati umat Katolik serta masyarakat pada umumnya.
Laudato Si dan Keberpihakan Terhadap Orang-Orang Miskin
Keberpihakan terhadap orang-orang miskin, menjunjung tinggi martabat pribadi manusia, dan pentingnya mengejawantahkan kebaikan bersama mendapat tekanan kuat dalam Laudato Si. Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila mengatakan bahwa Ensiklik yang ditulis Paus Fransiskus ini memberikan kontribusi besar dalam tradisi intelektual Katolik dan menjadi tuntunan praksis dalam kehidupan sehari-hari. Terkait hal ini, orang-orang miskin harus diperhatikan, karena mereka merupakan kelompok yang paling terdampak. Misalnya ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan atau pun terjadinya fenomena alam seperti perubahan iklim.
Perlu diketahui bahwa Laudato Si sejalan dengan alam pikiran teologi pembebasan yang merupakan reaksi moral terhadap ketidakadilan sosial dan kemiskinan. Allah dipandang sebagai Pribadi yang senantiasa berpihak kepada orang-orang yang tidak berdaya. Harus diakui bahwa para ilmuwan lingkungan dan pembuat kebijakan tidak merujuk pada konsep teologis di mana Allah berpihak terhadap orang-orang miskin serta tidak berdaya. Berhadapan dengan realitas tersebut, gagasan teologi pembebasan menawarkan ukuran praktis bagi para pembuat kebijakan ketika berhadapan dengan situasi dan kondisi sulit.
Paus Fransiskus dalam LS 158 menulis demikian, dalam keadaan masyarakat global sekarang ini, dengan begitu banyak orang terpinggirkan, serta dirampas hak-hak asasinya, prinsip kesejahteraan umum, sebagai konsekuensi logis dan tak terelakkan, segera menjadi seruan kepada solidaritas dan pilihan preferensial untuk kaum miskin. Pilihan ini berarti menarik segala konsekuensi dari tujuan umum harta benda duniawi … hal ini pertama-tama meminta untuk memperhatikan martabat sangat besar orang miskin dalam terang keyakinan iman yang terdalam. Kita hanya perlu melihat realitas di sekitar kita untuk memahami bahwa pilihan ini sekarang menjadi tuntutan etis mendasar untuk mewujudkan kesejahteraan umum secara efektif.
Paus Fransiskus juga melihat minimnya rumah bagi masyarakat sebagai persoalan serius di desa atau pun di kota (LS 152). Karena yang mengalami kesulitan untuk memiliki rumah bukan hanya orang-orang miskin, tetapi juga masyarakat lainnya. Memiliki rumah pada dasarnya terkait dengan rasa martabat pribadi. Sehingga penting dalam sebuah kebijakan pada tataran pemerintah untuk menyediakan dan mengalokasikan sumber daya yang memungkinkan terutama bagi masyarakat miskin supaya dapat mempunyai rumah. Selanjutnya, Paus Fransiskus menekankan pentingnya memberikan perhatian terhadap masyarakat adat dan tradisi budaya mereka (LS 146). Masyarakat adat tidak boleh dipandang sebagai minoritas, tetapi mitra dialog. Mereka harus dilibatkan dalam dialog terutama ketika suatu kebijakan akan berdampak pada kehidupan mereka.
Paus Fransiskus memperluas pemahaman mengenai keberpihakan kepada orang-orang miskin dengan berpikir lintas waktu. Ketidakmampuan berpikir serius tentang generasi mendatang terkait ketidakmampuan memperluas ruang lingkup dalam rangka memberikan perhatian bagi mereka yang dikucilkan. Oleh karena itu, kesejahteraan masyarakat pada masa ini dan masa mendatang harus diperhatikan dengan baik. Akhirnya, Laudato Si layak digunakan sebagai landasan untuk mengambil sebuah kebijakan yang berpihak kepada orang-orang miskin.
Laudato Si dan Perjanjian Iklim Paris
Melalui United Nations Conference of the Parties (COP21), 195 negara mengadopsi perjanjian iklim global yang mengikat secara universal dan hukum. Kesepakatan tersebut dikenal luas sebagai Perjanjian Iklim Paris. Terkait hal ini, Paus Fransiskus dalam Laudato Si mengemukakan bahwa persoalan lingkungan dilatarbelakangi oleh masalah keadilan sosial.
Berhadapan dengan berbagai macam persoalan lingkungan dan keadilan sosial, Laudato Si menawarkan suatu pendekatan ekologi yang tepat yang dimungkinkan melalui pendekatan sosial. Mengintegrasikan pertanyaan mengenai keadilan dengan perdebatan tentang lingkungan. Namun, sejumlah kritikus Perjanjian Iklim Paris melihat bahwa usulan Paus Fransiskus terlalu lemah. Karena tidak memberikan hukuman ketika ketidakpatuhan mengemuka.
Kyoto Protocol dianggap lebih tegas dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca. Meskipun demikian, LS 211 menegaskan, adanya undang-undang dan aturan tidaklah cukup dalam jangka panjang untuk mengurangi perilaku buruk, bahkan ketika tersedia kontrol yang efektif. Agar peraturan hukum menghasilkan efek jangka panjang yang signifikan, sebagian besar anggota masyarakat harus menerimanya dengan motivasi yang tepat, dan menanggapinya berdasarkan suatu perubahan pribadi.
Uraian yang disampaikan Paus Fransiskus tersebut pada hakikatnya jauh lebih baik di antara beberapa gagasan yang diadopsi Perjanjian Iklim Paris. Karena Perjanjian Ilkim Paris dimaksudkan untuk memotivasi dan mengedukasi masyarakat supaya bersikap lebih baik di tengah lingkungan, bukan sekadar menegakkan hukum. Memberikan penjelasan kepada masyarakat secara komprehensif. Dengan kata lain, Perjanjian Iklim Paris lebih bersifat fasilitatif.
Melalui Laudato Si, Paus Fransiskus ingin memobilisasi tindakan pada tingkat lokal untuk menciptakan momentum global, yaitu United Nations Conference of the Parties (COP21). Terkait hal ini, Perjanjian Ilkim Paris memungkinkan tindakan tingkat lokal terejawantah dengan menyerukan bahwa pemangku kepentingan non-partai harus menangani dan menanggapi perubahan iklim. Upaya tersebut melibatkan masyarakat sipil, sektor swasta, lembaga keuangan, kota, dan otoritas subnasional lainnya.
Laudato Si, Teknologi, dan Persoalan Lingkungan
Merujuk pada Pew Research, 68% orang dewasa Amerika percaya bumi sedang memanas. Sebelum menulis Laudato Si, Paus Fransiskus menganalisis fenomena persoalan lingkungan dan peran perusahaan, pemerintah, dan masyarakat di dalamnya. Berdasarkan analisa, teknologi yang didasarkan pada penggunaan bahan bakar fosil mengakibatkan polusi dan harus segera diganti serta tidak boleh ditunda.
Teknologi dalam kaitannya dengan kepentingan bisnis sering kali digunakan sebagai media untuk mengatasi persoalan lingkungan. Namun, realitas memperlihatkan bahwa pemecahan masalah yang diupayakan melalui teknologi justru menimbulkan persoalan baru. Perlu diketahui bahwa Paus Fransiskus prihatin dengan situasi dan kondisi di mana perusahaan transnasional berupaya sedemikian rupa untuk mendapatkan keuntungan dalam jumlah besar.
Manusia era postmodern berhadapan dengan tantangan individulisme seperti budaya instan dan melihat diri sebagai pusat segala sesuatu. Berhadapan dengan persoalan tersebut, harus mengupayakan sumber daya di sejumlah tempat yang mengalami kekurangan. Hal ini dimaksudkan supaya menghasilkan pertumbuhan yang sehat di tengah masyarakat. Dengan kata lain, perlu dilakukan model pembangunan global. Selain itu, harus disadari bahwa perlindungan terhadap lingkungan tidak dapat dijamin hanya dengan mengandalkan perhitungan finansial dan manfaat.
Kepicikan politik, terlalu percaya pada teknologi, dan pengejaran kekayaan mengakibatkan lingkungan tereksploitasi serta rusak. Sehingga dibutuhkan pendekatan bijak terhadap lingkungan dan menyesuaikan kebutuhan untuk konsumsi dengan kelestarian bumi. Selain membahas persoalan lingkungan dan upaya untuk mengatasinya, Laudato Si juga menyerukan pentingnya dialog kasih.
Laudato Si memberikan pengaruh kepada orang-orang non-Katolik, karena mereka merasa dicintai oleh Paus Fransiskus. Perlu diketahui bahwa sumber bacaan yang digunakan Paus Fransiskus untuk menulis Ensiklik tersebut didominasi oleh doktrin Katolik. Misalnya, surat-surat apostolik, sejumlah Ensiklik sebelumnya, pernyataan konferensi para uskup, dan katekismus. Oleh karena itu, pada tataran tertentu pesan yang disampaikannya identik dengan pendidikan Katolik yang sangat ketat.
Meskipun Laudato Si yang ditulis Paus Fransiskus terkesan ketat, namun ia mampu menguraikannya secara indah dan dapat dipercaya. Paus Fransiskus merefleksikan pesan hukum lingkungan modern dan menawarkan berbagai macam tindakan yang dapat dilakukan dalam upaya mengatasi persoalan lingkungan secara terperinci. Misalnya, mengontrol penggunaan plastik dan kertas, menghemat penggunaan air, memilah sampah, memasak sesuai dengan kebutuhan, peduli terhadap ciptaan lainnya, menggunakan transportasi umum, menanam pohon, dan mematikan lampu apabila sudah tidak digunakan lagi.
Paus Fransiskus juga mengusulkan supaya analisis dampak lingkungan dibuat sebelum menyusun kebijakan, rencana, dan program tertentu. Selain itu, ia menunjukkan pentingnya prinsip kehati-hatian. Sehingga tidak mengherankan apabila Laudato Si menjadi sorotan publik. Ensiklik ini memberikan tugas dan tanggung jawab moral kepada orang Katolik serta masyarakat pada umumnya untuk menangani perubahan iklim dan memperhatikan orang-orang miskin.
Laudato Si, Sains, dan Politik
Menurut Michael Stafford Northcott (teolog politik Inggris), para ilmuwan iklim meyakini bahwa teori, observasi, dan data mengenai perubahan iklim yang mereka kemukakan tidak ada kaitannya dengan pandangan dunia sosial, politik, dan sistem kepercayaan. Berhadapan dengan persoalan tersebut, Northcott menegaskan bahwa sains dan politik berpengaruh pada terjadinya perubahan iklim. Selain itu, perubahan iklim berhubungan dengan relasi antara manusia dan lingkungan. Bahkan pada tataran tertentu perubahan iklim dapat dikaji berdasarkan sudut pandang antropologis dan teologis.
Kehadiran sains di tengah ide-ide dominan dan individualisme kompetitif, pada hakikatnya tidak bisa melepaskan diri dari alam pikiran politis serta teologis. Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si menunjukkan bahwa kepentingan pribadi yang dijunjung tinggi menghalangi terejawantahnya pertobatan ekologis global. Oleh karena itu, Paus Fransiskus menentang berbagai macam bentuk kehidupan politik kontemporer yang tidak sehat.
Krisis ekologi terjadi karena manusia gagal menerima gagasan mengenai batasan dan kebenaran relasi dengan Pencipta serta ciptaan lainnya. Terkait hal ini, dinamika kehidupan politik dan ekonomi harus dipahami sebagai praktik cinta kasih yang substantif, bukan logika perampasan. Krisis ekologi juga disebabkan oleh penolakan terhadap kebaikan substantif dan menonjolkan libido dominandi.
Dalam ranah teologi politik, Paus Fransiskus berharap supaya refleksi teologi membuat masyarakat sungguh-sungguh mempunyai kesadaran. Kesadaran untuk melakukan tindakan konkret ketika berhadapan dengan penderitaan yang dialami oleh sesama dan ciptaan lainnya.
Umat Katolik yang konservatif, neoliberal, dan libertarian melihat Paus Fransiskus terlalu optimis terkait kapasitas masyarakat mengekspresikan kasih, kurang menentang kecenderungan menuju kecemasan apokaliptik, dan pesimis dengan teknologi serta pasar sebagai mekanisme pengentasan kemiskinan. Mereka juga menilai bahwa politik pascaliberal senang karena Laudato Si menilai krisis ekologi sebagai krisis liberalisme.
Terlepas dari berbagai macam kritik yang disampaikan kepada Paus Fransiskus, Laudato Si pada hakikatnya menekankan peran negara sebagai agen positif untuk menanggulangi krisis ekologi. Ensiklik ini juga memusatkan perhatian terhadap relasi antara doktrin dan hukum, pentingnya menekankan kategori keadilan kontributif serta timbal balik ke dalam ranah perdebatan mengenai kesejahteraan dan kotrak sosial. Bahkan Laudato Si juga mengkritisi bentuk politik hijau.
Politik hijau digambarkan Paus Fransiskus sebagai ruang hijau berpagar yang tenang dan mengecualikan diri daripada merangkul yang lain. Sehingga tidak mengherankan apabila politik hijau mengecualikan diri dari persoalan kemiskinan, keadilan, kekuasaan, dan perdamaian. Oleh karena itu, politik kontemporer seperti politik hijau harus ditinjau ulang. Meskipun demikian, Laudato Si tidak membaptis bentuk politik tertentu.
Laudato Si dimaksudkan Paus Fransiskus untuk membuka ruang dialog universal. Selain doktrin Katolik, Paus Fransiskus merujuk pada literatur Ortodoks Timur dan filsafat sekuler. Harus diakui bahwa Laudato Si tidak kenal kompromi untuk melakukan pembaharuan politik dengan merujuk teologi Kristen mengenai relasi manusia dengan Pencipta dan ciptaan lainnya.
Paus Fransiskus dalam Laudato Si menunjukkan realitas penderitaan orang miskin, kerapuhan planet, segala sesuatu yang ada di dunia saling terhubung, kekuasaan melalui teknologi, ekonomi dan kemajuan, ekologi manusia, kebijakan internasional dan lokal, dan budaya membuang. Akhirnya, Paus Fransiskus menyarankan supaya teologi politik berdialog dengan berbagai macam persoalan yang ada dalam upaya mengatasi krisis ekologi.
Santo Fransiskus Assisi, Laudato Si, dan Piagam Milan
Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si menyebut bumi sebagai rumah kita bersama dan menekankan kesadaran akan eksistensi planet. Perlu diketahui bahwa Ensiklik ini ditujukan untuk semua orang, bukan hanya untuk umat Katolik. Jika membaca Laudato Si, maka nampak bahwa Paus Fransiskus menyerap gagasan Canticle of the Sun yang ditulis oleh Santo Fransiskus Assisi (1182-1226). Santo Fransiskus menulis karya tersebut pada 1224 dan dimaksudkan untuk memuji Allah Pencipta dalam bentuk nyanyian pujian. Selain itu, dalam nyanyian pujian tersebut, Santo Fransiskus menyebut bumi sebagai ibu yang memberi makan dan menghasilkan berbagai macam buah serta tumbuhan berwarna.
Menurut Paus Fransiskus, Santo Fransiskus adalah pribadi yang patut diteladani dalam upaya merawat orang-orang yang rentan. Selain itu, cara hidup yang ditunjukkan Santo Fransiskus dapat dijadikan acuan mengejawantahkan ekologi integral dalam suasana sukacita otentik. Sehingga tidak mengherankan apabila banyak orang mengatakan bahwa tidak ada Paus lain yang berani memikul beban dan tantangan dengan menggunakan nama Santo Fransiskus. Dalam Laudato Si, Paus Fransiskus mengkritik penyalahgunaan planet secara tidak bertanggungjawab. Terkait hal ini, Paus Fransiskus menegaskan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia pada hakikatnya saling terhubung.
Pertumbuhan dan perkembangan teknologi serta sains mendominasi alam dan mengakibatkan bencana yang tidak terbatas. Insektisida dan pupuk industri telah mencemari sungai, danau, dan air minum. Pembangkit listrik tenaga nuklir menyebabkan timbunan limbah nuklir yang berbahaya. Pertanian industri yang mengedepankan rekayasa genetika membuat petani kecil gulung tikar. Berhadapan dengan sejumlah persoalan tersebut, Paus Fransiskus mengajak ilmuwan, insinyur, pelobi, dan masyarakat untuk menerapkan pendekatan integral dalam rangka membuat perencanaan lingkungan serta mengatasi krisis ekologi.
Sebagaimana dipahami Paus Fransiskus, ekologi integral memuat berbagai macam aspek seperti lingkungan, pasar, politik, dan masyarakat. Ekologi integral memungkinkan menganalisis proses pengembangan, produksi, dan konsumsi dalam suatu ekosistem yang saling terkait. Misalnya, ketergantungan ekonomi menyebabkan pemanasan global dan naiknya permukaan laut. Selain itu, perusahaan dan industri yang menghasilkan aneka produk serta merek untuk memenuhi tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi mengakibatkan masifnya budaya membuang dan besarnya jumlah sampah.
Realitas memperlihatkan bahwa sampah plastik terserak dan mengambang di lautan, danau, dan sungai. Bahkan sampah-sampah tersebut berada di perut ikan dan burung. Terkait hal ini, Paus Fransiskus dalam Laudato Si memberikan suatu pemahaman bahwa alam tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan manusia. Oleh karena itu, manusia harus belajar mengaktualisasikan semangat ekologi sehari-hari seperti etika tanggung jawab pribadi, solidaritas, dan ketenangan hati. Ekologi sehari-hari juga dapat digunakan untuk melawan pendekatan utilitarian yang dominan dan alam pikiran antroposentris yang picik.
Ekologi sehari-hari terkait gaya hidup ekologis baru, mengedepankan semangat hidup komunitarian dan tidak egois. Karena eksistensi bumi pada hakikatnya mendahului keberadaan manusia. Sehingga manusia mempunyai tugas besar, yaitu menghormati dan melestarikan bumi. Tindakan tersebut dilakukan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk generasi yang akan datang. Harus diakui bahwa setiap spesies yang ada di bumi mempunyai hak mendapatkan perlindungan. Ketika berhadapan dengan aneka spesies, pertama-tama manusia tidak memandangnya sebagi sesuatu yang mendatangkan manfaat, tetapi menjunjung tinggi eksistensi mereka.
Ketika menjalani kehidupan di tengah dunia, Paus Fransiskus mengajarkan prinsip kerja sama, bukan persaingan. Kerja sama dimungkinkan apabila setiap manusia melakukan perubahan hati, meninggalkan budaya individualis. Kerja sama juga dimaksudkan untuk mengatasi polusi udara dan air, menggunakan transportasi umum, kebiasaan makan yang bertanggung jawab, dan menerapkan gaya hidup yang lebih sadar. Melihat realitas secara jujur di mana bumi yang adalah rumah kita bersama sedang mengalami kerusakan. Sehingga manusia harus senantiasa mempunyai harapan, mencari jalan keluar, dan menyelesaikan persoalan yang ada.
Sebagian besar pemimpin negara di seluruh dunia tidak memiliki visi dan kemauan memikul tanggung jawab atas kesehatan planet di tingkat nasional serta internasional. Oleh karena itu, Laudato Si meminta para pemimpin tersebut untuk bangun sebelum terlambat. Para pemimpin harus sadar bahwa dewasa ini terjadi pengurangan radikal keanekaragaman hayati, menipisnya sumber daya alam, ketergantungan pada bahan bakar fosil, kekurangan air minum, penggurunan, ribuan spesies punah, pemanasan iklim, dan pencemaran lingkungan.
Motif keuntungan dan kepentingan ekonomi mengalahkan kesadaran akan pentingnya kesejahteraan serta kebaikan bersama. Selain itu, dalam rangka mengatasi krisis ekologi, pemerintah dan masyarakat pada umumnya terlalu percaya serta cenderung mengandalkan sains dan teknologi. Bahkan mereka kurang menjelajahi geografi marjinal kaum miskin yang memungkinkan menemukan bukti situasi dan kondisi hidup orang-orang miskin yang memprihatinkan. Karena kerusakan planet sangat berdampak terutama terhadap orang-orang miskin. Dalam Laudato Si, Paus Fransiskus juga menyoroti persoalan pengangguran, kekurangan gizi, dan pendidikan.
Berdasarkan tradisi Yahudi-Kristen, eksistensi dunia dimungkinkan oleh Allah. Hal ini diartikulasikan secara tepat oleh Santo Fransiskus dalam Canticle of the Sun. Visi penciptaan tersebut pada dasarnya sama sebagaimana diyakini oleh masyarakat adat. Menurut masyarakat adat, tanah bukanlah komoditas, melainkan hadiah dari Allah dan leluhur mereka. Sehingga bumi dipandang sebagai ruang sakral untuk membangun komunikasi dengan para leluhur dan mempertahankan identitas serta nilai dan makna hidup yang mereka pegang teguh.
PENUTUP
Krisis ekologi merupakan krisis moral. Karena kerusakan lingkungan hidup tidak dapat dilepaskan dari moralitas perilaku manusia. Oleh karena itu, persoalan lingkungan hidup bukan sekadar persoalan teknis. Terkait hal ini, krisis ekologi dewasa ini adalah persoalan moral yang membutuhkan pertobatan ekologis. Pertobatan tersebut menyangkut perubahan perspektif, pola pikir, dan mentalitas manusia. Perlu diketahui bahwa perilaku manusia merusak alam tidak terlepas dari perspektifnya yang keliru terhadap alam. Karena perspektif antroposentrisme dan kapitalisme menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan hidup. Dengan demikian, Gereja sebagai institusi rohani mempunyai peran membangun perspektif dan mentalitas umat supaya peduli pada lingkungan hidup. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui seruan, kampanye, dan ajakan untuk bertindak secara konkret. ***
SUMBER BACAAN
Boelhower, William Q. “Laudato Si: On the Care of Our Common Home and The Milan Charter.” The AAG Review of Books. Vol. 4, No. 2 (2016), hlm. 95-99.
Brunk, Timothy. “Consumer Culture and the Body: Chauvet’s Perspective.” Worship 82 (Juli 2008), hlm. 290-310.
Dileo, Daniel R. “Laudato Si, Interest, and Engagement: An Account via Catholic Public Theology and Authority.” Environment: Science and Policy for Sustainable Development. Vol. 57, No. 6 (2015), hlm. 7-8.
Dimento, Joseph. “Laudato Si.” Environment: Science and Policy for Sustainable Development. Vol. 57, No. 6 (2015), hlm. 9-11.
Eckmann, Ted C. “Revisiting Laudato Si in the Context of the COP21 Paris Climate Agreement.” Environment: Science and Policy for Sustainable Development. Vol. 58, No. 5 (2016), hlm. 39-42.
Groppe, Elizabeth T. “Creation ex nihilo and ex amore: Ontological Freedom in the Theologies of John Zizioulas and Catherine Mowry Lacugna.” Modern Theology 21 (Juli 2005), hlm. 463-496.
Gunton, Colin. “Persons and Particularity.” Dalam Douglas H. Knight (editor). The Theology of John Zizioulas: Personhood and the Church. Hampshire: Ashgate, 2007, hlm. 97-107.
Harun, Martin. “Alkitab: Sumber Teologi Lingkungan Hidup?” Dalam Peter C. Aman (editor). Iman yang Merangkul Bumi: Mempertanggungjawabkan Iman di Hadapan Persoalan Ekologi. Jakarta: Obor, 2013, hlm. 1-25.
Hendani, Amelia. Memahami Laudato Si Bersama Thomas Berry. Jakarta: Obor, 2018.
Jamieson, Dale. “Why Laudato Si’ Matters.” Environment: Science and Policy for Sustainable. Vol. 57, No. 6 (2015), hlm. 19-20.
Kolmes, Steven A. “Environmental Policy Choices: The Importance of the Preferential Option for the Poor in Laudato Si.” Environment: Science and Policy for Sustainable Development. Vol. 58, No. 3 (2016), hlm. 15-17.
Knight, Douglas H. “The Spirit and Persons in the Liturgy.” Dalam Douglas H. Knight (editor). The Theology of John Zizioulas: Personhood and the Church. Hampshire: Ashgate, 2007, hlm. 183-196.
Martasudjita, E. Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral. Yogyakarta: Kanisius, 2005.
Paus Fransiskus. Laudato Si. Penerj. Martin Harun. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2015.
Rowlands, Anna. “Laudato Si: Rethinking Politics.” Political Theology. Vol. 16, No. 5 (2015), hlm. 418-420.
Sunarko, Adrianus. Kristologi: Tinjauan Historis Sistematis. Jakarta: Obor, 2017.
Suseno, Franz Magnis. Iman dan Hati Nurani: Gereja Berhadapan dengan Tantangan-Tantangan Zaman. Jakarta: Obor, 2014.
Westhelle, Vi. “The Weeping Mask: Ecological Crisis and the View of Nature.” Word & World 11 (Maret 1991), hlm. 137-146.
CATATAN
Tulisan ini pernah dipublikasikan dengan keterangan sebagai berikut:
Prasetyo, Yohanes Wahyu. “Merawat Bumi Sebagai Rumah Kita Bersama: Belajar dari Ensiklik Laudato Si Paus Fransiskus”. Gita Sang Surya. Vol. 21, No. 1 (Januari-Maret 2026), hlm. 4-17. ISSN 1978-3868
