Yohanes Wahyu Prasetyo
(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarjana STF Driyarkara Jakarta)

Filippa lahir di Rieti – Italia dari keluarga bangsawan Mareri pada akhir abad XII. Ia menerima pendidikan humanistik dan memutuskan untuk mengabdikan diri kepada Tuhan pada usia delapan belas tahun. Keputusan yang ia ambil ditentang oleh keluarganya. Setelah bertemu Fransiskus Assisi pada 1225, ia melarikan diri dari rumah bersama saudara perempuannya dan beberapa sahabat lainnya. Mereka memulai kehidupan membiara di sebuah gua di Monte Stella, sekarang disebut Grotta di Santa Filippa.
Saudara-saudaranya, Tommaso dan Gentile tidak mampu memengaruhi serta mengubah keputusannya. Sehingga setelah orang tuanya meninggal, di hadapan perwakilan Gereja setempat dan para Saudara Dina (Ruggero da Todi) – mereka mempercayakan biara Villa Casardita kepadanya beserta gereja San Pietro de Molito (sekarang Borgo S. Pietro). Filippa pindah ke sana bersama para sahabatnya, membangun kehidupan membiara selaras dengan Aturan (Rule / Regola) yang telah dipercayakan Fransiskus kepada Klara dan para Suster San Damiano. Pengelolaan spiritual biara dipercayakan kepada Ruggero da Todi. Tempat tersebut menjadi sekolah kesucian (school of holiness / scuola di santità) dan Filippa adalah seorang guru sejati dalam kehidupan spiritual.
Kegiatan utama komunitas tersebut adalah ibadat, kehidupan liturgi, dan membaca serta mempelajari Kitab Suci. Selain kegiatan spiritual, mereka juga melayani kaum miskin dan melaksanakan kerasulan. Mereka menyiapkan obat-obatan di biara dan dibagikan secara gratis kepada orang sakit. Melalui kata-katanya dan terutama melalui semangat kasih serta gaya hidup yang meneladani Fransiskus dan Klara, ia menghidupkan kembali Injil di dunia yang telah melupakannya. Filippa meninggal muda karena penyakit TBC (tuberculosis) pada 16 Februari 1236 dan ketenarannya sebagai orang kudus menyebar dengan cepat. Makamnya menjadi tempat ziarah dan rahmat serta anugerah surgawi yang diberikan Tuhan melalui perantaraan hamba-Nya mulai dicatat.
Gelar santa dalam Bulla Inosensius IV dikeluarkan pada 1247, sepuluh tahun setelah ia meninggal. Filippa merupakan orang kudus pertama dari Ordo Kedua Fransiskan. Penghormatan kepadanya tumbuh dari tahun ke tahun, tidak hanya di tanah kelahirannya (Rieti), tetapi juga di negara dan benua lainnya. Para migran yang memberikan penghormatan dan mengenang Filippa dalam hati serta doa menemukan penghiburan dan dukungan ketika menghadapi kesulitan. Pada 1706 jenazahnya ditemukan dan jantungnya dalam keadaan tidak rusak. Ia terdaftar dalam Martirologi Romawi (Roman Martyrology / Martirologio Romano) sebagai beata pada 2004. Pada 8 Mei 2007 Kardinal José Saraiva Martins selaku Prefek Kongregasi Penggelaran Para Kudus (Prefect of the Congregation for the Causes of Saints / Prefetto della Congregazione delle Cause dei Santi), memberitahu Uskup Rieti dan administrator apostolik Sulmona-Vasto bahwa Filippa akan digelari sebagai santa ad effectum de quo agitur.
Berkat Filippa, Borgo San Pietro dibentuk di sekitar biara San Pietro de Molito di tepi sungai Salto. Sungai ini dibendung pada 1940 dengan bendungan setinggi 90 meter untuk menciptakan danau Salto, danau buatan terbesar di Lazio. Pusat kota kuno Borgo San Pietro dan biara Filippa kemudian terendam air serta dibangun kembali di tepi kanan danau pada ketinggian yang lebih tinggi (580 meter). Kapel kuno yang menyimpan relik Filippa dipugar dengan batu-batu asli dan didekorasi sedemikian rupa. Hanya selama musim kering di musim panas, ketika permukaan danau turun secara signifikan, sisa-sisa bangunan yang terendam kembali muncul ke permukaan.
Sumber Bacaan:
https://ofm.org/en/st-philippa-mareri-osc.html

