Yohanes Wahyu Prasetyo
(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)
Sering kali ateis baru (new atheists) dinilai sombong, dogmatis, dan berpikiran tertutup. Penilaian tersebut merupakan tuduhan terhadap kejahatan epistemik (epistemic vices) atau kejahatan akal budi (vices of the mid) yang dilakukan ateis baru. Selain itu, ateis baru dinilai tidak mempunyai pemahaman historis dan konsepsi mengenai kehidupan religius yang memadai. Misalnya, ketidaktahuan ateis baru tentang tradisi, kepercayaan, budaya, dan kekayaan serta kompleksitas konteks historis tradisi keagamaan. Sehingga tidak mengherankan apabila ateis baru dinilai secara historis naif, secara filosofis tidak canggih, dan secara teologis membingungkan.
APA ITU ATEISME BARU?
Kata ateis berasal dari bahasa Yunani atheos yang berarti menyangkal para dewa atau orang fasik (denying the gods or ungodly). Perlu diketahui bahwa ateisme berakar sejak abad V SM. Ateisme secara filosofis mengalami penurunan pada periode Abad Pertengahan. Kemudian ateisme kembali muncul pada periode Pencerahan. Terkait hal ini, filsuf yang paling menonjol menolak agama adalah Karl Marx (1818-1883). Pada abad XX pembelaan terhadap ateisme dilakukan oleh filsuf seperti Alfred Jules Ayer (1910-1989), John Dewey (1859-1952), dan Bertrand Russell (1872-1970).
Ateisme baru merupakan fenomena budaya terkini yang mempunyai kaitan dengan sains dan filsafat. Ateisme baru dibuka dengan The End of Faith yang ditulis Sam Harris pada 2004. Selain itu, Richard Dawkins, Daniel Dennett, Victor John Stenger (1935-2014), dan Christopher Eric Hitchens (1949-2011) menumbuhkan serta mengembangkan gagasan ateisme baru. Sedangkan penulis lain yang memusatkan perhatian pada ateisme baru adalah Jerry Allen Coyne, Paul Zachary Myers, Alain de Botton, dan Anthony Clifford Grayling.
Argumentasi yang dikemukakan ateisme baru terhadap agama sejalan dengan pemikiran David Hume (1711-1776). Hal ini memperlihatkan bahwa ateisme baru mempunyai karakter populer. Misalnya, God Delusion karya Dawkins masuk kategori buku terlaris dalam New York Times. Ketika memberikan evaluasi kepada agama, ateisme baru lebih memilih sains daripada filsafat. Menurut Dawkins, hipotesis Allah (God hypothesis) harus diperlakukan sebagai hipotesis ilmiah. Sedangkan menurut Stenger, sains memperlihatkan bahwa Allah tidak ada. Selanjutnya, Harris meyakini bahwa berbagai macam persoalan moral mampu ditangani oleh sains.
Gagasan Dawkins, Stenger, dan Harris tersebut memperlihatkan pola saintisme (scientism). Saintisme memandang sains sebagai standar tertinggi dan penentu ketika menjawab persoalan. Sehingga sains mewadahi semua aspek pengetahuan manusia. Meskipun pada waktu yang lampau scientistic dinilai sederhana dan tidak dapat dipertahankan. Terkait hal ini, keberhasilan ateisme baru yaitu mampu memusatkan perhatian pada ilmu sains.
Menurut Stenger, terdapat enam prinsip yang mencirikan ateisme baru. Pertama, ateisme baru mencari akhir iman (end of faith). Karena tidak tepat meyakini sesuatu apabila tidak ada bukti. Kedua, klaim religius mengenai dunia, moralitas, dan etika harus dipelajari secara ilmiah serta dikritik. Ketiga, agama harus dipelajari secara ilmiah dan dikritik. Keempat, agama meracuni segala sesuatu (poisons everything). Kelima, terdapat berbagai macam bukti yang menentang eksistensi Allah. Keenam, orang beriman melakukan tindakan mengerikan, yaitu mempromosikan wahyu ilahi sebagai sumber pengetahuan.
EPISTEMOLOGI KEBAJIKAN DAN KEBURUKAN AKAL BUDI
Titik awal epistemologi kebajikan (vistue epistemology) adalah persepsi mengenai relasi antara penyelidikan dan karakter. Penyelidikan (enquiry) merupakan aktivitas perolehan, penilaian, dan penerapan pengetahuan. Sedangkan karakter (character) terkait karakteristik seseorang. Dalam bahasa filosofis, karakter negatif adalah sifat buruk dan karakter positif adalah kebajikan. Terkait hal ini, epistemologi kebajikan ingin mengeksplorasi relasi antara karakter dan penyelidikan.
Menurut Jason Baehr, penyelidikan membuat tuntutan pada agen kognitif. Sedangkan kebajikan epistemik melengkapi seseorang supaya dapat memenuhi tuntutan. Hal ini melibatkan identifikasi terhadap kebajikan dan kejahatan epistemik. Misalnya, keingintahuan dan kerendahan hati, kesombongan dan dogmatisme, dan mengeksplorasi bagaimana mereka mempengaruhi kapasitas seseorang atau kelompok untuk memperoleh, menilai, dan menetapkan pengetahuan melalui praktik epistemik seperti berteori, berdebat, dan menyelidiki.
Sejumlah kebajikan seperti kejujuran memiliki ruang lingkup universal dalam kehidupan manusia. Sedangkan keberanian epistemik hanya berlaku untuk agen tertentu dalam kondisi tertentu. Kejahatan epistemik merupakan karakter epistemik yang negatif. Misalnya, kesombongan dan dogmatisme serta ketidakadilan epistemik dan ketidaksensitifan epistemik. Heather Battaly membedakan dua konsep utama dari wakil epistemik. Pertama, seorang yang andal (reliablist) melihat sifat buruk akal budi sebagai karakter yang memiliki dampak epistemik yang buruk. Kedua, seorang yang bertanggung jawab (responsibilist) melihat kejahatan sebagai cerminan psikologi yang buruk.
Perlu diketahui bahwa ateis baru dinilai kejam secara epistemik. Penilaian tersebut terjadi karena dampak buruk dari perilaku ateis baru. Terkait hal ini, ahli epistemologi mempunyai kepentingan untuk mengidentifikasi berbagai macam kebajikan dan keburukan epistemik. Selain itu, memahami bagaimana keduanya menjalin relasi dan berkontribusi pada penyelidikan tingkat pribadi atau kelompok.
Ian James Kidd menggunakan epistemologi kebajikan untuk mengartikulasikan dan menilai tuduhan sebagaimana diarahkan kepada ateisme baru. Hal ini didasarkan pada sejumlah klaim. Pertama, membantu memberikan dasar normatif tuduhan dan memperlihatkan bahwa tuduhan menggunakan perangkat retoris. Kedua, menawarkan studi kasus mengenai arogansi epistemik dan dogmatisme epistemik. Ketiga, membantah keberatan atas klaim dan menegaskan bahwa tuduhan merupakan kritik yang valid. Keempat, tuduhan adalah serangan ad hominem.
ATEISME BARU DAN KEJAHATAN EPISTEMIK
Penting untuk membedakan bentuk eksplisit dari bentuk implisit tuduhan. Tuduhan eksplisit menyampaikan kosa kata kebajikan dan kejahatan untuk tujuan kritis. Misalnya, Alister McGrath dan Joanna Collicutt McGrath menentang keyakinan dogmatis mengenai kebenaran. Tetapi tuduhan juga bisa implisit dalam bahasa deskriptif dan evaluatif yang digunakan untuk menggambarkan karakter, nada, retorika, pernyataan, dan pandangan ateis baru. Misalnya, artikel dalam The Guardian yang berjudul Aggressive Atheists mengecam kecenderungan ateis baru yang mencemooh dan memusuhi agama.
Tuduhan dapat mengambil bentuk implisit atau eksplisit. Umumnya lebih mudah menilai tuduhan secara kritis ketika mengambil bentuk eksplisit, sehingga dapat mengidentifikasi kejahatan yang dimunculkan. Selain itu, lebih mudah menentukan apakah kritikus memberikan penjelasan yang valid. Ateis baru biasanya menolak tuduhan.
Dawkins menegaskan bahwa hipotesis Allah (God hypothesis) merupakan hipotesis ilmiah (scientific hypothesis), sehingga dapat dianalisis secara skeptis. Dawkins menolak tuduhan dogmatisme karena ciri-ciri tertentu epistemologi penyelidikan ilmiah secara intrinsik anti-dogmatis. Jika Dawkins benar, maka dogmatisme merupakan kepercayaan epistemik yang kuat.
Demikian pula Dale McGowan, menentang tuduhan dan menegaskan bahwa ateis rendah hati, terbuka, dan jujur. Hal ini terjadi karena kepekaan intelektual mereka yang tercerahkan. Perlu diketahui bahwa tuduhan tidak terlepas dari bentuk-bentuk kritik lain yang ditujukan kepada ateis baru. Karena epistemologi kebajikan meyakini bahwa karakter dan penyelidikan terkait erat. Dalam ateisme baru, tuduhan berkaitan dengan dua keluhan.
Pertama, keluhan kognitif (cognitive complaint) yang dibuat dan dijalankan ateis baru. Ateis baru menegaskan bahwa keyakinan religius membingungkan, kurang canggih, dan secara intelektual dipertanyakan. Misalnya, Dawkins meyakini bahwa iman merupakan kepercayaan buta (blind trust) yang tidak melibatkan akal budi. Terkait hal ini, Alister McGrath dan Joanna Collicutt McGrath menilai bahwa pernyataan yang disampaikan Dawkins mementingkan diri sendiri.
Pernyataan yang mementingkan diri sendiri tidak dapat diterima. Selain itu, tindakan tersebut memperlihatkan bahwa mereka tidak mampu mempertahankan argumentasi intelektual. Pada tataran tertentu dapat dikatakan bahwa mereka kurang mendalami literatur akademis seperti psikologi, filsafat, dan teologi. Penekanan mengenai pentingnya keterlibatan dalam ranah akademis juga berlaku bagi orang-orang religius yang ingin terlibat dalam debat publik tentang sains dan agama.
Kedua, keluhan perilaku (conduct complaint), di mana ateis baru meminimalkan keterlibatan dalam ranah intelektual. Menurut Richard Cimino dan Christopher Smith, ateis baru suka bertengkar, memecah belah, dan secara agresif mengikis peluang diskursus rasional. Sedangkan menurut Richard Douglas Harries, nada utama kebenaran intelektual ateis baru menghalangi perdebatan intelektual. Terkait hal ini, Alister McGrath dan Joanna Collicutt McGrath menilai bahwa karya Dawkins The God Delusion mengungkapkan pernyataan retoris berlebihan dan disorganisasi argumentatif yang merupakan kejahatan epistemik.
Ateis baru resisten terhadap keterlibatan intelektual. Hal ini terjadi karena minimnya pengetahuan dan pemahaman mereka mengenai persoalan yang relevan. Sehingga ateis baru banyak melakukan kesalahan dan sulit diajak diskusi. Perlu diketahui bahwa orang yang dogmatis bertahan dengan konsep dan teori tertentu. Sedangkan orang yang sombong menegaskan superioritas interpretasinya sendiri. Kedua keburukan tersebut mendorong sikap permusuhan dan meniadakan kemungkinan dialog konstruktif.
Sangat mudah untuk bertukar tuduhan terkait arogansi dan dogmatisme. Namun, praktik menuduh orang lain dengan keburukan hanyalah retorika belaka. Tuduhan akan goyah apabila tidak ada sesuatu yang diartikulasikan secara filosofis. Oleh karena itu, untuk membuat tuduhan kuat dan valid, kritikus harus memberikan penjelasan. Tampaknya ateis baru memang rentan terhadap tuduhan arogansi epistemik (epistemic arrogance) dan dogmatisme epistemik (epistemic dogmatism).
AROGANSI EPISTEMIK ATEISME BARU
Keberhasilan penyelidikan tergantung pada kemampuan peserta mengetahui dan mengamati norma-norma perilaku epistemik. Norma epistemik seperti norma sosial yang memfasilitasi aktivitas kolektif dengan menetapkan standar perilaku bersama menentukan bentuk perilaku tertentu. Hal ini merupakan norma epistemik yang kondusif untuk penyelidikan. Misalnya, mendorong peserta mengajukan klaim tentatif atau ide spekulatif tanpa harus takut terhadap tanggapan kritis.
Meskipun norma epistemik seperti norma sosial sering dilanggar, hal ini tidak selalu buruk. Karena klaimnya bukan bahwa mengamati norma epistemik selalu baik untuk penyelidikan atau penyelidikan selalu berhasil apabila seseorang sungguh-sungguh mengamatinya.
Dalam norma sosial, seseorang tidak boleh menginterupsi apabila yang lain sedang berbicara. Oleh karena itu, ciri penanggap yang baik mempunyai keterampilan mengetahui kapan harus berbicara. Orang seperti itu memiliki apa yang disebut Aristoteles (384-322 SM) sebagai kebijaksanaan praktis (phronesis).
Seseorang yang melanggar norma epistemik secara sewenang-wenang mengancam kemungkinan penyelidikan kolektif dalam dua hal. Pertama, merusak kondisi sosial penyelidikan. Misalnya, menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat dan mencegah spekulasi tentatif. Kedua, suspensi sewenang-wenang dan pelanggaran norma epistemik mengikis status norma tersebut serta merusak integritas komunitas yang bersangkutan.
Menurut Robert Campbell Roberts dan W. Jay, arogansi epistemik merupakan disposisi untuk menyimpulkan secara tidak valid berdasarkan superioritas seseorang terhadap yang lain. Misalnya, menilai diri sendiri mempunyai hak berdasarkan status istimewa seperti superioritas intelektual dan sosial.
Secara psikologis arogansi menghalangi orang untuk memperoleh informasi dari yang lain. Terkait hal ini, terdapat dua jenis arogansi. Pertama, arogansi lemah (weakly arrogant), orang tidak menyadari kesombongannya, tetapi apabila ditantang terbuka untuk dikoreksi. Kedua, arogansi kuat (strongly arrogant), orang menyadari kesombongannya dan mempertahankannya bahkan apabila ditantang.
Orang yang secara epistemik arogan dicirikan oleh kecenderungan untuk memperoleh hak dan pengecualian. Hak (entitlements) mengacu pada sikap menganggap diri sendiri mempunyai hak istimewa seperti posisi otoritas sosial dan intelektual. Orang yang secara epistemik arogan menilai diri sendiri mempunyai hak istimewa, kekuasaan, dan prioritas tertentu. Menurut Philip Andrew Quadrio, orang arogan gagal memenuhi persyaratan moralitas cendekiawan.
Pengecualian (exemption) mengacu pada sikap orang yang mengira bahwa ia dikecualikan dari persyaratan atau batasan tertentu. Orang yang arogan menganggap dirinya dikecualikan dari praktik atau prosedur tertentu yang berlaku untuk semua agen epistemik. Menganggap diri dikecualikan dari sikap untuk menghormati otoritas para ahli di bidang tertentu. Menilai diri sendiri kompeten untuk berdiskusi mengenai topik tertentu meskipun tidak memiliki pengetahuan yang memadai.
Konsekuensi yang lebih dalam dari perilaku arogan adalah mengikis norma epistemik yang mengatur komunitas epistemik. Dalam jangka pendek, perilaku arogan menjengkelkan dan sedikit mengganggu. Sedangkan dalam jangka panjang, perilaku arogan mengganggu dan meningkatkan tekanan pada norma. Menurut Ian James Kidd, ateis baru rentan terhadap tuduhan arogansi epistemik. Terdapat dua alasan yang mendasarinya.
Pertama, ateis baru menetapkan dan menegaskan konsepsi mengenai hakikat keyakinan religius tanpa merujuk pada literatur teologi, filsafat, dan ilmu sosial yang relevan. Selain itu, ateis baru tergantung pada catatan sejarah relasi antara sains dan agama yang oleh sejarawan disebut model konflik.
Kedua, ateis baru mengadopsi citra diri yang mendorong kemampuan intelektual dan integritas superlatif. Ateis baru mengklaim bahwa dirinya mempunyai sikap intelektual tanpa cela. Menganggap dirinya mampu menghadapi alam semesta dalam terang akal budi. Bebas dari subordinasi otoritas agama dan pencipta adikodrati.
DOGMATISME EPISTEMIK ATEISME BARU
Ateisme baru rentan terhadap tuduhan dogmatisme epistemik. Terkait hal ini, dogmatisme merusak kapasitas seseorang untuk terlibat dalam praktik epistemik dasar. Dua praktik epistemik dasar mencakup instruksi (instruction) dan kritik (criticism). Instruksi merupakan penyampaian potensi epistemik seperti keterampilan dan pengetahuan kepada orang lain. Sedangkan kritik merupakan penolakan terhadap klaim dan argumen. Sehingga dogmatisme epistemik dapat dipahami sebagai ketidakmampuan seseorang menanggapi dengan tepat instruksi dan kritik dari orang lain.
Menurut Roberts dan Wood, dogmatisme epistemik merupakan bentuk spesifik dari kekakuan epistemik (epistemic rigidity). Orang yang secara epistemik dogmatis menanggapi oposisi secara tidak rasional. Gagal menanggapi kritik dan keberatan secara rasional. Melakukan polarisasi pandangan yang bernuansa halus, menolak kritik dengan cara merendahkan, memutarbalikkan kritik yang ditujukan kepadanya, dan gagal menghormati norma-norma sosial dan epistemik. Bentuk-bentuk perilaku dogmatis tersebut seringkali tidak menyenangkan.
Mencirikan dogmatisme dalam kaitannya dengan disposisi untuk menanggapi kritik dan instruksi secara tidak rasional membuatnya lebih mudah untuk menentukan apakah seseorang dogmatis yang kejam (viciously dogmatic) atau percaya diri yang saleh (virtuously self-confident). Terdapat dua alasan yang mendasarinya. Pertama, umumnya lebih mudah untuk menilai tanggapan irasional dari kritikus. Kedua, tuduhan dogmatisme yang kuat harus didasarkan pada pengenalan yang terperinci.
Dogmatisme epistemik dapat dipahami sebagai disposisi untuk menanggapi secara tidak rasional instruksi dan kritik yang disampaikan orang lain. Sifat buruk tersebut membuat seseorang menolak keterlibatan epistemik. Mereka tidak dapat diandalkan untuk memberikan tanggapan yang dewasa dan beralasan terhadap kritik. Mereka menciptakan lingkungan sosial dan epistemik yang tidak nyaman serta menimbulkan ketegangan dan konflik. Menurut Roberts dan Wood, orang yang dogmatis melakukan paksaan untuk merekrut orang lain ke posisinya.
Terdapat tiga alasan yang mendasari kerentanan ateis baru terhadap dogmatisme epistemik. Pertama, ateis baru menawarkan tanggapan irasional terhadap kritik dan instruksi. Misalnya, Dawkins menyebut orang-orang beragama sebagai korban dari virus akal budi (victims of a mind-virus). Sedangkan menurut Sam Harris, teologi Kristen menyebarluaskan kepura-puraan moral (moral pretences). Hal ini memperlihatkan watak arogan ateis baru ketika menanggapi instruksi dan kritik dari orang-orang religius, filsuf, dan teolog.
Kedua, ateis baru menilai ketidakdewasaan kognitif dari keyakinan religius. Mendorong tanggapan irasional terhadap tradisi religius. Hal ini dapat menimbulkan kejahatan epistemik. Menurut Fern Elsdon-Baker, aspek dogmatis dari ateisme baru Dawkins didasarkan pada representasi sejarah dan filsafat sains. Karena tidak hanya representasi tersebut tidak akurat dan tidak lengkap. Tetapi juga membenarkan penghinaan dogmatis terhadap orang-orang beragama.
Ketiga, ateis baru sering menunjukkan keharusan untuk merekrut (compulsion to recruit). Hal ini dilakukan Dawkins dalam lampiran The God Delusion, yaitu daftar alamat bagi mereka yang membutuhkan dukungan untuk melarikan diri dari agama. Sehingga masuk akal untuk menyatakan bahwa ateis baru rentan terhadap tuduhan dogmatisme epistemik.
KRITIK TERHADAP ATEISME BARU
Perlu diketahui bahwa ateisme mengalami perubahan menuju saintisme. Terkait hal ini, akan ditunjukkan empat kritik terhadap ateisme baru. Pertama, saintisme secara filosofis tidak sehat. Hal ini terlihat dari tindakan saintis memperluas jangkauan sains ke ranah yang bukan miliknya atau sekadar memainkan peran pendukung. Selain itu, sains dan filsafat mempunyai peran penting bagi ateisme. Sehingga tindakan ateis baru memisahkan secara tegas antara sains dan filsafat tidak tepat. Karena cara kerja sains tidak terbatas pada observasi atau eksperimen.
Ateis baru mempunyai kecenderungan memperluas definisi sains sebagai fakta (facts) yang dipahami secara longgar. Akibatnya konsep sains kehilangan makna dan tidak dapat dibedakan dari aktivitas manusia lainnya. Seseorang mungkin juga mendefinisikan filsafat (philosophy) sebagai disiplin ilmu yang berhubungan dengan pemikiran. Kemudian membuat klaim bahwa segala sesuatu yang dilakukannya termasuk sains adalah milik filsafat.
Kedua, saintisme merugikan sains dalam dua hal. Pertama, secara internal merugikan disiplin ilmu itu sendiri. Kedua, secara eksternal merusak pemahaman publik dan reputasi sains. Misalnya, keterlibatan Amerika dalam perang budaya bersama negara-negara Barat. Terkait hal ini, para ilmuwan memperoleh rasa hormat yang sangat tinggi dari masyarakat Amerika. Namun, gagasan ilmiah tertentu seperti evolusi dan perubahan iklim diserang serta ditolak oleh setengah dari populasi penduduk Amerika.
Ketiga, saintisme merugikan ateisme. Saintis tidak banyak membantu ateisme sebagai posisi filosofis. Namun, ateisme dinilai rasional apabila sains berhasil menjelaskan sifat dunia dalam istilah naturalistik. Perlu diketahui bahwa tujuan ateis baru adalah menggantikan filsafat dengan sains. Hal ini membuat ateis baru kehilangan sejumlah dasar intelektual yang bertumbuh dan berkembang sejak periode Yunani kuno.
Ateis baru harus mempertimbangkan kembali secara serius bagaimana mereka memikirkan pengetahuan secara umum. Hal ini dapat ditempuh dengan kembali ke konsep klasik dalam bahasa Latin scientia yang berarti pengetahuan. Scientia mencakup sains sensu stricto, filsafat, matematika, dan logika yang merupakan sumber pengetahuan manusia yang andal. Ketika scientia digabungkan dengan disiplin ilmu humanistik akan menghasilkan suatu pemahaman (understanding).
Pada dasarnya tidak tepat apabila gerakan ateis sepenuhnya beralih ke arah sains dengan mengorbankan segala sesuatu yang lain. Ateis baru harus memeluk semua bidang intelektual dan pengalaman yang bervariasi di mana manusia memperoleh pengetahuan. Selain itu, ateis baru harus menumbuhkan rasa hormat dan kerja sama dengan disiplin ilmu lainnya.
Keempat, menurut Victor John Stenger, ateis baru sekadar mengatakan bahwa Allah tidak ada. Sehingga secara ilmiah argumen ateis baru rapuh. Terkait hal ini, Stenger menguraikan delapan argumen ilmiah untuk membuktikan bahwa Allah tidak ada. Pertama, kosmologi tidak mempunyai bukti mengenai Allah yang menciptakan alam semesta. Dewasa ini teori kosmologi menegaskan bahwa alam semesta hanyalah salah satu dari alam semesta lain yang jumlahnya tidak terbatas di multiverse yang selalu ada. Selain itu, tidak pernah ada penciptaan.
Kedua, tidak ada bukti bahwa Allah bertanggung jawab atas struktur kompleks dunia. Pengetahuan kosmologis menunjukkan bahwa alam semesta dimulai dengan entropi yang maksimum, yaitu kekacauan total dengan ketiadaan struktur. Ketiga, tidak ada bukti bahwa Allah memberi manusia jiwa yang kekal. Selain itu, tidak ada bukti mengenai adanya kehidupan setelah kematian. Bahkan fakta empiris menunjukkan bahwa proses fisik murni menentukan ingatan, pikiran, dan kepribadian manusia.
Keempat, tidak ada bukti bahwa Allah secara personal berinteraksi dengan manusia melalui wahyu sebagaimana tercatat dalam Kitab Suci. Mukjizat yang diklaim dalam Kitab Suci bertentangan dengan kurangnya bukti independen bahwa mukjizat tersebut terjadi. Bukti arkeologis memperlihatkan bahwa sejumlah narasi Kitab Suci seperti kerajaan Daud dan Salomo yang megah tidak pernah ada. Kelima, harus dipertanyakan dari sekian banyak doa yang disampaikan, berapa jumlah doa yang dikabulkan.
Keenam, jika manusia diciptakan sebagai citra Allah, maka seharusnya manusia mempunyai kekuatan yang sama hebatnya dengan Allah. Realitas menunjukkan bahwa manusia terkurung pada setitik debu kosmos yang sangat luas dan tidak dapat bertahan hidup di tempat yang berada di luar jangkauan. Ketujuh, tidak ada bukti bahwa dalam pengalaman keagamaan manusia berkomunikasi langsung dengan Allah.
Kedelapan, jika Allah adalah sumber moralitas dan etika, maka harus ada bukti bahwa wahyu serta agama merupakan sumber moralitas dan etika yang unggul serta tidak berubah. Namun, sejarah dan antropologi menunjukkan bahwa moralitas dan etika tumbuh dari kontak sosial serta kebutuhan untuk hidup dalam harmoni. Pernyataan moral agama lebih sering menjadi penghalang untuk perbaikan. Bahkan orang beriman yang taat memilih sendiri apa yang baik serta apa yang buruk.
KEBERATAN ATEISME BARU TERHADAP TUDUHAN AD HOMINEM
Tuduhan yang disampaikan kepada ateis baru adalah serangan ad hominem. Karena keberatannya ditujukan untuk menilai klaim dan argumen berdasarkan kemampuannya sendiri. Bukan dengan mengritik kualitas moral atau intelektual orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, kritikus ateisme baru harus fokus pada klaim dan argumen ateisme baru, bukan mengarahkan tuduhan pada ateis baru tertentu.
Sehingga meskipun Dawkins dogmatis, itu tidak menunjukkan bahwa ia salah dalam klaimnya mengenai sains dan agama. Perlu diketahui bahwa seseorang dapat secara dogmatis mempertahankan pandangan yang benar. Bahkan apabila seseorang secara dogmatis tidak menyukai nada, cara, dan gaya yang diartikulasikan serta dipertahankan.
Keberatan ad hominem dapat dibantah apabila seseorang dapat menunjukkan penilaian kritis terhadap karakter seseorang yang relevan dengan penilaian argumen, keyakinan, dan klaim mereka. Menurut Heather Battaly, argumen ad hominem valid apabila diarahkan pada ciri-ciri negatif karakter seseorang. Selain itu, Battaly menegaskan bahwa sejumlah pengetahuan diperoleh secara testimonial dari orang lain.
Berdasarkan penjelasan tersebut, kebajikan epistemik memiliki peran penting dalam upaya memperoleh kesaksian yang dapat diandalkan dari orang lain. Sehingga seseorang dapat dikritik karena tidak memiliki kebajikan yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan dari orang lain. Terkait hal ini, orang jahat tidak memiliki kapasitas untuk memperoleh pengetahuan dari orang lain dengan cara yang dapat diandalkan. Karena sifat buruk mereka menunjukkan kekurangan dalam kapasitas epistemik.
Bentuk kritik ad hominem tertentu tidak valid. Sesuatu yang harus dilakukan oleh kritikus adalah memperlihatkan bahwa ateis baru memang memiliki sifat buruk epistemik. Dalam persoalan arogansi dan dogmatisme, harus ditunjukkan bahwa ateis baru memiliki karakteristik tersebut dan bahwa mereka merusak kapasitas mereka untuk terlibat dalam praktik epistemik kolektif.
Berdasarkan kasus-kasus tertentu (certain cases), valid secara epistemik untuk mengritik karakter epistemik seseorang. Tetapi kritikus memiliki banyak pekerjaan untuk membuat tuduhan yang valid. Mereka harus memberikan penjelasan yang kuat mengenai kejahatan yang ingin dikritik. Menjelaskan bagaimana kejahatan tersebut berwujud dalam perilaku epistemik dan sosial.
Kemudian menunjukkan bagaimana dan kapan kejahatan tersebut terwujud dalam perilaku mereka. Namun, tuduhan terhadap ateis baru tidak memenuhi syarat-syarat tersebut. Sehingga tuduhan hanya berstatus sementara (provisional status), belum ditetapkan sebagai tuduhan yang valid. Oleh karena itu, terlalu dini untuk mengatakan bahwa ateis baru kejam secara epistemik.
TANGGAPAN DAN RELEVANSI
Epistemologi kebajikan digunakan untuk mengartikulasikan dan menilai tuduhan terhadap ateisme baru. Pada dasarnya ateis baru rentan terhadap tuduhan arogansi epistemik dan dogmatisme epistemik. Terkait hal ini, kritikus yang membuat tuduhan tidak bersalah karena melakukan serangan ad hominem.
Para kritikus yang ingin menyatakan bahwa ateis baru secara epistemik kejam harus bekerja keras untuk memberikan tuduhan yang lebih kuat untuk mereka. Jika tidak, tuduhan terhadap arogansi dan dogmatisme epistemik ateis baru hanya sekadar retorika belaka dan beresiko bersalah atas serangan ad hominem yang keliru.
Perlu diketahui bahwa tuduhan yang tegas terhadap ateis baru memiliki relevansi penting untuk debat publik mengenai sains, agama, dan masyarakat. Penting untuk mengembangkan dan menegakkan standar serta norma perilaku epistemik. Hal ini terkait dengan konsepsi mengenai perilaku yang baik ketika berdebat.
Selain itu, cara efektif untuk mempromosikan posisi seseorang adalah dengan berperilaku sesuai dengan standar norma epistemik. Misalnya, nilai sains tidak hanya berakar pada kekuatan prediktif, penjelasannya, dan kecanggihannya. Tetapi pada kenyataan bahwa sains dapat menawarkan etos, sikap, dan pendirian yang tidak terpisahkan dengan kebajikan tertentu seperti kejujuran serta integritas.
Perlu mempertimbangkan sejumlah cara lebih lanjut supaya epistemologi kebajikan dapat diintegrasikan dengan sosiologi dan ilmu sosial lainnya. Untuk mengamankan tuduhan yang kuat, harus memahami konteks sosial dan kelembagaan di mana yang akan dikritik beroperasi. Hal ini memperlihatkan pentingnya keterlibatan interdisipliner. Dengan kata lain, bersedia mengakui disiplin ilmu lain dan berpartisipasi dalam penyelidikan kolektif.
SUMBER BACAAN
Kidd, Ian James. “Epistemic Vices in Public Debate: The Case of ‘New Atheism’.” Dalam Christopher R. Cotter, Philip Andrew Quadrio, dan Jonathan Tuckett (Editor). New Atheism: Critical Perspectives and Contemporary Debates. Switzerland: Springer, 2017, hlm. 51-68.
Pigliucci, Massimo. “New Atheism and the Scientific Turn in the Atheism Movement.” Midwest Studies in Philosophy. Vol. XXXVII (2013), hlm. 142-153.
Stenger, Victor J. “A Defense of New Atheism: A Reply to Massimo Pigliucci.” Science, Religion & Culture. Vol. 1, No. 1 (2014), hlm. 4-9.
CATATAN
Tulisan ini pernah dipublikasikan dengan keterangan sebagai berikut:
Prasetyo, Yohanes Wahyu. “Menilai Arogansi dan Dogmatisme Epistemik Ateisme Baru”. Gita Sang Surya. Vol. 17, No. 6 (November-Desember 2022), hlm. 44-52. ISSN 1978-3868
Format PDF dari tulisan ini dapat diakses melalui http://repo.driyarkara.ac.id/2026/
