Yohanes Wahyu Prasetyo
(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)
Persaudaraan dan relasi kekeluargaan merupakan semangat yang harus diejawantahkan dalam kehidupan sosial serta politik. Terkait hal ini, ensiklik Fratelli Tutti yang ditulis Paus Fransiskus, menekankan gaya hidup yang diwarnai persaudaraan dan persahabatan sosial di tengah arus teknologi serta globalisasi. Sehingga politik yang ideal berdimensi kasih terhadap yang lain dan tidak tunduk pada ekonomi.
Perlu diketahui bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial. Manusia perlu melampaui diri sendiri, menumbuhkan dan mengembangkan kasih pada tingkat pribadi serta sosial. Karena persahabatan sosial menjadi dasar mencapai kehidupan komunitas yang sehat dan terbuka. Hanya dengan demikian manusia mengalami keindahan hidup yang sesungguhnya.
Selanjutnya, supaya dapat memahami “Politik yang Baik Menurut Paus Fransiskus dalam Fratelli Tutti”, saya menguraikan tulisan ini ke dalam enam bagian. Pertama, Tentang Ensiklik Fratelli Tutti. Kedua, Konsep Persaudaraan. Ketiga, Kasih Keluarga dan Kasih Sosial. Keempat, Politik yang Lembut. Kelima, Menuju Politik yang Baik. Keenam, Penutup.
TENTANG ENSIKLIK FRATELLI TUTTI
Persaudaraan dan persahabatan sosial adalah cara yang ditunjukkan Paus Fransiskus untuk membangun dunia yang lebih baik, adil, dan damai. Bagaimana cara membangun dunia yang adil dan diwarnai persaudaraan dalam kehidupan sosial serta politik? Hal ini merupakan pertanyaan yang ingin dijawab Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti. Ensiklik ini digambarkan Paus Fransiskus sebagai “Ensiklik Sosial” (Social Encyclical). Latar belakang ensiklik Fratelli Tutti adalah pandemi Covid-19 yang “meletus secara tidak terduga” (unexpectedly erupted) ketika ia menulis ensiklik ini. Darurat kesehatan global di tengah pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menghadapi kehidupan dalam isolasi. Waktunya telah tiba, sebagai satu keluarga umat manusia, kita adalah saudara dan saudari.
Paus Fransiskus menguraikan ensiklik Fratelli Tutti ke dalam delapan bab. Pertama, bayang-bayang gelap dunia yang tertutup. Paus Fransiskus merefleksikan berbagai distorsi di era kontemporer. Hal ini terkait persoalan global yang memerlukan tindakan global dan pentingnya memberi peringatan terhadap “budaya tembok” (culture of walls) yang mendukung berkembangnya kejahatan terorganisir yang dipicu oleh rasa takut dan kesepian. Kedua, seorang asing di jalan. Ensiklik ini menanggapi persoalan yang terjadi di tengah masyarakat dengan mengemukakan sebuah contoh, yaitu orang Samaria yang baik hati. Bagi Paus Fransiskus, penting untuk mengenal Kristus yang hadir dalam diri setiap orang yang dikecualikan, yaitu mereka yang lemah dan rentan serta mereka yang terjatuh dan menderita.
Ketiga, memikirkan dan menciptakan dunia yang terbuka. Paus Fransiskus mendesak kita keluar dari diri sendiri dan membuka diri terhadap orang lain. Terkait hal ini, solidaritas dan persaudaraan dimulai dalam keluarga. Harapannya melalui pendidikan di dalam keluarga, setiap orang mempunyai kasih universal. Keempat, hati yang terbuka ke seluruh dunia. Berhadapan dengan fenomena migrasi yang terjadi karena perang, penganiayaan, bencana alam, dan perdagangan manusia, Paus Fransiskus menegaskan bahwa para migran harus disambut, diterima, dilindungi, dan didukung. Selanjutnya, membentuk tata kelola global, sebuah kolaborasi internasional untuk migrasi yang menerapkan perencanaan jangka panjang, lebih dari sekadar keadaan darurat.
Kelima, politik yang lebih baik. Paus Fransiskus meyakini bahwa politik yang relevan dewasa ini yaitu politik yang berpusat pada martabat manusia dan tidak tunduk pada kepentingan ekonomi. Selain itu, secara konsisten bekerja untuk kebaikan bersama, pengentasan kemiskinan, dan perlindungan hak asasi manusia. Keenam, dialog dan persahabatan sosial. Menurut Paus Fransiskus, hidup merupakan “seni perjumpaan” (art of encounter) dengan semua orang. Bahkan dengan negara-negara pinggiran dan dengan masyarakat asli. Hal ini memungkinkan kita belajar sesuatu dari yang lain.
Ketujuh, jalan menuju perjumpaan baru. Paus Fransiskus menggarisbawahi bahwa perdamaian terkait dengan kebenaran, keadilan, dan belas kasih. Jauh dari keinginan membalas dendam, mengupayakan rekonsiliasi dan pembangunan bersama. Dengan demikian, perdamaian merupakan “seni” (art) yang melibatkan dan menghargai setiap orang. Kedelapan, agama-agama hendaknya melayani persaudaraan di dunia. Bagi Paus Fransiskus, terorisme bukan disebabkan agama, tetapi karena interpretasi yang tidak tepat terhadap teks-teks agama. Selain itu, perlu adanya jaminan kebebasan beragama yang merupakan hak asasi manusia yang mendasar. Akhirnya, atas nama persaudaraan umat manusia, dialog harus dijadikan jalan, kerja sama sebagai perilaku, dan pengetahuan timbal balik sebagai metode serta standar.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa penting untuk menunjukkan belas kasih dan keberanian kerasulan serta senantiasa membuka pintu bagi semua orang, tidak mementingkan diri sendiri. Terkait hal ini, menginjak-injak martabat seseorang adalah dosa serius. Selain itu, menjadi “nabi keadilan” (prophet of justice) di mana pun dan kapan pun kita berada. Hal ini dapat diaktualisasikan dengan menciptakan komunitas yang terbuka dan penuh persaudaraan, menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai warga negara yang baik, mewartakan Kabar Gembira, dan membantu orang miskin serta orang sakit.
KONSEP PERSAUDARAAN
Periode Pencerahan dan berbagai teori politik mengalami kesulitan mendamaikan semangat persaudaraan dengan prinsip otonomi individu. Revolusi Prancis memasukkan kata “persaudaraan” dalam motonya (kebebasan [liberty], kesetaraan [equality], dan persaudaraan [fraternity]) untuk memperlihatkan bahwa manusia setara dalam martabat, tidak memandang garis keturunan serta tempat asal mereka. Namun, kaum revolusioner tidak mampu membangun dasar yang kuat dalam mengatasi konfrontasi yang terjadi di antara kelompok sosial.
Sebelum Revolusi Prancis, istilah “persaudaraan” dengan beragam variannya (brotherhood, sisterhood, fraternity) telah digunakan pada Abad Pertengahan untuk mengidentifikasi kelompok keagamaan. Bahkan sejumlah asosiasi pengrajin juga disebut “persaudaraan”. Istilah tersebut saat ini masih digunakan, misalnya oleh perkumpulan mahasiswa, ordo keagamaan, dll. Dengan demikian, istilah “persaudaraan” merupakan konsep yang kompleks dan tanpa dimensi universal.
Liberalisme dan marxisme mengecualikan persaudaraan yang real serta universal dan mendasarkannya pada konsep antropologi negatif. Marxisme membagi manusia ke dalam dua kelompok yang bertentangan, kapital dan proletariat. Sehingga persaudaraan dipandang tidak selaras dengan perjuangan kelas. Hal ini hanya mungkin terjadi di antara mereka yang memiliki kelas yang sama, tereksploitasi dan tertindas.
Kepentingan pribadi dibenarkan oleh liberalisme sebagai kekuatan egaliter dan dibawa ke dalam praktik ekonomi oleh kapitalisme. Dalam bidang ekonomi, setiap orang mementingkan diri sendiri. Hal ini memungkinkan para ekonom memprediksi perilaku manusia secara akurat. Misalnya, ketika membangun mekanisme perilaku ekonomi yang rasional, Theory of General Economic Equilibrium fokus pada homo economicus, individu egois, utilitarian, dan dapat diprediksi yang terkondisi oleh motivasi ekonomi. Akibatnya tidak mampu membangun relasi persaudaraan di ruang publik.
Antropologi Katolik menampilkan manusia sebagai pribadi yang bersifat sosial, diciptakan menurut gambar Allah Tritunggal. Bapa menciptakan manusia dan mereka adalah saudara serta saudari. Selain itu, melalui baptisan, manusia menjadi anak-anak Allah. Dengan demikian, persaudaraan dilihat dari sudut pandang Trinitaris dan Kristologis, melampaui pemahaman umum di masyarakat. Allah Tritunggal senantiasa mendorong manusia menuju persaudaraan, bahkan ketika manusia menolak-Nya serta menyebabkan perpecahan di antara sesama manusia.
Persaudaraan dan Solidaritas
Persaudaraan Kristiani mengandaikan sikap pemberian diri. Setiap manusia dipandang sebagai anugerah Ilahi yang harus dihargai keunikannya dan dibantu menjadi diri sendiri. Sebagaimana dikemukakan Paus Fransiskus, Tak seorang pun tidak berguna, tak seorang pun tidak diperlukan (FT 215). Dalam perspektif ini, persaudaraan melampaui prinsip solidaritas. Meskipun solidaritas merupakan prinsip tata kelola sosial yang memungkinkan ketidaksetaraan menjadi setara, persaudaraan memungkinkan orang yang berbeda menjadi setara. Persaudaraan memungkinkan setiap orang yang memiliki hakikat, martabat, kebebasan, dan hak-hak dasar yang setara berpartisipasi dalam mewujudkan kebaikan bersama.
Paus Fransiskus mengajak semua orang untuk menghidupkan kembali di antara kita semua aspirasi universal akan persaudaraan (FT 8). Sehingga kita dapat bergerak bersama menuju masa depan yang dibentuk oleh saling ketergantungan dan tanggung jawab bersama dalam seluruh keluarga manusia (FT 127). Hal ini menunjukkan bahwa kita harus memperluas relasi kasih dalam kehidupan keluarga ke dalam kehidupan publik.
Konsep Teologis
Persaudaraan Kristiani mengungkapkan martabat yang tak tercabut dari setiap manusia terlepas dari asal, warna kulit atau agama (FT 39). Karena setiap orang diciptakan oleh Bapa yang sama dan didasarkan pada visi transenden. Konsep ini mengatasi cara pandang kaum Stoa dan Pencerahan yang mereduksinya menjadi teori sosial sederhana. Daripada menghubungkannya dengan kontrak sosial yang mengatur kebebasan dan kesetaraan semua orang, perspektif Kristen mengacu pada sesuatu yang mengikat kita bersama. Oleh karena itu, persaudaraan Kristiani bukan buah dari negosiasi, melainkan ekspresi dari sikap pemberian diri. Persaudaraan memiliki dasar yang transenden dan dipahami “dari atas” (from above), keterbukaan terhadap Sang Pencipta.
Gereja Katolik menegaskan bahwa kita semua diciptakan oleh Bapa yang sama dan melalui baptisan kita menjadi anak-anak Allah. Oleh karena itu, persaudaraan memberi makna pada kebebasan dan kesetaraan. Setelah mengalami kasih Allah, harapannya umat beriman menghidupi persaudaraan universal.
KASIH KELUARGA DAN KASIH SOSIAL
Berdasarkan perspektif Kristiani, setiap tindakan manusia harus dilandaskan pada kasih. Bahkan politik harus menjadi tindakan kasih melalui penegakan keadilan. Oleh karena itu, relasi tanpa pamrih dan penuh kasih yang dialami dalam kehidupan keluarga harapannya diperluas ke ranah publik.
Dewasa ini perekonomian dibangun berdasarkan keuntungan, sedangkan politik dikaitkan dengan korupsi, dominasi dan keserakahan. Mayoritas kaum liberal berasumsi bahwa relasi kekeluargaan tidak boleh mendapat tempat di ranah publik, karena akan menimbulkan ketergantungan emosional yang menghambat efisiensi dan mesin perekonomian. Adam Smith (1723-1790), Thomas Robert Malthus (1766-1834), dan John Maynard Keynes (1883-1946) memandang bahwa relasi yang bebas, bersahabat, dan non-instrumental serta etika dan keyakinan agama harus ditempatkan di ranah privat. Sehingga ekonom hanya perlu menganalisis dan mengembangkan motivasi ekstrinsik (utilitas, kepentingan). Meskipun demikian, agar dapat berfungsi dengan baik, pasar harus tertanam dalam institusi (politik) yang adil dan efektif yang mengandalkan relasi antar pihak yang dihasilkan di ranah privat.
Paus Fransiskus memasukkan relasi keluarga sebagai inti kehidupan masyarakat, di mana kasih adalah inti dari setiap kehidupan sosial yang sehat dan terbuka (FT 184). Ensiklik Fratelli Tutti menyatukan konsep persaudaraan dan persahabatan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat di bidang sosial, ekonomi, dan politik merupakan bagian penting dari kasih.
Kasih Keluarga
Dalam masyarakat yang individualis, hasrat akan kasih sejati sering kali merosot menjadi relasi yang dangkal dan kompetitif. Daripada menciptakan persekutuan, kita hanya mencoba menarik perhatian pada diri kita sendiri. Ilusi memiliki banyak teman online menyembunyikan ketidakmampuan yang mengganggu dalam membina relasi kekeluargaan.
Paus Fransiskus mengajak kita memperkuat hasrat akan kasih sejati (desire for true love) yang berada di hati kita dan terwujud dalam keluarga. Hal ini tidak hanya penting bagi keluarga, tetapi juga bagi seluruh masyarakat. Kasih yang berdimensi sosial merupakan cerminan dari Allah Tritunggal yang menyatukan makna spiritual keluarga dan misinya kepada orang lain. Keluarga menghayati spiritualitasnya justru dengan menjadi gereja rumah tangga dan sel penting untuk mentransformasi dunia. Kasih merupakan inti dari Ajaran Sosial Gereja. Bukan sekadar relasi mikro dalam ranah privat, tetapi juga relasi sosial, ekonomi, dan politik.
Kasih Sosial
Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti menekankan pentingnya kasih persaudaraan dalam politik. Kasih tidak bisa direduksi menjadi paternalisme atau kesadaran egois. Hal ini bersifat sosial dan politik karena menyiratkan jalan efektif untuk perubahan sejarah yang harus menyatukan segala sesuatu (FT 164). Pada hakikatnya kasih merupakan potensi manusia yang paling mempengaruhi masyarakat. Selain itu, kasih menjadi energi utama yang menggerakkan jiwa manusia. Akhirnya salah satu tugas yang dipercayakan kepada manusia adalah belajar mengasihi secara tulus, otentik, dan bebas.
Namun, sebagaimana dikemukakan Paus Fransiskus, konflik-konflik lama yang dianggap sudah diatasi tersulut kembali, dan membangkitkan kembali nasionalisme yang tertutup, penuh kemarahan, kekesalan, dan agresif (FT 11). Kita menjadi semakin agresif karena melihat orang-orang lain hanya menjadi penghalang bagi ketenangan pribadi yang mengasyikkan (FT 222).
Relasi keluarga juga penting dalam bidang ekonomi, mendorong kolaborasi dan meningkatkan produktivitas. Prinsip memberi secara sukarela dan logika pemberian sebagai ekspresi persaudaraan harus mendapat tempat dalam kegiatan ekonomi. Karena kasih merupakan kekuatan dan sesuatu yang melekat dalam diri manusia.
POLITIK YANG LEMBUT
Relasi persaudaraan dan kekeluargaan harus menjadi dasar bagi politik yang lebih baik dan benar-benar melayani kebaikan bersama (FT 154). Ketika menghadapi populisme, Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa dalam politik pun ada ruang untuk mengasihi dengan kelembutan (FT 194). Kita perlu memulihkan kelembutan dalam relasi antarmanusia dan dalam bidang politik. Dengan kata lain, kita perlu mengedepankan persaudaraan dan relasi kekeluargaan di ranah publik.
Bentuk Kasih Tertinggi
Politik yang baik menempatkan pribadi manusia sebagai pusat, melayani kebaikan bersama, dan didasarkan pada persahabatan sosial. Selain itu, politik yang baik menyatukan kasih dengan harapan yang percaya pada kebaikan yang tersimpan di dalam hati orang (FT 196), mengupayakan dialog dan menciptakan proses perjumpaan, proses yang bisa membangun bangsa yang mampu menerima perbedaan-perbedaan (FT 217). Setiap orang harus diberi kesempatan untuk berkontribusi dengan bakat dan usahanya sendiri (FT 162).
Kita perlu memperbarui keterlibatan politik kita dan menilai kembali politik sebagai pelayanan publik, sehingga orang-orang yang kompeten, jujur, dan murah hati dapat tergerak mengabdikan diri pada hal tersebut. Ensiklik Fratelli Tutti mengajak kita melihat politik sebagai panggilan luhur, dan salah satu bentuk paling bernilai amal kasih, sejauh mengusahakan kesejahteraan umum (FT 180). Paus mengenang para pemimpin seperti Martin Luther King Jr (1929-1968), Desmond Tutu (1931-2021), dan Mahatma Gandhi (1869-1948) yang menginspirasi, menyatukan, memajukan kebaikan bersama, dan melindungi bumi.
Populisme
Paus Fransiskus melihat bahwa saat ini di banyak negara mekanisme politik digunakan untuk menjengkelkan, memperburuk, dan mempolarisasi (FT 15) alih-alih berfokus pada pembahasan proyek jangka panjang yang berpihak pada masyarakat dan menghormati budaya yang berbeda. Konfrontasi secara langsung bertujuan memanipulasi masyarakat dan mendiskualifikasi lawan politik. Penghinaan terhadap yang lemah dapat bersembunyi di balik bentuk-bentuk populisme yang digunakan dengan menghasut untuk kepentingannya sendiri, atau di balik bentuk-bentuk liberalisme yang melayani kepentingan ekonomi mereka yang berkuasa (FT 155).
Populisme mereduksi politik menjadi sekadar menawarkan resep-resep pemasaran sekilas yang menemukan sumber dayanya yang paling efektif dalam penghancuran pihak lain (FT 15). Melupakan kebaikan bersama dan memaksimalkan konfrontasi, ketakutan, dan ketidakpercayaan. Politisi populis merendahkan masyarakat hingga menjadi massa yang dapat mereka pikat dan gunakan untuk melanggengkan kekuasaan serta memuaskan kepentingan egois mereka sendiri. Dengan demikian, mereka meniadakan gagasan tentang masyarakat, memanipulasi budaya, dan membahayakan demokrasi. Di lain waktu ini bertujuan untuk mendapatkan popularitas, dengan mengobarkan kecenderungan terendah dan egois dari beberapa sektor penduduk. Populisme ini menjadi lebih buruk ketika, dalam bentuk kasar atau halus, menjadi perampasan kekuasaan atas institusi-institusi dan hukum (FT 159).
MENUJU POLITIK YANG BAIK
Berdasarkan martabat dan sifat sosial yang hakiki dari pribadi manusia, terdapat kebutuhan mendesak akan politik yang baik serta menjunjung tinggi dialog serta semangat kekeluargaan. Kita harus merangkul budaya perjumpaan yang memupuk persaudaraan dan relasi kekeluargaan di semua tingkatan. Hal ini menunjukkan perlunya perubahan hati, kebiasaan, dan gaya hidup manusia (FT 166).
Hidup adalah seni perjumpaan, meskipun ada banyak bentrokan dalam hidup (FT 215). Kita harus bersemangat untuk bertemu, mencari titik temu, membangun jembatan, merencanakan sesuatu yang melibatkan semua orang (FT 216). Sikap yang benar bukanlah keseragaman yang dipaksakan atau sinkretisme yang mendamaikan. Dialog harus digalakkan dan mempertimbangkan identitas spesifik setiap orang, komunitas, agama, dan budaya. Kita juga membutuhkan politik yang baik yang didasarkan pada hukum dan dialog jujur antara para pelaku, selalu dibarui dengan keyakinan bahwa setiap perempuan, setiap laki-laki, dan setiap generasi membawa dalam dirinya suatu janji yang dapat melepaskan energi relasional, intelektual, budaya dan spiritual yang baru (FT 196).
Ensiklik Fratelli Tutti mengumpulkan dan mengembangkan beberapa tema penting yang dibahas dalam Dokumen tentang Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Beragama yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Iman Besar Ahmad Al-Tayyeb. Misalnya, Allah menciptakan semua manusia setara dalam hak, kewajiban, dan martabat, dan memanggil mereka untuk hidup berdampingan sebagai saudara dan saudari (FT 5). Peran iman juga disebutkan dalam Dokumen tersebut pada bagian Pendahuluan, yaitu menuntun orang beriman untuk memandang dalam diri sesamanya seorang saudara lelaki atau perempuan untuk didukung dan dikasihi.
Keterbukaan terhadap persaudaraan universal tidak boleh disamakan dengan universalisme palsu dari mereka yang tidak mencintai bangsanya atau tidak menerima asal-usulnya sendiri. Juga tidak dapat diterima untuk mendorong homogenisasi demi memperoleh manfaat tertentu. Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa setiap orang menjadi pribadi seutuhnya jika ia menjadi milik suatu bangsa, dan pada saat yang sama, itu bukan bangsa sejati bila tidak menghargai wajah setiap pribadi (FT 182).
Dalam bab pertama Fratelli Tutti menunjukkan impian sosial yang hancur karena kurangnya kolaborasi. Ensiklik ini ingin menginspirasi mimpi baru tentang persaudaraan dan persahabatan sosial yang tidak terbatas pada kata-kata (FT 6), mengajak semua orang untuk berpartisipasi di dalamnya. Marilah kita bermimpi sebagai satu umat manusia, sebagai sesama pengembara yang memiliki raga manusiawi yang sama, sebagai anak-anak dari bumi yang sama yang menjadi tempat tinggal kita semua, masing-masing dengan kekayaan iman dan keyakinannya, masing-masing dengan suaranya sendiri, semuanya saudara dan saudari (FT 8).
PENUTUP
Politik sering kali direduksi menjadi sesuatu yang remeh dan diasosiasikan dengan keserakahan, dominasi, eksploitasi, dan korupsi. Dalam ensiklik Fratelli Tutti, Paus Fransiskus mengajak kita untuk mendapatkan kembali keluhuran tindakan politik. Mengambil tanggung jawab sebagai anggota satu keluarga umat manusia demi kebaikan bersama. Refleksi tentang tanggung jawab kita terhadap sesama dan ciptaan dibagikan Paus Fransiskus di tengah pandemi Covid-19. Ketika berhadapan dengan pandemi Covid-19 yang diwarnai ketidakpastian dan ketakutan serta ketika pergerakan dan kontak dibatasi, kita tergoda menutup mata serta menunggu hingga badai berlalu. Hal ini bukan jalan keluar dari krisis untuk menuju dunia yang lebih baik. Paus Fransiskus memanggil kita untuk menemukan energi aktif berupa kasih yang ada dalam diri setiap orang. Mengatasi badai dan penderitaan dengan semangat kasih, solidaritas serta keberanian mewujudkan kebaikan bersama. Hanya dengan bersama-sama kita dapat menyembuhkan dunia yang terluka. Selain itu, hanya dengan budaya peduli, tanggung jawab, dan mendengarkan, kita dapat keluar dari krisis dengan lebih kuat.
Model ekonomi ekstraktif dan kolonialis, menghasilkan budaya konsumsi yang tidak setara serta diskriminasi yang mengakibatkan degradasi ekologi. Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti mendesak kita untuk membuat keputusan demi kebaikan bersama dengan bertanggung jawab terhadap sesama. Dewasa ini kita menyaksikan terjadinya peningkatan ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembaga demokrasi atau multilateral. Paus Fransiskus mengajak kita keluar dari budaya membangun tembok, proteksionisme diri, dan nasionalisme sempit. Ketika berbicara tentang pentingnya menjunjung tinggi komitmen kolektif multilateral dan kerja sama antar negara, Paus Fransiskus mengatakan bahwa saat ini dibutuhkan keberanian dan kemurahan hati untuk secara bebas menetapkan tujuan-tujuan bersama dan memastikan bahwa norma-norma esensial tertentu di seluruh dunia dipenuhi (FT 174).
Berbagai macam persoalan bisa diatasi apabila kita mempunyai hati untuk berbicara dan bertindak demi perubahan politik yang lebih baik. Melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai warga negara serta memastikan para pemimpin politik bertindak demi kebaikan bersama dan perdamaian dunia. Selain itu, memberikan ruang bagi suara-suara yang terpinggirkan. Karena dalam politik pun ada ruang untuk mengasihi dengan kelembutan (FT 194). Akhirnya, kita diminta menjadi aktor politik dan memimpin dari hati. ***
SUMBER BACAAN:
Biography of the Holy Father Francis.
https://www.vatican.va/content/francesco/en/biography/documents/papa-francesco-biografia-bergoglio.html. Diakses pada 24 Juli 2024 pukul 12.05 WIB.
Núñez, Martín Carbajo. “Fraternity, Familial Relationships and Politics in The Light of The Encyclical Fratelli Tutti”. FORUM TEOLOGICZNE. Vol. XXIII (2022), hlm. 127-137.
Gauthier, Josianne. “Fratelli Tutti – Politics as an Act of Love and Courage”. CIDSE: Together for Global Justice. https://www.cidse.org/wp-content/uploads/2020/12/EN-Fratelli-Tutti-blog-JG-2020.pdf. Diakses pada 23 Juli 2024 pukul 23.14 WIB.
Paus Fransiskus. Fratelli Tutti. Penerj. Martin Harun OFM. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2020.
Piro, Isabella. “Fratelli Tutti: Short Summary of Pope Francis’s Social Encyclical”. https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2020-10/fratelli-tutti-pope-fraternity-social-friendship-short-summary.html. Diakses pada 29 Juni 2024 pukul 09.23 WIB.
CATATAN
Tulisan ini pernah dipublikasikan dengan keterangan sebagai berikut:
Prasetyo, Yohanes Wahyu. “Politik yang Baik Menurut Paus Fransiskus dalam Fratelli Tutti”. Dalam Yohanes Wahyu Prasetyo (Editor). Mengurai Pokok-Pokok Pikiran Paus Fransiskus. Jakarta: JPIC OFM Indonesia, 2024, hlm. 221-235.
