Yohanes Wahyu Prasetyo
(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarjana STF Driyarkara Jakarta)

Isabella merupakan anak kelima dari enam bersaudara Raja Louis VIII dari Prancis dan Blanche dari Castile. Ia lahir pada Maret 1225 di keluarga kerajaan paling berpengaruh dalam kerajaan Kekristenan, yaitu keluarga Capetian. Isabella cantik dalam segala hal, tulus dalam kasih, berbudaya dan berpengetahuan luas, dan mencintai ketenangan serta keheningan sejak kecil. Ia memelihara dan memupuk kecintaan pada doa, kehidupan batin, asketisme, dan kesederhanaan. Pada 1243 ketika berusia delapan belas tahun, upaya ibunya untuk menikahkannya gagal, karena ia telah memilih Yesus Kristus sebagai mempelai kekalnya. Penyakit yang muncul akhir 1243 mempengaruhi kondisi kesehatannya. Hal ini memungkinkan Isabella meyakinkan ibu dan keluarganya terkait keinginannya memilih hidup selibat. Sejak saat itu ia mulai mengabdikan diri pada kehidupan yang lebih sederhana dan tidak mencolok serta sepenuhnya berlandaskan doa.
Isabella menjalani kehidupan di istana Capetian dengan cara yang tidak biasa – ia seorang perempuan istana, tetapi berkembang dalam kehidupan spiritual – ia menolak menikah, tetapi tidak mau menjadi biarawati. Ia mengabdikan diri pada doa, menjalani puasa dan pantang, merawat orang sakit dengan mengunjungi dan memperhatikan keselamatan jiwa mereka, dan memberi makan orang miskin dengan tangannya sendiri. Perlu diketahui bahwa ia tetap mempertahankan keperawamannya, tetapi tidak memiliki ikatan kanonik. Tidak ada jejak yang dapat membuktikan bahwa ia menerima gelar “perawan yang dikuduskan” (consecrated virgin / vergine consacrata). Pada 1256 Alexander IV melalui surat Benedicta filia tu menegaskan kembali pilihan Isabella untuk tetap perawan sebagai “perawan kerajaan” (royal virgin / vergine reale) di samping Maria, “ratu para perawan” (queen of virgins / regina delle vergini).
Ketika membaca karya Gilbert dari Tournai seorang teolog Fransiskan, Isabella pada 1254 terdorong untuk menganut dan menerima cara hidup Santo Fransiskus – menjauhkan diri dari keluarga serta menjadi orang pertama yang menjalin relasi dengan para Saudara Fransiskan. Pada tahun yang sama Inosensius IV mengabulkan permintaannya agar para Saudara Fransiskan menjadi bapa pengakuan – yang menegaskan dan mengukuhkan “perubahan” (turn / svolta) konkret menuju kesalehan Fransiskan yang telah dianutnya. Pada 1255 ketika Klara dari Assisi dikanonisasi, Isabella mulai mendirikan biara dalam semangat Fransiskan. Ia membangun biara di Longchamp, tempat di mana doa dan kasih dilakukan secara bersamaan. Keluarga kerajaan menghadiri upacara tersebut dan saudara laki-lakinya yang saat itu menjadi raja (Louis IX) meletakkan batu pertama biara Order of the Humble Servants of the Glorious Blessed Virgin Mary (Ordine delle Umili Serve della Beata Maria Vergine Gloriosa).
Isabella ingin membuat aturan baru (new rule / nuova regola) dengan dukungan Alexander IV dan dalam dialog dengan para ahli teologi Ordo Fransiskan Paris (termasuk Bonaventura dari Bagnoregio yang saat itu menjabat sebagai Minister General). Terkait hal ini, ia juga berpartisipasi dalam penyusunan teks tersebut. Setelah disetujui pada 1259 oleh Alexander IV dan kemudian dimodifikasi serta disetujui oleh Urbanus IV pada 1263, Aturan (Rule / Regola) tersebut menyebar ke beberapa biara di Prancis, Inggris, dan Italia. Isabella menginginkan gelar Ordo tersebut menjadi Sorores Minores yang selaras dengan Fratrum Minorum untuk menekankan identitas baru dan visinya tentang kehidupan Fransiskan perempuan. Urbanus IV dalam Aturan yang direvisi pada 1263 menambahkan gelar reclusae pada Sorores Minores, karena ini adalah satu-satunya bentuk kehidupan religius yang disetujui untuk perempuan. Isabella menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya di dekat Biara. Baru setelah kematiannya pada 23 Februari 1270, jenazahnya ditempatkan di biara tersebut. Pada 1521 Leo X mengkanonisasi dan memberinya gelar Beata.
Sumber Bacaan:
https://ofm.org/en/blessed-isabella-of-france.html

