July 4, 2026

Sekilas Tentang Sejarah Estetika

Yohanes Wahyu Prasetyo

(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarjana STF Driyarkara Jakarta)

APA ITU ESTETIKA?

Estetika berasal dari kata Yunani aisthetikos, mengamati dengan indra (aisthanomai). Selain itu, estetika terkait dengan kata aesthesis, pencerapan (perception). Perlu diketahui bahwa estetika berhubungan dengan pengalaman indrawi dan berbagai perasaan yang ditimbulkannya. Dengan demikian, estetika merupakan teori mengenai yang indah, prinsip landasan seni, penciptaan seni, dan penilaian terhadap karya seni.

Ruang lingkup estetika dibagi ke dalam tiga bidang. Pertama, filosofis (karakter, norma, dan nilai seni). Kedua, psikologis (pengamatan dan tanggapan, aktivitas penciptaan, dan pertunjukan). Ketiga, sosiologis (pengamatan, sarana, dan lingkungan).

Sedangkan kerangka pemikiran estetika terdiri dari empat periode. Pertama, Yunani kuno (kosmosentris, alam menjadi titik acuan refleksi). Kedua, abad pertengahan (teosentris, Allah menjadi titik acuan refleksi). Ketiga, modern (manusia menjadi titik pusat, titik tolak, dan titik gerak penyelidikan). Keempat, abad dua puluh dan dua puluh satu (simulasi digital, virtual reality, hyper reality, dan hologram).

Karya seni dapat dilihat dalam empat cara pandang. Pertama, idealisme (produk kegiatan mental-spiritual atau imajinasi kreatif, tidak bersifat fisik). Kedua, realisme logis (bersifat universal dan mendapat bentuk dari medium material). Ketiga, fenomenalisme (objek estetis). Keempat, linguistik (bersifat fisik).

Estetika dibagi ke dalam dua bagian. Pertama, estetika deskriptif, menguraikan fenomena keindahan. Kedua, estetika normatif, menyelidiki hakikat, dasar, dan ukuran keindahan. Selain itu, ada yang membagi estetika ke dalam dua cabang. Pertama, filsafat seni, mempertanyakan status ontologi karya seni. Kedua, filsafat keindahan, membahas pengertian keindahan dan mempertanyakan apakah keindahan itu subjektif atau objektif.

Perlu diketahui bahwa sepanjang sejarah para filsuf mempunyai pandangan yang bervariasi mengenai estetika. Selanjutnya, akan diuraikan secara singkat gagasan para filsuf mengenai estetika. (1) Plato: seni merupakan keterampilan mereproduksi sesuatu. (2) Aristoteles: seni mempunyai pengaruh bagi hidup manusia. (3) Plotinus: keindahan mengandung dimensi etis dan estetis. (4) Thomas: karya seni merupakan simbol Yang Ilahi.

(5) Alberti: seniman harus mengambil inspirasi dari alam. (6) Ficino: keindahan identik dengan realitas transenden. (7) Leonardo: lukisan harus dinamis-ekspresif dan membawa ketenangan. (8) Patrizi: seniman merupakan pencipta, bukan peniru alam. (9) Bacon: fungsi seni yaitu mempresentasikan tiruan realitas.

(10) Shaftesbury: cita rasa tunggal berguna untuk membuat putusan tentang ada atau tiadanya keindahan. (11) Hutcheson: keindahan merupakan nama yang diberikan pada ide yang muncul dalam diri manusia. (12) Burke: teori rasa internal bukan dasar keindahan. (13) Hume: yang indah merupakan hasil penilaian mereka yang menganggapnya indah.

(14) Kant: keindahan merupakan penilaian estetis yang subjektif. (15) Hegel: arsitektur menempati posisi lebih rendah daripada puisi. (16) Schopenhauer: musik menempati posisi lebih tinggi daripada puisi. (17) Nietzsche: seni merupakan media untuk memahami dunia. (18) Shinichi: seni pada dasarnya asimetris, tidak seimbang.

(19) Croce: karya seni bukan sekadar hiburan, pendidikan intelektual, dan moral. (20) Collingwood: seni dan kriya pada dasarnya berbeda. (21) Langer: seni mengandung logika simbolis. (22) Bell: bentuk bermakna merupakan kualitas seni visual. (23) Beardsley: karya seni merupakan tiruan dari tindakan berbicara.

ESTETIKA YUNANI KUNO

Plato (427-347 SM) mengajarkan konsep idea dalam tiga argumen. Pertama, paradigma (dunia atas menjadi contoh, prototipe, dan pola bagi dunia bawah). Kedua, hadir pada (dunia atas selalu hadir pada dunia bawah). Ketiga, partisipasi (dunia bawah ambil bagian atau berpartisipasi pada dunia atas). Terkait hal ini, Plato merumuskan teori mimesis (tiruan atau representasi) dalam karya seni, di mana segala sesuatu yang ada di dunia merupakan mimesis dari idea (yang asli).

Aristoteles (384-322 SM) menegaskan bahwa manusia mempunyai kapasitas membuat abstraksi melalui akal budi. Terkait hal ini, Aristoteles menggunakan pendekatan empiris, bertolak dari realitas indrawi. Oleh karena itu, hakikat benda tidak terletak pada idea benda. Melainkan mewujud secara konkret dan bertahap dalam serangkaian kejadian serta penampakan. Bergerak dari kemungkinan (potentia) menuju kenyataan (actus).

Selanjutnya, sebagaimana dikatakan Aristoteles, ada empat kategori penyebab (causa), yaitu materialis, efficiens, finalis, dan formalis. Berakar dari keyakinan tersebut, Aristoteles mengatakan bahwa keindahan merupakan keseimbangan dan keteraturan ukuran material. Hal ini berlaku pada berbagai karya seni ciptaan manusia. Dengan demikian, karya seni bukan sekadar tiruan dari benda pada dirinya, tetapi tiruan dari sesuatu yang universal.

Plotinus (205-270 M) menjelaskan teori trinitas yang terdiri atas Yang Esa (To Hen), Akal Budi (Nous), dan Jiwa (Psyche). Terkait hal ini, sistem filsafat Plotinus berpusat pada Yang Esa atau Yang Baik. Selanjutnya, Plotinus membagi pengetahuan ke dalam tiga tahap, yaitu pendapat, sains, dan iluminasi.

Sebagaimana ditegaskan Plotinus, konsep keindahan mengandung dimensi etis dan estetis, membantu mengenali dunia indrawi serta rohani. Berakar dari keyakinan tersebut, segala sesuatu dikatakan indah bukan karena warna, nada, bentuk yang murni, dan bersifat homogen. Melainkan apabila terdapat persatuan di antara berbagai bagian yang berbeda.

ESTETIKA THOMAS AQUINAS

Thomas Aquinas lahir pada 1225 di Rocca Sicca dekat Napoli-Italia. Thomas bergabung dan menjadi anggota Ordo Dominikan serta menjadi murid Albertus Agung di Paris dan Koln. Setelah menyelesaikan studi, Thomas mengajar teologi di Universitas Paris dan Italia. Dalam perjalanan menuju konsili Lyon 1274, Thomas meninggal di biara Fossanuova. Thomas mewariskan tiga puluh empat jilid karya dalam bentuk tulisan. Karya Thomas yang paling terkenal yaitu Summa Theologiae.

Thomas menunjukkan dua macam pengetahuan yang tidak saling bertentangan. Pertama, pengetahuan alam, di mana pengetahuan bertolak dari akal budi dan mempunyai sasaran pada sesuatu yang bersifat insani serta umum. Kedua, pengetahuan iman, di mana pengetahuan berpangkal pada wahyu adikodrati dan mempunyai sasaran pada sesuatu yang diwahyukan Allah serta disampaikan kepada manusia melalui Kitab Suci.

Menurut Thomas, estetika merupakan bagian atau cabang dari teologi. Oleh karena itu, dunia keseharian dilihat sebagai simbol Yang Ilahi. Terkait hal ini, keindahan tidak mempunyai nilai independen. Karena kebenaran pada dasarnya merupakan percikan kebenaran (splendor veritatis) Allah.

Thomas menegaskan pentingnya mengatasi dunia indrawi untuk sampai pada kontemplasi kesempurnaan Ilahi (Divine perfection). Karena keindahan sejati berada di wilayah Allah, ditangkap melalui intelek atau intuisi mistik. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Thomas ingin menentang konsep naturalisme dan kosmosentrisme Yunani kuno.

Estetika Thomas mempunyai tiga ciri. Pertama, bersifat metafisik dan rasional. Kedua, keindahan merupakan aspek dari Yang Baik (The Good). Ketiga, Yang Indah menyenangkan indra manusia. Selain itu, Thomas menunjukkan tiga syarat keindahan. Pertama, integritas (sempurna, tidak terpecah, dan tidak tersamai). Kedua, harmoni (selaras dan proporsional). Ketiga, kecermelangan (jelas, terang, dan jernih).

ESTETIKA RENAISANS

Renaisans (renaisssance) berasal dari kata re (kembali) dan naissance (kelahiran). Oleh karena itu, renaisans merupakan periode kebangkitan kembali minat pada budaya Yunani kuno. Terkait hal ini, renaisans mengembangkan ilmu pengetahuan modern.

Perlu diketahui bahwa renaisans mempropagandakan antroposentrisme dan menggeser cara berpikir periode Abad Pertengahan yang teosentris. Antroposentrisme renaisans sejalan dengan gagasan Protagoras mengenai manusia sebagai ukuran bagi segala-galanya (homo mensura).

Terdapat delapan prinsip dalam estetika renaisans. Pertama, seni lukis dan pahat mengandung sifat mental serta intelegensi, di mana seniman menyandang status sebagai sarjana, ilmuwan, dan orang santun (gentleman). Kedua, seni dan puisi menirukan alam, di mana ilmu empiris memberikan sejumlah petunjuk yang bermanfaat.

Ketiga, seni plastis (misalnya sastra) mengejar tujuan moral, yaitu perbaikan status sosial. Keempat, keindahan merupakan properti objektif benda yang terdiri atas tatanan, harmoni, proporsi, dan kebenaran. Kelima, puisi dan seni visual nilainya merosot atau menurun.

Keenam, seni tunduk dan mengikuti aturan kesempurnaan yang secara rasional dapat dimengerti, diformulasikan, dan diajarkan. Ketujuh, unsur perspektif menjadi penting dalam menciptakan karya seni. Kedelapan, seni pada periode renaisans berhutang budi pada mitologi klasik dan filsafat mistik. Selanjutnya, akan diuraikan pandangan sejumlah tokoh renaisans mengenai estetika.

Francesco Petrarca (1304-1374) menegaskan bahwa filsuf sejati sadar terhadap konteks. Karena filsafat bukan seni berkata asbtrak dan hampa. Melainkan seni hidup yang baik dan berkeutamaan. Oleh karena itu, pengetahuan Skolastik yang bersifat murni pada dasarnya tidak berguna. Hal ini didasarkan pada sebuah keyakinan bahwa filsafat harus bersifat praktis, di mana filsafat ada untuk manusia, bukan manusia ada untuk filsafat.

Leon Battista Alberti (1404-1472) menegaskan bahwa seniman harus mengambil inspirasi dari alam, mempelajari alam. Hal ini memungkinkan seniman menemukan gaya (style) yang diinginkan. Karena melalui alam gagasan yang ada di dalam diri seniman lebih mudah divisualisasikan. Terkait hal ini, ketika mengulas karya seni, Alberti seringkali menggunakan istilah kesatuan, keragaman, keanggunan, kesempurnaan, imajinasi, dan fantasi.

Marsilio Ficino (1433-1499) menegaskan bahwa keindahan identik dengan realitas transenden. Terkait hal ini, seni lukis dan seni pahat dipisahkan dari kerajinan praktis serta diperlakukan sebagai cabang ilmu yang lebih tinggi. Dengan demikian, melalui konsentrasi yang mengarah pada inti batin, seniman mampu menciptakan karya seni.

Leonardo da Vinci (1452-1519) mengajarkan empat macam perspektif. Pertama, penyusutan dan pengecilan benda ketika mundur dari pandangan mata (linier perspective). Kedua, perubahan warna pada benda ketika mundur dari pandangan mata (perspective of color). Ketiga, objek semakin kabur apabila jaraknya semakin jauh (perspective of disappearance). Keempat, aerial perspective yang disebabkan efek atmosfer pada warna.

Selain itu, Leonardo menjelaskan dua tahap dalam seni lukis. Pertama, observasi terhadap alam dan rinciannya secara ilmiah. Kedua, momentum inspirasi Ilahi, memvisualkan hasil observasi secara cermat. Akhirnya, Leonardo menegaskan dua tujuan yang harus dicapai seniman. Pertama, usaha agar lukisannya dinamis dan ekspresif. Kedua, menampilkan keindahan yang membawa ketenangan.

Francesco Patrizi (1529-1597) menegaskan bahwa seniman merupakan pencipta, bukan peniru alam. Karena seniman senantiasa mengungkapkan imajinasi kreatif. Terkait hal ini, puisi merupakan transformasi dari alam. Oleh karena itu, satu-satunya kualitas esensial seni murni yaitu keajaiban, sesuatu yang mengagumkan (the marvelous). Dengan demikian, penyair merupakan pribadi yang menciptakan keajaiban di dalam puisinya.

Francis Bacon (1561-1626) menegaskan bahwa fungsi seni yaitu mempresentasikan tiruan realitas (simulacrum of reality). Terkait hal ini, seniman memanfaatkan kekuatan imajinasi untuk menyampaikan tiruan realitas yang diubah dan disesuaikan dengan gagasannya. Tiruan realitas tersebut kemudian digarap sedemikian rupa dan menghasilkan realitas yang lebih menarik apabila dibandingkan dengan kehidupan aktual.

ESTETIKA INGGRIS ABAD XVIII

Para pemikir estetika Inggris abad XVIII bergulat dengan filsafat cita rasa (the philosophy of taste) dan mencari basis estetika dalam bentuk modern. Terkait hal ini, para pemikir Inggris memasukkan pengalaman keindahan ke dalam kategori kemampuan sensoris dan melihatnya sebagai fenomena cita rasa. Perlu diketahui bahwa persepsi tentang keindahan bukan sekadar kajian mengenai indra manusia. Selanjutnya, untuk dapat memahami estetika Inggris abad XVIII, akan diuraikan gagasan sejumlah pemikir Inggris.

Anthony Ashley Cooper/Shaftesbury (1671-1713) menegaskan bahwa ada kemampuan cita rasa tunggal yang berguna untuk membuat putusan tentang ada atau tiadanya keindahan. Terkait hal ini, putusan tersebut bersifat transendental. Perlu diketahui bahwa Shaftesbury memberikan sumbangan gagasan mengenai yang sublim (dunia sebagai ciptaan Allah) dan ketanpa-pamrihan (tindakan bernilai moral).

Francis Hutcheson (1694-1746) menegaskan bahwa keindahan bukan objek transendental dan bukan objek yang manusia lihat, dengar, dan sentuh. Terkait hal ini, keindahan merupakan nama yang diberikan pada ide yang muncul dalam diri manusia. Selain itu, rasa keindahan (sense of beauty) adalah kemampuan menerima ide.

Hutcheson meyakini kesatuan dalam keberagaman (uniformity amidst variety) sebagai fondasi estetika. Karena keindahan dibangun di atas dasar kesatuan (unity) antara yang asli dan salinannya. Sedangkan keanekaragaman (variety) didukung fakta bahwa yang asli dan salinannya merupakan dua hal berbeda (different) yang disatukan oleh kemiripan di antara keduanya.

Edmund Burke (1728-1797) menolak teori rasa internal sebagai dasar keindahan dan yang sublim. Terkait hal ini, Burke membedakan antara rasa senang positif dan relatif. Perlu diketahui bahwa rasa senang merupakan akibat dari hilangnya rasa sakit.

Rasa senang yang diperoleh dari keindahan yaitu cinta (kesenangan positif), berguna bagi kelestarian hidup manusia sehingga tidak punah. Sedangkan rasa senang yang sublim merupakan kesenangan relatif, berguna bagi kelestarian individu (misalnya hilangnya rasa sakit).

David Hume (1711-1776) mengajarkan dua macam persepsi, yaitu kesan (impression) dan ide (idea). Kesan merupakan pengalaman indrawi. Sedangkan ide merupakan ingatan akan berbagai kesan. Terkait hal ini, ide harus diasalkan dari kesan indrawi. Karena pikiran bekerja berdasarkan tiga prinsip, yaitu kemiripan (resemblance), kedekatan-hubungan (contiguity), dan sebab-akibat (cause and effect).

Perlu diketahui bahwa Hume merumuskan teori estetika berdasarkan gagasan epistemologi tentang penggabungan ide-ide (association of ideas) sebagai dasar daya cipta keindahan dalam diri manusia. Dengan demikian, yang indah merupakan hasil penilaian di antara mereka yang menganggapnya indah.

ESTETIKA ALEXANDER GOTTLIEB BAUMGARTEN

Alexander Gottlieb Baumgarten (1714-1762) mengembangkan estetika modern. Perlu diketahui bahwa Baumgarten berada dalam tradisi filsafat sistematis rasionalisme Christian Wolff (1679-1754). Menurut Baumgarten, rangkaian pengalaman terdiri dari susunan atau struktur yang rinci dan menyatu dalam seni sastra (misalnya puisi).

Puisi merupakan kejelasan luas (extensive clarity), di mana kejelasan luas tersebut terasa pada setiap aspek karya seni dan pengalaman estetis. Selain itu, puisi bersifat unik apabila dibandingkan dengan kejelasan intensif (intensive clarity) yang merupakan hasil dan tujuan kegiatan akal budi.

Baumgarten menguraikan tiga doktrin estetika. Pertama, estetika mencakup sains (pengalaman indrawi). Kedua, estetika mempunyai otonomi. Ketiga, pengetahuan estetis menunjukkan kesempurnaannya sendiri. Dengan kata lain, estetika bertugas menerjemahkan pengalaman indrawi yang kabur ke dalam imaji perseptual yang jelas atau jernih.

ESTETIKA GEORG WILHELM FRIEDRICH HEGEL

Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) menegaskan bahwa penciptaan manusia merupakan suatu proses. Realitas penciptaan manusia tersebut bukan sekadar ada (being). Melainkan suatu proses yang menjadi (becoming). Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa manusia bukan substansi, tetapi subjek.

Manusia dalam perjalanan hidup mengalami proses penyangkalan dan pernyataan diri melalui akal budi. Hal ini merupakan peningkatan pengertian, kesadaran, dan rasionalitas dalam sejarah. Hegel menyebutnya sebagai perjalanan kesadaran diri, dari pengetahuan indrawi menuju pengetahuan absolut. Selain itu, Hegel menyebutnya sebagai perkembangan roh, di mana roh subjektif melalui roh objektif menuju roh absolut.

Menurut Hegel, dialektika merupakan negativitas, membawa kemajuan menuju kebebasan yang lebih tinggi. Perlu diketahui bahwa dialektika menggunakan pola dialogis, yaitu saling menyangkal, saling membenarkan, dan saling memajukan.

Selanjutnya, Hegel berbicara tentang keindahan yang merupakan momen perkembangan roh menuju kesempurnaan. Momen tersebut dapat ditemukan dalam pengalaman hidup manusia. Terkait hal ini, Hegel menyatakan bahwa seni bukan sekadar alat. Karena pada dasarnya fungsi seni yaitu mengungkapkan roh (yang absolut) melalui tatanan material (indrawi). Jika melihat yang absolut hadir dalam karya seni, maka akan timbul rasa senang dan nikmat. Kesenangan dan kenikmatan tersebut disebut sebagai keindahan.

Hegel meyakini bahwa seni mengalami tiga tahap perkembangan. Pertama, bentuk simbolik, di mana bentuk dicari dalam ekspresi seni, tetapi tidak sampai menemukannya. Hal ini terjadi karena situasi dan kondisi yang abstrak serta tidak menentu. Perlu diketahui bahwa seni simbolik banyak ditemukan di dalam budaya Timur kuno, yaitu Mesir, Persia, India, dan Palestina. Terkait hal ini, arsitektur merupakan puncak seni simbolik.

Kedua, bentuk klasik, di mana terjadi kesatuan atau keselarasan antara ide (makna) dan manifestasi (bentuk). Hal ini memungkinkan adanya kesatuan (unity) atau keselarasan (harmony) antara subjektivitas spiritual dan realitas indrawi. Puncak seni klasik terwujud dalam seni pahat (patung). Terutama patung para dewa yang mempresentasikan kehidupan sebagai locus kebebasan, nilai, dan makna.

Ketiga, bentuk romantik, di mana terjadi pemisahan antara materi dan bentuk. Dalam seni romantik, roh (spirit) dikenal sebagai subjektivitas tak terbatas (infinite subjectivity) dan kebatinan absolut (absolute inwardness). Seni romantik mencapai puncak dalam puisi, musik, dan lukisan.

ESTETIKA ROMANTIK

Pada abad XIX, seni dan sastra dilihat sebagai ekspresi emosi seniman. Hal ini mendorong munculnya teori ekspresi seni dalam gerakan romantisme. Terdapat tujuh ciri yang menandai periode romantik. Pertama, seni merupakan ekspresi dan perasaan seniman. Kedua, di Prancis muncul semboyan seni untuk seni (l’art pour l’art).

Ketiga, terdapat sejumlah kata yang sering digunakan, yaitu orisinalitas, ekspresi, komunikasi, emosi, simbolisme, dan sentimental. Keempat, para seniman terlibat dalam eksotisme dan mistisisme. Kelima, memuja dan mendewakan seniman. Keenam, seniman mendewakan diri sendiri. Ketujuh, seniman tidak lagi mengikuti aturan dan tradisi.

Periode romantik membuahkan tiga teori ekspresi seni. Pertama, seni sebagai sarana komunikasi emosi. Kedua, ekspresi dan komunikasi merupakan fungsi sentral seni, di mana karya seni dikatakan berhasil apabila mampu mengkomunikasikan emosi. Ketiga, seni dipahami sebagai ekspresi diri, komunikasi emosi, dan perwujudan (embodiment) emosi. Selanjutnya, akan diuraikan gagasan dua tokoh estetika periode romantik, yaitu Schopenhauer dan Nietzsche.

Arthur Schopenhauer (1788-1860) menegaskan bahwa rasio tidak mampu mengetahui benda pada dirinya sendiri (das ding an sich). Oleh karena itu, untuk sampai pada realitas, harus menempuhnya melalui kehendak (will). Hanya melalui kehendak, manusia mampu merealisasikan diri sebagai pribadi yang bereksistensi.

Sebagaimana dikatakan Schopenhauer, seni membebaskan manusia dari tekanan kehendak yang mengobjektivasikan diri dalam seni. Objektivasi tersebut terjadi melalui dua cara. Pertama, ide dalam bentuk seni arsitektur, lukis, pahat, puisi, dan drama. Kedua, secara langsung (tanpa perantara), misalnya seni musik. Terkait hal ini, musik mendapat posisi tertinggi dalam filsafat Schopenhauer.

Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900) menegaskan bahwa moralitas tradisional (agama) tidak relevan bagi kehidupan masyarakat. Karena agama kehilangan kekuatan dan menghasilkan moral budak. Hal ini diciptakan oleh pribadi lemah dan rendah diri. Karakter pribadi tersebut mereka sebut sebagai kelembutan dan kebaikan hati.

Namun, kelembutan dan kebaikan hati justru semakin melemahkan manusia. Hal ini harus diantisipasi dan pada tataran tertentu harus dihancurkan. Oleh karena itu, mereka membutuhkan tuan aristokrat yang kuat (superman) untuk menggantikan moralitas tradisional.

Menurut Nietzsche, seni merupakan media untuk memahami dunia. Selain itu, seni dipahami sebagai countermovement terhadap gerakan agama, moralitas, dan filsafat. Jika seni digunakan sebagai sarana melawan suatu teori, maka akan terjadi mistifikasi seni.

Meskipun Nietzsche meyakini bahwa seni merupakan media untuk melawan kebenaran. Namun, apabila kebenaran yang sama dinobatkan sebagai yang absolut dan universal, hal ini akan menjadikannya sebagai kebenaran versi lain.

ESTETIKA ABAD XX

Croce, R. G. Collingwood, S. K. Langer, C. Bell, dan M. Beardsley merupakan tokoh estetika abad XX. Mereka melahirkan teori-teori seni yang memainkan peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan estetika. Croce berbicara mengenai teori intuisi dalam seni. Collingwood berbicara mengenai teori ekspresi imajinatif. Bell berbicara mengenai bentuk bermakna (significant form). Beardsley berbicara mengenai peran seni sebagai alat (instrument). Selanjutnya akan diuraikan secara lebih rinci gagasan mereka yang mewakili aliran utama filsafat seni abad XX.

Benedetto Croce (1866-1952) menguraikan empat pengalaman dalam estetika. Pertama, pengalaman estetis (non-konseptual atau intuisi). Kedua, pengalaman intuisi (curahan rasa dalam bentuk puisi). Ketiga, pengalaman yang ditemukan dalam sejarah. Keempat, pengalaman estetis tidak boleh digolongkan ke dalam karya seni. Karena karya seni bukan sekadar hiburan, pendidikan intelektual, dan moral.

Menurut Croce, terdapat sejumlah gagasan yang harus diperhatikan untuk memahami intuisi dan seni. Pertama, seni identik dengan pengetahuan intuitif. Kedua, tidak ada intuisi yang spesifik. Ketiga, tidak ada perbedaan intensitas antara intuisi dan seni. Keempat, adanya perbedaan yang bersifat ekstensif dan empiris dalam intuisi serta seni. Kelima, kejeniusan artistik.

Keenam, isi dan bentuk dalam estetika. Ketujuh, kritik terhadap imitasi alam dan ilusi artistik. Kedelapan, seni merupakan perasaan dan penampakan estetis, bukan sesuatu yang teoritis. Kesembilan, kritik terhadap teori indra estetis. Kesepuluh, kesatuan dan ketakterbagian karya seni. Kesebelas, seni sebagai pembebas.

Robin George Collingwood (1889-1943) menegaskan bahwa seni dan kriya (craft) pada dasarnya berbeda. Namun, dari zaman Plato sampai saat ini, teori teknik seni (the technical theory of art) meyakini bahwa seni dan kriya sama. Oleh karena itu, Collingwood menolak kesamaan antara seni dan kriya.

Menurut Collingwood, terdapat empat konsep atau gagasan dalam kriya. Pertama, kriya merupakan bahan mentah yang diubah melalui ketrampilan dan menjadi produk sebagaimana telah direncanakan. Kedua, benda dapat menjadi karya seni dan kriya. Ketiga, seniman harus mempunyai ketrampilan tertentu untuk mengkomunikasikan karya seni. Keempat, penguasaan teknik tertentu tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang seniman.

Selanjutnya, Collingwood memaparkan enam ciri kriya. Pertama, sarana dan tujuan pada dasarnya berbeda. Kedua, rencana (planning) dan pelaksanaan (execution) dibedakan. Ketiga, sarana dan tujuan saling terkait. Keempat, produk mentah dan produk akhir (artifact) dibedakan. Kelima, materi dan bentuk dibedakan. Keenam, terdapat berbagai macam jenis kriya yang saling melengkapi.

Collingwood menunjukkan enam macam seni yang seringkali keliru disebut sebagai seni. Pertama, hiburan (amusement art). Kedua, magi (magical art). Ketiga, teka-teki (puzzle). Keempat, pengajaran (instruction). Kelima, iklan atau propaganda (advertisement-propaganda). Keenam, nasihat atau peringatan (exhortation).

Susanne Katherina Langer (1895-1985) menegaskan bahwa seni mengandung logika simbolis, menampilkan persoalan etis. Terkait hal ini, estetika dapat menjadi jalan menuju etika. Oleh karena itu, Langger senantiasa bertolak dari tempat para seniman bekerja untuk merumuskan konsep seni. Bukan dari galeri di mana karya seni dipamerkan. Karena galeri kurang mencerminkan pengalaman lahirnya karya seni.

Langer menguraikan enam gagasan mengenai puisi, musik, dan berbagai karya seni lainnya. Pertama, melihat isu dan persoalan estetika melalui ekspresi, emosi, tulisan, dan simbol. Kedua, memperkaya dan memperdalam pengalaman melalui karya seni. Ketiga, melihat dua simbol yang berbeda dan tidak berkesinambungan dalam karya seni. Keempat, seni tari dan musik berasal dari pengetahuan (kebenaran). Kelima, musik menunjang hidup dan perasaan manusia. Keenam, musik menyembuhkan perasaan.

Dalam teori simbol dan estetika, Langer menunjukkan bahwa tanda (sign) digunakan untuk menyatakan peristiwa atau keadaan. Sedangkan simbol (symbol) dipahami sebagai wahana (vehicles) konsepsi manusia mengenai objek. Perlu diketahui bahwa terdapat dua macam simbol. Pertama, simbol diskursif (rasional atau dapat dipahami). Kedua, simbol representasional (dipahami secara spontan).

Menurut Langer, seni tidak mengulangi atau meniru alam. Oleh karena itu, Langer menolak teori mimesis Plato, di mana seni dipahami sebagai tiruan, tiruan dari tiruan (mimesis-memeseos). Karena seni pada dasarnya merupakan penciptaan, menghasilkan sesuatu yang baru dan lain sama sekali dari realitas alamiah. Hal ini menunjukkan bahwa simbol dalam seni bersifat ekspresif dan tampak hidup, ekspresi spontan perasaan yang bernilai edukatif.

Akhirnya, ekspresi seni bukan sekadar ekspresi diri. Karena ekspresi seni menawarkan nilai keindahan dan memperhalus komunikasi. Selain itu, dapat menularkan pengalaman subjektif seniman kepada orang lain. Hal ini yang memungkinkan seni bernilai edukatif.

Clive Bell (1881-1964) menegaskan bahwa bentuk bermakna (significant form) merupakan kualitas seni visual. Dalam desain grafis, bentuk bermakna karya seni diciptakan oleh pembuatnya. Misalnya pembuatan lay out poster mengenai suatu peristiwa (event) tertentu. Terkait hal ini, poster mengandung sejumlah elemen, yaitu headline, subheadline, dan body text. Jika tata letak poster menarik, tipografinya tepat, dan informatif, maka lay out poster tersebut dikategorikan sebagai bentuk bermakna.

Monroe Beardsley (1915-1985) menegaskan bahwa karya seni bukan sekadar tindakan berbicara (speech act), melainkan tiruan atau representasi dari tindakan berbicara. Karena karya seni pada dasarnya merupakan objek dan penalaran mengenai nilai serta sifat suatu karya, yang secara logis tidak berbeda dari penalaran lain tentang nilai. Perlu diketahui bahwa Beardsley menolak relativisme dan subjektivitas Kantian. Hal ini terjadi karena Beardsley meyakini gagasan tentang realisme estetis.

Menurut Beardsley, dalam karya seni, fenomenalisme merupakan kemampuan untuk mendapatkan kepuasan estetis dari berbagai macam objek yang kompleks. Selain itu, dalam fenomenalisme kepercayaan meningkat pada objek indah yang merupakan sumber kepuasan estetis. Sedangkan dalam instrumentalisme, pendidikan seni dilihat sebagai sesuatu yang estetis, tanpa pamrih (disinterested), dan seni untuk seni (art for art’s sake).

Beardsley meyakini bahwa bentuk objek estetis merupakan jumlah dari seluruh jaringan, yang meliputi setiap bagian dan properti regional. Jaringan tersebut dapat diumpamakan sebagai relasi antar unsur yang berskala besar. Dengan demikian, jika pengalaman estetis atau perhatian perseptual terhadap seluruh jaringan disatukan (unified), intens (intense), dan kompleks (complex), maka suatu karya seni berhasil serta memuaskan.

ESTETIKA POSTMODERN

Postmodernisme memisahkan diri dari aliran utama filsafat. Pemisahan diri tersebut terjadi pada periode pasca-pencerahan akal budi (post-enlightement). Menurut kaum postmodernis, cerita besar pencerahan, yaitu Hegelian dan Marxisme kehilangan daya tarik. Pada saat yang sama, fenomenologi dan eksistensialisme dilihat sebagai humanisme yang mengukuhkan subjek.

Postmodernisme menarik berbagai kesimpulan radikal dari perkembangan filsafat. Terkait hal ini, postmodernisme berasal dari Eropa Barat abad XX yang bersifat historis dan intelektual, mengembangkan seni serta teori seni.

Terdapat tiga ciri yang menandai postmodernisme. Pertama, penolakan atas klaim status istimewa dari seni dan budaya klasik. Kedua, rujukan pada diri dan skeptisisme epistemologis. Ketiga, kekalahan partai kiri baru (new left) pada 1968 menunjukkan ambivalensi postmodernisme.

Kritik postmodernisme terhadap pencerahan (aufklarung) dan modernisme terjadi di Prancis. Hal ini berlangsung setelah strukturalisme dan poststrukturalisme menolak Marxisme. Selain itu, postmodernisme tidak mau mengikuti para filsuf baru (nouveaux philosophes) pada 1970.

Postmodernisme menimbulkan enam pengaruh. Pertama, munculnya gagasan dualitas (subjek-objek, spiritual-material, manusia-dunia). Kedua, melahirkan pandangan objektif dan positivistik. Ketiga, ilmu positif-empiris diyakini sebagai kebenaran tertinggi. Keempat, melahirkan materialisme. Kelima, melahirkan militerisme. Keenam, bangkitnya tribalisme.

Dalam media seni, postmodernisme dibagi ke dalam lima bidang. Pertama, sastra (memberikan makna secara mendalam, bukan sekadar tuturan). Kedua, arsitektur (membebaskan diri dari konsep di mana bangunan dipahami dan diterjemahkan berdasarkan konteks). Ketiga, seni visual. Keempat, estetika (mengembangkan imitasi peristiwa masa lampau). Kelima, simulasi digital (instruksi matematis yang dikomputerisasi). Keenam, televisi.

Estetika postmodern mempunyai empat konsep. Pertama, simulasi. Kedua, rangkaian kejadian dan ide yang dihasilkan film sebelumnya kemudian diseleksi kembali. Ketiga, media berinteraksi dengan sejumlah teks. Keempat, adaptasi atau improvisasi.

Akhirnya, dalam estetika postmodern terdapat empat tahap perkembangan, dari representasi menuju simulasi. Pertama, refleksi berdasarkan realitas. Kedua, penyimpangan terhadap realitas. Ketiga, menunjukkan absennya realitas. Keempat, tidak mempunyai relasi dengan realitas diluar diri.

ESTETIKA ZEN BUDDHISME

Sejumlah orang menganggap Zen sebagai agama dan filsafat. Namun, berdasarkan perspektif sejarah, Zen berasal dari ajaran Buddhisme Mahayana. Terkait hal ini, Zen dibawa ke Tiongkok pada abad VI oleh Bodhidharma (470-543). Bodhidharma mengajarkan Buddhisme melalui meditasi, kemudian ia dianggap sebagai perintis Zen.

Terdapat empat gagasan penting dalam Buddhisme. Pertama, penderitaan (dukka), yaitu setiap makhluk hidup mempunyai kecenderungan mengalami penderitaan. Hal ini terlihat dalam siklus hidup manusia (lahir, tua, sakit, dan mati). Oleh karena itu, penderitaan merupakan fakta fisik dan mental yang tertanam dalam eksistensi setiap makhluk hidup.

Kedua, kesementaraan (annica), yaitu fenomena yang terdapat dalam eksistensi setiap benda. Perlu diketahui bahwa ajaran tentang annica dimaksudkan untuk menghindari dua ekstrim, realisme dan nihilisme.

Ketiga, ketiadaan diri atau tidak berinti (annata), yaitu tiadanya jiwa permanen dan kekal seperti substansi dalam diri manusia. Oleh karena itu, diri (self) bukan entitas tetap, melainkan entitas kosong (empty).

Keempat, nirvana, tathata, dan sunyata. Dalam Buddhisme, realitas absolut digambarkan sebagai pencerahan (nirvana). Sedangkan yang absolut dilukiskan sebagai kedemikianan (tathata) dan kekosongan (sunyata).

Sebagaimana diajarkan dalam Buddhisme, orang yang berhasil menghapus kehendak (ego) adalah orang yang sudah mencapai pencerahan (buddha). Orang yang sudah tercerahkan, menjadi satu dengan realitas absolut atau kebenaran absolut (tathata). Selanjutnya, akan diuraikan gagasan Shinichi Hisamatsu mengenai seni Zen.

Shinichi Hisamatsu (1889-1980) menguraikan tujuh ciri seni Zen. Pertama, asimetris (no rule), ketidakteraturan atau tidak seimbang. Kedua, kesederhanaan (no complexity), tidak rumit. Ketiga, sublimitas yang keras (no rank).

Keempat, alamiah (no mind), sewajarnya atau tidak dibuat-buat. Kelima, kedalaman dan kehalusan (no bottom). Keenam, bebas dari kemelekatan (non-attachment), tidak terikat atau tidak tergantung. Ketujuh, ketenangan (no stirring), tidak dibuat gelisah atau tidak dalam kegelisahan. ***

SUMBER BACAAN

Ali, Matius. Estetika: Pengantar Filsafat Seni. Jakarta: Sanggar Luxor, 2011.

Ali, Matius. Filsafat Timur: Sebuah Pengantar Hinduisme dan Buddhisme. Jakarta: Sanggar Luxor, 2013.

Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.

Bertens, K. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius, 1999.

Hadiwiyono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta: Kanisius, 1980.

Hamersma, Harry. Pintu Masuk Dunia Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 2008.

Hardiman, F. Budi. Pemikiran Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche. Yogyakarta: Kanisius, 2019.

Hauskeller, Michael. Seni, Apa Itu? Posisi Estetika dari Platon sampai Danto. Penerj. Satya Graha dan Monika J. Wizemann. Yogyakarta: Kanisius, 2015.

Rapar, Jan Hendrik. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1996.

Sutrisno, Mudji, dkk. Teks-Teks Kunci Estetika: Filsafat Seni. Yogyakarta: Galangpress, 2005.

Tjahjadi, Simon Petrus L. Petualangan Intelektual: Konfrontasi dengan Para Filsuf dari Zaman Yunani Hingga Zaman Modern. Yogyakarta: Kanisius, 2019.

Zaehner, Robert C. Kebijaksanaan dari Timur. Penerj. A. Sudiarja. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993.

CATATAN

Tulisan ini pernah dipublikasikan dengan keterangan sebagai berikut:

Prasetyo, Yohanes Wahyu. “Sekilas Tentang Sejarah Estetika”. Gita Sang Surya. Vol. 20, No. 4 (Oktober-Desember 2025), hlm. 21-30. ISSN 1978-3868

Diskursus Filsafat