October 30, 2025

Makna dan Penamaan Menurut Willard Van Orman Quine

Yohanes Wahyu Prasetyo

(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)

 

Willard Van Orman Quine (1908-2000) menegaskan bahwa makna tidak identik dengan penamaan. Hal ini juga diyakini Friedrich Ludwig Gottlob Frege (1848-1925) melalui contoh tentang bintang sore dan bintang pagi. Sedangkan Bertrand Arthur William Russell (1872-1970) memberikan contoh mengenai scott dan penulis waverley. Sebagaimana dikatakan para astronom, bintang sore dan bintang pagi mengacu pada planet venus.

Quine menunjukkan bahwa makna bintang sore berbeda dengan bintang pagi. Meskipun keduanya mengungkapkan objek yang satu dan sama. Terkait hal ini, bintang sore mengandung makna tampak pada waktu sore dan bintang pagi mengandung makna tampak pada waktu pagi. Oleh karena itu, keduanya tidak dapat dipertukarkan, karena masing-masing unsur dikhususkan bagi setiap nama atau ungkapan.

Menurut Quine, perbedaan makna dan penamaan penting pada tataran istilah abstrak. Misalnya, relasi antara 9 dan jumlah planet yang mengacu pada nama serta entitas abstrak yang sama. Namun, hal ini harus dilihat secara khusus, tidak seperti makna sebagaimana diuraikan di atas. Karena yang dilihat bukan sekadar refleksi makna, tetapi penentuan kesamaan entitas.

Contoh relasi antara 9 dan jumlah planet merupakan istilah tunggal, konkret, dan abstrak. Sedangkan untuk istilah umum agak berbeda, di mana di dalam istilah umum terkandung kesejajaran. Dalam hal ini, istilah tunggal dimaksudkan untuk nama entitas, akan tetapi istilah umum tidak. Karena istilah umum merupakan sesuatu yang benar dari sebuah entitas.

Selanjutnya, perlu menyejajarkan kontras antara makna istilah tunggal (singular term) dan entitas bernama (the entity named). Oleh karena itu, pertama-tama harus membedakan makna dari istilah umum dan perluasannya. Misalnya, makhluk dengan hati dan makhluk dengan ginjal. Keduanya sama pada tataran perluasan (extension), tetapi mengandung makna yang berbeda.

Gagasan Aristoteles (384-322) tentang esensi menjadi pelopor. Misalnya, penting bagi manusia untuk bersikap rasional, bukan hanya berjalan dengan dua kaki. Namun, terdapat perbedaan antara bersikap rasional dengan doktrin makna yang ingin dikemukakan. Berdasarkan pernyataan tersebut, rasionalitas terkandung dalam makna kata manusia, sedangkan berjalan dengan dua kaki tidak.

Berjalan dengan dua kaki pada saat yang sama dilihat sebagai bentuk keterlibatan makna binatang berkaki dua, sedangkan bersikap rasional tidak. Dengan demikian, dari sudut pandang doktrin makna, tidak masuk akal untuk mengatakan pribadi yang sebenarnya, sekaligus mencakup manusia dan binatang berkaki dua.

Pertanyaan yang mencolok dalam teori makna yaitu tentang sifat objek, hal-hal apa saja yang bermakna. Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa sebelumnya terjadi kegagalan dalam menilai makna dan acuan sebagai sesuatu yang berbeda. Oleh karena itu, setelah teori makna dipisahkan dari teori acuan, hal ini menjadi langkah untuk mengakui usaha teori makna yang merupakan sinonim bentuk linguistik dan analitik suatu pernyataan.

SUMBER BACAAN

Quine, W. V. “Two Dogmas of Empiricism.” Dalam A. P. Martinich (Editor). The Philosophy of Language. Oxford: Oxford University Press, 1996, hlm. 39-52.

Diskursus Filsafat