October 31, 2025

Teologi Trinitas dalam Reformasi Protestan

Yohanes Wahyu Prasetyo

(Biarawan Ordo Fransiskan – Alumnus Program Studi Sarjana dan Pascasarja STF Driyarkara Jakarta)

 

Reformasi Protestan abad XVI yang dipandang banyak orang sebagai salah satu peristiwa penting Kekristenan, berhutang budi pada Renaisans. Namun, terdapat konsensus, Reformasi terkait Renaisans sejauh hal itu membatasi seruan Renaisans, kembali ke sumber-sumber kuno (ad fontes), menerima Kitab Suci sebagai sumber iman eksklusif (sola scriptura). Prinsip tersebut mengukuhkan otoritas normatif Kitab Suci terkait teologi dan liturgi dalam kehidupan Gereja. Kuasa Firman berhubungan dengan kuasa pesan Kitab Suci. Menurut para Reformator, pesan Injil harus dibebaskan dari otoritas yang menindas Gereja Katolik Roma dan tradisinya, sehingga dimungkinkan bekerja langsung di hati manusia (to work directly on human hearts).

31 Oktober 1517 diperingati Gereja Protestan sebagai Hari Reformasi (Reformation Day). Hal ini merupakan hari ketika Martin Luther (1483-1546) mengemukakan Sembilan Puluh Lima Tesis (Ninety-Five Theses) di Wittenberg. Proposisi pertama tesis tersebut menegaskan, When our Lord and Master Jesus Christ said ‘Repent’, he willed the entire life of believers to be one of repentance. Tesis tersebut menggarisbawahi penyalahgunaan sakramen tobat (the sacrament of penance) di Gereja Katolik Roma melalui penjualan surat pengampunan dosa. Proposisi tersebut menarik otoritas yang lebih tinggi dari Kitab Suci – pesan Yesus sebagaimana dicatat dalam Injil – terhadap praktik sakramental dan pertobatan yang sudah lama ada di Gereja Katolik Roma.

Menurut para Reformator, tidak ada praktik atau ajaran Gereja yang dapat mengklaim memiliki otoritas ilahi (divine authority) kecuali memiliki firman Kitab Suci yang mendukungnya. Kitab Suci menjadi prinsip eksklusif untuk segala sesuatu yang bersifat gerejawi seperti dogma, liturgi, katekismus, pelayanan pastoral bagi orang meninggal, khotbah, termasuk keuskupan dan kepausan. Dengan demikian, para teolog Reformasi mengidentifikasi diri mereka sebagai teolog alkitabiah (biblical theologians).

Berdasarkan uraian di atas, muncul pertanyaan, apa yang dimaksud dengan “alkitabiah” (biblical)? Terkait pertanyaan tersebut, kata atau konsep disebut alkitabiah apabila ada dalam Kitab Suci dan berwibawa (authoritative). Persoalannya bukan hanya semantik, tetapi terkait wahyu diri Allah (God’s self-revelation) dan bagaimana Kitab Suci menarasikan pengungkapan diri ilahi (divine self-disclosure). Menurut Yohanes Calvin (1509-1564), praktik Gereja dalam bentuk apa pun yang tidak diperintahkan oleh Kitab Suci harus dilarang. Praanggapan tersebut membentuk pendekatan Reformasi Protestan terhadap kurikulum teologis dalam formasi klerus (clergy formation). Seorang klerus terpelajar didefinisikan sebagai orang yang terlatih dengan baik dalam bahasa alkitabiah dan diperlengkapi untuk mengkhotbahkan khotbah ekspositori (expository sermons) dari Kitab Suci berdasarkan pengetahuan menyeluruh tentang Perjanjian Lama sera Perjanjian Baru. Kitab Suci menjadi sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu sebuah doktrin dalam dirinya sendiri (a doctrine in its own right). Satu-satunya otoritas Kitab Suci berdiri sebagai garis demarkasi antara Protestan dan Katolik Roma.

Perlu diketahui bahwa apabila doktrin sola scriptura mendefinisikan dan membatasi ruang lingkup sesuatu yang seharusnya teologis serta gerejawi, bagaimana konsep teologis fundamental seperti Trinitas yang dalam hal-hal penting extra-biblical tidak hanya diterima Luther dan Calvin, tetapi penting sera esensial bagi iman mereka? Doktrin Trinitas yang dikembangkan Luther dan Calvin menunjukkan bahwa mereka menyelami kebijaksanaan serta wawasan teologis generasi teolog sebelumnya ketika mengembangkan pandangan khas mereka sendiri. Hal ini menyoroti kepatuhan non-eksklusif terhadap “prinsip eksklusif” sola scriptura dalam doktrin Reformasi tentang Trinitas.

TEOLOGI TRINITAS MARTIN LUTHER

Terdapat dua fakta menarik tentang perkembangan teologi Luther. Pertama, Luther bukan seorang teolog sistematika, tidak menulis karya teologi sistematis seperti Loci communes karya Philipp Melanchthon (1497-1560) atau Summa theologiae karya Thomas Aquinas (1225-1274). Oleh karena itu, pemikiran sistematis merupakan sesuatu yang asing (fremd) baginya. Kedua, teologi Luther muncul dari keterlibatan yang mendalam dengan Kitab Suci, terutama Perjanjian Lama. Bahkan ia memulai karir mengajar dengan memberi kuliah tentang Mazmur. Sebagai sarjana Kitab Suci, Luther menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Jerman hanya dalam sebelas minggu ketika ia ditahan di Kastil Wartburg.

Ritme utama Luther sebagai biarawan Agustinian ditempuh melalui praktik spiritual (spiritual practices), terutama doa harian menggunakan Mazmur. Ia memberikan perhatian ilmiah pada Mazmur dengan cara yang khusus, menandai awal dari ketertarikan seumur hidupnya dengan Perjanjian Lama. Kecenderungan tersebut memberikan petunjuk penting tentang karakter unik teologi Luther yang menghubungkan mimbar Gereja dengan podium akademik ruang kuliah di universitas. Ia berkhotbah baik sebagai biarawan dan profesor sampai akhir hidupnya.

Keterlibatan alkitabiah (biblical) membentuk kontribusi teologis Luther, penemuan Perjanjian Lama untuk teologi trinitarian. Karena teologi trinitarian Kristen mengabaikan identitas Allah sebagai Allah Israel untuk menekankan Allah Tritunggal sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Tetapi, Perjanjian Lama dengan doktrinnya tentang kehadiran dinamis (the dynamic presence) YHWH sebagai “pembicara” (speaker), memiliki implikasi mendalam bagi teologi trinitarian. Di mana ada pembicara, di sana muncul relasi triadik (triadic relations), yaitu pembicara, pendengar, dan pesan. Luther dipengaruhi pendekatan Ibrani untuk diskursus tentang Allah, tidak hanya seperti yang muncul dalam narasi Perjanjian Lama, tetapi juga seperti yang dimanifestasikan dalam bahasa Ibrani itu sendiri.

Prinsip eksklusif sola scriptura membuat Luther menolak doktrin sakramen Abad Pertengahan sebagai tidak alkitabiah, dan menolak otoritas paus serta Konsili. Tetapi, seperti yang ditunjukkan dalam Von den Conciliis und Kirchen (On the Councils and Churches, 1539) dan The Three Symbols (Creeds) 1538, sikap Luther terhadap dogma-dogma kuno (the ancient dogmas) adalah positif. Ia mengakui dan sering mengulangi doktrin Nikea tentang Trinitas serta Kristologi Kalsedon. Luther menghormati kredo para Rasul yang ia sebut berisi semua pasal iman yang utama (contains all the principal articles of faith). Awalnya ia keberatan dengan kata “Trinitas” (Trinity), karena kata tersebut “terdengar dingin’’ (sounds cold) dan “ditemukan serta diciptakan” (discovered and invented) oleh manusia. Posisi Luther adalah bahwa dogma-dogma tersebut benar hanya sejauh mereka setuju dengan Kitab Suci, tetapi jika tidak, mereka tidak memiliki otoritas. Desakannya pada prinsip eksklusif sola scriptura membuat hermeneutika kredonya bergantung pada Kitab Suci daripada mengakui bahwa kredo memang membantu membingkai dan memahami Kitab Suci.

Perdebatan akademis terakhir yang dipimpin Luther terjadi pada 3 Juli 1545. Luther menyiapkan tesis untuk acara tersebut. Tesis 1 sampai 17 berisi tentang doktrin Trinitas dan mereka menunjukkan bahwa Luther mempertahankan banyak warisan teologi Abad Pertengahan. Tema tesis tersebut adalah Kristus sebagai Kebijaksanaan Bapa (Christ as the Wisdom of the Father). Pertanyaan tentang kodrat Putra sebagai sapientia patris sering dibahas dalam teologi Abad Pertengahan, karena Agustinus Hippo (354-430) menganggapnya bermasalah dan membahasnya secara rinci dalam De Trinitate (On the Trinity). Persoalan yang ada di sini terkait apakah ini merupakan predikat esensial (essential predication) atau indikasi ekspresi relasional (indicative o f a relational expression) antara Bapa dan Putra. Menurut tesis 16, Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah konsep relatif (relative concepts) dari mana kehadiran “yang lain” (other) yang nyata dapat disimpulkan. Mereka adalah istilah yang menandakan relasi dua anggota yang berbeda. Bapa adalah Bapa karena Ia menghasilkan (generates), Ia tidak menghasilkan (does not generate) karena Ia adalah Bapa. Hal-hal yang berbeda menunjukkan relasi di antara mereka (tesis 14).

Apa sumber tesis Luther? Tentu saja, Luther mengetahui On the Trinity karya Agustinus, Sententiae in IV libris distinctae (Sentences) karya Petrus Lombardus (1100-1160), dan komentar Gabriel Biel (1418-1495) tentang Sentences tersebut. Sebagaimana dikemukakan di atas, ia menerima tiga simbol iman Kristen, yaitu kredo para Rasul, kredo Athanasius, dan Simbol Nikea (the Nicene Symbol). Dalam pertanyaan terkait teologi trinitarian, Biel dengan cermat mengikuti komentar William Ockham (1285-1347) tentang Sentences, di mana Aquinas dan Henry Ghent (1217-1293) sering dikritik. Sehingga Luther mengetahui teologi trinitarian Ockham, Ghent, dan Aquinas setidaknya melalui Biel. Kemungkinan ia mempelajari Ockham dan Aquinas secara langsung. Sebagai seorang profesor teologi, ia mengenal ajaran-ajaran Trinitas dari sinode dan konsili.

Karya Luther De servo arbitrio (The Bondage of the Will, 1525) merupakan salah satu karya yang penting. Buku tersebut bersama dengan Galatervorlesungen (Lectures on Galatians, 1553) paling dihargai Luther. Karena karya tersebut mencontohkan pendekatan Luther terhadap Allah dalam kaitannya dengan kekuatan relasional (relational power). Pada bagian awal (prolog), Luther mengaitkan konsep kekuasaan (power) dengan konsep kebebasan (freedom). Desiderius Erasmus (1469-1536) menggunakan asosiasi tersebut untuk berargumen bahwa apabila manusia tidak memiliki kebebasan yang efektif (effective freedom), tidak ada kekuatan untuk berbuat baik di hadapan Allah, maka kehendak Allah pasti sebagian jahat, karena dosa ada di dunia. Tanggapan Luther mengandung nuansa halus, di mana manusia tidak bebas untuk berkontribusi pada keselamatannya. Allah yang memiliki kuasa, kebebasan untuk bertindak dengan efektivitas penuh di dunia dan kehendak manusia yang jahat, tidak bebas serta terikat pada kodrat manusia yang berdosa (sinful human nature). Kuasa Allah harus dipahami bukan sebagai kualitas yang dispekulasikan dalam diri Allah, tetapi sebagai relasi aktif dengan manusia, sebagaimana dipahami dalam pemikiran Ibrani.

Luther memahami esensi ilahi (the divine essence) dalam pengertian kehadiran aktif Allah. Hal ini nampak dalam karya Luther Lord’s Supper (1527-1528), di mana ia mengidentifikasi esensi Allah dengan kuasa (power). Kemahakuasaan Allah diidentifikasikan dengan kemahahadiran Allah yang aktif. Berdasarkan kemahahadiran Allah yang aktif di dalam Kristus, Allah pada dasarnya dapat hadir dan aktif dengan penuh kuasa dalam Perjamuan Allah (Lord’s Supper). Dalam berbagai tulisannya, asumsi sistematis tentang Allah sebagai tindakan – kehadiran yang bebas dan penuh kuasa – mendominasi pemikiran Luther. Bagi Luther, kuasa dan hadirat Allah dimanifestasikan di dalam serta melalui Putra dan Roh Kudus, meskipun dengan cara yang berbeda. Putra mewakili dimensi formal (formal) atau kebijaksanaan (wisdom), sedangkan Roh Kudus mewakili dimensi kasih (love) atau kebaikan (goodness) dari Trinitas. Kristus menjadi guru kita (fungsi formal atau kebijaksanaan) dan Roh Kudus merupakan energi baru yang hidup di dalam kita (fungsi kasih atau kebaikan). Putra melambangkan kebijaksanaan dan Roh Kudus melambangkan kasih.

Berdasarkan perspektif Luther, fungsi Kristus dan Roh Kudus menjadi berbeda secara tajam. Luther menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya cara untuk mengakses pengetahuan tentang Allah dan bahwa Kristus adalah satu-satunya Allah yang ada untuk kita. Sebuah atribusi yang sebanding terjadi sehubungan dengan pekerjaan Roh Kudus. Dalam Rm 5:5 dikatakan, dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Tetapi dalam rangka melawan lawan-lawan “spiritual”, Luther juga menekankan pekerjaan Roh Kudus dalam hal keteraturan (order). Ia meyakini bahwa fungsi Roh Kudus adalah membawa kerajaan Allah, kedamaian dan ketertiban Allah. Dalam komentarnya tentang Galatia 3, Luther mengatakan bahwa Roh Kudus diberikan hanya melalui pendengaran akan Firman atau Injil. Roh Kudus adalah karunia (the gift) yang dibawa melalui Firman Allah yang diberitakan dan didengar. Roh Kudus adalah apa yang dibawa oleh Firman. Hal ini membawa serta pengetahuan tertentu tentang Allah dan tentang diri sendiri yang memerlukan pengampunan dosa (the forgiveness of sins).  

Pengampunan dosa berarti bahwa tatanan yang tepat antara manusia dan Allah dipulihkan. Sehingga ketidakteraturan (disordered), relasi palsu dengan Allah dalam hal pekerjaan-kebenaran (works-righteousness) digantikan oleh perintah Allah, mengalahkan keinginan daging oleh Roh Kudus. Misalnya, mengomentari Gal 5:10, Luther mengambil tema Roh Kudus sebagai kasih Allah (the love of God), tetapi mengembangkannya sebagai kasih Kristen kepada sesama. Oleh karena itu, Roh Kudus yang bekerja sepenuhnya di dalam dan melalui Firman yang dikhotbahkan menyatakan pengampunan dosa (kasih Allah) di dalam hati manusia serta menjamin keselarasan yang teratur dari kasih Allah di antara komunitas umatnya.

Luther berulang kali menegaskan bahwa Allah hadir bagi kita, di mana kodrat dan kehendak Allah hanya dinyatakan dalam Kristus Sang Firman (Christ the Word). Ia begitu mendalami gagasan tersebut, sehingga ia dengan tidak hati-hati mengemukakan bahwa “selain Kristus, tidak ada Allah” (apart from Christ, there is no God) – bahkan “tidak ada Keallahan” (no Godhead). Dengan demikian, pengetahuan tentang Allah Tritunggal dimungkinkan tidak hanya melalui “Pribadi kedua” (second Person), kebijaksanaan, logos Tritunggal, tetapi melalui inkarnasi Kristus. Bagi Luther, Kristus bukan hanya Firman tanpa tubuh, pribadi kedua dari Trinitas, tetapi Kristus dari Galilea yang berinkarnasi dan menderita.

Perlu diketahui bahwa karena Kristus tersembunyi dan dinyatakan, baik jasmani maupun rohani, maka Luther dapat berbicara tentang Allah dengan cara yang sama. Karena konsubstansialitas (consubstantiality) mereka, apa yang benar tentang Kristus adalah benar bagi Allah. Berkat konsentrasi pada Kristus yang berinkarnasi, teologi Luther menggabungkan transendensi Allah dan dunia alamiah (imanen) tanpa menghapus garis batas di antara keduanya. Hal ini mengakibatkan penekanan perbedaan metafisik Allah dari dunia. Kesatuan relasi Allah-dunia (God-world) seperti yang terlihat dalam inkarnasi Kristus, memberikan petunjuk dasar untuk memahami epistemologi, doksologi, dan soteriologi teologis Luther.

Perspektif tentang konsubstansialitas paling jelas muncul dalam diskusi Luther tentang Perjamuan Allah (Lord’s Supper) dan karya penebusan Kristus (Christ’s atoning work). la memahami kodrat Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus dalam pengertian aktivitas (activity). Di dalam tubuh Kristus yang diremukkan bagi manusia, Allah secara pribadi menyatakan diri-Nya. Allah yang diwahyukan adalah Allah Tritunggal. Jadi bagi Luther, manusia terhubung dengan Allah di dalam Kristus hanya melalui karya perantaraan Roh Kudus, yaitu melalui penerimaan iman, pendengaran Firman, dan partisipasi dalam sakramen. Kristus bukan hanya satu-satunya “tempat” (place) di mana Allah Tritunggal yang transenden hadir secara imanen bagi manusia, tetapi Allah hadir bagi manusia hanya di mana dan ketika ada komunitas iman (the community of faith), dibentuk oleh Firman Kristus serta diperintahkan oleh Roh Kudus untuk menerima Allah di Gereja.

Ciri khusus teologi Luther adalah pembedaan yang dibuatnya antara teologi kemuliaan (a theology of glory) dan teologi salib (a theology of the cross). Tesis teologi salib yaitu Allah hanya dapat ditemukan dalam penderitaan dan salib, sehingga barangsiapa tidak mengenal Kristus, tidak mengenal Allah yang tersembunyi dalam penderitaan. Teologi salib Luther merupakan polemik terhadap teologi kemuliaan dan juga terhadap metode teologis skolastisisme, yang dituduh memperlakukan kebenaran iman Kristen sebagai objek keingintahuan intelektual, tanpa mengacu pada salib serta peran Kristus. Secara khusus bagi Luther, dogma Trinitas dan pribadi Kristus bukan latihan dalam penyelidikan logis atau spekulasi metafisik. Terkait hal ini, mengenal Kristus berarti mengetahui peran-Nya. Bagi Luther, Allah penebus secara jelas dan definitif dimanifestasikan dalam Kristus Sang Firman. Allah tidak memiliki bentuk lain yang dapat ditemukan selain Firman Allah (Kristus) yang dengan demikian menyatakan keadilan, kebenaran, dan kemuliaan Allah. Tetapi, kemuliaan Allah sama sekali tidak jelas, Kristus adalah bentuk Allah yang kosong (emptied), mengambil rupa seorang hamba, tanpa kehilangan kodrat ilahi-Nya dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus.

Keilahian Kristus memanifestasikan diri-Nya dan tidak terlepas dari persatuan-Nya dengan Allah Bapa yang melahirkan-Nya dalam kasih. Allah adalah kekuatan (power) dan kebebasan (freedom), namun bertindak melalui kelemahan (weakness) serta belenggu (bondage), sehingga manusia dapat mengalami kuasa penebusan dan rahmat pembebasan (pengampunan) dalam iman, bahkan ketika manusia masih terjerat dalam penderitaan, rasa bersalah, dan belenggu dosa. Allah selalu pro nobis dan karenanya pro me. “Aku” (I) ini adalah “Aku” (I) lama. “Aku” yang lama penuh dengan dosa, melengkung ke dalam diri sendiri, berada dalam percakapan diri yang kejam dan sama sekali tidak komunikatif. Dalam keberadaan Yesus Kristus, Allah memberikan diri-Nya sepenuhnya kepada manusia. Allah memberikan diri Allah dengan segala sesuatu yang Allah ada dan lakukan, apa yang Allah miliki, dan apa yang ada dalam kuasa Allah, tanpa syarat. Melalui kesatuan dengan keberadaan Kristus yang secara kekal berkomunikasi dengan pribadi-pribadi lain dari Trinitas dalam relasi perichoretic, “Aku” yang baru menjadi dan hidup sebagai makhluk yang sepenuhnya komunikatif. Dimasukkan ke dalam komunitas Allah melalui pemberian diri Allah.

Bagi Luther, keberadaan Allah adalah pemberian diri (self-giving). Pemberian diri tersebut bukan ekspresi otomatis dari kodrat ilahi, tetapi lebih merupakan “tanggapan” (response) yang penuh perhatian dari pendengaran Allah akan kondisi manusia yang celaka (wretched). Pendengaran Allah berarti keselamatan (salvation) yang terjadi secara historis dalam inkarnasi, kematian, dan kebangkitan Yesus. Doktrin Trinitas tidak mengandung apa-apa selain Injil. Injil adalah peristiwa keselamatan dan pembebasan. Hal ini merupakan kebebasan yang Kristus menangkan bagi manusia dan dibawa kepada manusia. Kristus terus menjanjikan dan mengomunikasikan kebebasan tersebut kepada manusia melalui kehadiran-Nya sebagai Firman Allah dalam Roh Kudus.  

Sangatlah penting membedakan antara doktrin Trinitas dan doktrin ‘umum’ (general) tentang Allah yang terkait dengan antropologi. Kedua doktrin yang berbeda tersebut tidak dapat saling runtuh. Dalam menyimpulkan interpretasinya tentang iman Kristen dalam Grosser Katechismus (Large Catechism), Luther membuat perbedaan sebagai berikut. Meskipun seluruh dunia telah berusaha dengan susah payah mempelajari apa itu Allah (what God is), namun tidak pernah berhasil sedikit pun. Meskipun orang-orang yang menganut paham monoteis percaya dan menyembah hanya satu Allah yang benar, namun mereka tidak mengetahui bagaimana sikap-Nya terhadap mereka. Mereka tidak dapat yakin akan kasih dan berkat-Nya.

Perlu diketahui bahwa terkait Sepuluh Perintah (Ten Commandments), Luther menegaskan demikian, “jangan dengan sendirinya menjadikan kita orang Kristen … Tetapi di sini, Anda memiliki segalanya dalam ukuran yang paling kaya … Allah sendiri telah mengungkapkan dan membukakan kepada kita kedalaman paling dalam dari hati kebapakan-Nya, kasih-Nya yang murni serta tidak terkatakan. Ia menciptakan kita untuk tujuan ini, untuk menebus dan menguduskan kita. Selain itu, setelah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu di surga dan di bumi, Ia telah memberikan kita Putra-Nya serta Roh Kudus-Nya, yang melaluinya Ia membawa kita kepada diri-Nya. Seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya, kami tidak akan pernah bisa menyadari kemurahan dan kasih karunia Bapa jika bukan karena Allah Kristus, yang adalah cermin hati Bapa. Selain dia, kita tidak melihat apa pun selain Hakim yang marah dan mengerikan. Tetapi kita juga tidak dapat mengetahui apa pun tentang Kristus, jika hal itu tidak disingkapkan oleh Roh Kudus.”

Menurut Luther, di luar Kristus manusia tidak melihat apa pun kecuali Hakim yang marah (angry) dan mengerikan (terrible). Mencari Allah di luar Yesus berarti bertemu dengan iblis (the devil). Doktrin umum tentang Allah yang dibedakan dari doktrin Trinitas, membuat tema manusia sebelum bertemu dengan Kristus. Doktrin umum tentang Allah terkait pengalaman Hukum yang menuduh (accuses) dan membunuh (kills). Akhirnya melampaui Hukum yang menuduh ke pengalaman ketersembunyian Allah yang tidak dapat dipahami dan mengerikan. Tantangan Luther kepada para teolog kontemporer adalah bagaimana tidak mengubah doktrin Trinitas menjadi doktrin umum tentang Allah yang diturunkan dari antropologi. Meskipun secara sadar ketat dalam menerapkan prinsip sola scriptura pada agenda teologis dan gerejawinya untuk mereformasi Gereja, Luther menjangkau kembali harta teologis serta spiritual dari ajaran Gereja ketika ia merumuskan pandangannya tentang Trinitas. Ia merangkul “kelanjutan” (continuity) kebijaksanaan teologis bahkan dalam “keterputusan” (discontinuity) reformatifnya.

TEOLOGI TRINITAS YOHANES CALVIN

Reformasi Yohanes Calvin diakui sebagai terobosan yang radikal dari Gereja Katolik Abad Pertengahan dalam ibadah (worship), pemerintahan, dan teologi. Calvin pertama kali menulis Christianae religionis institutio (Institutes of the Christian Religion) sebagai katekismus kecil untuk umat awam. Akhirnya, melalui banyak revisi, ia tumbuh besar dan kontribusinya pada teologi trinitarian menjadi khas.

Edisi 1559 dari Institutes of the Christian Religion dianggap sebagai yang definitif. Siapa pun yang mengenal risalah Skolastik tentang Trinitas, terutama karya-karya Aquinas, akan terkejut dengan penyimpangan gaya mereka. Alih-alih membuat argumen yang kuat secara logis untuk suatu doktrin tertentu, misalnya menanyakan bagaimana satu Allah bisa menjadi tiga pribadi. Calvin menyajikan eksposisi berbasis alkitabiah yang sebagian besar menghindari terminologi filosofis, meskipun ia tidak menolak istilah tradisional seperti ousia, hipostasis, esensi, substansi, dan homoousios.

Para ahli tidak setuju terkait berbedanya teologi Calvin tentang Trinitas dari pandangan tradisional. Menurut Robert L. Reymond (1932-2013), Calvin menyimpang dari Nicenetrinitarianism. Sedangkan Edward A. Dowey (1918-2003) berpendapat bahwa pandangan Calvin tentang Trinitas menganut prinsip sola scriptura, berasal secara eksklusif alkitabiah. Sebaliknya yang lain berpendapat bahwa teologi trinitarian Calvin bersifat tradisional, didasarkan pada tradisi-tradisi extra-biblical yang membantunya mengambil kesaksian alkitabiah (appropriation of the biblical witness). Francois Wendel (1905-1972) menganggap Calvin dengan hati-hati menghindari apa pun yang dapat dianggap sebagai inovasi, karena ajaran tradisional tentang Trinitas adalah bagian penting dari teologinya. Sedangkan Wilhelm Niesel (1903-1988) mengatakan bahwa Calvin mengambil alih ajaran para bapa Gereja perdana tentang Trinitas dengan semua perlengkapan teologis (the theological equipment) yang menyertainya dan bahwa seluruh tujuannya dalam doktrin ini adalah untuk mengamankan pesan alkitabiah (to secure the biblical message). Sebagaimana dikemukakan Michael O’Carroll (1911-2004), gagasan Calvin tentang teologi trinitarian paling lengkap, paling tradisional dan ortodoks. Selanjutnya, T. H. L. Parker (1916-2016) sepakat bahwa sejak 1536, Calvin sangat ortodoks dan ketika dewasa Calvin menemukan bahwa doktrin ortodoks Trinitas mengatakan dengan tepat apa yang ingin ia katakan sendiri.

Institutes of the Christian Religion edisi 1559 diuraikan ke dalam empat bagian dan tampaknya mengikuti urutan kredo para rasul (I. Bapa, II. Putra, III. Roh Kudus, IV. Gereja). Meskipun Trinitas tidak dapat dipahami terlepas dari wahyu Kristus dan pekerjaan Roh Kudus, doktrin tersebut dikerjakan pada bagian I. Sedangkan pengorbanan Kristus terletak pada bagian II dan Roh Kudus pada bagian III. Calvin tidak bermaksud agar Institutes of the Christian Religion menjadi risalah sistematis doktrin Kristen. Karya tersebut tidak disebut sebagai summa theologiae, tetapi summa pietatis. Hal ini merupakan kunci penting dalam mengevaluasi pemikiran Calvin tentang Trinitas.

Menurut Robert Letham, Institutes of the Christian Religion memperlihatkan bahwa Trinitas adalah doktrin Calvin tentang Allah. Hal ini menunjukkan penyimpangan yang signifikan dari pemisahan Aquinas tentang perlakuannya terhadap satu Allah dari pembahasannya tentang Trinitas. Tidak ada diskusi rinci dalam Institutes of the Christian Religion tentang keberadaan (existence), kodrat (nature), dan atribut (attributes) Allah yang diandaikan oleh ajaran tradisi Kristen tentang Allah. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa doktrin trinitarian begitu integral dengan pemahaman Calvin tentang Allah, sehingga Institutes of the Christian Religion memiliki struktur trinitarian. Meskipun kecenderungan dasar Calvin adalah untuk menekankan kesatuan Allah, ia mencurahkan banyak ruang dalam perlakuannya tentang Allah pada keilahian Putra dan Roh Kudus.

Fokus Calvin pada tiga pribadi ilahi tidak melemahkan kesatuan Allah, karena ia menganggapnya sebagai aksioma bahwa keberadaan Allah adalah satu. Ketiga pribadi tersebut berbeda, tidak terbagi satu sama lain. Dalam pembahasannya tentang tiga pribadi ilahi, Calvin mengacu pada berbagai bagian Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru untuk mendukung keilahian Putra (the divinity of the Son). Ia juga mendapat banyak dukungan melalui gagasan para Bapa Gereja. Calvin meyakini bahwa tidak ada gradasi dalam keallahan, meskipun sebelumnya ia dituduh sebagai “Arian” oleh Pierre Caroli (1480-1546) pada 1537 dan ditantang dengan berbagai cara oleh Michael Servetus (1509-1553) pada 1531.

Sesuai dengan ajaran Patristik dan Abad Pertengahan, Calvin menganggap Allah Bapa sebagai principium. Kepada Bapa sebagai sumber dan mata air segala sesuatu dikaitkan dengan permulaan aktivitas. Kepada Putra, kebijaksanaan, nasihat, dan disposisi yang teratur dari segala sesuatu. Kepada Roh Kudus, kuasa dan kemanjuran (efficacy) aktivitas tersebut. Tetapi, dalam kegiatan tersebut, terdapat urutan yang jelas. Hal ini merupakan urutan relasional. Bapa adalah yang pertama, dari Bapa adalah Putra, dan dari Bapa serta Putra adalah Roh Kudus. Putra dikatakan keluar dari (come forth from) Bapa, sedangkan Roh Kudus dari Bapa dan Putra pada waktu yang sama. Dengan demikian, dalam hal urutan dan derajat, permulaan keilahian ada di dalam Bapa. Bapa adalah urutan pertama, awal dan sumber dari seluruh keilahian. Tentu saja, urutan tersebut bersifat relasional, bukan temporal.

Teologi Putra (theology of the Son) Calvin dikembangkan di tengah panasnya perselisihan dengan anti-Nicenes Italia Michael Servetus dan Giovanni Valentino Gentile (1515-1566). Dalam Expositio impietatis Valentini Gentilis (Exposition of the Impiety of the Pagan Valentinus), ia menyebut Putra sebagai autotheos, Allah pada dirinya sendiri (God of himself). Hal ini menandakan penentangannya terhadap gagasan bahwa Putra menerima keilahian-Nya dari Bapa. Calvin berpendapat bahwa Putra memiliki keilahian-Nya dari dirinya sendiri, sama seperti Bapa. Hal ini bertentangan dengan ajaran non-Yahudi pada 1558 bahwa Bapa adalah autotheos, sedangkan Putra dan Roh Kudus adalah esensi yang berbeda dari Bapa. Pandangan seperti itu rentan terhadap bidah Sabellian dan Manikheisme. Tetapi Calvin dengan jelas mengajarkan bahwa Putra adalah dirinya sendiri dalam hal esensi (essence), bukan dari pribadi. Dalam hal ini, Calvin mendapat dukungan dan simpati dari Robertus Bellarminus (1542-1621) yang berpendapat bahwa alasan Calvin mengatakan Putra adalah autotheos karena ia didorong oleh orang bukan Yahudi (driven to it by Gentile).

Calvin meyakini bahwa Allah adalah satu dan tidak dapat dibagi, maka ketiga pribadi tersebut berbagi dalam satu wujud Allah (being of God) yang identik serta tidak terbagi. Dengan demikian, Putra tidak dapat dikatakan memperoleh keilahian-Nya dari Bapa. Kritik non-Yahudi adalah bahwa Calvin tidak dapat mempertahankan gagasannya tentang autotheos bersama dengan penegasan kredo Nikea-Konstantinopel. Generasi kekal Putra dan prosesi Roh Kudus tidak sesuai dengan gagasan Calvin tentang autotheos Putra serta Roh Kudus. Terhadap kritik tersebut, Calvin menyatakan demikian, jika kita berpegang teguh pada Kitab Suci, di mana esensi satu Allah sederhana (simple) dan tidak terbagi (undivided), dengan karakteristik tertentu Bapa berbeda dari Putra, dan Putra dari Roh Kudus – gerbang akan ditutup tidak hanya untuk Arius (250-336) serta Sabellius tetapi juga bagi penulis kesalahan kuno lainnya (to other ancient authors of errors).

Menurut Calvin, Putra sehubungan dengan keilahian-Nya, keberadaan-Nya berasal dari diri-Nya sendiri. Kaum anti-Nicenes berpendapat bahwa hanya Bapa yang memiliki keberadaan Allah dan memberikan esensi tersebut kepada Putra. Tetapi Calvin mengatakan, sehubungan dengan esensi-Nya, tidak ada perbedaan antara Bapa dan Putra. Selain itu, ia juga menegaskan, kita masih dapat berpegang pada perbedaan (the distinct), relasi kekal di antara pribadi-pribadi, karena kita tidak memisahkan pribadi-pribadi dari esensi, melainkan membedakan mereka sementara mereka tetap di dalamnya. Calvin menyimpulkan demikian, keallahan dalam pengertian yang mutlak ada dengan sendirinya, demikian pula kita mengakui bahwa Putra karena Ia adalah Allah ada dengan sendirinya, tetapi tidak dalam hal Pribadi-Nya. Dengan demikian, esensi-Nya tanpa awal, sedangkan awal pribadi-Nya adalah Allah itu sendiri.

Firman tersebut selama-lamanya tersembunyi di dalam Allah sebelum Ia dinyatakan dalam penciptaan dunia (the creation of the world), tetapi hipostasis-Nya berbeda dari Bapa sementara Ia memiliki esensi yang sama dengan Bapa. Kristus Putra (Christ the Son) juga berbeda dari Roh Kudus. Akibatnya ada perbedaan pribadi di dalam Allah. Calvin berpendapat bahwa Putra yang berinkarnasi adalah satu-satunya yang diperanakkan di pangkuan Bapa (the bosom of the Father). Gagasan tentang “tindakan melahirkan terus-menerus” (continuous act of begetting) seperti yang ditemukan dalam Origenes (185-235) dipandang oleh Calvin sebagai “bodoh” (foolish), karena relasinya adalah abadi.  

Calvin menerima prosesi kekal Roh Kudus dari Bapa dan Putra, suatu ajaran yang ia jangkar (anchors) dalam pasal 8 surat Paulus kepada jemaat di Roma. Berkenaan dengan keilahian penuh Roh Kudus kurang berkembang dibandingkan dengan Putra. Ketika sampai pada pertanyaan tentang filioque, Calvin nampak sebagai orang Barat dan Agustinian. Gerald Bray berpendapat bahwa hal ini merupakan inti dari teologi Calvin dan pusat Protestan evangelis.

Kristus dan Roh Kudus disebut “penghibur” (paracletos/comforter), karena tugas bersama mereka adalah menghibur, menasihati, dan menjaga manusia dengan perlindungan mereka. Selama hidup di dunia, Kristus adalah pelindung manusia. Kemudian Ia menyerahkan manusia pada perlindungan Roh Kudus. Kristus bagaimana pun masih menjadi pelindung manusia. Kristus mengomunikasikan hidup-Nya kepada manusia dengan kuasa Roh-Nya (by the power of his Spirit).

Seluruh kodrat ilahi dimiliki oleh masing-masing pribadi ilahi (divine hypostasis). Merujuk pada Yoh 14:10, Calvin menyatakan bahwa Bapa sepenuhnya ada di dalam Putra, Putra sepenuhnya di dalam Bapa. Hal yang sama diungkapkan dalam komentar Calvin tentang Yoh 17:3. Calvin menggunakan frasa in solidum untuk membuktikan tiga pribadi berbagi secara utuh dan setara dalam satu keberadaan Allah (the one being of God). Hal ini memerlukan tempat tinggal bersama mereka (their mutual indwelling). Roh Kudus adalah ikatan (the bond) Bapa dan Putra.

Meskipun Calvin bersikeras bahwa semua doktrin harus didasarkan pada ajaran Kitab Suci, ia tidak melanggar doktrin Katolik tentang Trinitas dengan cara mendasar apa pun. Calvin mendukung penggunaan istilah-istilah seperti hypostasis dan ousia oleh para Bapa Gereja untuk membela ajaran alkitabiah (the biblical teaching). Ia jauh dari menolak kredo Nikea yang mengungkapkan konsubstansialitas Putra dengan Bapa melalui klausa homoousion dan menerima generasi Putra yang kekal sebelum segala waktu (before all time). Thomas F. Torrance (1913-2007) berpendapat bahwa Calvin memiliki kekerabatan teologis (theological kinship) yang dekat dengan Agustinus, Gregorius dari Nazianzus (329-390), dan Athanasius (296/298-373). Jika ada inovasi dalam teologi trinitarian Calvin, maka itu terkait bentuk ungkapan (the form of the expression), bukan isi (content). Dipandu oleh para Bapa Gereja dan tokoh-tokoh dari tradisi Romawi, Calvin mengembalikan ekspresi yang lebih alkitabiah ke doktrin trinitarian dan mengurangi abstraksi spekulatif.

Setelah semua dikatakan dan dilakukan, fokus Calvin adalah pada aktivitas ekonomi pribadi-pribadi ilahi (the economic activity of the divine persons). Pertanyaan dasarnya yaitu apa hubungan antara ajaran tentang Trinitas tersebut dengan “kebenaran” (righteousness) manusia? Calvin menjelaskan bahwa kebenaran manusia tidak ada di dalam manusia, tetapi di dalam Kristus. Manusia memilikinya hanya karena manusia mengambil bagian di dalam Kristus, bersama-Nya manusia memiliki semua kekayaannya. Kemudian muncul pertanyaan lanjutan, apa yang manusia terima ketika manusia dipersatukan dengan Kristus (unio cum Christo)? Manusia menerima suatu bentuk relasi Putra dengan Bapa dan semua yang termasuk di dalamnya. Kesempurnaan Kristus terletak pada relasi yang tidak terputus yang Ia pertahankan dengan Bapa. Dalam relasi Kristus dengan Bapa manusia dipersatukan dan dibenarkan, karena hidup yang dibenarkan adalah hidup berbakti (filial life) dalam relasi dengan Bapa.

Pemikiran teologis Calvin mencerminkan kesalehan dirinya sebagai orang Kristen. Yang terakhir membingkai argumennya untuk keilahian Putra dan Roh Kudus, terutama karya (works) atau kuasa (powers) mereka. Hal ini merupakan ciri khas teologi Reformasi (Reformation theology), teologi evangelis sejati hanya menyangkut Allah yang bagi kita (pro nobis/for us), Allah yang bertindak sehubungan dengan dunia dan umat-Nya. Allah dibahas hanya dalam tindakan-Nya dalam relasinya dengan umat-Nya. Sehingga pemikiran alkitabiah dan teologis pada dasarnya bersifat relasional.

Karakter Allah yang pro nobis tidak boleh dianggap sebagai izin untuk menjinakkan kodrat transenden Allah Tritunggal yang mencintai manusia dalam kebebasan (freedom). Itu tidak memungkinkan manusia untuk memproyeksikan kepada Allah apa yang paling manusia inginkan mengenai karakter dan kodrat Allah yang “bekerja” (works) untuk keselamatan manusia. Hal ini merupakan tantangan bagi gerakan teologis kontemporer yang mengartikulasikan karakter dan kodrat ilahi dari sudut pandang temuan serta hipotesis sosiologis dan psikologis.

Protestantisme Eropa dibagi menjadi tiga keluarga utama (three main families). Di antara mereka, Lutheranisme dan Calvinisme mewakili dua tradisi utama dalam Protestantisme awal. Calvinisme mengklaim sebagai reformasi alkitabiah (biblical reformation) yang lebih menyeluruh dan konsisten daripada Lutheranisme. Ironisnya Calvinisme menghasilkan lebih banyak perpecahan, seringkali karena perbedaan dan masalah yang tidak signifikan. Hal ini melahirkan varietas liberalisme teologis seperti unitarianisme dan antitrinitarianisme. Sebaliknya, Lutheranisme menghasilkan bidah yang relatif sedikit. Reformasi mengklaim sebagai raison d’etre kesetiaan yang lebih besar daripada Katolik Roma tradisional terhadap pesan alkitabiah dan kekristenan historis. Namun, ironisnya Reformasi menghasilkan jauh lebih banyak kekacauan doktrinal daripada yang dialami Gereja sejak abad II.

PENUTUP

Dalam sejarah refleksi teologis tentang Trinitas, berkali-kali kita jumpai masalah-masalah yang berkaitan dengan teologi dan filsafat bahasa. Masalah-masalah tersebut tidak dapat dihindari dalam setiap upaya menerjemahkan terminologi kuno seperti ousia dan hypostasis ke dalam bahasa kontemporer. Sementara fokus pada isu-isu linguistik tersebut masih penting bagi teologi trinitarian kontemporer. Hal ini dapat mengalihkan perhatian kita dari relasi fundamentalnya dengan wahyu alkitabiah dan mengarah pada pemahaman yang buruk tentang relevansi Trinitas untuk ibadah, teologi sakramen, dan teologi moral.

Baik Calvin maupun Luther, berdasarkan orientasi dan landasan alkitabiah mereka, tidak terlibat dalam metode Skolastik terkait refleksi teologis tentang Trinitas. Sebaliknya, mereka menggunakan pendekatan alkitabiah terhadap doktrin Trinitas. Sehingga teologi Trinitas mereka ditempatkan dalam kerangka soteriologis. Perlu diketahui bahwa yang membedakan satu dari yang lain yaitu Calvin menggunakan lensa teologis, sedangkan Luther menggunakan lensa Kristologis. Selanjutnya, yang menyatukan mereka adalah pendekatan eksistensial (soteriologis) daripada metafisik.

Terdapat dua jenis teologi, yaitu model monastik (the monastic model) dan model skolastik (the scholastic model). Model monastik diarahkan pada proklamasi (proclamation), sedangkan model skolastik memiliki penekanan pada pemikiran (thinking). Memproklamirkan Allah dan memikirkan Allah tidak boleh dipisahkan satu sama lain, juga tidak boleh runtuh satu sama lain. Artikulasi Trinitas yang layak membutuhkan dialog yang erat antara keduanya. Teologi monastik yang sesuai untuk ibadah (worship) membutuhkan struktur rasional teologi skolastik agar tetap benar (to remain true). Di sisi lain, teologi skolastik akan menjadi steril (sterile) apabila tidak dikaitkan dengan komunitas ibadah (the worshiping community) di mana Trinitas disembah (adored) dan dirayakan (celebrated) dalam liturgi, sakramen, dan himne (hymns). Kedua jenis teologi tersebut saling membutuhkan, sehingga teologi monastik tidak akan menjadi buta (blind) dan teologi skolastik kosong (empty). Baik Calvin maupun Luther menunjukkan keseimbangan antara kedua jenis refleksi teologis tersebut, mungkin dengan bias terhadap model monastik, dibandingkan dengan kecenderungan pendahulu mereka untuk pendekatan skolastik. Sejak itu refleksi Protestan tentang Trinitas telah membuat upaya sadar untuk menambatkannya (anchor) dalam Kristologi dan soteriologi.

Pelajaran lain dari teologi Trinitas para Reformator berkaitan dengan metode mereka. Dalam berteologi mereka memperhitungkan tuntutan gandanya, yaitu kesetiaan pada sumber-sumber alkitabiah dan relevansinya dengan kondisi manusia. Keseimbangan antara dua kutub tersebut merupakan tanda penting dari teologi evangelis yang berakar pada tradisi Reformasi. Hal ini masih merupakan panduan yang layak dan kriteria yang berguna di mana para teolog kontemporer dapat mengevaluasi upaya teologis konstruktif mereka sendiri dalam mengklaim, memberi nama, dan mengganti nama Trinitas.

SUMBER BACAAN

Chun, Young-Ho. “The Trinity in the Protestant Reformation: Continuity within Discontinuity”. Dalam Peter C. Phan (Editor). The Cambridge Companion to The Trinity. Cambridge: Cambridge University Press, 2011, hlm. 128-148.

Diskursus Teologi