April 16, 2026

Pengaruh Ignatius Loyola Terhadap Karl Rahner

Yohanes Wahyu Prasetyo

(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)

Sejarah menunjukkan bahwa Aquinas, Heidegger, Marechal, dan Rousselot mempengaruhi pemikiran Rahner. Tetapi teologi Rahner lebih dipengaruhi oleh Ignatius dan Latihan Rohaninya. Latihan Rohani menembus (penetrating) refleksi dan meditasi pada berbagai aspek kehidupan Kristus. Rahner menyatakan, spiritualitas Ignatian lebih penting daripada filsafat dan teologi yang pernah ia pelajari. Ia mengakui bahwa keputusan untuk masuk Jesuit belum murni sampai ia mengalami secara mendalam spiritualitas Ignatian. Selama enam puluh dua tahun sebagai Jesuit, Rahner berpartisipasi dalam retret dua puluh enam hari dan delapan hari yang diadakan setiap tahun serta didasarkan pada Latihan Rohani. Latihan Rohani mengundang masuk ke dalam ranah spiritualitas, mistisisme, dan perhatian pastoral. Kedekatan terakhir, radikal, dan telanjang di hadapan Allah yang ditetapkan Ignatius sebagai tujuan terjadi dalam pengalaman kontemplatif tersebut.

Rahner senantiasa bergerak ke arah metodologi yang dikembangkan secara antroposentris dan teosentris. Hal ini memperlihatkan bahwa antropologi Kristen sangat penting untuk proyek teologinya. Selain itu, Ignatius yang memberi penekanan pada subjek, interioritas, subjek yang berjuang untuk refleksi diri, tanggung jawab diri, dan keselamatan mempengaruhi Rahner.

Rahner tidak memandang doa Ignatius atau Latihan Rohani sebagai kata-kata hampa yang saleh (pious platitudes) dari orang suci. Pemikiran teologis Rahner muncul dari praktik Latihan Rohani dan dibentuk dalam terang refleksi pada kerja afektif Roh (the affective operation of the Spirit). Rahner memandang Ignatius sebagai seorang eksistensialis dan terkesan ketika Ignatius menyebut kebebasan (freedom) sebelum ingatan, pemahaman, dan kehendak. Sehingga refleksi atas implikasi teologis dari Latihan Rohani dapat menjelaskan pergeseran penekanan Rahner dari pengetahuan (knowledge) menjadi kebebasan. Rahner memahami pribadi manusia sebagai makhluk yang sadar diri dan bebas, dirahmati kemampuan untuk bersama-sama menciptakan dengan Allah sebagaimana adanya untuk selama-lamanya. Pribadi manusia diberikan kebebasan untuk menerima atau menolak rahmat Allah (God’s grace). Rahmat dalam konteks ini dipahami sebagai komunikasi diri Allah.

Teologi Rahner dimulai dengan pengalaman akan Allah. Titik berangkat teologi Rahner adalah konsekuensi dari spiritualitas Ignatian dan Latihan Rohani. Menurut Rahner, Latihan Rohani berkaitan dengan sesuatu yang lain dan yang lebih mendasar. Membiarkan Pencipta dan ciptaan berelasi secara langsung satu sama lain. Berdasarkan perspektif Ignatius, pengalaman akan Allah tidak identik dengan pengetahuan konseptual tentang Allah yang diungkapkan dengan kata-kata. Dalam Latihan Rohani, Ignatius ingin membawa seseorang sampai pada keyakinan bahwa pengalaman akan Allah dan perjumpaan dengan Yesus bukan sekadar minat historis.

Spiritualitas Ignatian dan Latihan Rohani adalah intisari teologi Rahner yang berakar dalam pengalaman akan Allah Trinitas. Karena konsekuensi dari spiritualitas Ignatian adalah kesadaran akan kemanusiaan serta perjumpaan yang hidup dengan rahmat Allah. Sebagaimana diakui Rahner, pengaruh filsafat dan teologi menjadi pucat atau memudar (pale) dibandingkan dengan pengaruh Ignatius terhadap dirinya. Oleh karena itu, pendiri Jesuit memiliki pengaruh utama pada Rahner dan secara holistik mempengaruhi pemikirannya. Hal ini terjadi karena Ignatius memiliki mistisisme yang meliputi (engulfed) dan muncul (emersed) di dalam pengalaman akan Allah Trinitas. Rahner memahami wahyu Trinitas dan berpendapat bahwa sejak menjadi manusia seseorang mengalami Allah yang lebih besar yang mengungkapkan diri-Nya secara historis dan tanpa syarat sambil mencintai setiap individu dengan cara yang paling mendalam. Pribadi (persons) Bapa, Putra, dan Roh Kudus bukanlah fenomena yang sulit dipahami, melainkan Misteri Kudus yang terus-menerus mengomunikasikan diri-Nya.

Teologi Rahner dan Latihan Rohani memiliki fungsi mistagogis. Seseorang mengalami Allah sebagai komunikasi diri Trinitas dari Misteri Kudus, wahyu pribadi ilahi, dan kasih yang lebih intim daripada cinta diri sendiri (self-love). Pengaruh Ignatius menjelaskan mengapa teologi Rahner membangkitkan pengalaman komunikasi diri Allah melalui Kristus dalam Roh Kudus. Lebih jauh lagi, Allah adalah Yang Lain (Other) yang lebih besar yang kepada-Nya keberadaan seseorang harus dibuka sepenuhnya. Keterbukaan total pribadi manusia disebut Rahner sebagai roh di dunia (spirit in the world) memungkinkan situasi transenden, di mana seseorang mengalami Allah dalam peristiwa sehari-hari. Dalam perjumpaan sehari-hari dan karena pribadi manusia mengalami pengetahuan dan kasih yang diagungkan, seseorang secara mistik menjadi pertanyaan bagi dirinya sendiri. Allah selalu hadir bagi pribadi manusia dan sebaliknya pribadi manusia memiliki kebutuhan bawaan (innate need) akan Allah. Jawaban atas pertanyaan tentang diri sendiri terungkap dan hanya ditemukan dalam misteri kudus yang selalu hadir bagi manusia yang disebut Allah.

Rahner menghidupkan pengalamannya akan Allah, diyakinkan oleh formasi Jesuit dan spiritualitas Ignatian. Allah merupakan Misteri Suci (The Holy Mystery) yang tawaran ilahi-Nya adalah komunikasi diri yang bebas dan abadi kepada pribadi manusia. Orang yang terikat oleh aktivitas eksistensial, dalam kebebasannya dapat mengatasi pertanyaan tentang diri. Namun, seseorang dituntut menggunakan logika di mana Allah ditemui tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam keheningan yang merupakan cara berbicara Allah (mode of God’s speech).

Rahner adalah seorang teolog yang diilhami metode interpretasi mistik spiritualitas Ignatian. Konsekuensi dari peristiwa mendalam seseorang dengan Misteri Suci yang tidak terlukiskan adalah pemahaman yang mendalam tentang keberadaan seseorang. Oleh karena itu, aksioma Ignatian tentang menemukan Allah dalam segala hal (finding God in all things) memungkinkan seseorang terlibat dalam pengungkapan transendental tidak hanya pengalaman akan Allah tetapi juga diri sendiri. Sehingga seseorang dimungkinkan menyelami kedalaman otobiobrafi mistiknya.

Iganitus menggunakan istilah indiferencia dalam kaitannya dengan kesalehan (piety) dan penyerahan (surrender) umat Kristen, menyetujui kehendak untuk memliki Allah (to possess God). Namun, karena Ignatius adalah seorang mistikus, ia memandang indiferencia sebagai gerakan menuju penyerahan yang tenang (the calm surrender) dalam mencari Allah dalam segala hal (seeking God in all things). Bagi Ignatius dan Rahner, Allah ada di dunia karena Allah melampaui dunia.

Mistisisme dan spiritualitas Ignatian melengkapi bangunan teologi Trinitas Rahner. Ajaran Ignatius dijalin sedemikian rupa di dalam teologi Rahner. Seseorang dapat membayangkannya sebagai pencangkokan (the grafting) spiritualitas mistikus abad XV ke dalam teologi sistematis dan spekulatif abad XX. Cara pandang mistik Trinitas Ignatius tentang Allah sebagai Pencipta dan penyelamat disatukan dengan pribadi manusia dalam penebusan dunia (the world’s redemption).

Disertasi Rahner menggambarkan ketertarikannya pada mistik. Rahner mengakui bahwa Ignatius seorang mistikus dan tidak ada keraguan tentang itu. Tampaknya tidak realistis untuk memisahkan Rahner dari pengalaman mistik Ignatian. Orang dapat menyimpulkan bahwa baik Rahner atau pun Ignatius terdorong untuk mengakui bahwa semua pengalaman manusia cenderung ke arah mistik. Namun, pernyataan ini menempatkan pertanyaan tersebut dalam kaitannya dengan pengaruh Ignatius pada gagasan mistik-spiritual Rahner tentang Trinitas.

Spiritualitas dan mistisisme Ignatius dimanifestasikan dalam formulasi teologi Trinitas Rahner. Misteri Kudus secara mistik menawarkan diri-Nya melalui interaksi mistik misteri Allah Trinitas dengan misteri pribadi manusia. Misteri Kudus ditemukan dalam segala hal melalui komunikasi diri-Nya kepada pribadi manusia yang bebas dalam kontemplasi dan praksis di dunia.

SUMBER BACAAN

Kobus, Milton Michael. The Doctrine of the Trinity according to Karl Rahner. Oklahoma: Graduate Theological Foundation, 2007.

CATATAN

Tulisan ini pernah dipublikasikan dengan keterangan sebagai berikut:

Prasetyo, Yohanes Wahyu. “Pengaruh Ignatius Loyola terhadap Karl Rahner”. Gita Sang Surya. Vol. 19, No. 2 (April-Juni 2024), hlm. 35-37. ISSN 1978-3868

Diskursus Teologi