Yohanes Wahyu Prasetyo
(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarjana STF Driyarkara Jakarta)

Yohanes Buralli lahir di Parma pada 1208. Sejak kecil ia menjadi yatim piatu dan diasuh oleh pamannya yang adalah seorang imam dan direktur rumah sakit San Lazzaro di pinggiran kota. Pamannya mengizinkannya belajar di bawah bimbingan guru-guru terkemuka seperti Sinibaldo Fieschi yang kelak menjadi Inosensius IV. Yohanes memperoleh gelar Maestro dan ditugaskan mengajar logika (logic / logica) serta dengan cepat dikenal karena budaya dan kesalehannya. Pada 1233 ia bergabung dengan Ordo Saudara-Saudara Dina dan Minister General (Saudara Elias) memberinya tanggung jawab mengajar. Dalam beberapa tahun ia dikenal di dalam Ordo dan Gereja sebagai seorang sarjana sastra, teologi, dan musik. Ia mengajar di Bologna, Napoli, dan Paris dan pada 1245 ia berpartisipasi sebagai konsultan teologi di Konsili Lyon.
Dalam Kapitel General 1247, ia terpilih sebagai Minister General. Kepemimpinannya ditandai dengan pedoman programatik yang diimplementasikan dengan penuh semangat. Ia melakukan kunjungan ke semua Provinsi, menetapkan Kapitel General diadakan secara bergantian, dan mengembalikan karisma Fransiskan tentang kesederhanaan dengan mengevaluasi pelayanan persaudaraan serta kerja tangan di dalam Ordo. Semangatnya mendapatkan dukungan dari Ordo dan Gereja. Inosensius IV memanggilnya untuk melayani sebagai utusan ke Konstantinopel – mengurai perpecahan yang terjadi di sana – meskipun tidak mencapai hasil yang diinginkan. Ia melakukan tugas tersebut melalui kehidupannya yang berbudi luhur dan semua orang mengakui kebajikannya.
Yohanes harus menghadapi konflik yang semakin meningkat di Paris antara para profesor awam dan para profesor dari Ordo Fransiskan serta Dominikan. Para profesor dari Ordo Fransiskan dan Dominikan dipandang negatif karena mereka menarik lebih banyak mahasiswa. Ia mewakili Ordo Fransiskan dan Dominikan di hadapan sidang umum para profesor. Berkat kemampuan dialektikanya, ia memperoleh pengakuan atas pengajarannya. Sejak saat itu, kehidupan Yohanes ditandai dengan gejolak yang melanda Ordo, dituduh tanpa dasar menganut ide-ide sesat Joachim dari Fiore. Ia mengadakan Kapitel General lebih awal (2 Februari 1257) dan Bonaventura dari Bagnoregio yang pada saat itu mengajar di Universitas Paris terpilih sebagai penggantinya. Ia memutuskan untuk pensiun ke Greccio dan harus menghadapi tuduhan Joachimisme dalam persidangan kanonik yang diadakan di Città della Pieve.
Setelah persidangan, di mana Kardinal Ottobono Fieschi yang kelak menjadi Adrianus V membelanya, Yohanes kembali ke Greccio tempat ia hidup dalam kesendirian dan kesederhanaan selama tiga puluh tahun bersama beberapa saudara lainnya. Pada 1288 Gerolamo d’Ascoli terpilih sebagai Nikolas IV dan Yohanes yang sudah berusia delapan puluh tahun meminta izin untuk kembali ke Timur untuk menyelamatkan Gereja dari perpecahan. Pada 19 Maret 1289 ketika dalam perjalanan ke Ancona untuk naik kapal, ia jatuh sakit dan meninggal di Camerino. Ia dihormati tidak hanya di dalam Ordo, tetapi juga di Camerino, Parma, dan daerah sekitarnya. Pada 1 Maret 1777, ia diumumkan oleh Pius VI sebagai beato.
Sumber Bacaan:
https://ofm.org/en/blessed-john-of-parma.html

