July 21, 2026

Santo Salvador dari Horta: Tukang Sepatu yang Dipakai dan Diterangi Tuhan dengan Banyak Mukjizat

Yohanes Wahyu Prasetyo

(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarjana STF Driyarkara Jakarta)

Salvador lahir pada 1520 di Santa Colomba de Farnés – Catalonia (Spanyol). Orang tuanya kaya, kemudian jatuh miskin karena sakit. Setelah sembuh, mereka memutuskan untuk mengabdikan diri merawat orang sakit dan memberi perhatian orang miskin. Salvador mempelajari dedikasi dan pengabdian ini dari mereka. Karena menjadi yatim piatu di usia remaja, ia terpaksa meninggalkan kota kelahirannya dan pindah ke Barcelona bersama saudarinya (Blasia) untuk mencari pekerjaan. Setelah Blasia menikah, ia meninggalkan pekerjaan sebagai pembuat sepatu dan mengabdikan diri pada cara hidup religius. Awalnya ia masuk biara Benediktin Montserrat. Meskipun disambut dengan ramah, terlepas dari kondisinya yang sederhana, Salvador memahami bahwa ia tidak dapat memenuhi panggilan hatinya yang dalam dan kuat untuk menjalani kehidupan religius di biara ini. Keinginannya terpenuhi ketika bertemu dengan para Saudara Fransiskan, di mana ia masuk ke dalam persaudaraan di Barcelona pada 3 Mei 1541.

Dalam cara hidupnya yang baru, ia menonjol karena kesalehan dan kemurahan hatinya serta kemauan dan kesiapannya untuk hidup dalam ketaatan serta pengorbanan. Setelah mengucapkan kaul pada Mei 1542, ia dipindahkan ke biara Santa Maria de Jesús di Tortosa. Di sinilah Tuhan mulai menerangi kehidupannya dengan mukjizat yang kemudian terwujud sepanjang hidupnya. Dengan tanda salib dan memohon perantaraan Bunda Maria, ia menyembuhkan banyak orang. Dalam pengabdiannya sebagai penjaga pintu dan pengemis, Salvador setiap hari bertemu dengan golongan masyarakat yang paling menderita. Mereka mempercayakan penderitaan, kesedihan, dan kebutuhan kepadanya serta memohon doanya. Sering terjadi bahwa dengan mengucapkan Salam Maria (Hail Mary / Ave Maria) dan memberikan berkat, terjadi mukjizat serta penyembuhan.

Berbagai macam mukjizat akhirnya menarik banyak orang ke pintu biara yang oleh para saudara dianggap sebagai bahaya bagi Salvador. Pimpinan kemudian mengatur pemindahannya ke biara Bellguig dan pada 1559 ke Horta, sebuah desa kecil di Utara Tortosa – tempat para saudara dina membangun sebuah biara kecil tempat mereka menjalani kehidupan seperti pertapa. Namun Tuhan menghendaki agar pengabdian dan pelayanannya tidak dikaburkan serta tidak ternoda. Dalam waktu singkat, ketenarannya menyebar ke Horta dan ratusan bahkan ribuan orang miskin serta membutuhkan bantuan datang kepadanya. Kemudian diputuskan untuk memindahkan dan menyembunyikannya dengan nama palsu agar tidak dikenali. Bahkan inkuisisi ingin memastikan bahwa kekuatan mukjizat Salvador benar-benar dari Tuhan.

Pada November 1565 ia tiba di Sardinia (Italia), di kota Cagliari. Di pulau tersebut ia menemukan kedamaian dan mukjizat yang dengannya Tuhan memuliakan putra Santo Fransiskus yang rendah hati itu terus terjadi. Salvador tiba-tiba terserang penyakit hebat dan meninggal di Cagliari pada 18 Maret 1567. Sampai saat ini banyak orang menghormati reliknya di gereja Santa Rosalia. Atas permintaan raja Philip I dari Spanyol, Paulus V menganugerahkan gelar beato kepadanya pada 5 Februari 1606 yang kemudian dikonfirmasi pada 29 Januari 1711 oleh Klemens XI. Akhirnya, Pius XI secara resmi mengkanonisasinya pada 17 April 1938.

Sumber Bacaan:

https://ofm.org/en/st-salvador-of-horta.html

Alam Pikiran Fransiskan