Yohanes Wahyu Prasetyo
(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)
Elizabeth A. Johnson adalah teolog feminis Katolik yang memiliki pengaruh dalam diskursus teologi. Ia menggunakan metodologi teologi feminis berdasarkan pengalaman perempuan yang beragam. Tetapi mereka disatukan oleh pengalaman yang sama, yaitu mengalami ketidakadilan dan penindasan dalam budaya patriarki. Metodologi tersebut terdiri dari tiga tahap, yaitu dekonstruksi, mencari sumber alternatif, dan rekonstruksi. Terkait hal ini, metodologi yang digunakannya dimaksudkan untuk menopang diskursus mengenai Kristologi, Allah Tritunggal, orang-orang kudus, Maria, dan ekologi. Ketika mengemukakan gagasan mengenai kebijaksanaan, kebenaran, keadilan, dan kasih Allah, Johnson memadukan teori dan praksis.
HIDUP DAN KARYA-KARYA JOHNSON
Johnson lahir pada 6 Desember 1941 di Amerika Serikat. Ia dibesarkan dalam keluarga Katolik Irlandia di Brooklyn-New York. Johnson menempuh pendidikan tingkat dasar dan menengah di sekolah Katolik. Pada 1959 ia bergabung dengan Kongregasi Suster-Suster Santo Yoseph dari Brentwood-Long Island. Johnson mulai menempuh hidup religius tiga tahun sebelum Konsili Vatikan II (1962-1965) dimulai. Ia mengisahkan bahwa pada waktu itu formatio religius diwarnai otoritas atas-bawah. Hal ini nampak melalui pola hidup yang ditekankan di dalam biara, yaitu ibadat harian dijalankan secara ketat, relasi dengan orang-orang yang hidup di luar biara dibatasi, dan mengambil jarak dari dunia.
Johnson menempuh studi teologi dan memperoleh gelar MA pada 1970 di Manhattan College New York. Selanjutnya, pada 1981 ia memperoleh gelar PhD dari Catholic University of America Washington DC. Johnson mengajar di Catholic University of America pada 1980-1991. Sejak 1991 ia menjadi profesor teologi dan mengajar di Fordham University New York. Perlu diketahui bahwa sejak 1987 Johnson menjalin relasi dengan masyarakat Afrika Selatan. Bahkan Keuskupan Agung Durban meminta kepadanya untuk mengajar Kristologi. Selain itu, ia menyampaikan ceramah di sejumlah tempat yang kemudian diterbitkan dengan judul Consider Jesus: Waves of Renewal of Christology.
Pada 1965 ketika mempersiapkan diri untuk mengikrarkan kaul kekal, Johnson berhadapan dengan dilema. Sebagai religius, ia harus menyangkal dunia (world-denying). Meskipun Konsili Vatikan II telah memasuki sesi keempat, hal ini tidak memberikan dampak bagi kongregasinya. Johnson terus-menerus berpikir, jika Allah menciptakan dan mengasihi dunia, maka orang-orang yang menjalani kehidupan religius seharusnya berada di garis depan dalam menjalin relasi dengan dunia.
Pada suatu hari Johnson memperoleh draf Gaudium et Spes (GS), konstitusi pastoral tentang Gereja di dunia modern. Ia terpaku dengan kalimat pembuka GS, kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Johnson membaca kalimat pembuka GS secara berulang-ulang. Hal ini membuatnya yakin bahwa Gereja dan dunia harus berdialog. Orang-orang Kristen harus melayani dunia, tidak boleh meninggalkannya.
Visi teologi Johnson dipengaruhi dan dibentuk oleh sejumlah gagasan yang bertumbuh serta berkembang pada saat itu. Pertama, dokumen Konsili Vatikan II, secara khusus GS. Kedua, tafsir Kitab Suci yang berkembang sejak Konsili Vatikan II. Ketiga, teologi Katolik yang dikembangkan oleh Karl Rahner (1904-1984), Johann Baptist Metz (1928-2019), dan Edward Schillebeeckx (1914-2009). Keempat, teologi Protestan yang dikembangkan oleh Dietrich Bonhoeffer (1906-1945), Jürgen Moltmann, dan Wolfhart Pannenberg (1928-2014). Kelima, teologi pembebasan Amerika Latin. Keenam, teologi feminis. Ketujuh, teologi antaragama, teologi ekologi, dan alam pikiran postmodern.
Johnson mempunyai sejumlah karya yang sampai saat ini masih relevan, dibaca, dan dikomentari banyak orang. (1) Consider Jesus: Waves of Renewal in Christology. (2) She Who Is: The Mystery of God in Feminist Theological Discourse. (3) Women, Earth, and Creator. (4) Who Do You Say that I Am? Introducing Contemporary Christology. (5) Friends of God and Prophets: A Feminist Theological Reading of the Communion of Saints. (6) The Church Women Want: Catholic Women in Dialogue. (7) Truly Our Sister: A Theology of Mary in the Communion of Saints. (8) Quest for the Living God: Mapping Frontiers in the Theology of God. (9) Ask the Beast: Darwin and the God of Love. (10) Creation and the Cross: The Mercy of God for a Planet in Peril.
SEKILAS TENTANG TEOLOGI FEMINIS
Menurut Johnson, dewasa ini terjadi fenomena di mana perempuan diperkosa, dilacurkan, diperdagangkan, dianiaya, dan dibunuh. Hal ini memperlihatkan bahwa seksisme telah merajalela dalam skala global. Selain itu, sistem doktrin, hukum, adat istiadat, ritual, dan kepemimpinan ditentukan oleh laki-laki. Pada Abad II, Tertulianus (155-230) mengajarkan bahwa perempuan adalah pintu gerbang iblis (the gate-way of the devil). Sedangkan menurut Agustinus Hippo (354-430), perempuan disebut sebagai citra Allah apabila bersatu dengan laki-laki. Selanjutnya, Thomas Aquinas (1225-1274) melihat perempuan sebagai laki-laki cacat (defective male).
Johnson menegaskan bahwa menjadi perempuan pada dasarnya merupakan suatu rahmat. Terkait hal ini, teologi feminis merupakan bagian dari teologi pembebasan (liberation theology) yang mengkritik dominasi laki-laki dan kecenderungan manusia untuk menguasai sesama serta ciptaan lainnya. Teologi feminis menjunjung tinggi kesetaraan dan mutualitas di antara manusia yang mempunyai jenis kelamin, ras, dan kelas sosial yang berbeda.
Allah dalam perspektif tradisional secara eksklusif digambarkan sebagai orang tua, berkulit putih, raja, dan laki-laki. Lukisan Michelangelo di Lodovico Buonarroti Simoni (1475-1564) di langit-langit kapel Sistina Roma menggambarkan Allah sebagai laki-laki, lambang kekuasaan dalam masyarakat. Lukisan tersebut mempunyai dampak yang sangat berbahaya, di mana laki-laki dipandang lebih menyerupai Allah daripada perempuan. Allah yang secara eksklusif diidentikkan dengan laki-laki memberikan hak istimewa kepadanya dalam sistem pemerintahan dan merampas kekuatan spiritual perempuan. Dalam ungkapan Mary Daly (1928-2010), jika Allah itu laki-laki, maka laki-laki adalah Allah (if God is male, the male is God).
Teologi feminis menyebut Allah sebagai Roh (Ruah), Kebijaksanaan (Sophia), Allah Israel yang memimpin umat-Nya menyeberangi Laut Merah, dan Allah yang senantiasa melawan kejahatan. Terkait kisah hidup Hagar, para teolog feminis melihat peran Allah yang memungkinkan pembebasan dan membantunya bertahan hidup. Perlu diketahui bahwa secara konsisten Kitab Suci melukiskan Allah sebagai sosok Ibu yang senantiasa menghibur dan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Berdasarkan alam pikiran gender tradisional, karakteristik manusia dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin. Laki-laki dipandang mempunyai kualitas nalar, inisiatif, dan keberanian. Sedangkan perempuan dipandang mempunyai kualitas emosional, penerimaan, dan memelihara. Berhadapan dengan dualisme tersebut, para teolog feminis menegaskan bahwa laki-laki juga mempunyai karakter emosional, penerimaan, dan memelihara. Selain itu, perempuan juga mempunyai kualitas nalar, inisiatif, dan keberanian.
Perlu diketahui bahwa Allah dalam simbol perempuan dikemukakan berdasarkan konteks di mana perempuan berhadapan dengan fenomena ketidakadilan dan martabatnya direndahkan. Merujuk pada Iranaeus (130-202), para teolog feminis menegaskan, Gloria Dei, vivens femina. Terkait hal ini, para teolog feminis berharap supaya kekerasan terhadap perempuan dihentikan. Perempuan tidak boleh dipandang sebagai bawahan, pembantu, dan objek.
YESUS HISTORIS DAN PANGGILAN UNTUK MENGHADAPI PERSOALAN KETIDAKADILAN
Johnson menulis disertasi pada 1981 dengan judul Analogy, Doxology, and their Connection with Christology in the Thought of Wolfhart Pannenberg. Ia membuat korelasi antara Yesus historis dan pentingnya menghadapi persoalan ketidakadilan. Selain itu, Johnson menekankan relasi antara Kristologi dan Mariologi serta Kristologi dan doktrin Allah. Kristologi pembebasan feminis yang dikembangkannya terdiri dari enam unsur, yaitu antropologi feminis non-dualistik, Yesus historis, simbol Yesus, doktrin Kristologi, doktrin Allah, dan keselamatan. Terkait hal ini, ia memusatkan perhatian pada Yesus historis, Kristologi dari bawah (from below).
Kristologi dari bawah digunakan untuk menjembatani hidup Yesus dua ribu tahun yang lalu dan pengalaman umat Kristen dewasa ini. Menurut Johnson, rekonstruksi Yesus historis tidak hanya berfungsi sebagai ingatan akan kehidupan Yesus pada periode Gereja perdana, tetapi juga sebagai sarana bagi umat Kristen untuk mengingat dan mengakui bahwa Yesus adalah Kristus. Dengan kata lain, Yesus Kristus adalah Kebijaksanaan Allah (Wisdom of God) yang senantiasa menyertai umat-Nya.
Kunci untuk memahami kemanusian Yesus yaitu dengan merenungkan tindakan-Nya mengosongkan diri (kenosis). Dalam Flp 2:6-7 ditegaskan, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Penekanan Kristologi yang difokuskan pada keilahian-Nya mengurangi kemanusiaan Kristus. Terkait hal ini, Kristologi dari bawah meyakini bahwa sebagai manusia, Yesus adalah Putra Allah (Jesus is the Son of God).
Yesus secara penuh adalah pribadi manusia yang bebas dan mengosongkan diri dalam sejarah umat manusia. Identitas Yesus sebagai manusia nampak dalam pengetahuan, pelayanan, dan perhatian yang Ia berikan pada persoalan ketidakadilan. Menurut Johnson, Kristologi dari atas dan Kristologi dari bawah sama-sama mempunyai peranan penting, menyadarkan umat Kristen untuk menaruh perhatian pada persoalan ketidakadilan.
KRISTOLOGI PATRIARKI MEMBENTUK TRADISI GEREJA
Yesus historis menjelma sebagai sosok laki-laki. Fakta sejarah tersebut digunakan dalam tradisi Kristen untuk menyangkal eksistensi perempuan. Ketika Kekristenan secara bertahap menyerap etos budaya Kekaisaran Romawi, struktur Kekristenan mencerminkan patriarki Kekaisaran. Dengan kata lain, komunitas egaliter telah diganti dengan patriarki tradisional. Padahal dalam Gal 3:28 ditegaskan, dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Yesus Kristus.
Terkait fenomena asimilasi budaya tersebut, Kristus nampak sebagai penguasa absolut (absolute ruler) dan menghasilkan Kristologi patriarki yang berfungsi sebagai pembenaran superioritas laki-laki terhadap perempuan. Dimensi laki-laki Yesus digunakan sebagai bangunan konstitutif untuk membatasi peran perempuan. Hal ini ditempuh untuk menegaskan tiga keyakinan kaum laki-laki sebagai simbol Allah.
Pertama, memperkuat simbol Allah yang secara eksklusif adalah laki-laki. Kedua, laki-laki lebih serupa dengan Kristus daripada perempuan. Ketiga, jika dibandingkan dengan perempuan, maka kemungkinan laki-laki untuk selamat lebih besar. Karena pada dasarnya laki-laki lebih dekat dengan Allah. Harus diakui bahwa Kristologi patriarki telah membentuk tradisi Gereja. Sehingga tidak mengherankan apabila kaum perempuan tergoda untuk meninggalkan tradisi yang merendahkan eksistensi mereka. Terkait hal ini, Johnson menekankan pentingnya menggali tradisi kebijaksanaan (wisdom tradition) yang menawarkan harapan baru bagi perempuan.
YESUS ADALAH SOSOK KEBIJAKSANAAN (SOPHIA)
Kebijaksanaan berasal dari kata Yunani sophia dan kata Ibrani hokmah. Perlu diketahui bahwa pribadi bijaksana muncul dalam Kitab Suci Yahudi untuk menyebut Yesus sebagai Kristus. Menurut Johnson, pribadi bijaksana merupakan sosok perempuan yang memanifestasikan kehadiran dan tindakan Allah di dunia. Dalam Ams 7:25-26 ditegaskan, janganlah hatimu membelok ke jalan-jalan perempuan itu, dan janganlah menyesatkan dirimu di jalan-jalanya. Karena banyaklah orang yang gugur ditewaskannya, sangat besarlah jumlah orang yang dibunuhnya. Terkait hal ini, tradisi kebijaksanaan berfungsi sebagai sarana evaluasi ketika berhadapan dengan fenomena di mana dimensi laki-laki Yesus terlalu ditekankan.
Menurut Johnson, tradisi kebijaksanaan yang ditafsirkan berdasarkan hermeneutika feminis, menawarkan diskursus tentang Yesus Kristus yang mengevaluasi bias androsentrik Kristologi tradisional dan membentuk komunitas yang inklusif, membebaskan, dan relasional. Johnson menunjukkan dua alasan mengenai pentingnya memperhatikan tradisi kebijaksanaan. Pertama, tradisi kebijaksanaan memberi tekanan pada pengalaman orang-orang biasa. Kedua, pribadi bijaksana yang diperlihatkan berguna untuk menafsirkan makna keselamatan dan identitas Yesus. Dengan demikian, tradisi kebijaksanaan memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka menghilangkan budaya androsentrik.
Berdasarkan tradisi kebijaksanaan, pelayanan dan misi Yesus memanifestasikan Allah yang miskin, berbeban berat, terbuang, dan menderita ketidakadilan. Oleh karena itu, Yesus yang adalah sosok Kebijaksanaan (Sophia), menampilkan diri sebagai sahabat bagi semua orang. Yesus bergembira ketika berada bersama yang lain dan setiap orang dapat menjumpai Allah melalui-Nya. Tindakan Yesus menyembuhkan banyak orang, mengusir setan, dan mengadakan perjamuan, menunjukkan realitas Kebijaksanaan Allah yang murah hati serta penuh kasih.
Penggunaan tradisi kebijaksanaan yang mengacu pada Yesus bermanfaat untuk mematahkan asumsi teologi historis mengenai simbol Allah sebagai laki-laki. Hal ini memberikan harapan bagi kaum perempuan, di mana mereka juga simbol Kristus yang bangkit dan dimuliakan (risen and glorified). Oleh karena itu, terjadi implikasi yang lebih luas bagi kehidupan umat Kristen apabila tradisi kebijaksanaan dan martabat perempuan dihormati. Hal ini terkait keadilan bagi orang miskin, dialog antaragama, dan kepedulian terhadap bumi.
ALLAH DALAM SIMBOL PEREMPUAN
Johnson menggunakan metodologi teologi feminis untuk menggambarkan Allah Tritunggal dalam simbol perempuan. Teologi feminis didasarkan pada pengalaman perempuan yang jarang dipertimbangkan dalam sejarah teologi. Perlu diketahui bahwa perempuan kelas menengah kulit putih di Barat dan perempuan miskin di Afrika serta Asia mempunyai pengalaman yang berbeda. Namun, mereka disatukan melalui pengalaman patriarki yang sama.
Metodologi teologi feminis terdiri dari tiga tahap. Pertama, dekonstruksi, menyingkap dinamika dominasi yang tersembunyi dalam bahasa, adat istiadat, ingatan, sejarah, teks suci, etika, simbolisme, dan teologi. Kedua, mencari sumber-sumber alternatif dalam tradisi Kristen yang membantu perempuan mewujudkan kepribadiannya yang penuh. Ketiga, merekonstruksi simbol dalam tradisi Kristen untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan perempuan.
Prinsip teologi feminis adalah mewartakan kemanusiaan perempuan yang penuh. Oleh karena itu, segala sesuatu yang menyangkal, mengurangi, dan mendistorsi perempuan, dinilai tidak memandang perempuan sebagai citra Allah. Hal ini dimaksudkan untuk mengejawantahkan komunitas yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan harmoni seluruh alam ciptaan.
Johnson merekonstruksi doktrin Allah dalam simbol perempuan yang dimulai dengan mengkritik bahasa Allah dalam tradisi Kristen (the God-language of the Christian tradition). Karena telah terjadi eksklusivitas penggunaan nama laki-laki untuk Allah. Dengan kata lain, laki-laki dipandang sebagai karakter esensial dari Allah.
Simbol mampu menembus jiwa dan imajinasi manusia (the human psyche and imagination). Oleh karena itu, simbolisme Allah patriarki berfungsi untuk melegitimasi dan memperkuat struktur sosial patriarki dalam keluarga, masyarakat, dan Gereja. Menurut Johnson, bahasa Allah patriarki dapat membawa orang jatuh ke dalam tindakan penindasan. Membenarkan struktur sosial penindasan terhadap perempuan dan mempersempit misteri Allah ke dalam kategori yang mendukung kekuatan serta kekuasaan laki-laki.
MENCARI SUMBER ALTERNATIF DALAM TRADISI KRISTEN
Ketika mencari sumber alternatif dalam tradisi Kristen, Johnson menemukan tiga pokok gagasan, yaitu kehadiran sosok Kebijaksanaan dalam Kitab Suci, Allah tidak dapat dipahami, dan penggunaan analogi. Perlu diketahui bahwa sosok Kebijaksanaan merupakan simbol yang sering kali diabaikan dalam Kristologi. Terkait hal ini, Johnson melacak kehadiran sosok Kebijaksanaan dalam Kitab Suci Ibrani dan sabda serta tindakan Yesus.
Tradisi Kristen yang menyimbolkan Allah sebagai laki-laki memperlihatkan kurangnya pemahaman bahwa Allah pada hakikatnya melampaui semua simbol dan konsep. Sebagaimana ditegaskan Agustinus, if you have understood, then this is not God. If you were able to understand, then you have understood something else instead of God. If you were able to understand even partially, then you have deceived yourself with your own thoughts.
Perlu diketahui bahwa analogi merupakan salah satu sarana tradisional yang digunakan dalam tradisi Kristen. Analogi mencegah tindakan mendeskripsikan Allah secara harafiah. Ketika bahasa dan simbol Allah dipahami secara analogis, manusia akan memandang Allah sebagai misteri, melampaui artikulasi manusia yang lemah serta rapuh.
ALLAH SEBAGAI IBU KEBIJAKSANAAN
Berdasarkan diskursus mengenai Allah Tritunggal, menyebut Roh Kudus sebagai feminin pada dasarnya tidak tepat. Karena dua pribadi pertama dari Allah Tritunggal tetap dalam bahasa laki-laki, yaitu Bapa dan Putra. Sebagaimana dikemukakan Johnson, bahasa laki-laki dalam tradisi Kristen masih dominan dan berdaulat.
Menurut Johnson, simbol Allah perempuan juga harus digunakan dalam misteri Allah (mistery of God). Sehingga Allah dipahami secara menyeluruh, bukan sekadar sebagai pribadi yang kuat, memprakarsai, menciptakan, dan menyelamatkan, tetapi juga sebagai pemelihara (nurturing). Dengan kata lain, simbol laki-laki dan perempuan dapat digunakan untuk berbicara mengenai misteri Allah.
Diskursus mengenai Allah Tritunggal dimulai dengan menyebut pribadi pertama, Pencipta dan sumber segala makhluk (the Creator and source of all being). Tetapi Johnson memulainya dengan menyebut Roh Kudus. Hal ini didasarkannya pada percakapan dengan sejumlah perempuan yang menegaskan bahwa pengalaman mereka bersama Allah dimulai dengan Roh Kudus. Karena Roh Kebijaksanaan menengahi kehadiran Allah.
Roh Kudus menyatu dengan pengalaman perempuan dan mendorong diskursus mengenai misteri Allah. Roh Kebijaksanaan pada dasarnya menghidupkan, memperbarui, memberdayakan, dan memungkinkan rahmat. Roh Kebijaksanaan menarik manusia ke dalam relasi yang menebus dan membebaskan (redeeming and liberating).
Pribadi kedua dari Allah Tritunggal adalah Yesus yang merupakan sosok Kebijaksanaan. Yesus memungkinkan kasih Allah yang inklusif menjadi konkret. Sebagai sosok Kebijaksanaan yang berinkarnasi, Yesus mengundang umat-Nya supaya hadir dalam perjamuan yang telah Ia wujudkan melalui pemberian diri secara total kepada Bapa-Nya, Ibu Kebijaksanaan. Hal ini memperlihatkan bahwa Johnson menyimbolkan Allah sebagai Ibu Kebijaksanaan.
Allah sebagai Ibu yang penuh kasih memberikan perhatian kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Oleh karena itu, Allah juga disebut sebagai Ibu keadilan. Kategori keadilan mencakup perhatian ekologis yang memungkinkan seluruh alam ciptaan bertumbuh dan berkembang. Sehingga Ibu Kebijaksanaan bersifat transenden sekaligus imanen. Dalam Kis 17:28 ditegaskan, sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada.
Allah dalam simbol perempuan dimungkinkan secara linguistik, sah secara teologis, dan diperlukan secara eksistensial serta religius. Hal ini mengundang perempuan untuk mempertahankan martabat dan nilai kemanusiaan mereka yang sejati. Selain itu, Johnson menyebut Allah sebagai Misteri Suci (Holy Mystery), Allah yang penuh kasih, Allah yang membebaskan dan memungkinkan keadilan, dan Allah yang tidak menghendaki kemiskinan dan rasisme.
ORANG-ORANG KUDUS DITAFSIRKAN BERDASARKAN PERSPEKTIF PATRIARKI
Menurut Johnson, persekutuan orang-orang kudus (the communion of saints) merupakan salah satu simbol yang belum secara serius dikembangkan dalam sejarah teologi. Dalam tradisi Katolik, penghormatan terhadap orang-orang kudus dilakukan sejak Abad Pertama Kekristenan. Namun, gagasan tradisional mengenai persekutuan orang-orang kudus belum mampu berdialog secara serius dengan pengalaman kontemporer pada tingkat budaya, psikologis, dan spiritual.
Menurut para teolog feminis, nilai dan makna kekudusan telah ditafsirkan dalam perspektif patriarki selama berabad-abad. Selain itu, suara dan kisah perempuan terkait perjalanan hidup mereka sebagai orang Kristen sering kali diredam. Orang kudus laki-laki mendominasi kalender liturgi Gereja Katolik. Dalam delapan dekade pertama Abad XX, 75% orang kudus yang dikanonisasi adalah laki-laki dan 25% adalah perempuan.
Laki-laki menafsirkan perjuangan dan penderitaan serta pencapaian dan kebesaran perempuan berdasarkan cara pandang patriarki. Selain itu, kisah orang-orang kudus perempuan sering kali ditulis oleh laki-laki. Sehingga sejarah orang-orang kudus perempuan belum dinarasikan secara komprehensif.
PERSEKUTUAN ORANG-ORANG KUDUS
Menurut Johnson, Kebijaksanan Suci (Holy Wisdom) merupakan sarana yang dapat digunakan untuk menafsirkan nilai dan makna kekudusan. Gambaran mengenai persekutuan orang-orang kudus berakar dari pengalaman umat manusia yang diselamatkan dan dibebaskan melalui kematian serta kebangkitan Yesus Kristus (the death and resurrection of Jesus Christ). Terkait hal ini, umat Kristen membentuk koinonia, persekutuan melalui baptisan dan Ekaristi. Dalam 1 Kor 12:14 ditegaskan, karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.
Orang-orang kudus membagikan pengalaman hidup dalam kekudusan dan mewartakannya melalui perkataan serta perbuatan. Sebagaimana dikatakan Johnson, seseorang dipandang sebagai orang kudus apabila menjadi bagian dari komunitas. Sedangkan eksistensi sebagai sahabat Allah merupakan situasi dan kondisi di mana orang yang bersangkutan mampu mengejawantahkan persaudaraan di dalam komunitas. Perlu diketahui bahwa orang yang sudah meninggal dan yang masih hidup sama-sama menjalin persahabatan dengan Allah.
Ketika komunitas Kristen menjadi agama yang mapan di Kekaisaran, mereka terlibat dalam perdebatan teologis mengenai iman. Terkait hal ini, gerakan pertapa pada periode awal menciptakan komunitas yang mengabdikan diri pada cita-cita kehidupan sebagai pertapa di biara. Dalam perkembangan selanjutnya, interpretasi terhadap orang kudus yang dikaitkan dengan komunitas berubah menjadi perjuangan yang ditempuh secara pribadi untuk mencapai kekudusan.
Lumen Gentium 40 menegaskan, semua orang Kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cinta kasih; dengan kekudusan sedemikian, cara hidup yang lebih manusiawi dapat dikembangkan di dalam masyarakat di dunia ini. Johnson menggunakan LG 40 sebagai pijakan untuk memulihkan pemahaman mengenai persekutuan orang-orang kudus. Karena persekutuan orang-orang kudus pada dasarnya melampaui penafsiran antropologis, mencakup ekosistem dan seluruh alam ciptaan. Hal ini juga terkait dengan visi Paulus mengenai semua ciptaan di dalam Kristus (Kol 1:15-16).
Para reformis seperti Martin Luther (1483-1546) dan Yohanes Calvin (1509-1564) menolak apabila orang-orang kudus dijadikan mediator. Karena mengurangi peran Yesus Kristus yang dipandang sebagai satu-satunya perantara. Tetapi Johnson memperlihatkan bahwa para reformis memiliki visi teologis untuk menghormati orang-orang kudus. Para reformis menafsirkan persekutuan orang-orang kudus sebagai Gereja atau communio sanctorum. Terkait hal ini, Johnson berhasil membangun jembatan ekumenis antara Katolik dan Protestan mengenai persekutuan orang-orang kudus dengan menekankan solidaritas terhadap mereka yang masih berjuang di tengah dunia.
Menurut Johnson, perjuangan sejumlah tokoh seperti Hagar, Maria Magdalena, para martir perawan Abad Pertama, dan jutaan perempuan hanya diketahui oleh Allah. Mereka mengalami kekerasan akibat perang, pemerkosaan, dan kekerasan dalam rumah tangga. Johnson prihatin dengan realitas di mana jejak darah dan tubuh yang hancur mewarnai kehidupan orang-orang kudus. Selain itu, perempuan yang mempunyai kontribusi dalam bidang intelektual, jejaknya dihapus oleh kekuatan dan kekuasaan patriarki.
MARIA SEBAGAI SIMBOL PEREMPUAN IDEAL
Maria adalah satu-satunya perempuan yang dekat dengan Allah. Namun, eksistensi Maria berada dalam kendali budaya patriarki yang membentuk dan mendefinisikan identitasnya. Dalam budaya patriarki, perempuan tidak dilibatkan dalam diskusi dan tidak diizinkan menyampaikan gagasan.
Tindakan mendefinisikan Maria sebagai simbol perempuan ideal, pada dasarnya meninggikan sekaligus merendahkan perempuan lainnya. Terkait hal ini, terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dengan baik. Pertama, Maria adalah Hawa baru (new Eve) yang meluruskan dosa Hawa pertama melalui ketaatannya kepada kehendak Allah. Karena tidak ada perempuan lain yang suci dan patuh seperti Maria.
Kedua, Maria adalah simbol perempuan ideal yang harus ditiru. Maria merupakan pelayan, perawan murni, dan ibu yang penuh belas kasih. Perlu diketahui bahwa keibuan dipandang sebagai dasar hidup perempuan. Karena tubuh perempuan secara fisik dibentuk untuk kehamilan dan persalinan. Meskipun demikian, identitas perempuan bukan sekadar melahirkan anak. Perempuan mempunyai identitas dan peranan yang sangat kompleks.
Ketiga, secara sosiologis sosok Maria digunakan sebagai sarana memecah belah eksistensi perempuan. Berdasarkan tradisi pertapa dan kehidupan membiara Abad II, keperawanan lebih dihargai daripada menjadi seorang ibu. Seorang perawan dipandang lebih dekat dengan Allah daripada perempuan yang menikah. Selain itu, ketika Maria disebut sebagai teladan Gereja, budaya patriarki mengidentikkan perempuan dengan sikap taat dan pasif. Hal ini digunakan untuk melegitimasi kepemimpinan laki-laki di dalam Gereja.
Johnson menolak interpretasi teologis yang memandang Maria sebagai simbol perempuan ideal. Simbol tersebut mengalir dari antropologi dualistik yang mempengaruhi tradisi Kristen sejak periode Patristik. Terkait hal ini, perempuan tidak mempunyai kesempatan tampil sebagai pelaku sejarah. Antropologi dualistik menjadi dasar untuk menetapkan perbedaan peran sosial antara laki-laki dan perempuan.
Ketika Maria dipandang sebagai simbol perempuan ideal, gambaran tersebut menjauhkannya dari semua laki-laki dan perempuan. Tidak ada manusia yang sempurna ketika Maria ditempatkan di atas segala-galanya. Sehingga Maria menjadi simbol perempuan ideal yang tidak dapat dijangkau oleh siapa pun. Oleh karena itu, Maria harus dipandang sebagai perempuan Yahudi yang hidup dalam konteks sosial Palestina Abad Pertama dan berada di bawah pemerintahan kolonial Roma.
Johnson ingin mengembangkan Mariologi dari bawah (Mariology from below), menonjolkan kemanusiaan Maria. Memandang Maria sebagai perempuan yang menjalani hidup dalam situasi dan kondisi penuh tantangan. Terutama ketika Maria harus menyaksikan dan menerima kematian Sang Putra. Dengan demikian, Maria bukan sekadar simbol perempuan ideal, tetapi saudari kita dalam iman (our sister in faith).
CARA PANDANG DUALISME DAN BUDAYA PATRIARKI MENGAKIBATKAN KRISIS EKOLOGI
Johnson tertarik dengan berbagai macam persoalan ekologi. Ia menggunakan metodologi teologi feminis untuk menghindari interpretasi dualistik dan patriarki ketika mengemukakan gagasan mengenai relasi antara alam, manusia, dan Allah. Menurut Johnson, alam pikiran Barat memandang relasi antara alam, manusia, dan Allah berdasarkan budaya patriarki yang kemudian berdampak pada krisis ekologi. Terkait hal ini, ia menggunakan tradisi kebijaksanaan untuk melihat relasi antara alam, manusia, dan Allah. Pola relasi tersebut disebut Johnson sebagai lingkaran bumi (circle of the earth).
Cara pandang dualisme mendorong manusia terlibat sebagai pelaku terciptanya bencana ekologis (ecological disaster). Berdasarkan cara pandang dualisme, hanya laki-laki yang mempunyai kepenuhan sebagai citra Allah. Sedangkan alam dan perempuan tidak memenuhi kriteria sebagai citra Allah. Selain itu, sikap mengabaikan pneumatologi berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan teologi serta spiritualitas. Melupakan Roh Kudus berarti melupakan misteri keterlibatan Allah dalam sejarah umat manusia.
Berdasarkan kaca mata ekologis, pneumatologi mempunyai tiga fungsi penting. Pertama, Roh Kudus mendasari dan menopang kosmos. Sebagaimana ditegaskan Johnson, Roh Kebijaksanaan bekerja secara kooperatif, teratur, dan bebas. Kedua, Roh Kebijaksanaan memperlihatkan belas kasih Allah bagi dunia dan mendorong manusia untuk peka terhadap penderitaan bumi (suffering earth). Ketiga, Roh Kebijaksanaan menelanjangi cara pandang dualisme yang membuat manusia dan kosmos berselisih. Selain itu, Roh Kebijaksanaan mengajarkan kepada manusia bahwa seluruh alam ciptaan pada hakikatnya suci.
Ketika melihat pola relasi yang dibangun manusia dengan bumi, Johnson menolak posisi manusia sebagai penguasa dan tugasnya terkait penatalayanan (stewardship). Posisi manusia sebagai penguasa menunjukkan cara pandang dualisme dan budaya patriarki. Sedangkan tugas manusia terkait penatalayanan memperlihatkan bahwa manusia bersahabat dengan ciptaan lainnya. Namun, penatalayanan pada dasarnya dilandaskan pada hirarki pemeliharaan (hierarchy of care). Sehingga manusia berada di puncak piramida kekuasaan sekaligus mempunyai kewajiban melindungi dan melestarikan ciptaan lainnya yang lemah serta rentan.
Manusia adalah bagian dari ciptaan lainnya. Oleh karena itu, punahnya spesies tertentu menghambat pertumbuhan dan perkembangan alam ciptaan di bumi. Refleksi teologis mengenai alam, manusia, dan Allah pada hakikatnya terkait dengan integritas moral. Penghancuran ekosistem bumi yang merupakan rumah bagi manusia dan ciptaan lainnya sering kali terjadi karena manusia tidak bisa melepaskan diri dari konsumerisme serta egoisme. Hal ini nampak dalam fenomena eksploitasi bumi dan ketidakadilan terhadap orang miskin, perempuan, dan anak-anak.
Berhadapan dengan berbagai macam persoalan tersebut, manusia harus bertobat dari cara pandang antroposentris dan mengedepankan solidaritas belas kasih (compassionate solidarity) ketika berhadapan dengan sesama serta ciptaan lainnya. Manusia harus melakukan pertobatan karena telah melakukan dosa ekologis (ecological sins) dan menyadari bahwa dirinya serta ciptaan lainnya saling membutuhkan.
APRESIASI TERHADAP TEOLOGI FEMINIS JOHNSON
Johnson memusatkan perhatian pada simbol Allah yang diidentikkan dengan laki-laki. Simbol tersebut selama ribuan tahun digunakan untuk melanggengkan struktur di mana perempuan dikecualikan atau ditundukkan. Merendahkan martabat perempuan yang pada dasarnya merupakan citra Allah. Hal ini nampak ketika budaya patriarki memposisikan perempuan pada tempat yang lebih rendah.
Perlu diketahui bahwa Johnson secara serius mengevaluasi dampak dari seksisme dalam masyarakat dan diskursus teologis. Terkait hal ini, simbol Allah yang diidentikkan dengan laki-laki digunakan secara harafiah dan tidak kritis. Sebagaimana dikatakan Johnson, pada tataran tertentu doktrin klasik tradisi Kristen mempertahankan tatanan hirarki yang kaku.
Johnson mengusulkan pola relasi timbal balik (mutual relationship) untuk memahami relasi antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Karena eksistensi Allah Tritunggal identik dengan persekutuan (communion) dan didasarkan pada semangat kasih (love). Dalam semangat kasih, manusia dipanggil untuk menyelamatkan dunia yang menderita. Hal ini memperlihatkan bahwa Johnson mendorong terciptanya suatu dunia di mana seluruh umat manusia dan alam ciptaan hidup dalam keberagaman serta persaudaraan.
Gagasan Johnson mengenai Allah dalam simbol perempuan sampai saat ini menjadi tolok ukur teologi feminis. Selain itu, ia mempunyai gaya berteologi yang jelas, tegas, dan mengesankan. Johnson menggunakan sumber-sumber teologi klasik dan modern serta menyajikannya dalam gambaran yang indah. Bahkan secara konsisten ia menggunakan metodologi teologi feminis dalam semua karyanya. Johnson mampu merekonstruksi simbol-simbol teologis secara kreatif.
Johnson menampilkan sosok Kebijaksanaan dan Allah dalam simbol perempuan yang terabaikan dalam tradisi teologi Kristen. Harus diakui bahwa Johnson merupakan teolog yang mempunyai perhatian pada persoalan ketidakadilan, kemiskinan, penindasan, dan krisis ekologi. Sehingga interpretasi teologi Johnson berpihak pada pentingnya menjamin pertumbuhan dan perkembangan manusia serta ciptaan lainnya. Ia menyebut Allah sebagai pribadi yang penuh belas kasih. Allah yang mau terlibat dalam penderitaan manusia dan ciptaan lainnya. Dengan demikian, Johnson membangun suatu teologi yang memberi tekanan secara seimbang pada teori dan praksis.
Terdapat sejumlah kontribusi yang ditunjukkan Johnson dalam rangka menumbuhkan dan mengembangkan teologi feminis. Pertama, pentingnya mengakui dimensi kemanusiaan perempuan dan memperhatikan suara serta pengalaman mereka. Kedua, menyadarkan kita bahwa ada berbagai macam nama, simbol, metafora, dan model Allah dari setiap bangsa serta budaya. Ketiga, memulihkan diskursus mengenai pneumatologi dalam tradisi Kristen. Keempat, pentingnya membaca sumber-sumber terkait Kristologi dan Allah Tritunggal dari tradisi Patristik, Skolastik, dan Abad Pertengahan dalam terang kebijaksanaan kontemporer.
KRITIK TERHADAP TEOLOGI FEMINIS JOHNSON
John H. Wright SJ, seorang teolog dari Jesuit School of Theology Berkeley, melontarkan kritik kepada Johnson. Menurut Wright, Johnson memandang perempuan sebagai simbol Allah. Akibatnya, Allah yang digambarkan Johnson mempunyai ciri feminin yang kuat, bukan maskulin. Selain itu, ciri feminin dikaitkan dengan penindasan dalam budaya patriarki terhadap perempuan.
Wright menegaskan bahwa Johnson tidak memahami pentingnya nilai dan makna keragaman, di mana laki-laki dan perempuan saling melengkapi. Bahkan keduanya adalah citra Allah. Citra Allah dalam diri manusia menjadi lebih kuat apabila dilukiskan dalam diri laki-laki dan perempuan. Bukan pada diri laki-laki atau perempuan saja. Sebagaimana dikatakan Wright, Johnson mempunyai keyakinan bahwa menjadi perempuan merupakan cara khas menjadi manusia.
Menurut Wright, pengecaman terhadap budaya patriarki yang dilakukan Johnson pada dasarnya berlebihan. Karena budaya patriarki sebagai struktur sosial memainkan peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan awal umat manusia. Dengan kata lain, budaya patriarki merupakan cara tradisional untuk menyatukan masyarakat, melindungi mereka dari musuh, dan menyediakan pakaian, makanan, dan tempat tinggal.
Berdasarkan konteks dewasa ini, mempertahankan budaya patriarki dalam kehidupan Gereja dan masyarakat pada dasarnya tidak tepat. Jika budaya patriarki masih dipertahankan, maka masyarakat sejatinya hidup dalam ketidakdewasaan sosial (social immaturity). Namun, budaya patriarki pada dirinya dirancang bukan untuk menindas dan merendahkan (oppress and demean).
PENUTUP
Teologi feminis merupakan bagian dari teologi pembebasan yang mengkritik dominasi laki-laki dan kecenderungan manusia untuk menguasai sesama serta ciptaan lainnya. Terkait hal ini, para teolog feminis menjunjung tinggi kesetaraan dan mutualitas di antara manusia yang mempunyai jenis kelamin, ras, dan kelas sosial yang berbeda. Perlu diketahui bahwa Johnson mengembangkan Kristologi dari bawah yang digunakannya untuk menjembatani hidup Yesus dua ribu tahun yang lalu dan pengalaman umat Kristen dewasa ini. Identitas Yesus sebagai manusia nampak dalam pengetahuan, pelayanan, dan perhatian yang Ia berikan pada persoalan ketidakadilan.
Ketika Kekristenan secara bertahap menyerap etos budaya Kekaisaran Romawi, struktur Kekristenan mencerminkan patriarki Kekaisaran. Akibatnya, Kristus nampak sebagai penguasa absolut dan menghasilkan Kristologi patriarki yang berfungsi sebagai pembenaran superioritas laki-laki terhadap perempuan. Berhadapan dengan persoalan tersebut, Johnson menekankan pentingnya menggali tradisi kebijaksanaan yang menawarkan harapan baru bagi perempuan. Tradisi kebijaksanaan berfungsi sebagai sarana evaluasi ketika berhadapan dengan fenomena di mana dimensi laki-laki Yesus terlalu ditekankan. Selain itu, tradisi kebijaksanaan menjunjung tinggi keadilan bagi orang miskin, dialog antaragama, dan kepedulian terhadap bumi.
Johnson menggunakan metodologi teologi feminis untuk menggambarkan Allah Tritunggal dalam simbol perempuan. Ia menggunakan metodologi teologi feminis berdasarkan pengalaman perempuan yang beragam. Tetapi mereka disatukan oleh pengalaman yang sama, yaitu mengalami ketidakadilan dan penindasan dalam budaya patriarki. Metodologi tersebut terdiri dari tiga tahap, yaitu dekonstruksi, mencari sumber alternatif, dan rekonstruksi. Ketika mencari sumber alternatif dalam tradisi Kristen, Johnson menemukan tiga pokok gagasan, yaitu kehadiran sosok Kebijaksanaan dalam Kitab Suci, Allah tidak dapat dipahami, dan penggunaan analogi.
Menurut Johnson, simbol Allah perempuan juga harus digunakan dalam misteri Allah. Sehingga Allah dipahami secara menyeluruh, bukan sekadar sebagai pribadi yang kuat, memprakarsai, menciptakan, dan menyelamatkan, tetapi juga sebagai pemelihara. Selanjutnya, umat Kristen dipanggil menuju kekudusan melalui perkataan dan perbuatan, mengejawantahkan persaudaraan di dalam komunitas. Memandang laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai citra Allah.
Perlu diketahui bahwa Johnson mengembangkan Mariologi dari bawah, menonjolkan kemanusiaan Maria. Selain itu, Johnson juga tertarik dengan berbagai macam persoalan ekologi. Ia menggunakan metodologi teologi feminis untuk menghindari interpretasi dualistik dan patriarki ketika mengemukakan gagasan mengenai relasi antara alam, manusia, dan Allah. Cara pandang dualisme mendorong manusia terlibat sebagai pelaku bencana ekologis.
SUMBER BACAAN
Fox, Patricia A. “Feminist Theologies and the Trinity.” Dalam Peter C. Phan (Editor). The Cambridge Companion to the Trinity. Cambridge: Cambridge University Press, 2011, hlm. 274-290.
Fox, Patricia A. “Things New and Old: Essays on the Theology of Elizabeth A. Johnson.” PACIFICA. Vol. 15 (Juni 2002), hlm. 236-238.
Johnson, Elizabeth A. Quest for the Living God: Mapping Frontiers in the Theology of God. New York: Continuum, 2007.
Klopper, F. “Interpretation is All We Have: A Feminist Perspective on the Objective Fallacy.” OTE. Vol. 22, No. 1 (2009), hlm. 88-101.
Rakoczy, Susan. “The Theological Vision of Elizabeth A Johnson.” Scriptura. Vol. 98 (2008), hlm. 137-155.
Ruether, Rosemary. Sexism and God-Talk: Toward a Feminist Theology. Boston: Beacon, 1983.
Swierczek, Magdalena. “The Dilemmas of Christian Feminism.” The Person and the Challenges. Vol. 7, No. 2 (2017), hlm. 139-149.
Wright, John H. “Book Reviews She Who Is: The Mystery of God in Feminist Theological Discourse.” Theological Studies. Vol. 54, No. 2 (1993), hlm. 371-373.
