October 29, 2025

Pewartaan Sabda Allah Pada Periode Abad Pertengahan, Reformasi, dan Modern

Yohanes Wahyu Prasetyo

(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)

 

Yesus Kristus senantiasa hidup, bekerja, dan hadir di tengah komunitas umat Kristen dalam berbagai cara. Oleh karena itu, Gereja dalam seluruh perkembangan historisnya berada di bawah pengaruh dan naungan Kristus. Sehingga dimungkinkan untuk berbicara secara bermakna mengenai Gereja sebagai perpanjangan Kristus dalam sejarah. Terkait hal ini, umat Kristen merupakan sakramen, melalui mereka Kristus hadir dalam sejarah manusia. Perlu diketahui bahwa komunitas umat Kristen adalah tubuh Kristus, mereka ambil bagian dalam kenabian dan imamat Kristus. Mereka ditahbiskan dalam baptisan untuk mewartakan Injil dan menjadi saksi Kristus di tengah dunia.

ABAD PERTENGAHAN

Abad XII-XIII disebut sebagai priode renaisans (period of renaisans), ditandai kreativitas dalam bentuk sosial, hukum, seni, musik, sastra, sains, filsafat, dan teologi. Kreativitas tersebut merupakan ekspresi iman yang diterima secara luas. Terkait hal ini, Abad Pertengahan (Medieval) dalam kaitannya dengan agama Kristen, memiliki konotasi sangat gerejawi (overpoweringly ecclesiastical). Pada waktu itu terjadi kebangkitan agama (religious revival), di mana Injil mengilhami pertobatan dan laki-laki serta perempuan mendedikasikan diri sebagai pewarta Sabda Allah. Sehingga tidak mengherankan apabila pada Abad Pertengahan muncul banyak cendekiawan dan orang-orang suci.

Sejumlah tokoh yang memprakarsai dan membentuk perkembangan abad XII adalah para biarawan (monks) seperti Anselmus Canterbury (1033-1109), Bernardus Clairvaux (1090-1153), Hugho St. Victor (1096-1141), dan Petrus Abelardus (1079-1142). Perlu diketahui bahwa kehidupan membiara salah satunya ditandai dengan penggunaan Kitab Suci sebagai acuan untuk doa dan refleksi. Oleh karena itu, lectio divina dipandang sebagai bentuk tanggapan iman (faith response), menghormati Sabda Allah (the Word of God). Sehingga budaya monastik merupakan budaya yang berakar pada Kitab Suci, di mana Sabda Allah menginspirasi komunitas monastik.

Pada Abad Pertengahan muncul komunitas para biarawan pengemis (the communities of mendicant friars), yaitu Fransiskan dan Dominikan. Para Dominikan mengabdikan diri untuk berkhotbah dan mengajar. Melakukan pembelaan intelektual terhadap iman, mengembangkan teologi, dan melawan ajaran sesat yang mengancam kemurnian iman Kristen. Sedangkan para Fransiskan juga menghasilkan banyak teolog dan pengkhotbah. Selain itu, para Fransiskan berkomitmen untuk hidup sederhana, menghayati kemiskinan, dan menjunjung tinggi nilai serta makna kasih Kristiani. Para Fransiskan menjangkau umat dengan teladan yang baik, pelayanan yang peduli, dan katekese.

Pada waktu itu para klerus yang bertugas di pedesaan tidak memperoleh bekal yang memadai terkait pewartaan Sabda dan umat kekurangan pengajaran agama. Berhadapan dengan situasi dan kondisi tersebut, para pengkhotbah dari ordo pengemis (the mendicant orders) melakukan misi rumah (home missions), berkhotbah dari satu tempat ke tempat yang lain. Hal ini dimaksudkan untuk memelihara dan memperbaiki iman umat. Metode pewartaan tersebut dilakukan secara konsisten oleh Vincentius Ferrer (1350-1419), Bernardinus Siena (1380-1444), dan Antonius Padua (1195-1231).

Para Teolog

Para teolog Abad Pertengahan seperti Bernardus Clairvaux dan Bonaventura (1221-1274) menekankan peran Kristus sebagai Sabda, di mana keyakinan tersebut kemudian menjadi kekhasan refleksi soteriologi mereka. Posisi teologis Bernardus dan Bonaventura mengarah pada pentingnya pewartaan Sabda dan upaya kerasulan (apostolic efforts). Terkait hal ini, teologi merupakan usaha memahami apa yang diimani seseorang. Pada abad XII, teologi menjadi lebih matang sebagai cara berpikir dan para teolog adalah kekuatan utama dalam kehidupan Gereja.

Para teolog memperoleh prestise dan memiliki pengaruh yang luas. Sehingga banyak pemimpin Gereja yang diambil dari para pengajar fakultas teologi. Selain itu, tulisan-tulisan teologis terkenal dijadikan dasar otoritas (authority) teologi dan dogma. Pada Abad Pertengahan keberadaan teologi berkontribusi menumbuhkan dan mengembangkan Gereja serta iman umat. Terkait hal ini, para teolog mendasarkan refleksi teologi mereka pada Kitab Suci, pemikiran para Bapa Gereja, dan kekuatan akal budi.

Khotbah

Khotbah pada Abad Pertengahan mempunyai berbagai macam bentuk. Pertama, khotbah tradisional (traditional preaching) sehubungan dengan perayaan Ekaristi. Kedua, khotbah dalam rangka misi paroki (parish missions). Ketiga, pengajaran melalui media seni. Keempat, lectio sacrae paginae, komentar mengenai Kitab Suci. Sehingga pewartaan Sabda secara universal dipandang sebagai sesuatu yang mendasar. Bahkan Konsili Lateran IV menekankan kewajiban uskup menyediakan makanan pokok (the essential food) berupa Sabda kepada umat. Jika uskup berhalangan, maka harus menunjuk orang yang kompeten untuk menggantikannya.

Pada periode patristik (the patristic period), khotbah merupakan hak prerogatif uskup. Tetapi karena berhalangan atau alasan lainnya, tugas tersebut didelegasikan kepada orang lain yang kompeten. Selanjutnya, pada akhir periode patristik dan awal Abad Pertengahan, khotbah menjadi hak prerogatif semua orang yang dipercayakan untuk pelayanan pastoral (pastoral care), baik uskup atau pun imam. Pada periode Abad Pertengahan akhir, diakon dimungkinkan untuk khotbah.

Pengetahuan (knowledge) adalah dasar untuk khotbah yang efektif. Oleh karena itu, perlu pembentukan intelektual yang cermat untuk para imam. Konsili Lateran IV dalam kanon sebelas menegaskan bahwa setiap keuskupan harus mempunyai seorang teolog yang dapat menjelaskan kepada para imam dan yang lainnya terkait Kitab Suci yang diperlukan untuk cura animarum. Hal ini dimaksudkan untuk melatih kemampuan interpretasi yang cermat atas Kitab Suci.

Khotbah dan moralitas dalam tradisi Kristen mempunyai keterkaitan. Karena tujuan berkhotbah adalah menanamkan moral yang baik (good morals) kepada umat beriman, di mana moralitas pengkhotbah tidak hanya diinginkan, tetapi juga dibutuhkan. Sehingga teladan pengkhotbah harus berbicara sekeras kata-katanya. Selain itu, kehidupan moral yang baik dan kebajikan (virtue) merupakan prasyarat apabila pengkhotbah ingin memiliki wawasan iman yang mendasari khotbahnya.

Khotbah pada Abad Pertengahan dimaksudkan untuk membawa umat beriman kepada pengabdian sejati (genuine devotion) di hadapan Kristus. Oleh karena itu, afeksi yang mendalam menjadi ciri sikap orang Kristen Abad Pertengahan. Keterikatan kepada Kristus menjadi sikap moral yang benar. Perlu diketahui bahwa pada Abad Pertengahan muncul pengkhotbah awam (lay preachers). Namun, dalam perjalanan waktu terjadi kecurigaan (suspicion) di tengah umat. Mereka mempunyai cara pandang bahwa khotbah merupakan hak prerogatif ecclesia docens. Sedangkan umat adalah ecclesia discens dan otoritas khotbah hanya dimiliki uskup serta penggantinya (their substitutes).

Ketidakpercayaan terhadap pengkhotbah awam juga terkait dengan ketakutan akan bidah seperti Albigensianisme. Bahkan dalam rangka melindungi iman, didirikan inkuisisi. Sehingga tidak mengherankan apabila pewartaan mengenai iman yang disampaikan oleh pengkhotbah awam dicurigai.

PERIODE REFORMASI

Reformasi Protestan (Protestant Reformation) mendorong pewartaan Sabda dan khotbah. Meluasnya pengaruh ordo pengemis (mendicant orders), berdirinya universitas-universitas, dan meningkatnya jumlah imam pada abad XIII, berdampak di mana khotbah mengalami peningkatan signifikan baik secara kualitatif atau pun kuantitatif. Peningkatan tersebut berlanjut sampai pada abad XIV di mana khotbah keliling dipelopori oleh Vincentius Ferrer dan Bernardinus Siena. Menjelang akhir abad XIV dan XV, pengaruh devotio moderna meluas serta menghidupkan kembali pengajaran Kristen (Christian instruction) termasuk berkhotbah. Jean Charlier de Gerson (1363-1429), salah satu pengkhotbah Abad Pertengahan, memberikan pengaruh pada perkembangan khotbah abad XV. Kemudian pada abad XV-XVI, warga kaya (wealthy citizens) menyampaikan khotbah di katedral dan sejumlah Gereja.

Seseorang harus hati-hati dalam menilai kualitas khotbah secara keseluruhan pada abad XIV-XV. Pada periode tersebut teks khotbah yang dipersiapkan dan dikhotbahkan memperlihatkan penghargaan akan peran Kitab Suci sebagai dasar khotbah, keakuratan iman (accuracy of faith), dan cara hidup umat Kristiani. Dalam Konsili Reims pada 1408 ditegaskan bahwa berkhotbah adalah tugas pastoral utama (the primary pastoral duty) dan para uskup tidak dibenarkan mendelegasikan tugas tersebut kepada anggota ordo pengemis.

Para Reformator Protestan abad XVI memusatkan perhatian pada kerasulan penginjilan Gereja (the evangelical apostolate of the Church). Oleh karena itu, keutamaan pewartaan Sabda dalam teologi pastoral (pastoral theology) Martin Luther (1483-1546), Martin Bucer (1491-1551), Philip Melanchthon (1497-1560), Yohanes Calvin (1509-1564), dan Ulrich Zwingli (1484-1531) harus diperkuat. Calvin setuju dengan orientasi alkitabiah (the biblical orientation) Luther, tetapi ia juga menekankan tradisi eksposisi skolastik. Sebagaimana diyakini Calvin, peran teolog bukan sekadar mengarahkan upaya penginjilan dalam akurasi dan kedalaman, melainkan juga memungkinkan pemahaman yang dapat memandu tata kelola civitas christiana. Sedangkan Luther menekankan tanggung jawab dan hak semua orang yang dibaptis untuk melaksanakan pewartaan Sabda sebagai bentuk ambil bagian dalam imamat Kristus (the priesthood of Christ).

Bucer yang telah banyak terlibat dalam reformasi liturgi (liturgical reform) di Strasbourg menghubungkan liturgi dengan khotbah dan menekankan penginjilan dalam tindakan liturgi (liturgical actions). Sedangkan Zwingli menentang praktik-praktik sakramental (sacramental practices) dan menempatkan penekanan secara eksklusif pada layanan khotbah (preaching service). Terkait hal ini, Reformasi Protestan bertujuan untuk mengguncang Gereja dari kelesuan akhir Abad Pertengahan.

Kebangkitan khotbah dengan penekanan pada frekuensi dan akurasi mewarnai Gereja Katolik pada abad XVI-XVII. Pengkhotbah terkemuka seperti Petrus Kanisius (1521-1597), Filipus Neri (1515-1595), dan Fransiskus dari Sales (1567-1622) berpengaruh dalam dinamika kehidupan Katolik pasca-Tridentin. Selain itu, sejumlah uskup dan imam menjadi pengkhotbah keliling untuk memurnikan iman (purify the faith) dan perilaku umat (behaviour of the people) serta mengikis serangan bidah.

Wawasan mengenai pendekatan khotbah Katolik pasca-Reformasi dapat diperoleh melalui dekrit Konsili Trente mengenai khotbah. Dekrit tersebut menggabungkan pengajaran Kitab Suci dengan khotbah. Terkait hal ini, tanggung jawab pastoral untuk pewartaan Sabda diberikan kepada uskup. Uskup harus mewartakan dan memastikan bahwa yang lain juga mewartakan Injil suci Yesus Kristus (the holy gospel of Jesus Christ). Memberi makan umat dengan kata-kata yang bermanfaat, mengajari mereka mengenai sesuatu yang harus diketahui terkait keselamatan (salvation), memberitahukan kejahatan yang harus dihindari, dan kebajikan yang harus dilakukan supaya terhindar dari hukuman kekal (eternal punishment) serta memperoleh kemuliaan surgawi (heavenly glory).

Khotbah disampaikan kepada umat beriman minimal pada hari Minggu dan hari raya besar. Ketika melihat perkembangan gagasan mengenai pewartaan pada abad XVI, tampaknya tidak ada kesepakatan antara Katolik dan Protestan tentang kepentingan mendasar dari pewartaan Injil (the preaching of the gospel). Terkait hal ini, kesepakatan hanya terjadi dalam hal di mana imam yang ditahbiskan harus mewartakan dan menjelaskan Sabda Allah kepada umat. Umat Katolik mengidentifikasi peran imam yang ditahbiskan terkait wewenangnya memimpin Ekaristi dan menjalankan kuasa kunci (power of the keys) absolusi sakramental.

Luther, Melanchthon, dan Bucer mempertahankan peran penting sakramen baptis serta Perjamuan Tuhan (Lord’s Supper). Gereja ada di mana Sabda Allah dikhotbahkan dan sakramen-sakramen dirayakan. Mereka menekankan imamat semua umat beriman dan pewartaan dimungkinkan melalui baptisan. Melihat imam yang ditahbiskan sebagai pribadi sakral (sacral figure), di mana tindakan sakramentalnya mengungkapkan fungsi dasar pewartaan Sabda Allah.

Perlu diketahui bahwa identitas dan fungsi imam yang ditahbiskan dalam kaitannya dengan Sabda (Word) serta sakramen (sacrament) menonjol dalam gagasan Calvin dan Zwingli. Calvin mempertahankan peran sakramen yang berbeda dari fungsi homiletiknya. Selain itu, Calvin melihat imam yang ditahbiskan sebagai guru cara hidup Injil, pengkhotbah pertobatan, dan tindakan liturgis mendukungnya. Sedangkan Zwingli mempunyai keyakinan bahwa efektivitas Perjamuan Tuhan datang dari fungsi didaktik yang dilakukan dengan mengingatkan umat beriman akan tindakan penyelamatan Kristus (the saving action of Christ).

Peran Sabda

Pemahaman Reformasi dan Tridentin mengenai sentralitas serta pewartaan Sabda tampaknya tidak terpisah jauh. Tetapi ada perbedaan antara Katolik dan Protestan mengenai cara di mana Sabda Allah berfungsi sebagai kekuatan penyelamat (saving force). Hal ini terkait gagasan mengenai soteriologi, pembenaran oleh iman (justification by faith). Soteriologi cukup berkembang pada Abad Pertengahan, tetapi para pemikir abad XVI tidak melihat kedalamannya.

Diskusi abad XVI mengenai keefektifan Sabda (the Word) pada hakikatnya berhubungan dengan iman. Katolik dan Protestan mewarisi keyakinan bahwa Sabda Allah merupakan kekuatan yang bekerja dalam akal budi serta hati manusia. Terkait hal ini, John Wycliffe (1324-1384) menegaskan, kekuatan Sabda (power of the Word) mampu mengubah dan meluluhkan hati serta mengatasi dosa dan menjembatani jurang pemisah antara Allah dengan manusia. Sedangkan Luther menempatkan iman pada inti pembenaran dan keselamatan manusia. Iman menjadi ada oleh kuasa Sabda yang disertai oleh Roh Kudus. Perbedaan antara pemikiran Luther dan Abad Pertengahan yaitu terkait pemahaman mengenai hukum serta Injil. Kesadaran dan keyakinan bahwa Kristus sebagai penyelamat adalah isi penting dari Kitab Suci. Devotio moderna yang merupakan pewaris Luther mengarahkan perhatian pada pribadi Kristus, tetapi menjauh dari pendekatan moralistik untuk berkhotbah.

Bucer menekankan kekuatan Sabda dan aspek komunitas Gereja. Terkait hal ini, Kristus menasihati manusia, menyatakan pengampunan, menarik para murid kepada diri-Nya, menuntun mereka kepada kehidupan ilahi dalam baptisan, dan mengajar mereka untuk mematuhi perintah-Nya. Menurut Bucer, imam bertindak menggantikan Kristus (vice Christi). Sedangkan pemahaman Melanchthon mengenai Gereja dan pelayanan sangat fungsional. Gereja sejati (the true church) ada di mana seseorang dapat menemukan kesinambungan pengajaran yang otentik dan iman yang otentik. Gagasan Melanchthon mengenai pewartaan Injil berada dalam konteks iman akan kuasa Sabda Allah.

Pewartaan Sabda dimaksudkan untuk membawa pendengar kepada iman akan Kristus. Dalam persatuan dengan Kristus, umat beriman akan memperoleh keselamatan melalui penderitaan dan kematian-Nya. Menurut Calvin, pewarta Sabda adalah duta Kristus (the ambassador of Christ) dan berbicara atas nama Dia. Sabda tersebut menyelamatkan dan memberi hidup, karena disertai oleh kuasa Roh Kristus. Dalam pewartaan Sabda yang otentik, Allah membuat kehadiran-Nya yang menyelamatkan diketahui umat beriman.

Terlepas dari penekanannya pada pewartaan Sabda, Zwingli tidak menambahkan apa pun pada wawasan teologis mengenai bagaimana keselamatan dimungkinkan melalui kuasa Sabda. Memberikan penekanan yang lebih besar pada tindakan Roh Kudus yang berjalan seiring dengan pengidentifikasian khotbah sebagai fungsi kenabian (prophetic function). Hal ini juga ditekankan dalam ajaran Reformasi radikal (radical Reformation), di mana tindakan Roh Kudus dan Sabda batin (inner Word) mendapat tekanan.

Berdasarkan Konsili Trente, dekrit tentang pembenaran bergerak dalam kerangka ontologi teologis di mana keselamatan dilakukan melalui kuasa yang diberikan Allah. Terkait hal ini, rahmat pengudusan yang bekerja di dalam diri manusia mengubahnya menjadi anak Allah (son of God). Sedangkan kasih karunia merupakan reorientasi mendasar dari roh manusia (the spirit of man) yang pembenarannya dimungkinkan oleh Allah.

Gelombang besar Katolik menuju Reformasi dipelopori oleh para pengkhotbah terkemuka seperti Robertus Bellarminus (1542-1621), Carolus Borromeus (1538-1584), Petrus Kanisius, Fransiskus de Sales, dan Laurensius Brindisi (1559-1619) yang meyakini bahwa pewartaan Sabda sangat penting. Selain itu, dua teolog yang paling berpengaruh dan menekankan khotbah adalah Pierre de Bérulle (1575-1629) serta Francisco Suárez. Menurut Bérulle, khotbah yang otentik didasarkan pada misi (mission). Pewartaan Sabda didasarkan pada misi Kristus dan hanya khotbah yang membumi yang memiliki kuasa serta otoritas ilahi. Sedangkan menurut Suárez, khotbah dapat didelegasikan kepada orang yang tidak ditahbiskan, karena khotah bukan pelayanan suci (sacred ministry).

Ekspansi Misi

Para Reformator tidak tertarik dengan ekspansi misi (mission expansion). Minat mereka lebih terpusat pada pemurnian (purification) Kekristenan. Para misionaris pergi ke berbagai wilayah seperti Amerika dan Afrika. Terkait hal ini, misionaris Katolik terlibat dalam kerasulan pewartaan Sabda. Upaya yang dilakukan misionaris abad XVI-XVII yaitu menyesuaikan Injil dengan budaya asli (adapting the gospel to indigenous culture). Pada abad XVI, melalui upaya imajinatif (imaginative efforts) Roberto de Nobili (1577-1656) di India dan Matteo Ricci (1552-1610) serta Johann Adam Schall von Bell (1591-1666) di Cina, fase baru misiologi (missiology) mulai muncul. Pertanyaan-pertanyaan teologis mengenai relasi Kekristenan dengan budaya sekuler (secular culture) yang dihadapi para misionaris dalam penginjilan abad XVI di tempat misi merupakan pertanyaan yang sama yang dihadapi orang-orang yang sezaman dengan mereka di Eropa dalam diskusi tentang Kekristenan dan humanisme.

Terdapat teori yang berlawanan mengenai pekerjaan misionaris (missionary work). Di satu sisi, inti dari pekerjaan misionaris yaitu pembaptisan orang baru. Terkait hal ini, diyakini bahwa Roh Kudus bekerja di dalam jiwa orang-orang yang dibaptis dan jutaan jiwa diselamatkan dari kebinasaan (saved from perdition). Kemudian, setelah beberapa generasi, iman dari orang-orang yang dibaptis menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Inti dari teori upaya misionaris tersebut adalah keyakinan akan efektivitas tindakan sakramental secara ex opera operato.

Tanpa menyangkal harapan untuk mengubah orang ke dalam kehidupan Kristen sepenuhnya, para misionaris menganjurkan adaptasi Kekristenan ke budaya asli dan menekankan perlunya Injil didengar secara otentik oleh laki-laki serta perempuan dari berbagai tradisi budaya. Tanpa menempatkannya dalam kata-kata atau bahasa yang tepat, para misionaris khawatir bahwa Injil yang diwartakan tidak dapat dipahami dengan baik di Asia dan Afrika apabila Kekristenan hanya diungkapkan dalam budaya Eropa (European cultural forms). Selain itu, orang-orang setempat tidak mempercayai pembaptisan massal kecuali didahului dengan pemahaman yang tulus dan penerimaan Injil secara bebas.

Katekese

Salah satu fenomena yang menjadi ciri pewartaan umat Katolik dan Protestan pada periode Reformasi adalah penggunaan metode katekese. Perlu diketahui bahwa katekese bukan inovasi abad XVI. Karena katekese sama tuanya dengan Kekristenan dan literatur Perjanjian Baru (New Testament) sebagian besar merupakan produk katekismus yang sudah ada selama berabad-abad sebelum Reformasi. Terkait hal ini, semua buku pegangan mengenai iman dihasilkan pada Abad Pertengahan. Penggunaan katekismus menjadi menonjol, di mana kelompok Protestan dan Katolik menggunakannya untuk memberikan infomasi mengenai ajaran yang benar (the true doctrine).

Tulisan pada abad XVI menjadi elemen utama dalam pewartaan Sabda dan katekese di sekolah serta paroki. Penggunaan katekismus oleh para Reformator memunculkan pertanyaan menarik mengenai pemahaman praktis mereka tentang pewartaan Sabda. Karena salah satu kekuatan pemikiran Reformasi (Reformation thought) terletak pada penekanannya mengenai kontak langsung dengan Kitab Suci. Sehingga pembinaan keagamaan (religious formation) yang didasarkan pada jawaban katekismus bertentangan dengan prinsip dasar tersebut. Ketika memeriksa gaya dan isi katekismus Luther serta Calvin, mengingatkan pada teologi skolastik daripada Kitab Suci.

Berhadapan dengan keberhasilan katekismus Reformis, umat Katolik mulai memproduksi katekismus mereka sendiri. Pada 1530, katekismus tersebut dikerjakan oleh Peter de Soto (1493-1563), Johann Gropper (1503-1559), dan Michael Helding (1506-1561), tetapi tidak menuai kesuksesan. Kesuksesan datang melalui katekismus yang dikerjakan Petrus Kanisius dan Robertus Bellarminus. Petrus Kanisius menghasilkan tiga katekismus pada 1555-1559, karya besar yang ringkas, ditulis dalam bahasa Latin, dan ditujukan untuk para klerus, anak-anak, dan kaum muda. Katekismus tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan mendominasi dinamika katekese Katolik di dunia berbahasa Jerman.

Katekismus yang dikerjakan Robertus Bellarminus banyak digunakan di Italia. Dibandingkan dengan katekismus yang dikerjakan Petrus Kanisius, karya Robertus Bellarminus bernuansa skolastik dan dekat dengan rumusan katekese Abad Pertengahan. Sedangkan Petrus Kanisius berusaha mempertahankan rumusan alkitabiah dan patristik.

Sejalan dengan pengaruh katekismus Petrus Kanisius di Jerman dan katekismus Robertus Bellarminus di Italia, para Yesuit lainnya seperti Edmond Auger (1530-1591) di Prancis dan Gaspar Astete (1537-1601) serta Juan Martínez de Ripalda (1594-1648) di Spanyol juga membuat katekismus. Perlu disebut juga Katekismus Konsili Trente (Catechism of the Council of Trent) yang dimaksudkan untuk para imam sebagai panduan katekese. Pendekatan Katekismus Konsili Trente bersifat doktrinal dan memberikan panduan pemahaman serta penjelasan mengenai iman Kristen.

Sekolah Yesuit

Pewartaan Sabda di Gereja Katolik pasca-Tridentin menekankan katekese. Hal ini terjadi karena pengaruh Serikat Yesus pada abad XVI-XVII. Serikat Yesus melakukan pengajaran katekese sebagai salah satu karya utama mereka. Mereka meyakini bahwa mengajar katekismus adalah salah satu percobaan (experiments) yang harus dilalui oleh pemula dalam Serikat Yesus. Para anggota Serikat Yesus menyebutkan bahwa karya kateketik mengikat mereka dengan umat dan pengajaran yang cermat mengenai doktrin Kristen ditetapkan sebagai bagian dari pelatihan siswa di sekolah-sekolah Yesuit. Sekolah-sekolah Yesuit menjadi pusat kegiatan katekese, di mana tidak hanya anggota Serikat Yesus yang terlibat dalam pengajaran katekismus, tetapi juga mahasiswa luar (extern students) memberikan katekese untuk anak-anak di sekolah.

Terlepas dari pengaruh para Yesuit dalam katekese pasca-Tridentin, mereka tidak memonopoli karya tersebut. Ordo dan kongregasi yang didirikan pada abad XVI-XVII ikut serta dalam katekese. Salah satu kekhasan dari Serikat Yesus adalah melakukan pewartaan Sabda di sekolah-sekolah. Karena pendidikan menjadi salah satu karya kerasulan utama Serikat Yesus. Hal ini nampak di mana perguruan tinggi yang didirikan Serikat Yesus bermunculan di banyak kota di Eropa. Harus diakui bahwa sekolah-sekolah Yesuit adalah kekuatan utama dalam membentuk Gereja Katolik pasca-Tridentin dan Eropa modern.

Sekolah-sekolah Yesuit berada di garis depan dalam pelatihan humanistik (humanistic training) orang-orang muda Eropa pada abad XVII-XVIII. Tujuan akhir dari sekolah-sekolah Yesuit adalah melayani Gereja (to serve the Church). Konstitusi yang mengatur kehidupan dan karya Serikat Yesus menyatakan demikian, the masters should make it their special aim, both in their lectures when occasion is offered and outside of them, too, to inspire the students to the love and service of God our Lord, and to a love of the virtues by which they will please Him. They should urge the students to direct all their studies to this end.

Bagi banyak ordo, keterlibatan pada karya pendidikan membawa mereka ke dalam penelitian dan penulisan mengenai ilmu-ilmu profan (profane) serta ilmu-ilmu suci (sacred). Keterlibatan klerus dalam karya pendidikan selama berabad-abad merupakan asumsi budaya (cultural assumption). Namun, pertanyaan yang lebih besar selalu muncul, sejauh mana dalam karya pendidikan Kristen, seluruh upaya pendidikan menjadi bagian dari pewartaan Sabda? Pertanyaan tersebut terkait kontroversi mengenai humanisme Kristen (Christian humanism) yang muncul pada abad XV-XVII.

Latihan Rohani

Salah satu instrumen utama gerakan Reformasi Katolik adalah Latihan Rohani (Spiritual Exercise) Ignatius Loyola (1491-1556). Latihan Rohani menonjolkan aktivitas iman umat Katolik modern, yaitu memberikan retret (giving retreats) dan arahan spiritual (spiritual direction). Kegiatan retret tersebar luas di Gereja Katolik Roma modern. Para Yesuit tidak memonopoli karya retret, tetapi mereka memainkan peran utama dalam karya pelayanan tersebut. Terkait hal ini, Latihan Rohani telah menjadi panduan untuk kegiatan retret. Latihan Rohani memainkan peran penting dalam proses formatio para seminaris dan imam yang juga merupakan pewarta Sabda.

PERIODE MODERN

Meskipun jenis khotbah yang dikhotbahkan pada akhir abad XVII dan awal abad XVIII tidak menarik bagi pendengar (hearers) abad XX, periode tersebut merupakan zaman keemasan khotbah (golden age of preaching). Sebagian besar penekanan Reformasi dan pasca-Reformasi terkait pewartaan Sabda Allah masih bertahan. Perlu diketahui bahwa dalam komunitas Katolik dan Protestan, skolastisisme pasca-Reformasi dan pengaruh Barok (Baroque influence) mempengaruhi gaya berkhotbah (the style of preaching). Selain itu, desakan Protestan terkait karakter penginjilan dalam pastoral pelayanan membuat persiapan yang dilakukan imam menjadi lebih baik. Oleh karena itu, pada pertengahan abad XVII, minat dan penghargaan terhadap khotbah meluas serta berkembangnya oratorium suci (sacred oratory) di Gereja Protestan dan Katolik.

Gereja Reformasi memberikan penekanan yang lebih besar pada khotbah. Lebih banyak waktu dan perhatian imam diarahkan untuk mempersiapkan kebaktian (worship). Secara umum terdapat rasa hormat terhadap khotbah dan imam memandang khotbah sebagai tanggung jawab utama (major responsibility). Sudah ada diskusi mengenai perlunya khotbah yang sederhana untuk memenuhi kebutuhan umat beriman. Membebaskan khotbah dari perangkat sastra yang rumit (complicated literary devices) dan kepalsuan rasionalistik (rationalistic sophistries). Sehingga upaya menyampaikan khotbah yang sederhana, praktis, dan efektif terus berlangsung dari abad XVII sampai abad XX.

Berdasarkan homiletika Katolik Roma, pengaruh metode kecil (little method) Vinsensius de Paul (1581-1660) terkait khotbah dan pelatihan untuk para seminaris abad XVII-XVIII sangat penting untuk menjaga khotbah dari penyesatan. Risalah khotbah yang melimpah sejak abad XVII cenderung mengkritik khotbah yang rumit dan bertele-tele serta menganjurkan khotbah yang sederhana. Selanjutnya, pada akhir abad XVIII, Johann Michael Sailer (1751-1832) menyampaikan penegasan terkait khotbah, di mana penting untuk mengintegrasikan Kitab Suci dengan unsur-unsur doktrinal dan etika.

Khotbah Protestan bebas dari tipu muslihat (sophistries) dan kesombongan sastra (literary conceits), menekankan pewartaan Injil yang tidak terhalang oleh apa pun. Terkait hal ini, khotbah Lutheran menekankan penjelasan perikop alkitabiah yang ditetapkan pada hari Minggu dan hari raya besar. Perlu diketahui bahwa peran Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834) dalam revitalisasi abad XIX mengenai khotbah Protestan Eropa yaitu memperingatkan tentang penjelasan yang begitu mudah (easy explanation). Pendekatan Schleiermacher terhadap perkembangan teori homiletik sangat teologis, tetapi jenis khotbah yang ia anjurkan dan praktikkan tidak abstrak serta rasionalistik.

Kebangkitan khotbah (revival of preaching) abad XIX ditandai dengan kembali ke Kitab Suci. Terjadi reorientasi khotbah Lutheran di Amerika Serikat. Terkait hal ini, pencarian identitas denominasi dan kontroversi mengenai doktrin dalam Lutheranisme Amerika menjadi sumber utama pergeseran abad XIX dari penekanan etis (ethical) ke doktrinal (doctrinal) dalam khotbah. Pada periode ini pengkhotbah memiliki pengaruh dalam menentukan sikap dan gerakan. Bahkan sering kali khotbah yang disampaikan bersifat polemik dan partisan.

Khotbah cenderung menjadi diskursus, lebih sering menyampaikan topik terkait moralitas. Pengkhotbah lebih mengacu pada akal budi daripada iman. Karena ada keinginan untuk mengakomodasi agama dengan semangat deistik. Pewartaan Sabda menjadi asal-asalan, kurang semangat, dan tidak sesuai dengan kebutuhan umat. Dalam rangka menangkal kekeringan dan kekosongan khotbah resmi (official preaching), revolusi Metodis (the Methodist revolution) yang dipimpin John Wesley (1703-1791) serta Ellen Gould White (1827-1915) mengubah mimbar dan kehidupan keagamaan Inggris serta Amerika Utara.

Charles Simeon (1759-1836) melatih ribuan pemuda di Cambridge untuk berkhotbah, menekankan kejelasan dan keterusterangan khotbah. Hal ini didasarkan pada semangat penginjilan yang kemudian membantu membentuk masa depan khotbah di Inggris. Selain itu, upaya tersebut dimaksudkan untuk membangunkan Gereja Inggris yang tertidur (roused slumbering English church).

Terjadi tekanan politik terhadap Gereja. Hal ini merupakan dampak dari pemikiran rasionalistik dan fenomena terkait dekristenisasi modern (modern dechristianization) serta dorongan penginjilan baru yang bereaksi terhadap rasionalisme. Perlu diketahui bahwa yang paling menonjol dan berpengaruh dalam khotbah yang dilakukan di luar mimbar yang mapan adalah khotbah Wesley serta White. Mereka mewartakan Sabda yang otentik. Pendekatan penginjilan tersebut membuat Gereja Metodis mampu mengikuti arus zaman.

Meningkatnya pengaruh penginjilan dalam komunitas Protestan disebabkan oleh keterlibatan dengan para misionaris sejak akhir abad XIX. Sehingga tidak mengherankan apabila Gereja Lutheran, Anglikan, dan Reformasi baik di Eropa serta Amerika Utara mempunyai komitmen terkait karya misi. Sedangkan para Redemtoris, Pasionis, Vinsensian, Yesuit, dan Kapusin menjadi misionaris rumahan (home missionaries). Beban usaha misionaris diberikan kepada negara-negara Mediterania, Eropa Utara, dan Amerika.

Pada abad XVII-XVIII, lebih banyak khotbah yang diterbitkan daripada jenis literatur lainnya. Khotbah yang diterbitkan dibaca secara luas karena kandungan agama dan gaya sastranya. Selain itu, terdapat analisis dan solusi untuk persoalan masyarakat. Pada pertengahan abad XX, pengkhotbah besar (great preacher) masih ada dan dihormati di kalangan Gereja.

Sampai periode Perang Dunia II, pelajaran katekese dalam Katolik Roma didominasi oleh Konsili Trente dengan tujuan menyampaikan informasi doktrinal ortodoks dan menekankan moralisme yang menjadi ciri khas Kekristenan modern. Terdapat upaya serius untuk merancang metode yang lebih efektif dalam mendidik iman anak-anak. Selain itu, melibatkan kaum awam sebagai katekis di tanah misi. Katekis awam (lay catechist) merupakan agen yang sangat diperlukan dalam penginjilan di tengah bangsanya sendiri.

Salah satu perkembangan pada abad XIX di Amerika Serikat yaitu gerakan sekolah Minggu (the Sunday school movement). Selain itu, sebuah indikasi dari jalinan khotbah dan pendidikan agama adalah pengaruh dari Henry Ward Beecher (1813-1887) serta Philips Brooks (1835-1893), orator mimbar terkemuka abad XIX. Pengaruh juga terjadi melalui tulisan Horace Bushnell (1802-1876) yang berjudul Christian Nature yang mengulas formasi keagamaan (religious formation). Pada tataran tertentu, meningkatnya pemikiran modern yang berpusat pada manusia telah menjadikan soteriologi sebagai titik fokus dalam refleksi keagamaan. Hal ini telah menemukan ekspresinya dalam pewartaan Sabda periode modern.

Deskripsi yang memadai mengenai pewartaan para teolog dalam Kekristenan modern memasukkan studi rinci mengenai evolusi pendapat teologis (the evolution of theological opinion) sejak abad XVI. Kontribusi para teolog bagi iman dan kehidupan Kristen modern datang melalui pengembangan serta pewartaan pandangan teologis mereka. Perlu diketahui bahwa di sejumlah Gereja, lembaga yang lebih tinggi seperti sinode mengendalikan proses klarifikasi doktrin resmi. Proses tersebut dianggap tepat oleh para teolog dan dilakukan oleh mereka. Terkait hal ini, terjadi ketegangan antara teologi progresif (progressive theology) dan elemen-elemen lain dalam Gereja Kristen mengenai tradisi (tradition).

Jika pelayanan Kristen salah satu tujuan utamanya adalah membina komunitas Kristen (the fostering of Christian community), maka teologi modern yang progresif jelas telah menjalankan fungsi pelayanan (ministerial function). Seseorang tidak dapat dengan mudah memastikan penyebab fenomena seperti gerakan ekumenis (ecumenical movement) abad XX. Tetapi penelitian teologis ilmiah terkait Kitab Suci, patristik, sejarah, liturgi, dan teologi sistematika merupakan elemen yang memungkinkan Gereja menemukan komunitasnya, memperjelas serta mempertanyakan perbedaan mereka, dan bergerak menuju persatuan. Selain itu, para teolog telah merangsang dan membimbing kemajuan ekumenisme. Hal ini dilakukan oleh para teolog terlatih yang menunjukkan pelayanan mereka di dalam Gereja.

PENUTUP

Berdasarkan uraian mengenai Pewartaan Sabda Allah pada Periode Abad Pertengahan, Reformasi, dan Modern di atas, terdapat sejumlah gagasan yang relevan untuk diaktualisasikan pada zaman sekarang dalam rangka mewartakan Sabda Allah. Pertama, para pewarta Sabda Allah harus menyadari identitas diri mereka sebagai perpanjangan Kristus dalam sejarah, duta Kristus dan berbicara atas nama Dia. Mewartakan Injil dan menjadi saksi Kristus di tengah dunia.

Kedua, mendedikasikan diri sebagai pewarta Sabda Allah yang tangguh. Menggunakan Kitab Suci sebagai sarana untuk menopang semangat doa, refleksi, dan menggali inspirasi. Dalam rangka pewartaan, pewarta Sabda Allah harus menjangkau umat dengan teladan, pelayanan, dan katekese. Memelihara dan memperbaiki iman umat. Menyediakan makanan pokok berupa Sabda untuk umat.

Ketiga, menyadari bahwa pengetahuan merupakan dasar untuk khobah yang baik. Hal ini dimaksudkan supaya pewarta Sabda Allah mempunyai kemampuan interpretasi Kitab Suci yang cermat. Selain itu, dalam rangka cura animarum, pewarta harus menanamkan moral yang baik. Teladan pewarta atau pengkhotbah harus berbicara sekeras kata-katanya.

Keempat, mengupayakan sedemikian rupa supaya pewartaan yang disampaikan bertumbuh dan berkembang secara kuantitatif serta kualitatif. Menyiapkan teks khotbah dan menyampaikan khotbah sebaik mungkin. Memungkinkan pemahaman yang dapat memandu kehidupan umat Kristiani. Memurnikan iman dan perilaku umat.

Kelima, mengimani bahwa Sabda Allah merupakan kekuatan yang bekerja dalam akal budi dan hati manusia. Karena Kristus mengasihi manusia, menyatakan pengampunan, dan menuntun pada kehidupan ilahi. Terkait hal ini, penting untuk mengingatkan umat beriman akan tindakan penyelamatan Kristus.

Keenam, menyampaikan khotbah yang otentik dan didasarkan pada misi Kristus. Menyampaikan ajaran iman yang benar, mengupayakan khotbah yang membumi atau sederhana, dan tidak rumit serta bertele-tele. Beradaptasi dengan budaya setempat ketika mewartakan Sabda Allah. Menghindari penyesatan, tipu muslihat, dan kesombongan.

SUMBER BACAAN

Cooke, B. J. Ministry to Word Sacraments: History and Theology. Philadelphia: Fortress Press, 1976.

Diskursus Teologi