October 23, 2025

Eskatologi Karl Rahner: Perjalanan Manusia Menuju Masa Depan Mutlak

Yohanes Wahyu Prasetyo

(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)

 

Pemikiran Karl Rahner (1904-1984) berkembang dari cara pandang eksistensial menuju intersubjektif atau interpersonal yang memusatkan perhatian pada kebebasan, kasih, dan sejarah. Selain itu, dialog dengan Marxisme dan sekularisme serta refleksinya mengenai sejarah, harapan, masa depan, teologi pembebasan dan politik, revolusi, dan Gereja di dunia modern, memungkinkan eskatologi Rahner menekankan dimensi sosio-politik dari eksistensi manusia serta tugas profetis Gereja. Terkait hal ini, Rahner menunjukkan relasi intrinsik antara kesempurnaan transenden Kristen dan utopia dunia sekuler. Sehingga eskatologi Rahner disebut sebagai antropologi yang terkonjungsi dalam bentuk masa depan dan berdasarkan apa yang telah terjadi di dalam Yesus.

SEKILAS TENTANG ESKATOLOGI

Eskatologi berakar pada keyakinan mengenai kedatangan kembali Kristus (Parousia) dalam kemuliaan untuk mengadili yang hidup dan yang mati serta pengharapan akan kebangkitan universal (the universal resurrection). Ajaran Kristen tentang hidup yang kekal (life everlasting) menduduki posisi sentral dalam teologi Gereja perdana. Para teolog Timur dan Barat berada di garis depan kesadaran Kristen serta keyakinan Perjanjian Baru mengenai penyempurnaan akhir sejarah manusia melalui Kristus dalam pemerintahan Allah (God’s reign). Terkait hal ini, Iranaeus (130-200) mengemukakan konsep rekapitulasi (anakephalaiosis), Origenes (185-254) berbicara mengenai restorasi universal (apocatastasis), dan Agustinus Hippo (354-430) menyampaikan gagasan tentang Kota Tuhan (civitas Dei). Pada abad pertama Kekristenan, kesadaran eskatologis (eschatological consciousness) ditingkatkan oleh sejumlah kelompok seperti Gnostik dan Montanis.

Pada periode Skolastik akhir dan neo-Skolastik, diskursus eskatologi dipusatkan pada nasib postmortem individu (the post-mortem fate of the individual). Terkait hal ini, risalah mengenai Empat Hal Terakhir (Four Last Things) yang mencakup kematian, penghakiman, surga, dan neraka menyajikan deskripsi tentang kehidupan setelah kematian (the afterlife) secara lengkap. Pada saat yang sama, di bawah pengaruh filsafat Yunani (Greek philosophy), secara khusus Platonisme, eskatologi sangat dirohanikan dengan penekanan eksklusif pada keabadian jiwa (the immortality of the soul), terlepas dari sejarah umat manusia dan kosmos.

Pada periode Pencerahan (Enlightenment), eskatologi Kristen dihistoriskan (historicized) dan disekularisasi (secularized) oleh Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) serta Karl Heinrich Marx (1818-1883). Hal ini memicu gagasan mengenai evolusi historis (historical evolution) dan utopia intra-duniawi (inta-mundane utopias). Skeptisisme mempengaruhi diskusi tentang kehidupan setelah kematian dan zaman mesianis transenden (the transcendent messianic age) diubah menjadi Roh Absolut (Geist) yang dicirikan oleh dialektika tesis-antitesis dan masyarakat ploretariat tanpa kelas.

Terkait reduksi imanen dan moral Kantian terhadap eskatologi Kristen serta memandangnya sekadar utopia duniawi (worldly utopias), para teolog seperti Johannes Weiss (1863-1914) dan Ludwig Philipp Albert Schweitzer (1875-1965) menegaskan bahwa pesan utama khotbah Yesus adalah mengenai kerajaan Allah sebagai realitas transenden yang masih akan datang, bukan sesuatu yang sudah diwujudkan dalam sejarah. Sehingga eskatologi memperoleh keunggulan dalam teologi dialektis (dialectical theology) yang memberinya peran eksistensial-individualis. Terkait hal ini, Rudolf Karl Bultmann (1884-1976) dan Karl Barth (1886-1968) memandang eschaton sebagai perjumpaan orang beriman saat ini dalam iman dengan Kristus, tanpa mengacu dimensi masa depan.

Para teolog kontemporer menyambut penekanan teologi dialektis dan dimensi eskatologis iman Kristen, menolak dehistorisasi serta menegaskan fungsi kritis dan transformatif serta implikasi politik, sosial, dan ekonomi dari eskatologi. Sehingga para teolog seperti Wolfhart Pannenberg, Jürgen Moltmann, dan Johann Baptist Metz melihat aspek eskatologi mencakup pribadi dan politik, spiritual dan kosmik, imanen dan transenden, dan sekarang dan masa depan berada dalam posisi yang tepat. Terkait hal ini, eskatologi Rahner merupakan penolakan eksplisit terhadap eskatologi neo-skolastik dan upaya mengambil aspek-aspek tertentu dari eskatologi biblis (biblical eschatology) yang terlupakan dalam dialog dengan para teolog kontemporer.

ESKATOLOGI SEBAGAI PEMENUHAN MASA DEPAN

Tulisan Rahner mengenai eskatologi dimulai dengan kritik terhadap Schultheologie, yaitu teologi neo-Skolastik atau neo-Thomis yang dikembangkan setelah kebangkitan Thomisme yang diamanatkan oleh Paus Leo XIII (1810-1903) dalam ensiklik Aeterni Patris (1879). Terkait teologi neo-Skolastik, Rahner menyarankan bahwa selain tema-tema tradisional, tema-tema yang lain juga harus diperhatikan. Misalnya, waktu dan kekekalan, lokalitas surga (the locality of heaven), makna kematian, makna abadi kemanusiaan Yesus untuk kebahagiaan manusia, makna positif dari ketidaksetaraan kemuliaan surga (the inequality of the glory in heaven), tatapan membahagiakan sebagai tatapan misteri Allah, sifat kebajikan harapan, dan relasi antara pemerintahan Allah dengan utopia sekuler. Rahner juga merekomendasikan supaya eskatologi diintegrasikan dengan risalah teologi dogmatis, secara khusus patrologi, teologi sejarah, antropologi teologis, Kristologi, soteriologi, dan eklesiologi. Berdasarkan metode, Rahner melihat bahwa dalam eskatologi neo-Skolastik masih ada kekurangan terkait hermeneutika eskatologis.

Perkembangan Eskatologi Rahner

Berhadapan dengan eskatologi neo-Skolastik, Rahner mengusulkan eskatologi teologi transendental (eschatology of transcendental theology). Berdasarkan perspektif sejarah, penjabaran Rahner mengenai eskatologi transendental mencakup tiga fase. Pertama, eksistensialis individualis (individualist-existentialist). Eskatologi Rahner fokus pada nasib abadi individu (the eternal fate of the individual) yang mencakup kebebasan, konkupisensi, api penyucian, indulgensi, kebangkitan tubuh, tatapan yang membahagiakan, waktu, kehidupan, dan kematian. Terkait hal ini, pribadi (person) bersifat dinamis dan relasional. Selain itu, pribadi merupakan roh (spirit) yang ada di dunia atau roh yang menjelma (incarnate spirit). Oleh karena itu, materi berjiwa bertindak dengan sendirinya (selbst vollziehen) melalui tindakan ganda transendensi diri. Transendensi diri materi menuju roh dan transendensi diri dari realitas roh yang terbentuk di dunia menuju Ada Mutlak.

Kedua, interpersonal eksistensialis (exsistentialist-interpersonal). Pribadi manusia bukan hanya roh di dunia, tetapi secara eksplisit merupakan pengada bebas dan historis. Selain itu, tidak hanya dibentuk sebagai pribadi berdasarkan materialitas, tetapi menjadi pribadi dengan menjadi interpersonal melalui tindakan kebebasan dan kasih dalam komunitas. Ketiga, sosio-politik (socio-political). Perlu diketahui bahwa di bawah pengaruh Konsili Vatikan II, teologi politik Metz, dan dialog dengan Ernst Simon Bloch (1885-1977), Rahner melihat pribadi manusia sebagai anggota dari suatu tatanan politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, dan komunitas agama. Sehingga tidak mengherankan apabila eskatologi Rahner membahas isu-isu seperti idiologi sekuler dan Marxis, masa depan sejarah manusia, harapan, relasi antara Kekristenan dan humanisme, revolusi, dan pembebasan.

Hermeneutika Eskatologis

Rahner menyesalkan fakta bahwa eskatologi neo-Skolastik tidak menguraikan pedoman untuk menafsirkan afirmasi eskatologis (eschatological affirmation) dari Kitab Suci. Mengabaikan metode historis kritis (the historical-critical method), misalnya kritik sumber, kritik bentuk, dan kritik redaksi. Terkait hal ini, Rahner merumuskan tujuh hermeneutika. Pertama, eschata adalah peristiwa masa depan dalam arti kronologis yang ketat. Rahner menolak demitologisasi eskatologi eksistensial (existential demythologization of eschatology) Bultmann sebagai keputusan untuk menentang kerygma dan interpretasi awal Barth mengenai eskatologi sebagai penghakiman Allah saat ini yang dimanifestasikan dalam salib atas umat manusia yang berdosa. Kedua, kemahatahuan Allah (God’s omniscience) mencakup pengetahuan mengenai peristiwa masa depan dan Allah mengungkapkannya kepada manusia.

Ketiga, eschata adalah realitas tersembunyi dan apabila diungkapkan kepada manusia, wahyu tersebut terjadi dalam sejarah keselamatan (the history of salvation). Keempat, pengetahuan manusia mengenai masa depan adalah pengetahuan tentang masa depan saat ini (the futurity of the present). Kelima, pengetahuan mengenai eschata masa depan berasal dari pengetahuan manusia mengenai peristiwa-peristiwa sekarang dalam sejarah keselamatan. Keenam, berdasarkan sesuatu yang manusia ketahui mengenai keselamatan, terdapat sejumlah gagasan yang dapat dikemukakan. (1) Pernyataan eskatologis mengenai surga dan neraka tidak memiliki pijakan yang sama. (2) Pernyataan eskatologis mencakup pribadi dan dunia. (3) Tidak perlu ada pertentangan antara harapan dekat dan jauh dari parousia. (4) Kristus adalah prinsip hermeneutis dari semua pernyataan eskatologis. (5) Isi eskatologi ditentukan oleh realitas keselamatan sekarang di dalam Kristus. Ketujuh, dimungkinkan untuk membedakan antara bentuk dan isi pernyataan eskatologis serta untuk mengungkapkan kembali isi eskatologi yang mengikat dalam bahasa baru (new language).

Berdasarkan tujuh prinsip tersebut, yang paling penting adalah pengetahuan manusia mengenai peristiwa eskatologis masa depan berasal dari pengetahuan manusia saat ini mengenai sejarah keselamatan manusia. Rahner menegaskan bahwa terkait eskatologi, manusia memproyeksikan (project) dari masa kini ke masa depan (aussagen), sebagai lawan dari apokaliptik (apocalyptic), di mana manusia menyuntikkan (inject) dari masa depan kembali ke masa kini (einsagen). Dengan kata lain, eskatologi adalah antropologi yang terkonjungsi (anthropology conjugated) dalam pengertian masa depan. Oleh karena itu, satu-satunya sumber eskatologi Kristen adalah pengalaman keselamatan manusia saat ini yang terdiri dari komunikasi diri trinitarian Allah (God’s trinitarian self-communication) kepada manusia dalam kasih karunia dan membangkitkan Kristus melalui kuasa Roh Kudus. Selain itu, eskatologi bukan laporan historis tentang sesuatu yang terjadi setelah kematian atau pada zaman akhir (the end of time), tetapi laporan etiologis (etiological account) dari situasi rahmat saat ini ke tahap pemenuhannya di masa depan. Sehingga eskatologi bukan tambahan seperti sejarah keselamatan, tetapi antropologi yang diubah menjadi bentuk masa depan.

Sebagaimana Barth dan Hans Urs von Balthasar (1905-1988), eskatologi Rahner bersifat Kristosentris (Christocentric) dan dapat dipahami dalam dua gagasan. Pertama, Kristologi adalah kriteria hermeneutika eskatologi (the hermeneutics of eschatology), di mana yang tidak dapat dibaca dan dipahami sebagai pernyataan Kristologis bukan pernyataan eskatologis yang asli. Kedua, Kristologi menentukan isi eskatologi yang mencakup kematian, penilaian individu, api penyucian, surga, neraka, parousia, kebangkitan orang mati, penghakiman universal, dan transfigurasi dunia (the transfiguration of the world).

PENYELESAIAN AKHIR INDIVIDU DAN SEJARAH MANUSIA

Berdasarkan landasan antropologi dan Kristologi, Rahner membahas berbagai macam tema yang secara tradisional dikaitkan dengan eskatologi serta sejumlah tema lainnya. Terkait eskatologi, Rahner memusatkan perhatian pada pendekatan terpadu (unified approach). Pertama, eskatologi yang satu sebagai eskatologi individual. Kedua, eskatologi yang satu sebagai eskatologi kolektif. Keesaan eskatologi tersebut berakar dalam kesatuan ontologis materi (matter) atau tubuh (body) dan roh (spirit) atau jiwa (soul) dalam jiwa manusia serta dalam kesatuan antara tujuan kekal individu dan penyempurnaan sejarah dunia.

Kematian dan Akhir Kebebasan Manusia

Rahner menenun refleksi transendental dengan analisis sejarah, menggabungkan refleksi mengenai kematian dan kematian secara umum dengan kematian Kristus yang kemudian ditegaskan dalam dua pokok gagasan. Pertama, kematian adalah fenomena universal (universal phenomenon) dan mempengaruhi manusia secara keseluruhan. Kematian bersifat universal bukan hanya karena manusia memiliki tubuh yang fana (perishable bodies), tetapi karena manusia adalah orang berdosa (sinners). Dosa tersebut terjadi karena dosa asal (the original sin) dan kebebasan (freedom) yang dimiliki manusia. Kedua, kematian menyerang seluruh pribadi, karena pribadi manusia adalah kesatuan mutlak (absolute unity) yang tidak dapat dipisahkan menjadi tubuh dan jiwa. Kematian mempengaruhi manusia tidak hanya dalam tubuh, tetapi juga dalam jiwa. Tidak hanya pada tingkat materi biologis, tetapi juga pada tingkat kesadaran diri, kepribadian, kebebasan, tanggung jawab, kasih, dan kesetiaan.

Sebagai peristiwa alami (natural event), kematian tidak dapat didefinisikan secara memadai sebagai pemisahan jiwa dari tubuh (the soul from the body). Rahner mengakui bahwa deskripsi tradisional mengenai kematian sebagai pemisahan jiwa dari tubuh mengandung kebenaran penting (important truth) mengenai fakta bahwa dalam kematian manusia memperoleh relasi yang berbeda dengan tubuh dan jiwa manusia tetap ada meskipun tubuhnya hancur. Menurut Rahner, pemahaman tersebut tidak mengatakan apa-apa mengenai bagaimana kematian mempengaruhi seluruh pribadi dan bagaimana jiwa harus terus berada secara ontologis dengan tubuh serta dunia material supaya tetap eksis.

Kematian juga merupakan tindakan pribadi (personal act). Terkait hal ini, Rahner menghubungkan kematian dengan kebebasan (freedom), waktu (time), dan kekekalan (aternity). Menurut Rahner, kebebasan manusia bukan hanya kapasitas untuk memilih ini (this) atau itu (that), tetapi kapasitas untuk menentukan kebaikan (good) atau kejahatan (evil) dengan cara yang pasti (libertas). Kebebasan tersebut dilaksanakan secara kategoris dalam pilihan-pilihan tertentu dari hal ini atau itu dan secara transendental mengacu pada Allah sebagai Nilai Mutlak (Absolute Value), cakrawala Kebaikan Mutlak (Absolute Goodness) di mana suatu hal tertentu dipilih. Pelaksanaan kebebasan terjadi dalam sejarah yang ditentukan oleh dosa atau dosa asal dan komunikasi diri Allah sebagai tawaran rahmat (offer of grace) atau eksistensi adikodrati (supernatural existential).

Mengatakan bahwa kebebasan dilaksanakan dalam sejarah berarti mengatakan bahwa kebebasan secara intrinsik berhubungan dengan waktu (time). Waktu paling baik dipahami bukan sebagai ukuran dari gerakan di luar manusia (movement outside human beings), tetapi sebagai sesuatu yang internal dalam diri manusia atau waktu internal (internal time) yang memungkinkan manusia menggunakan kebebasan dan pada gilirannya diberi makna oleh kebebasan. Karena waktu adalah elemen dari sejarah kebebasan, ia memiliki awal yang sejati, akhir yang pasti, dan jalur yang tidak dapat diubah. Menurut Rahner, fungsi kematian adalah membuat kebebasan dalam waktu (freedom-in-time) menjadi definitif dan final dengan mengakhiri waktu dalam kebebasan (time-in-freedom).

Pada akhir zaman yang ditekankan adalah proses menjadi (the process of becoming) dan bukan apakah manusia baik atau jahat yang akan memperoleh validitas definitif di hadapan Allah. Sebagaimana dikemukakan Rahner, keabsahan akhir yang dicapai dari eksistensi manusia tumbuh menjadi dewasa dalam kebebasan terjadi bukan setelah kematian. Tetapi terjadi dalam pembebasan (liberated), keabsahan akhir dari sesuatu yang dulunya sementara dan yang menjadi (to be) dalam roh serta kebebasan. Sehingga membentuk waktu untuk menjadi dan tidak benar-benar melanjutkan waktu.

Rahner membedakan antara kematian sebagai gairah (passion) dan kematian sebagai tindakan (action). Sebagai gairah, kematian adalah peristiwa alami (natural), sesuatu yang dipaksakan dari luar (imposed from outside). Pada saat yang sama, kematian juga merupakan tindakan pribadi, sesuatu yang dapat diterima atau ditolak seseorang secara bebas dan aktif, dilakukan seseorang dalam kebebasan (a person does in freedom). Terkait hal ini, melarikan diri dari kematian melalui hiburan membuat seseorang jatuh ke dalam keberadaan yang tidak otentik (inauthentic existence).

Seseorang dapat menghadapi kematian dengan keberanian sebagai cakrawala komprehensif dari keberadaan historis dan menerimanya sebagai kemungkinan unik dari hidupnya. Sebagai cahaya yang menerangi segala sesuatu dari keberadaan seseorang, sebagai proyek (project) miliknya sendiri. Ketika mengatakan ya (yes) pada kematian, seseorang dapat mengubah nasib yang diperlukan secara eksternal yang dipaksakan pada dirinya sendiri menjadi tindakan bebas (free act). Menurut Rahner, di mana ada kebebasan sejati, di sana ada kasih akan kematian dan keberanian untuk kematian.

Mati Bersama Kristus

Refleksi Rahner mengenai kematian sebagai tindakan kebebasan pribadi seharusnya tidak mengaburkan fakta bahwa kematian juga merupakan konsekuensi dan manifestasi dari dosa. Sedangkan kematian sebagai akhir dari kehidupan biologis (the biological life) dan hancurnya tubuh dapat dipandang sebagai sesuatu yang alami. Berdasarkan sudut pandang Kristen, realitas tersebut harus dilihat sebagai hukuman atas dosa (a punishment for sin). Hukuman disebut Rahner sebagai kematian yang tersembunyi (die Verhülltheit des Todes), ketidakpastian yang tidak terhindarkan dan tidak terpecahkan. Ketersembunyian tersebut adalah hasil dari dosa asal dan dosa pribadi, sebuah fakta yang tidak cukup diungkapkan dalam eskatologi tradisional.

Menurut Rahner, makna penuh kematian manusia dapat dilihat hanya dalam terang kematian Yesus. Rahner kritis dalam upaya menjelaskan nilai penebusan melalui kematian Yesus di kayu salib melalui teori pelunasan. Alih-alih menguraikan mengenai pentingnya manusia ilahi (human-divine) membayar pelanggaran umat manusia terhadap Allah yang tidak terbatas (infinite God), Rahner memusatkan perhatian pada makna kematian Kristus. Kematian Yesus adalah gairah dan tindakan (passion and action) alami serta pribadi (natural and personal).

Fenomena tersebut terselubung dalam ketersembunyian, tetapi juga merupakan tindakan kebebasan tertinggi (supreme freedom). Kematian Yesus merupakan pengalaman kekosongan (emptiness) dan pengabaian oleh Allah (abandonment by God) serta penerimaan radikal dan ketaatan penuh kasih kepada Allah di tengah kekosongan serta ketidakberdayaan. Dalam kematian bersama Kristus, orang Kristen mengalami pengalaman dialektis mengenai keterpencilan dan kedekatan dengan Allah, keraguan dan iman, keputusasaan dan harapan, dan pemberontakan dan kasih.

Kekekalan dalam Waktu

Menurut Rahner, cara terbaik untuk memahami kekekalan (eternity) adalah dengan menghubungkannya dengan kebebasan dan waktu manusia. Kebebasan bukanlah pencarian tanpa henti untuk mencapai perubahan yang selalu baru sesuai dengan keinginan, tetapi kapasitas untuk realisasi diri yang definitif dan final dalam kematian. Demikian juga kekekalan bukanlah kelanjutan waktu yang tidak berujung, tetapi waktu yang dipenuhi dan dibuat definitif serta final. Sehingga sesuatu dicapai dengan finalitas dan definitif dalam waktu, baik dengan tindakan kebebasan tertentu (particular acts of freedom) atau dengan tindakan kebebasan tertinggi (the supreme act of freedom). Terkait hal ini, kekekalan bukan di luar, di atas, dan setelah waktu, tetapi ada di dalam dan dari waktu, di mana waktu telah memperoleh validitas final dan definitif dihadapan Allah melalui pelaksanaan kebebasan.

KEADAAN PERALIHAN

Realitas keberadaan jiwa yang terpisah dari tubuhnya antara kematian dan kebangkitan merupakan doktrin yang mapan (established doctrine). Terkait hal ini, apakah keadaan peralihan (the intermediate state) adalah dogma yang didefinisikan Benediktus XII (1285-1342) dalam Benedictus Deus (1336)? Selanjutnya, apakah itu sekadar kerangka imajinatif untuk menyelaraskan dua kebenaran dasar yang tampaknya bertentangan? Pertama, kebangkitan daging (resurrection of the flesh) di masa depan sebagai pribadi yang satu dan total. Kedua, penglihatan langsung mengenai Allah setelah kematian. Menurut Rahner, jika keadaan peralihan dianggap sebagai doktrin, maka akan menghadapi tantangan berat dari antropologi filosofis kontemporer yang memandang waktu (time) setelah kematian sebagai konsep yang saling bertentangan dan mempertahankan ketidakmungkinan metafisik dari anima separata.

Api Penyucian Sebagai Proses Pembersihan

Doktrin yang berhubungan dengan keadaan peralihan adalah api penyucian (purgatory). Rahner menyadari sifat kontroversial dari ajaran Gereja Katolik Roma mengenai api penyucian dan landasan argumentasi dalam Kitab Suci serta tradisi awal. Oleh karena itu, Rahner menggunakan beberapa konsep dalam antropologi kontemporer. Salah satunya adalah bahwa manusia merupakan makhluk yang kompleks dengan banyak tingkatan dalam susunan psikologis serta antropologis. Mengingat kepribadian dan proses menjadi yang bertingkat, suatu keputusan membutuhkan waktu untuk menembus serta meresapi seluruh pribadi.

Perlu diketahui bahwa integrasi pribadi terjadi pada tiga tingkatan. Pertama, antara keputusan akhir dan dasar dalam diri seseorang serta integrasi dari realitas total subjek ke dalam keputusan dasar. Kedua, antara pemenuhan seorang individu dalam kematian dan pemenuhan total dunia. Ketiga, antara keabsahan final dan definitif seseorang yang datang dengan kematian serta penebusan total dan pemenuhan manifestasi dalam pemuliaan tubuh.

Berdasarkan tiga tahap proses integrasi, Rahner menyarankan untuk memusatkan perhatian pada api penyucian. Api penyucian dapat dipahami sebagai proses pendewasaan dan transformasi setelah (after) kematian. Secara psikologis sering kali menyakitkan, sebagai akibat dari hukuman sementara (the temporal punishment) akibat dosa pribadi. Tidak perlu memandang hukuman sementara karena dosa sebagai sesuatu yang secara ekstrinsik dipaksakan oleh Allah (imposed by God). Tetapi sebagai konsekuensi intrinsik dari dosa itu sendiri, karena dosa melahirkan hukumannya sendiri. Selain itu, tidak perlu membayangkan durasi (duration) sebagai sesuatu yang bersifat temporal sebagaimana terjadi di dalam alam semesta yang terkait waktu pararel di dalam kehidupan setelah kematian.

Menurut Rahner, keadaan peralihan merupakan perangkat budaya (cultural device), mitologi kecil yang tidak berbahaya (little harmless mythology). Terkait hal ini, durasi (duration) penyucian seseorang dipahami bukan dalam istilah temporal, tetapi sebagai kedalaman dan intensitas rasa sakit yang dialami manusia dalam kematian. Pemahaman mengenai api penyucian membuka ruang interpretasi yang lebih positif, tidak dipahami sebagai nasib manusia yang tidak akan pernah berakhir.

Surga Sebagai Fakta dan Neraka Sebagai Kemungkinan

Menurut Rahner, penegasan alkitabiah mengenai surga dan neraka tidak boleh dianggap sebagai pernyataan pararel mengenai dua alternatif yang setara yang ditawarkan oleh Allah untuk dipilih manusia. Karena mengingat karya penebusan Allah di dalam Kristus dan kehadiran orang-orang kudus, surga harus dinyatakan sebagai kenyataan faktual (factual reality). Selain itu, situasi manusia saat ini adalah salah satu dari rahmat (grace) dan dosa (sin), kemungkinan persekutuan abadi dengan Allah di surga (heaven) serta kebinasaan abadi di neraka (hell) harus disebutkan bersama dalam wacana eskatologis.

Rahner menghubungkan surga dengan pemahamannya mengenai kekekalan. Kekekalan adalah waktu yang dibuat secara definitif dan akhirnya valid. Bagi manusia, kekekalan secara bertahap diwujudkan dalam waktu melalui tindakan kebebasan. Tetapi bagi Allah, kekekalan adalah atribut yang selalu ada dalam kepenuhannya yang mutlak. Berbeda dengan waktu yang memiliki awal yang sejati, akhir yang pasti, dan jalur yang tidak dapat diubah dengan peristiwa-peristiwa yang terpisah serta terukur, kekekalan Allah tidak memiliki awal atau akhir dan tidak ada pergerakan terukur.

Kekekalan merupakan rahmat abadi dan selalu dalam kepenuhan serta kepemilikan mutlak dari dirinya sendiri dan yang hidup dengan dirinya sendiri, tidak ada sebelum (before) dan sesudah (after). Menurut Rahner, karena tindakan penciptaan (the act of creation) dan inkarnasi Logos, Allah tidak hanya menciptakan waktu, tetapi juga secara bebas memandangnya sebagai spesifikasi diri Allah sendiri. Meskipun Allah tidak berubah (immutable) dan kekal (eternal) dalam dirinya sendiri serta memiliki dirinya sendiri, di tengah eksistensi dunia mengalami perubahan, sejarah, dan waktu. Dengan kata lain, waktu dan sejarah dunia telah menjadi waktu serta sejarah Allah.

Bagi manusia, masuk ke surga (enter into heaven) berarti berbagi dalam kehidupan trinitas Allah, komunikasi diri Allah kepada dunia dalam pengetahuan (knowledge) atau Logos dan kasih (love) atau Roh (Spirit). Terkait hal ini, surga memiliki struktur Kristologis, di mana kebahagiaan kekal (eternal beatitude) manusia dimediasikan kepada manusia oleh Kristus dalam kemanusiaan-Nya yang dimuliakan. Sementara mengakui ajaran Benediktus XII bahwa jiwa-jiwa yang diberkati melihat esensi ilahi dengan penglihatan intuitif dan tatap muka (face to face), tanpa perantara apa pun melalui objek penglihatan serta bahwa esensi ilahi memanifestasikan dirinya kepada manusia secara gamblang, jelas, dan terbuka (nude, clare, et aperte), Rahner menegaskan bahwa kemanusiaan Yesus merupakan media yang melaluinya relasi langsung manusia dengan Allah tercapai.

Sebagaimana dikemukakan Rahner, mediasi dan kedekatan relasi manusia dengan Allah yang transendental tumbuh dalam proporsi langsung. Sehingga tatapan membahagiakan (the beatific vision) yang secara tradisional disajikan sebagai tatapan akan esensi Allah, lebih tepat dipahami sebagai tatapan Trinitas. Menurut Rahner, tatapan membahagiakan merupakan pemenuhan komunikasi diri Allah dalam kasih karunia, pemberian diri Allah dalam inkarnasi Putra dan dalam turunnya Roh Kudus. Dengan demikian, surga dalam kaitannya dengan tatapan yang membahagiakan bukanlah penghapusan misteri ilahi, tetapi penyerahan diri manusia dalam kebebasan dan kasih kepada misteri Allah yang tidak bernama serta tidak terpahami yang tetap menjadi misteri selamanya dan dengan demikian merupakan objek kasih yang membahagiakan bagi manusia.

Berkenaan dengan neraka, Rahner menegaskan bahwa pernyataan eskatologis bukan sesuatu di luar atau sesuatu yang akan terjadi di akhir zaman. Pernyataan alkitabiah mengenai hukuman kekal (eternal punishment) dan berbagai gambaran yang digunakan untuk menggambarkannya tidak memberikan gambaran mengenai hukuman di masa depan. Oleh karena itu, harus menempatkan pendengar di hadapan keputusan untuk memilih atau menentang Allah dan menegaskan kemungkinan pribadi manusia terasing dari Allah. Karena pernyataan alkitabiah mengenai neraka bukan deskripsi faktual, tetapi panggilan untuk membuat keputusan secara pribadi di hadapan Allah.

Sehubungan dengan surga, Gereja menyatakan bahwa orang-orang kudus (the saints) ada di surga sampai saat ini. Rahner juga mencatat bahwa kekekalan neraka (the eternity of hell) bukan ukuran dari pembalasan Allah, melainkan konsekuensi dari sifat keras hati manusia (the inward obduracy of human beings). Rahner merujuk pada kontradiksi batiniah dari tindakan menolak Allah, karena penolakan tersebut di satu sisi merupakan penyangkalan eksplisit terhadap Allah yang dimediasi sikap berdosa manusia di hadapan objek konkret pilihan manusia, dan di sisi lain penegasan implisit mengenai Allah sebagai cakrawala di mana pilihan tersebut dibuat.

Rahner menegaskan bahwa keselamatan kekal (eternal salvation) dan kebinasaan kekal (eternal perdition) bukan dua pilihan pararel. Terkait hal ini, iman Kristen mengakui bahwa dunia dan umat manusia secara keseluruhan akan masuk ke dalam hidup yang kekal bersama Allah. Rahner sadar bahwa magisterium Gereja telah mengutuk (condemned) penegasan positif dari doktrin apocatastasis terkait pemulihan dan keselamatan universal (universal restoration and salvation) sebagai sesuatu yang sesat (heretical). Menegaskan apocatastasis secara mutlak sebagai fakta berarti gagal untuk menganggap serius kebebasan manusia sebagai kapasitas untuk menentukan nasib sendiri yang definitif dan final serta realitas keadilan Allah (the reality of God’s justice). Selain itu, kehendak Allah adalah untuk menyelamatkan seluruh umat manusia (1 Tim 2:1-6).

Mendamaikan dalam sintesis positif kehendak keselamatan universal Allah dan keadilan Allah secara teoretis tidak mungkin. Menurut Rahner, hal ini bisa dilakukan hanya dengan harapan (hope). Iman hanya dapat menyatakan kehendak penyelamatan universal Allah sebagai prinsip umum atau dalam istilah Skolastik, iman dapat melihatnya hanya sebagai rahmat yang cukup (sufficient grace). Iman seperti ini tidak dapat memberitahukan kepada manusia apakah kasih karunia yang cukup tersebut akan menjadi rahmat yang manjur (efficacious grace) dan membawa keselamatan secara konkret bagi manusia.

Transformasi rahmat yang cukup menjadi rahmat yang manjur terjadi ketika tawaran rahmat Allah diterima secara pribadi dan dalam harapan. Tetapi apabila harapan tersebut mungkin bagi manusia, tidak ada alasan mengapa hal itu tidak harus diperluas kepada orang lain dan bahkan kepada semua makhluk. Realitas memperlihatkan bahwa kasih Kristen mendorong seseorang untuk memiliki harapan universal. Sebagaimana dikemukakan Rahner, doktrin apocatastasis dibenarkan oleh keutamaan harapan (the virtue of hope), bukan sebagai pernyataan fakta (statement of fact) atau prediksi apodiktik (apodictic prediction), tetapi sebagai objek harapan dan doa.

Kebangkitan Yesus dan Kebangkitan Orang Mati

Menurut Rahner, satu-satunya konteks di mana kebangkitan orang mati dapat dipahami adalah melalui kebangkitan Yesus (the resurrection of Jesus). Oleh karena itu, untuk memahami arti kebangkitan orang mati, seseorang harus menyelidiki sifat kebangkitan Yesus dan kemudian memproyeksikannya ke masa depan pada seluruh umat manusia. Sebagaimana dikemukakan Rahner, karena kemanusiaan tubuh Yesus (Jesus’ bodily humanity) adalah bagian permanen dari dunia, kebangkitan Yesus memperoleh validitas yang definitif, final, dan permanen sebagai awal dari penyempurnaan dunia yang mulia (the glorious consummation of the world).

Kebangkitan orang mati adalah metafora untuk penyempurnaan akhir dan definitif dari sejarah manusia serta kosmos. Oleh karena itu, secara intrinsik terhubung dengan yang dikatakan iman Kristen mengenai Kedatangan Kedua (Second Coming/parousia) Kristus dan Penghakiman Terakhir (Last Judgment). Perlu diketahui bahwa kebangkitan orang mati, parousia, dan penghakiman terakhir menyoroti kesatuan intrinsik antara eskatologi individu (kematian, penghakiman individu, api penyucian, surga, dan neraka) dan eskatologi kolektif (kebangkitan orang mati, kedatangan kedua Kristus, penghakiman terakhir, dan kedatangan pemerintahan Allah). Eskatologi kolektif (collective eschatology) bukan pengulangan eskatologi individu (individual eschatology), melainkan manifestasi publik dan universal dari apa yang telah terjadi dalam eskatologi individu di dunia sebagaimana adanya.

Eskatologi individu belum selesai selama sejarah masih berjalan, ia masih dibentuk oleh apa yang terjadi dalam sejarah manusia dan alam semesta. Menurut Rahner, kita harus berbicara mengenai eskatologi individu dan eskatologi kolektif, meskipun kecil kemungkinan untuk dapat membuat pernyataan jelas mengenai relasi yang lebih tepat antara pemenuhan seorang individu melalui kematian, suatu penggenapan yang sedang berlangsung, penggenapan umat manusia dan dunia, di mana dunia menjadi sejarah spiritual dan personal.

Perwujudan Imanen dan Transenden

Menurut Rahner, salah satu tema yang paling penting dalam eskatologi kontemporer adalah relasi antara utopia duniawi (worldly utopias) dan penyempurnaan transenden sejarah manusia dalam pemerintahan Allah (the reign of God). Untuk menjelaskan relasi tersebut, Rahner menggunakan filosofinya mengenai pribadi manusia sebagai roh di dunia (spirit in the world) dan teologinya mengenai komunikasi diri dan wahyu Allah (God’s self-communication and revelation). Secara filosofis, ketika materi mencapai sifat sejatinya dengan berorientasi pada roh dan ketika roh mencapai sifat sejatinya dengan menjelma dalam materi, maka penyempurnaan imanen dan penyempurnaan transenden terjadi melalui satu sama lain. Bagi manusia, kesempurnaan imanen dan kesempurnaan transenden adalah sama, membentuk satu penyempurnaan di mana satu aspek menyiratkan yang lain.

Secara teologis, sama seperti pemberian diri Allah diberikan sebagai dimensi intrinsik dan konstitutif dari keberadaan manusia serta dimediasi dalam peristiwa sejarah tertentu, sehingga penyempurnaan transenden sejarah manusia diwujudkan dalam utopia intra-duniawi (intra-mundane utopias). Menurut Rahner, kesempurnaan transenden adalah rahmat Allah sekaligus tugas yang diberikan kepada umat manusia dan Gereja. Dengan mewujudkan utopia duniawi, umat Kristiani menerima rahmat Allah berupa pemerintahan Allah. Dengan cara yang sama, utopia duniawi tersebut tidak dapat diidentifikasikan dengan pemerintahan Allah dan sebaliknya.

Berkenaan dengan tugas Gereja dalam mewujudkan utopia tersebut, Rahner menyarankan supaya dua akses berupa integrisme (integrism) dan esoterisme (esoterism) dihindari. Perlu diketahui bahwa yang pertama ia maksudkan sebagai posisi teoretis dan praktis yang dengannya Gereja harus memetakan serta mengendalikan semua aspek kehidupan manusia menurut prinsip-prinsip teologis dan moralnya. Sedangkan yang kedua adalah penghapusan total lingkup pengaruh Gereja dari dunia, karena yang kedua adalah sekuler (secular) dan berdosa (sinful). Rahner menyarankan sintesis dari dua posisi tersebut. Menurut Rahner, Gereja memiliki peran positif, meski terbatas, untuk dimainkan di dunia. Gereja harus menyatakan prinsip-prinsip dan norma-norma sosial untuk perilaku manusia, berfungsi sebagai kritik sosial dengan menunjukkan kebijakan sosial yang tidak bertentangan dengan kebaikan bersama, dan merumuskan imperatif konkret (Weisungen) untuk tindakan sosial.

APRESIASI DAN KRITIK TERHADAP ESKATOLOGI RAHNER

Apresiasi

Kontribusi Rahner terhadap eskatologi Kristen telah diakui secara luas. Hal ini merupakan ukuran pengaruhnya bahwa banyak ide yang ia kemukakan. Sesuatu yang kontroversial ketika pertama kali diucapkan, kini telah menjadi bagian dari tradisi yang diterima (received tradition) di antara para teolog kontemporer. Terkait hal ini, eskatologi Rahner berkembang, berupa tanggapan terhadap tanda-tanda zaman (the signs of the times) dan kritik terhadap rekan-rekannya. Pada awalnya Rahner beroperasi dalam kerangka epistemologis sempit Thomisme transendental, kemudian secara bertahap memperluas perspektif individualis eksistensialis, memasukkan dimensi interpersonal dan sosial-politik dari keberadaan manusia. Oleh karena itu, setiap evaluasi yang adil terhadap eskatologi Rahner harus memperhitungkan perkembangan tersebut.

Kontribusi Rahner yang paling berharga bagi eskatologi adalah menyediakan kerangka antropologis yang koheren dan fokus Kristologis. Sebagaimana dikemukakan Rahner, eskatologi adalah antropologi yang dikonjungsikan dalam bentuk masa depan berdasarkan apa yang telah terjadi di dalam Yesus. Misalnya teologi kematian dan kekekalan Rahner berakar pada filosofi kebebasan dan waktu manusia serta teologi kebangkitan dalam antropologi harapan (anthropology of hope). Selain itu, karena komunikasi diri ilahi (the divine self-communication) mencapai klimaks yang tidak dapat diubah dan tergenapi dalam diri Yesus dari Nazaret, maka sesuatu yang terjadi dalam kematian dan kebangkitan Yesus dapat serta harus diterapkan pada semua manusia dalam pemenuhan terakhir.

Kritik

Perlu diketahui bahwa antropologi Rahner pada dasarnya adalah Thomisme transendental dan mendasarkan eskatologi padanya. Oleh karena itu, Rahner harus bertanggung jawab atas kelemahan yang ditimbulkan oleh antropologi tersebut. Terkait hal ini, Rahner berhutang budi pada warisan Hegelian dan Kantian dalam memasukkan data alkitabiah mengenai berbagai macam tema eskatologi. Misalnya, gagasan Rahner mengenai kebebasan sebagai kapasitas untuk penentuan nasib sendiri yang definitif dan final telah dikritik, karena tidak memberikan cakupan penuh pada pemahaman alkitabiah mengenai dosa. Gagasan tersebut juga menyebabkan pengesahan Rahner terhadap teori kontroversial Gisbert Greshake mengenai kebangkitan segera dalam kematian (immediate resurrection in death) dan ajaran Kitab Suci mengenai kebangkitan sebagai peristiwa akhir zaman.

Filosofi transendental Rahner mengenai waktu dan kebebasan menghasilkan pemahaman yang terlalu sempit mengenai kekekalan sebagai validitas sejarah yang definitif serta final daripada sebagai partisipasi dalam kepenuhan kehidupan ilahi (the fullness of divine life). Keberatan lain terhadap anthropologische Wende Rahner adalah bahwa konsep eskatologinya sebagai ekstrapolasi (extrapolation) ke masa depan dari apa yang telah terjadi dalam sejarah manusia tidak memberikan banyak ruang bagi novum kerajaan Allah yang masih akan direalisasikan. Apakah berbagai macam kritik tersebut sepenuhnya dibenarkan atau tidak, dapat dipastikan bahwa masa depan eskatologi Rahner terkait dengan kekayaan Thomisme transendental, secara khusus antropologi kebebasan dan waktu. 

PENUTUP

Harus diakui bahwa eskatologi Rahner, meskipun berakar pada antropologi transendental, mampu terlibat dalam dialog dengan gerakan teologi kontemporer seperti teologi pembebasan (liberation theology), teologi ekologis (ecological theology), teologi restorasi universal (the theology of universal restoration), dan dialog antaragama (interreligious dialogue). Selain itu, apa pun keberatan atau dukungan terhadap eskatologi Rahner, tidak dapat disangkal bahwa ia telah membawa eskatologi dari status appendix yang telah lama didudukinya ke posisi sentral dalam teologi Kristen. Hal ini terbukti dalam cara Rahner merumuskan pernyataan kredo singkat (brief creedal statements).

Ketika menolak universalitas dan kekuatan yang mengikat, Rahner mengusulkan kredo tiga bagian (three-part creed), yaitu teologis (theological), antropologis (anthropological), dan futurologi (futurologist). Sebagaimana dikemukakan Rahner, Kekristenan adalah agama yang terus membuka pertanyaan tentang masa depan absolut, yang memberikan dirinya dalam realitasnya sendiri melalui komunikasi diri, dan yang telah menetapkan kehendak ini secara eskatologis tidak dapat diubah dalam Yesus. Berdasarkan pernyataan kredo tersebut, manusia pada dasarnya dilihat sebagai makhluk eskatologis dalam perjalanan yang akan mencapai tujuannya hanya di dalam Allah yang telah menganugerahkan Masa Depan Mutlak (Absolute Future), menopang manusia dengan komunikasi diri-Nya dan memikat manusia untuk memasuki kehidupan trinitas Allah yang kekal.

SUMBER BACAAN

Marmion, Declan dan Mary E. Hines. “Introduction”. Dalam Declan Marmion dan Mary E. Hines (Editor). The Cambridge Companion to Karl Rahner. Cambridge: Cambridge University Press, 2005.

Phan, Peter C. “Eschatology”. Dalam Declan Marmion dan Mary E. Hines (Editor). The Cambridge Companion to Karl Rahner. Cambridge: Cambridge University Press, 2005.

Diskursus Teologi