Yohanes Wahyu Prasetyo
(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)
Pierre Rousselot (Jesuit Prancis) dan Joseph Marechal (Jesuit Belgia) mempengaruhi interpretasi Rahner terhadap Thomas Aquinas (1225-1274). Sehingga Rahner lebih siap mempelajari Heidegger karena membaca kedua filsuf Jesuit ini. Marechal memberi Rahner gagasan filosofis yang unik. Karena Marechal menulis tentang korelasi neo-Skolastisisme Katolik Roma tradisional dengan filsafat modern sambil berusaha menghormati kedua posisi tersebut. Rahner adalah seorang Thomist yang terpelajar, sangat tertarik dengan agenda Marechal. Marechal memberikan wawasan filosofis kepada Rahner. Rahner berkomentar bahwa apa yang dibutuhkan adalah diskursus antara filsafat Skolastik tradisional dan filsafat modern. Hal ini perlu apabila di satu sisi kita ingin menjadi bagian dari zaman kita (our time) dan berbicara dalam bahasa yang digunakan orang-orang saat ini serta apabila kita ingin memahami diri sendiri dan orang lain. Di sisi lain Rahner tidak ingin kehilangan kekayaan tradisi yang sebenarnya.
Marechal memberikan petunjuk dalam pencarian Rahner untuk lebih memahami Heidegger. Selain itu, ia memperluas cakrawala Thomistik Rahner di luar alam pikiran tradisional filsafat Skolastik. Marechal adalah pendukung gagasan filosofis Thomisme transendental yang gigih. Ia juga memusatkan perhatian pada pemikiran mengenai beralih ke subjek (turn to the subject) yang mengartikulasikan signifikansi nyata pengalaman pribadi manusia. Perhatian khusus dari Marechal dan Rahner adalah pengalaman mistik manusia tentang Allah. Metode filosofis transendental yang baru lahir sedang dalam proses yang memungkinkan untuk mempertimbangkan unsur-unsur yang diperlukan pribadi manusia dalam menghendaki suatu objek dan memiliki pengetahuan tentang objek tersebut.
Beralih ke subjek (turn to the subject) dalam Thomisme transendental sangat penting bagi Rahner. Istilah tersebut digunakan dalam filsafat transendental untuk mengakui perlunya konsentrasi pada subjek sebagai yang mengetahui. Rahner prihatin dengan objektivitas pengetahuan dan mediasi melalui indera pada elemen aposteriori realisme Thomas. Ia juga ingin berlaku adil terhadap unsur-unsur subjektif dan apriori yang akarnya ia temukan dalam pemikiran Thomas, tetapi dikembangkan lebih lanjut dalam filsafat transendental.
Rahner menyempurnakan pemikiran Thomas melalui lensa baru dan memandangnya lebih menarik bagi teologinya daripada interpretasi kuno yang dikemukakan dalam tradisi Skolastik. Pengaruh Marechal memberikan bentuk pengetahuan manusia yang dinamis. Seorang yang mengetahui tekadnya meluas dan membentang di luar objek yang diketahui menuju cakrawala yang tidak terbatas (an unlimited horizon). Rahner menetapkan pada aspek melampaui (beyond) atau transendental dan menyamakannya dengan gagasan Thomas tentang kelebihan pengetahuan (excessus of knowledge). Sementara seseorang ada di dunia sebagai roh di dunia (spirit in the world). Sehingga seseorang tidak terikat oleh peristiwa sejarah atau pun dunia. Memang, pribadi manusia itu futuristik (futuristic), selalu berjuang untuk Yang Lebih (the More). Dalam pengalaman tunggal, seseorang secara bersamaan hadir dan berelasi dengan dunia realitas objektif, dengan dirinya sendiri sebagai yang mengetahui dan dengan cakrawala yang tidak terbatas.
Artikulasi teologis Rahner dalam skema transendental berbicara tentang kapasitas manusia untuk mengenal Allah Trinitas. Hal ini memungkinkan realitas seseorang yang mengetahui untuk menemukan wahyu ilahi (divine revelation). Dalam pengertian ini, seseorang memiliki komponen transendental yang tidak semata-mata tertanam dalam dunia empiris. Karena pribadi manusia adalah roh di dunia dan dalam sejarah (spirit in the world and in history), di mana seseorang dapat mengalami Allah Trinitas dalam segala hal.
Rahner dan Marechal awalnya mengidentifikasi pengalaman manusia sebagai kenyataan objektif, kemudian hadir untuk diri sendiri sebagai yang mengetahui, dan ke dalam cakrawala yang tidak terbatas dan akhirnya seseorang memasuki momen transendental dengan pengalaman asli (the original experience). Rahner berpendapat bahwa pribadi manusia secara mutlak berorientasi kepada Allah, berusaha untuk mengenal Allah. Dalam pengertian ini, Allah seperti yang diajarkan Thomas adalah objek formal studi teologi. Oleh karena itu, teologi harus bersifat antrosentris (anthrocentric). Sesuatu yang diketahui dari seseorang juga diketahui oleh Allah, demikian sebaliknya. Sehingga metode filosofis transendental mengarah pada antropologi transendental yang memahami bahwa hanya Allah Yang Transenden (the Transcendent). Sedangkan pribadi manusia melampaui dirinya sendiri dan bergerak menuju pengetahuan tentang Allah sebagai teleos.
Kondisi apriori bagi manusia untuk sampai pada pengetahuan tentang Allah menurut Rahner adalah rahmat. Rahmat adalah kehadiran Allah dalam subjek yang mengetahui. Dengan kata lain, pribadi manusia mampu melampaui dirinya sendiri dalam pengetahuan tentang Allah, karena Allah sudah hadir dalam pribadi sebagai kekuatan transenden yang memungkinkan pengetahuan tersebut. Pemahaman konsekuensial (consequential) yang dihasilkan dari metode Thomistik transendental memandang kembalinya pribadi manusia sebagai subjek, bergerak menuju Allah dalam kerangka sejarah. Allah berada di pusat keberadaan seseorang dan manusia melampaui diri sendiri dalam upaya mengenal Allah. Thomisme transendental menganggap Allah sebagai pusat definisi keberadaan manusia.
Pembacaan Rahner terhadap Marechal dan studi cermat mengenai pemikiran Thomas mempengaruhi metodenya dalam studi filsafat transendental dan teologi transendental. Secara metodologis, Rahner memulai dengan mengakui unsur transendental wahyu Allah (God’s revelation). Allah bukan hanya objek teologi, tetapi juga perjumpaan paling mendalam yang diketahui manusia. Rahner memeriksa kembali pendekatan Skolastik tradisional, pengetahuan asli tentang Allah bukanlah jenis pengetahuan di mana seseorang menangkap objek yang kebetulan muncul dengan sendirinya secara langsung atau tidak langsung dari luar. Hal ini lebih bersifat pengalaman transendental. Sejauh terang (iluminosity) subjektif dan non-objektif dari subjek dalam transendensinya selalu berorientasi pada misteri suci (the holy mystery), pengetahuan tentang Allah selalu hadir secara tidak tematis dan tanpa nama, dan tidak hanya ketika manusia membicarakannya.
Konsepsi Rahner tentang Thomisme transendental mengakui bahwa rahmat Allah yang gratis kepada pribadi manusia yang mengetahui adalah wahyu dalam objek formal yang baru, cakrawala baru. Setiap pribadi disajikan pilihan mendasar untuk melampaui yang empiris (empirical) dan mistagogis (mystagogically) dan bebas mengenal dan mencintai Allah baik dalam sejarah pribadi seseorang atau pun sejarah seluruh umat manusia. Komunikasi diri Allah tentang rahmat dan wahyu hadir secara tidak tematis dalam pengetahuan dan kebebasan manusia dan diterima atau ditolak dalam pilihan manusia.
Istilah transendental mengacu pada karakter metahistoris (metahistorical), apriori pribadi manusia yang menanyakan keberadaan dan mengalami dirinya sebagai makhluk dengan cakrawala tidak terbatas, terbuka bagi misteri Allah. Oleh karena itu, dalam pendekatan Thomistik transendental, menjadi manusia menyiratkan relasi dengan Yang Lain yang Mutlak (the Absolute Other), meskipun tidak dapat dipahami, secara gratis memberikan tawaran ilahi (divine offer). Richard McBrien mendefinisikan Thomisme transendental sebagai pendekatan abad XX terhadap teologi yang berakar pada prinsip bahwa Allah sudah hadir dalam kehidupan, membuat semua kehidupan terbuka untuk menjadi sesuatu yang lebih dari yang sudah ada.
Marechal adalah pendukung utama Thomisme transendental. Bagi Rahner, seperti Thomas, Allah adalah objek formal teologi. Terkait hal ini, pribadi manusia berorientasi pada Allah. Ketika seseorang mempertimbangkan antropologi, seseorang perlu juga mempertimbangkan teologi. Oleh karena itu, antropologi transendental menggambarkan Allah sebagai Yang Transenden (The Transcendent). Melihat kemanusiaan melampaui yang jasmani dan menjadi transenden sejauh seseorang berorientasi pada Misteri Suci Yang Lain (the Holy Mystery of the Other).
Teologi baru (new theology) tersebut yang melibatkan Marechal dan Rousselot secara mendalam mendorong interpretasi Rahner terhadap Thomas menjadi lebih kontemporer baik secara filosofis atau pun pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pemikiran neo-Skolastik, wahyu dipahami sebagai sesuatu yang murni ekstrinsik dari pengalaman manusia. Rahner ingin menunjukkan melalui metode transendentalnya bahwa wahyu yang pertama adalah komunikasi diri Allah, dialami secara tidak tematis sebagai kesadaran akan keberadaan tanpa batas yang dengannya manusia mengalami semua pengetahuan kategoris manusia yang terbatas.
Allah adalah Yang Transenden, eksistensial adikodrati yang memungkinkan pribadi manusia mengetahui dan secara fundamental memilih menerima diri Allah sebagai Yang Lain yang Mutlak (the Absolute Other). Bagi Rahner, yang kategorial dikontraskan dengan yang transendental. Ia mewakili aspek konkret dan historis dari realitas manusia. Sehingga dalam filsafat transendental, yang mengetahui dianggap sebagai subjek analisis. Terkait beralih ke subjek (turn to the subject), Rahner melihat bahwa Marechal dan Rousselot tidak membatalkan perhatian terhadap objek mengetahui (the object of knowing). Sambil terus bersikeras pada objektivitas pengetahuan dan mediasinya melalui indera pada unsur aposteriori realisme (realism) Thomas, Rahner ingin berlaku adil terhadap unsur subjektif dan apriori yang akarnya ditemukan dalam pemikiran Thomas, tetapi dikembangkan lebih lanjut dalam filsafat transendental. Rahner menemukan epistemologi yang membantu proyek teologisnya lebih sesuai daripada Skolastik tradisional.
Marechal mempengaruhi Rahner dalam kaitannya dengan pemahaman yang lebih kaya tentang pribadi manusia sebagai yang mengetahui. Yang mengetahui tersebut memiliki dorongan eksplosif untuk bergerak dari objek mengetahui menuju cakrawala yang tidak terbatas. Indera dan pengalaman manusia dibatasi dan beroperasi dalam cakrawala yang luas ini. Seseorang melampaui (beyond) alam semesta yang memungkinkan persepsi indera.
Rahner mencoba mengklarifikasi perbedaan atau pun relasi antara filsafat transendental dan teologi. Istilah filsafat transendental (transcendental philosophy) diadopsi untuk menunjuk penyelidikan kondisi pengetahuan filosofis dan ilmiah dan digunakan untuk menggambarkan upaya pemikiran ulang radikal, memberikan filsafat landasan mutlak dan menganalisis relasinya dengan pengetahuan ilmiah. Istilah transendental berbeda dengan penggunaan tradisi Skolastik Abad Pertengahan. Usaha utama dari filsafat transendental harus kembali ke unsur yang mengesahkan dan membenarkan semua pengetahuan. Oleh karena itu, objek filsafat transendental bukanlah makhluk (being) atau pikiran (thought), bukan subjek atau objek, tetapi kesatuan kesadaran yang sebenarnya dan yang diberikan dalam setiap tindakan mengetahui.
Prinsip teologi transendental adalah benar-benar teologis. Karena teologi berurusan dengan keselamatan manusia (terdiri dari komunikasi diri Allah) dan tanpa sesuatu yang lain, pokok bahasannya adalah totalitas manusia yang sempurna, di mana manusia adalah subjek (subject). Sehingga keselamatan hanya dapat dipahami sebagai subjek seperti itu. Memahami realitas dengan cara ini berarti memahaminya secara transendental, terkait dengan subjek transendental sebagaimana dibentuk oleh rahmat. Ketika rahmat diajukan sebagai syarat yang diperlukan untuk mendengar sabda Allah, suatu kondisi kemungkinan dalam subjek diperiksa secara ketat termasuk teologi. Jika filsafat transendental mengklaim secara mutlak sebagai landasan dan bukan turunan (non-derivate) dari keberadaan manusia, agama wahyu yang positif dalam sejarah keselamatan merangkul keberadaan manusia dan keselamatan sebagai totalitas dikemukakan di awal.
Gagasan mengenai beralih ke subjek (turn to the subject) bukanlah penolakan terhadap semua objek umum atau khusus. Kebebasan dan pengetahuan pribadi manusia bersifat transenden, karena terjadi dalam sejarah dan dalam tindakan berkehendak (willing) dan mengetahui (knowing). Karena pribadi adalah roh di dunia (the person is spirit in the world), seseorang tidak menghindari dunia, tetapi melalui rahmat dapat mengetahuinya dan memilih untuk melampaui dirinya sendiri menuju cakrawala baru yang tidak terbatas.
Unsur transendental antroposentris dirahmati oleh proses pewahyuan Allah menuju teosentrisitas (heocentricity). Karena subjek secara bawaan berorientasi pada Allah (Yang Transenden), di mana sesuatu yang dikatakan teologi transendental mengenai pribadi manusia juga dikatakan tentang Allah. Rahner mengakui korelasi antara Thomisme transendental dan sejarah manusia. Pribadi yang menjadi subjek secara bebas berada dalam perjumpaan transendental (transcendental encounter) dengan cakrawala baru yang terlindung dalam sejarah manusia. Sejarah bukan hanya permainan hidup seseorang, tetapi wahyu keselamatan yang dikomunikasikan melalui Firman dan Roh Allah. Terletak pilihan mendasar bagi pribadi manusia sebagai subjek yang mengetahui secara bebas untuk mengakui tawaran rahmat ilahi dan menerima relasi eksistensial dengan Allah Trinitas. Seperti disarankan Marechal, beralih ke subjek (the turn to the subject) mengartikulasikan pentingnya pengalaman pribadi manusia. Bagi Rahner, momen transendental adalah pengalaman pribadi manusia akan Allah Trinitas dalam segala hal.
Salah satu kontribusi Rahner yang paling signifikan bagi teologi Kristen adalah adaptasinya terhadap analisis transendental (transcendental analysis) untuk memahami cara Trinitas memanifestasikan diri-Nya dalam sejarah manusia. Ketika Rahner mempelajari pemikiran Kant, ia menyadari bahwa memusatkan perhatian pada subjek manusia yang membuat pengetahuan menjadi lebih penting daripada berkonsentrasi pada objek pengetahuan manusia. Pengaruh Kant mendorong pembacaan Rahner tentang Marechal. Marechal memodifikasi transendentalisme Kant untuk menghindari subjektivisme (subjectivism). Ia kemudian menerapkan metode Kantian pada filosofi Thomisme yang lebih objektif, yang dominan dalam Katolik Roma sejak abad XIII. Perlu diketahui bahwa tokoh rasionalis abad XVIII, David Hume (1711-1776), berpendapat dari posisi di mana konsep metafisik dan agama berada di luar batas persepsi akal budi dan karena itu menggantikan pengetahuan manusia yang dapat diverifikasi. Kant, Marechal, dan Rahner meniadakan anggapan Hume tersebut.
Perlu diketahui bahwa dalam Spirit in the World, Rahner menunjukkan bahwa epistemologi Thomisme dapat dipahami dalam lingkup metode transendental. Rahner menunjukkan bahwa roh manusia (the human spirit), meskipun bergerak di dunia indrawi, pada dasarnya adalah dorongan menuju realitas transenden tertinggi, Trinitas. Lebih lanjut, teologi transendental mengusulkan suatu metode untuk mengintegrasikan ke dalam pemikiran Katolik Roma suatu karakter khas filsafat modern.
Metode tersebut menarik Rahner karena dimulai dengan pribadi manusia sebagai subjek penyelidikan (the subject of inquiry) sekaligus subjek pengetahuan (the subject of knowing). Rahner percaya bahwa metode transendental memunculkan sesuatu yang sudah tersirat dalam isi dan metode teologi Katolik tradisional, khususnya Thomisme. Karena teologi transendental bersifat antropologis dalam refleksinya tentang pribadi manusia sebagai subjek dan sesuatu yang dilakukannya. Menyelidiki kondisi pribadi manusia di dunia yang melakukan tindakan nyata. Menanyakan, memahami, mengevaluasi, menganalisis, memilih, menghendaki, dan mencintai adalah aspek aktivitas manusia. Pribadi manusia melakukan tindakan yang sangat manusiawi ini secara bawaan.
Rahner berpendapat bahwa secara filosofis menurut Kant, Marechal, dan Heidegger, objek alami dari roh pribadi manusia adalah makhluk (being). Namun, secara teologis Rahner berpendapat bahwa setiap pribadi manusia adalah subjek yang diciptakan untuk Allah. Allah adalah cakrawala tertinggi umat manusia. Oleh karena itu, tidak mungkin berbicara tentang pribadi manusia tanpa berbicara tentang Allah. Hal ini selanjutnya dikonkretkan dalam proses komunikasi diri Allah Trinitas melalui wahyu dan rahmat. Allah tidak jauh dari pribadi manusia sebagai subjek.
Berdasarkan ketetapan Trinitas, Allah melalui proses penciptaan yang terus-menerus, komunikasi dan wahyu oleh Logos yang berinkarnasi dan melalui persekutuan Roh dalam ekonomi sejarah keselamatan, secara perikoretik (perichoretically) memungkinkan pribadi manusia sebagai subjek menjadi sepenuhnya manusia (fully human). Perjumpaan atau pengalaman ini dapat dianggap sebagai hadiah suci (the sacred gift), rahmat yang dermawan (the philanthropic grace) dari Misteri Kudus yang tidak dapat dipahami (incomprehensible) yang memungkinkan pribadi manusia melampaui diri dan berjuang menuju Allah Trinitas. Rahner berpendapat bahwa apakah pribadi tersebut menyadari gerakan transendental ini tidak penting. Hal ini ada bahkan tanpa pengakuan manusia (human acknowledgment).
Ilustrasi rahmat tersebut merupakan bagian integral eksistensial dari esensi manusia. Tetapi karena Allah tidak harus menciptakan manusia untuk tujuan (purpose) dan akhir (end) ini, eksistensial tersebut dengan tepat disebut eksistensial adikodrati (supernatural existential). Hal ini merupakan bagian dari kodrat manusia hanya karena sifat Allah yang bebas dan gratis (gratuitous) dari kodrat ini. Ia bisa saja menciptakannya sebaliknya, seperti yang disebut Rahner sebagi kodrat murni (pure nature). Oleh karena itu, orang dapat mengamati pemikiran Heidegger dan Marechal yang mendorong Rahner untuk merespons secara kontemporer terhadap relasi eksistensial dan tawaran rahmat Allah. Eksistensial adikodrati adalah cara yang dimanifestasikan di mana kodrat pribadi manusia sebagai ciptaan dan eksistensi (existent) terjadi hanya karena keputusan kreatif dari Allah (creative resolution from God). Sehingga tampak jelas bahwa Rahner setuju dengan pandangan tradisional tentang kodrat dan rahmat. Lebih lanjut, Rahner membongkar konsep filosofis sekuler dan sakral sebagai hasil pembacaannya terhadap Heidegger dan Marechal.
Perlu diketahui bahwa jika teologi menunjukkan dengan jelas bahwa Trinitas ekonomi dan Trinitas imanen adalah identik, di mana yang terakhir terungkap melalui yang pertama, pentingnya filsafat transendental bagi teologi menjadi jelas, dan filsafat semacam itu, ketika menjalankan fungsi ini, menjadi teologi transendental. Karena jika pengungkapan misteri diri Allah diperkirakan atau yang disangka benar (supposed), terlihat bahwa Allah tidak berasal (unoriginated). Sehingga tidak dapat dipahami secara permanen, bahkan ketika menyampaikan diri-Nya sendiri. Sebuah deduksi transendental (transcendental) menunjukkan bahwa komunikasi diri Allah perlu datang kepada manusia sebagai transendensi dan sejarah, dalam satu kesatuan dan perbedaan dari kedua elemen. Kemudian wahyu tentang komunikasi diri Allah terlihat mengandung sesuatu yang secara implisit disebut Allah Trinitas yang ekonomis dan imanen.
SUMBER BACAAN
Kobus, Milton Michael. The Doctrine of the Trinity according to Karl Rahner. Oklahoma: Graduate Theological Foundation, 2007.
CATATAN
Tulisan ini pernah dipublikasikan dengan keterangan sebagai berikut:
Prasetyo, Yohanes Wahyu. “Pengaruh Joseph Marechal Terhadap Karl Rahner”. Gita Sang Surya. Vol. 19, No. 4 (Oktober-Desember 2024), hlm. 55-60. ISSN 1978-3868
Format PDF dari tulisan ini dapat diakses melalui https://repo.driyarkara.ac.id/1919/
