Yohanes Wahyu Prasetyo
(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarjana STF Driyarkara Jakarta)

Ordo Saudara-Saudara Dina merayakan para saudara yang pertama kali menumpahkan darah sebagai saksi iman Kristen. Terkait hal ini, dalam Kapitel Tikar 1219, Fransiskus Assisi memberikan izin kepada Otto, Berardo, Vitale, Pietro, Accursio, dan Adiuto untuk pergi sebagai misionaris serta mewartakan Injil di Maroko. Sedangkan ia bersama tentara salib ke Palestina untuk mengunjungi tempat-tempat suci dan membawa Injil ke sana.
Keenam misionaris berangkat berjalan kaki menuju Spanyol. Ketika tiba di kerajaan Aragon, Vitale (pemimpin perjalanan) sakit dan harus mundur – tidak bisa melanjutkan perjalanan. Sedangkan kelima saudara lainnya melanjutkan perjalanan di bawah bimbingan Berardo. Setibanya di Spayol, mereka melintasi negara itu sampai di Sevilla – ibu kota kerajaan Arab. Mereka menuju masjid utama dan mulai mewartakan Injil. Hal ini membuat mereka dianggap gila, dipukuli, dan dibawa ke hadapan raja. Atas saran putranya, raja menyerahkan mereka ke pengadilan – mereka menyatakan keinginan pergi ke Maroko dan raja menyetujuinya.
Di Maroko mereka mewartakan Injil dan Sultan Maroko Abu Yacub beberapa kali menangkap mereka. Namun, mereka berhasil keluar berkat bantuan Don Pedro Fernando – saudara raja Portugal Alfonso II. Meskipun dilarang oleh raja, mereka terus mewartakan Injil secara terbuka. Sehingga raja memutuskan menyerahkan mereka kepada rakyat untuk dipukuli dan dipermalukan. Mereka menanggung siksaan ini dengan ketabahan yang luar biasa. Sultan Abu Yacub membujuk mereka untuk memeluk agama Islam dan menjanjikan kepada mereka kekayaan serta kehormatan. Tetapi mereka menolak bujukan tersebut dan tetap teguh tanpa gentar mewartakan Injil. Akhirnya Sultan tidak dapat menahan diri dan dengan marah memenggal kepala mereka dengan pedang di istananya di Marrakesh pada 16 Januari 1220.
Rakyat mengambil jenazah dan kepala mereka serta melemparkannya ke luar istana kerajaan. Selain itu, disertai dengan teriakan dan hinaan – tubuh mereka diseret di jalan-jalan kota serta membiarkannya tergeletak di atas tumpukan kotoran supaya dimakan anjing dan burung. Pada waktu itu tiba-tiba datang badai dan rakyat melarikan diri. Hal ini memungkinkan orang-orang Kristen mengambil jenazah mereka dan membawanya ke tempat kediaman Pangeran Pedro dari Portugal. Kepala dan jenazah mereka ditempatkan dalam dua peti perak.
Pangeran membawa relik berharga itu ke Biara Salib Suci Coimbra, di mana mereka diterima dengan penghormatan khidmat oleh raja dan ratu serta rakyat dan di tempat ini relik tersebut dihormati hingga hari ini. Kemartiran mereka mendorong imam muda Fernando dari Lisbon dari Ordo Kanon Reguler Santo Agustinus (Order of Canons Regular of St. Augustine / Ordine dei Canonici Regolari di Sant’Agostino) bergabung dengan Ordo Saudara-Saudara Dina – ia dikenal dan dihormati saat ini sebagai Santo Antonius dari Padua. Sixtus IV mengkanonisasi mereka dengan bulla kepausan Cum alias animo pada 7 Agustus 1481.
Sumber Bacaan:
https://ofm.org/en/protomartyrs-of-the-franciscan-order.html

